* ditulis minggu dini hari pukul 02.00
*sepi….sendiri…di luar kamar gelap gulita
* kadang terdengar suara daun-daun ditiup angin dan bau-bau aneh
Temans, pernahkah dikau dikisahi oleh sahabat-sahabatmu, bahwa ada tempat makan yang sangat laris dan sedap. Karena info yang menggebu-gebu dari sahabat tersebut, dirimu pun berhasrat untuk mencari tahu. Dan dari pengamatan, memang benar, tempat tersebut laris manis tanjung kimpul, bahkan deretan mobil pun berjejer antre. Tanpa ragu, dirimu pun langsung memuncak hasrat untuk segera mencicipi kelezatan menu yang ditawarkan. Tetapi……….temans, setelah dikau mencicipi hingga tetes penghabisan, bukan orgasme yang kau dapat, melainkan kecewa. Ternyata rasanya kok biasa saja…..
Pernah mengalami kisah di atas ?? Pernah heran dengan tempat makan yang laris dan selalu ramai padahal menurutmu, rasanya biasa saja ??
Jangan khawatir, anda tidak sendiri di dunia ini. Saya pun pernah. Dari bisik-bisik underground, terungkap sisi lain dari petualangan kuliner yang kelam, gelap, dan penuh misteri. Sisi lain tersebut adalah (disini jeda dulu, kemudian ucapkan dengan pelan, suara berat dan penuh penekanan)
p e n g l a r i s (backsound tertawa seram a la kuntilanak dan musik horror).
Istilah tersebut, saya kurang begitu jelas asal muasalnya. Bisa jadi karena memang ditujukan untuk melariskan dagangan. Jika anda akrab dengan kisah-kisah dari dunia lain, semacam pesugihan dan sebagainya, maka penglaris adalah salah satu diantaranya. Penglaris ini memang menggunakan mediasi yang sulit diterima oleh akal sehat dan mereka yang tak percaya dimensi lain selain dimensi panca indrawi. Penglaris biasanya menggunakan media jimat-jimat, atau mantera, doa, lelaku ritual tertentu, hingga makhluk halus.
Berangkat dari bisik-bisik underground, saya diberitahu mengenai beberapa tempat makan di Jogja yang disinyalir menggunakan penglaris. Beberapa kisah dibaliknya malah membuat bulu kuduk merinding.
Tau pocongan ?? Enggak ?? Mau lihat ??
gambar diambil dari sini
Kalau belum kuat mental dan iman, mending ga usah lah. Saya juga ga pengen dan ga minta. Tapi kalau untuk pemanasan, yah bolehlah pelototi poster film pocongannya Rudi Sodjarwo. Saya males nonton sih, karena ilfil, tapi spesial efek make-upnya si pocong, cukup seram (btw, saya nulis postingan ini jam 2 dini hari. Untuk mengusir rasa aneh yang tiba-tiba mencekam, sengaja saya pasang musik-musik beat kenceng, hehehe).
Lho, apa hubungan pocongan dan kuliner ??
Erat sekali, temans. Bisik-bisik underground mengungkapkan, pocong sebagai salah satu penglaris yang kerap digunakan para pelaku usaha kuliner.
Haaaa @#%#%$^$ ??????????
Ah, masak kaget sih ?? He, baru dengar sekarang ?? Keterlaluan sekali, anda, masak baru dengar sekarang gosip baheula tersebut ???
Alkisah, teman dari teman saya pernah melihat langsung pocong tersebut di sebuah m***. Pocong tersebut setinggi pohon kelapa dan menatap langsung padanya. Kebetulan (atau kutukan ??) temen tersebut kelebihan indera, sehingga inderanya tidak terbatas pada lima macam saja, sehingga mampu menjangkau dimensi lain. Kontan, teman tersebut pingsan dan sempat membuat heboh. Oleh pelaku usaha, diam-diam sang teman ini ‘dibujuk’ untuk tidak menceritakan apa yang dia lihat tersebut kepada yang lain (lha, kok bisa sampe ke saya ??).
Kisah lain, teman dari kakak ipar saya, yang juga ‘dikaruniai’ penglihatan menembus alam lain, masih dari tempat yang sama, menceritakan kisah yang tak kalah mengerikan. Dia bercerita bahwa setiap menu yang dipesan oleh pengunjung, jika dilihat dengan mata batin, sesungguhnya berwujud uret alias ulat yang bentuknya nggilani, gemuk-gemuk, gliut-gliut. Selain itu, benar adanya pocongan di tempat tersebut, dan peran pocongan adalah sebagai pengundang pengunjung plus meludahi ke dalam tiap mangkuk yang dipesan. Itulah asal muasal datangnya uret-uret dalam menu tersebut.
Dan, entah apakah ini sebagai bukti pembenaran atau hanya kebetulan saja. Warung makanan tersebut beberapa waktu lalu memang sempet berjaya, laris manis. Saya termasuk penggemarnya, dan tidak peduli ada pocong kek, wewe gondol kek, gendruwo kek, yang penting enak. Eh kok, beberapa waktu, satu persatu cabang-cabangnya tutup dan sepertinya hampir 100% tutup semua cabangnya yang tersebar di seluruh Jogja. Padahal laris dan menurut saya enak lho.
Entah kebetulan atau bagaimana, saya juga dapat cerita bahwa suatu warung yang laris di j****, juga menggunakan media pocongan. Teman dari teman saya pernah secara tak sengaja menangkap image-nya, ketika sedang iseng memotret dengan kamera handphone. Image-nya, pocongan tersebut sedang melompat-lompat.
Kisah lainnya, warung lesehan yang juga laris, issunya juga memakai media penglarisan. Sehingga jika kita makan di tempat tersebut, yang sebenarnya kita makan adalah ulat-ulat nan menjjikkan. Nah lo….hampir sama ya, modus operandinya, dengan mereka yang pakai pocongan.
Konon, persaingan yang ketat (apalagi sekarang) untuk pelaku usaha kuliner, terkadang membuat orang menggunakan berbagai macam cara supaya usahanya bertahan. Salah satunya pelaku usaha pecel lele. Konon, sudah bukan rahasia lagi mereka memakai pelaris. Hanya, jenis pelarisnya apa, saya tidak tahu. Tapi, sepertinya sih bukan pocongan.
Jika anda akrab atau pernah membaca majalah-majalah klenik seperti Liberty, tentu tidak asing dengan iklan-iklan yang menawarkan salah satunya penglaris usaha. Kemungkinan mereka memakai jimat atau mantera (doa-doa tertentu). Jika ada yang memakai lelaku ritual khusus, hal tersebut mungkin saja. Pernah dengar ritual di Kemusuk ?? Belum ?? Kasiaaaaan deh loe.
Jadi di Kemusuk, mitos yang berlaku adalah, anda dapat memperoleh apa yang anda inginkan, termasuk laris manis usahanya, dengan syarat berhubungan seks dengan siapa saja yang anda temui di tempat tersebut. Hampir sama dengan yang pernah saya jumpai di Pantai Parangkusumo, dimana di malam tertentu, ramai orang untuk mengalap berkah, tetapi entah kenapa praktek prostitusi menjadi merebak.
Beberapa praktek penglarisan terkadang dipakai untuk mematikan usaha saingan. Sehingga ketika salah seorang kompetitor memakai cara tersebut, ia menyedot ‘hoki’ dari saingannya, dan lama-kelamaan usaha saingannya tidak laris, lesu, dan akhirnya bangkrut. Eits, jangan salah, hal yang macam ini ga Cuma berlaku di kalangan usaha kuliner kelas kaki lima, tapi segala jenis usaha dan segala kalangan. Tentu saja, cara ini sangat jahat dan mengerikan karena tujuannya mematikan usaha lawan bisnisnya selain itu efeknya tidak hanya ditujukan kepada sang pemilik tapi juga berdampak kepada karyawan dan keluarganya. Benar-benar mengerikan, karena jin yang diminta untuk mematikan usaha lawan, benar-benar menutup pintu rezeki dan keberuntungan dari segala arah. Tujuannya jelas : lawan bisnis sial dan bangkrut-krut-krut hingga titik darah penghabisan.
Cara lain, tidak sejahat seperti yang diuraikan di atas. Dia tidak bertujuan untuk mematikan usaha lawan. Seorang nara sumber pernah menceritakan bahwa mereka yang memakai penglarisan jenis ini, hanya menghadang dan mengarahkan ‘rezeki’ menuju pada dirinya. Jadi, jika ada pelaku usaha membuka usaha di suatu tempat yang kebetulan searah jalan dengan pelaku penglarisan, usahanya tidak akan berkembang pesat, karena ‘rezeki’ tersedot ke pelaku penglarisan. Tapi jangan khawatir, tidak sampai bikin bangkrut kok. Paling usahanya ya gitu-gitu aja, ga maju yang sampai pesat padahal sudah habis-habisan. Dan ketika saya amati, ya ada benarnya. Ruas jalan yang nara sumber sebutkan sulit untuk mengembangkan usaha di tempat itu karena ‘rezeki’ sudah dihadang dan dialihkan ke lain tempat, memang jenis usaha yang ada di situ ga banyak berkembang. Sepi-sepi saja, tapi ga sampai bikin bangkrut. Cuma sepi.
Seorang teman pernah mengatakan, konon, untuk mengetahui sebuah tempat makan pakai penglaris atau tidak, cobalah untuk pesan dan dimakan di rumah. Jika rasanya berbeda dan tidak enak, walaupun sudah dipanasi atau dioven, kemungkinan besar, memang memakai penglaris.
Mitos lain, tapi ini sama sekali ga serem. Saya malah ngertinya dari komik Doraemon. Dari komik ini, saya jadi tahu ada yang namanya ‘kucing pengundang’. Belum tahu ?? Coba pergi ke toko-toko atau tempat makan yang dikelola saudara kita yang beretnis Cina. Disitu, biasanya di dekat kasir, Anda akan menemukan patung kucing berwarna emas, dengan sebelah tangan menggapai-gapai seolah sedang dada-dada menyapa atau melambai untuk mengundang mampir.
Malah pernah waktu saya makan mie ayam di seputaran monjali, selain patung kucing tersebut, juga ada kura-kura brazil. Saya jadi menduga-duga adanya mitos kura-kura sebagai salah satu penglarisan juga.
Beberapa teman mungkin berpikir, ah kok segitu naifnya, bisa membelokkan rezeki. Jin pula, yang melakukan. Terus, kalau begitu, Tuhan kok seolah-olah kayak ga berdaya, masak kalah dengan bangsa syaithon, jin, pocong, dsb. Well, saya ga bisa jawab, karena di luar pemahaman saya. Fakta mengatakan, bahwa hal tersebut memang benar ada. Terserah Anda mau percaya atau tidak. Okey ?? Jadi jikalau Anda sedang berwisata kuliner jangan lupa untuk bismillah atau doa apapun yang Anda percaya. Tapi….katanya, ulat-ulat itu kan bergizi mengandung banyak protein ?? Lagian, memang enak je, sikaaattt ga peduliiii !!! ^^
** aaahhh, akhirnya saya bisa menyelesaikan postingan ini tanpa harus takut melongok ke bawah ranjang yang gelap atau menoleh ke belakang bahu……
20 Komentar
April 13, 2008 pukul 3:15 pm
Huahhhh, serasa baca liberty. Aduhh mau pake pocong kek, genderuwo kek kalo enak hajarrr. biarlah yg dosa yang punya warung.
*merinding (efek abis baca ini)
April 13, 2008 pukul 3:41 pm
euh…saya kok jadi kehilangan citarasa terhadap makanan-makanan…
*nyalahin mbak memeth*
btw saya sendiri kadang dibilang kucing pemanggil rejeki sama beberapa pemilik toko. soalnya biasanya tempat yang saya kunjungi (entah itu restoran, warung atau butik/factory outlet), yang awalnya sepi, setelah saya masuk langsung datang beberapa pelanggan gitu. bahkan pernah sampai ramai..
percaya ga percaya sih~
April 13, 2008 pukul 7:24 pm
CK promosi….
biar bisa makan gratis dimana2 .. hakhakhak……
Yogya yang penuh makanan kuliner.. hmm..
well,.. kalo saya juga gitu kok Jeung Med..
.. well jogja emang rame punya untuk lokasi/rumah makan gini
awalnya menentukan tempat makan adalah di feeling,.. mau rumah makannya sekeren dan se bagus apapun.. kalo feeling ga pas, berarti ya ga nyaman buat dimakan… entah lah, mungkin itu sama dengan feeling saya kalo jalan2 ditempat serem
tapiada feeling laen yang lebih saya utamakan, yaitu feeling KANTONG..!!! hakhakhak
April 13, 2008 pukul 7:41 pm
eh ada wartawannya koran merapi ngeblog :p
April 13, 2008 pukul 9:47 pm
nganu meth, kapan2 dolan2 ke kemusuk yuk… berangkat sendiri2 dan ketemu di sana dan sok2 ngga kenal gitu
kalo menurut saya sih Tuhan bukannya tiada berdaya tapi Tuhan tidak pernah memaksa dan selalu memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih. Kalo setiap dosa kemudian manusia langsung dihukum, lha habis nanti manusia di dunia
April 14, 2008 pukul 2:11 am
yupe, seperti juga leksa, feeling
sehingga, lama kelamaan, sepertinya kita membeli suasana bukan makanannya, ah ya, seperti hari sabtu lalu, bersama CA, Hoek, dan Nazieb, di Kindai, rasa estehnya sama saja tu
emang ada rasa esteh yang ngga sama?dan ternyata, suasananya yang aduhai, karena tomat-tomat tidak canggung berlenggak-lenggok, eh, kami yang canggung melirak-lirik, hihiApril 14, 2008 pukul 5:42 am
hehe, saya pernah dengar soal beberapa warung makan (resto dan kaki lima) di Jogja dan Solo yang make penglaris..
soal makan di tempat dan makan di bawa pulang ndak enak, tergantung jenis makanannya lah.. kalo yg dibeli itu model makanan yg mantab dimakan di kala panas, tentu kalo di bawa pulang jadi ndak enak karena sudah dingin..
tapi emang sih, cara seperti ini bisa digunakan sebagai penanda sebuah warung pake penglaris pa ndak.. tapi tetep perlu dipertanyakan kebenarannya..
soal yg di parangkusumo, ah sudahlah..
April 14, 2008 pukul 5:46 am
eh eh..
kalo yang makan pas di acara PANEN RAYA, termasuk pake penglaris pa ndak?
April 14, 2008 pukul 6:56 am
Pernah makan di sebuah warung soto, di dalam sotonya ada kapur barus. Penglaris??? Parah nih
April 14, 2008 pukul 11:23 am
humm berdalih usaha? iya sih manusia memang disuruh bwt berusaha tp lah kok itu yah kebablasane usahanya..
April 15, 2008 pukul 12:34 am
@ ocha :
yep, hajar dan sikat bleh….selama kita gak liat kan ga masalah, heuheueheu….^^
@ cK :
eh, aku jg gt, lho, sis. yg terbaru, bbrp hari yg lalu, beli somai sore2. cuman ada aku doang, trus bbrp saat kmd, berduyun2 orang dtg. wuih, kita menyewakan diri kita aja yuk^^ *mikir utk ngiklan*
@ leksa :
feeling ya….wah saya jg tuh, habis skrg buanyak buanget tmp makan baru bermunculan. kdg feeling bener kadang apes.
@ ekowanz :
lg pengen jd kontributor media klenik, hehehehe….
@ wedhouz :
*ngakak terhabak-habak tergelinjang2*
setuju kang….setuju bgt….saya jd mikirnya Gusti gak katrok gt….malah itu menunjukkan kecanggihan Gusti yg sgt demokratis dan empowering mahlukNya…
@ goop :
di jl. laxda adisucipto, ada warung bebek kremes mbah ******. dulu thn 2005, uenak tenan, kang. aseli, mantep maknyus. tp kok sepi. thn 2007 mampir lg, krn heran, jd ruame bgt. tp mutu sangaaaaat menurun. tp rame. piye kuwi ??
@ zam :
waktu itu bilang ma temenku, kl gt, sebangsa KFC dsb pake penglaris dong. lha jenis2 makanan itu, kl dirumah ga enak je…beda waktu dimakan direstonya…
*injek2 zam*
eh 1,5 bln lg di TKP yg sama , ada acara tandur tuh…kamu pengen ???? ;p
@ Yahya Kurniawan :
*ngakak guling2*
waduh saya ikut menyesal dan prihatin mendegarnya….
untung ga dapet kolor yg masak.. *salah satu mitos penglarisan yg lupa saya tambahkan, jd kolor si owner dicemplungin ke masakannya*
@ aprikot :
kreativitas mongkeeeeen^^
tp manusia itu emang gt ya, mbakyu…berwarna-warni…
April 15, 2008 pukul 3:51 am
mendadak laper… (T_T)’
April 15, 2008 pukul 4:01 am
*ngakak*
kelaperan jg nih….hyuuu nyari yg laris2^^
April 15, 2008 pukul 10:46 am
Dah liat berapa pocong nih?
April 15, 2008 pukul 10:49 am
aduh, ga pengen liat, mas…cukup denger ceritanya aja.
eh eh eh, bentar…pernah ding, liat pocong. serius.pas takziah/layat. *serius*
April 17, 2008 pukul 6:07 am
hiii… takut ma pocongnya
April 17, 2008 pukul 7:53 am
@ ario dipoyono :
lhah, kl saudara kita yg muslim, kl meninggal kan, dipocong ??
April 19, 2008 pukul 6:58 am
Semua artikel berita di blog ini menarik dan bagus-bagus. Anda bisa lebih mempopulerkan artikel anda di infoGue.com agar lebih bermanfaat bagi pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/makanan_minuman/mitos_penglarisan_dan_kuliner/
Agustus 11, 2008 pukul 7:21 am
ihiii….ketauan suka oseng-oseng uret *langsung nyari di sawah* =))
Februari 28, 2009 pukul 2:12 pm
Allahumma innii a’udzubika minal hammi wal khazan, wa a’udzubika minal ‘adzji wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.
“Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.”