17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2009 : Di Mana Kepedulian Kita?

Hari ini 17 Agustus. Perayaan kemerdekaan Indonesia tercinta. Berbagai macam cara memperingatinya. Dari yang bersifat pesta rakyat macam panjat pinang hingga kelas sosialita di venue mewah. Tetapi bagi saya sendiri, jujur saja, 17 Agustus tidak banyak berarti apa-apa. Sama saja seperti hari libur lainnya. Malah agak di bawah lebaran yang ada perasaan tertentu berkecamuk. Ini, biasa dan cenderung datar-datar saja.

Saya ingat ketika di Perth. Mendekati 17 Agustus ada perasaan tertentu. Mengharapkan sesuatu yang berbeda dibanding ketika di tanah air. Sesuatu yang sifatnya mungkin bisa dikatakan pencerahan, seperti laiknya pengalaman spiritual. Nyatanya? Sama saja.

Semasa sekolah, 17 Agustus malah menjadi hari yang cukup menyebalkan bagi saya. Apa pasal? Karena hari yang seharusnya adalah hari libur, hari dimana saya bisa bangun siang, tetapi saya tetap harus bangun pagi dan mengenakan seragam lalu berdiri di terik matahari untuk upacara bendera. Saya sungguh tidak menyukai upacara. Setiap Senin saya melakukannya, dari SD hingga SMU. Rasanya saya tidak mendapatkan apa-apa.

Kalau mengingat masa-masa itu, ada saja yang dilakukan oleh saya dan teman-teman supaya bisa membolos upacara. Jika tidak menemukan alasan, kami mengikuti upacara dengan terpaksa. Apalagi di ujung upacara biasanya ada adegan penghukuman. Barang siapa yang tidak mengenakan kelengkapan upacara seperti dasi, topi, sepatu hitam, dsb, maka siap-siap ia akan dipermalukan di depan sekolah, di depan gebetan, o h m y g o d. Semakin saya tidak menemukan nikmatnya upacara bendera. Dan apakah upacara meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta bangsa? Entahlah, bagi saya kok rasanya tidak ada hubungan yang signifikan antara keduanya.

Sebelum menuduh saya tidak nasionalis, saya akan menguraikan pembelaan diri. :mrgreen:

Saya mempunyai pertanyaan. Apa sih, sebenarnya makna 17 Agustus? Apakah 17 Agustus berarti upacara, lomba-lomba di kampung-kampung, pengibaran bendera, dll ? Jika kita tidak mengikuti semua kegiatan yang identik dengan perayaan 17an, apakah artinya? Dikaitkan dengan nasionalisme kah? Kalau begitu, apakah nasionalisme itu? **

Nasionalisme bagi saya adalah kata yang sangat abstrak. Sangat subyektif. Definisi operasionalnya bisa berbeda-beda bagi setiap orang.

Seringkali nasionalisme kita harus dibantu dengan hal-hal yang bersifat eksternal. Ketika budaya yang diakui milik Indonesia tiba-tiba diakui bangsa lain, langsung berkobar nasionalisme alias rasa memiliki. Ketika suatu daerah menyatakan ingin melepaskan diri dari Republik Indonesia, sontak yang lain berkoar-koar tidak rela jika ada yang ingin memisahkan diri. Ketika situasi sedang adem ayem, maka ya bisa dikatakan tidak ada yang peduli.

Nasionalisme diidentikkan dengan mencintai produk dalam negeri. Tapi ketika wajah perfilman Indonesia didominasi oleh film-film plagiat dan tema monoton dengan skenario payah, akankah kita memaksa diri tetap menontonnya? Ketika kita memilih untuk menonton tayangan tv produksi luar negeri dibanding sinetron Indonesia yang mutunya ‘yah begitulah’, lunturkah nasionalisme kita?

Kalau sudah begini, saya cuma bisa keingetan quote dari John F Kennedy yang paling terkenal :

ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.

Kuncinya kalau menurut saya satu : PEDULI.

Ketidakpedulian itulah yang dapat menghancurkan nasionalisme.

Ketika kita tidak peduli dengan budaya sendiri. Ketika kita tidak peduli dengan kelestarian lingkungan dan kelestarian hutan Indonesia. Ketika kita tidak peduli dengan sungai-sungai yang membelah kota dan pedesaan. Ketika kita tidak peduli dengan kekayaan flora fauna Indonesia. Ketika kita tidak peduli terhadap nasib saudara kita yang di Porong Sidoarjo. Ketika kita tidak peduli dengan saudara kita di pedalaman yang tidak tersentuh pelayanan kesehatan. Ketika kita tidak peduli dengan antrian warga yang mengantri uang zakat 30ribu rupiah hingga kegencet. ketika kita tidak peduli ada anak tetangga yang dianiaya oleh orang tua kandungnya sendiri.

Dan lain-lain.

Say No To Ignorance!! (halah, bahkan saya pun ‘terpaksa’ memakai bahasa Inggris untuk menghimbau ini)

Salut untuk para saudaraku yang demikian peduli, berbuat sesuatu untuk bangsa ini, untuk saudara-saudara sendiri. Seperti mereka para petugas penjaga hutan dengan gaji minim, para dokter PTT, para guru di pedalaman, mereka yang berjuang menyadarkan para tetangganya untuk mengelola sampah sendiri, dan lain-lain.

Termasuk apa yang telah dilakukan oleh teman-teman Kopdar Jakarta, dibawah koordinasi GoenRock. Kepedulian GoenRock dan teman-teman diwujudkan dalam video berikut. Jangan nilai besar-kecilnya, tapi apresiasilah bentuk kepedulian tersebut. Mereka peduli. Kita? Dan apakah bentuk kepedulian kita, bentuk yang nyata?

Jadi apa makna 17 Agustus? Cukupkah dengan upacara, pengibaran bendera, berbagai lomba-lomba yang lucu-lucu?

Dan tolong, bantu saya memahami mengapa perasaan saya datar-datar saja setiap 17 Agustus.

** Hal yang sama setiap kali mengamati perayaan Hari Kartini. Mengapa Hari Kartini jadi identik dengan memakai baju daerah, parade dengan baju daerah, dan lomba-lomba seperti memasak dsb.

Dirgahayu Indonesiaku!!

About these ads

36 thoughts on “17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2009 : Di Mana Kepedulian Kita?

  1. Ping-balik: Tujuh Belasan ala Kojakers! « Kopdar Jakarta

  2. Buat saya pribadi, kepedulian terhadap negeri ini adalah dalam bentuk: “semangat berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada siapapun yg ingin menjadi cerdas.”

    Sudah dimulai dari beberapa tahun lalu, via blog, FreSh, buku, dll, dan akan terus mencari media baru untuk itu.

  3. setiap saat saya terkesima dengan mereka yang melakukan “pekerjaan nasionalis” didalam keseharian mereka. mereka diantaranya adalah yang menyediakan sekolah anak2 jalanan dg uang mereka, mereka adalah yg meluangkan waktu mengajar utk anak2 jalanan tanpa gaji. mereka setiap hari “merayakan hari kemerdekaan” bersama dg anak2 yg “belum merdeka”. they doing their own nasionalism beyond the word, beyond the ritual. they do not just yelling the words but share the dreaming. dan mereka melakukan semua itu dengan penuh kasih dan kepedulian, karena tidak ada beban jabatan dan beban popularitas dalam diri mereka. just doing because love, for love and with love. (hayahh… aku pun tidak memakai bahasa Ind yg baik dan benar, inggris pun acak kadul) ;))

  4. Ping-balik: Hari Merdeka | :: ViceAnt ::

  5. sewaktu saya bersekolah diluar , saya ikut merasakan hal berbeda dibanding di lokal. disana ada perasaan kebersamaan dan kedekatan yang lebih kuat .. mungkin karna persamaan nasib atau bahkan boleh dibilang ada rasa membutuhkan

    terakhir..
    [..ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country....]

    memang ini baik, tapi saya rasa sudah tidak relevant dengan Indonesia, mksdnya jangan sampai kita diperbudak tag diatas, oleh para petinggi2.. apapun jabatannya… jangan sampai hanya karna ini kita diperalat ..sedih dan terlalu sayang jika kita berusaha atas nama negara tapi justru dikadali teroris politik

    • aha, saya setuju, mas.

      memang, kita harus hati2 menyikapi berbagai hal. semua bisa dipelintirkan maknanya, tergantung siapa yg punya kepentingan.
      karena itu, ada penjelasan, dialog, diskusi dsb. semuanya itu menyampaikan makna, pesan , supaya sampai ke orang lain. begitu juga dg tulisan ini.

      memang bahaya sih, kl idiom di atas dipelintir oleh pejabat utk pembenaran atas sepak terjang mereka…

  6. Saiya berusaha jadi bapak yg baik bagi anak saiya, suami yg baik bagi istri saya dan serdadu yg baik bagi negara saiya.

    Maka, biar tidak datar-datar saja…. cepatlah jadi ibu :mrgreen:

  7. Kan sekarang dah ada film merah putih yang temanya gak monoton dan bercerita tentang perjuangan

    banyak juga buku2x pahlawan masa lalu yang kini laku

    perlahan tapi pasti nasionalisme dan rasa kebanggaan kita sebagai bangsa indonesia pasti bakal balik lagi

    hehehe

  8. Modernisasi dan kemajuan teknologi boleh aja terus bergerak pesat,
    tapii.. nasionalisme kudu tetep dijaga., jadi inget kemarin temenku suruh tirakatan gak mau malag dugem..fiuhh…

  9. duh… upacara… apa ya yang bisa kuingat selain semangat tampil di depan umum… hehehehe :P

    serius nih mbak med, nasionalisme emang bukan sekedar upacara lantas bikin lomba2, dan lain2 ketika 17an.
    tapi y ntah mengapa dengan adanya itu setidaknya ada sedikit yang mengikat kita pada momen itu sebagai suatu bangsa. momen yang mempertemukan orang-orang yang mungkin sering acuh pada lingkungan sekitar, ketika ada 17an baru deh nongol.
    dan bener…kata kuncinya peduli. nah sekarang gimana kita mau menggerakkan kepedulian orang.. iya kan.
    saya masih harus belajar untuk peduli dulu pada orang lain sebelum mengajak yang lain ikutan peduli nampaknya. *intropeksidiri*

    • wogh…gak kepikiran dengan poin ocha di sini…

      hmmm…jd bisa dikatakan sbg momentun ya, sbg trigger utk aksi yang lebih lanjut… (thinking)

      ah, aku juga masih perlu utk berinstropeksi kok ocha (cozy)

  10. Ping-balik: Kopdar Jakarta: Semangat #indonesiaunite dalam Lagu Wajib Nasional Hari Merdeka | Ihwanul Iman

  11. Saya rasa ikut atau tidak ikut upacara tidak berpengaruh terhadap rasa nasionalisme dalam diri. Tapi kalau masalah pas hormat pada bendera merah putih, saya pikir ini adalah hal yang sakral. Pas upacara ataupun tidak. Nah, saya ada usul, para pejabat yang korup itu di hukum saja untuk hormat sama merahputih. tapi selama enam bulan dan jangan dikasih makan dan minum… :D

  12. Ping-balik: PBNU: Mari Kembali ke Khittah 17 Agustus 1945 | bijak.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s