serba sambal

Siang tadi, saya mendapatkan pengalaman yang menarik sewaktu makan siang nyaris sore.

Jadi ceritanya, sehabis diskusi materi untuk proyek mendatang di Caruban Madiun, perut yang sudah berkeruyuk minta diisi membuat saya terpaksa muter-muter cari makan. Dasar rewel, makan siang yang sudah telat (jam 15) saja pake banyak pertimbangan. Salah satunya adalah, ingin mencoba tempat makan baru, mumpung lagi sendirian dan ga banyak diprotes.

Dari Pandega Marta – Jakal – Kampus UGM – Deresan, akhirnya saya terdampar di Deresan. Sebuah tempat makan baru yang menjual menu aneka sambal. Bukan hal yang baru sih, tapi tempatnya cukup catchy, etnik banget dan naturalis(bata ekspose dan bentuk joglo). Disitu saya pesen pepes bandeng bakar dan sambel iris plus es beras kencur (waduh, lupa ku foto).

Sambel iris ini mirip sambel matah Bali, jadi cabe, bawang merah, serai, tomat hijau diiris-iris dan dicampur dengan minyak jelantah. Segar, gurih, dan PEDAAAAASSSSSS !!!! Saya benar-benar tobat. Untung, perut ga rewel, setelah seharian belum diisi.

Gara-gara ini saya jadi mikir, sepertinya stereotype kuliner Jogja adalah serba manis, akan tergeser menjadi serba pedas. Betapa tidak, dalam beberapa tahun terakhir ini, warung-warung makan yang menjual sensasi mulut megap-megap kepedasan, makin menjamur saja. IMO, pelopornya adalah warung SS itu. Ownernya saya akui, sangat kreatif dan inovatif, ciri enterpreneur sejati. Dia mampu melihat peluang, digabung dengan kesukaannya dan diolah sedemikian rupa, sehingga hal yang biasa (sambal) menjadi luar biasa.

Dalam beberapa tahun, jejak warung SS diikuti oleh produk me too alias ikut-ikutan jualan sensasi sambal. Yang mengherankan, warung-warung tersebut laris manis tanjung kimpul. Seperti juga warung penyetan Banyuwangi, yang pepesnya naudzubillah pedasnya, laris manis juga. Wah,wah,wah, rupanya ada pergeseran lidah orang Jogja, yang manis-manis doyan pedas. Padahal, dulu waktu ikutan kursus tentang Food and Beverage, kata pemateri yang chef Hotel Quality bilang, kl di Indonesia ini, makin ke timur citarasa masakannya pedas asin. Makin ke barat, pedas berempah dan bersantan.

Omong-omong tentang sambal, ternyata tiap daerah punya ciri khasnya masing-masing. Saya paling suka dengan cita rasa sambal yang segar, seperti sambal dabu-dabu atau sambal matah. saya sangat terkesan sewaktu pertama kali ke Ambon dan disuguhi menu serba ikan plus sambal dabu-dabu. Sambalnya bikin merem melek. Hanya irisan cabe dan bawang merah, dicampur peresan jeruk lemon (kalo gak salah). Justru kesederhanaannya itu yang bikin nikmat luar biasa. Sensasi pedas kecut, sungguh segaaaaarrrrr, bikin mabuk dan ketagihan (mungkin karena saya juga penyuka cita rasa asam). Sayang, saya belum pernah nyoba sambal dabu-dabu Manado yang melegenda itu.

Nah sambel segar lainnya adalah sambal matah, seperti yang saya deskripsikan di atas. Pernah nyoba sambal matah bikinan orang Bali asli. Pertama waktu gempa Jogja, teman-teman sukarelawan dari Bali masak-masakan seperti semacam urap (aduh lupa namanya) dan menthog, yang aduhai lezat sekaliiii pus tak lupa sambelnya. Kedua, sewaktu menghadiri pernikahan sahabat di Tabanan Bali. Wah, saya bener-bener merem melek nyaris orgasme, hehehe.

Sambal matah Bali ini, IMO, mirip dengan sambal beberuq Lombok. Maksudnya, serba segar dan diiris-iris. Belum pernah ?? Wah kudu nyoba !!! Dengan ayam taliwang, wahhhhhh….tak terkatakan….

Sambel-sambel lain yang bercita rasa manis seperti sambal bajak, sambel kecap, yah suka juga. Paling enak dengan menu serba gorengan ato bakaran. Sambal yang bercita rasa kencur, wah itu unik dan sedap banget. Apalagi sambel yang dicampur dengan irisan mangga ato kweni. Btw, tadi sempet liat warung yang sedia sambel kweni di sekitar jakal, wah harus dicoba tuh. Mungkin perlu eksperimen, sambal stroberi, sambal belimbing, wah kayak apa ya ??

Hmmmm…jadi terobsesi untuk mengumpulkan bermacam aneka resep sambal dari seluruh nusantara^^