pembela bencong….???

gw bener2 tergelitik utk nulis bencong ini, gara2 postingan disini yg cukup bikin gw berharihari kepikiran.

ini nih postingan sialan yg cukup mempengaruhi gw :

http://balebegol.blogspot.com/2007/11/pekerja-dengan-tarif-termahal.html

gar2 itu, saya jadi mikir ulang dg bencong.

jgn ketawa dulu, yap, mereka emang slm ini udah cukup dibikin bahan lelucon. malah2 sinetron remaja pun ada karakter bencong, biar seru, saru dan lucu !!!

gara2 postingan itu, saya mikir tiap kali liat necong ngamen di jalanan jogja. palagi kl ketemu benong yg wajahnya ‘meledak’ karena silikon yg disuntik scr ilegal. duh kasian sekali, sumpah jelek bgt -jujur aja- tp juga trenyuh. lha gimana, dia masih pede jaya dandan super heboh dan aksi tralala sambil ecek-ecek krincingan.

guys, pilihan bencong utk bertahan hidup di endonesa, selain jd pekerja salon, tukang jait, tukang ngamen, dan pekerja seks, apaan sih ??

kl dibandingin sama sesama peminta-minta di jalan yg ‘normal’, seperti emak2 yg diceritain si idep itu, mereka bukannya masih ada yg mau nerima jd pembantu, buruh, baby sitter, ato apa kek. tp kl bencong, siapa bos disini yg mo nerima jd pegawai ??? pengalaman gw jd tukang rekrut, kok blm ada persyaratan utk jenis kelamin : waria.

jadi pekerja salon ato tukang masak ato aapun lah, itu menuntut mrk utk berwiraswasta dan utk itu hrs punya modal duit. sekedar modal skill, misal bahasa inggris / asing/ fisika dan buka les2an (jenis wiraswasta ini yg ga butuh duit banyak) siapa hayo yg mau jd muridnya ????

bayangin, guys, g dibilang idep bener. bencong2 itu kl mo ngamen, mrk modal lho. pake dandan heboh tralala plus make up yg, anjrit gw aja kalah pinter. yg didapet berapa sih?? 100?? 500?? belum digodain / dilecehkan.

gw kok prihatin ma mereka……

oia, pas natal, sekitar j10an aku pas keluar rumah, ada keperluan. lha kaget, deket rumah (jl gowongan kidul) kok ada dua bis gede nangkring. trus ada rombongan bencong2 dg dandanan naujubilleeeeee….. lbh kaget lg, dr arah utara tyt masih banyak rombongannya, dg dandanan tak kalah heboh. sepatu high heels, stiletto, hingga boot stiletto, rok mini, tanktop, skinny jeans, kacamata a la jacky O,……

omaigat, ada apakah ????

kayaknya mrk mo pergi piknik seneng2 deh….. walhasil satu jalanan nengok semua ke rombongan ‘ajaib’ tsb. di sisi lain, cukup terenyuh, membayangkan, betapa langka mrk punya momen seneng2 spt itu, dimana mrk bisa meng-ekspresikan diri -dandan secantik mungkin- sampe2 semalam pas aku pulang, nyaris ga ketemu bencong satupun yg ngamen. ternyata mrk siap2 utk piknik…. (bayangin, gw aja yg cewek, kl tau paginya ada momen heboh yg enyenangkan, gw uda sealaman siapin semua. dr outfit, aksesoris, sepatu…..biar cantik !!! ūüėČ )

-pembela bencong dan penderita obesitas yg selama ini sll jd bahan lelucon-

perkawinan beda agama -pt.two-

berikut adl kutipan wawancara dengan Ibu Siti Musdah Mulia, yang saya copy dari milis…… enjoy^^¬†

Anda bergerak dalam bidang pendidikan. Bagaimanakah harus menjembatani keberagaman yang demikian jauh berbeda?

Persoalannya, di dalam pendidikan agama, pandangan-pandangan yang kritis, yang rasional, itu baru disajikan pada level atas. Biasanya pada level S2 atau S3. Padahal, berapa banyak orang yang bisa akses pendidikan itu?

Karena itu ketika rapat di Departemen Agama, saya mengatakan seharusnya pendidikan agama yang kritis itu dimulai sejak SMU. Tetapi banyak yang menyangkal, dengan mengatakan kalau di SMU itu pemahaman agamanya belum kuat. Mereka takut akan goyah.

Maksud saya, pendidikan agama tidak semata-mata dogmatis, doktriner. Saya maunya, dalam agama, yang dogmatis itu tidak banyak. Tetapi, political will kita masih sebegitu.

Ada banyak gangguan dalam keberagaman kita, yang membuat keharmonisan hidup dalam keberagaman tercederai belakangan ini?

Pengaruh reformasi ini membuat semua orang muncul. Termasuk kalangan ekstrem, dari agama apa pun, turut mengambil bagian dalam reformasi ini. Hanya sayangnya, mereka ternyata lebih vokal bersuara. Kelompok-kelompok moderat atau kelompok liberal ini, lebih memilih menggunakan cara-cara yang biasa dilakukan kalangan terdidik, menggunakan ajang diskusi, menggunakan pena untuk menulis.

Saya hanya ingin mengatakan, kita sebagai bangsa kok hanya mengurusi pornografi, bukan mengurusi persoalan-persoalan besar yang dihadapi bangsa ini. Saya sungguh sedih sekali.

Maksudnya perlu terus-menerus disuarakan bahwa ada yang lebih penting yang dihadapi bangsa ini, selain daripada pornografi dan pornoaksi?

Ya. Saya langsung katakan kepada para ulama, apa fatwa ulama tentang trafiking (perdagangan manusia, menjadi pekerja seks), yang sekarang terjadi di mana-mana. Siapa pula yang membela migrant worker kita yang diperlakukan sangat tidak manusiawi? Kapan mereka pernah mengeluarkan fatwa berkaitan dengan itu?

Bagaimana pula caranya kita mencegah busung lapar, yang masih terjadi di mana-mana? Kalau saya ajak ngomong tentang hal itu, mereka cuma bengong-bengong saja. Saya katakan itu di hadapan ulama.

Persoalan Ahmadiyah, contohnya, bukan persoalan internal umat Islam, tetapi ini persoalan eksistensi bangsa ini sendiri. Apa kita memilih menjadi bangsa yang homogen, yang bersatu dari ujung ke ujung dengan seluruh pluralitas yang kita miliki?

Nanti akan ada banyak kelompok yang lain, dan ini potensi konflik di mana-mana.

Kalau kita ini terlalu sibuk dengan masalah-masalah internal, akhirnya kita tidak akan melakukan apa-apa. Saya tidak tahu. Ini perlu menjadi perenungan kita bersama.

Dengan kata lain, kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan kecil, sementara di depan kita mengadang banyak masalah seperti bencana alam, flu burung, busung lapar, dan sebagainya?

Ya. Busung lapar itu, misalnya, ketika pada suatu saat saya turun ke lapangan, pejabat desa itu malah berada di Jakarta. Entah mengurus apa.

Bagaimana soal perjuangan perempuan?

Ya. Soal pembelaan kepada kaum perempuan, misalnya, saya sering mendapat caci-maki, dengan mengatakan saya telah kebablasan. Bagi saya, itu karena sejak kecil kita sudah dicekoki pandangan-pandangan yang mengatakan, apa yang sudah pada tempatnya itulah yang benar. Mereka tidak punya alternatif lain.

Nah, berkaitan dengan pandangan-pandangan baru ini, saya bersama kawan-kawan memang tidak berharap pandangan baru ini akan berlaku sekarang. Itu jauh. Tetapi, setidaknya, buat saya, mereka pernah mendengar pandangan yang berbeda. Itu saja. Karena untuk mengubah sekarang, tidak mungkin.

Bagaimana Anda menyosialisasikan pandangan-pandangan baru?

Sebagai staf pengajar, saya mengajar. Yang kedua saya menulis. Yang ketiga, saya menyosialisasikan melalui banyak diskusi, seminar.

Saya pikir memang perlu ada jembatan. Namun, siapa yang menjembatani? Ada banyak orang tidak pernah punya akses. Dalam penelitian saya, rata-rata kita beragama itu hanya karena pendengaran sendiri, tidak pernah menggali sendiri kebenaran dari sumber aslinya.

Saya sangat bersyukur pernah kuliah di Sastra Arab, mengerti bahasa Arab.

Bagaimana Anda memetakan perempuan Indonesia?

Gerakan perempuan Indonesia memang tidak bisa dimungkiri banyak kemajuan. Dalam pendidikan, contohnya. Semua lapangan kerja sudah bisa dimasuki perempuan. Cuma, persoalannya, akses itu terbatas oleh persoalan ekonomi dan patriarkhi yang dianut. Begitu menikah, mereka terjebak lagi.

Saya mengenal banyak aktivis yang sebelum menikah itu luar biasa karyanya, tetapi sesudah menikah terjebak pada pola patriarkhi. Makanya pemberdayaan perempuan itu harus dilakukan di semua lini. Bagaimana membuat masyarakat kita, laki-laki maupun Perempuan, menyadari hal itu. Keterlibatan perempuan pada semua sektor itu suatu keniscayaan. Karena membiarkan perempuan menjadi beban juga masalah besar masa ini.

Kalau saya menyosialisasikan masalah ini di depan bapak-bapak, biasanya saya balik bertanya, kalau perempuan itu tidak berdaya, akan jadi beban. Akankah selamanya kaum bapak sanggup memikul beban itu?

Perjuangan seperti itu tidak bisa dilakukan dengan paham-paham feminis yang menuntut. Karena akan terlebih dulu ada resistensi. Jadi, harus ada strategi.

Kalau seorang suami mencari nafkah sendiri, apakah di masa depan juga akan tetap bisa seperti itu dalam kondisi kehidupan yang semakin sulit? Masa yang akan datang, kita tak akan bisa hidup dengan hanya seorang pencari nafkah. Dengan tuntutan hidup yang semakin tinggi, tidak bisa tidak, dua-duanya, suami-istri, harus mencari nafkah.

Kita sejak awal harus mendidik anak-anak dalam dunia realistik. Tidak laki-laki, tidak perempuan, keduanya harus bisa, karena keduanya harus berbagi peran. Itu tuntutan hidup di masa datang, suka tak suka kita harus menghadapinya.

Pernikahan beda agama adalah kenyataan yang tidak terbantahkan. Apa yang Anda lakukan bersama ICRP?

Di Jakarta saja, ada 500-700 pernikahan pasangan beda agama. Itu contohnya. Makanya, harus ada solusi. Angka itu kami peroleh dari institusi resmi seperti imigrasi dan lain-lain. Kecenderungannya meningkat. Nah, kenapa sih keinginan masyarakat untuk menikah beda agama itu tidak diredam dengan peraturan, apa pun.

Itu hak masing-masing orang. Dan, kita tidak bisa mengubah keyakinan seseorang.

Kami di ICRP, pertama kali akan meyakinkan, bahwa keputusan pandangan beda agama itu bukan emosi sementara. Kami memberi gambaran akan masa depan mereka. Kami mengingatkan masih akan ada kemungkinan konflik di masa datang, risiko yang harus dihadapi. Kami paparkan logika, pernikahan agama yang sama saja banyak konflik, apalagi yang berbeda agama. Menikah satu kewarganegaraan saja ada banyak masalah, apalagi pernikahan antarkewarganegaraan.

Semua kemungkinan buruk itu kami sampaikan dulu. Kalau memang yakin, pasangan itu akan datang lagi. Pada tahap itu, yang kami minta adalah persetujuan orangtua. Kami tidak mau kalau tak ada persetujuan orangtua. Kalau memang sudah yakin, akan kami panggilkan ulama, lalu kami menguruskan ke pengadilan untuk mendapatkan akta. Jadi secara hukum sah.

Namun, harap dicatat, kami tidak mempromosikan perkawinan beda agama. Kami ingin merespons persoalan-persoalan yang muncul, karena menyangkut pluralitas masyarakat itu sendiri. Ingat, kalau ada persoalan yang muncul, itu harusnya ada solusi.
PEWAWANCARA: SOTYATI
http://www.ham.go.id/index_HAM.asp?menu=artikel&id=783

move your hip with this indonesian raising star….

Omaigat, malam jumat kmrn ini rasanya nyesel bgt. Secara tidak sengaja, gw nonton rangkuman performing live show-nya Andezzz. Omaigat, omaigat, i love this guy, i love his music.

Katanya alirannya chillout / nu jazz / soulfuljazz (?).

God, i love this music !!! bukannya ini yg lg aku cari-cari dan lg aku gandrungi ??

Pasti asyik, keren, dan katarsis bgt nonton live shownya, bisa goyang semua ni badan.

Sayang bgt, sayang !!!

Gw ga terlalu perhatian dg jadwal promo dia di jogja.

AAARRGGGH, i missed it !!!!

Ok guys, let me buy his music and i’ll listen with my heart and let my body sing it……

And let my body do the talks……

Move your body, sing it, uh yeahhhh

-aaaargggh….gw lg ngebayangin katarsis abis denger aliran musik ini-

doi katanya ambil kuliah musik di malingsiah dan Berklee College of Music di Boston. yg terakhir katanya dapet beasiswa. ternyata doi adl DJ yg cukup beken di komunitas penyuka dugem.

wanna know much bout him ??

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=317855

http://www.ravewarrior.com/andezzz/testprof.html 

kalo gw, bakaln buru2 ke toko kaset nyari musiknya.

OMAIGAT, I WANNA DANCE !!!! I WANNA TRANCE !!!!

perkawinan beda agama -pt.one-

ide ini sudah agak lama, dari sejak ngeblog. tp krn idenya terlalu serius, saya jd nunda2 terus.  padahal topik ini menarik krn sensitifnya dan juga komplesitas masalahnya. hanya aja, dari hasil blogwalking, ternyata masih juarang yg ngulik. agak heran juga sih, krn biasanya topik2 agama laku keras di wordpress. ide mulai terbentuk sejak membaca postingannya om guh, bang aiptop, extremusmilitis, dan terakhir felix. lha gak nyangka aja, dr diskusi ttg natal bersama di rumah mas mbelgedez kok malah jd oot bgt. tp malah memacu saya utk ngetik. awalnya yg hanya pengen memperjelas masalah, yg dimaksud natal bersama itu apa, sekedar salah persepsi atau isu kristenisasi. eeeh dr sharing pengalaman kok malah membahas ttg PBA^^(sori buat yg belum dilink, mata saya udah pedezzzzz)

Postingan ini murni adalah kutipan yang saya copy secara tidak beradab dari buku Tafsir Ulang Perkawainan Lintas Agama : Perspektif Perempuan dan Pluralisme, yang diterbitkan oleh KAPAL Perempuan, Jakarta, tahun penerbitan 2004, editor Maria Ulfah Anshor dan Martin Lukito Sinaga. Jika ada pertanyaan mengenai isi tulisan ini, saya selaku pemilik blog tidak dapat menjawabnya, saya hanya bisa menjawab pertanyaan yang menyangkut mengenai opini saya pribadi, mengenai apa yang saya rasakan dalam menjalani pacaran beda agama.

Sebenarnya sudah agak lama saya ingin posting mengenai topik yang cukup sensitif ini, baik dari sudut pandang pribadi yang lebih banyak bersifat curhat, dan beberapa tulisan dari para ahli yang pro mengenai PBA. Tujuan saya tidak lebih dari sekedar sharing, karena selama kurang lebih 2 tahun menjalani pacaran beda agama dan mulai berpikir ke arah yang lebih serius (perkawinan), ternyata banyak sekali suka duka yang saya alami dan saya tidak sendirian. Apalagi posisi saya sebagai perempuan, muslim, saya pribadi merasa sebagai pihak yang tidak berdaya. Misal, cap pezinah yang kelak akan disematkan ke jidat saya jika kelak saya menikah, sementara andai saya lelaki, cap tersebut tidak akan dialamatkan.

Betapa, secara personal, pedih yang saya alami, menerima penolakan dan kontra dari keluarga dan sahabat. Bahkan mungkin sekali, salah satu sahabat saya, satu genk sedari SMP, akan memperlakukan saya berbeda karena tidak setuju saya menikah beda agama. Betapa pedih hati saya sebagai perempuan, yang mungkin tidak saja kehilangan keluarga tapi juga sahabat.

Di sisi lain, secara personal juga, banyak sekali yang saya dapatkan dan belajar dengan menjalani pacaran beda agama. Mata saya (fisik dan batin) dibukakan untuk belajar menghormati, menghilangkan segala prasangka, dan hal-hal lain termasuk secara spiritual. Entah, setiap saya berdoa untuk dijauhkan darinya jika memang dia bukan untukku, ternyata ikatan yang terjalin di antara kami justru lebih erat, dan kami sama-sama merasakan, apa yang kami rasakan menjangkau hingga ke sisi spiritual kami.

Dari pengalaman pribadi tersebut, saya menjumpai banyak persinggungan dengan teman-teman senasib. Perempuan, muslim, yang juga mengalami dilema yang sama. Hanya saja, tidak semua seberuntung saya, dengan mendapatkan informasi yang mungkin dapat membuat mereka tidak lagi merasa terpojok.

Apa yang saya kutip berikut, sekali lagi adalah sebuah sharing, khususnya untuk teman-teman seperjuangan, bahwa ada pilihan lain yang kita miliki. Keputusan memang ada di tanganmu, tetapi alangkah mewahnya jika kita mempunyai lebih banyak pilihan.

Terimakasih saya ucapkan untuk Resyta dan Sauson Indriarso, teman seperjuangan, yang berkenan meminjamkan buku ini -sory, belum aku balikin, masih aku simpen hehehe-

Perjuangan agar perkawinan lintas agama tidak dipersoalkan masih membutuhkan waktu panjang, karena agama dan negara saling menjustifikasi untuk menolaknya. Padahal, dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia, bentuk perkawinan ini adalah sebuah keniscayaan. Oleh karenanya, diperlukan keberanian dan keterbukaan untuk menafsirkan kembali secara kritis dan kontekstual dogma dan hukum agama maupun kebijakan negara yang menolak perkawinan lintas agama. Perspektif perempuan dan pluralisme yang ditawarkan buku ini merupakan salah satu alternatifnya.

baca lebih lanjut…..

psikologi lalu lintas (pt.two) : GIRLZ, WATCH OUT YR BOYZ !!! cara cowo mengemudi menandakan kepribadiannya, loooh -gaya a la majalah remaja cewek-

yoi, girls. sekarang tak perlu ber-bingung-bingung dan bersusah-susah untuk menebak karakter cowokmu ato gebetanmu. cukup ajak dia (dia yang nyupir dong) untuk menyusuri jalanan yang terkenal jahanam macet dan bikin emosi.

asumsinya adalah, individu yang berada pada situasi yang menekan, maka dia akan terlihat aselinya. ga percaya ??? lah, lalu buat apa tu, outbond-outbond. laris manis kan ??? coba kita tanya temen-teen pecinta alam, pada situasi ekstrem, gimana dinamika-relasi yang terjadi.

kembali ke menebak karakter aseli cowok, dengan mudahnya bisa kita baca engan mengamati kelakuannya pada situasi anjrit menekan di jalanan itu. bayangkan, siang-siang nan panas, AC sengaja dimatikan (bilang aja rusak), macet berat, diklakson dari samping-belakang, saling serobot, ketemu angkot-metromini-bis yang dedel duwel cuek bak raja jalanan…….

kalo dia nyetir a la raja jalanan yang srabat srubut srobot bikin orang lain antri masuk akhirat  plus misuh-misuhi orang, jangan-jangan dalam memperlakukan kamu -pacarnya- pun begitu. alias egois, merasa diri centre of universe, hanya peduli dengan pendapat dan situasinya, maunya jalan pintas.

kalo dia nyetir alon-alon, diklakson berkali-kali ga ngeh, parkir sembarangan, jangan-jangan dia memang cukup telmi.

kalo dia nyetir dengan waspada, tapi masih nanggepi obrolan kamu, mempersilakan pejalan kaki yang mo nyebrang lewat, menyalip dengan tegas bis yang selonong boy, hmmm…..he’s a man of your dream. jangan kaget, siapa tahu nanti di atas ranjang, dia begitu care dan hanya mempedulikan kepuasanmu ūüėČ

so…..watch out, gurls…. ^^

psikologi lalu lintas (pt.one)

*sebuah sudut pandang dari sang ‘korban’*¬†

sodara-sodara sekaliyan…..

terutama yang berdomisili di jogja dan menyetir sendiri.

pernahkah sodara-sodara mengalami rasa capek, marah-marah, dan semua energi negatif setiap kali habis menyetir di jalanan nan raya di jogja tercinta ini ???

oh, sodara-sodaraku tercinta…my brader and my sista…..

aku merasa begitu, setiap kali habis nyopir. entah itu siang ato malam. dan semalam empat terbetik pertanyaan, aku tambah tua ya ??? kenapa ya, tiap di jalan rasanya mak deg-deg sirrrr tiap kali ada yang nyalip, ada yang tiba-tiba ngalang jalan, tiba2 ada yang nyeberang, dll.

sodaraku tercinta……inilah ‘musuh’ (lo, kok musuh ya???)¬†saya selama di jalanan. semua diatur menurut frekuensi ketemu dengan saya.

1. motor yang ga nyalain sein kalo tiap mo belok, tiap mo belok langsung dan tiba-tiba nyelonong, nyalip dan motong jalan plus ngebut padahal kita uda kasih sein mo ke kiri eh tiba2 dari samping kiri ada motor nyelonong dan tancap gas langsung ambil jalan ke kanan, motor yang tiap keluar dari gang ato jalan kecil ato halaman rumah tiba-tiba mak kluwer langsung belok, motor yang jalan zigzag sambil ngebut, motor yang kalo ketemu malem-malem ga pernah nyalain lampu padahal jalanan gelap, motor yang menengah-nengah dan nutupi jalan sambil jalannya tuh pelan-pelan / nanggung dan tiap diklakson ga ngeh ato malah misuh, motor yang jelas2 meleng dan nyerempet bodi mobil tapi cuek dan pura2 ga tau sambil terus ngeloyor, motor yang meleng dan ketika dilakson utk ngingetin malah melotot sambil pasang tampang galak -ufh…..sementara ini dulu-

2. mobil yang jumawa bin goblok pasang lampu jauh padahal di dalam kota ato jalanan rame -apa dia ngerti cahaya lampunya itu bikin buta pengendara lain-, mobil2 manja nan cemen yang parkir mobilnya sembarang misal tepat di tikungan, mobil yang belok ga kasih sein….. -uhm, apa lagi ya…..-

3. truk-truk yang muatanna naujubileeeee dan tanpa rasa bersalah lewat jalan yang bukan untuk golongannya dan merusak jalan raya sampe bolong2 se kubangan kebo, bis-angkot yang suka seenak udelnya dewe dan ga punya perasaan (tanpa kasih sein tiba2 motong jalan dan belok trus minggir,  jalan pelan-pelan dan -lagi- tanpa lampu sen ato lampu peringatan lain di jalan jalur cepat seperti di ring road, bis yang suka ngetem di tempat yang tidak selayaknya, bis-angkot yang suka ngeblong alias langgar bangjo, bis-angkot yang suka berhenti di jalur kiri di tiap bangjo padahal jelas-jelas kiri langsung terus seperti di perempata mirkam tuh)

4. becak yang suka ga merhatiin bangjo -buta warna,buta huruf, buta peraturan lalin-, penyeberang jalan yang suka langsung nyebrang tanpa merhatiin jalan, anak-anak kecil yang sering sepedaan dengan style-nya yang tidak memperhatikan ramai lalin dan keselamatan diri udah gitu sambil nyak-nyakan……

OOOOH…….TIDAAAAAAAAAAAAKKKKK, CAPEEEEEE DEEEEE !!!!!

*kata kakakku, kayaknya emang bener aku tambah tuwir deh. katanya, kl masih berdarah muda, masih menggelegak (emosinya?), kalo liat pengguna jalan lain tiba2 nyalip ato gimana, dia langsung ngejar dan berusaha mepet. pokoke dibales sampe nyaho’ lah. lha kalo udah tuwir, begitu ketemu pengguna jalan yang berangasan gitu, dia akan memilih utk jauh-jauh daripada tambah masalah (bijaksana ??)*

saya capek…..

uda sebulan ini, aktifitas ngeblog ga terlalu intensif. bahkan blogwalking pun jarang. yah, emang ada yg hilang sih, dan bukan mau sok hiatus seperti beberapa seleb blog itu (ga usah trekbek lah, toh udah bisa ketebak^^).

akhir-akhir ini, mulai agak aktif blogwalking, tp masih belum aktif posting. padahal udah banyak yg tersimpan di kepala lo…tp entah kenafa, di depan layar kok malah jd nge-blank gituh. apakah ini¬†creativity-blocking a la sastrawan-sastrawan terkenal itu??? :mrgreen:

sekalinya blogwalking, oke, saya masih terhibur¬†dengan beberapa postingan gendeng yg mampu bikin saya cukup terhibur *hmmm….ada yg cengarcengir tuh* plus beberapa postingan berat yang bikin dahi mengkerut. tapi seperti saya pernah bilang, antusiasme ¬†blogwalking sekarang ini tidak seperti beberapa bulan sebelumnya -malah ketika belum ngeblog- yang semangadh bangedh melahap dan melalap berbagai postingan berbobot. apalgi kl itu udah ke ranah SARA :mrgreen:

dan di sela¬†blogwalking,¬†walo ga se-antusias dulu, masih juga berhasrat dengan ranah agama¬†ūüėČ sepertinya tesisnya bocah genius itu¬†bener deh….

dan saya tiba-tiba merasa capek setelah membaca semuanya. ketika pulang rumah, energi saya seperti tersedot. sampe lemes (tapi nggak puas) dan agak-agak mengganggu gairah saya yang biasanya meletup-letup ini.

ya, saya capek dengan segala pertengkaran dan polemik tentang perbedaan. mengapa susah banget, menerima perbedaan. topik-topik keagamaan seperti konsep ketuhanan nasrani dan muslim (yg selalu diwarnai pertengkaran yg sungguh tidak elegan), pluralisme dan humanisme (seperti yg diusung blogger-blogger macam bang jarar siahaan, bang toga, bang fertob, bung danalingga, etc) or semacamnya, kenapa selalu ada orang-orang yang tidak bermain cantik. dan kehadiran mereka sungguh menyedot energi ku.

ada apa dengan perbedaan ???

begitu mengerikan seperti setan kuntilana, wewe gombel, gendruwo, banaspati kah ???

sedari kecil, entah kenapa juga, aku kok suka nonton film2 hollywood yg tentang rasisme. macam missisipi burning, gitu, dimana kaum kulit hitam tertindas oleh mereka kulit putih yang terancam oleh perbedaan warna kulit. dan kesimpulanku satu, jangan2 kebencian itu karena yang sebenarnya mereka TAKUT !!!!

saya dan pacar berbeda agama. tapi yang membuat saya ‘cape’¬†ternyata bukan perbedaan agama, tapi perbedaan pandangan dari kami. dan ego saya yang besar, tidak mudah untuk menunduk.

(kapan2 gw mo posting tentang pacaran & perkawinan beda agama).

seperti hari ini. gw gugel tentang sinetron yg sempet di forward via sms, yg ditayangkan sabtu kemaren di recti / tvri.

ternyata, banyak juga blogger yang menulis ttg itu.

dan lagi-lagi saya jadi makin capek.

ah saya kupipes aja, komentar saya.

halah……

aih…cafek de……

busyet. gw juga terima itu sms. gw uda lgsg ga percaya. isu ini cemen bgt siy, harusnya kl orang pake otak dan cerdas, dia g akan terpengaruh ma isu2 dodol kayak gitu. temen gw yg fwd sms itu aja, gw warning biar ati2 ma isu2 yg dibikin utk mengganyang toleransi.

dan gw termakan oleh publikasi murahan itu. sore itu gw sempetin nonton. eh tp kok sinetronnya anake sophia latjuba ??? gw kira itu yg diribetin. tyt salah jam^^

setelah baca komen2 diatas, phew, tyt masih banyak orang yg ga cerdas dlm menyikapi suatu informasi. gw ketawa ngakak, pas ada yg bilang, slm nonton di seyogyakan utk wudhu, dzikir, dll. halaaaaaah, plis de aaaaaaah!!!

gw muslim, tp sedih juga+malu beratz, tyt masih byk sodara2 gw yg reaksioner en ga cerdas.

dan setelah baca komen2 di atas, gw jadi capeeee deh.

eh, buat sodara2 gw sesama muslim. mikir dong, mikir. emang segitu lemahnya, hanya krn stimuli/stimulus dr luar, trus iman kita goyah ??? oke, jika itu yg terjadi, salah sapa ???
analoginya gini aja. lo lagi jalan2 tapi ga liat kanan kiri ato situasi, tll asik liat2.tau2 kesandung batu sampe jempol lu berdarah. siapa yg mau disalahkan ??? kl liat kecenderungan dari komen2 di atas, ada yg mengambil sikap utk menyalahkan batunya dan misuh2 neriaki yg taruh batu. ada yg bersikap utk tetap diam, sadar krn kurang ati2, trus memungut batu itu utk ditaruh tmp aman.

sekarang pertanyaannya ganti deh. kalo td kan pertanyaannya, ‚Äôsapa yg mo disalahkan‚Äô. skrg kenapa ga tanya: ‚Äėapa yg akan kita lakukan ??? mengapa gw sampe kesandung???‚Äô

sekedar share aja, kebiasaan nyalahin batu, lemari, sepeda, dll selalu dilakukan ponakan gw yg masih umur 3 tahun. mengapa ??? krn ortu dan org2 disekitarnya mengajarkan, tiap kali anak itu terjatuh, kebentur, kesandung, dll, utk memprotect-nya, si ortu akan menabok ‚Äėtersangka‚Äô aka batu, jalan, lemari, pintu, dll dan bilang ‚Äúpintunya nakal‚Ķ.cep3, diam ya dek, ga usah nangis‚Ķ..yg nakal emang pintunya kok‚Ķ‚ÄĚ

padahal, jelas2 si anak yg ga ati2 waktu jalan.

moral of the story ??? silakan disimpulkan sendiri.

gw sih cuma mo pesen aja, terutama utk sesaa muslim, be a smart consumen. kritisi informasi. jgn gebyah uyah. oke ??? sip !!!

PS. kenapa umat non muslim ga protes kebakaran jenggot ya, dg tayangan sinetron2 yg rame di tivi, yg jelas2 penuh dengan simbol islam ya???? macam si entong, hidayah, dll. -maap ga apal, secara bukan pandemen-

coba deh, lepas kacamata dan bersikap empati. posisikan diri kita dengan diri mereka. apa ??? ga usah ??? ntar jd kafir ??? musyrik ??? BAH !!!!!

kita hidup ga sendirian, bung !!! we live under the same sun!!!!