perkawinan beda agama pt.three : hasil dari kumpul-kumpul itu…..

* posting berikut lagi-lagi saya copy tak beradab dari milis*

*semoga dapat dinikmati*

*hiks, pengen dateng, secara dapet problema yg sama……*

*tp terimakasih kpd mbak stella dan mas wahyu yg mau repot2 merangkumkan hasil kopdar kemaren*

 Catatan Hasil Pertemuan Milis Kawincampur Ke-3

Sabtu, 15 Desember 2007 (14.00-17.30)

Restoran Omah Sendok, Jakarta

Pertemuan dihadiri oleh 31 orang, termasuk narasumber yaitu Prof. Dr. Kautsar Azhari dan Ilma beserta Farid dari ICRP.

Perkenalan dan pembukaan

Acara dibuka oleh saya dengan menjelaskan secara singkat awal terbentuknya milis Kawincampur. Lia Marpaung melanjutkan dengan menceritakan bahwa ia pernah diundang oleh GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) untuk menceritakan tentang pernikahan beda agama di hadapan anggota majelis gereja dan para penatua. Hal ini digunakan Lia sebagai kesempatan untuk menunjukkan pada gereja bahwa pernikahan beda agama ada di sekitar kita dan gereja tidak bisa menutup mata mengenai ini dan lari dari tanggungjawab untuk merangkut anggota jemaatnya yang menghadapi hal ini. Lalu Adi Abidin melanjutkan acara sebagai moderator.

Dalam perkenalan, masing-masing menjelaskan mengapa berminat mengikuti pertemuan dan apa yang diharapkan. Banyak peserta yang masih bergulat dengan persoalan teknis penikahan beda agama dan perihal meyakinkan orangtua dan mendapatkan persetujuan mereka. Isak (Protestan) dan Ninil (Islam) yang sedang memulai persiapan untuk menikah mengakui bahwa sampai saat terakhir mereka menghadap orangtua tanggapan mereka masih sama, yaitu tidak menyetujui.

Meyakinkan diri sendiri

Evi (Katolik) dan Tom (Islam) mengatakan bahwa sebelum menghadap keluarga masing-masing harus memantapkan diri sendiri dulu. “Yang paling utama adalah, ego harus ditekan,” ungkap Tom. Dia menambahkan bahwa menikah beda agama benar-benar dituntut banyak dan diharapkan toleransi yang besar. Hal ini semakin dirasakan saat menjalani pernikahan itu sendiri. Kita tidak boleh memaksakan pasangan berpindah ke agama kita, malah kita harus mengingatkan soal ibadah jika pasangan lupa. Pernikahan Evi dan Tom dilakukan secara Katolik (tanpa sakramen) dan Islam. Memang diakui mereka bahwa perjuangan untuk meyakinkan keluarga besar membutuhkan proses yang panjang, demikian juga meyakinkan para sahabat yang sempat menentang.

Mengenai meyakinkan diri masing-masing juga disampaikan oleh Ari Perdana (Islam) dan Juli (Katolik). “Setelah meyakinkan diri akan lebih mudah menjelaskan kepada keluarga,” papar Ari. Hal selanjutnya yang harus dipikirkan memang adalah cara apa yang mau dijalankan dalam prosesi pernikahan. Menggunakan tata cara agama salah seorangkah atau keduanya, siapa yang harus didatangi dan bisa membantu, dan urusan administrasi lainnya. Semuanya ini harus dibicarakan berdua.

Ina, Yelce dan Indah, juga beberapa teman perempuan lainnya yang beragama Islam melihat bahwa jika perempuan Islam harus menikah beda agama menghadapi persoalan yang lebih besar karena masih banyak yang menganggap hal ini tidak memungkinkan karena terkait dengan tafsir Al-Qur’an.

ICRP

Ilma (ICRP) melanjutkan dengan menjelaskan apa sebenarnya misi ICRP dan mengapa mereka masuk ke persoalan pernikahan beda agama. ICRP (lihat http://www.icrp-online.org/) memfokuskan diri pada advokasi hak-hak sipil masyarakat, dan pernikahan termasuk hal sipil yang harus diadvokasi. Sampai saat ini ICRP sudah memfasilitasi pernikahan 52 pasangan beda agama. ICRP tidak hanya berhenti pada sebatas urusan prosedural pernikahan, tapi juga konseling pra nikah dan konseling selama pernikahan, dan berbagai urusan terkait di dalamnya, misalnya tentang agama anak pasangan beda agama misalnya.

Setelah masing-masing memperkenalkan diri dan menyampaikan cerita singkat berikut pertanyaan yang masih mengganggu pikiran mereka, lalu Prof. Kautsar menyambung dengan tanggapannya.

Teologis dan Teknis

Prof. Kautsar menjelaskan bahwa hal pernikahan beda agama masih sangat sensitif di Indonesia. Ia dipecat oleh Paramadina karena isu sensitif ini. Sebenarnya Paramadina pernah menerbitkan buku “Fiqh Lintas Agama” (Prof. Kautsar termasuk salah satu penulisnya) yang mengupas persoalan lebih besar tentang hubungan beda agama. Ada misalnya pembahasan mengenai bagaimana jika orang Islam datang ke acara perayaan Natal, tentang pengucapan salam, dan lain-lain. Tapi memang topik yang paling banyak disorot adalah tentang penikahan beda agama.

Dua persoalan yaitu persoalan teologis dan persoalan teknis selalu muncul menurut Prof. Kautsar. Dalam persoalan teologis-religi hukumnya adalah: bisa atau tidak. Prof. Kautsar menegaskan bahwa jangan kita melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani. “Jika merasa haram, jangan lakukan,” tegasnya. Persoalan teologis inilah yang harus diselesaikan dulu.

Persoalan teknis dan hukum biasanya bisa dicari jalan keluarnya asalakan keluarga sudah bisa menerima, demikian lanjut Prof. Kautsar. ICRP tidak berani memfasilitasi pernikahan pasangan yang orangtuanya belum merestui. Hal ini disebabkan karena kekhawatiran menghadapi tuntutan keluarga dan juga pernah mengalami serangan dari keluarga yang tidak setuju pada saat ICRP sedang memfasilitasi suatu prosesi pernikahan.

Mendapatkan persetujuan orangtua

Membujuk orangtua diakui Prof. Kautsar sebagai tahap yang paling sulit. Tapi ICRP mau menjadi salah satu pihak yang ikut bicara pada pihak keluarga yang masih menentang. Bisa juga dicari anggota keluarga yang setuju, lalu dicari cara dan kesmepatan yang terbaik untuk membujuk. Harus dilakukan berbagai cara dan memang membutuhkan proses yang panjang untuk meyakinkan.

Pihak-pihak yang memfasilitasi, mendukung dan menjalani pernikahan beda agama memang harus sanggung menerima banyak sekali konsekuensi, termasuk ancaman.

Ada beberapa kelompok teologi. Teologi eksklusif yang tidak menganggap agama lain benar bahkan menganggap penganut agama lain adalah kafir; Teologi Inklusif mengakui bahwa semua agama ada kebenaran tapi kebenaran ada pada agamanya saja; Teologi Pluralisme mengakui teologi berbeda, ritual berbeda tapi tujuannya sama yaitu mencapai keselamatan. Sayangnya Teologi Pluralisme masih sulit diterima. Orang lebih mementingkan identitas dan rela berkonflik karena kulit identitas, bukan isi. Ini disebabkan oleh pemahaman teologis yang masih terkotak-kotak. Harusnya kebebasan agama menekankan bukan hanya bebas memluk Islam atau lainnya, tetapi juga bebas untuk menganut paham atau mazhab tertentu.

Syahadat di dalam akad

Mayo (Katolik) menanyakan jika ICRP memerlukan restu orangtua lalu bagaimana jika hal tersebut belum diperoleh. Dan apakah pengucapan kalimat syahadat diharuskan dalam prosesi akad nikah.

Prof. Kautsar mengatakan bahwa memang membujuk orangtua supaya mau berdiaolog memang tidak mungkin sekali atau dua kali, tapi harus terus-menerus. Hal ini penting supaya orangtua dan keluarga setidaknya mengerti tujuan pasangan dan walaupun mereka tidak mau hadir dan merestui tapi mau menandatangani surat setuju atas adanya pernikahan. Sedangkan pengucapan kalimat syahadat sendiri bukanlah rukun nikah. Syarat sah pernikahan Islam adalah: 1. Pasangan yang akan menikah, 2. Wali Nikah, 3. Para Saksi, 4. Mahar (Mas Kawin), dan 5. Ijab Kabul.  Jadi, tidak diperlukan pengucapan kalimat syahadat.

Stella (Protestan) menceritakan bahwa ayahlah yang berperan melembutkan hati ibu selama tujuh tahun agar mau merestui pernikahan saya dengan Wahyu (Islam). Di tahun ketiga sempat mencoba membuka pembicaraan tentang hubungan beda agama ini tetapi malah membuahkan pertengkaran besar dalam keluarga. Akhirnya memang hanya ayah yang berusaha terus membujuk ibu. Bahkan pada saat awal mengurus administrasi pernikahan hanya berkomunikasi dengan ayah, dan hanya beliau yang menandatangani surat-surat administrasi dan surat persetujuan orangtua. Syukurlah akhirnya seluruh keluarga hadir pada saat pemberkatan di gereja dan resepsi, sedangkan saat akad hanya ayah yang hadir. Memang dibutuhkan proses yang amat panjang, tapi harus bertekad maju dan siap.

Isak menanyakan kepada Lia apa yang memutuskan dia menikah beda agama. Lia (Protestan) mengatakan bahwa selama berpacaran dengan Adi (Islam), ia terus mengkaji ulang apakah dirinya siap atau tidak menghadapi pernikahan beda agama. Akhirnya melalui perenungan dan pengkajian itulah memutuskan siap, bahkan siap dikucilkan oleh keluarga. Adi menambahkan bahwa ia justru bersyukur menjalani pernikahan beda agama karena bisa mendalami kepercayaan sendiri lebih esensial.

Joseph (Katolik) dan Myrna (Islam) menanyakan mengenai penjelasan dalam undangan. Jika memakai dua cara, yang mana yang harus dicantumkan. Menurut Prof. Kautsar mengenai undangan bisa menjadi kesepakatan bersama. Bisa saja dalam undangan hanya dicantumkan tentang acara resepsi, sedangkan prosesi agama dibuat dalam kertas yang diselipkan pada undangan untuk orang yang setuju saja. Ada berbagai macam variasi cara untuk hal teknis ini, asal kesepakatan saja.

Moniq (Katolik) yang berpacaran dengan Salim (Islam) menanyakan tentang Muhammadiyah dan NU. Apakah Muhammadiyah memang lebih keras menentang pernikahan beda agama? Dijelaskan oleh Prof. Kautsar bahwa NU dan Muhammadiyah sama-sama beragam-ada yang keras dan ada yang tidak. Ada juga yang sebenarnya setuju tapi tidak mau menghadiri akad nikah karena dia pemuka agama/ masyarakat.

Ina melanjutkan pertanyaan tentang perempuan Muslim yang ingin menjalani pernikahan beda agama. Sudah enam tahun berpacaran dengan seorang Protestan Advent tapi masih sulit bicara dengan orangtua karena tidak mempunyai referensi yang mendukung pernikahan perempuan Muslim dengan laki-laki non Muslim.

Fiqh dan Mahzab

Prof. Kautsar menjelaskan dalam Islam ada berbagai fiqh dan mazhab. Ada yang mengharamkan secara total pernikahan orang Islam dengan agama/kepercayaan lain, berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Ada paham lain yang membolehkan tapi hanya membatasi laki-laki saja yang boleh asal dengan perempuan dari agama ahli kitab. Sedangkan ada pula yang membolehkan baik laki-laki maupun perempuan Muslim menikah dengan penganut ahli kitab, dan pengertian tentang ahli kitab diperluas dengan tidak hanya Yahudi dan Kristen saja tapi semua agama dan kepercayaan yang memiliki kitab dan percaya pada Tuhan. Ia menambahkan bahwa tidak ada larangan yang tegas tentang hal ini di Al-Qur’an. Semuanya tergantung tafsir yang mana. Aliran yang menyetujui pernikahan beda agama dalam Islam mau menerapkan prinsip non diskriminatif dan egalitarian, yaitu tidak ada diskriminasi terhadap non Muslim dan perempuan. Bahkan menurut Prof. Kautsar, perempuanpun bisa menjadi imam.

Ia menambahkan bahwa dalam penelitian salah seorang dosen UIN terhadap keluarga beda agama (kelompok atas-menengah-bawah) di Yogyakarta, didapatkan hasil yaitu secara sosiologis pemahaman fiqh lama yang menagtakan bahwa jika ayahnya non Muslim maka anak-anak cenderung ikut agama ayah tidak terbukti. Justru melalui penelitian ini menunjukkan anak-anak umumnya mengikut agama ibu jika sang ibu beragama Islam atau Katolik. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk mengkhawatirkan jika seorang perempuan Muslim menikah dengan pria non Muslim maka anak-anaknya juga menjadi non Muslim. Justru pihak perempuanlah (ibu) umumnya yang lebih berperan dalam agama sang anak.

Prof. Kautsar menambahkan dalam perjalanan pernikahan pasangan beda agama biasanya keluarga besar, terutama mertua biasanya tetap (baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan) berharap menantu mengikuti agama anaknya. Mereka juga biasanya ingin berperan dalam menentukan agama cucu mereka. Hal-hal seperti inilah yang harus diantisipasi. Lebih baik pasangan bersepakat juga dalam menghadapi kondisi seperti ini dan sepakat mengenai agama anak supaya tidak menjadi bibit konflik dalam keluarga.

Buku terbitan KOMNAS HAM

Wahyu kemudian menjelaskan ada buku terbitan Komnas HAM dan ICRP yang diedit oleh Ahmad Baso dan Ahmad Nurcholish berjudul “Pernikahan Beda Agama” yang berisi cerita-cerita pasangan beda agama dan isu-isu besar yang akan mengalami transformasi teologis. (Adi Abidin dan Lia Marpaung termasuk pasangan yang menjadi narasumber untuk buku ini).

Teknis-teknis

Ilma menjelaskan lebih lanjut tentang program konseling nikah beda agama yang dilaksanakan oleh ICRP. Ada tiga pendekatan yang dijalankan oleh ICRP, yaitu: 1. Dialog dalam tatanan teologi (penguatan keagamaan masing-masing), 2. Sharing pengalaman (yang sudah dan akan menikah, yang sudah punya anak, dll), 3. Tatanan aksi (2 kali mengadakan acara halal bihalal dan 1 kali mengadakan aksi sosial). 

Teknis lain yang penting dalam pengurusan pernikahan adalah hal administrasi (melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan untuk catatan sipil dan surat dari ICRP, gereja dll). Hal lain yang utama dalam dokumen ini adalah surat persetujuan dari orangtua. Ilma juga menjelaskan bahwa hanya ada beberapa Kantor Catatan Sipil yang bersedia mencatatkan pernikahan beda agama. Jika mengalami kesulitan saat mengurus surat di Kantor Kelurahan bisa mengatakan bahwa akan melangsungkan pernikahan di luar kota dll.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan juga adalah pemilihan lokasi pernikahan. Karena ada saja tempat yang tidak mau dijadikan tempat untuk pernikahan beda agama. Dan harus dipastikan aman supaya tidak ada gangguan dari pihak-pihak yang tidak setuju. 

ICRP tidak melayani konseling via telepon karena memang lebih baik berdiskusi dengan bertemu langsung. Namun ICRP tetap akan membantu memfasilitasi pernikahan beda agama meskipun diadakan di luar Jakarta. Kantor ICRP: 021-42802349.

35 thoughts on “perkawinan beda agama pt.three : hasil dari kumpul-kumpul itu…..

  1. mbak yulia….sebelumnya selamat ya, semoga pernikahannya lancar dan happy end smp kaken ninen^^

    untuk alamat ICRP, maaf saya lupa persisnya. tp mbak yulia bisa menghubungi telp yang tercantum.

    duh, senangnya…….^^ (terharu….)

  2. salam saya alifa, psiko ugm 2004, sedang berjuang menyelesaikan skripsi…
    dengang permasalahan yang senada dengan topik yang anda angkat dalam tulisan Anda… its means a lot to me…
    thanks…
    warm regards
    alifa

  3. waowww…adek kelas duonk…..
    wah sip-sip, skripsinya joz gandoz….

    sapa dosen pembimbingnya??? variabelnya apa aja??? boleh dong, sharing…^^

  4. Waduh, sepertinya ini hanya salah satu solusi sementara deh, bahwa pernikahan beda agama bisa dilakukan. Advokasi, konseling dan sebagainya dari ICRP hanya bersifat solusi sementara dari arti pernikahan itu sendiri.

    Kalau boleh berkomentar: pernikahan adalah awal perjalanan menuju kehidupan baru sekaligus bernilai ibadah (bagi beberapa agama).

    Nah tujuan hidup kita apa sekedar: lahir – menikah – mati (singkatnya…), kemudian selesai? Kalau tujuannya seperti itu konseling dan advokasi ICRP mungkin sebagai solusi terbaik. Asal perkawinan beda agama lancar, kehidupan rumah tangga baik, hubungan sosial tidak ada hambatan, maka sempurnalah problem tersebut diselesaikan.

    Akan tetapi bagaimana dengan nilai ibadah tadi? Yg berhubungan juga dengan kehidupan setelah mati?

    Tentunya hanya agama yg punya solusinya dengan aturan-aturan dan hukum yg berlaku didalamnya.

    Kalau hukum agama sudah dilanggar (tentunya nikah beda agama termasuk pelanggaran kan?), bagaimana jaminan kita setelah mati nanti?

    Apakah ICRP bisa memberikan solusi?

    Akan tetapi hidup itu adalah pilihan, bebas untuk memilih jalan bagi setiap orang. kalo pengennya cuman sampe mati selamatnya, ya nikah beda agama gak papa.

    Kalo setelah mati percaya ada kehidupan, ya ikut saja salah satu agama tadi. Toh tidak ada hukum yg melarang.

    Selama bisa saling menghormati tidak ada salahnya menjalankan pilihan-pilihan tersebut.

    Tapi sebagai manusia biasa kita harus cari solusi paling aman dan berjangka panjang kan🙂

    Lah sapa tahu ternyata setelah mati ternyata benar ada kehidupan lagi seperti dalam kitab-kitab agama tersebut. Maka dari itu apa salahnya juga apabila kita ambil pilihan untuk tunduk pada aturan agama, supaya selamat dunia dan akhirat seperti kata kakek, hehehe.

  5. Mbak…. makasih postingan ini sungguh mengena sekali ke aku. soalnya lg mengalami yg kayak gini. Betul itu, keyakinan dr diri sendiri lah yg harus kuat mau menjalani seperti itu ato gak. tapi tekanan keluarga emang g bs di pungkiri, cukup jadi hambatan terbesar. hikzzz

  6. Mbak ,thank’s yah..buat postingannya sungguh memberikan informasi. karena saya sedang mengalami hal yg sama seperti yg diatas.
    dan sama dgn pendapat dengan ocha;keyakinan dr diri sendiri lah yg harus kuat mau menjalani seperti itu ato gak. tapi tekanan keluarga emang ga bs di pungkiri, cukup jadi hambatan terbesar. hikzzz😦

  7. Menikah beda agama? Itu pilihan bagi pelakunya. Sah-sah saja memilih menikah beda agama. Tapi ada baiknya jika para pelaku nikah beda agama ini mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi lanjut dari pernikahan beda agama itu.
    Menikah.
    Apa sih yang kita cari dari pernikahan?
    Hal ini lebih baik kita tanyakan pada diri kita lebih dahulu sebelum menikah daripada ditengah bahtera pernikahan kita tiba-tiba saja terlontar pertanyaan “Why did i get married?“ kemudian kita tersadar ada sesuatu yang kita lupakan, dan akan lebih parah lagi jika kita menyesalinya.
    Ada bejibun alasan kenapa orang menikah, salah berapanya adalah melestarikan keturunan, biar populer, biar ga kejebak zina, biar kaya, untuk meningkatkan status, demi cinta, demi ibadah, karena dikejar usia, dijodohin, dll…

    Anda yang mana?

    Tanyalah pada hati anda. Hanya anda yang tahu. Hati anda tidak bisa bohong karena hati tempat yang paling jujur. Dia akan gelisah ketika kita mengingkari dan tidak melakukan apa yang dia minta.

    Jika hati anda benar-benar bilang ‘ga papa nikah beda agama’ ya silahkan aja. Dengan catatan tanpa kilahan ‘tapi kan….’ Kata ‘tapi’ ini berarti anda sudah mengingkari kerja hati nurani. Dia bukanlagi kata-kata hati tapi kata-kata logika, pikiran kita.

    Taruhlah yang menjadi alasan anda menikah beda agama adalah cinta, maka suatu saat cinta akan kembali pada hakekat cinta itu sendiri, yaitu Tuhan, yang terimplementasi melalui kebutuhan batin dan spiritual kita karena cinta adalah hal yang hakiki.

    Bagi beberapa agama, menikah, yang diyakini sebagai suatu cara berjumpa dengan Tuhan, akan menghantarkan kita pada cinta yang sebenarnya. Akankah hal ini dapat terwujud bila kita menikah beda agama?

    Bisakah pasangan kita membaca ‘tanda’ kehidupan dan menafsirkannya seperti dalam keyakinan yang kita anut? Bisakah pasangan kita memaknai makna pertanda tersebut jika keyakinan kita berbeda? Cinta adalah kebutuhan hakiki dan kita tak akan bisa menghindari sesuatu yang bersifat hakiki.

    Hehehe… semoga menjadi wacana bagi yang akan menikah beda agama, mengingat ‘tante’ saya yang menikah beda agama mengutarakan kegelisahan jiwa dalam perkawinannya terkait hal yang satu ini justru setelah bertahun-tahun menikah. Bukan pada materinya, bukan pada uangnya, bukan pada sosialnya. Melainkan pada hati dan jiwanya.

    Bagi saya, pernikahan tetap lebih baik jika seagama. Sekedar saran saya buat yang hendak menikah beda agama : Lebih baik putuskanlah memilih salah satu agama, lalu jadilah penganut yang taat. Entah itu Kristen yang taat, Islam yang taat, Hindu yang taat, atau Budha yang taat.

    Jika tidak ada yang rela melepas salah satu agamanya (untuk mengikuti agama pasangan) berarti ada yang masih mengganjal kerja hati nurani dan hakekat cinta anda. Ada sesuatu yang sebenarnya tidak tepat tapi anda cari pembenarannya. itu yang akan menggelisahkan dalam kehidupan pernikahan anda.
    Tapi apapun keputusan anda, SELAMAT, anda telah berani memilih.

  8. thx nayang, atas komennya yg mencerahkan.

    soal motivasi utk nikah, gw udah pernah posting. saya lupa, tp ga ada salahnya anda cek satu2, hehehe.
    di situ juga saya sertakan track back, postingan ttg niat menikah dan cinta dari Herry Mardian.

    argumen anda, benar. saya kira cukup logis.
    tetapi saya tidak bisa menutup mata dengan banyaknya pernikahan sama agama tapi juga ‘kosong’ kehidupannya, alias ga ngesoul.

    menurut saya, itu kembali kepada individu yang bersangkutan. banyak juga kisah disekitar saya, pernikahan sama agama tapi keduanya merasa empty, hollow.

    IMO, hanya mereka yg berhasil menjangkau pemahaman agama hingga level ‘ikhlas’ lah, yang bisa menerima segala perbedaan itu. buktinya, banyak juga, denger kisah pernikahan beda agama tapi berhasil menumbuhkan yg terbaik dr masing2 pasangan.

    IMO lagi, lebih berbahaya jika pasangan yg mo menikah itu berbeda value. yg ini mah, bahkan seagama pun, akan sulit menyesuaikan.

    thx again, nayang

  9. mau tau donk alamat icrp, karena saya lagi gundah bgt + bingung. Pasangan saya seorang muslim, sdangkan saya seorang katholik, kami sudah sangat saling mencintai. Tetapi masih bingung mau dibawa kmana hub kami? Mohon bantuannya yah!

  10. Enakan di Perancis, gue punya agama apa, elu punya agama apa, tak jadi masalah, karena semua orang harus nikah di catatan sipil di walikota. Baru deh jika mau boleh diupacarai secara agama masing-masing.

    Makanya semua urusan di Indonesia itu njelimet/ruwet banget. Apa-apa diributin. Bikin pusing kepala.

  11. this information means a lot for me and my boyfriend. we absolutely agree for getting married in different religion. i think, we will contact ICRP for discussion. thanks a lot for you’re information.

  12. Ping-balik: Catatan pinggir lebaran : jika silaturahmi digantikan dengan sms, dan sms selamat lebaran pun copy paste dari orang lain, jadi timbul pertanyaan, apa makna lebaran di era sekarang ?? « r e s t l e s s a n g e l

  13. carilah pasangan sehidup semati,
    semasa hidup di dunia
    setelah mati di akhirat
    (jadi inget lagu istri soleha bang haji oma)
    “apakah hal itu dapat diwujudkan jika pasangan beda keyakinan?”
    SILAHKAN JAWAB SESUAI DENGAN KEYAKINAN ANDA MASING MASING

  14. Meth,

    ASli, gue baru nemu posting loe yang ini… maklum babu buuu, hehehehe… seminggu before lebaran, dan seminggu sesudah lebaran, saya sukses menggantikan SEMUA tugas2 dari 3 dayang2 yang jadi satu dalam diriku, hahahha

    Meth, gue cuma mo bilang, saya menikah beda agama dengan my hubby… tadinya saya pikir akan sangat mudah menyatukan prinsip kita… wong kita saling cinta kok… but… seiring waktu berjalan… ternyata ada BANYAK sekali hal yang membuat friksi antar individu menjadi ‘menajam’…

    kalo gak pinter2 ngejalainnya… bisa bubar grak…

    saya gak bilang ini hopeless untuk dijalanin… but, butuh pribadi yang bener2 mateng dan saling mau melebur untuk bisa menjalani pernikahan campur.

    nanti aku trusin yaahhhh… mo nyapu ngepel dulu, hahahaha…😛

  15. terima kasih sekali atas info ini…..
    kebetulan saya memang berniat melangsungkan pernikahan beda agama…. doain semoga lancar semua yach….

  16. la kum dinukum waliadin…. itu yang gw percaya. sama aja seperti dia g paksa gw masuk agamanya, maka gw pun g akan paksa dia masuk agama gw. biarpun susah…tapi hidup dengan saling menghargai satu sama lain atas sesuatu hal yang merupakan hak asasi masing-masing itu g mudah, karena memang hidup itu sendiri tidak dimaksudkan untuk jadi mudah.

    mungkin takabur kalo gw bilang sekarang bahwa nantinya semua akan baik2 aja. tapi at least gw mencoba untuk menjalani hidup yang gw mau tanpa merugikan orang lain. kalau pun nanti gw menghadapi kesulitan (pasti ada siy), gw bakal berusaha ngatasin sendiri, karena memang ini adalah resiko dari jalan yg udah gw tempuh.

    terima kasih untuk semua saran yg bilang langkah gw keliru, tapi lagi2…ini hidup gw. hidup bersama2 laki2 yang gw cintai, menjadi ibu dari anak laki2 itu…well, gw g mau minta lebih dari itu.

    bukankah cinta itu jg dari Tuhan? bukankah dalam agama dikatakan bhw utk mewujudkan keinginan kita, kita harus berdoa dan berusaha? bagaimana kalo keinginan kita adalah menikah dengan orang tsb (yang ‘sayangnya’ beda agama)? apa g bisa?

    hidup itu pilihan kita. Tuhan juga maha adil kan? kenapa kita tidak bisa beribadah kalo kita nikah beda agama? bukankah agama itu antar Tuhan dengan kita? apakah anda akan rugi kalo saya nikah beda agama? biarlah Tuhan yang menilai..jangan manusia.

    curahan hati dari gw yang dicecar trus ma org2 yg g mau mengerti…hiks..hiks..

  17. youla memang gak ada yg rugi jika anda menikah beda agama ataupun gak menikah sama sekali. tapi saya yakin saran dari teman2 gak lain cuma buat masukan untuk anda perhitungkan baik buruknya. toh akhirnya anda juga yg bakal merasakan konsekwensi pilihan anda. baik pahit ataupun manis. terima kasih.

  18. Ping-balik: Cin(T)a; Who Are YOU, God, What Are YOU, God « r e s t l e s s a n g e l

  19. saya dan pasangan beda agama mbak……..sampai sekarang juga masih……..

    namun saya berharap ikatan kami bisa dalam satu prinsip, Tuhan kita satu namun keyakinan adalah hak setiap manusia terhadap Tuhan nya…..

    namun saya berharap dalam pengurusan anak dan tetek bengeknya kita sudah satu pemahaman…. *mumet*

  20. hai there..
    salam kenal🙂
    ternyata banyak juga ya yg senasib sama gw..
    hehehe gw 2x pacaran beda agama, yg pertama 5 taun, yg kedua 3 tahun, n baruuu aja putus..ya karena beda agama *gubrag!!* (im a moslem)
    gw mengalami kegundahan hati yg luar biasa ttg masalah nikah beda agama, singkat cerita sampai akhirnya pacar saya “nantangin” kalo emang di Al quran ada yg jelas melarang pernikahan beda agama, dia akan pindah ke islam..dan pergilah saya ke seorang fasilitator pemahaman al quran, dan jawabannya sungguh mengagetkan, teryata tidak ada, dgn kata lain tidak harus pindah, itu menurut al quran. Berbeda sekali dgn pemahaman mayoritas umat muslim khan? akhirnya beberapa bulan kemudian kita putus, karena keluarga besar saya tidak akan pernah memberi restu (saya dr keluarga Padang)..we can not get married without permission😦
    mari kita nonton film cin(T)a bersama-sama!!!hehehe..(gw mo nonton film itu rombongan sama temen2 senasib)
    Oiya 1 lagi komen saya, Tuhan memang maha Adil, tapi manusia-nya yg membuat semuanya menjadi tidak adil..
    thank u…

  21. mbak, terima kasih ya postingan Mbak bener2 membuat saya lebih ngerti pernikahan beda agama. Saya (Kristen) dan cowok (Islam) saya sudah berpacaran 5 tahun lebih. Kami ingin nantinya bisa ke jenjang yang lebih serius, tapi bagaimana cara berbicara dengan orang tua? Kami takut menyakiti perasaan orang tua kami masing-masing.

  22. hmm..
    dr pembahasanny se cukup meyakinkan,tp bisa ga se orang2 yg merasa punya pasangan beda agama dan berencana untuk menikah,mikirin gimana perasaan anak2nya keLak?!?!
    kLo bsa sharing sdkt ne…
    gw sndri trmsk anak yyg Lahir dr ortu yang beda,.
    sbLm nikah ortu udh bikin janji kLo anak2 bakaL ikut agama saLah satu dari mereka,tp nyatanya wktu gw ma kakak gw Lahir,qta ga dapet hak buat miLih,qta maLah ga dksih ksmptn buat b’agama.. Jd masukan aja buat pasangan beda yg pgn nikah.. tLg pikirin Lagi deh,jgn sampe nantinya ego kLian menyakiti anak2 kLian.. think twice!!!!
    tx

  23. hmm.. benar cinta tak mengenal perbedaan..
    dan seharusnya manusia yang bisa mencinta, juga bisa menghargai perbedaan, dan tidak mengkotak-kotakkan perbedaan itu sendiri..

    hmm.. cinta.. satu.. satu cinta..

    **restlessangel**
    divine love, doms. tapi sepakat, idealnya spt itu. paling gak, belajar utk selalu mendekati yg ideal.

  24. Saya boleh ikutan nimbrung?
    Maaf ini perspektifnya agak beda ya? Keuntungan nikah yang agamanya sama..
    @Admin Maaf kalau nggak berkenan nggak usah di post.
    Terus terang saya nikah sama mantan pacar saya ini (Istri), karena ia seorang perempuan yang sholehah (Insyaallah), dari keluarga yang kuat agamanya. Saya sendiri kurang kuat dasar ke Islamannya tapi ingin berubah menjadi lebih baik.
    Alhamdulilah semenjak pernikahan semakin kesini suasana rumah semakin sejuk dan islami, saling membangunkan untuk sholat malam, sholat berjamaah, mengajari anak-anak berdoa dan sembahyang. Seberapa pun lagi capai dan kesalnya apabila anak anda yang terkecil dengan cadel tapi lancar membaca ayat kursi, bapak dan ibu manakah yang tidak tersenyum dan saling pandang.
    Berdoa bersama sebelum tidur, sebelum makan.. menunggui istri melahirkan sambil memegang tangannya dan berzikir bersama, bahkan berdoa dan bersyukur juga sebelum, ketika dan selesai berhubungan suami istri…
    Terus terang kami bukan orang kaya, biasa2 saja tidak luar biasa tampan dan cantik.. tapi diwaktu-waktu diatas itu.. Subhannalah.. Allahuakbar.. keindahan yang luar biasa..
    Maaf ilustasinya dalam agama saya karena saya muslim, kalau nasrani atau agama lain pasti ada moment2 yang sama..
    Pertanyaan saya apakah saudara saya diform ini (semua agama) tidak ingin merasakan kenikmatan yang sama? Kenikmatan berbagi dan beribadah dalam satu keluarga?..
    Maaf kalau ada yang tersinggung..

  25. aq udah 4th pacaran beda agama aq(katholik) dan co’qu(muslim),, qta berencana untuk membangun sebuah rmah tangga,,,tpi kami bingung bgaimana harus memulainya sedangkan org tua saya tdak memperbolehkan saya untuk pindah agama dan org tua dia jga tdak mmperbolehkan dia untuk pndah agama jga…
    bisa kasih saran gak???????
    thnks🙂

  26. aku,sudah 14 tahun kawin beda agama , kalau puasa istriku tak beliiin kelapa muda, kalau malam tak bangunin untuk sholat/sahur, kalau natal istriku ikut ngucapin ke keluarga besar saya , menurut aku turuti kata hati ,kadang manusia membuat aturan untuk kepentingan kelompoknya. dan yg utama buktikan pada semua orang bahwa kita bahagia telah diberi satu cinta dan dua keyakinan .

  27. Tolong donk kasih saran, saya kristen, cewek saya Muslim. Kami pengen banget bisa menikah. Masalahnya bpk si cewek gak mau ngasih ijin, Dan bapaknya atasan saya di Kantor.
    Kami ber 2 udah saling menyanyangi, Dan kami ber 2 udah berniat serius ke jenjang pernikahan..

    Makasih yg udah kasih saran

  28. Hmmm, ternyata banyak jg yaa yg punya hub beda agama, baik yg msh pacaran maupun yg sudah nikah..

    Sy sndiri udh pacaran selama 2,5 thn, hub kami baik2 aja, kalau pun adaa berantem2 nya, itu krna debat mslh agama😦 sy minta dia ikut agama sy (muslim), dia tidak minta sy utk ikut agama dia, dia menginginkan pernikahan beda agama, krna di klwrga dia (khatolik) Α∂a̲̅ beberapa saudara nya yg menjalani pernikahan beda agama tp baik2 saja rmh tangganya # buad saya rumit

    Itu hal yg ga mungkin, krna saya dr keluarga asli suku minangkabau..

    Mksh buad postingan nya, sy jd tw beberapa kisah dr tmn2..

    Sampai saat ini sy msh status pacaran..mskipun suatu saat kami sm2 tw kita ga mgkn bersama, pdhl saling cinta😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s