KEPEMIMPINAN PUBLIK : inikah wajah pemimpin kita ???

Di Semarang, Ketua Badan Pengelola Masjid Agung, Drs. H. Abdu Djamil menyesalkan sikap Ketua Dewan Tanfidz Pengurus Wilayah NU Muh Adnan yang akan maju sebagai Cawagub Jateng. Dalam peringatan Harlah NU ke-82 pada hari Minggu (3/2), Adnan menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan pengelola masjid, dengan memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai ajang kampanye. Malah, Adnan juga mengajak kyai asal Kaliwungu, KH Dimyati Rois, sebagai jurkam. Pada kesempatan tersebut, Dimyati mengajak hadirin warga NU untuk memilih Adnan sebagai cawagub mendampingi Bambang Sadono (KR, 8/2/08).

Di Banyumas, pada hari terakhir kampanye pemilihan bupati/wabup (rabu, 6/2), semua calon melanggar aturan kampanye, yaitu aturan tentang zona pengunjung kampanye. Dari semua calon yang mengadakan kampanye terbuka, ternyata dihadiri oleh massa kampanye bukan dari daerah tersebut. Akibatnya, hampir seluruh jalan raya kabupaten Banyumas terserang kemacetan dari pukul 13-16, bahkan di desa Pageraji kemacetan total terjadi dari pukul 16-19.30 (KR, 8/2/08).

Di Sulawesi Selatan, kisruh pilkada yan carut marut berlarut-larut hingga sekarang. Demo antar pendukung masing-masing calon hingga mengakibatkan kerusakan dan APBD terancam defisit jika seandainya pilkada jadi dilaksanakan ulang. Hal yang sama terjadi Maluku Utara, Ternate. Di Kediri dan Jakarta (Februari), kisruh suporter sepakbola yang kecewa dengan jalannya pertandingan. Tak sedikit kerugian yang musti ditanggung daerah setempat. Malah di Kediri, yang meminta maaf malah Kapolwil-nya yang merasa gagal mengantisipasi rusuh massa. Sementara dari ketua organisasi dimana massa supertor bernaung, tidak terdengar gaungnya. Padahal massa yang berbuat rusuh dan anarkis tersebut, notabene adalah tamu di Kediri.

Hal yang sama (tidak terdengar permintaan maaf dan menyatakan untuk bertanggung jawab dari pimpinan organisasi yang bersangkutan) juga terjadi. Malah di media (MetroTV) ketua suporter yang bersangkutan mengkambinghitamkan wasit yang dinilai tidak adil dan caranya bikin panas suporter, sehingga ia menilai wajar jika ada suporter yang emosi.

Contoh di atas mungkin baru sekelumit contoh dari wajah kepemimpinan publik di negeri kita tercinta ini. Lantas membandingkan dengan berbagai studi kepemimpinan dalam organizational development dan HR development, manajemen, dan berbagai penilaian the best CEO di majalah-majalah bisnis, sungguh berbeda 180 derajat, baik dalam hal β€˜prestasi’ dan kesuksesan, jika ditinjau dari kepuasan follower dan berbagai aspek teori leadership. Berbagai pertanyaan timbul, mengapa bisa begitu ??? Mengapa berbeda sekali sikap, perilaku, dan nilai-nilai yang disemaikan pemimpin publik terhadap lingkungannya ??? Bukankah sudah banyak berbagai training kepemimpinan dengan biaya yang teramat mahal, tapi apa yang dampaknya bagi kepemimpinan publik ??? Masih saja kita disodori wajah yang dominan, dimana pemimpin yang tidak peka dengan kebutuhan orang lain, pemimpin yang tidak menganggap penting bawahannya dan timnya, pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, pemimpin yang tidak berhati nurani……

Rasanya seperti dongeng pengantar tidur, mendengar kisah para founding fathers negeri ini, dengan kebersahajaannya, merakyatnya, integritasnya, teguh memegang prinsip tanpa pernah tergadaikan, nilai-nilai yang berhasil dihidupi dan disemaikan terhadap lingkungannya…..

Kebetulan, majalah Swa edisi no.04 Februari, menyuguhkan sajian utama tentang hasil survey leadership dan komitmen karyawan yang digelar di 98 perusahaan. Hasilnya adalah The Best CEO 2008. Dalam melakukan seleksi, ada dua jenis penilaian yaitu secara kuantitatif/hard power (kinerja keuangan, perluasan usaha, dll) dan penilaian secara kualitatif/soft power (reputasi, etika, komitmen, SDM, dsb).

Kerangka penilaian untuk soft power sendiri ada dua, yaitu leadership index yang menggunakan 4 indikator dari konsep Stephen Covey, terdiri dari empat peran kepemimpinan (perintis, penyelaras, pemberdaya, dan panutan). Kerangka kedua berhubungan dengan komitmen karyawan terhadap profesionalitasnya (employee commitment index), yang terwujud dalam sikap dan perilaku karyawan terhadap perusahaan dan pekerjaannya.

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa penilaian CEO melibatkan aspek employee commitment index ?? Saya menyodorkan alternatif jawaban, yaitu karena pemimpin tidak bisa dilepaskan dr bawahan/follower. Mana ada pemimpin tanpa anak buah ??? Dan, IMO, salah satu tugas seorang pemimpin adalah memberdayakan follower sehingga tujuan organisasi/perusahaan tercapai. Sedangkan menurut Swa, menumbuhkan komitmen karyawan adalah salah satu fungsi CEO dalam perusahaan, dan terbukti di survey ini bahwa tugas tersebut bukan hal mudah sehingga kinerja CEO lebih baik dalam fungsi kepemimpinan. Hasilnya, dari 98 CEO tersaring menjadi 29 finalis dan tersaring lagi menjadi lebih ketat, dan terpilihlah Agus D.W Martowardoyo (CEO & Presdir PT. Bank Mandiri Tbk) sebagai the Best CEO 2008 versi majalah Swa bekerja sama dengan Dunamis dan Synovate. Ke9 CEO lainnya adalah Franky Oesman Widjaya (Sinarmas Agribussines and Food), Tony Chen (PT. Microsoft Indonesia), Arif Soeleman Siregar (PT. International Nickel Indonesia Tbk), Kris Taenar Wiluan (PT. Citra Tubindo Tbk), Anthony Akili (PT. Smailing Tour & Travel), Harry Sasongko (PT. GE Finance Indonesia), A. Soetjipto (PT. Wijaya Karya), Mohammad Nadjikh (PT. Kelola Mina Laut), Haidar Baqir (PT. Mizan Publika).

Yang menarik bagi saya adalah, sebagian besar CEO yang masuk 10 besar ternyata termasuk generasi muda, dalam arti berusia 60 tahun kebawah. Dari 10 CEO hanya 2 orang yang berusia 60an tahun, sebagian besar berada pada usia 40-50an tahun. Malah ada CEO yang baru berusia 35 (tuing-tuing, radar langsung bekerja^^) !!! Bandingkan dengan kondisi pemimpin-pemimpin di wilayah publik negeri ini, yang cenderung mengandalkan salah satunya senioritas. Persis seperti iklan salah satu rokok. Kaderisasi berjalan, tapi lambat.

Dari sisi follower, hasil dari employee commitment indeks mengungkapkan bahwa, bukan hal yang mudah untuk menumbuhkan komitmen bahkan loyalitas terhadap follower. Menurut Robby Susatyo dari Synovate Indonesia, kunci perusahaan untuk meraih laba yang tinggi adalah komitmen karyawan. Banyak studi yang membuktikan hanya perusahaan yang menempatkan karyawan sebagai inti strategi bersaingnya, yang berhasil menghasilkan tingkat laba yang jauh lebih baik dari pesaingnya. Dengan kata lain, pengembangan dan perhatian terhadap SDM di organisasi yang bersangkutan.

Hasil penelitian juga menyatakan bahwa gaji bukan faktor utama dalam meningkatkan komitmen karyawan. Ada nilai-nilai penting yang sering diabaikan pemimpin (publik) seperti perlakuan adil, kepercayaan, komunikasi, dll. Selain itu, komitmen karyawan juga berhubungan erat dengan persepsi bawahan terhadap pemimpinnya.

Nah lo.

Mari kita bandingkan dengan contoh-contoh di atas yang sudah dipaparkan. Menurut Anda, melihat sepak terjang mereka yang sedang mencalonkan diri menjadi pemimpin, apakah sudah memenuhi 4 faktor peran pemimpin (panutan, perintis, penyelaras, dan pemberdaya) seperti yang diungkapkan Stephen Covey ??

Nugroho Supangat dari Dunamis yang memegang lisensi langsung dari Stephen Covey, menguraikan apa yang dimaksud dengan masing-masing peran tersebut.

  • 1. sebagai panutan, dia harus menjadi sumber inspirasi kepercayaan, dimana kepercayaan tersebut haruslah bersifat tulus dan jujur. Dalam survey ini, angka rata-rata terendah untuk kriteria panutan adalah bersikap terbuka atas kelemahannya. Jadi malah bukan bersikap sok dan paling di antara orang-orang. Integritas menjadi suatu syarat penting dan mutlak dalam hal ini.
  • 2. sebagai perintis, dia harus mengerti benar kebutuhan pasar dan stakeholder. Dalam konteks kepemimpinan publik, kita tidak membutuhkan pemimpin yang sok tahu dan hanya mengandalkan asumsi akan keadaan masyarakatnya. Bagaimana dia memahami masyarakat, kalau dia tidak pernah terlibat langsung, menyelami, dan hanya memandang segala sesuatunya dari atas tahta menara gading. Tentu pemandangan yang didapat berbeda jauh jika dia mau turun dan memandang langsung dalam posisi yang setara.
  • 3. sebagai pemberdaya, pemimpin harus mewujudkan kriteria organisasi yang berhasil (organizational greatness) untuk menciptakan karyawan berdedikasi tinggi. Jadi, sebagai pemimpin harus menyadari bahwa justru ketika menjadi pemimpin, dirinya hanyalah β€˜pembantu’, yang membantu orang lain menemukan bakat dan potensi terbaiknya dan mengembangkan secara maksimal. Kita mustinya menolak dengan sikap para pemimpin yang masih memandang dirinya sebagai centre of universe, bahkan memandang bawahan yang lebih pandai sebagai saingan yang harus disingkirkan.

Jadi, sudah semestinya para pemimpin negeri ini mengadopsi kembali nilai-nilai servant leadership atau nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara (dua nilai yang berbeda sih. Nilai Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Ngarso sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani).

Omong-omong tentang servant leadership, apalagi prakteknya diantara pemimpin negeri ini, waaahhh……no komen. Tapi semoga mimpi ini bisa menjadi kenyataan dan bukan sekedar wacana mimpi di siang bolong. Apalagi tengah marak beredar kabar, jikalau Jogja jadi menggelar pilkadal. Aduhai, saya cenderung menolak. Karena setelah baca di berbagai media, uang yang dikeluarkan, nilainya fantastis dan andai itu dipergunakan untuk memperbaiki infra struktur dan kesejahteraan rakyat Jogja. belum lagi kekhawatiran adanya sikap yang tidak sportif sehingga berbuntut kisruh.

Duh…masih cinta Jogja yang berhati nyaman….. Akhirul kalam, saya jadi teringat dengan kata-kata mutiara seorang teman yang bergelut cukup lama dibidang training terutama training leadership (dibanding saya). Dia bilang, tipis bedanya antara leadership dan leadershit. So, mo masuk mana, leadership ato leadershit ????:mrgreen:

8 thoughts on “KEPEMIMPINAN PUBLIK : inikah wajah pemimpin kita ???

  1. vanjang sangadh…. lupa tadi mo komen apa…. ohohohoho….

    duh… gimana ya…??? kenapa sistem partai kita nggak mengadoipsi sistem dua partai tipe amaerika gitu aja ya…???

    tapi emang susah kalo sistem dua partai itu diaplikasikan ke pemilihan pemerintahan daerah macam gubernur….

    bingung saiyah….

  2. @ andrew :

    waah, situ komeng ttg sistem politik, gw ga paham^^
    tp thanks anyway, biarkan yg lbh memahami yg membalasnya… *ada yg kul di fisip??*
    *lirik gun*

    @ mbel :

    maap, rupanya komen anda tertahan spam.
    wuah kl posisi situ sbg imam, saya ga komeng dr segi leadership/t :mrgeen:
    saya lbh tertarik ngomentari situ dr sisi brand awareness, yaitu gmn anda berhasil membangun brand image, mempertahankan, dan juga menciptakan brand awareness diantara ‘konsumen’ ini…..πŸ˜†
    *sok teu sekali sayah, huehehehe*

  3. Ping-balik: oleh-oleh dari bandung (pt.one) : antara menikah beda agama dan pilkadal « r e s t l e s s a n g e l

  4. wah pak numpang nih saya lagi ada tugas kuliah mencari 3 peran seorang pemimpin dari stephen covey, di atas di tulis 4 panutan, perintis, penyelaras, dan pemberdaya cuman dijelasin cuman ada 3 ??? jadi yang bener 3/4 thx nih buat bantuannya kirim ke email y

  5. saya suka tulisannya mbak

    salam kenal…

    kalo menurut saya, saat ini generasi muda lebih banyak mendapat pendidikan mengenai “pencapaian” ketimbang “pengabdian”.

    tentu pencapaian juga penting, tapi pengabdian buat saya adalah esensi hidup. esensi hubungan antara Tuhan dan manusia, dan juga hubungan antara manusia.

    pengaruh nilai budaya Barat yang terlalu marak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s