TEEN IDOL yang ini jelas beda…..

 Sebenarnya ini topik udah basbang. Inget dong, dengan kasus bullying yang menimpa anak muda, dan sempat rame diberitakan di berbagai media ?? Seperti kasus bullying di SMU PL Jakarta, dimana salah satu siswa kelas satu akhirnya melapor kepada pihak yang berwenang. Ato kasus genk bermotor di Bandung, yang inisiasi anggota barunya cukup meresahkan orang tua. Untuk kasus-kasus bullying ini, tentu saja IPDN lah, juaranya.

Bullying tidak saja bersifat fisik seperti menempeleng, menculik, menganiaya dengan tugas-tugas yang muskil (pernah denger dr mantan mahasiswa institut seni, pas ospek disuruh minum airludah temennya, hueeeeeeeeekkkh), ditelanjangi, dll tapi juga bersifat psikis dan verbal. Misal seperti melabeli pihak lain yang lebih rendah dengan kata-kata yang tak pantas, membentak, mengejek, mengucilkan, dll.

Film-film remaja made in Hollywood banyak menyajikan kisah-kisah bullying yang terjadi di sekolah. Tonton aja Back to the Fututre, American Pie, Mean Girl, dll duh banyak deh. Dimana ada film remaja dengan setting sekolah, pasti ada tokoh lemah, pecundang, culun yang dikerjai oleh tokoh/pihak lain yang lebih cantik/ganteng, populer, dan mempunyai pengaruh di antara teman-temannya.

Sinetron-sinetron Endonesa juga rame menayangkan adegan bullying, malah settingnya tidak hanya terjadi di sekolah menengah tapi juga sekolah dasar.

Beberapa kasus penembakan di sekolah yang terjadi di Amerika, konon pelakunya adalah mereka yang secara sosial kurang sukses dan cenderung terisolasi dari pergaulan. Bukan ga mungkin, dalam keseharian, mereka dinilai aneh oleh teman-teman yang lain sehingga ‘terkucilkan’ karena lingkungan sekitarnya enggan dekat-dekat dengannya.

Beberapa kisah dari teman-teman yang menempuh profesi psikologi pendidikan dan kerja praktek, mereka pun pernah menjumpai kasus pemalakan di sekolah dasar.

Umumnya, dari pengamatan dan studi kasus, korban enggan melapor ke pihak lain, apalagi menceritakan pada guru / orang tua. Ada banyak alasan, tp umumnya mereka takut. Dengan kondisi mental yang belum stabil (masih remaja bahkan anak-anak / pra-remaja), tentu bisa dipahami mengapa mereka merasa takut melaporkan hal tersebut pada orang tua / guru, suatu hal yang bagi orang dewasa tentu mengherankan.

Dalam teori psikologi perkembangan, masa-masa remaja dan pra-remaja, adalah masa dimana peran orang tua sudah bergeser digantikan oleh kehadiran teman-temannya sebagai significant others. Masa-masa tersebut adalah masa dimana mereka mulai mengeksplorasi diluar lingkungan keluarga, setelah 5 tahun awal dalam kehidupan (dan beberapa tahun sesudahnya) mereka sangat tergantung pada orang tua. Hal tersebut sebenarnya hal yang wajar dan tidak perlu diubah, karena sesuai dengan tugas perkembangan mereka, untuk menyiapkan diri sebelum memasuki masa-masa dewasa dengan tugas perkembangan yang berbeda (menikah, kehidupan bermasyarakat, dll).

Karena itu ga heran lah, jika banyak remaja yang lebih condong terhadap teman daripada orang tua. Apalagi jika si ortu dinilai otorter, tidak mengubah gaya pengasuhannya yang masih sama ketika ia balita.

Seperti kisah salah seorang survivor bullying (kalo ga salah, anak PL itu ya ??), ketika masih dalam tahap ketakutan. Dalam kisahnya, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan seniornya (uang dll) walau itu berarti dia harus rela mengurangi uang jajan dan meminta uang ekstra dari ortunya. Ortunya heran dengan adanya perubahan perilaku, misal permintaan uang ekstra, tapi anak ini cenderung menutup-nutupi, dan berdalih untuk uang ekskul dsb.

Hingga tiba bagi si anak, tumbuh keberaniannya, untuk berterus terang kepada orang tuanya, mengenai apa yang dialaminya.

Bagi saya, keberanian anak ini sangat patut diapresiasi dan diacungi jempol. Ia mempertaruhkan pertemanannya, dengan melaporkan teman-temannya sendiri. Ingat, bagi remaja (dan sebenarnya bagi semua), tidak mudah untuk menemukan teman yang benar-benar cocok bagi dirinya. Teman, tidak saja berarti teman hang out/kongkow, etc, tetapi ada kebutuhan untuk identifikasi diri, dimana ia akan merasa lebih secure, comfort, ketika berada di tengah-tengah temannya daripada ketika sedang  sendirian.

Karena itu, beberapa waktu yang lalu, pas lagi ngalamun, tiba-tiba terbetik ide. Mengapa kita tidak menunjukkan apresiasi kita terhadap pemberani ini, dengan wujud nyata yang mampu menginspirasi generasi muda lainnya ??? Misalnya dengan memberikan award semacam Teen Idol, karena ia berhasil melawan rasa takutnya dan melaporkan apa yang tidak benar, bukannya diam saja. Kayaknya perlu nih, ngompori media yang target konsumennya remaja, macam majalah Hai, Kawanku, Gadis, bahkan MTV untuk berani menggelar award Teen Idol ini. Kalau benar dilakukan oleh media yang jadi referensi generasi muda, maka scope / jangkauannya akan luas, dampaknya bagi remaja akan lebih mengena.

Gelaran Idol-idol macam Gadis Sampul, Indonesian Idol, dsb aja berhasil menyihir generasi muda. Tentu jika diadakan Teen Idol ini, akan menginspirasi remaja untuk lebih berani, lebih asertif, dan lebih percaya diri dalam bersosialisasi (bayangan gw, loh).

Menurut elo gimana, secara getu lowh ??? kekekekekkkk:mrgreen:

15 thoughts on “TEEN IDOL yang ini jelas beda…..

  1. hmmm…saya jadi merenung ketika masa-masa smu. di smu saya juga banyak kejadian-kejadian bullying. tapi entah kenapa tidak ada yang melaporkan lantaran pada takut dengan seniornya. mungkin karena angkatan saya terlalu pengecut. saya sendiri tidak pernah kena bullying karena kakak saya orang yang cukup berpengaruh di smu.:mrgreen: *curang*

    ketika angkatan saya menjadi senior, mulailah anak-anak korban bullying terdahulu melanjutkan tradisi laknat tersebut. mereka-mereka yang sudah senior mencoba balas dendam dengan mem-bullying junior-juniornya.

    apesnya, ternyata junior-juniornya lebih berani dari anak-anak angkatan terdahulu. mereka melapor perlakuan tersebut. dan para senior yang melakukan bullying terkena skors hingga 2-3 minggu.

    di satu sisi, saya salut dengan junior tersebut. dia berani melapor walaupun sudah diancam! di satu sisi, saya jadi malu. ternyata karena ulah segelintir orang, jatuh sudah nama baik angkatan saya. mana teman-teman saya yang melakukan bullying terhadap junior itu teman sekelas.

    sejak itu, para junior tidak terlihat respect dengan senior-seniornya. entah kenapa bullying (di sekolah saya lebih dikenal dengan kata “gencetan”) di smu saya sudah seperti tradisi. dan akhirnya untuk pertama kalinya ada yang mematahkan tradisi tersebut.

    mirip dengan kisah anak PL itu khan?

  2. wah chik, senang sekali kamu mau share hal ini. kl di smp-smu gw, kayaknya tradisi gencetan ga separah di jakarta sih. ada gencetan,tp selepas masa ospek / penataran, ya udah selesai. kita baik2 aja ma senior. malah suka geli sendiri kl inget dulu yg penuh ketakutan pd masa2 ospek itu.

    chik, sekalian aja gw mintatolong. kamu kan jurnalis, kenal dong ama orang media. gimana kl ide ini disebarkan??? thx banget ya sista….

    biar makin banyak adek2 kita yg berani dan cerdas sakligus kritis dg lingkungannya, berani bilang dan bersikap jk ada yg salah didepan mata kita^^

  3. Lha, saya waktu SMA malah “bullying” yang terselubung selalu terjadi. Itu karena konsep asrama dengan sistem setengah militer yang diterapkan.

    Dan, btw, saya nggak tertarik sama psi pendidikan.🙂

    Sampai sekarang saya malah tidak terlalu ngerti, cara seperti apa yang seharusnya diterapkan di sekolah-sekolah untuk meminimalisir/menghilangkan kasus-kasus bullying ini.

  4. Jaman sayah doloo ada jugak.

    Tapi diusia itu postur sayah udah 170 cm, jamaah sebuwah bela diri, tapi sayah nyang ngganteng ini pendiem.

    Itu senior-senior malah “mbaik-mbaikin” sayah, tuh… 😉

    Meski pernah jugak di adu satu lawan satu, “Full Body Contact” dikuburan….

    (Beda dengan anak Jakarta nyang braninya kroyokan. Ndak anak SMA, ndak mahasiswa, sama saja !!!)

  5. hmmm.. dulu pas smk.. saya adalah angkatan pertama di jurusan yang saya ambil. jadi ngga punya kakak angkatan hohohoh

    eh med, kamu bukane padmanaba.. emang ada gencet2 an juga ya disono?

  6. @ pyrrho :

    hahaha, emang ga ngerti dan paham sih, dg sistem kemiliteran (scr diri merasa lbh cucok dg gaya seniman)
    kl saya, paling ga minat sama psikometri bang😉

    kebetulan, temen seangkatan ada yg tesisnya ttg bullying. krn metode kami eksperimen, jd dia kl ga salah pake intervensi token apa ya….
    coba nanti kl dia udah ujian, boleh dishare ya, kan berguna tuh^^

    @ aLe :

    nyasar ke mana, Le ?? *njewer telinga ale*

    @ mbelgedez :

    hmmm…..konon, para pemuda *ceileh* generasi situ emang lbh ‘jantan’, kl bermasalah biasanya one on one, di kuburan ato tmp sepi gt. kayak kakak gw tuh.

    @ funkshit :

    padmanaba ada gencetan jd dong, tp cuma pas masa ospek ato penataran itu loh. benernya bukan gencetan kali ye, tp lbh sp ‘nggarapi’ krn niatnya nggak jahat. jd paling disuruh ngukur halaman sekolah pake korek, disuruh nyeblung kolam kodok, dibentak2 sampe air liurnya muncrat2 ke wajah, ya gitu aja sih. tp ga tau setelah angkatan gw.

  7. Dalam teori psikologi perkembangan, masa-masa remaja dan pra-remaja, adalah masa dimana peran orang tua sudah bergeser digantikan oleh kehadiran teman-temannya sebagai significant others.

    Psikologi Perkembangan sayah™ dapet A!!

    *jingkrak2*

    *salah fokus*

  8. *lirik komen diatas*😆

    Dulu, waktu saya masih muda,😉 Psikologi Perkembangan punya julukan keren gara-gara saking susahnya. SiBangSat a.k.a Psibkologi Perkembangan Satu.
    :mrgreen:

  9. Jaman sy SMP/SMU, bullying umumnya tidak dilakukan senior ke junior tapi antara anak2 ‘putra daerah’ ke anak2 ‘pendatang’. Jadi walopun seringnya terjadi di angkatan sendiri, sama skali gak aneh kalo ada junior yg ‘penduduk asli’, malak kakak kelasnya (apalagi yg gak pny ‘beking’)

  10. @calonorangtenarsedunia (kapan tenarnya neh^^) :

    lhah, piye toh ??😕

    @ pyrrho :

    astaga…..dendam banget seh😆
    kok bisa ?? psiko perkembangan kan gampang. yg susah ituuuuu….psikometri, bang. ampun2 eh. walo ga dapet C, dan s2 ini dapet lagi (penyusunan skala psikologi), lhah astagaaaa…..sampe skrg ga paham, sebenarnya yg dipelajari itu apa T_T

    metodologi juga, br ngeh setelah kita skripsi. tp tesis ini kok mengulang kesalahan yg sama
    m(T_T)m

  11. @ jensen99 :

    woh, menarik itu. maksudnya, mengapa sampe tjd demikian ?? apakah ‘putra daerah’ iri sama yg pendatang ini kah ?? kamu sendiri, kena gak?? kok temen gw, cewek, yg smpt ngrasain su di jayapura, ga cerita apa2 ya…..

    hhmmm…jd inget kisah temen2 yg kerja di bagian seleksi & rekrutmen di kalimantan, di pertambangan sono….*OOT*

  12. @ memed

    Bukan masalah iri med, secara garis besar cuma, ‘mereka’ yg hobi minum2 ngumpulin duit tuk beli miras dari yg tidak minum, umumnya ‘kami’. Jadi sbenarnya bisa aja kita ‘change side’ kl tau minum. Sy jg sering dimintai kok, sukarela sih, dua tiga kali aja yg bener2 ditodong. Yah, pinter2nya gaul saja… Cewek jarang peduli hal gituan.😀
    Cerita lebihnya nanti kalo chatting lg aja… 😉

  13. oooh….hmmmmmm….
    memang tidak bisa yang berangkat dr asumsi langsung digeneralisasikan ya??
    akan berbeda pandangan kita kl tahu latar belakangnya.

    bkn begitu, jensen ???🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s