antara Platoon dan korupsi

Malam ini, sembari makan malam dan men-klik remote TV secara random, tak sengaja remote berhenti di Global TV yang tengah menayangkan Platoon.Aku terpaku di satu adegan, dimana Tom Berenger sedang menginterogasi penduduk desa dan mencari Vietcong. Singkat cerita, Berenger menembak mati salah satu penduduk desa, membuat shock tidak saja penduduk desa tapi juga prajuritnya. Berenger hendak membunuhi seluruh penduduk desa ketika Willem Dafoe menghentikan aksinya. Adegan tersebut diakhiri dengan pembakaran desa, penduduk mengungsi, beberapa oknum tentara memperkosa perempuan-perempuan, dan Charlie Sheen yang berupaya menghentikan perkosaan tersebut. Rekannya bertanya, untuk apa dia harus berhenti memperkosanya (perempuan tersebut), toh sudah tak berguna. Sheen menjawab, ” Karena dia manusia !!! You’re fu****g animal !!! ”

** OOT : dan soundtracknya !! Oh, God, i just love it!! Soundtrack Platoon dapat dipastikan akan abadi dan evergreen, seperti soundtrack Superman dan Star Wars.

Adegan tersebut membuatku merenung. Pada film tersebut, diilustrasikan sebuah pasukan yang terbelah menjadi dua kubu, the good and the bad.

The bad one, menjadi kubu yang ‘jahat’ karena melihat apa yang dilakukannya (membunuh, memperkosa) adalah biasa. Toh, korbannya adalah pihak musuh. Kuncinya adalah b i a s a, karena orang lain juga melakukannya. Memperkosa musuh itu tidak apa-apa, toh pimpinan melakukannya, orang lain juga, dia kan musuh, ini perang bung, dan lain sebagainya (pembenaran). Sementara, the good one, masih bertahan dengan prinsip atau idealismenya.

Memang, dalam Platoon, adalah situasi ekstrim, situasi perang. Tetapi jangan sangka hal tersebut tidak terjadi di kehidupan sehari-hari.

Sore tadi, sempat berbincang dengan teman dan bergosip ria^^. Kami ‘mendiskusikan’ teman kami yang telah mendirikan biro pelayanan psikologi di Jawa Timur sana dan berhasil mendapatkan proyek assesment untuk PNS instansi tertentu. Menjadi sebuah diskusi yang mengasyikkan ketika mengetahui suami salah seorang teman ‘protes’ sewaktu mengetahui proses pendapatan tender tersebut. Katakanlah teman kami berhasil mendapatkan proyek 50 juta dengan instansi tersebut (di atas kertas), tapi yang sebenarnya didapatkan sebesar 47 juta dan 3 juta diperuntukkan bagi institusi tersebut.

Nah, suami teman saya ini protes dan menurutnya itu adalah korupsi.

Lain lagi dengan pendapat teman saya yang bekerja di pemerintahan daerah. Ia mengatakan hal tersebut adalah biasa. Teman saya yang lain mengamini, dan katanya, hal tersebut tergantung dari cara pandang kita. Kalau kita melihat 3 juta tersebut sebagai tanda terimakasih, karena telah dipermudah dan dibantu, maka itu bukan lagi korupsi.

Kebetulan, masih teman kami juga, mendapatkan proyek yang nilainya cukup fantastis bagi mahasiswa kere seperti kami. Proyek tersebut sebenarnya adalah proyek dosen dengan institusi tertentu. Dari sekian juta yang diberikan kepada teman saya, ternyata masih ada sisa sekian juta yang lantas dikembalikan (dengan polosnya) kepada sang dosen. Eh, dosen tersebut malah marah-marah. Oleh teman saya yang pegawai pemerintah, ditertawakan, “Bukan begitu caranya, Bung. ”

Dan benar saja, di proyek berikutnya, dana yang mengalir agak berkurang dibanding proyek sebelumnya.

Hal tersebut ternyata sudah jamak di lingkungan pemerintahan. Istilahnya adalah bagi-bagi bledug (debu) alias sisa anggaran, karena jika sisa anggaran tersebut tidak dikembalikan, maka kucuran dana untuk anggaran berikutnya akan dikurangi. Walau waktu itu teman kami disoraki ‘whuuu’ dan diledek macam-macam, tapi yang bersangkutan tidak bisa berbuat apa-apa. Alasannya, hal tersebut sudah jamak dilakukan.

Dari kisah di atas, saya jadi merenung lagi. Ketika ketidakpantasan dipandang sebagai suatu yang lumrah, biasa,umum dilakukan, maka norma pun berubah. Saya teringat dengan kuliah Psikologi Abnormal beberapa tahun lalu. Waktu itu ditanya, definisi abnormal. Ternyata, ketika definisinya adalah sesuatu yang tidak wajar, tidak umum, dan tidak biasa, maka ketika menjadi umum dan biasa, abnormal pun menjadi wajar.

Pertanyaannya, adakah manusia-manusia yang berani menentang arus ??? anti kemapanan ??? mendobrak apa yang dianggap masyarakat biasa, toh semua orang melakukannya ???

10 thoughts on “antara Platoon dan korupsi

  1. Makanya korupsi dibilang budaya dengan mottonya : saya korupsi karena biasa (budaya):mrgreen:

    Kalau soal Abnormal, bukannya ada definisi lain dari “abnormal’ itu, selain sudah menjadi hal yang umum dan biasa di masyarakat ?😉 Kalau ukurannya biasa dan umum, maka parameternya statistik, iya nggak ?

    Tapi kalau definisi abnormal itu jadi “mengganggu orang lain” atau “mengganggu diri sendiri”, parameternya bisa jadi social norms dan klinis, iya nggak ?

    Dan kalau nggak salah, definisi abnormal bukan hanya 3 itu saja kan, iya nggak ?

    iya nggak ?

    *kabooorrr*:mrgreen:

  2. Sama nggak ya dengan perilaku sebagian “kita” warga Indonesia dengan barang bajakan?
    Kalo buku yg dibajak buku laris, alasannya “toh pengarangnya sudah kaya”. Begitu juga dengan pembajakan film, program komputer dsb-nya.
    Ah, komentar saya ini spt film platoon ya? Cerita lama…..🙂

  3. Hmm…

    Kasus #1: Yg korupsi adalah yg memberi proyek kan? Jadi biarkan saja. Untuk yang diberi proyek, lebih baik dapat 47/50 juta daripada tidak dapat… 😉

    Kasus #2: Ini agak susah dibilang korupsi, karena walopun ada unsur memperkaya diri, tapi pada dasarnya duitnya sudah dianggarkan, & proyeknya sudah kelar, jadi alasan apa tuk balikin sisanya? 🙄

    Jadi… begitulah….

  4. @ iman brotoseno :

    oh, gosh, you make me jealous !!!!
    seperti apa dia ??? *mbayangin bintang besar spt dewa….*

    @ pyrho :

    hehehe, masalahnya, saya rada lupa, definisi lain dr ‘abnormal’ itu apa, psychologically:mrgreen:
    iya, nurut deh, sama apa yang dibilang bung fer *menjura*

    @ bsw :

    ” Kalo buku yg dibajak buku laris, alasannya “toh pengarangnya sudah kaya”. ”
    –> wah itu aku banget, je… T_T
    seperti mikrosop ini, males bgt ‘buang2’ duit sekian juta untuk windows aseli dll. lha, Bill Gates udah jd bilyuner je….itung2 sedekah ma aku… T_T

    @ rumahkayubekas :

    kata jayabaya, jaman edan, kang.
    moga kita gak ikutan ng-edan ya….edan ga papa, tp jgn ng-edan alias cuma ikut2an… *wuih*
    tul gak kang ??

    @ almascatie :

    seperti pembuangan bayi, nurani kita udah ga heboh lg, secara udah b i a s a kita disodori berita2 macem gt, iiiiigh ngeri juga ya T_T

    @ jensen99 :

    yg kayak gitu biasa kl mo dapet proyek di pemerintahan. mereka biasa mark up nilai proyek, dan ujungnya kita2 yang ditekan habis2an shg untung yang kita peroleh jd mepet. *pengalaman pribadi*
    tapi kita kok seperti tiada berdaya untuk melaporkan T_T
    kl yg #2 mah, gimana ya, itu kan duit rakyat, pajek dr kita. lah, kok seperti itu kan namanya in-efisiensi biaya. trus, kl kasusnya kayak pejabat sapa tu, yg disidik krn menerima sisa anggaran. kl ga salah, men-ag ya ?? lha, dalihya, yg seperti itu udah biasa. udah jamak.
    nasib…nasib….
    *radikal : saran gw sih, stop aja tuh, perekrutan PNS yg rutin tiap tahun. ga ada gunanya, jangka pendek aja tuh, utk ngurangi pengangguran. yg ada kan, jd pengangguran terselubung. belanja negara paling gede tu buat PNS, tp kinerjanya ga jelas. harusnya niru2 perusahaan profesional, dimana perhitungan gaji disesuaikan dg kinerja. perekrutan juga dilihat berdasar kebutuhan*
    btw, temen gw itu, mungkin saking polosnya ya, merasa bukan haknya, jd dibalikin, hehehe

    @ leksa :

    aahhhh, ni die nih, udah balik. mana oleh2nya ??? kapan jd VJ TV ??😉
    kaum itu ada ya ??? so, kapan mulai bergerak ??? kira2 perubahan yg dihasilkan, dampaknya seberapa luas ya ???
    *harus optimis, bung !!*

  5. kayaknya ini yang sering terjadi saat ini. ‘kebiasaan’ yang belum tentu baik menjadi alasan semua orang melakukan hal-hal yang dianggap benar.

    misalnya aja buang sampah sembarangan. kalau ditegur jawabnya “itu mah biasa. lagian sekalian ngasih kerjaan sama tukang sampah. biar ga makan gaji buta.”

    begitu pula korupsi kecil-kecilan seperti uang transport. misalnya cuma keluar 30ribu, tapi minta reimbursement sekitar 50ribu. alasannya “itu biasa kok. uang capek”.

    duh!🙄

  6. Lho, Bukannya sayah udah mendobrak norma kemapanan nyang ada, selingkuh, misalnya ???

    Malah, lama-lama selingkuh itu soal nyang biyasa looohh…..

    komen ngaco, ditimpuk dompet sama si Memeth….
    :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s