antara pria multi orgasme dan si embok sepuh

Siang itu, 27 Maret, hari Kamis, pukul 13.00.

Pantaslah jika kami kepanasan, matahari sedang garang-garangnya menghunjamkan sinarnya ke bumi. Walau kami sudah memakai kostum yang paling nyaman, tetap saja kami kewalahan dan peluh mulai berembun di kening kami. Memudarkan bedak yang sudah kami pulas dengan hati-hati.

Walau begitu, kami berlima, aku, Nike, Ira, Nia, dan Erik, tetap asyik bercanda. Mungkin juga kami tertular dengan keremajaan mereka, anak-anak SMU itu. Apalagi ketika aku memergoki Erik sedang asyik membaca buku yang sepertinya asyik. Ku tengok covernya, dan astaga, “Pria Multi Orgasme” begitu judul yang tertera di sampul. Segera saja, buku itu menjadi topik yang mengasyikkan di antara kami. Terutama aku, yang merasa terlangkahi dan ketinggalan info.

img_0513_resize.jpg

” Dapet buku dari mana nih, Rik ? Perpus ?? ” tanyaku.

” Enggak, dari Ira tuh. Eh ini (sambil menunjuk buku) kan ada pelatihannya kan ya, aku pernah baca di internet pas lagi gugling. ”

” Hihihi, iya tuh, Erik pengen jadi subyek pelatihannya tuh, jeng, ” dua gadis itu, Ira dan Nia cekikikan.

” Kalo aku jadi trainernya aja, hehehe. Lah kamu kok bisa sampe nemu pelatihan multi orgasme, kata kuncimu opo ??Β Eh, Ira, kok bisa ?? ” aku terkejut dan beralih kepada sosok manis nan imut, dengan rambut hitam legam dengan mata yang jeli, ” Dapet buku ini dari mana, Ra ?? ”

” Hehehe, itu punya Nike. Dapet pertama dari Farah trus temen-temen pada motokopi, akhirnya nyebar deh, ” ujar Ira sambil cengengesan.

” Hah, Farah, yang jilbaban itu ? ” sekarang gantian Erik yang terkejut.

” Yee…..emang kalo jilbaban kenapa ??? Ga boleh ?? Yeee….kan penting buat suaminya, ” kami bertiga koor dengan serentak.

Erik Cuma cengengesan dan kembali membuka-buka halaman dengan halaman dengan khusyu’. Apalagi kalau pas ada gambarnya, tambah khusyu’ deh. Lantas kupinjam buku itu dan kubuka daftar isinya. Apa sih, isinya, batinku penasaran.

Bab Satu

  • Buktinya Ada Dalam Celana Anda
    • Gelombang Otak dan Refleksi
    • Buktikanlah
    • Kematian Sesaat

Bab Dua

  • Kenali Diri Anda Sendiri
    • Tubuh Anda
    • Energi Anda
    • Perangsangan Anda
    • Ejakulasi Anda
    • Orgasme Anda

Bab Tiga

  • Menjadi Pria Multi Orgasme
    • Dasar Pernapasan
    • Meningkatkan Pemusatan Perhatian (Konsentrasi)
    • Memperkuat Otot Seksual
    • Manjakan Diri dan Pengerahan Diri
    • Belajar Mengendalikan Ejakulasi
    • Belajar Mengendalikan Energi Seksual
    • Tarikan Dingin
    • Tarikan Panjang
    • Penguncian Jari
    • Bilamana Harus Berejakulasi

Bab Empat

  • Mengenal Pasangan Anda
    • Tubuh Wanita
    • Orgasme Wanita
    • Perangsangan Dirinya

Bab Lima

  • Menjadi Pasangan Multi Orgasme
    • Memberi Kenikmatan pada Pasangan Anda
    • Teknik Pemasukan
    • Seni Lanjutan dari ….

Tiba-tiba konsentrasiku buyar. Nike memanggil kami untuk segera bersiap-siap. Dalam hati aku berjanji untuk segera meminjam buku ini dan meng-khatamkannya, hehehehe. Ternyata, ruang sidang masih dipakai untuk rapat, sehingga terpaksa kami masih harus menunggu lagi sambil mengawasi tumpukan dos-dos makan siang untuk peserta pelatihan nanti. Eits, tentu saja bukan pelatihan seks, hehehe.

Kami masih bercanda dengan riang gembira. Kali ini, sasarannya adalah Nia, yang lagi jablay karena jomblo sudah beberapa bulan ini. Nia mendesak Nike dan Erik untuk mengenalkan dirinya dengan calon-calon yang potensial, dari lingkungan keluarga atau teman keluarga. Syaratnya; matang, mapan, dan mempesona (hahaha, itu mah, persyaratanku).

Candaan kami disela oleh kedatangan mbok-mbok yang sudah sangat sepuh, menggendong baskom logam dan menjinjing seplastik kerupuk. Ira kontan menoleh padaku penuh arti dan bersiap-siap mengeluarkan dompetnya.

” Jeng, dia kan, mbok-mbok yang Ira dulu beli krupuknya ya, ” bisiknya padaku. Aku mengangguk.

” Aku tuh, suka kasihan, Rik, jadi aku kadang suka beli-beli gitu, ” ujarnya demi melihat Erik yang tampak heran. Ira segera mendekati mbok itu, yang sedang sibuk menata dagangannya. Baskomnya ternyata berisi lauk-pauk seperti telur asin, telur dadar, dan entah apa. Beberapa guru tampak mendekati dan bertransaksi. Ira menunggu hingga Mbok itu selesai melayani pembelinya.

Selanjutnya terjadi dialog yang cukup membuat kami tertawa-tawa. Betapa tidak, Ira si anak Jambi, berbincang-bincang dengan si Mbok yang berbahasa Jawa halus. Ya Joko Sembung alias ga nyambung tho. Walhasil kami hanya cekikikan melihat Ira berkali-kali menoleh ke arah kami dengan wajah bengong. Menyadari nona cantik di depannya tidak bisa berbahasa Jawa, si Mbok mengganti berbahasa Indonesia. Kami pun bergabung untuk berbincang-bincang dengan si Mbok.

img_0494_resize.jpg

Kami bertanya-tanya, antara lain, apa enggak capek usia sudah sepuh (75 tahun) masih berjualan dengan jalan kaki. Ternyata rumahnya dekat dengan SMU 7, dan dia berjualan terbagi menjadi dua shift, pagi dan siang. Di tengah-tengahnya dia menyempatkan diri untuk istirahat. Dia melakoni berdagang, menurutnya bukan untuk bekerja tapi menyenangkan hatinya. Anak-anaknya sudah menikah semua, dan Mbok itu suka dengan kegiatan yang sudah dilakoninya selama puluhan tahun. Dagangannya sendiri, bukan hasil masakannya sendiri, tapi dia kulakan di beberapa tempat.

Mungkin itu juga yang menjadi rahasia kesehatannya, karena Mbok tersebut pendengarannya masih sangat baik dan cukup gesit. Walau ketika ditanya Ira, rahasianya adalah minum jamu sedari muda. Karena itu, hingga usia 75 tahun ini, badannya ga pernah gemuk.

Kami pun sempet iseng, meminta si Mbok untuk berpotret bersama kami. Nia malah lebih iseng lagi, berpotret berdua dengan Mbok. Dia tak canggung untuk duduk setengah berjongkok di samping Mbok, dalam posisi berdekatan. Ira kurang ajar, dia bilang (sambil menunjuk Nia), ” Mbok, itu pembantunya. ”

Kontan saja aku tertawa demi mendengar perkataan Ira. Sementara si Mbok hanya tertawa cengengesan dan berkata-kata, ” Halah, saya ini sudah keriput, kayak wewe, gendruwo, kok masih difoto.”

” Cantik, kok Mbok, ” sahut Ira sambil cengengesan.

” Taksih enem rumiyin, ayu nggih Mbok ?? ” selorohku (masih muda dulu, cantik ya).

” Wah, mboten…mboten…” si Mbok tersipu-sipu mendengar kekurang-ajaran kami.

Setelah photo session dan Ira membayar krupuknya, Mbok mengucapkan terimakasih dan mendoakan kami, ” Mugi enggal lulus, cepet angsal pedamelan, barokah, dsb.”

Doanya cukup panjang, dan kami berlima koor serentak dan sepenuh hati mengamini. Nia mendekat dan meminta untuk didoakan segera dapat jodoh yang kaya dan baik, hehehe, Ira juga tak kalah gesit minta didoakan hal yang sama. Si Mbok mendoakan kami tapi berpesan untuk bekerja dulu sebelum menikah. Kami lagi-lagi mengamini dengan mantap dan yakin, sekaligus kagum dengan kebijaksanaannya.

Ketika si Mbok berlalu, Ira dan Nia berkata, ” Doa orang tua itu kabul, Rik. Kita sering minta didoakan orang tua. Pas kapan, kita lagi makan di warung di Jakal, lihat ada bapak-bapak tua sendirian. Kita deketin, ngobrol-ngobrol, dan minta didoakan. Eh Bapak itu sampe memeluk kita berdua lho. Dia katanya ga punya anak perempuan dan menganggap kita seperti anaknya, ” cerocos keduanya.

Aku hanya tersenyum dengan tingkah dua anak itu. Tapi hari itu aku belajar, untuk lebih memperdulikan kehadiran para lansia. Mereka adalah sosok yang terlupakan, padahal sangat merindukan perhatian. Dan, kupikir bener juga kata mereka, doa orang tua itu makbul alias gampang terkabul. Diam-diam aku kagum sama dua anak itu. Centil, kayaknya ga pernah serius, tapi ternyata menyimpan kepedulian yang cukup besar dan tidak memperdulikan status sosial seseorang. Mungkin mereka sendiri tidak menyadari hal tersebut, terlalu sibuk ngerumpiin cowok, hasrat menikah, gosip, mode terbaru, tesis, kampus, dll.

14 thoughts on “antara pria multi orgasme dan si embok sepuh

  1. lantas hubungannya multi orgasme dengan simbok apaan dong buk?πŸ˜†
    ______________________________
    saya ko juga merasa trenyuh dengan simbok2 tua ya, tapi kalo simbah saya dewe, sering tak godain hohoho…
    normal nda’an?:mrgreen:

  2. Ping-balik: sex dan spiritualisme « r e s t l e s s a n g e l

  3. weh……putu kurang ajar, maak godain simboknya sendiriπŸ˜†

    eh tp kl gt, simbokmu funky dong^^

    hubungannya ?? ya bikin hubungan sendiri aja, hehehe, berbanding lurus ato terbalik, signifikan ato tidak…

  4. Hoh…saia juga selalu trenyuh kalo ngliat orang-orang tua sangadh yang masi kerja, uda gitu kerjaannya beradh sangadh lage. fadahal saia yang cuma jaga warnedh aja kalo uda kcafean bawaannya ndak enak sangadh…tafi mereka ko ya kuadh sangadh ya? aihh…
    ah ya, fas liat judulna, saia kira si embok sefuh itu funya suami yang isa multi orgasme..
    ternyata oh ternyata….
    ndak nyambung sangadh……..

  5. ah ya….memang…..drpd liat emak2 ngemis di jalan, padahal sehat dan gendut, bawa anak orang lg…ato anak2 ngamen ga jelas di jalan…

    para sepuh itu lbh top. pernah liat perjuangan kakek2 renta, over 70, jualan theklek, dingklik, jalan entah dari mana, kurus bgt sampe tulang2 dadanya keliatan ky piano….
    T_T

    ah ya….pria multi orgasme itu adalah….hubungannya…:mrgreen:

  6. @ dobelden :

    ahahaha….babi orgasme satu jam yah…. *buset, gimana ngukurnya…*
    koyo opo yo, rasane, orgasme satu jam…. *mikir*
    *rames = RAi MESum*

    @ funkshit :

    itu Ira….anaknya manis banget…sampe2 pas foto bareng sama anak2 smu itu, cowo2 ABG itu mati kutu dan mati gaya foto sebelahan ma diaπŸ˜†
    ada juga Nia, manis juga, dg tahi lalat….
    kl Nike, manis, kalem, wah angel banget deh….
    kl aku….πŸ˜•
    *wadaw, ga janji, bawa yg manis2 di juminten, bisa dirayah eblis2*

  7. jeh…postingan awal ama akhirnya ga sinkron wakakakakk..

    iya tuh, saya juga suka trenyuh kalau lihat para pedagang yang udah lansia. nggak tega gitu. di daerah rumah saya biasanya ada kakek-kakek yang jualan jepitan sama hiasan rambut. karena kasihan, saya sering beli jepitan-jepitan rambutnya sampe numpuk dan akhirnya saya kasih ke temen.πŸ˜†

  8. aih jeng…..hatimu bener2 bersinar……

    udah ngebantuin itu kakek, jga bikin seneng temen2mu pula…..

    *high quality jomblo, hhihihi*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s