sex dan spiritualisme

peringatan : artikel khusus dewasa. tapi bagi para dewasa yang masih memandang seks itu tabu, silakan tutup mata^^ 

Beberapa hari yang lalu, kebetulan banget, saya dapat pinjaman buku bagus sekali. Judulnya PRIA MULTI ORGASME, rahasia setiap pria untuk mengalami orgasme berulang kali dan meningkatkan hubungan seksual secara dramatis, by Mantak Chia dan Douglas Abrams Arava.

Buku ini sangat blak-blakan dan komprehensif sekali, membahas seksualitas pria dan juga bercinta. Yang menarik, bahasan buku ini tidak hanya menguraikan teknik-teknik bercinta sehingga mencapai kepuasan orgasmik, tapi juga mengungkap sisi spiritualisme dari bercinta itu sendiri.

Sayangnya, buku yang saya dapat ini ‘versi bajakan’ alias foto copy-an, sehingga saya tidak menemukan biografi singkat dari penulisnya (atau mungkin saja, aslinya juga tidak memuatnya). Tapi perkiraan saya, penulis merupakan pakar dan mendalami Tao dan kaitannya dengan seks secara khusus. Kemungkinan penulis berminat dengan spiritualitas Timur.

Bisa dikatakan, secara singkat buku ini memuat teknik-teknik Tao untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas seksual pria (dan juga perempuan). Malah ada istilah yang dipakai secara khusus yaitu Kung Fu Seksual.

Seks, dalam pandangan Tao, ternyata tidak hanya melibatkan dimensi fisik saja tapi juga spiritual. Dengan teknik yang benar, maka orgasme yang diraih bersifat ‘mistik’, penyatuan dengan pasangan dan bahkan alam semesta. Dan harap dicatat, ternyata orgasme berbeda sekali dengan ejakulasi. Dalam pandangan Tao, (pasca) ejakulasi adalah masa kematian sesaat. Energi seorang pria tersedot, dan dia memerlukan masa untuk memulihkan kembali energinya. Sedangkan orgasme, bagi pria, dia akan merasa mendapatkan suntikan energi baru (hmmm…tiba-tiba teringat dengan sex yoga kundalini -kalo ga salah-, dimana tujuannya setelah bercinta maka masing-masing pasangan bukannya kehabisan energi tetapi tetap segar dan bervitalitas) .

Saya sendiri setuju dengan dimensi spiritual dari making love ini. Karena itu, dalam idiom Inggris, dibedakan antara having sex, making love, bahkan fu****g. Saya memandang, dalam making love, yang terjadi adalah proses saling memberi dan menerima dalam suasana sakral, dan proses take and give tersebut menumbuhkan suatu energi baru yang lebih positif. Entah itu berupa leburnya sekat-sekat yang membatasi sehingga tercipta hubungan yang lebih intim, hingga penyatuan jiwa dan raga dari masing-asing pasangan sehingga tidak ada lagi ‘kamu’ dan ‘aku’ tetapi hanya ada ‘kami’ dan ‘kita’.

Karena itu, konsep Yin dan Yang, seperti dalam buku ini, menurut saya menggambarkan hukum alam mengenai spiritualitas itu sendiri, termasuk seks. Seks harus bersifat seimbang dan harmonis.

Dalam buku ini, proses making love adalah sebuah pertukaran energi. Dalam pandangan spiritual Timur, setiap materi adalah energi, tak terkecuali tubuh kita. Dalam bahasa cina disebut chi, dalam bahasa sansekerta disebut prana, dan sebagainya. Aura konon adalah pancaran energi kita yang membias keluar. Karena itu, ilmu penyembuhan Timur biasanya bersifat holistik. Dalam tubuh sendiri, energi mengalir seperti arus listrik ke seluruh bagian tubuh, dan menurut Tao, chi mengikuti (mengalir) kemana pikiran berjalan.

Energi seksual sendiri (ching-chi) merupakan salah satu dari jenis energi biolistrik yang paling kuat. Saya sendiri juga menyetujui pendapat ini. Dari pengamatan dan hasil perenungan, energi seksual adalah energi yang bersifat primitif tetapi bersifat primer. Meminjam konsep Jung dan Freud, ia adalah energi yang bersifat purba, ada pada setiap makhuk hidup. Ia adalah energi yang mendorong terciptanya kehidupan baru. Karena itu, wajar jika kita bertemu pertama kali dengan orang baru, kita cenderung tertarik dengan energi seksualnya. Individu dengan energi seksual yang kuat, biasanya lebih menarik, lebih berenergi, seperti magnet. Bahasa awam mungkin seksi, menarik, memorable, atraktif, dsb, tapi kemungkinan besar, itu adalah energi seksual yang terpancar dan ditangkap oleh orang-orang disekitarnya.

Bagi individu yang pandai mengolah energi seksualnya, ia mampu memanfaatkan secara pas di segala situasi. Pemimpin-pemimpin besar dunia, menurut saya, tak lepas dari energi seksual yang dimilikinya. Maka tak heran jika pemimpin-pemimpin tersebut umumnya kharismatik, misal Soekarno.

Salah satu sisi spiritual dari making love yang diungkap dalam buku ini yaitu pada bahasannya mengenai posisi bercinta. Dalam pandangan Barat, siapa yang berada di atas, dialah yang memegang kendali. Dengan kata lain, dia yang mengkontrol, menentukan, dan memutuskan (eh jadi inget film lawasnya Penelope Cruz, apa ya judulnya, pliz sapa tolong kasih tahu ?? Belum nonton sih, tapi kata orang yang sudah nonton, di film itu Cruz senang sekali berada di atas).

Dalam Tao, pihak yang berada di atas, adalah pihak yang memberikan lebih banyak energi kepada pasangannya (di bawah). Pasangan hanya sebagai pelengkap dari gerakan yang di atas. Walaupun sebagai pelengkap, tetapi perannya sangat penting. Dengan memahami peran masing-masing, maka akan membantu memperluas, mensirkulasikan, dan mempertukarkan chi lebih cepat. Jadi pihak yang berada di atas, sebenarnya melayani yang di bawah dengan memberikan lebih banyak energi penyembuhan.

Bayangkan jika masing-masing pasangan bersikap egois dan saling memaksakan keinginannya. Endingnya hanyalah pelepasan ketegangan tapi thats it, sampai situ saja. Tidak ada kepuasan yang bersifat mendalam dan penuh cinta kasih sayang. Mungkin bisa disamakan dengan proses reproduksi hewan, hanya sebatas pelepasan sperma, selesai sudah.

Pandangan Tao (dan pandangan Timur lain) menyatakan bahwa nirwana dan bumi selalu berada dalam kesatuan seksual, saling menyeimbangkan dan menyelaraskan. Hujan dari langit, bersatu dengan tanah di bumi, menumbuhkan kehidupan baru. Matahari di tata surya, menyinarkan sinarnya mengenai bumi, mendorong kehidupan.

Seperti proton dan elektron, seperti tetesan hujan dan tanah, energi kewanitaan dan energi pria akan bersatu menyelaraskan diri secara harmonis dan memurnikan energi seksual masing-masing.

Seperti yang diuraikan di atas, energi paling dasar yang dipakai adalah energi seksual. Jika kita mengerahkan energi seksual ini, ia akan dimurnikan menjadi chi. Chi ini akan dimurnikan lagi menjadi shen, atau energi kejiwaan. Ketiganya saling berhubungan dan terkoneksi dengan tubuh (materi). Dengan making love, maka terjadi sirkulasi dan pemurnian energi seksual bersama. Orgasme yang dicapai, tidak hanya bersifat fisik yang murni tetapi juga bersifat kejiwaan, yang merupakan bentuk alami dari keintiman jiwa (soulmating).

Bukti bahwa making love adalah sebuah proses lebih tinggi yang membutuhkan keselarasan dan dimensi spiritual, ada dalam bagian buku yang saya kutip sebagai berikut (dengan beberapa penyesuaian) :

Menurut Taoisme, penggabungan puncak kenikmatan orgasme dari sepasang manusia yang sedang menikmati proses making love, terjadi jika Yin dan Yang masing-masing berada dalam keselarasan sepenuhnya. Semakin mampu memasrahkan dan menenangkan diri sepenuhnya pada pasangan anda, semakin besar kemungkinan anda dapat merasakan kaitan yang luar biasa ini.

Bentuk penyelarasan ini sangat kuat. Jika anda dapat membuka dan menerima energi cinta dari pasangan anda, dan sebaliknya pasangan anda juga, anda akan merasakan pencampuran dan keintiman yang tidak ada tandingannya.

Energi anda, Yin dan Yang, adalah bagian dari energi alam yang sama, hanya muatannya saja yang berbeda. Kalau aliran energi seksual antara anda berdua mencapai kekuatan dan keseimbangan yang tepat, masing-masing tubuh akan tampak mencair menjadi getaran ekstatik dari denyutan dan sirkulasi energi. Inilah orgasme sebenarnya dari tubuh dan jiwa. Dengan menganggap bahwa saluran komunikasi dan berbagi rasa lainnya terbuka dalam hubungan anda dengannya, pertukaran energi ini akan membantu cinta anda lebih berkembang dan rasa saling mencintai akan memperkaya mereka yang berada di sekeliling anda.

Making love, dapat memperluas energi seksual dan memperkuat emosi dan sikap kita. Inilah mengapa kita merasakan kenikmatan seksual begitu memabukkan dan perasaan jatuh cinta begitu kuat mengalahkan segalanya. Sisi negatifnya, pertengkaran yang terjadi di antara pasangan yang saling mencintai, dampaknya begitu dalam pada masing-masing pasangan. Maka adalah penting jika anda berdua mencoba memecahkan pertentangan emosi  S E B E L U M  mensirkulasikan energi seksual. Energi seksual seperti api, ia bisa membantu atau merusak tergantung pada cara anda menggunakannya. Jika emosi negatif muncul saat sedang bercinta, berhenti dan alihkan bentuknya menjadi emosi positif, misal dengan tersenyum dan membayangkan sifat-sifat positif  (senyuman tulus memancarkan energi cinta yang memiliki kekuatan menghangatkan dan menyembuhkan).

.

Dengan memahami bahwa making love juga bersifat spiritual, maka akan tercapai pengertian dan menumbuhkan sikap saling memahami di antara masing-masing pasangan. Tidak ada lagi salah satu pihak yang menuntut kepuasannya tanpa memperdulikan kepuasan orang lain. Keduanya saling memberikan energi positif. Dengan semakin matangnya seksualitas seseorang, dia akan mengetahui sifat sejati seksualitasnya, dan akan semakin sempurna bersamaan dengan kematangan dirinya.

** pagi ini membaca berita kriminal, di Brebes, seorang tukang becak membunuh istrinya karena kalap, istrinya terus-terusan meminta ‘jatah’ tanpa memaham keadaan dirinya yang kelelahan sehabis narik.

Kesimpulannya ?? Making love adalah proses penyatuan bagi dua insan menuju tingkat yang lebih tinggi, kesatuan dengan alam semesta. Dalam proses tersebut, dibutuhkan sikap saling melayani, saling memahami, take and give, harmoni dan selaras. Seperti halnya yang berlaku selama ini dalam hukum alam, saling memberi dan menerima sehingga terjadi keseimbangan. Apa yang terjadi jika keseimbangan rusak ?? Kita bisa belajar dari alam yang sedang ‘marah’ untuk beberapa waktu ini. Bencana di mana-mana.

Slogan berikut adalah slogan favorit saya, mengajak setiap orang untuk mencapai harmoni dan keseimbangan dalam hidup dengan menyebarkan energi positif : M A K E  L O V E ,  N O T  W A R ….

31 thoughts on “sex dan spiritualisme

  1. Ping-balik: antara pria multi orgasme dan si embok sepuh « r e s t l e s s a n g e l

  2. jadi nda’ sabar pengen nikah😆
    sebuah kajian seks, yang tidak membuat celana menyempit, eh? aneh?:mrgreen:
    tapi mbak,
    […]Energi seorang pria tersedot, dan dia memerlukan masa untuk memulihkan kembali energinya. Sedangkan orgasme, bagi pria, dia akan merasa mendapatkan suntikan energi baru[…]
    apa ngga janggal, bukannya orgasme bagi wanita? maaf kalo salah😀

  3. celana sempit ?? hehe, tertarik baca bukunya ?? ^^

    oh, ndak salah. dibedakan lho antara ejakulasi dan orgasme. ejakulasi, dimana air mani pria keluar, itu biasanya cukup menguras energi. maka tak heran, pasca ML yg berakhir ejakulasi, pria lbh tertarik dg bantal drpd tubuh pasangannya.

    sdgkan orgasme, dia ga sampe keluar air mani. dia hanya merasakan aliran energi yg berdenyar-denyar (konon)

    ** wuah, berasa konsultan seks:mrgreen:
    **berpikir utk alih profesi
    ** tp apa dipercaya ?? menikah saja, belum….. khatam teori doank :p

  4. “sdgkan orgasme, dia ga sampe keluar air mani. dia hanya merasakan aliran energi yg berdenyar-denyar”
    hoh? berarti fas waktu mo ejakulasi, si fria itu orgasme, eh? ah ya, benul sangadh kata faman goof, bacaan sex yang ndak mbikin ‘adek’ saia tegang *hush!*
    btw, bukunya kekna asek, membahas sex sebegitu syahdunya. harganya brafaan? fengen mbaca lho…mayan buat bekal nanti *halah*

  5. @ Hoek Soegirang :

    sayang, postingan ini ga membahas ttg orgasme pria. tp sr singkatnya, buku ini membedakan antara ejakulasi (keluarnya air mani) dan orgasme (kenikmatan puncak). bahkan, dengan teknik Tao, pria didorong utk merasakan orgasme berkali-kali tanpa harus ejakulasi.

    @ escoret :

    kowe tanggung jawab po, kl april ini blogku di blokir ????

  6. waduh…ojo sambung2 ga nyambung gitu, sultan…

    sayang, ga terjadi apa2 di sawah….
    pepeng malah flirting sama sapi….:mrgreen:

  7. @ wedhouz :

    wek!!! undangan apaan ?? masak ‘mbelah duren’ sebar2 undangan ??:mrgreen:

    @ kw :

    hahaha…..di buku ini, ada teknik yg ga kalah mengasyikkan, buat yg main solo…😆

  8. Apa yang terjadi jika keseimbangan rusak ?? Kita bisa belajar dari alam yang sedang ‘marah’ untuk beberapa waktu ini. Bencana di mana-mana.

    Jadi inget, Jakarta sekarang setiyap taon banjir mulu, mungkinkah karena lelakinya pada sering mbuwang lendir secara sembarangan di puncak ???
    🙄

    ***kabourr…***

  9. gimana kl berbakat dr sononya ?? tentu waktu dan effort yg dibutuhin ga selama orang biasa kan ??😉

    “….lelakinya pada sering mbuwang lendir secara sembarangan di puncak ??? ” –> hayoooo, tanggung jawab !!!:mrgreen:

  10. Tergantung bagaimana seseorang itu memang masalah sex. Apakah sebagai ungkapan kasih sayang atau karena napsu. Biasanya kalo karena napsu, apalagi dilakukan dengan sembunyi-sembunyi .. wah, pasti deh maunya buru-buru hahaha😆

    Tapi kalo dengan rasa cinta dan juga dengan penghayatan serta ingin mencapai win-win solution, kaya’nya bakal lebih mudah untuk mencapainya.

    *halah* ngomong apa sih:mrgreen:

  11. @ cK :

    eh postingan ini ga porno lho. ngapain disimpen2 buat nanti, lha ga ada penjelasan teknis kok. gw kan cuma mo ngebahas seks tyt ada sisi spiritualnya. gt jeng^^

    @ erander :

    seks selama ini melulu kebanyakan diliat dr sisi ‘sarunya’. padahal ada sisi spiritualnya (yg saya juga baru ngeh).
    seks emang indah dan nikmat, mas, setuju😆

    @ chatoer :
    :mrgreen: hehehe…..ajak2 dunx…
    *lho, ngomong apa sih*

    @ jensen99 :

    hahaha….emang ni postingan khusus membahas sisi spirtualnya😉
    kl pengen lbh greng, baca aja bukunya, hihihihi… lengkap dg gambarnya loh^^

  12. yin dan yang itu sebenrnya apa saya ngga ngerti :D:D jadi bagaimana bisa membuatnya saling selaras . ..

    trus akhirnya.. bedanya having sex, make love sama f**king apaan ?

  13. *contoh ad hominem :
    “kamu masih kecil, jd susah kl nerangin sama kamu. beda ML, having sex, dan f**** aja ga ngerti”

    —-tapi….koleksi JAV bejibun T_T—–
    :mrgreen:😆

  14. Ping-balik: oleh-oleh dari bandung (pt. two) : kopdar, kuliner, sampah « r e s t l e s s a n g e l

  15. halo….salam kenal semua.

    mampir boleh donk.
    ngomong2, saya punya bukunya yang asli, warna merah…..belinya taun kapan ya….lupa.

    bacanya juga belum katam tuh.
    setelah baca postingan ini, pengen buka lagi….hehe

  16. mengenai seksualitas dalam spiritualisme, kayaknya kita sama-sama memiliki ketertarikan tentang seksualitas yang berbau spiritual.
    sekarang aku sedang mengkaji atau mencari tahu yang konon katanya (masih konon loch,, ga tau jg kl emang itu bener ^^) kita bisa mencapai orgasme tanpa bersetubuh cukup hanya dengan melakukan meditasi. itulah yang menyebabkan para biksu lebih suka bermeditasi n membujang dari pada menikah karena orgasme yang di peroleh dari meditasi lebih luar biasa n terasa dari pada hubungan seks dengan pasangan.
    tp aku g pengen jd biksu loch..^^
    kira-kira kisanak tahu g tentang konon di atas???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s