solusi !!!! (part two)

Karena ini akhir pekan, sudah sewajarnya kita mengendurkan otot-otot yang selama ini tegang dan menegangkan otot-otot yang selama ini kendur**.

**silakan ditafsirkan sendiri

jadi, jikalau rekan-rekan di jakarta, sangat menderita akibat kemacetan yang ditimbulkan oleh demonstrasi yang tak beretika dan tak memahami psikologi komunikasi dan psikologi massa, maka seharusnya ada solusi supaya kedua belah pihak mencapai win-win solution.

pertanyaannya, demo macam apakah yang membua senang banyak pihak ???

1. demo memasak, lalu ada icip-icip gratis.

2. demo kecantikan, trus ada make over gratis buat pengunjung untuk di make up ala diva.

3. demo seperti ini atau ini nih (tapi biar adil, gimana kalo juga dibanyakin model-model cowok hunk, ow yeah baby !!! awrrr….mommy hungry !!! :mrgreen: )

solusi !!!!

Astaga….masih sesek juga rasanya, dada dan batin saya ketika blogwalking, baca koran dan nonton tipi.

Tiba-tiba ketika sedang mandi, tercetus suatu ide.

Kenapa mahasiswa-mahasiswa hiperaktif yang kelebihan energi itu, tidak menyalurkan energinya ke Porong ato daerah-daerah lain yang butuh tindakan nyata ?? ^_^

Great idea bukan ?? Hehehehe….. :mrgreen:

Jadi, energi berlebih itu bisa disalurkan untuk melakukan pendampingan, melakukan semacam pemberdayaan masyarakat.Seperti waktu gempa Jogja itu lho. Mahasiswa-mahasiswa live in bareng penduduk, bikin dapur umum, melakukan pemetaan, trus bikin program dan tak lupa pendampingan terhadap anak-anaknya.

Trus juga, bikin semacam crisis centre, memberikan konseling kelompok ato terapi individu, untuk mengurangi beban depresi, stress, dan gangguan trauma pasca bencana. Dengan senang hati, gw bantu, kerahkan segala daya upaya yang saya punya. Transfer sedikit (memang hanya sedikit) apa yang saya tahu, tak lupa mengerahkan segala macam networking dari kalangan psikologi.

Jadi ?? Energi berlebih itu akan tersalur dalam bentuk mendampingi masyarakat untuk menapaki hari-hari ke depan secara lebih mandiri, mendampingi mereka untuk lebih berdaya, mendampingi anak-anak di bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah darurat dan program-program katarsis bagi anak-anak, juga bantuan kesehatan, sanitasi, dan lain-lain. Kata dosen gw, yang dibutuhkan sekarang adalah program yang tidak lagi bersifat darurat tapi jangka panjang, seperti pemulihan Aceh itu lho.

Gimana ??? Gimana ??? :mrgreen:

Ehm, saya jadi inget temen-temen sukarelawan dari Bali yang all out membantu kami sewaktu gempa dua tahun lalu. Mereka adalah mahasiswa-mahasiwi pecinta alam se-Bali, yang menyadari hanya punya tenaga dan niat. Sekuat tenaga mereka mencari jaringan yang dapat membantu mereka ke Jogja walau dengan kereta ekonomi sambung -nenyambung begitu. Trus juga live in dengan penduduk selama beberapa minggu, tak segan menyingsingkan lengan baju mendirikan tenda peleton, membongkar gedung roboh, ceria bersama anak-anak dan penduduk, dan lain-lain. Padahal dari berbagai macam suku dan agama. Mereka aseli hiperaktif. Kelar bantuin gempur tembok, eh mereka masih bisa becanda gila-gilaan atau menyusuri daerah yang dirasa menarik.

Jadi kangen kalian. Hai Polo, Wisnu, Amrozy, si Sableng peranakan Padang-Bali tapi paling ceria (maap lupa namamu), dan lain-lain. U’re great !!!!!!!!!

 

 

apa kata gw…..

Hanya sekedar melepas rasa sesak di dada.

1. anarkisme demo mahasiswa.

Kenapa tidak ditimbang untung ruginya. Apa bedanya dengan nge-blog, kl sekedar untuk urun suara. Tapi memang, demo sangat membetot perhatian, tidak seperti nge-blog. Nge-blog itu eksklusif, hanya segelintir masyarakat kita yang bisa mengaksesnya. Bahkan bisa jadi jajaran pembuat kebijakan tidak bisa membedakan nge-blog dan nge-hack. Tapi kan tidak membuat macet, mencemari udara dengan membakar ban, menganiaya binatang dengan membawa-bawa ayam, kambing, merugikan masyarakat umum, dll.

Atau jangan-jangan, mereka berpikir, itulah harga yang harus dibayar untuk perjuangan ???

2. tindakan represif polisi

Agung Laksono bilang, apapun alasan mahasiswa berdemo dengan membawa molotov segala, harusnya polisi bisa mengedepankan cara-cara dialog (KR, 25/05/08). Yeah, gimme a break !! Jadi polisi itu Pak, gaji kecil, anak kurang gizi, kepanasan, kelaparan, kehausan, sementara di depannya mahasiswa berteriak-teriak dengan kata-kata yang bikin merah telinga. Belum ada yang memprovokasi dengan lempar batu segala atau tunjuk jari tengah. Polisi juga manusia, Pak. Bapak-bapak di DPR aja ngamuk-ngamuk ketika Slank nyanyi. Padahal cuman nyanyi.

Tadi sore di RCTI, ada tuh, rekaman video, polisi yang lagi ulang kantor tahu-tahu ditendang pemuda dan nyaris dikeroyok massa.

Apresiasi doms ah !!!

Masyarakat nih, lama-lama juga makin sulit bersikap objektif. Opininya mudah sekali disetir, dan sayangnya berita-berita negatif yang sangat mudah diserap masyarakat sehingga generalisasi salah kaprah.

Gw khawatir aja nih, kasusnya bisa sejenis dengan hukum tak resmi yang berlaku di jalan raya ;  kalo ada kecelakaan, yang salah pasti (kendaraan) yang lebih besar. Seperti gw pernah liat, di depan pintu masuk pasien RS. Panti Rapih. Udah jelas-jelas, yang salah tuh motor. Tuh yang pake meleng, keasiken liat entah kemana, kenceng pulak. Sementara itu mobil posisi diam / jalan pelan, karena mo kluar dari Panti Rapih, dan jalanan rame. Walhasil, tu motor sukses nabrak mobil yang disetiri mbak-mbak, sampe ngglangsar. Langsung aja, tu mbak-mbak dikerumuni tukang becak dan sopir taksi yang marah-marah dan maksa nyalahin si mbak. Gw yang emosi dan liat langsung kejadiannya, bersama teman gw, kita langsung mempelankan mobil kita dan buka jendela sambil tereak : “yang salah yang naek motor pak !!! Dia meleng ga liat itu mobil, mobilnya udah bener !!! ” teriak kita penuh emosi.

Ato juga, kejadian temen gw. Dia musti nanggung biaya pengobatan pengendara motor yang jelas-jelas salah, krn nabrak pick up temen gw sampe dekok-dekok ga karuan. Kejadiannya, motor itu melaju kenceng dari tikungan yang cukup tajam. Temen gw ini udah melihat kl si motor ini membahayakan, jadi dia minggir banget, mepet sawah. Eh bener, si motor ga bisa mengendalikan diri dan nabrak pick up dengan sukses. Hasilnya, pintu supir, kegores dalem dan penyok cukup berat. Motornya sih juga cukup rusak. Tapi tetep si motor ga mau ngaku dan tetep minta ditanggung biaya perbaikan plus pengobatan. Karena ga mau ribut, temen gw ini yang ngalah. Gw yang denger yang ngamuk-ngamuk dengan ketidakadilan ini.

Ato seperti kecelakaan dimana motor menerabas pintu lintasan KA dan walhasil meninggal dengan sukses. Lha iya, KA kok dilawan, konyol. Dan tetep, PJKA yang disalahkan.

Jadi, di jalan itu, ga peduli kejadiannya kayak apa, yang salah udah pasti yang lebih gede.

 

Oke, saya bukannya mo memperkeruh suasana dengan menandingkan motor dan mobil atau gimana. Kisah di atas sekedar illustrasi, betapa ketidakadilan bisa berjalan karena logika yang entah dari mana. Jadi, sangat mungkin, kebenaran versi masing-masing bagaimanapun ga akan ketemu, masing-masing ngotot dengan versinya. Yang mengkhawatirkan, opini masyarakat sudaj disetir, sehingga hilang daya kritisnya, dan membela yang (tampak) lemah. Apalagi, karakter masyarakat kita yang cenderung mudah bersimpati kepada golongan yang (tampak) lemah.

Saya ingin masyarakat bersikap objektif dan menyaring dengan kritis berita yang masuk.

3. Bantuan Langsung Tunai

KR 25/5/08 menyebutkan, bahwa pencairan BLT di Jogja udah berlangsung, utamanya di kantor pos besar Jogjakarta. Tigaratus rebu untuk tiga bulan. Kagak naek dari tahun 2005-2006. astaga, tigaratus rebu. Buat gw, itu bisa untuk sehelai blazer. Ato dua helai kemeja. Atau sepatu dan traktir pizza. Langsung habis dalam lima menit atau setengah jam (makan pizza kan ga mungkin lima menit habis).

Untuk mbah Wasiyah, uang segitu langsung habis untuk bayar utang. Sedangkan Karto Sudarmo, untuk membeli makan (dan ga mungkin untuk dijajakan makan di Starbucks Amplaz yang sekali minum bisa habis minimal 30rebu ato sekedar ngafe di Djendelo Kofie yang minimal 9rebu). Lain lagi dengan Ningsih yang mo membelanjakan 300rebu untuk beli pakaian dan peralatan rumah tangga, karena buat modal ga cukup, gitu alasannya.

Hmmm….well, gw jadi inget tayangan reality show di tipi beberapa waktu lalu, yang kasih duit jutaan ke orang miskin. Dan apa yang mereka lakukan ?? Kebanyakan mereka beli tipi, dipidi player, kulkas, baju, dan barang-barang konsumtip lainnya. Padahal ga ada yang melarang mereka untuk ditabung ato untuk bayar sekolah ato dibeliin emas untuk investasi ato buat modal usaha kan ???

Yah, gimana yah, tp mnrt gw, sebagian dari mereka emang cenderung berpikir pendek. Mana otak mereka udah dicuci sama germo Punjabi cs dengan metode brain-wash yang sangat efektif : sinetron !!!

Eh, oke ga Cuma Punjabi deh, tp juga produser-produser di balik siaran relaity show idol-idol yang ga jelas itu, yang makin melambungkan mimpi mereka untuk jadi ‘kaya’ dengan cara instant. Udah gitu, bacaan mereka sebangsa koran lampu merah yang isinya berita kriminal macam penggorokan leher tukang ojek oleh selingkuhan istrinya, cerita syur tentang malam pertama, klenik di seputaran Mayangsari, ato iklan-iklan pembesaran alat vital dan ilmu pengasihan oleh Jeng siapa gitu.

Ga ada yang berminat untuk membaca Kompas, buku Financial Revolutionnya Tung Desem, atau novel inspiratifnya Andrea Hirata.

Jadi, ya ga bisa disalahkan toh, kalo mereka ga sekritis bloger-bloger ini ??

Saya Cuma membayangkan, andai ada yang mendampingi masyarakat untuk lebih melek media. Juga memberi pelatihan manajemen diri sederhana, dimana mereka diajak untuk berubah paradigma, dari sekedar berpikir sehari ke depan tapi hingga berpuluh-puluh tahun ke depan. Pelatihan kemandirian, dimana diajarkan untuk lebih cerdik dan kreatif dalam mensikapi keuangan yang terbatas. Pemberdayaan masyarakat, dimana masyarakat diajak untuk mengenali modal-modal sosialnya / kekuatan lokal yang menjadi kelebihan bersama, untuk kemudian hal tersebut lebih difokuskan, dikuatkan, dibantu dengan sistem, sehingga benar-benar menjadi warga yang mandiri.

Seperti yang dilakukan Anita Roddick-nya The Body Shop, yang memberdayakan mitra kerjanya. Atau CSR yang dilakukan oleh PT. Unilever dengan memberikan berbagai macam pelatihan kepada UKM dan ibu-ibu RT.

Sehingga masyarakat dalam menerima 300rebu ini ga lagi berpikiran untuk membeli baju, nambahi uang jajan untuk si Thole, beli rokok udad-udud buat suaminya. Tapi bagaimana dengan 300rebu ini, bisa menjadi modal.

MasyaAllah…..gelisah dan sesak rasanya.

Mana tesis masih saja stuck, sama sekali ga mood. Belum lagi persoalan pribadi lainnya.

Gw sebenarnya sebisa mungkin menghindari untuk jadi komplainer alias jadi tukang keluh. Gw jadi inget pas dulu di Caruban untuk pelatihan Service Excellent bagi jajaran perawat di RSD Madiun. Salah satu yang disampaikan adalah; jangan jadi komplainer. Untuk jajaran perawat yang merupakan garda depan RS, karena berhadapan langsung dengan pasien, tentu saja hal tersebut penting. Bagaimana perasaan kamu, sebagai pasien, yang melayani dengan wajah cemberut, merasa tidak bahagia, melayani dengan tidak ikhlas karena selalu merasa gajinya kecil. Apalagi jika yang dilayani adalah pasien dengan keuangan pas-pasan, tambah cemberut deh. Nah, gimana perasaan sampeyan ??

Memang jadi perawat itu ga gampang, tingkat stress sangat tinggi dan rentan dengan burn-out. Sudah begitu gaji relatif kecil, berhadapan dengan pasien yang rewel dan protes melulu. Minta dicebokin, lagi. Nah, jika yang selalu dirasakan adalah pengalaman-pengalaman negatif seperti itu, tentu saja yang keluar dari mulut adalah keluhan, keluham keluhan. Hidup menjadi suram dan buram.

Akan lain halnya dengan mereka yang selalu berpikiran untuk mencari solusi. Alih-alih sibuk cari kambing hitam dan membuat bete orang di sekitarnya dengan cerita-cerita yang melulu negatif, dia akan berusaha mencari cara agar situasi menjadi lebih baik.

Oke, jadi ngelantur yak ?? Jadi, memang gw rasanya empet dan sesek banget. Dan gw butuh katarsis untuk melepaskan beban itu. Kalo gw pendem sendiri ato pengalihannya dengan cara yang gak sehat, bukannya ga mungkin gw akan cari pita satin dan kursi, dan tiang untuk gantung diri.

Tapi gw yakin, sebenarnya masih ada jalan keluar. Saya masih meyakini itu.

Yakin, masih ada harapan.

** Hmmm….ini untuk masalah pribadi kamu ato kamunya sok sosial mikir jalan keluar bagi masyarakat sih ??

* MENURUTMUUUUUUUUU ???? -tersinggung berat-

surat terbuka dari salah satu rakyat kepada pemimpin/penguasa negeri

 Yogyakarta, pasca kenaikan BBM dan menjelang pencairan BLT 

Yth. Penguasa / Pemimpin

Di negeri kami,

 

 Assalamualaikum wr. Wb.,

 Salam sejahtera. Semoga keadaan dan kesehatan Bpk / Ibu Penguasa/Pemimpin kami, baik adanya, sehat tak kurang suatu apa.

Semalam ini saya tiba-tiba sakit kepala yang cukup berat. Saya coba untuk berbaring, ternyata tidak berkurang, dan mata saya malah dalam kondisi alert. Saya mencoba mengundang kantuk dengan menyetel televisi. Olala, ternyata tidak lebih baik. Kepala makin pusing mendengar harga BBM resmi dinaikkan. Seketika terbayang beban sehari-hari, terutama alokasi bensin untuk mobilitas. Terbayang pula pengencangan ikat pinggang, mengerem nafsu konsumsi dan hedonis.

Tapi, melihat demo dari jelatakarta, bukan demo mahasiswa, membuat saya malu. Apalah arti pusing saya, terpaksa mengurangi jatah ke kafe, belanja pakaian dan sepatu, dibanding beban kehidupan para nelayan miskin di daerah pesisiran atau petani gurem di pinggiran ?? Bagi mereka, seratus ribu pun bisa memperpanjang nafas mereka dalam sebulan, sedangkan bagi saya, seratus ribu bisa melayang dalam sekejap bahkan mungkin lebih dari itu.

Wahai, Bapak/Ibu Penguasa/Pemimpin negeri kami yang terhormat. Terenyuh hati saya membayangkan skenario lama tahun 2006 terulang ketika BLT dibagikan. Massa menyerbu kantor desa karena marah dan emosi dengan pembagian BLT yang dinilai tidak memuaskan, nenek-nenek renta meninggal karena antre BLT berjam-jam, dan Ketua RT ditusuk bahkan dipacul warganya sendiri yang marah hanya karena selembar seratus ribu itu.

Tak heran, di beberapa daerah, beberapa aparat pemerintahan menolak pembagian BLT di wilayah mereka. Tak hanya takut dengan kemarahan warga, apalagi takut dengan beban amanah berupa uang dan kepercayaan, tetapi mereka takut nyawa melayang !!!

Wahai Bapak/Ibu Pemimpin/Penguasa yang kami hormati dan sayangi. Tak ingatkah kalian dengan berita-berita menyedihkan, tragedi yang bermula dari selembar seratus ribu bernama BLT ?? Tidakkah kalian berempati dengan kesedihan keluarga yang terpaksa kehilangan kepala keluarga yang meregang nyawa di tangan warganya sendiri ??? Kami hanya meminta sedikit empati saja, tolonglah menjadi kami, rakyatmu, untuk beberapa hari saja.

Mengapa, tidak kau berdayakan saja kami, sehingga kami benar-benar berdaya dan mampu memutuskan sendiri nasib kami. Selayaknya Bapak-Ibu kami, asuhlah kami selayaknya orang tua yang ingin melihat anak-anaknya mandiri, berdaya, dan berguna bagi sekitar kami, bukannya terus disuapi sehingga tergantung kepada orang/pihak lain selama-lamanya.

Mengapa tidak kau subsidi saja, pendidikan dan biaya kesehatan bagi kami, dengan memberi asuransi kaum tak berpunya. Buatlah sistem sehingga kesehatan dan pendidikan lebih bersahabat dengan kami-kami yang tak berpunya ini. Bantulah juga, sehingga koperasi benar-benar menjadi sendi utama perekonomian, tidak melulu membela mereka yang bermodal raksasa sehingga mampu mengkredit milyaran rupiah dari Bank untuk ekspansi usahanya dan membeli lisensi franchise.

Wahai Bapak/Ibu Pemimpin/Penguasa yang terhormat,

Sesungguhnya, apakah hakikat dari kekuasaan yang kami mandatkan kepada kalian ??? Apakah parameter puncaknya adalah, sejauhmana partai berhasil menggolkan balonnya menjadi penguasa/pemimpin baru ??

Jika partai tak berhasil menggolkan kandidat yang diusungnya dan kalah dalam pilkada atau pemilu, maka berarti buruk sudah kinerja partai selama ini.

Wahai Bapak/Ibu Penguasa Pemimpin kami,

Sudahkah kalian menonton Lord Of The Ring ?? Belum ?? jangan-jangan, kalian lebih tertarik menonton Ayat-ayat Cinta dan menangis bersama-sama menyaksikan Fakhri dan Aisyah. Okelah, demi alasan nasionalisme.

Tapi Bapak/Ibu, Lord of The Ring itu bagus sekali, mengandung metafora yang teramat dekat dengan kehidupan kalian. Metafora itu berbentuk cincin dari Sauron, yang menjadi beban yang harus dipanggul oleh Frodo di kala yang lain tak sanggup untuk memikulnya. Ya, selain Frodo, bahkan kstaria-ksatria perkasa pun, akan mudah terjatuh dalam sihir gelapnya dan sekejap dibutakan nuraninya. Frodo bukannya tidak tergoda, tetapi ia mempunyai sahabat sejati yang terus mendampingi dan mengingatkannnya. Alangkah berat godaan yang ditimbukan oleh sebuah cincin, bahkan bisa merubah seseorang menjadi makhluk yang begitu menjijikkan seperti Smeagol.

Bapak/Ibu yang terhormat, pesona cincin itu hampir mirip dengan pesona kekuasaan bukan ???

Betapa kekuasaan, mampu merubah wakil rakyat yang terhormat, menjabat di bidang keagamaan, menjadi suami selingkuh dengan biduan tak laku dan video mesumnya tersebar ke khalayak. Betapa kekuasaan, mampu merubah aktivis vokal semasa kuliah menjadi penjilat pantat atasan paling loyal. Betapa kekuasaan, mampu merubah jutaan hektar hutan nan subur menjadi gundul dalam sekejap dan mengakibatkan bencana banjir dll. Betapa kekuasaan mampu merubah seorang yang dalam keseharian dikenal santun, menjadi mesin pembunuh yang meredam laju lawan-lawannya. Dan lain-lain.

Hanya mereka yang berhati bersih dan jujur, seperti Frodo yang mampu mengemban tugas tersebut. Beberapa yang tahu diri dan kapasitasnya, tidak dengan serta merta gegabah bersuka cita dan besar kepala diserahi kekuasaan. Mereka memilih mundur dan menyerahkan kepada orang yang tepat. Seperti penyihir putih, Gandalf, yang memilih mendampingi Frodo memikul tanggung jawab tersebut, meskipun dia adalah penyihir besar dan hebat.

Bapak/ibu Penguasa/Pemimpin yang kami cintai,

Apakah hakikat politik itu ?? Apakah sebagai jalan untuk mempermulus dan memperlancar jalan menuju kekuasaan ???

Tidakkah hakikat politik itu untuk kebaikan rakyat juga, untuk kemaslahatan umat ??

Masih banyak tanya di dalam otak saya yang kecil ini. Walau begitu, saya tak mengharapkan kalian semua untuk memberikan semua jawabannya. Mohon dipikirkan kembali, itu saja cukup membuat kami senang, syukur-syukur mau berempati dengan kami.

Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu mendampingi Bapak/Ibu sekalian.

Wassalamualaikum, wr. wb

 

 Yogyakarta,

 

Salah satu rakyatmu

funny things about mr.happy

Sehubungan beberapa waktu ini, entah kenapa, di milis ramai perbincangan yang menjurus seks dan anatomi tubuh, dan saya jadi teringat sesuatu. Sesuatu itu adalah obrolan khas cewek-cewek, ketika rame ngerumpiin cowok.

Sedikit serius, ketika berbicara tentang seks, secanggih dan secerdas apapun, kalo menyangkut soal yang satu ini, ada saja yang terpedaya oleh mitos-mitos ‘sesat’. Mitos-mitos ini pula yang menyuburkan praktek-praktek alternatif macam Mak Erot dll. Apalagi, saya sebagai pejuang lingkungan dan pecinta binatang, sangat memandang sinis terhadap mereka, konsumen bodoh, bebal, nan tolol, yang membunuhi binatang demi mendongkrak kejantanan mereka yang loyo, letoy, lemah, letih, lesu (sori, kalo soal beginian, saya paling emosi).

Bayangkan, tangkur buaya ???? Huahahaha…. Trus cula badak ??? Aduhduhduh, kandungannya kan sama dengan tanduk kebo ??? Apalagi sampe empedu beruang. Astagaaaa…….bener-bener keluar dari list pria idaman !!! Mereka adalah pria-pria yang pantas dikasihani dan ditendang ke kutub utara, biar mr.Happy-nya tambah kisut mengkiruttttt !!!! (sadisssss….)

Salah satu mitos kejantanan yang berkaitan dengan kejantanan, misal makan daging kambing akan meningkatkan libido, konon karena sifat daging kambing yang panas. Ternyata setelah saya browsing-browsing, kandungannya sama saja dengan daging sapi. Kemungkinan, mitos tersebut muncul lantaran cara masak daging kambing yang cenderung kaya akan rempah-rempah. Contohlah, gulai, kare, atau gecok (eh, ada yang udah pernah ngerasain gecok kambing ?? Banyak terdapat di Ampel, Boyolali tuh. Saya juga belom pernah nyoba, baru lewat saja). Nah, sejenis gulai, kare, atau gecok itu bumbu-bumbunya kaya dengan rempah-rempah yang bersifat menghangatkan badan, eperti merica, jahe, serai, lempuyang, dll. So, sangat mungkin yang menyebabkan tubuh terbakar adalah rempah-rempah itu.

Soal rempah-rempah, sudah ada yang mendengar (mitos) kalau merica sendiri juga berpotensi mendongkrak libido ??? Jadi, buat yang lagi kere bin bokek ga sanggup beli daging kambing, beli saja mie ayam dan taburi merica banyak-banyak^^.

Saya jadi teringat juga, cerita dari dosen saya yang sangat ganteng dan berkharisma, walau sudah tidak lagi muda. Mahasiswi psikologi UGM pasti mahfum, siapa yang saya maksud. Ganteng, smart, matang, walau cenderung arogan. Loh, kok jadi deskripsi tentang dosennya sih?? Oke-oke, jadi begini. Era 80an (sekarang juga masih sih, walau ga tau triknya masih sama atau tidak), kawasan Kaliurang sering sekali dipakai untuk tempat berdua-duaan, memadu janji dan kasih. Nah, triknya, sebelum berangkat, berdua makan bakso. Bakso kan banyak sekali mengandung MSG atau vetsin tuh. Nah, vetsin inilah yang konon membakar hormon entah apa, sehingga ketika melarikan motor ke Kaliurang yang menanjak, kenceng, membuat jantung tambah deg-degan. Akibatnya, tentu saja sang kekasih yang dibonceng, semakin mengetatkan pelukan, apalagi didukung hawa Kaliurang yang adem….Whoooohoooo!!! :mrgreen:

Kembali ke mitos. Selain mitos-mitos yang berhubungan dengan pendongkrak kejantanan, ada lagi mitos-mitos yang berkaitan dengan ukuran. Gara-gara ini juga, sewaktu genk Parkiran masih guyub, cewek-cewek Parkiran sering cekikikan penuh rahasia sambil meneliti ‘properti’ orang-orang di sekitar kami (huahahaahaa……guys, kami minta maap yaaa…..mungkin ada yang merasa jadi korban kala itu ???).

Mitos-mitos itu misalnya, ukuran panjang, diameter, kekokohan, dll mr.Happy bisa diprediksi dari ukuran jempol kaki, hidung, jempol tangan, ukuran sepatu/kaki, tinggi tubuh, dll. Bahkan konon, lelaki yang berbulu cenderung mempunyai hasrat yang lebih tinggi daripada yang tidak, karena berarti mereka mempunyai kadar testosteron yang lebih dari rata-rata.

Huaahahahaa….aseli pada saat-saat sableng itu, kami sering cekikian tak terkendali, sibuk membahas, menganalisa, dan mendiskusikan dampaknya bagi kami, kaum perempuan.

Saya sendiri tidak tahu kebenarannya. Hanya saja, kami semua, cewek-cewek Parkiran setuju, bahwa jari kaki dan tangan yang bersih, ndak usah dimanicure segala, asal bersih, membuat kami jauh lebih berselera daripada jari dengan kuku-kuku panjang, kotor hitam, dekil, dan kumuh.

Selain mitos di atas, dari Cosmopolitan edisi lawas, menyatakan bahwa konon ada hubungan antara cara makan laki-laki dengan gaya dia bercinta. Cosmo mengatakan, cara termudah dan tercepat adalah ajak si Dia untuk makan seafood sejenis lobster atau kepiting dan diakhiri dengan dessert semangkuk es krim. Perhatikan gayanya. Kalau dia makan buru-buru, slebor, tidak ‘berseni’ maka kemungkinan dalam bercinta, dia pun demikian.

Tetapi berbeda dengan dia yang menyantap kepiting / lobster dengan hati-hati, teliti, setiap sudut cangkang dia korek dengan penuh perhatian, memperlakukan dengan takzim, maka kemungkinan besar dalam memperlakukan pasangan pun demikian. Seperti salah satu episode Sex and The City, dimana sang pria mencoba mendemonstrasikan kehebatannya dalam mengolah ranjang dari cara dia melahap tiram. Dan selanjutnya hal tersebut menjadi guyonan Carrie dan kawan-kawan.

Jadi ??

Berhati-hatilah mulai sekarang, wahai jomblo kaum adam. Karena, setiap saat perilaku kalian telah diobservasi dan dinilai oleh kaum hawa di sekitarmu :mrgreen:

goa cerme, keindahan yang terbentang dari langit hingga dalam bumi

Selalu ada berkah dibalik setiap peristiwa. Klasik tapi benar adanya, dan saya sudah berkali-kali membuktikan kebenarannya. Seperti kemarin. Jadi latar belakangnya, saya nggak jadi terima job karena persoalan teknis, tapi siapa sangka dibalik itu saya justru bisa masuk goa, merasakan caving amatiran. Jikalau sendirian, pasti malah tidak terlaksana karena berbagai alasan.

Yak, sodara-sodara. Kemaren itu, saya mengunjungi obyek wisata Bantul, Goa Cerme. Serombongan turis Korea-lah yang membawa saya. Malunya, malah mereka tahu lebih dulu dari browsing internet. Sebenarnya, obyek wisata ini sudah lama adanya. Saya pun selama ini Cuma lewat-lewat saja, belum pernah masuk hingga ke dalam obyeknya. Kemaren-kemaren tujuannya malah nongkrong di atas perbukitan kapur, sebelum menuju Parangtritis lewat jalur alternatif (menembus perbukitan kapur), menyaksikan keindahan bumi Bantul yang menghampar. Atau sekedar jalan-jalan sore menikmati hembusan angin sambil memandangi karpet alami yang terdiri dari sawah menghijau, kerbau membajak sawah, dan terakhir kali jalan-jalan disitu, saya kehilangan sandal, gara-gara terperosok di lendut alias tanah sawah. Lumayan, gratis spa lumpur sawah :p

Goa cerme ini bisa dituju lewat jalan Imogiri. Ada banyak petunjuk jalan yang mengarah ke Goa Cerme. Bahkan, traveler amatiran penderita disorientasi arah macam saya ini, bisa menemukan dengan mudah hanya berbekal petunjuk yang dipasang oleh dinas terkait. Kebetulan waktu itu, berbarengan dengan kunjungan MenSos ke Bantul, jadi lagi-lagi keberuntungan menyertai saya, karena jalan jadi lancar, dijaga oleh polisi dan tentara.

Sebelum ke Goa Cerme, saya sarankan anda-anda sekalian untuk mampir makan siang di warung ramesan Mbak/Bu Pur, yang berada tepat di pojokan pertigaan sebelum ke tanjakan arah Goa Cerme. Warung ini menyediakan menu-menu ndeso dan otentik, yang dijamin tidak anda temukan di kota-kota besar. Menu andalannya brongkos yang bercita rasa pedas. Kemudian ada juga oseng-oseng kulit melinjo, oseng-oseng pare, dll. Sayangnya, untuk lauk, kemaren ketika saya mampir makan, kok tidak selengkap terakhir saya datang (sekitar tahun 2004-2005). Dulu itu ada lele asap dan wader goreng. Kemaren kok tidak ada.

Berdua kami makan lengkap dengan minum, Cuma habis 12.500 perak. Wow, murah meriah dan mengenyangkan. Puas setelah mengisi amunisi, kami segera menuju Goa Cerme. Sebelumnya kami diberitahu oleh penduduk setempat, untuk kendaraan mini yang mungkin tidak kuat menanjak, bisa lewat jalur lain. Patokannya, pertigaan yang ada beringin, belok kiri. Tapi jika Anda termasuk kategori advance dalam menyetir kendaraan dan tidak ada masalah dengan tanjakan yang lumayan ekstrim, tidak apa-apa mengambil jalur lurus.

Untuk jalan, tidak usah khawatir. Sepanjang jalan, aspal mulus menemani kami. Dan sepanjang perjalanan, benar saja, pemandangan indah mempesona mata saya. Apalagi ketika mulai melewati tanjakan-tanjakan, sehingga bisa memandang pemandangan dari atas. Temans, mata saya benar-benar dimanjakan dengan perbukitan menghijau (karena sehabis musim hujan kali ye, jadi hijau. Coba kalau sudah musim kemarau, mungkin agak gersang, karena perbukitan yang kami lewati adalah perbukitan kapur). Apalagi dalam perjalanan kembali, pemandangan lebih indah, karena tidak hanya sekedar perbukitan, tapi juga sawah-sawah.

Kami memarkir mobil di pelataran rumah penduduk yang memang disiapkan untuk tempat parkir. Sayangnya, untuk jalur yang kami lewati, kami harus menaiki tangga yang agak jauh dan cukup melelahkan sebelum ke Goa Cerme. Jika melewati jalur yang satunya, mobil bisa parkir tepat di jalan setapak menuju Goa Cerme, dan dari situ Anda cukup berjalan kurang lebih 100 meter, tidak terlalu menanjak, tidak bikin ngos-ngosan.

Dari pemandu yang menjaga, kami mendapat keterangan, sebelum masuk Anda harus membeli tiket sebesar seribu rupiah per orang. Dan untuk masuk ke dalam goanya, Anda harus ditemani pemandu. Jasa pemandu sebesar 2000 rupiah per orang. Jadi misal Anda rame-rame dengan teman sebanyak 8 orang, masing-masing bayar 2000 untuk pemandu, begitchu….

Sesampai di bibir goa, saya lagi-lagi dibuat terpana oleh keindahan lukisan Tuhan. Kampret, slompret, bin semprullll, saya lupa bawa kamera !!! Pake hape ??? Duh, ga puas banget dan karena saya cenderung perfeksionis, saya tak sampai hati membingkai keindahan tersebut dalam layar hape.

Lekukan sungai entah apa namanya, saya lupa, seperti cacing besar raksasa yang keperakan berkilauan tertimpa sinar matahari, perbukitan yang seperti candi, karena berundak-undak oleh sawah kehijauan, bukit-bukit perawan yang berlapis-lapis, dari yang terjauh berwarna kebirauan tipis lalu dilapisi lagi oleh perbukitan di depannya yang berwarna biru-kehijauan, dan terakhir perbukitan dengan rumah-rumah mungil yang tampak seperti noktah, berwarna hijau tua. Semua dengan latar belakang langit membiru….

Oase bagi mata yang lelah mempelototi layar komputer dan jiwa yang penat di tengah-tengah paket rimba beton dan polusinya.

Ketika kami datang, berbarengan dengan beberapa warga sekitar yang membawa perbekalan. Kami sempat GR, tapi rupanya ada warga yang kenduren karena punya gawe mantu. Warga tersebut, Bapak-Bapak, membawa tikar dan ubo rampe berupa nasi, urap, ingkung ayam, dan buah, yang dibungkus daun jati. Ubo rampe tersebut didoai bersama-sama, tepat di mulut goa, dan kemudian disantap bersama-sama. Pemandangan menyenangkan, menyaksikan kebersamaan pedesaan yang mulai luntur di kota-kota besar.

Sebelum masuk ke dalam gua, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk kenyamaman bersama. Disarankan untuk membawa senter sendiri, karena di dalam goa cukup gelap. Bisa juga menyewa senter, sebesar 5000 rupiah, tetapi nyalanya tidak terlalu terang dan berat dibawa karena pakai aki segala. Oia, bagi pengunjung disarankan untuk memakai celana pendek dari bahan yang cepat kering dan membawa ganti pakaian serta sandal gunung.

Jalur dalam goa sendiri jika dituruti hingga mentok, sepanjang 1,2km, dan menyusuri sungai dalam tanah. Ketinggian antara selutut hingga pangkal paha. Air sungainya sendiri keruh, karena stalaktit dan stalakmit terselimuti oleh tanah lempung. Beda dengan Goa Seplewan, yang terletak di perbatasan Kulon Progo-Purworejo. Sungai di goa tersebut, airnya jernih….

OOT, Goa Seplewan juga wajib dikunjungi oleh Anda-anda penggemar wisata yang berbau petualangan. Soal keindahan alam, jangan ditanya. Anda bahkan bisa berdiri di atas bukit, dan memandang lepas ke perbukitan Laut Selatan pantai Parangtritis hingga ke kota Purworejo. Kereeeennnnn !!!! Jalur juga cukup menantang, sedikit off road (kalau belum diperbaiki aspalnya), dan ngadem di hutan sengon (???) tapi tenang, kereeeennnn banget !!! Bahkan terdapat peninggalan purbakala, sebuah candi primitif (??) berbentuk lingga dan yoni. Di tempat ini juga pernah ditemukan arca emas serupa dewi, entah dewi siapa saya lupa.

Kembali ke goa. Ada yang lucu dengan goa ini. Jadi begini, saya heran, sewaktu nyampe ke bibir goa. Selain pemandangan yang terkesan purba banget, dinding cadas, pohon-pohon kukuh tinggi menjulang, sulur-sulur perdu, ada patung seorang laki-laki bersorban naik kuda. Saya heran, patung siapakah gerangan. Ternyata itu patung Pangeran Diponegoro. Loh, kok Pangeran Diponegoro sampe sini, bukannya markas beliau di Goa Selarong ?? Apakah Goa Cerme termasuk salah satu petilasannya ?? Jawab sang pemandu, beliau buka cabang di Goa Cerme ini.

Wakakaakkkk, ada-ada saja Mas Pemandu ini.

Tapi, memang penempatan patung Pangeran Diponegoro ini rada ngawur. Setelah ditelisik, ternyata patung tersebut sebagai hiasan saja. Goa Cerme ini malah dulunya konon sebagai tempat pertemuan Walisongo, yak semua wali itu, bertemu di tempat ini dan membicarakan pelbagai permasalahan, duniawi dan spiritual.

Entah ada hubungannya atau tidak, goa ini juga menjadi tempat untuk bersemadi atau bertapa. Kemaren, saya melihat sisa-sisa bakaran entah menyan dan bunga tabur. Selain itu masih tercium lamat-lamat, wangi dupa.

Pemandangan di dalam goa tak kalah menakjubkan. Saya serasa di alam realis Salvador Dali, karena bentuk dinding goa serupa benar dengan ciri khas pelukis tersebut. Bahkan sesaat imajinasi saya melayang, berada di dunia science fiction, dunianya Alien dan Predator, karena bentuk stalaktit dan stalakmit seperti bentuk monster-monster khas film-film sci-fi, tidak beraturan, aneh, tapi luar biasa. Sayang, saya hanya menyusuri sekitar 500 meter kurang, karena rombongan turis tersebut tidak berani untuk berjalan lebih jauh. Mereka tidak mempersiapkan diri untuk jenis wisata petualangan, sehingga kami pun mendampingi mereka juga sampai situ saja.

     gambar diambil dari sini

Keseluruhan, obyek wisata ini mulai dikelola secara profesional, terlihat dari berbagai faslitas yang sedang dibangun untuk memudahkan wisatawan. Lingkungan juga cukup bersih, tidak tampah sampah yang dibuang sembaragan. Entah dengan toilet umumnya, karena tidak sempat saya inspeksi. Kekurangannya, parkir kendaraan yang mahal, masak mobil dicharge 5000 rupiah. Selain itu, masih minim informasi. Pemuda setempat yan kebagian jatah untuk mengelola (mungkin diajak kerjasama oleh dinas pariwisata Bantul), juga hanya memberi kami dua lembar leaflet mengenai Goa Cerme. Atau mungkin keberadaan leaflet diganti oleh semacam papan informasi yang tidak saja berisi keterangan tentang Goa Cerme tetapi juga obyek wisata lain yang dekat-dekat situ.

Bahkan dari ngobrol ngalor ngidul, bisa saja ke depannya dikembangkan berbagai game-game outdoor yang menantang adrenalin, seperti flying fox, bungee jumping, panjat tebing (khusus kelas pemula), dll.

Two thumbs up, rekomendasi penuh bagi penggemar wisata alam yang berbau petualangan, apalagi bagi yang masih kelas amatiran. Jogja ga melulu isinya Malioboro (uuuh basiiiii !!!), Kraton, dan Taman Sari. Dan saya membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin saya temani ke Goa Cerme, saya masih berhasrat caving dan hunting foto ala kadarnya :mrgreen:

it takes more than one…….

Selasa itu, tanggal 13 Mei, gw jalan-jalan siang bareng rombongan ibu-ibu ga ada kerjaan plus lajang-lajang bahagia. Just for fun, sekaligus mereka berniat mo nunjukin gw sesuatu. Ya, sesuatu yang membuatku merasa malu mengaku-aku orang Jogja tapi tidak tahu tentang sesuatu yang siang itu akan ditunjukkan oleh teman-teman.

Kami segera menuju toko yang cukup terkenal di bilangan ujung selatan Malioboro. Siang itu, pengunjung berjubel, benar-benar seperti pasar saja. Isinya memang unik sih, serba khas pernak-pernik Jogjakarta.

Eh, tapi, tunggu !!! Ternyata toko tersebut tidak hanya menjual oleh-oleh khas, tapi juga sex toys !!!!

Jadilah, siang itu gw terlongong-longong girang setengah mampus, mengamati dari dekat pelbagai bentuk kondom aneh-aneh, foto-foto pria nyaris bugil, underwear yang bitchy banget, syal bulu-bulu dari bulu ayam warna-warni (hah, bulu-bulu termasuk sex toys ya ??), patung-patung yang menonjolkan seksualitas, dan terakhir, ukiran kayu berbentuk mr. Happy segede gaban !!! Eh ya gak gede-gede amat sih, kata temen ya, ukuran standar lah 😆 .

Buat pembaca yang berminat dan tidak sabar untuk melihat berbagai skrinsyut, mungkin akan segera kecewa dan meneriaki saya kacang. Yah, mohon maaf, jikalau tidak ada skrinsyut yang terpajang. Gara-gara kami terlalu semangat berpose najis dengan topeng-topeng kertas dan bulu-bulu itu, sehingga batre kamera habis tepat pada saat yang diperlukan. Jadi tidak usah kecewa juga, jika saya tidak membeli satu pun ukiran Mr. Happy yang ternyata dipajang sebakul eh dua bakul banyaknya, dengan berbagai ukuran.

Ufffhhh….sampe lemes deh siang itu…..maksutnya, lemes cekikikan…..

Oke, cerita tadi hanya sebagai prolog, intro, foreplay, mukadimah, pembukaan, sebelum menuju ke main course-nya. Saya sebenarnya tidak sedang membicarakan Mr. Happy atau sex toys.

Jadi begini, dalam JJS itu, pembicaraan kami yang ngalor-ngidul sempat menyinggung ke masalah lalu lintas. Teman saya misuh-misuh berat waktu cerita ia kena tilang gara-gara gak pake sabuk pengaman. Dua tahun lebih di Jogja, adem ayem, eh tahu-tahu pas lagi lewat Taman Parkir Abu Bakar Ali dengan papanya, ia tercegat tilang dengan manisnya. Melayanglah sekian puluh ribu, tapi bukan untuk bayar tilangnya, tapi tahulah…. 😉

Pembicaraan itu mengingatkan dengan kisah teman saya yang kebangetan ituh. Dan membuat saya berpikir.

Begini…..seringkali saya mendengar omelan, ketidakpuasan, cemoohan, bahkan pisuhan kepada (oknum) polisi. Sebabnya, masyarakat melihat betapa hukum dapat dipelintir sedemikian rupa demi keuntungan beberapa orang. Hal tersebut mengakibatkan krisis kepercayaan, dari masyarakat kepada polisi, masyarakat terhadap penegakan  hukum, dan seterusnya.

Sebenarnya, siapakan yang berkontribusi mengakibatkan penegakan hukum tidak semestinya ?? Contoh seperti uang damai kepada polisi dan menyebabkan penilaian masyarakat yang cenderung gebyah uyah bahwa kerjanya polisi itu cari-cari kesalahan untuk kemudian cari uang damai. Apalagi kalo ada cegatan pas tanggal muda atau tanggal merah. Langsung saja, kata-kata bernada sinis muncul dari pengendara motor, yang lagi cari obyekan lah, dll.

Saya berpikir, jangan-jangan, kelakuan para oknum tersebut hanyalah akibat dari proses belajar (kalau mau tahu tentang teori belajar, tanya sama ahlinya ya ?? :mrgreen: ). Yap, belajar bahwa masyarakat ndak senang dihukum dan cenderung mencari-cari cara untuk lolos. Belajar bahwa masyarakat cenderung ingin cara mudah dan instan, ga perlu susah payah menanggung konsekwensi dari perbuatannya.

Hai, polisi (dalam kasus tilang ini) bukan malaikat. Hati siapa yang tak goyah, jika dalam melaksanakan tugas, ia diiming-imingi duit sekian, sementara terbayang di rumah, gaji kecil, anaknya berleleran ingus menjerit-jerit minta uang saku, istri yang tidak lagi hangat di ranjang karena uang belanja kurang terus ?? Yah, memang ada yang bisa bertahan sih, tapi ya tadi itu, polisi juga manusia.

Kecenderungan masyarakat yang pengin mudahnya saja, juga berkontribusi dalam hal ini. Karena malas bersusah payah mengurus tilang di bank dan pengadilan, maka cari mudahnya dengan menawarkan sedikit ‘infak’ (atau suap ?? :mrgreen: ). Males harus berurusan dengan berbagai ujian, maka nembak SIM menjadi cara yang paling masuk akal. Memang sistem di republik in belum sempurna, tapi janganlah diperburuk.

Karena itulah, maka saya berpikir, penegakan hukum yang sempurna membutuhkan peran semua pihak. Harus saling mendukung dan bersinergi. Seperti judul buku Hillary Clinton, it takes more than one side, butuh semua pihak untuk mewujudkannya. Masyarakat tidak boleh manja dan mau enaknya sendiri, cari jalan instant, emoh menanggung konsekwensi dari kesalahan mereka sendiri. Harus ada kesadaran dari masyarakat, untuk bersikap dewasa, mau mengakui kesalahannya dan berani bertanggung jawab. Termasuk rela bersusah payah ke sidang karena melanggar peraturan.

Coba pikirkan, apa yang dipikirkan oleh anak-anak kita, yang setiap hari menasehati untuk bersikap sportif, jujur, ga boleh nyontek pas ujian, skripsi ga boleh plagiat, sama sekali ga etis untuk kopas blog dan dibikin buku tanpa ijin, dan berbagai nasehat untuk menjauhi cara-cara nista tersebut, jika orang tuanya menyuap polisi supaya ga usah disidang, menyuap anggota DPR milyaran plus pek cun untuk membuka hutan lindung, beli gelar dan titel tanpa ujian, dll.

Dan satu lagi, mulai mengapresiasi polisi, ok ?? ^^