ngganjel……

Pagi tadi, menu sarapan utama yang wajib dan harus selalu ada, yaitu baca koran. Ada satu berita lokal yang membuat saya merasa janggal.

Jadi ceritanya, di Jogja berdiri gedung Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Jawa milik Kementrian Negara Lingkungan Hidup RI di Ring Road barat no 100 Nusupan, Nogotirto, Gamping yang peresmiannya hari Sabtu 26 Juli akan dihadiri oleh Menneg LH Rahmat Witoelar. Berita di sini nih.

Gedung tersebut di foto tampak megah dan berdisain minimalis, seperti trend perkantoran masa sekarang. Biaya yang dihabiskan untuk membangun gedung semegah itu sebesar 5,3 milliar dari APBN. Yang membedakan dengan bangunan sejenis, katanya, gedung tersebut berwawasan ekologis, misal, memanfaatkan energi matahari. Awalnya saya membayangkan gedung dengan disain bukaan dan jendela yang besar, sehingga matahari leluasa masuk, sehingga tidak perlu boros listrik untuk menyalakan lampu (toh, kegiatan perkantoran lazimnya dari jam 7-17 kan ??). Seperti halnya dengan bukaan dan ventilasi seperti rumah-rumah indisch (rumah dengan disain kolonial Belanda), dimana udara akan berputar dengan maksimal, sehingga tidak memperlukan AC, dan sinar mentari bercengkerama dengan leluasa. Ide yang sama yang diterapkan Ayu Utami untuk rumah pribadinya, menjadi rumah minim AC dan hemat listrik.

Menurut redaksi Serial Rumah, rumah hemat energi adalah dengan memanfaatkan sumber energi selain listrik seperti angin dan matahari. Tujuannya adalah mendapatkan pengudaraan dan pencahayaan alami. Dengan memaksimalkan disain yang ramah lingkungan, maka suhu dalam rumah dapat dikendalikan, tidak lagi panas sumuk gerah sehingga perlu AC, tapi cukup dengan memanfaatkan pengudaraan alami.

Selain itu, dengan memanfaatka sumber pencahayaan alami dengan tepat, maka akan didapat pencahayaan yang optimal, minim listrik, dan ruang tetap sejuk.

Ternyata yang dimaksud dengan memanfaatkan energi matahari adalah dengan membangun semacam instalasi pembangkit listrik tenaga matahari. Hanya dengan 13 juta rupiah, mampu mengubah energi matahari menjadi energi listrik sebesar 500-1000 watt. Wow, lumayan sekali ya ?? Dan saya pikir, 13 juta relatif terjangkau lah.

Selain itu juga dibangun sumur-sumur resapan di halaman dan lingkungan sekitar gedung. Juga pengolahan sampah, seperti pemilahan sampah, instalasi pembuatan pupuk organik, etc.

Tapi, ada yang menggelitik benak saya. Tigabelas juta untuk membangun instalasi konversi tenaga di perkantoran, oke. Lalu X = (5,3 milliar dikurangi 13 juta) milliar itu, habis untuk apa saja ya ?? Instalasi pembuatan pupuk ? Sepeda-sepeda untuk memfasilitasi staff kantor yang rumahnya dekat dengan kantor sehingga tidak perlu memakai motor / mobil ?? Sumur resapan ??

Saya bukan arsitek apalagi tukang ingsyinyur. Tapi untuk membangun perkantoran yang berwawasan lingkungan itu, ternyata tetep mahal juga ya ?? Hmmm…saya ga tahu sih, harga tanah di sekitar gedung tersebut semeternya berapa. Hmmm…jadi, bisa nggak ya, membangun perkantoran yang ramah lingkungan tapi juga ramah biaya, jadi bisa menghemat anggaran (duit rakyat, duit yang lain-lain juga…) ??

*mimpi punya rumah mungil yang ramah lingkungan, bernuansa natural, dengan kolam koi, full rimbun tanaman dari bambu kuning, sawo kecik, sampai kemuning, udara bebas keluar masuk rumah, ga usah pake AC, terang benderang padhang jingglang tanpa lampu, plus berbagai binatang seperti kelinci, kucing, anjing, burung, heheheehe….*

18 thoughts on “ngganjel……

  1. Gedungnyadeket rumah gw tuh. Mo ngeliat ga? kalo mo ngeliat bawa batagor sekalian ya trus mampir lah๐Ÿ˜‰

    vonyyyyyyy……gw kangen dolan ke rumah elo…..spt dulu masa2 lajang kita….

  2. hitung2ane bikin ngganjel ya, mbak?

    rumah impiannya keren…
    kalo saya cuma tinggal ditambahkan bentuknya joglo dan ada gandok-gandok gitu…:mrgreen:

    pas mbaca, ngganjel aja. apa jangan2 posisi duduk saya yg bikin ngganjel ya:mrgreen:
    saya penginnya malah rumah pohon, hehehe๐Ÿ˜€

  3. Masih blum jelas nih, “wawasan lingkungan”nya terletak di sbelah mana gedung itu…๐Ÿ˜•
    Trus, gak diaudit skalian, Meth? Mewakili KPK…:mrgreen:

    aku ngaudit….emmm….eerrrrrr….ngaudit pegawainya aja, msh ada yg lajang, mapan, mempesona gak…:mrgreen:

  4. :mrgreen: kesannya emang 5,3 miliar itu pasti banyak habis di “wawasan ekologis” itu:mrgreen: well jadi itu toh yang nganjel nganjel ituh:mrgreen:

    uuuggghhhh….iyaaaaa….ngganjel banget niiiggghhhh…..:mrgreen:

  5. hmmm…kalo punya duit suatu saat nanti asli saya akan beli itu panel tenaga surya๐Ÿ˜€

    wow, sip…sip…..ntar aku ngopy ya… *lho iki ki opo to, kok kaya ngomongin rental CD aja*:mrgreen:
    serius, nanti kl udah punya, teknologine piye, disharing, sapa tau bisa ada versi lbh murahnya utk skala rumah tangga….^^

  6. lantas, ganjelannya di mana med?

    hoahahha…..emang sadel sepeda, pakde, kok ganjelan….๐Ÿ˜† pake bantal juga bisa buat ganjelan tuh, pakde….

  7. kl sekarang mash ngganjel ga mbak ;))

    eh btw ya itu 4 sekian milyarnya kan buat bikin gedungnya to???

    aku ga pake ganjel, enak aja kamuuuuu !!! *tersinggung*
    eh gedung yg berwawasan ekologis dan lingkungan tyt ga murah ya….

  8. mungkin yang 4 milyar dipakai untuk mengganjal ganjalan ganjalan yang mengganjal proyeknya..

    -menunggu ganjalan lain-

    kiss ah klasik

    proyek ngganjel…..hihihihi:mrgreen:
    ah, terimakasih sudah berkenan mampir^^

  9. hayah…. mimpi punya rumah kok panjang bener….
    mending punya rumah minimalis n bisa dibawa2 ke mana aja kek karavan….๐Ÿ˜€

    wooooooooiiii…kemane aje, lu, bang???????
    weh, yg bisa dibawa2, rumah semuutttt kaleee ???๐Ÿ˜‰

  10. Ping-balik: cintaku….. « r e s t l e s s a n g e l

  11. Saya kemaren ndak jadi hadir disana…

    menurutku, kalo kantor itu dibeli dari tanah kosong trus dibangun nggak semahal itu. Masalahnya, Kantor PPLH membeli tanah dan bangunan (bekas kampus STIE apa gitu, trus sempet dipake UN saat Rehab Gempa). Jadinya mahal, pajeknya aja mahal. Harga tanah di Ringroad situ lebih mahal daripada harga tanah di kota lho.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s