menyakiti itu mudah

saya telah menyakiti seseorang.

entah bagaimana saya minta maaf. masih berhakkah saya untuk meminta maaf apalagi mendapatkannya ??

begitu mudah menyakiti seseorang, tidak perlu ke fisik dan membutuhkan tenaga untuk mengayunkan badik.

ejek saja keadaan fisiknya. betapa gendutnya dia, betapa jeleknya dia, betapa tidak berkelasnya dia. dll.

tidak usah dengan pemikiran njelimet. malah, sampaikan dengan santai, lepas, dan tawa.

kamu tidak akan pernah tahu, seberapa sakitnya dia. jangan-jangan kamu malah tidak menyadari, kamu telah menyakitinya ??

oh, tidak perlu kau sampaikan langsung kepada yang bersangkutan. sampaikan saja kepada pacarnya, kepada temannya, kepada pihak kedua, ketiga, dst. nanti juga sampai kepada yang bersangkutan.

untuk apa sih, tertawa di atas kekurangan fisik orang lain ?? untuk apa sih, mencela dan mengejek keadaannya ?? apa sih, yang didapat ??

maaf….kata itu takkan pernah cukup terucap….

aku tahu itu salahku. aku tidak menyaring apa-apa yang keluar dari mulut teman-temanku. aku juga tidak tahu apa maksud mereka dengan mengataimu demikian. senangkah mereka telah menyakitimu ?? padahal aku juga tersakiti. dan aku sakit, melihatmu sakit.

26 thoughts on “menyakiti itu mudah

  1. crita apa sih say?gw ga dong.. (maap,hehehe). Kali ini ndak perlu pizza lagi to?;)

    td baru crita sebagian kan, dan sebagian lg kita tuntaskan malam ini. ntar juga nyampe ke bagian ini. makasi pizzanya, tp bakpiamu juga oke banget^^

    OOOOI TEMEN2 SAK BLOGSFER, INI BAKPIANYA NARARYA UENAK TENIN LHO….BAKPIA PATUK ?? UUUU…KALAH….:mrgreen:
    -psssst…aku jd spoke personmu, dipasok bakpia keju 3 thn berturut2 ya…^^-

  2. ya ya.. beda tipis memang antara “bercanda”, “menyindir”, dan “menusuk”.. palagi di bahasa tulisan..๐Ÿ™‚

    mari kita sama-sama instropeksi..๐Ÿ™‚

    jadi ingat ayat Al-Litisau..๐Ÿ™‚

    yoi dab…..mawas diri dan jika tjd salah paham, kita tahu musti gmn….yo tho ??

  3. […]dan aku sakit, melihatmu sakit[…]

    apakah ini padanan, “kebahagianmu adalah alasan kebahagiaanku”?

    iyaaaaa….betul banget dab…..”aku bahagia melihatmu bahagia”….

  4. minta maaf mungkin ga berat atau susah, tapi mendapatkan maaf itu yg langka

    ini erat dengan komennya catshade. tp ada lho, yg minta maap aja susahnya minta ampun. entah kenapa bisa begitu….merasa tdk bersalah ?? wah kl gitu sejenis dg psikopat dong….huehehehe….

  5. ntar pas puasa banyak tuh acara yg menemani kita sahur dan berbuka puasa…

    dan tentunya kekurangan fisik jadi sasaran…

    aneh emang, mentertawakan yg seharusnya gak perlu ditertawakan๐Ÿ˜€

    *toss dengan kang deden*

  6. postingan ini, terimakasih telah mengingatkan๐Ÿ˜€

    gak hanya dari segi fisik saja kita mudah menyakiti seseorang.
    banyak hal yang membuat kita [sengaja/tanpa sengaja] MUDAH menyakiti orang lain…
    *curcol*

    *peluk2 fany*

  7. Sedikit tersiksa, banyak menyiksa. Begitulah yang kualami. Suudzon adalah bentuk siksaan kepada orang lain yang teramat sangat, dan aku malu.๐Ÿ˜ฆ

    *peluk2 debe* gimana jaka, skrg udah baik2 aja kan, ga spt dugaanmu๐Ÿ˜‰

  8. untuk sekian kali saya idem sama kang zam, dalam tulisan memang susah mencerna makna yang ingin disampaikan. mending protect our selves dan more carefull..

    -salut-

    protect diri : kontrol diri utk ga mengucapkan kata2 yg ga perlu, demikian mas dani ??

  9. Menyakiti itu mudah, minta maaf atawa mengakui kesalahan itu susah, tapi mengampuni dengan tulus adalah hal yang paling sulit.

    ini adalah tipikal psikolog dg jargon ‘psikologi utk saya juga, bukan hanya untuk anda’:mrgreen:

  10. kalau ada kata2 yang baik kenapa katakata jelak harus dikeluarkan. Ada jutaan kata di dalam kamus yang artinya bagus…kenapa gak dipake? memang menyakiti lebih muda…tulisannya bagus neng….

    belajar menggunakan kata2 positif….yr words yr world…begitu mbak ??? *peluk2 mbak unai*
    ooooi salam buat alip dan bapaknya ^^

  11. Tulisan memang menjadi tempat yang rawan terjadinya kesalahpahaman. Satu kalimat yang sama bisa ditafsirkan berbeda, terlebih bila kita tak bisa membaca emosi penyampai pesan.

    Ah, jadi (semakin) takut bercanda di blogosphere …
    *ikutan curcol*

    ah becanda kok takut ?? ga usah takut salah, dita. kemaren, aku baca dr mana ya, oh ya waktu bantuin pelatihan. ternyata kita punya hak untuk berbuat salah. berbuat salah adalah tempat belajar yg menakjubkan, betapa cepat kita belajar. -wuah sok bijak sih, bentar kentut dulu ahhh…huehhehe-

    benernya ini ga ada kaitannya ma blogsfer sih….tp ya gpp kl ditaksirkan di blogsfer. this is very personal. begitu….

  12. bener bgt deh, menyakiti itu mudah….
    trus kadang kita ga sadar, sadarnya setelah orang yg terlanjur sakit…

    salam kenal sama yg punya blog๐Ÿ˜€

    minta maap dan memohon kelapangan hatinya untuk memberi maap….walo cara itu ga selalu berhasil… -sigh-

    lam kenal juga, tengkiuh udah mampir…

  13. ternyata kita punya hak untuk berbuat salah. berbuat salah adalah tempat belajar yg menakjubkan, betapa cepat kita belajar.

    Ini… saya nggak 100% setuju sama pendapat ini. Ya, takut berbuat salah memang bisa menghambat kemajuan, tapi jangan sampai ‘hak berbuat salah’ membuat kita merasa nggak perlu memikirkan atau mengantisipasi akibat dari kemungkinan kesalahan kita (apalagi kalau itu menyangkut orang lain). Some broken things are just irreparable, unreplaceable for the rest of your life.

    maap ye, catshade….baru respon sekarang.
    memang apologi ini ga bisa digeneralisir untuk semua orang, IMO. liat2 siapa yang diajak bicara. apalagi jika ybs tipe yang cenerung tidak punya kepekaan hati, maka kata2 ini ga tepat berlaku buat dia.
    kalo boleh pake analogi -damn, saya jadi inget geddoe nih- -untuk memperjelas maksut saya aja kok- seperti obat lah. obat A yang manjur untuk B belum tentu cocok untuk C, karena riwayat penyakitnya bisa jadi beda.
    tentu saja, mentang2 berhak untuk berbuat salah, tidak berarti kita bebas untuk melakukan kesalahan dimana-mana. bisa masuk logical fallacy dong..:mrgreen: *hah, sok pinter banget gw, main2 logical fallacy segala*

    Lagipula, ‘learning by doing’ bukan satu-satunya modus belajar manusia. Ada juga yang namanya ‘observational learning’. Bertanya pada orang yang sudah pernah salah atau mempelajari peristiwa serupa di masa lalu, saya kira, bisa menjadi sarana belajar yang lebih aman dan sama efektifnya.

    tentu saja, aku sepakat denganmu. tiap orang punya gayanya (belajar) sendiri bukan ?? ada yang kinesthetic, ada yg auditori, dll. aku udah lupa, kamu pastinya masih inget lah. antara learning by doing dan observational learning, IMO, harusnya saling melengkapi.

  14. Seringkali kita tanpa sengaja sudah membuat orang lain terluka, sakit hati, marah, sedih, kecewa, dsb…
    Karena itu mari kita jaga mulut, tulisan, tindakan, atau apa aja yang bisa bikin keluarga, teman, atau orang lain jadi ndak senang.

    amiiin ^^

  15. wahhh.. tiba2 berasa kamu lagi mo mendukung aku yahhh… hehehe… apa karena posting yg mereview blog saya secara sadis itu?… Idihhh, ge-er aja yah gue, hehehe…

    hehehheh…iya nih, tante silly yang kadar pedenya dan GRnya kebangetan:mrgreen:

    Well, akar masalah saya rasanya mungkin cuma miskomunikasi aja, secara, saya sendiri tidak tau apa yang dimaksudkan oleh org tersebut.

    Anyway… kadang kalau kita tidak mengenal orang secara dekat… Tulisan/perkataan kita yang mungkin dimaksudkan “bercanda”, seringkali malah menyakiti oranglain.

    Bener kata mas Zam, beda tipis banget antara “becanda” “menyindir” atau “menusuk”. Kenali dan berhati-hati… tapi tidak untuk menjadi takut becanda bukan?…

    betul…knp musti jadi takut ??? hati2 itu perlu….saling menjaga hati dan perasaan kata orang

    Makasih posting ini.. Inspiring banget, mengingatkan gue untuk selalu jaga omongan supaya orglain tidak irritated ama tulisan gue.

    *peluk2 jeng silly* sepertinya selama ini malah banyak rang yg tersentuh dengan tulisanmu, jeng….
    Thanks.
    Silly

  16. Ping-balik: Bahasa Indonesia « my weblog

  17. sayangnya tulisan gak punya intonasi..
    makanya banyak orang berantem gara-gara sms..
    eh kita ngomongin apa ya ?

    eh bener banget…..kelemahan bahasa lisan yg ga didukung non verbal yag sesuai, rawan tafsir….

  18. Ping-balik: Menyakiti itu Mudah « Catshade’s Catharsis Corner

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s