sukarelawan bonbin

Seminggu yang lalu, saat sedang belanja di Superindo Sudirman, saya menemukan hal yang menarik. Waktu itu sedang antri untuk menimbang buah di counter timbangan. Sembari mengantri, saya tertarik dengan kegiatan seorang pegawai yang mencacah-cacah buah dan membuangnya ke suatu wadah.

Karena tak tahan menahan rasa ingin tahu, saya bertanya pada Mas-mas tersebut, “Mas, itu buah-buahan dicacah buat apa ?? “

“ Dibuang Mbak, “ jawabnya

“ Ha ?? Dibuang ?? Begitu saja ?? “

Mas tersebut mengangguk mengiyakan.

Saya takjub, aih, buah-buahan yang dibuang itu, kondisinya memang ga begitu segar lagi sih, tapi masih bisa dikonsumsi. Dan kenyataan bahwa buah tersebut dibuang begitu saja –oke, saya memahami, mungkin itu cara yang digunakan oleh manajemen Superindo untuk menjaga kualitas mutu- sungguh membuat saya terheran-heran. Karena, saya melihat masih ada yang bisa dilakukan, misal diberikan ke kebun binatang untuk pakan monyet kek ato apa, toh, buah-buahan tersebut juga masih bagus. Ga busuk-busuk amat apalagi seperti kondisi daging busuk yang diolah lagi, yang sempat menghebohkan beberapa hari yang lalu. Kenapa ya, pihak manajemen Superindo gak berpikiran untuk diberikan kepada kebun binatang.

Hingga beberapa hari yang lalu. Dari obrolan biasa dengan sahabat hati dan jiwa saya, jadi timbul suatu ide. Mengapa tidak ??

Jadi ide itu adalah, menjadi sukarelawan untuk mengumpulkan sisa-sisa buah dan sayuran yang mungkin tidak memenuhi standar mutu supermarket seperti Superindo, Carrefour, Hero, etc. Lantas, dari situ bergerak ke Kebun Binatang, untuk memberikan buah dan sayur tersebut ke binatang yang menghuni KB. Tentu saja sebelumnya diadakan sosialisasi dulu, baik ke pihak Supermarket maupun Kebun Binatang.

Pertimbangannya, kemungkinan pihak manajemen supermarket tidak mempunyai ‘tenaga’ lagi untuk mengurusi pengolahan limbah supermarket. Kedua, limbah tersebut bisa sangat berguna bagi mahluk lain –dan mengurang kemungkinan pihak yang berpikiran kriminal untuk mengolah limbah tersebut dan dijual ke manusia :mrgreen: – sehingga penghuni kebun binatang bisa jadi mendapat tambahan asupan makanan yang bergizi.

Ketiga, saya prihatin dengan pengelolaan kebun binatang di Indonesia. Bisa jadi, dana yang dialokasikan untuk KB GembiraLoka di Jogja, sangat minim. Kesejahteraan penghuni KB menjadi nomer sepatu alias kesekian. Jangankan binatang, alokasi dana untuk pendidikan dan kesehatan manusia saja, masih minim.

Hiks, saya sedih jika memikirkan kesejahteraan binatang-binatang penghuni KB tersebut. Kurang makan, stress karena kandang yang ga keurus, stress menghadapi pengunjung sok tau dan bodoh, plus stress karena kebisingan konser dangdut. >_<

Berangkat dari ide tersebut, saya mengajak siapa saja, terutama yang berdomisili di Jogja, untuk menjadi sukarelawan Kebun Binatang. Bersama kita mengumpulkan limbah sayur dan buah untuk kemudian diberikan ke Kebun Binatang. Tentu saja, disusun jadwal untuk mempermudah koordinasi. Jadi jikalau ada sukarelawan yang berhalangan, dia segera mencari sukarelawan lain yang bisa menggantikan.

Jika ada blogger yang berminat, bisa hubungi saya di bawah ini, nanti akan saya kontak secara pribadi. Untuk itu mohon cantumkan alamat email dengan jelas.

Ide ini terbuka tidak hanya untuk blogger. Saya berniat untuk menuliskan ide ini secara terbuka di media mainstream.

Oke ?? Oke ?? ^_^

macan ….errrr macan apa ya ?? india ??

kasuari ?? errrr…pakdhe ??

monyet….errr….monyet opo tho iki ?? siamang ??

rusa…err…..rusa apa ya….sama dengan yg rusa yg dipiara UGM itu bukan ya…

Nah kalo ini mah, intermezzo, dari beberapa bulan yang lalu. Foto-foto ini bukan foto koleksi Kebun Binatang GembiraLoka, tapi koleksi dari kebun binatang mini dari kompleks agrowisata Sido Muncul di Klepu, Semarang. Untuk berkunjung ke lokasi agrowisata yang tidak terlalu luas tapi asri ini, harus ijin dulu ke pihak Sido Muncul. Kebetulan, waktu itu ada sahabat yang dengan kebaikan hati teman yang bekerja di Sido Muncul, kami berkesempatan mini trip ke pabrik dan agrowisata Sido Muncul. Mini trip itu sungguh menyenangkan, kami dibawa ke lokasi pabrik yang puluhan hektar luasnya dan menyaksikan secara langsung proses pembuatan aneka produk Sido Muncul. Malah, waktu itu saya beruntung sempat bertemu dengan Irwan Hidayat, salah seorang yang sangat berperan di balik kesuksesan perusahaan keluarga Sido Muncul. –amiiin, mudah-mudahan ketularan ilmu dan hokinya :mrgreen:

Diawali dari kunjungan ke pabrik, mulai dari penyimpanan, penyortiran bahan baku, hingga ke packaging, saya mendapat kesan bahwa pembuatan jamu di Sido Muncul berasal dari bahan-bahan yang berkualitas tinggi, beberapa diekspor dari China, dijaga higienitasnya sehingga didapat produk yang berkualitas tinggi.

Kemudian kami dibawa ke lokasi agrowisatanya. Sebenarnya kompleks agrowisata ini adalah kebun klangenan owner Sido Muncul untuk pelepas lelah. Selain rimbun oleh berbagai tanaman jamu dan asri oleh penataan taman, terdapat koleksi pribadi seperti rusa, merak, buaya, hingga harimau. Hmmm….untuk koleksi hewan ini, saya musti kritis nih. Bukankah mengkoleksi berbagai binatang langka untuk konsumsi pribadi, tidak benar ??

suasana dalam kompleks agrowisata yang asri….

Akhir kunjungan, kami mendapat goody bag yang berisi berbagai aneka produk unggulan Sido Muncul, dari jamu tolak angin, jamu-jamu yang dikemas secara modern, hingga permen kunir asam. Wow, waktu itu sungguh mini trip yang berkesan^^.

Iklan

agama yang memihak tangan kiri

Beberapa hari yang lalu, sambil menunggu adzan maghrib, saya menonton tayangan di trans TV yang dibawakan oleh bule favorit saya, Wahyu Winarno. Waktu itu dia membahas tentang sunnah Rosul yang bersiwak. Lantas, giatlah dia mencari tahu perihal siwak ini, hingga dia mendatangi seorang cowok yang berbaju koko lengkap dengan peci bulat putihnya, dengan wajah segar habis berwudhu. Wahyu minta diajarin bagaimana cara menggunakan siwak. Oleh cowok tersebut, ditunjukkan bagaimana cara bersiwak yang benar, salah satunya harus dipegang tangan kanan, tidak tangan kiri, sekalipun dia kidal.

DHUENNGGGG !!!

Saya tertohok. Lahwong saya kidal je……

Sebagai mahluk kidal yang termasuk minoritas di bumi Jawa ini, baiklah saya akan share suka dukanya.

Sudah sedari balita saya kenyang dipandangi dengan tatapan aneh, takjub, ajaib, terkesima, dll jika ada yang memergoki saya pakai tangan kiri untuk menulis ato menggambar. Yeah, sedari saya belum bisa baca tulis, saya sudah getol pegang pensil untuk gambar-gambar dan langsung memakai tangan kiri.

Penderitaan dimulai ketika TK. Saya sendiri sudah tak begitu ingat kejadiannya. Tapi Ibu mengisahkan, awal-awal saya masuk TK, saya selalu pulang dengan menangis dan marah-marah. Ternyata saya di TK oleh gurunya, saya dipaksa menggunakan tangan kanan, bahkan ketika menggambar / mewarnai. Tentu saja saya sangat kesulitan. Hingga akhirnya Ibu datang dan berbicara ke kepala sekolah + guru saya, memohon untuk membiarkan kekidalan saya.

Akhirnya masa TK berlalu dengan lancer, disertai tatapan aneh dari guru (tapi saya ga nyadar). Ketika masuk SD pertama, saya masih ingat betul. Ditegur oleh Bu Kapti, guru saya di SDN Ungaran I Jogja di Kotabaru, ketika pelajaran menulis huruf. Beliau menyarankan saya pakai tangan kanan saja. Saya agak lupa, apakah saya menurutinya atau menyanggah. Tapi yang jelas, saya pulang sambil marah-marah / menangis.

Jika saya ikutan lomba lukis, pasti deh, dikerumuni oleh orang-orang yang menanganggap aneh saya, melukis pakai tangan kiri. Dan ini bener-bener bikin bad mood. Tapi pelahan saya mulai terbiasa. Hingga saya SMU. Saya masih inget betul. Waktu itu saya ikutan ekskul bahasa Jerman. Sore-sore sepulang sekolah. Sewaktu mencatat, teman di depan saya memperhatikan cara menulis saya, sampai dia itu yang betul-betul membalikkan badan dan wajahnya ekspresi sanagat heran. Waktu itu saya benar-benar kesal, saya seperti mahluk aneh ato apa.

Tapi adakalanya saya menikmati perhatian orang-orang. Misal, ketika masa ospek ato awal masuk sekolah itu lah. Saya pasti mengundang perhatian dan dikenal sebagai satu-satunya si kidal seantero sekolah. Hmm…apalagi jika yang memperhatikan adalah kakak kelas yang termasuk ganteng, hueheehehhe.

Saya sendiri baru bertemu mahluk sesama kidal justru ketika kuliah. Semasa S1 hanya bertemu satu mahluk, itupun cowok. Cara menulis kami memang aneh. Saya sendiri jika menulis, pasti dari atas ke bawah, bukan dari kiri ke kanan.

Terus ketemu dengan mantan gebetan, dia fotografer, gondrong, dan KIDAL !!

Baru ketahuan pas kami makan bareng dan dia nulis menu. :mrgreen:

Yang ketiga, kuliah pasca ini. Cewek, manis, ekspresif, dan kidal juga !!

Setelah itu, belum ketemu lagi.

Sebagai kidal, dalam kehidupan sehari-hari cenderung banyak susahnya daripada untungnya. Misal ketika masak, pakai pisau dapur. Wuah, terpaksa selama bertahun-tahun, saya melatih tangan kanan saya. Kenapa ?? Karena pisau di Indonesia semua didesain untuk tangan kanan. Jika saya nekat pakai tangan kiri, bisa habis tangan saya keiris-iris.

Belum lagi jika menyapu, main basket, kasti, pake kompie (mouse-nya man, untuk non kidal semuaaaa !!) dll. Saya pernah hampir teler, ketika merajang buah untuk persiapan es buah, hampir 3 jam saya racik dengan tangan kanan. Wuah, bener-bener kaku dan hampir kejang itu otot bahu.

Belum jika berbicara mengenai agama.

Saya sering tertohok dan bertanya-tanya. Emang ada apa dengan tangan kiri ?? Begitu jahat dan nistakah dia, sehingga yang kiri-kiri hampir selalu disimbolkan dengan keburukan, kejahatan, kotor, tidak sopan, etc.

Misal, ada hadis yang mengatakan, jika memberi, jangan sampai tangan kirimu tahu. Seperti itulah. Saya benar-benar berontak. Kalau tangan kiri adalah buruk, mengapa saya dianugerahi menjadi kidal ??

Dan saya betul-betul makin berontak ketika menyaksikan tayangan di trans TV tersebut. Pengin rasanya cowo itu saya maki-maki dan mengutuknya supaya dia menjadi kidal dan merasakan susahnya menjadi kidal di dunia yang dikuasai orang non kidal.

Adakah agama yang memihak kepada orang kidal ?? Yang tidak membedakan kanan kiri ??

lesson today

a friend told me ;

” ga usah sampe yang tersaruk-saruk mengejar sesuatu, terburu-buru hanya karena tekanan dari luar, bukan dari dalam hatimu sendiri. ga ada yang perlu dikejar dan ga usah merasa tertinggal.  kita sama-sama sedang belajar hidup dengan pelajaran yang berbeda. ”

wow !! Thanx say, tumben lo bijak 😉

kedua, entah dari mana asalnya, saya baru tahu ternyata lawan kata cinta bukan benci, tapi TAKUT.

dan lawan dari takut bukan berani, tapi CINTA.

tolong, bantu saya untuk memahami, mengapa saya sampai bisa menemukan hal tersebut …

dinamika ramadhan pt.IV : banjir lagu religius

Beberapa sahur yang lalu, sembari ngantuk, TV dinyalakan untuk menemani santap sahur. Sempet pusing memilih acara TV, karena hampir semua stasiun TV isinya pelawak dan bencong, walah !!

Soal acara TV khusus menyambut ramadhan ini, sekedar selingan, saya benar-benar heran dengan tim kreatif berbagai stasiun TV tersebut. Saya juarang buanget sih ya, nonton TV yang bener-bener mantengin acaranya untuk pengisi senggang di kala puasa. Paling pas iseng saja, seperti pas ngantuk sambil santap sahur itu. Nah, gimana ga heran, lha isinya kok waktu sahur itu, hampir seragam ; pelawak yang tiba-tiba jadi dai dan bencong-bencong ga jelas (yang malah menyakiti hati bencong beneran, karena bencong jadi bahan lawakan).

Saya lihat, ga ada gunanya mengeluh soal hal ini, toh, saya yakin, pasti banyak pembaca yang juga merasakan hal yang sama. Saya lebih menikmati acara TV, ga usah pengajian (lha wong saya juga ga religius-religius amat), tapi misal acara dinamika puasa dari sisi budaya, kuliner, travelling, psikologis, kesehatan, etc. Buat saya mah, yang seperti itu lebih informatif daripada acara lawakan dan kuis yang ga jelas mutunya.

Oke, kembali ke soal pertama. Jadi, dari sekian acara TV, ‘terpaksa’ remote berhenti di Metro TV yang menayangkan Quraish Shihab. Walo agak-agak gosong dikit (hehehe), gapapa deh. Di akhir acara, biasanya ditutup dengan artis menyanyi lagu religius (baca : islami), live. Waktu itu, penyanyinya Rosa (kalo ga salah) dengan lagunya Ayat-ayat Cinta.

Hmm…..oke, ini masalah selera. Saya ga demen dengan lagu itu. Dan mendengar lagu itu untuk penutup acaranya Quraish Shihab, kok saya ndak sreg ya. Bagi saya pribadi, lagu itu bukan lagu religius, tapi hanya lagu pop yang dibalut dengan aransemen musik Timur Tengah dan beberapa lirik yang (sok) religius.

Saya jadi ingat dengan fenomena, beberapa musisi dan anak band yang tiap ramadhan, rajin menelurkan album religi. Misal Ungu, Gigi, etc. Well, beberapa album memang bagus. Saya sendiri sangat menyukai album religi bernafaskan jazz, yang diluncurkan beberapa tahun yang lalu. Saya tidak tahu, siapa musisi yang berperan di belakangnya, apakah Idang Rasyidi atau siapa. Tapi, musiknya bener-bener indah dan touchy. Salah satu yang saya suka, dan tiap mendengarnya hati saya selalu tergetar (saya tidak tahu judulnya) padahal lagu itu cukup sederhana. Hanya musikalisasi dari pembacaan terjemahan Al Fatikhah dalam bahasa Inggris. Tapi, sangat menyentuh, padahal saya ndak tau artinya, hehehe.

Selain itu, sepertinya masih dari album yang sama, lagu jazz juga, dengan lirik bahasa Inggris, kalo ga salah, reff-nya menyebut-nyebut “Allahu Akbar”. Oke, faktor selera mungkin berperan, lantaran saya doyan musik jazz. Tapi aseli, yang paling saya sukai, ya itu, musikalisasi terjemahan Al Fatikhah itu. Sudah sejak tiga tahun yang lalu, mencari-cari informasi tapi kok ndak nemu. Karena itu sidang pembaca yang terhormat, di tengah-tengah kesempatan yang membahagiakan ini, jika ada yang mengetahui informasi atau mungkin malah mempunyai file-nya, silakan hubungi saya di medina_wuland@yahoo.com :mrgreen:

Kembali berbicara tentang lagu-lagu religius. Saya sendiri mempunyai standar penilaian tersendiri dengan maraknya album/single religi. Misal, jika hanya membalut dengan aransemen timur tengah dengan lirik yang (sok) religius, buat saya pribadi itu bukan musik religi yang bagus. Gak kreatif. Tidak bisa menyentuh jiwa saya. Mungkin levelnya bisa lah, disandingkan dengan jamannya album/lagu kasidahan Nasyida Ria, hehehe.

Lagu religi yang timeless, menurut saya, seperti lagu-lagunya Bimbo. Wah itu didengerin kapan saja kok enak. Liriknya juga tidak menggurui, macam Bang Rhoma yang menasehati untuk tidak begadang dan berjudi. Lirik-lirik lagu Bimbo, bagi saya, reflektif dan muncul dari kedalaman hati. Ya gak heran, karena liriknya disusun oleh Taufiq Ismail (CMIIW).

Kalo lagu religi macam Ungu, Gigi, Baim, etc, hmmm…IMO itu lagu semusim. Tidak semua enak didengarkan. Levelnya baru sampai ke emosi, tidak menyentuh jiwa. Jadi, baru sampai ke level, “ Hmm, oke, musiknya enak”. Untuk Gigi, saya memberikan apresiasi khusus, karena tidak semua personelnya adalah muslim, tapi mampu total mempersembahkan lagu religi yang bernafaskan islami.

Kalo macam nasyid, Kyai Kanjeng, Debu, etc no komen dah. Soalnya, lagu-lagu tersebut jelas tujuannya / misinya, orang yang berperan di belakang layar juga cukup kompeten.  Aih, tiba-tiba kangen vokalisnya Debu…..  Heran juga  ya, musisi yang asli religius macam ini,  malah pas ramadhan sama sekali ga rajin bikin album.

Saya sendiri membedakan antara lagu religius dengan lagu spiritual.

Ada beberapa lagu pop, tapi entah, bagi saya itu terdengar sangat dalam maknanya, sehingga nuansa spiritual sangat kental. Jangan kaget, karena lagu-lagu ini malah genrenya bisa saja metal (walo belum nemu sih, kebanyakan pop).

Misal, lagu dari Pink yang berjudul If God is a DJ. Bagi saya, makna lirik lagu tersebut sangat dalam. Simpel, Pink memandang Tuhan dari kacamata penggemar dugem (mungkin), tapi saya menangkap harmonisasi yang universal. Jadi, asyik-asyik saja, saya manggut-manggut mengikuti beat yang menghentak, sembari mengingat kebesaranNya.

i’ve been the girl with her skirt pulled high
been the outcast never running with mascara eyes
now i see the world as a candy store
with a cigarette smile
sayin things you can’t ingnore
like mommy i love you
daddy i hate you
brother, i need you
lover, hey fuck you
i can see everything here with my third eye
like the blue in the sky

(Chorus)
if god is a dj
life is a dance floor
love is the rhythm
you are the music
if god is a dj
life is a dancefloor
you get what your given
it’s all how ya use it

i’ve been the girl, middle finger in the air
unaffected by rumors, the truth
i don’t care
so open your mouth stick out your tongue
you might as well let go you can’t take back what you’ve done
so find a new lifestyle
reason to smile
look for Nirvana
under the strobe lights
sequins and sex dreams
you whisper to me
there’s no reason to cry

(Chorus)

Bridge
you take what you get and you get what you give
i said don’t runm from yourself man that’s no way to live
i got a record in my bag you should give it a spin
lift your hands in the air so that life can begin

if godis a dj….say if god is a dj….if god….if god is a dj
get your ass on the dance floor….

Selain itu, lagu What If God Was One Of Us, by Joan Osborne. Saya menilai, lirik lagu ini ‘agak kurang ajar’ tapi saya tergetar dengan liriknya. Saya seperti diingatkan dengan CintaNya yang luar biasa dan Maha Sempurna, menjangkau seluruh aspek semesta. Cinta yang Sempurna. Udah gitu, lagunya kereeeeennnn….

If God had a name what would it be?
And would you call it to his face?
If you were faced with him
In all his glory
What would you ask if you had just one question?

*And yeah, yeah, God is great
Yeah, yeah, God is good
Yeah, yeah, yeah-yeah-yeah

What if God was one of us?
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus
Trying to make his way home

If God had a face what would it look like?
And would you want to see
If seeing meant that
you would have to believe
in things like heaven and in Jesus and the saints
and all the prophets (*)

Trying to make his way home
Back up to heaven all alone
Nobody calling on the phone
‘cept for the Pope maybe in Rome(*)

Just trying to make his way home
Like a holy rolling stone
Back up to heaven all alone
Just trying to make his way home
Nobody calling on the phone
‘cept for the Pope maybe in Rome


Satu lagi, sayang saya lupa siapa penyanyinya, apa judulnya, gimana liriknya (lha, piye toh ??). kalo ga salah, yang nyanyi penyanyi muda, seangkatan Vanessa Carlton, dan dia sempet duet dengan Santana. Liriknya, standar sih, bertema cinta. Tapi entah mengapa, dari pertama mendengar, saya kok merasa, cinta yang ditujukan kepada Illahi.

Lagu-lagu spiritual lainnya, dalam arti, dia mampu menyentuh jiwa yang paling dalam dan menggerakkan jiwa. Hmm….itu mah, seperti lagu-lagu new age, macam Enya, Bandari series, Cafe del Mar, Yanni, Kitaro, etc.

Coba dengarkan lagu-lagu tersebut di malam yang teramat sunyi, di tengah-tengah alam bebas, telentang di atas rumput basah sambil memandang gemerlap bintang (dan berkhayal diculik oleh UFO dari galaksi lain…………..oh oke, saya melamun terlalu jauh).

Hmmm…..air mata bisa menitik tanpa kau sadari, menyadari bahwa diri ini teramat sangat kecil, bagai debu , oh jauuuuuh lebih kecil dari debu, sekecil partikel atom. Bumi hanyalah noktah yang bahkan dibandingkan bintang, dia tidak gemerlap di kelamnya jagat raya. Runtuh semua kesombongan dan ego, dan muncul kerinduan yang teramat dalam akan kesejatian.

(dan tetap ingin diculik oleh alien…… –plak!!- uh oh, oke, saya masih melamun ya :mrgreen: ).

Oke, ini pandangan pribadi saya mengenai lagu religi dan lagu spiritual. Masing-masing tentu punya penilaian, selera, dan pengalaman masing-masing. Semoga saja, maraknya lagu-lagu religi akhir-akhir ini tidak didasari keinginan meraup untung mumpung ramadhan.

Bagaimana dengan Anda ?? Apa lagu religius / spiritual favorit Anda ?? ^_^

restlessangel jadi caleg ????

beberapa hari yang lalu, pas mampir di jalan magelang 25, sempet ngobrol dengan aki-aki.

namanya juga aki-aki, jadi ngobrol ngalor ngidul ga jelas, udah gitu cara ngomong juga sudah tak terlalu jelas juga. tapi, tak apa. aki-aki ini butuh temen ngobrol. hingga, beliau tiba-tiba ngomong serius, “kamu sebagai S2, harusnya daftar jadi anggota DPR. negeri ini butuh orang seperti kamu, apalagi kamu wanita. jangan artis-artis dangdut itu, masak jadi anggota DPR, waaaa….bla3″

orang-orang di sekitar situ yang kebetulan mendengar pembicaraan kami, nyengir penuh arti. begitu juga, diriku, nyengir kecut.

katanya lagi, aku harus berjuang untuk mensejahterakan rakyat. jangan ikut-ikut golongan ekstrim kanan kiri. ” nasional, ya, yang nomer satu itu rakyat. kamu baik, masih bersih, punya prinsip, ayo, kamu harus berjuang, ga cuma cari duit saja, ” kata aki-aki ber etnis china itu.

aku lagi-lagi nyengir kuda. S2 ?? S2 dari hongkong ??

“politik itu kotor, Om, nanti saya nggak kuat, ” sanggahku.

” ah yang kotor kan orang-orang di dalamnya. politik masih diperlukan di negeri ini. kalo ga ada politik, mo ngatur negara, gimana coba ?? orang cina, emang biasanya dagang, ga terjun di politik. kalo ada, segelintir saja, ” ocehannya mulai ngelantur lagi. aku cuma cengar-cengir kuda.

” ya diamini saja, Om, kalo emang jalannya, pasti dimudahkan, ” kataku lagi.

” kamu dekati itu, Gusti Kanjeng. memang ga mudah, tapi bisa wes, ” dia masih mencoba meyakinaku dengan logat jawanya yang cukup medok.

dalam hatiku aku mulai mengkhayal. hohohoho….jadi caleg ?? siapa yang ga ngiler, dengan tunjangan bersih sebulan aja 45 jeti, belum yang lain-lain. hohoho… *ngiler*

hmhmhm….jadi inget, obrolan ngelantur beberapa waktu lalu di Jogja Kuliner Expo. Saat itu, melihat gunungan sampah, aku komen, “kalo aku jadi walikota, satu, aku larang itu penggunaan stereofoam eh styrofoam untuk kuliner. bahaya !! trus aku perbanyak taman kota, ijin mall aku stop, mulai mengelola sampah secara serius, blablabla…”

mulai deh, ngelantur.

tapi apa iya, kalo aku jadi caleg, ada yang milih ??

:mrgreen:

antara escoret, restlessoul, restlessangel, dan spiritualitas

*tulisan yang bersifat sangat personal. Melompat-lompat. Kadang antara paragraf satu dengan yang lain, tidak ada kesatuan makna. Mohon tidak ditanggapi secara harafiah. Saya memerlukan kedewasaan batin dan pikiran.*

Membaca curahan hati blog berikut, mengingatkan saya kembali akan kegelisahan saya yang telah bertahun-tahun menyelimuti sejak tahun 2002.

Sebelumnya, membaca komentar-komentar yang masuk, saya menjadi agak sedih. Saya khawatir akan terjadinya group think, sehingga menghambat daya kritis terhadap seseorang. Menurut saya, bagaimanapun, suara oposisi tetap diperlukan untuk mempertahankan obyektifitas, yang akhirnya akan bermuara pada pengembangan dan pemuaian diri yang bersangkutan.

Entah kenapa, kesedihan saya menyeruak makin dalam dan membuka ‘luka lama’ saya, kegelisahan yang saya pendam bertahun-tahun, baik disadari / tidak. Dan tahun 2002 adalah tahun dimana saya mendapatkan suatu pemahaman baru akan hidup yang mengubah cara pandang dan bersikap serta berprilaku saya.

Sayangnya, selama beberapa tahun ini, kegelisahan itu seperti terpendam, terkubur oleh berbagai ‘tuntutan hidup sehari-hari’, ‘memaksa’ saya untuk melupakan kerinduan dan kegelisahan saya. Akibatnya saya seperti terjebak, merasa tidak ada peningkatan yang signifikan dalam diri, malah merasakan kualitas diri seperti menurun, dan saya semakin gelisah.

Saya sangat, sangat, sangat, merindukan kesejatian. Jiwa dan hati saya senantiasa gelisah. Jiwa yang gelisah, restless soul, itulah saya. Dan akhir-akhir ini, saya juga merindukan untuk menjadi diri yang merdeka, sepenuhnya merdeka.

Dan entah kenapa, membaca postingan escoret dan berbagai komentar yang muncul, tiba-tiba kegelisahan itu membuncah, sangat membuncah. Ada yang mengedor-gedor, mengapa begitu ?? Mengapa demikian ?? Tidakkah ada seseorang yang melihat ada yang tidak pas disini ??

Ibaratnya, ketika Indihe Brother (meminjam istilah Bung Idep), selama ini membuat film-film nasional yang banyak dikecam dan dikritik para penikmat film yang ‘serius’. Mereka mencaci maki dan mempertanyakan dimana otak dan nurani Indihe Brother, ketika memproduksi / memproduseri film-film yang hanya mengejar selera pasar dan untuk memperhalus rasa haus akan keuntungan materi, mereka memaksakan nilai-nilai moral dimasukkan dalam film-filmnya.

Tidakkah kita menerapkan standar ganda, di satu pihak, kita mengkritik (kata dosen saya, kritikus memang bukan pemain) bahkan mencaci Indihe Brothers, sedangkan di lain pihak, kita juga melakukan hal yang serupa dan nyaris sama ??

Bukankah, Indihe Brothers hanya melakukan bisnis di industri perfilman ?? Dengan memakai uang mereka sendiri ?? Dan yang namanya bisnis, adalah wajar, profit oriented. Toh, kalau tidak suka, ya ga usah nonton. Biarkan alam melakukan seleksinya sendiri. Jika yang demikian ternyata yang bertahan, berarti memang kemampuan dan taraf intelektual spiritual kebanyakan orang, ya baru sampai segitu. Biarkan sekali lagi alam yang bekerja, dan saya percaya, dalam taraf spiritual, kemanusiaan pun berevolusi.

Dari sini saya kembali ingat apa yang terjadi pada tahun-tahun pencerahan itu (saya sangat merindukan untuk mengalaminya lagi). Apa yang saya inginkan dalam hidup, termasuk dalam dunia maya ini ??

Saya hanya ingin menjadi telaga. Telaga bagi setiap insan.

Telaga yang menyejukkan, sekaligus menjadi cermin.

Saya ingin menjadi jawaban, ingin menjadi terang, menjadi garam dunia, mengutip lirik lagu Glenn Fredly.

Saya berkomitmen, untuk menyebarkan semangat dan energi positif bagi sekitar saya. Semua keluhan itu tidak ada artinya, jika hanya menambah beban orang lain dan ikut mengobarkan kemarahan.

Dan sekali lagi, saya gelisah, dimana saya mendapatkan kesejatian dan jiwa yang merdeka itu ??

Malam ini, saya merasa jenuh, eneg. Serasa ingin off dari hirukpikuk semu ini. Saya ingin i’tikaf, tafakkur, dan tahalul. Saya merindukan sosok guru yang membimbing saya, membimbing jiwa saya yang gelisah, dan juga menjadi cermin bagi saya.

Kebetulan, beberapa hari yang lalu, seorang sahabat, -a brother and a father to me- tiba-tiba mengirim pesan singkat.

“ God loves you, Meth, unconditionally.”

Hati saya tercenung. Ya, saya tahu, Dia Maha Sempurna dalam mencinta. Tapi, lantas apa ?? Mengapa saya tetap diliputi oleh perasaan gelisah ??

“ God wants nothing from us, coz God is everything and has everything. He/She can only love us all the time. “

Saya tahu, Dia Maha Segalanya. Aku yang banyak keinginan dan selalu mohon untuk dikabulkan. Dan tetap jiwa ini merasa gelisah.

“ To get higher, we need to go deeper. Tanggalkan ketergantungan pada rasio, mulai kuatkan kepekaan mendengarkan hati, lalu dengarkan suara Rohmu. Bedakan suara batin sejati dengan suara super-ego. Kamu berhak berbahagia, Restless Angel. Lepaskan ikatanmu, terbanglah bebas, setinggi-tingginya. “

Oh, betapa aku merindu menjadi jiwa yang merdeka…….lepas dari segala keterikatan ini….

He said again, “ Kegelisahan merupakan indikasi adanya ketidakselarasan dalam diri kita. Tubuh, jiwa, dan roh.

….Kedamaian batin yang bebas dari segala ketakutan, perasaan sama dan sebangun dalam setiap diri kita. “

Ya !! Aku rindu perasaan itu.

And, in the end, he said, “ Kegelisahan itu bukan sejatimu. Sejatimu ya Angel itu. “

Saya teringat dengan sapaan hangat (sekaligus saya anggap itu doa) dari Kang Harry Mardian. Semoga ‘jiwa malaikat’ saya tidak lagi gelisah, semoga kembali ke fitrah, ke ‘jiwa malaikat’ atau dalam kata lain, roh.

Oh Tuhan, Ya Rahman, Ya Rahiim….

God loves me UNCONDITIONALLY. Dia Maha Sempurna dalam mencinta.

Seharusnya, setiap insan, mampu untuk mendekati kesempurnaan tersebut, sesuai fitrahnya. Tapi mengapa belum ??

Dan saya, sebelum ini telah menyakiti seseorang, begitu dalam…

Kesucian dan ketulusannya, telah saya robek-robek, saya nodai. Dan maaf yang sangat tulus, itu yang saya terima. Menohok saya, memukul palung jiwa dan hati saya.

God loves me, UNCONDITIONALLY, He/She wants nothing from me.

I should be happy. I SHOULD BE HAPPY.

Dan aku ingin bisa mencintai secara sempurna, termasuk mencintai segala ketidaksempurnaan itu.

Jujur dengan diri sendiri.