Jakarta yang Hip dan Jogja yang Kamsho

Beberapa waktu yang lalu, masih dalam suasana libur lebaran, kesempatan tersebut saya manfaatkan untuk reuni kecil-kecilan dengan sobat-sobat semasa SMU di mall terbesar di Jogja.

Sore itu di food court sudah penuh oleh manusia-manusia yang ribut dengan makanannnya masing-masing. Meja kami mungkin bisa dibilang paling unik komposisinya dilihat dari cara kami berpakaian. Penampilan kami berempat sungguh beragam. Ada yang berjilbab lebar lagi besar, ada yang berjilbab biasa dan warna-warni (bukan jilbab Britney Spears lho), satu berpenampilan casual, satu lagi (maunya) seksi (tapi nanggung, hehe).

Pembicaraan ngalor ngidul tapi terutama mengenai kehidupan pribadi masing-masing karena saya sendiri sudah sangat lama tidak berbincang secara ‘intim’ dengan teman-teman tersebut. Saat-saat tersebut saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk meng-up date gosip alias kabar masing-masing.

Pembicaraan sempat diisi intermezzo mengenai peta kuliner Jogja dibandingkan Jakarta. Salah seorang teman yang lebih dari tiga tahun bermukim di Jakarta menilai, bahwa tempat kuliner paling ‘hip’ dan ‘mewah’ di Jogja, masih belum apa-apanya kalau dibandingkan di Jakarta. Malah di Jakarta, tempat ter-hip di Jogja bisa jadi dipandang sebelah mata alias ga ada gengsinya, ga ada apa-apanya.

Saya mengamini. Saya bukannya sudah pernah mencicipi tempat yang teman ceritakan tersebut. Hanya saja kebetulan saya suka baca-baca buku dan atau majalah mengenai arsitektur, interior, etc (cita-cita arsitek ga kesampaian). Sehingga saya sedikit tahu kalau ada tempat makan di Jakarta yang konsep gedungnya sendiri bikin mata terbelalak saking keren, hip, modern, ‘gila’, mewah, dan kata-kata sejenis lainnya. Itu baru gedungnya, belum jenis makanannya dan harganya, kalau saya membayangkan, cukup dari foto-fotonya saja.

Saya berseloroh, bahwa di Jakarta, apa ada aja. Itu kelebihan Jakarta.

Dan menurut saya, berbisnis di Jakarta, lebih mudah. ‘Membuang’ duit hingga milyaran untuk modal mendirikan suatu bisnis baru lebih mudah BEPnya daripada di Jogja. Rasanya apa saja bisa dijual di Jakarta. Bahkan pernah baca dan lihat di TV, jajanan ndeso masa kecil yang dikemas ulang hingga cantik dan menarik (dan harganya tentu saja sudah naik beberapa kali lipat dari harga aselinya) pun laku dijual di Jakarta.

Contoh lain lagi. Saya pernah iseng main sendirian ke JDC (Jakarta Design Center) dan ndilalah ketemu teman yang waktu itu bekerja di sana. Produk perusahaannya salah satunya adalah kitchen set, yang di show roomnya tercatat bernilai puluhan hingga ratusan juta untuk satu desain. Saya ngiler dengan desainnya yang minimalis, resik, gw banget dah, tapi nggak kuat dengan harganya. Saya sempat tanya, kenapa ga buka cabang di Jogja saja. Teman waktu itu Cuma tersenyum. Pikiran kamsho saya langsung bekerja, wow, di Jakarta, kitchen set puluhan sampai ratusan juta aja, laku ya.

Kembali ke obrolan dengan teman saya tadi. Saya menangkap sedikit sirat kebanggaan akan keJakartaannya. Awalnya saya sempat keki tapi kemudian saya memaklumi. Mungkin perasaan yang sama, jika saya main ke daerah seperti Cepu, Salatiga, Caruban, atau bahkan Magelang dan membandingkan dengan Jogja. Ada nada sedikit meremehkan ‘ketertinggalan’ daerah-daerah tersebut. Paling gampang, kalau menginjakkan kaki di daerah baru, yang dilihat mall-nya seperti apa. Mall beneran ato plaza alias pasar.

Dulu sempet keki, setelah bioskop Empire terbakar sekitar tahun 90an, praktis Jogja tidak punya bioskop twenty one lagi. Keadaan itu makin diperparah oleh krismon yang mengakibatkan bioskop Jogja satu per satu tumbang dan yang bertahan kebanyakan bioskop yang memutar film ecek-ecek. Eh, soal krismon sebagai penyebab, itu perkiraan saya ding, hehehehehe. Akibatnya, kalau ada saudara dari Jakarta atau bahkan dari Solo yang Cuma 2 jam dari Jogja main, keadaan nir-bioskop twenty one sering menjadi bahan olokan dan menilai betapa Jogja ketinggalan.

Minggu petang tanggal 5 Oktober, teman saya yang bekerja di salah satu penerbit, harus kembali ke Jakarta. Senin dia harus masuk kerja. Entah, apa yang dirasakan. Kerinduan akan Jakarta, mungkinkah ?? Kembali bergelut dengan kemacetan yang makin menggila, dari kostnya ke tempa kerjanya yang sejauh timur dan barat. Tapiiiii…..fasilitas gila-gilaan ada di Jakarta. Asaaaaall, punya duit aja bro….

Jakarta oh Jakarta.

Saya jadi merenung. Mengapa ya, indikator kemajuan suatu daerah diukur oleh berbagai fasilitas terutama fasilitas hiburan yang dimilikinya. Misal mall. Dan kenyataannya, berbanding lurus antara fasilitas yang dimiliki oleh suatu kota dengan ‘kemajuan ekonomi’ dan hal tersebut seperti gula-gula yang menarik semut-semut daerah berdatangan.

Sementara, kita seringkali alpa memicarakan kota yang manusiawi, kota yang ramah terhadap keluarga, kota yang ramah terhadap ibu dan anak.

Saya sendiri tidak betah di Jakarta. Saya tidak suka dengan kemacetan, rasa tidak aman dan nyaman ketika berada di tempat umum, polusi, dll. Walau begitu saya tidak bisa memungkiri bahwa di jakarta, semua informasi berkembang begitu cepat. Dan, ketika harus memilih, antara kota yang manusiawi atau kebutuhan materi.

Surga ada di hati kita masing-masing kok, demikian kesimpulan saya. Entah itu di Jakarta, di Jogja, di Tabanan, di Sorong, dll. Surga juga bisa saja mengikuti kemana duit berhembus, karir melesat, amusement area berada.

Saya ucapkan selamat bagi yang mudik kembali atau memutuskan akan mudik ke Jakarta, kota segalanya ada. Semoga kau temukan surgamu, Saudaraku…..

EN BE.

saya sekaligus mohon maaf sebesar-besarnya jika dalam sebulan ini saya juarang bales / respon komen dari pembaca, dikarenakan kesibukan. dan sampai akhir oktober, sepertinya saya juga belum bisa intens bercinta dengan pembaca sekalian. maafkan juga, jika belum sempat balas silaturahmi balik dan membawakan oleh-oleh.

terimakasih, maturnuwun, kamshia….

26 thoughts on “Jakarta yang Hip dan Jogja yang Kamsho

  1. sibuk karena ….???
    a. sibuk mengasuh pongge (yang lagi musim kawin)
    b. sibuk kelayapan (wisata kuliner, dapet order)
    c. sibuk bikin skripshit (omaigot..really??)
    d. sibuk pacaran (mm..make sense…)
    d.semua jawaban salah kecuali b dan d (jawaban yang dicurigai paling meyakinkan kebenarannya)
    e. semua jawaban salah kecuali c (jawaban yang paling diharapkan akurasinya)😉😉😉🙂😉😉

    meong says;
    ada 6bayi kucing ples pacaran😆

  2. Saya sih tidak masalah tinggal di mana saja, yang penting akses internetnya murmer dan lancar jaya… sayangnya, yang paling aksesible sampe saat ini ya Jakarta…😦

  3. Setelah menonton tayangan ‘Selamat Datang Kaum Urban’ di Metro tv, rasanya saya tak tertarik lagi cari kerja di Jakarta. Mending memajukan daerah kita masing2 aja deh.
    Salam hangat dari Solo

  4. Dengan otonomi daerah sebenarnya banyak orang kaya baru yang lebih ‘ gila’ belanjanya..Lihat saja juragan juragan batubara di Kalimantan selatan, penampilan kamseupay, cuma bawa duit segepok 5 cash milyar untuk beli hammer.

    meong says;
    lha,tp beli hummer plus buang2 duitnya di jakarta kan?

  5. Jakarta apa aja ada, mau nyari ap aja gampang, tapi ya sumpeknya itu yang bikin males. Untung dikantor saya ada tempat buat beristirahat, jadi kalau males pulang karena macet, ya tidur aja dikantor:mrgreen:

  6. maaf jika isi pesan berikut mengganggu aktivitas kamu.. apa kamu mau blog kamu terkenal?aku cuma mau kasih tau aja, ada sebuah situs social bookmarking yang berisi kumpulan berita-berita menarik yang paling update diseluruh indonesia,dan memang situs ini berbasis bahasa indonesia… klo nggak keberatan tolong cek situs ini yah.. semoga bermanfaat..

    >>> http://www.lintasberita.com

    coba di share aja semua tulisan km di situs itu ,mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini ,keep up the good post ok.. btw.. ever thought bout adding lintasberita’s widget?? cek disini aja yah

    >>> http://www.lintasberita.com/tools.php

    thanks…. sory klo keliatannya spamming.. but seriously… im just helping you out here

  7. Wah, itu sih tergantung apa yang kita cari dalam hidup deh, mbak.

    Sekarang saya memang mencari sesuap nasi – dan segenggam berlian – di Jakarta. Tapi 5 tahun ke depan pingin punya rumah di Jogja ajah. Hidup tenang dan tentram.

    *yangudahsumpeksamajakartayang muacet

  8. Ping-balik: Psikologi Jalanan « r e s t l e s s a n g e l

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s