Hidup itu Belajar dan Bercinta

Hidup itu belajar dan bercinta. Saya yakin betul dengan kata-kata ini. Tugas kita di dunia ini adalah belajar, bercinta, dan jika ‘sudah’ (kata-kata sudah sebenarnya kurang tepat, karena mengesankan suatu akhir, padahal sama sekali tidak, tak kan pernah berakhir), maka tugas kita lainnya adalah membantu sekeliling kita untuk mereka belajar juga.

Kali ini saya belajar dari makhluk yang katanya merupakan kesayangan Baginda Nabi. Hari Jumat kemarin, secara mendadak, kucing pasangan saya meninggal. Sebelumnya tidak ada gejala yang berarti, hanya muntah-muntah, tapi Siti (nama kucingnya) masih terlihat cukup baik walau agak lemas.

Sebelumnya, sekitar seminggu-sepuluh hari yang lalu, Siti mengalami operasi sterilisasi. Hari Rabu, sempat dibawa ke klinik karena luka bekas operasinya terbuka. Nah, setelah dari rumah sakit itu yang tiba-tiba Siti muntah-muntah dan hanya dalam sehari, Siti berpulang.

Sedih dan kehilangan. Itu perasaan kami berdua. Bukan soal biaya yang telah dikeluarkan, tapi lebih kepada rasa kehilangan seorang teman.

Singkat, masa hidupnya menemani pasangan saya di hari-harinya. Muncul tiba-tiba dari sawah belakang rumah, kelaparan, dipiara hingga akhirnya menjadi teman baik. Singkat, hanya dua bulan. Tapi ternyata rasa kehilangan itu cukup dalam.

Siti, walau dia hanya seekor kucing, keberadaannya di dunia pun ternyata untuk memberi pelajaran bagi saya.

Masa hidup yang singkat, tetapi tidak sia-sia. Siti memberi kebahagiaan terhadap sekelilingnya. Dia mengajarkan tentang ‘memberi’ bagi sekeliling. Siti bisa saja ketemu dengan orang yang tidak peduli dengan dirinya, bisa saja ia bertemu dengan orang yang berniat jahat. Tapi itu tidak menyurutkan Siti untuk terus memberi.

May your soul sleep and meet your maker….

Thank you Siti…

27 thoughts on “Hidup itu Belajar dan Bercinta

  1. turut berduka..
    suatu hari, ketika kita berpulang nanti, kalo kita beruntung mungkin mereka akan berbaris menemui kita dan mengeong ” hi mom”๐Ÿ˜‰
    (harapan sepenuh hati untuk my first ‘son’ manis, ichie & my beloved one benik)

  2. di jakarta aku punya anjing,, ga tau jenis apa, sakjane punya tetanggaku, tapi ditinggal pindah trus aku yang rawat. dah deket banget, kek anjing sendiri.
    anjing itu selalu jaga rumah, sampe ada maling yang kena gigitan si anjing ini, karena dendam,, anjing itu di tembak, mayatnya ditancepin di pagar rumah, saking dendamnya,,

    jadi.. aku tahu rasanya kehilangan seperti itu๐Ÿ˜ฅ

  3. Kadang kita uga bisa belajar belas-kasih dari binatang peliharaan ya… anehnya manusia bisa berbaik hati kepada binatang namun memperlakukan secara ‘binatang’ kepada sesama manusia sendiri.. aneh memang…๐Ÿ˜ฆ

  4. aku juga beberapa bulan yang lalu kehilangan 2 kucingku karena anjing tetangga yang suka gigitin kucing. tetanggaku yang lain 2 kucingnya juga mati karena anjing itu.๐Ÿ˜ฅ

  5. euh….bukan soal kehilangannya, yang ingin saya sampaikan. kehilangan, ya, tentu saja.
    tapi, yang saya petik dari Siti adalah, masa hidupnya. walaupun singkat, tapi sangat padat.

    jika dilihat sepintas, sepertinya kamilah yang menolong Siti. tapi yang sebenarnya, justru Siti lah yang memberi kebahagiaan kepada kami.

    dia mati cepat, tapi hidupnya berguna bagi sekitarnya.

  6. ๐Ÿ˜ฅ

    ini salah satu alasan yang membuatku memutuskan untuk nggak miara kucing lagi.

    kehilangan itu kerapkali begitu dalem dan lama, sedih…aja. inget bulunya, inget mlungkernya, inget wajah melasnya kalo kelaparan, inget dijilatin…
    ๐Ÿ˜ฅ

    tapi mau nggak mau, aku sekarang harus jadi ibu dan nenek 3 cucu…

  7. aku juga beberapa bulan yang lalu kehilangan 2 kucingku karena anjing tetangga yang suka gigitin kucing. tetanggaku yang lain 2 kucingnya juga mati karena anjing itu.๐Ÿ˜ฅ

    bunuh anjing itu! bunuuuhhh!!! *gahar mode on*

  8. I am so sorry to hear that.

    Tapi, suatu kali aku pernah ditanya oleh seorang teman, kenapa sepertinya kita hanya belajar terus? kenapa hidup ini belajar terus? kapan “ujian”nya?

    Trus aku jawab, sebenarnya, di saat kita belajar itu, kita juga langsung “ujian”. Hidup ini tidak seperti kuliah, ada belajar, ada ujian. Bagiku, di dalam hidup, di saat belajar adalah di saat “ujian”. Kita belajar dari pengalaman kehidupan sehari-hari dimana di saat itulah kita juga sedang menghadapi “ujian” kehidupan.

    Salam damai dan salam kenal๐Ÿ™‚

  9. Kucingku dulu “tiada” karena terpeleset di sumur tetangga…. begitu dalam dan rasanya tak bakal tergantikan.

    Kehilangan adalah sebuah keniscayaan… Kita telah mendapatkan banyak sesuatu, maka kita juga harus bersiap kehilangan sesuatu.

  10. .
    Di Post situh yang sebelomnya, kan udah sayah ingetin…..

    Besok lagi ndak usah di sterilisasi segala, deh Meth….

    Kasiyan kucingnya…. ๐Ÿ˜

    meong :
    mas, di rumahku, sudah ada dua kucing betina yang dikebiri. nyatanya mereka sangat sehat dan bahagia. bisa menikmati seks sebagai rekreasi tanpa takut harus hamil dsb. begitu juga dengan kucing2 temen saya.:mrgreen:
    *eits, mas mbel ojo niru2 lho*:mrgreen:

  11. Pertanyaannya belajar dan bercinta ato bercinta dan belajar…

    meong :
    semestinya sama saja, karena kata sambungnya adalah ‘dan’ yang berarti menggabungkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s