dongeng yang mengerikan

Beberapa bulan yang lalu, saat ada pameran buku di Jogjakarta, saya sempatkan memborong beberapa buku. Salah satunya adalah Kumpulan Dongeng Perrault terbitan Gramedia. Niatnya sih sebagai kado untuk si kembar, ponakan tercinta.

Sampai rumah, kebiasaan saya tiap kali membeli buku adalah speed-reading sebelum membacanya lagi lebih cermat. Begitu juga dengan buku Kumpulan Dongeng tersebut. Pas speed reading itu, saya menemukan hal yang janggal.

Oia, bagi yang asing dengan dongeng-dongeng Perrault, mungkin kisah-kisah seperti Thumbelina atau Si Kecil Bujari atau Kucing Bersepatu Boot, pernah mendengar.

Apa ? Belum ? Hahhhhhhhhh….kemana aja lu, dunia…

Bagaimana dengan dongeng Putri Tidur dan Cinderella ?

Kalau yang terakhir masih belum familiar juga, keterlaluan !!!:mrgreen:

Ya, kita lebih akrab dengan dongeng-dongeng tersebut daripada penarangnya. Saya sendiri sedari kecil lumayan akrab dengan dongeng-dongeng tersebut. Hampir semuanya bukan karena didongengi tetapi karena bacaan. Saya masih ingat betul, buku dongeng pertama saya saat masih TK atau SD kelas satu ya, Putri Tidur. Tipis hanya beberapa halaman, full color, dengan ilustrasi khas Disney.

Kemudian mulai berkenalan dengan Cinderella, Thumbelina, Gadis Korek Api, Gadis Bertopi Merah, Putri Salju, Jack dan Kacang Ajaib, dll beserta dengan cerita rakyat dan kisah-kisah keagamaan, seperti Rowo Pening, Kisah Tangkuban Perahu, Lutung Kasarung, Kisah 9 Wali, Kisah Sahabat Nabi, dll.

Kembali ke buku yang saya beli. Jadi, saya menemukan sesuatu yang janggal, padahal baru di kisah pertama, Putri yang Tidur Seratus Tahun (Putri Tidur). Kejanggalan pertama, oke, tentang terjemahan yang tidak cermat, sehingga bingung mengartikan dia atau -nya itu siapa.

Kejanggalan yang kedua mengenai jalan cerita yang menurut saya : SADIS DAN TIDAK MASUK AKAL.

Kisah Putri Tidur yang saya tahu dahulu, berakhir ketika Sang Pangeran mengecup Sang Putri dan Sang Putri terbangun. Lalu mereka menikah dan hidup bahagia. Ternyata kisah aslinya tidak berakhir sampai di situ.

Diceritakan, setelah Pangeran dan Putri menikah, ternyata orang tua Sang Pangeran bermasalah. Ibu Sang Pangeran adalah raksasa yang suka makan daging anak kecil, sedangkan ayahnya mengawini raksasa tersebut karena kekayaannya.

Suatu ketika, Ibu Mertua tersebut ingin makan daging cucu-cucunya. Walaupun berhasil dikibuli oleh tukang masak, tapi pada akhirnya tetap ketahuan oleh Ibu Mertua kanibal tersebut. Karena marah, maka menantu beserta cucu-cucunya beserta juru masak tersebut, dihukum dengan dicemplungkan ke ember yang penuh binatang berbisa. Untung, suaminya tiba-tiba muncul, dan mertua kanibal tersebut melemparkan diri ke ember tersebut dan mati.

. . . . . . . . . . . . .

Coba perhatikan. Katanya dongeng untuk anak tapi isinya kok kekerasan. Belum lagi, kalau menggambarkan perasaan jatuh cinta. Selalu berkisar ke masalah fisik. Pangeran yang jatuh cinta seketika karena Putri yang cantik jelita, kulit mulus kemerahan, dan berusia sekitr 15 tahun !!! Pedofil macam apa ini ???

Kisah-kisah berikut semakin membuat bulu kuduk saya meremang, gelisah, menggelinjang. Misal pada kisah si kecil Bujari. Ini teryata berbeda dengan kisah Thumbelina, si Putri Jempol (yang sukses membuat saya selalu berimajinasi bagaimana rasanya tinggal di daun teratai, tidur berselimutkan kelopak mawar dan minum dari tetes embun).

Si Kecil Bujari ini mengisahkan tentang si bungsu dari sekian bersaudara, dan yang mengalami kelainan. Tubuhnya hanya sebesar ibu jari. Sudah begitu, keluarganya dililit oleh kemiskinan, hingga suatu saat, orang tua mereka mempunyai rencana jahat untuk membuang anak-anaknya ke hutan.

Singkat cerita, ketika mereka berhasil dibuang ke hutan oleh orang tuanya, justru si Bujari lah yang menjadi pemimpin bagi kakak-kakaknya berkat kecerdikannya. Petualangan mereka menyelamatkan diri membawa mereka ke rumah seorang raksasa yang gemar makan daging manusia. Untungnya, mereka dilindungi oleh istri raksasa yang baik dan tidak ingin suaminya memakan anak-anak malang tersebut.

Berikut cuplikannya :

Raksasa tersebut mempunyai tujuh anak-anak perempuan yang masih kecil. Wajah mereka kemerahan, karena mereka juga sudah mulai menyukai daging mentah. Hidung mereka bengkok, mulut mereka lebar, dengan gigi-gigi panjang, runcing, dan renggang. Meski belum menjadi sekejam ayahnya, anak-anak itu gemar sekali mengisap darah manusia.

Cuplikan berikutnya :

Sambil berkata demikian, dia (raksasa – red.) lalu memotong leher ketujuh anaknya sendiri. Merasa puas dengan pekerjaannya, dia kembali mendengkur di samping istrinya. Dst…

Saya seperti membaca kisah horror atau kisah kriminal, alih-alih dongeng untuk anak-anak. Padahal ini dongeng klasik yang sudah puluhan (ratusan ?) tahun. Saya membayangkan, jika dongeng ini difilmkan, pasti klasifikasinya untuk dewasa, karena banyaknya adegan kekerasan dan darah.

Selain adegan kekerasan, saya juga menemukan banyak sekali nilai-nilai yang mengajarkan budaya instant alias tidak menghargai proses. Misal pada kisah Kucing Bersepatu Lars. Disini, si Yatim pemilik kucing berhasil kaya raya dan menjadi menantu raja karena tipu muslihat Si Kucing.

Juga penekanan pada hal-hal yang bersifat materiil. Misal, kecantikan yang selalu membuat jatuh cinta. Eneg sekali membacanya, seorang Pangeran jatuh cinta tak berdaya hanya gara-gara melihat kecantikan seseorang.

Pada akhirnya buku ini tidak jadi saya berikan ke ponakan tercinta. Saya ga pengin mereka jadi ketakutan (beuh….paling ga setuju dengan metode pengasuhan anak dengan menakut-nakuti), jadi berprasangka terhadap orang yang kebetulan dikaruniai fisik tidak sempurna (di dongeng, tokoh antagonis selalu berujud fisik tak sempurna), hanya bermimpi dan pasif menunggu pangeran datang alih-alih menolong dirinya sendiri (Cinderella’s syndrome), hanya sibuk mengurusi kecantikan daripada belajar, dll. Mungkin baru akan saya berikan jika ponakan sudah dewasa…

23 thoughts on “dongeng yang mengerikan

  1. Mbak meth coba baca juga The Book of Lost Things deh:mrgreen:

    meong :
    kemaren choro beli buku itu. kalo liat dr luarnya aja, berbentuk novel dan tebel. bukan konsumsi anak-anak dong. lha kl perrault yg kubeli ini, full ilustrasi yg colorfull dan menarik, je…jelas untuk anak-anak.

  2. film Tom and Jerry, Popeye, itu juga berisi kekerasan, lo.. :p

    Kapan protes?

    meong :
    kok protes sih ? emange postinganku kebak protes po ? >.< aku cuma mau menyerukan, bhw ini lho, yg katanya dongeng anak-anak saja isinya seperti ini. musti jeli dan teliti. kl tom n jerry, pancen iyo. makanya, juga ga sembarang kartun.

  3. Memang aslinya kebanyakan kejam2 begitu kan.๐Ÿ˜• Bahkan di cerita Putri Tidur yang versinya lebih tua dari si Perrault, si putri tidak dikecup bibirnya oleh sang pangeran, tapi diperkosa. Dan si raksasa jahat yang dikatakan adalah ibunya pangeran, dalam versi itu, sebenarnya adalah istri si pangeran yang cemburu karena suaminya mengambil si putri sebagai istri muda. Kacau kan?๐Ÿ˜†

    meong :
    ah makasih, kamu kasih linknya ^^”
    iya, aku juga belum lama tahu, bahwa dongeng Cinderella, juga aslinya kejam. lupa baca di mana. Kejam, karena kisah Cinderella ga berhenti di happily ever after tapi ada kisah penyiksaan gt, khas abad-abad pertengahan….

  4. Bukunya kan memang buat orang dewasa.

    meong :
    errr….tapi siapapun yg melihat covernya dan illustrasinya, akan berpikiran bahwa itu buku untuk anak-anak, paling enggak usia SD deh.

  5. kalo aku kok lebih suka fabel ya. cerita bersetting binatang2 gitu untuk anak2. kalo di jogja, ada radio RB yang tiap malam ada pembacaan cerita anak pd jam 20. saya msh sering ndengerin.

    meong :
    benernya kisah untuk anak-anak lebih mendidik yg masa sekarang loh. atau…didongengi saja sedari kecil, kisah-kisah (alias biografi) orang-orang hebat di dunia, macam muhammad, gandhi, soekarno, etc:mrgreen:

  6. jadi gini, mbak memeth yang budiwati….

    kalo diliat dari timelinenya emang dongeng taun 1600-an ya kek gitu. coba cari dongeng2 HC Andersen atau Nathaniel Hawthorne dan Oscar Wilde. semuanya rata sedih2 dan miris2. gak tau ya, apa karena jamannya dulu emang penuh kemuramdurjaan kek gitu kali ya?

    meong :
    betul sekali jeng pito yang gagah perkasa:mrgreen:
    sedih ya ? apa sadis ?
    menurut saya berdasar penerawangan sesat, kemungkinan pd jaman-jaman segitu, belum muncul kesadaran seperti mempertimbangkan psikologis anak, kesejahteraan jiwa, dll. ha, ga usah yg kek gitu, HAM saja sepertinya juga masih ga kepikiran.
    *teringat kisah-kisah metode penyiksaan yang lazim dikenakan pada tahanan/tersangka pada masa-masa tersebut* >.<

    kalo ttg cinderella dan thumbellina orwhateveryoumaycallit yg berakhir dengan happy ending itu ya karena udah direkayasa sama holiwut ato disney dan antek2nya. jadi bisa lebih diterima sama kultur orang sekarang.

    aku udah pernah baca Perrault, HC Andersen, dan Oscar Wilde. coba cari di toko buku karangannya Oscar Wilde yg judulnya Pangeran yang Selalu Bahagia. itu baru dongeng anak (jaman segitu yg bisa diterima jaman skarang). meskipun jagoannya mati mulu, tapi nilai moralnya bagus dan applicable buat anak sekarang. at least di kota besar kek njakarta.

    meong :
    thx referensinya. aku kalo mo ngado buku untuk anak-anak (trutama ponakan), yg penting adalah apakah kisahnya mampu mengajarkan ttg nilai or value, seperti kejujuran, kepemimpinan, keadilan, kepedulian, sayang lingkungan, etc. sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai tersebut sedari dini kepada generasi penerus. *halah, yg calon ibu*:mrgreen:

    atau, kalo mo lebih asik (yg ini buat dikaw yg udah gede), cari bukunya salman rushdie yg judulnya harun and the sea of stories. ITU baru cerita anak2. keknya diadaptasi sama Clive Barker, pelukis dan pengarang cerita yg homoseksual tapi oh-so-keren-sekali di buku karangannya yg judulnya Abarat. itu juga keren pisan.

    meong :
    *ubek-ubek lemari buku* keknya aku punya deh, pit. tapi yg terjemahan. adekku yg dulu merekomendasikan. cerita anak-anak ? sepertinya terlalu kompleks…errrrr… ~_*
    etapi anak-anak skrg aja bacaannya Harry Potter yg 700an halaman !!!

    udah. kepanjangan. ekeu maluw. hehe.

    (=

    ps: oscar wilde itu jaman masih idup selalu dituduh jadi tukang sodomi anak2 kecil. sux. tapi ceritanya keren2. dem.

    meong :๐Ÿ˜ฏ wah…betulkah ? tapi tapi tapi, bisa jadi benar begitu. kedekatan oscar wilde dengan anak-anak bisa jadi juga dibalut dg ketertarikan erotis. hiiiihhhhh….dan seringkali pedofil itu tampil sbg penyayang anak. hiiihhh…..
    *eh malu kenapa jek ?*:mrgreen:

  7. berikan pada ponakan setelah mereka dewasa ..
    ” nih , contoh buku cerita yang gak layak dihadiahkan ..”

    aq setuju untuk melindungi pikiran anak-anak dari unsur-unsur seperti itu, kasihan mereka.

    meong :
    hedoooopppp suami siaga dan bapak masa sekarang !! (applause)

  8. Makanya perlu adanya pendampingan dari ortu thd anak. Lha tapi kalo ortunya PPPPPPP (pergi pagi pulang petang penghasilan pas-pasan) dan malamnya ngobyek yang lain lagi, mana bisa mendampingi anaknya (doh)

    meong :
    betul sekali itu mas, makanya perkembangan anak-anak di kampung kumuh nan miskin itu memprihatinkan๐Ÿ˜ฆ

  9. oooh iya ya? dongeng itu ternyata cerita aslinya kejam??? gokil!! *berpikir ulang untuk membelikannya buat Vio*

    gitu sih mendingan dibeliin seri Dr. Seuss aja deh, lebih okeh ketimbang dongeng-dongeng klasik ternyata…

    meong :
    terbitan erlangga banyak yg bagus jeng..ato tiga serangkai. mizan juga. ahhh well, kl milihin buku anak-anak gak asal bagus dan warna warni tp juga memperhatikan value-value apa yang disampaikan di buku tersebut ^_^
    *pemerhati anak-anak dan keluarga*

  10. kalau kita baca dongeng lokal kayak Bawang Merah Bawang Putih pun, aslinya juga sadis lho. jadi sebenarnya peluang untuk membuat dongeng yang pas untuk anak anak, yang tidak sadis sangat besar. gak usah tergantung penerbit. bikin dongengnya di blog saja.

    meong :
    Bawang Putih Bwang Merah sadis ? kek sinetron itu ya, Om ? Ada adegan jambak-jambakan, di bentak-bentak oleh Ibu dan sodara tiri ?๐Ÿ˜›
    Betooolll…bikin dongeng di blog trus nunggu penerbit menawarkan utk diterbitkan jd buku:mrgreen:

  11. kenapa si kembar ga dicritain sesuatu yang jadul tapi romantis seperti ” kisah kasih memeth dan tukang taman ” ato “putri memeth dan pangeran fotografi” ato crita2 yang relevan jaman sekarang yaitu “putri memeth dan pangeran vw putih”?๐Ÿ˜‰

    meong :
    huasyeeeeemmmm….asyeeemmm….asyeeeeeemmmmm…๐Ÿ˜†

  12. duh, mengerikan beneran mbak.. Mesti ati-ati milih buku buat anak-anak ya, ilustrasi menarik dan warna-warni bisa jadi jebakan juga..

    meong :
    dibaca dulu, dil. komik juga gitu lho, salah2 ntar malah hentai:mrgreen:

  13. yah… kalo gitu, nanti anakku tak bacain “cara cepat bikin blog di wordpress” aja ah, sebelum tidurnya…

    kan ngga serem:mrgreen:

    meong :
    dan sukses bikin anakmu lgsg tedoorrr๐Ÿ˜†
    eh anakmu emg ngerti kl didongengi ? *pus-pus-pus*

  14. Misal, kecantikan yang selalu membuat jatuh cinta. Eneg sekali membacanya, seorang Pangeran jatuh cinta tak berdaya hanya gara-gara melihat kecantikan seseorang.

    Yaa..rata2 setting dalam dongeng tidak memberikan cukup waktu buat “cinta datang karena telah terbiasa” atau terpesona inner beauty yg butuh waktu observasi. Cinta pada pandangan pertama menghemat cerita, dan tentulah daya tarik visual memegang peranan penting disitu.๐Ÿ˜‰

    meong :
    (nottalking) tidak untuk anakku kelak.

  15. Aku tau,aku tau..
    Dongengin aje dg karangan om Hilman: Lupus!dijamin ngakak deh.
    Alesannya:
    1.gak terlalu cengeng,mirip kisah2 sehari hari yg diplesetin
    2.made in negeri sendiri
    3.ngajarin mandiri plus kreatif ngadepin hidup,persahabatan
    4.tak selalu tentang cinta2an mlulu kaya teenlit2 ntu

    meong :
    (doh) next…next !!:mrgreen:

  16. mbak memeth, coba baca manga/ komik berjudul ‘revolution’ karya yuki kaori. Itu ceritanya ttg dongeng2 disney kyk gitu yang terkenal itu, tapi sama sekali ‘diselewengkan’ dengan mengerikan oleh mangaka-nya !
    jadi aneh tapi yah…menarik juga

    meong :
    (doh) itu kalo kebaca anak2 tanpa bimbingan dari ortu/dewasa yg ngerti psikologi anak, gimana….
    kl buat kita2, ga masalah.

  17. KAMPRET. Masih ada yang bikin cerita kayak gitu buat anak2?! Ayo, Jeung. Kalo mau protes ke penulis dan penerbitnya, aku bersedia di garda depan.

    *Babon panik. Anak2ku dalam bahaya, je.

    meong:
    errrr….protes ya ? kl protes secara provokatif ala demo gt, belum ada niat e jeng. masih kampanye lewat tulisan dulu:mrgreen:

  18. eh………………………………………!!!!!!!!!!!!!!!!
    G O B L O K !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    laen kali qlo cerita dongeng i2 yg benar”,,,,,,,,,,,,,

    jangn cerita” yang tidak masuk akal. o.c

    macam bodok kkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s