Percayakah Anda Bahwa Hidup Sederhana itu Sulit?

gugel

Ide postingan ini muncul gara-gara mengamati tayangan mengenai kepergian Mbah Surip. Walau sudah sejak lama ia berkecimpung di dunia seni, tetapi namanya melambung dikenal hingga pelosok negeri belum lama ini. Setelah kepergiannya yang mendadak di puncak popularitasnya, orang-orang merasa kehilangan atas sosok unik ini. Umumnya mereka mengagumi kebersahajaan, kesederhanaan, dan kepolosan Mbah Surip. Apalagi setelah tahu perjalanan hidupnya.

 

Bagi saya ada hal yang lucu dan ironis mengenai sisi bersahaja Mbah Surip yang dikagumi oleh begitu banyak orang itu. Apalagi mereka-mereka yang ngomong kagum dengan sederhananya Mbah Surip itu adalah para public figure. Ternyata, di tengah gempuran materialisme, sebenarnya masih banyak yang mengakui bahwa hidup sederhana itu baik. Di tengah era yang memuja citra diri, banyak yang menyadari bahwa kepolosan alias tampil apa adanya itu bagus. Lha kalau sudah tahu bagus dan baik, kenapa tidak menerapkan?

 

Saya bukannya hendak menghakimi bahwa mereka yang ngomong-ngomong kagum itu tidak sederhana dan tidak tampil apa adanya. Biarlah, itu bukan urusan saya (walau kadang eh sering ding, mulut gatel untuk komentar, hehe). Tetapi saya jadi merenung saja.

 

Hidup sederhana itu sebenarnya mudah lho, seperti halnya tampil apa adanya saya, polos, semudah kita bikin mie instant. Lha, hidup sederhana kan gak mahal dan gak butuh duit. Siapa saja bisa menerapkan. Gak butuh alphard ato humvee, gak butuh rumah mewah, gak butuh gadget-gagdet mahal yang ternyata cuma untuk fesbukan, gak butuh birkin bag ato tote bag dari kulit anak sapi seharga belasan juta, gak butuh sehelai gaun bermerk dari butik di Paris, dll. Hidup sederhana itu butuh apa ya selain tidak butuh duit…

 

Tampil apa adanya, polos, ga jaim, juga gampang (mestinya). Gak perlu nyewa silver bird kalo mampunya Cuma naik kopaja, gak perlu potong ke hair dresser sampai keluar duit ratusan ribu untuk benerin poni, gak perlu maksain diri untuk mengiyakan ajakan gaul ke kafe mahal padahal lagi bokek, gak perlu ngutang sana-sini untuk tampil wah, gak perlu menyiksa diri dengan operasi plastik, dll. Tampil apa adanya tanpa jaim itu (mestinya) tanpa beban. Minimal beban hutang.πŸ˜€

 

Tapi entah kenapa, kok di jaman sekarang ini pelaksanaan dua hal tersebut menjadi hal langka. Memang sih, batas antara butuh dan keinginan itu tipis, tapi juga bisa jelas. Tergantung kita sendiri. Jika dengan berbagai gadget bisa melancarkan tuntutan pekerjaan, ya monggo lah. Tapi membekali anak SD dengan Blackberry, hmmm…

 

Jadi teringat ketika beberapa hari yang lalu, saya ngegosip dengan kawan lama. Waktu itu kami nggosipin kelakuan teman -sebut saja X- yang hobi pasang status fesbuk, yang berbau materi. Dari rencana untuk beli apartemen, beli mobil baru sementara dua yang lama katanya gimana gitu, liburan ke Singapore dan Thailand, etc. Saya sebagai teman, ya ada rasa iri juga sih. Apalagi di masyarakat kita, sukses itu masih dinilai dengan berapa banyak benda/materi yang kita konsumsi/beli. Jadi merasa belum sukses, gitu.πŸ˜€

 

Tapi, salah seorang teman kami, ketemu dengan ibu si X. Ibu si X ini, ndilalah kok malah curhat sama teman kami, mengenai masalah anaknya. Katanya, semua yang pernah dia tulis di status fesbuk-nya tersebut bohong. Ternyata X masih menanggung cicilan kredit dan lain-lain. Dengan kata lain, si X ini punya gaya hidup besar pasak daripada tiang.

 

Pertanyaannya adalah, mengapa dia sampai begitu? Apa yang hendak ia sampaikan?

 

Errrrr…entah, saya juga ndak bisa jawab. Belum nanya ke orangnya juga.πŸ˜›

 

Apakah dengan menampilkan citra (seolah) sukses, ia akan bahagia? Yang sukses pun, dengan menghambur-hamburkan uangnya, apakah merasa bahagia? Katanya, kalau sudah bekerja keras, tak ada salahnya memanjakan diri. Nah, when enough is enough? Katanya juga, money cant buy happiness. Lalu kenapa masih boanyak yang belanja belanji jika sedang stress, sedih, frustasi, etc (a.k.a mencari keseimbangan alias feeling much better). Padahal katanya, kebahagiaan itu tanpa syarat. I’m happy unconditionally. Tapi untuk membuat merasa hepi, ternyata masih butuh baju baru, gadget baru, pacar baru, dll.

Hmmm…kadang saya juga seperti itu sih. Tapi sebisa mungkin menyadari secepat saya bisa (menyetop belanja karena dorongan impulsive).

 

Kembali ke masalah kesederhanaan tadi, mengapa hal yang demikian sederhana menjadi begitu rumit ketika menerapkan ke diri sendiri? Ada perasaan malu ketika tampil membandingkan diri dengan orang lain yang lebih kinclong dan gemerlap. Merasa katrok dan ketinggalan jika sekomunitas memakai barang yang lagi happening, sementara kitanya tidak. Merasa gak nyambung?

 

Padahal, memang kenapa kalau katrok alias ndeso? Memang kenapa kalau emang gak mampu? Tidak diterima dalam kelompok tersebut?

 

Ternyata masalah hidup sederhana dan apa adanya ini tidak sesederhana yang saya perkirakan semula.πŸ˜€

 

PS. Turut berbela sungkawa atas kehilangan bangsa ini untuk kepergian dua seniman hebat, Mbah Surip dan WS. Rendra.

 

 

 

19 thoughts on “Percayakah Anda Bahwa Hidup Sederhana itu Sulit?

  1. Pngertian sederhana stiap individu berbeda loh met. Ada yg menganggap dengan pake pakaian ga lebih dari 100rb/stel adalah sederhana, dengan alasan “ya mampunya hanya sgini”.

    Tapi ada lagi yg bisa pake pakaian ga lebih dari 1jt/stel adalah hidup sederhana, dengan alasan “ah ga mampu saya kalo yg diatas 1jt, yg sederhana saja deh, dibawah 1jt dah cukup”.

    Berbeda lagi, kalo ada yg mampunya hanya dibawah 10jt, dengan alasan yg sama dari kdua diatas..

    Terus, terus dan terus berpiramid.


    Akhirnya hidup sederhana berbanding lurus dengan lingkungan. Kalo sekitarnya berpakaian seharga 100rb/stell, akan disebut sederhana kalau kita menyamakannya, bgitu pula dgn yg 1jt, 10jt, 100jt, dst..

    Nah smisal kita mngurangi stengahnya, yg smisal sederhananya seharga 100rb/stel dan kita hanya 50rb/stel?
    Yg ada orang ga akan bilang kita hidup sederhana, tp hidup pelit! :p

    Hayo lu, skarang kalo dipikir lagi, akan ada pnyebutan sederhana dan pelit. Malah meluas kan kalo ga di detilkan ^^

  2. Kalau di tanya siapa sih yang ngga suka hidup **sederhana**? Mungkin akan lebih banyak yang suka.

    Siapa yang bisa dan mau menyederhanakan?

    Kalau di jaman Sekolah Menengah, di pelajaran Matematika, kebanyakan perintahnya adalah Sederhanakan dan Sederhanakan … Pusing dechhh

  3. Miskin, katrok dan ndeso itu tidak ada kaitannya dengan hidup sederhana.

    Tak sedikit orang miskin yang bergaya hidup tidak sederhana lho dengan ngutang sana sini hanya untuk bisa dianggap kaya.

    Hidup sederhana berkaitan langsung dengan mindset.

  4. tidak semua orang ‘berani’ mengambil keputusan untuk hidup sederhana. Apalagi jika ia berada di dilingkungan yang tidak sederhana, mungkin bisa gak kuat. Makanya banyak orang yang tidak mau terlihat sederhana karena masih memikirkan pendapat atau anggapan orang lain terhadap dirinya. Sederhana apa adanya mungkin memang sulit diterapkan jaman sekarang mbak..

  5. Saya mau jadi orang kaya….

    bagi saya mbah surip dan manusia semacam dia itu adalah sosok-sosok yang sudah bosan memandang serius dunia…

    world just a joke…

    Hidup sederhana itu mungkin diawali dengan tidak memperdulikan apa kata orang lain?

  6. Sulit atau mudah ya relatif.. tergantung orangnya..

    *Tuhan benci kepada orang kaya yang sombong, tapi lebih benci lagi kepada orang miskin yang sombong..

  7. sebenarnya everybody like a good living..tak terkecuali, dan sangat manusiawi. Makanya orang bekerja, berusaha dan meniti karir bahkan. Ujungnya untuk kemakmuran. Hanya skala bagaimana menikmati kemakmuran itu yang relatif berbeda.
    * saya suka berlibur sederhana ala tenda tenda di amanwana, pulau moyo..he he he

  8. Eh, ini yang di post di ngerumpi.com khan waktu itu yah… *mikir, dulu gue komen apa yah?, hihihi*

    Anyway, hidup sederhana itu gak sesulit yang dibayangkan orang kok, asal kita ikhlas menjalani hidup, tidak peduli mo good living or not… we already have peace with our life. Aku rasa itu yang paling penting dehπŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s