Ketemu Si Trouble Maker

troublemaker

Sebagai asonger alias freelancer, saya seringkali membantu pihak-pihak yang mengadakan training dengan menjadi trainer atau fasilitator di situ. Setiap training yang saya ikuti selalu membawa kesan dan pelajaran yang berbeda-beda bagi saya, dan tentu saja menambah jam terbang saya sebagai trainer.

Seorang trainer dituntut memiliki kecakapan untuk berkomunikasi secara interpersonal dan menguasai dinamika kelompok. Berbeda dengan pembicara publik seperti Mario Teguh, maka trainer sejatinya adalah seorang fasilitator, terutama untuk training-training soft-skill/psikologi. Saya sendiri untuk training lebih menyukai metode experiental learning, karena disitu peserta diajak untuk mengalami terlebih dahulu dan dari pengalaman tersebut diharapkan mendapatkan insight.

Sebagai trainer yang fasilitator, kita memang tidak menggiring peserta dan menasihatinya macam-macam. Kita lebih menyukai jika peserta sendiri yang mendapatkan pemahaman. Yang demikian biasanya lebih mudah untuk terinternalisasi daripada jika kita yang mengajarkan atau men-deliver pemahaman kita ke mereka.

Tak ingin berpanjang-panjang cerita tentang serba-serbi trainer, saya hanya ingin membagikan apa yang saya alami ketika berkesempatan sebagai trainer. Sebuah pelajaran yang ternyata hal tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya menyangkut hubungan interpersonal (harapannya).

Sebagai trainer, apalagi jam terbang saya yang masih sedikit, saya masih mengalami yang namanya demam panggung dan berbagai tantangan lainnya. Harus berbicara di depan orang banyak (padahal saya pemalu), men-deliver materi training semaksimal mungkin sehingga peserta dapat menangkap seperti yang kita harapkan, dan lain-lain. Salah satunya adalah ketika dalam training tersebut ada peserta sulit. Cilakanya, saya hampir selalu bertemu dengan peserta sulit ketika menjadi trainer.

Peserta sulit kalau dalam definisi saya adalah, peserta yang cenderung mencari masalah dalam training. Perilakunya sendiri macam-macam, mulai dari yang menunjukkan penolakan (tidak antusias, cuek), caper, show-off sehingga mengganggu teman-teman yang lain, pokoknya trouble maker lah. Peserta yang begini ini sebenarnya cuma minoritas. Paling hanya satu-dua. Tetapi entah kenapa, energi negatif mereka bisa mempengaruhi seluruh jalannya pelatihan. Yang paling parah jika teman-temannya ikut terpengaruh. Aduh, pusing dan mules-mules gak karuan kalau ketemu yang beginian.

Ketika saya curhat kepada senior saya, senior saya itu memberikan solusi yang saya anggap cukup brillian. Solusinya adalah, saya seharusnya membiarkan saja peserta sulit tersebut alias dicuekin saja. Jangan memberi energi kepadanya. Dengan membalas perilakunya, sama saja kita memperhatikan dia dan sama saja dengan memberi energi kepadanya. Lebih baik, curahkan energi yang kita miliki kepada peserta lain yang memang benar-benar memperhatikan dan antusias terhadap kita. Biasanya ada dua respon, si peserta sulit ini kalau tidak terisolasi alias sendirian, atau bisa jadi ia malah ganti tertarik dan antusias dengan materi training.

Kaitannya dengan apa yang saya utarakan di atas, dalam kehidupan sehari-hari kita pasti pernah bertemu-berinteraksi dengan si trouble maker ini. Hari kita yang sepertinya sempurna, begitu berjumpa dengan si trouble maker, sukses merubah mood kita langsung turun drastis. Yup, si trouble maker ini begitu pandai merubah mood kita yang lagi bahagia menjadi negatif. Walhasil karena mood kita yang negatif, seharian kita jadi uring-uringan dan sebal sekali. Semua itu gara-gara satu orang si trouble maker tadi, sodara-sodara.

Nah, belajar dari apa kata senior, coba deh, kalau kita berjumpa lagi dengan si trouble maker ini, kita cuekin saja. Jangan sekali-kali kita memberinya energi. Kalau kita meresponnya marah-marah dan sebagainya, sama saja kita memberikan energi kepada si trouble maker tersebut. Lebih baik energi yang kita miliki, kita berikan kepada hal-hal lain yang menyenangkan.

Selain itu mulut yang turun ke bawah (gara-gara mood yang kacau) sebenarnya bikin capek wajah daripada mulut yang tertarik ke atas. Tidak percaya? Coba saja, mulut dikondisikan melengkung ke bawah selama beberapa menit, lalu ganti dengan mengkondisikan mulut melengkung ke atas. Mana yang terasa lebih fresh untuk wajah? Selain itu, studi menunjukkan, bahwa keadaan fisik berpengaruh terhadap keadaan emosi seseorang. Dengan berpostur tubuh tegak dan mulut tersenyum, dipercaya dapat berpengaruh memperbaiki mood dan emosi.

So, have a bright day, cheer up, and be happy.๐Ÿ™‚

21 thoughts on “Ketemu Si Trouble Maker

  1. Belajar sabar…..(jangan suka marah marah sendiri)
    Kuasai Materi Pelatihan…..( Baca dan pahami dulu sebelum omong/Melatih)
    Kuasai arena pelatihan…..( bisa moving dari satu tempat ke tempat lain…jangan kayak Bu Guru)
    Atraktif. ….( mampu improvisasi )
    Jangan gugup dan minder…(kalau ada yang lebih hebat dari kamu)
    Jangan suka memaki orang walau dalam hati atau tulisan di Forum atau millis ( Karena ini akan menjadi unsur negatif buatmu)
    Bisa membuat joke joke yang segar….( agar suasana lebih hidup)
    Jaga penampilan …..(gak usah pakai banyak perhiasan Parfum gak menyolok hidung misalnya)
    Dan sudah barang tentu banyak yang lainnya…

    Nb : Dari Followermu yang kamu anggap Spamer di Politikana. ( kali ini gak nyepam khan…? soalnya aku benar benar gak tahu….)
    Kalau kamu pemarah pasti kamu akan bilang emang siapa lu …sok kasih nasehat….emang lu lebih jago eh babon dari pada gue
    Tapi kalau lu orang baik pasti akan bilang Tengkyu Atur Nuhun

    Salam

  2. biasanya saya kalau ngajar, ngasih pelatihan, atau ngasih kuliah, si trouble maker kaya gitu memang bagusnya dicuekin…

    atau kalau sudah parah banget, take it personal, cegat pas pulang, hantam… he… Naaah, i’m just kidding…

  3. kalo aku ketemu orang yg udah ga bisa ditolerir lagi ulahnya, aku justru akan ajak dia kenalan secara pribadi lalu aku pake taktik “mirroring”. aku pancing supaya dia sebel karena ulahnya aku ikutin, baru aku giring ke kondisi yg aku inginkan. kebanyakan sih berhasil

    • itu berarti ketika sudah di luar kelas/training ya?
      karena kalau itu dilakukan pas kelas berlangsung, apa gak memboroskan waktu yg harusnya bisa dipake utk men-deliver materi training? dan nanti peserta lain merasa dicuekin๐Ÿ˜€

      thanks loh tapi, infonya

      • eh tapi ada satu contoh yg menarik lho jeng, dari trainer favoritku yaitu Anthony Robbins. kalo dia sdg memberi pelatihan NLP lalu ada bad boy disitu, maka yg dia lakukan adalah tetap meneruskan materi pelatihan tapi ngomongnya persis didepan dia atau melihat secara tunel/vional vision ke dia dan intonasi suara lebih dinaikkan (tp tanpa amarah). pembicaraan tetap tidak keluar dari topik, tapi body language dan eye contact lebih banyak (seakan-akan) diarahkan ke si bad boy tadi. hasilnya cukup membantu. taktik ini banyak dipakai dikemiliteran atau sekolah-sekolah dg orientasi kemiliteran.

  4. eh kadang saat berusaha tersenyum๐Ÿ™‚ eh tapi hati sebenernya gondok dan sedih tetep lho kelihatannya gini๐Ÿ˜ฆ wajah saya gag bisa bohong. dan itu bener…

    hahah saya gak bakat bohong untuk masalah perasaan :p

    • senyum yang dibuat-buat ya๐Ÿ˜€
      alias senyum apa tuh namanya, duchenne smile๐Ÿ™‚

      jadi ketika tersenyum ‘palsu’ seperti itu, otot2 wajah tetap terlihat tegang dan keliatan dipaksakan๐Ÿ™‚

      mungkin kuncinya adalah tulus, senyum yg tulus.

      tapi link berikut bisa memberi tambahan informasi, apakah senyum berakibat positif terhadap keadaan emosi kita. masih pro dan kontra, tetapi yang jelas, senyum tidak melukai siapapun. bahkan, mereka yang melihatnya bakalan ‘kesetrum’ dalam artian positif, daripada ngeliat kita cemberut๐Ÿ™‚
      jadi, teruslah berlatih๐Ÿ˜€

      http://healthpsych.psy.vanderbilt.edu/2008/Smile.htm

  5. meth, kalo yang kamu hadapi adalah peserta yang baik-baik saja justru kamu tidak akan jadi apa-apa.

    kamu baru akan sukses sebagai seorang trainer kalo sukses mengelola trouble maker itu. mengelola meth, bukan mencueki๐Ÿ˜‰

    • sebenarnya bukan mencuekkan dalam arti tidak peduli. tapi kl alasan dr senior saya tersebut, jika dalam suasana training saya menghiraukan si trouble maker, maka energi saya malah terfokus utk satu trouble maker.
      walhasil, saya malah gak bisa memfokuskan diri kpd training itu sendiri dan mengabaikan 99% peserta lain yg antusias. mereka akan merasa diabaikan, sementara si trouble maker girang karena berhasil mendapatkan perhatian.

      dengan tidak memberi energi maka sekaligus menjaga agar training berjalan maksimal. dan ketika sdg tidak memberikan energi kepada si trouble maker, sekaligus kita berupaya mengalihkan atensi si trouble maker.

      atau deteksi ada tips/cara lain?
      senang sekali jika mau berbagi๐Ÿ™‚
      *sangat berharap ada masukan, gimana mengelola peserta sulit dalam training*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s