from how to train your dragon into social media

Jogja memang rada telat, khususnya dibandingkan dengan ibukota kalau ada film-film bagus yang masuk indonesia (yaeyalaaaahhh…ibukota getu lowh, dibandingin dalam hal up-to-date). Jadilah saya barusan nonton How to Train Your Dragon not in 3D, yang baru saja masuk bioskop Jogja. Padahal niat awal pengen nonton Shutter Island (yayayaya, telat lagi) yang ternyata udah digusurpaksa untuk turun.

Filmnya ternyata bagus, seperti yang diomongin teman-teman yang sudah duluan nonton. Animasi yang halus banget (untuk mata awam seperti saya), adegan action yang menegangkan, lucu-lucunya juga, dialog yang sarat pesan, dan cerita yang kuat. Cukup untuk dikategorikan film bagus?:mrgreen:

Dan ternyata saya mewek! Ya, film yang kata teman-teman lucu, ternyata malah membuat saya mengalirkan air mata terharu. Tidak sebanjir Hachiko sih, tapi teuteup air mata ini tak terbendung. Yang bikin nangis karena cara-cara Hiccup dalam ‘menaklukkan’ naga. Weeewww, saya yang pecinta binatang, terharu banget. Memang seharusnya seperti itu hubungan antara manusia dan binatang! *berapi-api*

Tapi yang membuat saya gatel pengen nulis postingan ini justru pesan lain yang disampaikan dalam film tersebut.

Digambarkan dalam hubungan ayah anak, Hiccup dan ayahnya yang penguasa desa Berk, Viking, berat sebelah. Sang ayah digambarkan mempunyai keinginan/bayangan tersendiri tentang Hiccup, dan diam-diam merasa malu dengan kondisi anaknya yang tidak seperti diinginkannya. Hiccup sendiri seperti tak berdaya untuk mengekspresikan dirinya, dia bahkan kesulitan untuk menyampaikan apa yang baru saja dialaminya. Jadilah Hiccup lebih banyak mengalah dan (terpaksa) nurut apa kata ayahnya. Tapi menurut sang ayah, itu masih dikategorikan membangkang alias tidak menurut.

Hubungan yang berat sebelah itu tampak jelas ketika ayahnya tidak mau mendengarkan Hiccup. Ayah yang terlalu ‘sibuk’ dengan bayangan ideal tentang seorang pemuda Viking yang ingin itu ada dalam diri Hiccup. Sehingga si Ayah tidak mau mendengar/sadar bahwa anaknya tidak ingin seperti yang ayahnya bayangkan. Padahal tanda-tanda itu jelas ada, pertandanya begitu mudah dibaca. Tapi ya gitu, sang ayah tidak mau mendengarkan, sehingga dia tidak sadar sama sekali dengan tanda-tanda tersebut.

Pesan itu sangat jelas di adegan ketika Sang Ayah baru pulang dan menemui Hiccup di kamar. Hiccup yang khawatir ayahnya marah dengan yang dia lakukan, dengan gugup menutupi hasil pekerjaannya. Sang Ayah tidak menangkap ekspresi gugup Hiccup. Ketika mereka mulai berbicara, Hiccup mengatakan apa, SangΒ  Ayah menangkapnya lain. Semua dalam frame/kerangka pikiran ayah. Hingga akhirnya konflik memuncak, Sang Ayah kecewa berat melihat Hiccup ternyata tidak membunuh naga seperti yang dibayangkan.

Kalau dibawa ke kondisi sehari-hari, situasi-situasi seperti ini sangatlah banyak ditemui. Situasi yang wajar (?) (saking banyaknya kejadian). Padahal kita tahu, kita mempunyai dua telingan dan satu mulut. Tetapi, tetap kita lebih ingin didengarkan daripada mendengar. Btw, antara hear dan listen itu berbeda sekali lho. “Mendengar” yang saya maksud disini adalah “listen”. Mendengar dengan hati, menyimak dengan sungguh-sungguh semua yang tersirat dan tersurat.

Bisa saja kita berargumen, selama ini kita telah banyak mendengar. Tetapi siapa yang sadar/jujur kepada diri sendiri, ketika kita mendengarkan orang lain, kita telah menanggalkan kacamata kita dan mengenakan kacamata orang tersebut. Jangan-jangan kita selama ini hanya mendengar apa yang kita ingin dengar. Itu konteksnya dalam berkomunikasi secara umum, sehari-hari.

Dalam konteks cyber-social (halah, istilah apalagi ini, ciptaan sendiri), keinginan untuk didengarkan alias berbicara itu bisa jadi alasan kenapa social media menjadi begitu laris manis diserbu. Social media adalah wadah yang tepat untuk menyalurkan semua yang ingin dikatakan, dikomentari, dicurhatkan, diopinikan, etc etc pendeknya tempat untuk bicara.

Kenapa social media? Jujur saja, tidak semua orang mempunyai kepercayaan diri untuk berbicara di depan publik, apalagi jika mereka ‘bukan apa-apa’ dalam arti bukan seleb/public figure. Katarsisnya ya disocial media itulah. Ada rasa aman, ketika kita bisa bicara disocial media, karena kita merasa ga benar-benar hadir/tampil di depan massa. Yang malu, yang ga pede, jadi merasa menemukan penyalurannya.

Kembali ke soal mendengar-didengarkan, begitulah kalau semua berebut untuk didengarkan/bicara disocial media, lantas siapa yang bersedia mendengar/membaca?

Mungkin karena itu pula, terkadang saya lelah menatapi timeline akun social media saya. Hiruk pikuk, timeline mengalir deras. Sepertinya semua orang sedang berebut untuk berbicara, meminta untuk diperhatikan dan didengarkan. Lantas siapa yang bersedia mendengarkan saya?:mrgreen:

Btw, naga-nya Hiccup kok mengingatkan saya dengan tokoh alien di Lilo and Stitch ya?πŸ˜€

Notes.

Perenungan saya, seringkali keinginan untuk didengarkan tersebut membuat kemampuan untuk mendengarkan inner-voice menurun. Cara yang saya lakukan adalah, saya menyepikan diri untuk lebih peka mendengar inner-voice saya.

21 thoughts on “from how to train your dragon into social media

    • mantabbbb..
      maju teruss broo.. sukses ya..
      ==============================
      Free Download Film Menculik Miyabi
      h t t p : / / s i l e n c e f o r u m . b l o g s p o t . c o m

  1. pesan film ini cukup jelas… *jd kelingan bokap (alm) selalu datang ke kamar saat setelah gw dimarain bunda*

  2. Ping-balik: Tweets that mention from how to train your dragon into social media Β« r e s t l e s s a n g e l -- Topsy.com

  3. saya malah nangkep hal lain dari film itu, pekan lalu saya nonton film tersebut. Adalah cara pandang dan cara berfikir si kurus Hiccup yang berlandaskan dari reseach dan pengalaman empiriknya kemudian digunakan sebagai dasar dalam menyelesaikan problem..

  4. “Kembali ke soal mendengar-didengarkan, begitulah kalau semua berebut untuk didengarkan/bicara disocial media, lantas siapa yang bersedia mendengar/membaca?”

    hi..hi..hi… membaca kalimat diatas, saya kok langsung kepikiran kalo kita tiap hari bikin 2 – 3 postingan di ngerumpi dan nama kita nongol tiap bbrp jam disituπŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›

    *dihajar para penulis super aktif ngerumpi* :)) :)) :))

  5. Salah satu kehebatan animasi, binatang semengerikan apapun, pasti bisa dibikin sedemikian rupa sampai anak kecil aja guling-guling dilantai karena begitu gemasnya, dan pengen dibelikan bonekanya…

    Apalagi yang udah gede… kayak… kamu?πŸ˜†

  6. sukaaaaaaaaaaaa banget ama itu film. bener2 problematika abege. hubungan ortu-anak, pilihan studi (antara minat dan tuntutan sekitar), juga cinta-cintaan. sepertinya memang banyak terjadi di sekitar kita.

  7. Wah… film animasi selalu saya suka, termasuk yang satu ini, biarpun ‘cita-cita’ untuk nonton versi 3D-nya nggak kesampaian. Hiks.

  8. wuaaah….it’s great-great movie!! Aku suka banget film ini,apalagi musiknya pas hiccup lagi terbang…megah…pengen rasanya terbang ama naga jg. Kalo dikasih bintang 4 kali yaa…yg bisa nyamain kayaknya Up deh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s