Rise of the Planet of the Apes: Belajar Kepemimpinan dari Monyet

Bagi yang sudah nonton Planet of the Apes-nya Mark Wahlberg (2001), kemunculan film Rise of the Planet of the Apes (judulnya bikin lidah kesleo-sleo) cukup dinantikan oleh para penggemar. Seperti saya, yang penasaran, ini menceritakan sekuel atau prekuelnya Planet of the Apes yah. Jujur aja, selama ini tidak mencoba browsing-browsing dulu tentang Rise of the Planet of the Apes, bahkan sinopsisnya pun tidak. Jadi ketika nonton midnight Sabtu kemarin, sama sekali tidak ada bayangan.

Duapuluh menit pertama film ini sukses membuat saya terharu biru dan emosi bergolak. Karena dalam duapuluh menit pertama itu, langsung tergambar kerakusan dunia korporasi yang diwakili CEO Gen Sys, Steve Jacobs, versus kesejahteraan lingkungan yang diwakili simpanse-simpanse binatang percobaan mereka. Well, kelekatan emosi saya dengan binatang membuat saya merasa lebih mudah merasakan kelekatan dengan jalan cerita film ini. Jadi tak pelak saya langsung larut dan terlibat secara emosi. Apalagi dengan munculnya bayi simpanse yang rapuh, haduh, saya langsung mbeler-mbeler.

Singkatnya, sinopsis Rise of the Planet of the Apes bercerita tentang percobaan untuk menemukan obat bagi penyakit Alzheimer dan percobaan tersebut memunculkan anomali. Sesimpel itu sebenarnya jalan ceritanya. Tokoh utama, si peneliti Will Rodman mempunyai alasan yang bersifat personal terhadap penelitian ini, yaitu karena ayah yang sangat disayangi menderita Alzheimer. Karena itulah, ketika asistennya, Robert Franklin meminta Rodman untuk membawa si bayi simpanse pulang supaya tidak dibunuh/dimatikan, ia sempat merasa keberatan. Karena concern-nya sedari awal adalah ayahnya, bukan kesejahteraan binatang-binatang percobaan tersebut.

Ketika si bayi simpanse –Caesar– tumbuh makin besar, afeksi Rodman terhadap Caesar juga makin besar. Selain itu ia melihat bahwa si Caesar ini mempunyai keanehan yang patut diteliti, karena diyakini membawa kabar baik untuk perkembangan penemuan obat Alzheimer. Caesar ini mempunyai kecerdasan yang sangat mengagumkan. Konflik semakin tajam ketika Caesar yang remaja, terpaksa menyerang tetangga mereka. Caesar, berdasar putusan pengadilan, dianggap membahayakan lingkungan sekitarnya, dan tak seharusnya binatang liar seperti simpanse ada di lingkungan pemukiman. Caesar harus direhabilitasi di pusat penampungan satwa liar.

Di bagian ini, lagi-lagi emosiku terlibat cukup dalam. Entah karena aktor yang memerankan tetangga menyebalkan itu aktingnya pintar sehingga bener-bener menyebalkan, atau karena aku yang terlalu emosional.  :mrgreen:

Yang jelas, aku bener-bener geregetan dan berpendapat, itulah yang terjadi kalau orang ga dididik untuk mencintai lingkungan, alam, dan binatang dari kecil. Kalau dari kecil ga diajarkan menyayangi binatang, maka setiap kehadiran binatang akan dianggap sebagai ancaman. Thus takut. Padahal rasa takut adalah motivasi paling kuat untuk melakukan tindakan, misal tindakan menyerang.

Caesar selama masa rehabilitasi di penampungan primata, belajar banyak hal yang tak dia dapatkan di rumahnya. Caesar yang sangat cerdas, mengamati lingkungan dia berada. Interaksi antar primata, hierarki sosial antar kera, hierarki sosial kera-manusia, norma yang berlaku, hingga threatening act yang ditunjukkan Dodge, si penjaga. Yup Caesar bahkan mempelajari aspek psikologis Dodge. Bahkan dari penampungan tersebut dia belajar situasi sosial yang menumbuhkan kepekaannya. Selayaknya aktivis dah. Dia belajar serta menganalisa, apa yang harus dilakukan pada situasi tersebut, apa solusinya.

Nah, dari kacamataku, bagian ini yang sangat menarik dari keseluruhan film. Kita belajar mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang betul-betul leader—pemimpin, tak sekedar pimpinan. Bagaimana Caesar bisa mempersatukan semua spesies kera untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dan aku lagi-lagi mbrebes mili nangis bombai tersengguk-sengguk pada adegan martir.

Ada satu hal lagi yang menarik untuk digarisbawahi. Caesar dari bayi dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Rodman dan ayahnya mengasuh (juga mendidik?) Caesar penuh cinta. Caesar belajar tentang cinta dan kasih sayang dari pengasuhan ini, dari ‘keluarga’nya. Hal ini yang membedakan Caesar dengan kera-kera lain ketika menghadapi musuh mereka. Being human (?). Well, statemen ini memang bisa memancing diskusi sih, apakah kasih sayang dan cinta kasih –yang diterjemahkan dalam film ini menjadi tindakan forgiveness— hanya milik manusia?

Selain itu, tokoh orang utan di penampungan primata, mewakili sosok yang bijaksana dan humoris. Saya suka dengan ‘ceplosan’nya yang santai tapi lucu tapi sesungguhnya dalam.

**notes.

Sebutan monyet untuk primata adalah sebutan yang berkonotasi menghina. Pakailah kata ‘kera’ daripada ‘monyet’ untuk menyebut primata, kecuali kalau anda memang berniat menghina. 😀

Thanks utk ekowanz yang menginspirasi saya untuk apdet blog lagiiih.  😆

Iklan