Tentang Pendidikan Usia Dini : Playgroup untuk Semua

*illustrasinya sengaja milih cover albumnya Metallica, karena judul postingan ini emang terinspirasi dari judul album Metallica*πŸ˜†

 

Ide ini muncul pas lagi nyuci piring barusan. Latar belakangnya *ciyeh, macam skripsi aja, pake latar belakang*, karena menyaksikan sendiri salah satu penghuni kos yang rupanya single mom sekaligus wanita karier. Pekerjaannya menuntut dia untuk tidak berada dekat putrinya (masih 2 tahun), dari pagi hingga malam. Bahkan weekend seperti hari Sabtu begini juga masih harus bekerja. Si putri kecil ini tiap harinya diasuh oleh nanny-nya. Bukan baby sitter yang pakai seragam gitu-gitu. Karena sepanjang hari di kos, selain dengan nanny-nya, si kecil ini juga diasuh oleh penjaga-penjaga kos. Kadang ada anak kos yang juga ikutan ngajak main.

 

Nah dari sini saya melihat permasalahan. Si kecil ini lebih dari 8 jam diasuh oleh nanny-nya dan penjaga-penjaga kos, karena Mama-nya kerja. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana si kecil jadi demen lagu Iwak Peyek, ya karena ketularan pengasuh-pengasuhnya. Tontonannya sinetron. Dan yang parah adalah gaya pengasuhnya, yang kalau kaget punya kebiasaan latah menjerit nyebut alat reproduksi pria, atau kalau si kecil melakukan sesuatu yang dilarang, maka langsung dibentak.

 

Mereka baik sih, senang gitu kalau ngajak si kecil main bareng, sabar juga (kebetulan si kecil juga anteng sih, kecuali kalau makan lamaaaa banget, suka diemut. Kalau minum susu juga lama. Demen mainin makanan deh). Juga ga pernah ngajarin yang jorok-jorok/ga pantas (yang kebetulan aku lihat). Baik lah pokoknya.

 

Tapi teringat pelajaran dasar psikologi perkembangan. Balita/anak usia sampai 5 tahun adalah masa emas pembelajaran karena pada masa itu otaknya bagaikan spons, menyerap semua informasi. Pada masa itu, anak juga belajar lewat imitasi/mencontoh apa yang dia lihat di sekitarnya. Seorang guru besar di bidang kedokteran anak, pada waktu menghadiri talkshow-nya, mengatakan bahwa di usia batita maka otaknya sangat aktif membentuk sinapsis-sinapsis. Sehingga pada masa ini, adanya otak kedua sangat penting untuk perkembangan kognitifnya. Nah siapa otak kedua, ya mereka yang ada di sekitar si anak. Jadi bisa dibayangkan kalau yang berada di sekitar si bocah adalah pembantu, maka stimulusnya seperti apa.

 

Memang bukan harga mati sih, belajar adalah proses seumur hidup. Tapi sekali lagi, pendidikan anak usia dini itu sangat penting. Beruntunglah mereka/orang tua yang mampu menitipkan anaknya di playgroup, sementara ditinggal bekerja. Paling tidak, buah hatinya mendapat stimulasi yang dibutuhkan untuk fondasi ‘program’ otaknya. Tetapi, seberapa banyak sih, orang tua yang mampu menitipkan anak ke playgroup yang baik? Apalagi kita tahu kalau playgroup seperti itu, biasanya muahal luar biasa. Hampir mengalahkan biaya kuliah S1.

 

Bisa dilihat juga bahwa ini adalah sebuah peluang. Yap, apalagi di kota besar, dimana tuntutan hidup membuat kedua orang tua menjadi pekerja. Maka kebutuhan untuk menjaga anak sementara orangtuanya bekerja adalah keniscayaan. Sempet kepikiran, wah daripada diasuh dijaga oleh baby sitter yang paling lulusan sekolah menengah, gimana kalau baby sitternya lulusan S1 atau malah S2? Otak kedua yang mengasuh si buah hati sanggup memberi stimulus yang lebih kaya. Siapa yang mampu dan mau meng-hire baby sitter yang sangat kompeten dan well educated gitu?:mrgreen:

 

Tapi sebelum dilanjutkan menjadi sebuah peluang bisnis, hati kecil saya menyela. Katanya, pendidikan adalah hak semua kalangan. Kalau pendidikan yang baik hanya mampu dijangkau oleh mereka yang kaya, lantas gimana dengan nasib mereka kalangan menengah ke bawah? Makin ga mampu bersaing dengan yang kalangan atas dong?

 

Dari sini kemudian timbul ide. Andai ada gitu, yang mempunyai cukup waktu luang untuk mendirikan semacam tempat penitipan anak, yang terjangkau biayanya. Dan selama pengasuhan tersebut, si anak juga sekaligus diberi stimulus-stimulus untuk merangsang potensi otak si kecil. Supaya terjangkau, maka ‘guru-guru’ adalah voluntarian yang menguasai tentang psikologi khususnya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan.

 

Orang tua juga tidak lantas leha-leha lepas tanggung jawab, mentang-mentang anaknya bisa ditinggal gitu aja. Harus ada kewajiban yang sifatnya timbal balik. Orang tua juga harus belajar bahwa menjadi orang tua itu konsekwensinya termasuk mendidik, plus ada kewajiban sosial yang harus dibayarkan.

 

Jangan-jangan sudah ada ya, ide tersebut diwujudkan? Well, ide saya terbuka saja sih. Saya sadar, ga mampu mewujudkan sendirian. Tapi kalau ada yang mau mengadopsi ide tersebut juga silakan, dimatangkan lagi yang masih mentah ini. Saya percaya bahwa pendidikan adalah hak semua pihak.

 

7 thoughts on “Tentang Pendidikan Usia Dini : Playgroup untuk Semua

  1. Itulah kenapa kita saat menciptakan generasi yang tidak mengenal orang tua😐.

    Salah siapa sekarang orang bekerja 8 jam sehari tidak bisa memberikan kehidupan dan jaminan masa depan? Negara ini aneh. #eh.

  2. Bersyukur karena penggunaan nanny di Australia sini sangat jarang.
    Nyaris semua orang memilih untuk mengurus anak sendiri.

    Lebih bersyukur lagi karena aku diberi rejeki berupa gaji yang lebih dari cukup sehingga memungkinkanku untuk bilang ke Istri, “Wes, Bu’ne.. ra sah ngantor.. ngancani Odilia wae neng omah” sehingga waktu untuk mendidik Odilia dalam kehangatan keluarga lebih maksimalπŸ™‚

  3. Memang berat. Tapi ya harus dijalani. Tentu ada sejumlah kasus menarik. Misalnya:

    β€’ Kantor teman saya pernah kerepotan mencari sekretaris gara-gara lokasi kantornya di perumahan dan suasananya NGO bangetm sehingga sekretaris muda kurang berminat. Akhirnya malah dapat sekretaris yang sudah 5 tahun berhenti bekerja demi mengasuh anak. Sama-sama dapat b erkah to?πŸ˜€

    β€’ Dulu, 20 tahun lalu, mbakyunya teman saya pernah girang, suatu sore sepulang dari kerja disambut anaknya dengan berlari-lari kecil. Dia segera berlutut dan mengembangkan tangan untuk menyambut si kecil. Tapi ternyata si kecil ngepot, belok, dan menghampiri PRT yang ada di belakang ibunya. Ini bukan lucu tapi menyedihkan….

  4. nah ini. aku juga terpaksa meninggalkan anak bersama pengasuhnya selama aku bekerja. sudah wanti-wanti sih, jangan momong pake tivi, jangan ini itu, harus begini begitu. tapi kalo kita pas ndak di rumah ya siapa yang tahu apa yang terjadi😦

    eh. themenya kok sama sih ma punyakuπŸ˜€

  5. Ping-balik: Pendidikan Anak Playgroup | Anakku Harapanku Dunia Akhiratku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s