Ungkapkan Rasa Sayang dengan Helm

contoh bonceng ga dipakein helm

Pagi ini sewaktu berangkat ke kantor naik ojek langganan, aku melihat pemandangan yang bikin miris. Sebenarnya udah sering sih lihat pemandangan seperti pagi tadi, di Jogja pun juga sering banget lihat. Walau begitu, tetep aja rasanya miris dan kesel, ga habis pikir.

Jadi yang kulihat pagi tadi adalah seorang ibu naik motor memboncengkan anak perempuannya, kira-kira SD sekitar kelas 3-4 gitu. Si bocah ini ga dipakein helm apapun, padahal si ibu melaju cukup kencang. Udah gitu, jalan yang dilewati termasuk jalan protokol yang ramai dan rata-rata semua kendaraan ngebut kalau lewat jalan situ. Miris dan ngeri membayangkan kalau ada apa-apa.

Sambil melihat ke bocah yang duduk memeluk pinggang ibunya, aku mikir, ini si ibu sayang anaknya ga sih. Aku membayangkan, kalau misal ditanya, “Ibu sayang ga sama putri ibu?” pasti dijawab, “Ya sayanglah, saya kan ibunya.” Tapi kalau ditanya, “Kalau sayang, kenapa Ibu gak makein helm ke putri Ibu sewaktu mboncengin motor? Kepikir ga kalau ada apa-apa, bagaimana nanti putri Ibu?” kira-kira dia jawab apa ya, hmmm.

Seringkali kita hanya sebatas tahu suatu kata tapi tidak paham makna kata tersebut, bentuknya seperti apa. Seperti kata ‘sayang’. Kalau dari contoh di atas, si ibu pasti mengaku sayang sama anaknya. Yang menjadi misteri, mengapa ia tidak berpikir untuk melindungi si anak dari bahaya kecelakaan. Jadi ‘sayang’ menurut si ibu, itu yang gimana sih? Ga mungkin dong, sekadar pernyataan di bibir doang.

Jadi teringat, beberapa waktu lalu pernah ngobrol dengan teman, dia cowo dan bapak dari satu balita. Aku iseng nanya, dia sayang ga sih ama anaknya. Dijawab, “sayang lah,” tapi dia kesulitan menjelaskan sayang yang gimana. Aku curious, secara pekerjaan dia membuatnya jauh dari anaknya dan jarang banget untuk bisa ketemu ama anaknya. Pengin tahu aja sih, bagaimana dia mengartikan sayang dan mewujudkan rasa sayang tersebut.ย 

Eh menurut kalian, rasa sayang itu harus/perlu diwujudkan ga sih? Kalau iya, memasangkan helm ke anak ternyata bisa menjadi perwujudan rasa sayang ya. Berarti, helm bisa dilihat sebagai wujud kongkrit rasa sayang dong, iya gak?

Btw dari browsing-browsing, ternyata Senin 5 November lalu sempat ada Konferensi Anak Indonesia, tema untuk 2012 ini adalah Keselamatanku di Jalan.ย Nah, ayo dong ayah, bunda, aak, tante, om, demi keselamatan bersama nih, saling menjaga, dan tentu aja mulai dari diri sendiri.

ย 

Gambarย 

ย 

6 thoughts on “Ungkapkan Rasa Sayang dengan Helm

  1. kalo pagi malah sering ketemu anak pake seragam SMP naik motor ngga pake helm, itu orang tuanya terlalu sayang ngasih anaknya motor namun ga merhatiin batasan usia dan keselamatan

  2. itu bener anak kelas 4-5 SD, kok mbangkok gedhe tenan. Wah berarti gizi di Indonesia semangkin baik. Baca tulisan ini jadi ingat puluhan tahun lalu (sajake aku tuwek banget) saat adikku yang masih balita pakai helm mini, lucu deh. Saiki adiku yo wis tuwo, ra lucu babar blas.

  3. sebuah pembuktian bahwa harga helm lebih mahal dari kepala kita tho….perlunya penggalakan safety gear dan safety riding…..jangankan di caruban di jakrta pun masih banyak , bahkan motor motor kelas premiumpun penunggangnya ngga pake helm…mungkin ngga mampu belihelm karena cicilan motornya kemahalan kalihe…he….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s