Terusin Gaya Berpikir ala Anak-anak demi Dunia yang Lebih Baik!

Confused-Cat-Meme-1-610x457

 

Wkwkwkwk, judulnya malesin banget *mati ide* 😆

Rasanya skill yang musti dikembangkan di jaman gadget sekarang ini adalah information literacy/melek informasi deh. Alasannya, informasi sekarang ini sangat gampang diakses dibanding dulu-dulu, mau apa semua ada di ujung jempol. Beda banget ama (misal) jamanku SD, pengen tahu sesuatu harus baca buku. Jadi agak sulit kalau ga punya bukunya dan harus nyari. Di toko ternyata ga ada, maka harus ke perpus. Perpus terdekat ternyata juga ga punya bukunya. Harus ke Jakarta atau mana yang punya toko buku superkomplet. Belum duitnya dsb. Tanya orang tua, juga belum tentu mereka tahu.

Seperti hari ini, karena tiba-tiba penasaran dengan klaim iklan sabun cair cuci tangan Det**l yang  bilang kalau sabun cair lebih higienis dibanding sabun batang karena ga terkontaminasi kuman, jadi timbul tanya. Paling gampang cari jawaban ya ke Mbah Gugel. Tinggal ketik kata kunci, dan jebreeeet, semua informasi ada. Cuma yaaaa, tugas belum selesai sampai situ, karena ternyata banyak bener informasi yang menyesatkan. Ketika mengetik kata kunci berbahasa Indonesia, informasi yang tampil di halaman pertama didominasi oleh berita tak berimbang dan ga membahas segi ilmiahnya. Ketika gugling dengan kata kunci bahasa Inggris, informasinya lebih lengkap dan lebih berimbang. Memang jadinya harus membaca lebih banyak lagi untuk membandingkan dan konfirmasi isi artikel, beneran valid atau abal-abal berbau ilmiah.

 

Confused-Cat-Meme-1-610x457a

 

Ada banyak contoh mengapa melek informasi (definisinya menurutku adalah kritis terhadap isi informasi, kemauan untuk mencari tahu lebih dalam,  mampu memilah informasi mana yang valid, dan hati-hati menarik kesimpulan) sangat penting di masa sekarang. Menurutku, para ibu musti wajib punya skill ini. You see, seperti yang udah pernah kubahas, ibu-ibu pun turut dibanjiri informasi seputar parenting, kesehatan, kecantikan, dll. Banyak yang membungkus informasi tersebut dengan hal-hal menyeramkan. Kalau enggak melek informasi, bisa bayangin dong akibatnya. Informasi belum tentu bener, tapi karena disantap bulat-bulat jadi makin takut dan nurut. Bisa merugikan, baik materi maupun non materi.

Habisnya gimana ya, banyak bener informasi yang beredar dengan teknik menyebarkan ‘fear’. Satu teknik kuno, dari sejak agama diturunkan ke bumi *eh* dan sampai sekarang terbukti efektif. Di satu sisi, teknik tersebut bisa juga memunculkan respon ‘kontra’ alias lebih kritis. Satu sisi yang ga kalah bahaya adalah muncul respon ‘learning helplessly’. Contohnya, ada satu temen yang merasa artikel-artikel kesehatan yang dipublish satu situs berita isinya nakutin semua. Akhirnya dia jadi apatis, menerapkan gaya hidup enggak sehat, dan menutup rapat-rapat semua inderanya dari informasi. Alasannya, dia mau hidup tenang dan senang. Tapi apa ya bener gitu?

The United States National Forum on Information Literacy defines information literacy as ” … the ability to know when there is a need for information, to be able to identify, locate, evaluate, and effectively use that information for the issue or problem at hand.”[1][2] Other definitions incorporate aspects of “skepticism, judgement, free thinking, questioning, and understanding…”[3] or incorporate competencies that an informed citizen of an information society ought to possess to participate intelligently and actively in that society ~ sumber wikipedia

Trus gimana dong, biar punya skill melek informasi?

Hmmm…hmmm di sini aku ga dalam kapasitas ahli sih hahaha. Cuma bisa sharing dari pengalaman sendiri. Yang jelas, banyak baca bukan jaminan, karena sama aja boong kalo sumber-sumber bacaan kita udah termonopoli dan berasal dari satu sumber aja.  Membaca baru efektif kalau dari berbagai sumber, baik yang pro dan yang kontra. Kalau langkah pertama apa ya…mungkin menumbuhkan sikap kritis dulu, jangan telan mentah-mentah suatu informasi. Agak sulit terutama untuk kita yang terbiasa dari kecil dididik untuk patuh, nurut, dan tidak mempertanyakan kebijakan maupun dogma. Karena kita jadi ga terbiasa melihat ada yang ‘aneh’ dari informasi tersebut. Paling asyik emang punya gaya berpikir seperti anak-anak, karena anak-anak selalu mempertanyakan segala hal. “Mengapa langit biru, mengapa kalau malam langit jadi item, mengapa kucing kakinya 4, dlsb” hal-hal yang orang dewasa ga kepikiran untuk menanyakan! 😆

 

PS. Tentang klaim sabun cair tadi, aku lebih banyak nemu artikel mencerahkan dalam bahasa Inggris. Kesimpulannya adalah, memang kuman masih bisa hidup di sabun batangan, tapi jika kamu mencuci tangan pake sabun tersebut dengan cara yang benar (tangan digosok dengan sabun sampai berbusa dan bilas dengan air bersih) ga ditemukan kuman berbahaya di tangan. Jika ada himbuan yang sifatnya seperti lebih pro ke sabun cair, itu untuk situasi khusus seperti di ruang operasi atau dokter gigi. Kalau untuk situasi sehari-hari, sudah cukup. So? 😉

Iklan

Makin Banyak Tahu Bikin Hidup Engga Bisa Tenang, Makin Sedikit Tahu Bikin Hidup Lebih Bahagia ?

sad_cat.jpg

 

Akhir-akhir ini mengamati obrolan emak-emak, curhat mereka dan segala keluh kesah mereka. Selain obrolan di grup chat, juga mengamati seliweran opini dan curcolan di social media seperti twitter dan facebook. Awalnya dapat kesan, kenapa jadi emak-emak jaman sekarang sepertinya ribet banget dan dikit-dikit ngeluh ya? Selain ngeluh, gampang banget menemukan pro kontra antar mereka sendiri. Rasa-rasanya dulu pas kecil dan melihat ibu sendiri, kok engga ribet seperti sekarang.

Ada beberapa kemungkinan sih:

Jaman dulu ga ada media seperti twitter dan facebook, jadi kalau pengen curcol ya dikeluarkan lewat arisan/ngobrol di telpon, diary, atau ditelan sendiri.  Bisa aja toh, ibu-ibu kita dulu ya merasakan yang disuarakan emak-emak sekarang, tapi yang ngerti/tahu kalangan terbatas aja. Penyebaran informasinya ga secepat sekarang.

Kalau sekarang, rasanya semua informasi dijembreng di depan mata dan penyebarannya cepat sekali. Cukup share/RT dan dalam sekian detik, curcolan emak-emak dari Norwegia nyampe ke emak-emak di Bantul. Ditambah, dulu ibu-ibu kita terbatas sekali untuk mengakses informasi. Paling cepet lewat TV tapi itupun searah. Kalau lewat majalah atau koran, sebenarnya berita yang udah terjadi beberapa hari lalu.

Misalnya nih, mengamati ‘perang’ antara pro kontra ASI. Dari dulu sepertinya udah denger kampanye untuk ASI eksklusif, tapi baru sekarang denger istilah Nazi ASI gara-gara ada pihak yang gerah ama pro ASI tapi kampanye-nya judgemental dan hitam putih banget, hihihi.  Trus baca di blog ini, wow ternyata rame juga ya perdebatan antara jadi emak yang kerja di luar rumah atau di rumah aja. Mungkin dulu juga udah ada perdebatan serupa, minimal perdebatan batin dan omongan tetangga lah, hahaha.

Nah, pernah engga sih, timbul pikiran kalau sekarang ini rasanya jadi serba ribet dan ribut, gak seperti dulu. Terutama pas belum ada/belum kenal internet dan social media. Adanya internet dan media sosial memang membuat kita jadi lebih banyak tahu dibanding orang tua kita. Dari gizi hingga cara mengasuh anak. Hayoo siapa pernah debat ama orang tua karena perbedaan pengetahuan ini? 😆

Tapi anugerah ‘lebih banyak tahu’ ini rasanya bisa jadi bencana, terutama ketika mengalami information overload alias kebanjiran informasi. Bingung, bingung, bingung, dan eneg, seperti itu rasanya, kalau aku sih. :mrgreen:

Sampai di sini, muncul pertanyaan. Betulkan sedikit tahu/malah ga tahu apa-apa bisa membuat kita lebih bahagia (karena jadi lebih tenang) ? Sementara kalau banyak tahu, yang ada malah hidup enggak tenang, bingung, serba kuatir, serba takut, paranoid.

Enggak tahu apa-apa rasanya tenang, tapi situasi demikian sebenarnya menipu lho. Tahu-tahu di ujung ada kejadian yang bikin sesak di hati. Baru deh menyesal, “Andai sebelumnya saya tahu…”

Nah, pilih mana deh?

Kalau pilih ‘lebih banyak tahu’, udah punya antisipasi biar enggak jadi paranoid, pencemas, dan bingungan?

 

PS. Gara-gara nulis ini, jadi timbul pemikiran. Sebenarnya yang dianggap pintar itu jangan-jangan hanya karena ybs lebih duluan tahu. Jadi menjadi pintar bukan perkara IQ, tapi duluan mendapatkan informasi. Nah, ‘bahaya’ kalau sampai rebutan untuk jadi yang pertama tahu. Kenapa hayo? Siapa yang pernah misuhin berita di Detik atau TV One? Lho hubungannya apa? Ya itu, soal siapa yang ‘duluan’ tahu, rebutan untuk jadi yang pertama tahu. 😉

Preambule: Apologi dari Emak-emak

kucing kaget.jpg

 

Haloooo, jumpa lagi bersama mmmmemet di sini *disambit receh*

Astaga, ternyata postingan terakhirku adalah 3-4 bulan yang lalu! Terlaluh! Ngapain kamu ngaku-aku jadi blogger, nak, pulang aja sanah! 😆

Parah emang, padahal ada banyak bahan postingan. Yang paling seru tentu aja waktu menikah kemarin. Ada banyak yang bisa ditulis, dan harus saya tulis sebagai ucapan terimakasih. Yup, proses pernikahanku banyak banget dibantu para blogger yang menulis detail pernak-pernik pernikahan. Serius! So, sebagai ‘timbal balik’ udah diniatkan untuk menulis segala kerepotan menikah, siapa tahu bisa membantu yang lagi bingung stress nyiapin nikahan, hahaha.

Selain itu, entah kenapa, rasanya menulis di blog yang ini jadi beban. Beberapa tulisan terakhir, sifatnya serius. Trus jadi kebiasaan harus riset kecil-kecilan (baca banyak artikel untuk sumber referensi) biar lebih yakin dan ga asal omong. Jadilah males, karena waktu ‘selo’ juga ga banyak. Akhirnya ‘ngabur’ ke sini kalau lagi pengen nulis hal-hal yang terlintas dalam pikiran. Monggo lho, siapa yang kangen tulisanku dan mengira aku hiatus berbulan-bulan, sila tengok blog tumblr *sekalian promosi* :mrgreen:

Entah kenapa juga, jadi lebih sering menulis di blog yang satu itu karena merasa lebih lepas, lebih bebas. Ga pake mikir, ngalir aja nulisnya. Wah semestinya untuk blog yang ini juga demikian. Ada yang salah dong kalau sampai timbul perasaan menulis jadi beban, padahal aku suka banget menulis. Aku lebih cakap menulis daripada berbicara, wkwkwkwk.

Selain itu, perubahan status jadi ’emak’ alias istri, sehari-hari berkutat di dunia ‘dewasa’ (dulu taunya seneng-seneng aja, mikirin diri sendiri, dan jangka pendek) bikin niat untuk ‘menyegarkan’ blog ini lagi. Kedepannya mau lebih ‘feminin’ alias banyak berisi hal-hal yang berkaitan dengan dunia perempuan, keluarga, lingkungan sekitar. Maunya sih diseriusin, tapi sampai sekarang aja masih bingung membahasakan diri di blog ini, lebih nyaman ‘saya’ atau ‘aku’ ya? (asal bukan ‘gue/gw’ nanti diledekin abis-abisan sama suami).

Sepertinya tulisan singkat ini bisa jadi ‘pembukaan’ untuk melatih lagi sense menulis. Menulis itu harusnya seperti menari, mengalir dan luwes. Harus dilatih biar makin luwes. Next, aku mau posting tentang compassion di world farming, berangkat dari kesedihan pas baca twit serialnya @tidvrberjalan tentang #sengsu. Serem dan menyedihkan.

Jadi bagaimana, lebih nyaman membaca yang mana sih, pakai ‘saya’ atau ‘aku’? :mrgreen:

Update. Barusan mati listrik dan datang kesadaran baru. Salah satu yang bikin males update di blog ini adalah, karena aku merasa harus nambah gambar! Proses nambah gambar itu ga cepet lho. Memilah-milah mana yang sesuai dengan konten tulisannya, belum kalau harus diedit segala. Sementara di tumblr, enggak pakai gambar pun ga peduli. Bener-bener nulis dibikin gampang.

PS. Blog itu ternyata media yang efektif untuk mendokumentasikan transformasi cara berpikir dan gaya berbahasa ya. Beberapa malam yang lalu, aku malu banget baca-baca postingan lama di blog ini. Bahasanya engga banget, sampai diledekin suami “ilat jowo medhok ae ber-gue gue”. Sumpah malu banget. Plus aku dulu naif banget, serba didramatisasi juga. Astaga. Ini pasti efek waktu kecil bacaannya Candy-Candy, Miss Modern, Pop Corn, Rose of Versailles, dan Jendela Orpheus dihayati banget sampai termehek-mehek. 😛