Terusin Gaya Berpikir ala Anak-anak demi Dunia yang Lebih Baik!

Confused-Cat-Meme-1-610x457

 

Wkwkwkwk, judulnya malesin banget *mati ide* 😆

Rasanya skill yang musti dikembangkan di jaman gadget sekarang ini adalah information literacy/melek informasi deh. Alasannya, informasi sekarang ini sangat gampang diakses dibanding dulu-dulu, mau apa semua ada di ujung jempol. Beda banget ama (misal) jamanku SD, pengen tahu sesuatu harus baca buku. Jadi agak sulit kalau ga punya bukunya dan harus nyari. Di toko ternyata ga ada, maka harus ke perpus. Perpus terdekat ternyata juga ga punya bukunya. Harus ke Jakarta atau mana yang punya toko buku superkomplet. Belum duitnya dsb. Tanya orang tua, juga belum tentu mereka tahu.

Seperti hari ini, karena tiba-tiba penasaran dengan klaim iklan sabun cair cuci tangan Det**l yang  bilang kalau sabun cair lebih higienis dibanding sabun batang karena ga terkontaminasi kuman, jadi timbul tanya. Paling gampang cari jawaban ya ke Mbah Gugel. Tinggal ketik kata kunci, dan jebreeeet, semua informasi ada. Cuma yaaaa, tugas belum selesai sampai situ, karena ternyata banyak bener informasi yang menyesatkan. Ketika mengetik kata kunci berbahasa Indonesia, informasi yang tampil di halaman pertama didominasi oleh berita tak berimbang dan ga membahas segi ilmiahnya. Ketika gugling dengan kata kunci bahasa Inggris, informasinya lebih lengkap dan lebih berimbang. Memang jadinya harus membaca lebih banyak lagi untuk membandingkan dan konfirmasi isi artikel, beneran valid atau abal-abal berbau ilmiah.

 

Confused-Cat-Meme-1-610x457a

 

Ada banyak contoh mengapa melek informasi (definisinya menurutku adalah kritis terhadap isi informasi, kemauan untuk mencari tahu lebih dalam,  mampu memilah informasi mana yang valid, dan hati-hati menarik kesimpulan) sangat penting di masa sekarang. Menurutku, para ibu musti wajib punya skill ini. You see, seperti yang udah pernah kubahas, ibu-ibu pun turut dibanjiri informasi seputar parenting, kesehatan, kecantikan, dll. Banyak yang membungkus informasi tersebut dengan hal-hal menyeramkan. Kalau enggak melek informasi, bisa bayangin dong akibatnya. Informasi belum tentu bener, tapi karena disantap bulat-bulat jadi makin takut dan nurut. Bisa merugikan, baik materi maupun non materi.

Habisnya gimana ya, banyak bener informasi yang beredar dengan teknik menyebarkan ‘fear’. Satu teknik kuno, dari sejak agama diturunkan ke bumi *eh* dan sampai sekarang terbukti efektif. Di satu sisi, teknik tersebut bisa juga memunculkan respon ‘kontra’ alias lebih kritis. Satu sisi yang ga kalah bahaya adalah muncul respon ‘learning helplessly’. Contohnya, ada satu temen yang merasa artikel-artikel kesehatan yang dipublish satu situs berita isinya nakutin semua. Akhirnya dia jadi apatis, menerapkan gaya hidup enggak sehat, dan menutup rapat-rapat semua inderanya dari informasi. Alasannya, dia mau hidup tenang dan senang. Tapi apa ya bener gitu?

The United States National Forum on Information Literacy defines information literacy as ” … the ability to know when there is a need for information, to be able to identify, locate, evaluate, and effectively use that information for the issue or problem at hand.”[1][2] Other definitions incorporate aspects of “skepticism, judgement, free thinking, questioning, and understanding…”[3] or incorporate competencies that an informed citizen of an information society ought to possess to participate intelligently and actively in that society ~ sumber wikipedia

Trus gimana dong, biar punya skill melek informasi?

Hmmm…hmmm di sini aku ga dalam kapasitas ahli sih hahaha. Cuma bisa sharing dari pengalaman sendiri. Yang jelas, banyak baca bukan jaminan, karena sama aja boong kalo sumber-sumber bacaan kita udah termonopoli dan berasal dari satu sumber aja.  Membaca baru efektif kalau dari berbagai sumber, baik yang pro dan yang kontra. Kalau langkah pertama apa ya…mungkin menumbuhkan sikap kritis dulu, jangan telan mentah-mentah suatu informasi. Agak sulit terutama untuk kita yang terbiasa dari kecil dididik untuk patuh, nurut, dan tidak mempertanyakan kebijakan maupun dogma. Karena kita jadi ga terbiasa melihat ada yang ‘aneh’ dari informasi tersebut. Paling asyik emang punya gaya berpikir seperti anak-anak, karena anak-anak selalu mempertanyakan segala hal. “Mengapa langit biru, mengapa kalau malam langit jadi item, mengapa kucing kakinya 4, dlsb” hal-hal yang orang dewasa ga kepikiran untuk menanyakan! 😆

 

PS. Tentang klaim sabun cair tadi, aku lebih banyak nemu artikel mencerahkan dalam bahasa Inggris. Kesimpulannya adalah, memang kuman masih bisa hidup di sabun batangan, tapi jika kamu mencuci tangan pake sabun tersebut dengan cara yang benar (tangan digosok dengan sabun sampai berbusa dan bilas dengan air bersih) ga ditemukan kuman berbahaya di tangan. Jika ada himbuan yang sifatnya seperti lebih pro ke sabun cair, itu untuk situasi khusus seperti di ruang operasi atau dokter gigi. Kalau untuk situasi sehari-hari, sudah cukup. So? 😉

Iklan

Tentang Pendidikan Usia Dini : Playgroup untuk Semua

*illustrasinya sengaja milih cover albumnya Metallica, karena judul postingan ini emang terinspirasi dari judul album Metallica* 😆

 

Ide ini muncul pas lagi nyuci piring barusan. Latar belakangnya *ciyeh, macam skripsi aja, pake latar belakang*, karena menyaksikan sendiri salah satu penghuni kos yang rupanya single mom sekaligus wanita karier. Pekerjaannya menuntut dia untuk tidak berada dekat putrinya (masih 2 tahun), dari pagi hingga malam. Bahkan weekend seperti hari Sabtu begini juga masih harus bekerja. Si putri kecil ini tiap harinya diasuh oleh nanny-nya. Bukan baby sitter yang pakai seragam gitu-gitu. Karena sepanjang hari di kos, selain dengan nanny-nya, si kecil ini juga diasuh oleh penjaga-penjaga kos. Kadang ada anak kos yang juga ikutan ngajak main.

 

Nah dari sini saya melihat permasalahan. Si kecil ini lebih dari 8 jam diasuh oleh nanny-nya dan penjaga-penjaga kos, karena Mama-nya kerja. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana si kecil jadi demen lagu Iwak Peyek, ya karena ketularan pengasuh-pengasuhnya. Tontonannya sinetron. Dan yang parah adalah gaya pengasuhnya, yang kalau kaget punya kebiasaan latah menjerit nyebut alat reproduksi pria, atau kalau si kecil melakukan sesuatu yang dilarang, maka langsung dibentak.

 

Mereka baik sih, senang gitu kalau ngajak si kecil main bareng, sabar juga (kebetulan si kecil juga anteng sih, kecuali kalau makan lamaaaa banget, suka diemut. Kalau minum susu juga lama. Demen mainin makanan deh). Juga ga pernah ngajarin yang jorok-jorok/ga pantas (yang kebetulan aku lihat). Baik lah pokoknya.

 

Tapi teringat pelajaran dasar psikologi perkembangan. Balita/anak usia sampai 5 tahun adalah masa emas pembelajaran karena pada masa itu otaknya bagaikan spons, menyerap semua informasi. Pada masa itu, anak juga belajar lewat imitasi/mencontoh apa yang dia lihat di sekitarnya. Seorang guru besar di bidang kedokteran anak, pada waktu menghadiri talkshow-nya, mengatakan bahwa di usia batita maka otaknya sangat aktif membentuk sinapsis-sinapsis. Sehingga pada masa ini, adanya otak kedua sangat penting untuk perkembangan kognitifnya. Nah siapa otak kedua, ya mereka yang ada di sekitar si anak. Jadi bisa dibayangkan kalau yang berada di sekitar si bocah adalah pembantu, maka stimulusnya seperti apa.

 

Memang bukan harga mati sih, belajar adalah proses seumur hidup. Tapi sekali lagi, pendidikan anak usia dini itu sangat penting. Beruntunglah mereka/orang tua yang mampu menitipkan anaknya di playgroup, sementara ditinggal bekerja. Paling tidak, buah hatinya mendapat stimulasi yang dibutuhkan untuk fondasi ‘program’ otaknya. Tetapi, seberapa banyak sih, orang tua yang mampu menitipkan anak ke playgroup yang baik? Apalagi kita tahu kalau playgroup seperti itu, biasanya muahal luar biasa. Hampir mengalahkan biaya kuliah S1.

 

Bisa dilihat juga bahwa ini adalah sebuah peluang. Yap, apalagi di kota besar, dimana tuntutan hidup membuat kedua orang tua menjadi pekerja. Maka kebutuhan untuk menjaga anak sementara orangtuanya bekerja adalah keniscayaan. Sempet kepikiran, wah daripada diasuh dijaga oleh baby sitter yang paling lulusan sekolah menengah, gimana kalau baby sitternya lulusan S1 atau malah S2? Otak kedua yang mengasuh si buah hati sanggup memberi stimulus yang lebih kaya. Siapa yang mampu dan mau meng-hire baby sitter yang sangat kompeten dan well educated gitu? :mrgreen:

 

Tapi sebelum dilanjutkan menjadi sebuah peluang bisnis, hati kecil saya menyela. Katanya, pendidikan adalah hak semua kalangan. Kalau pendidikan yang baik hanya mampu dijangkau oleh mereka yang kaya, lantas gimana dengan nasib mereka kalangan menengah ke bawah? Makin ga mampu bersaing dengan yang kalangan atas dong?

 

Dari sini kemudian timbul ide. Andai ada gitu, yang mempunyai cukup waktu luang untuk mendirikan semacam tempat penitipan anak, yang terjangkau biayanya. Dan selama pengasuhan tersebut, si anak juga sekaligus diberi stimulus-stimulus untuk merangsang potensi otak si kecil. Supaya terjangkau, maka ‘guru-guru’ adalah voluntarian yang menguasai tentang psikologi khususnya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan.

 

Orang tua juga tidak lantas leha-leha lepas tanggung jawab, mentang-mentang anaknya bisa ditinggal gitu aja. Harus ada kewajiban yang sifatnya timbal balik. Orang tua juga harus belajar bahwa menjadi orang tua itu konsekwensinya termasuk mendidik, plus ada kewajiban sosial yang harus dibayarkan.

 

Jangan-jangan sudah ada ya, ide tersebut diwujudkan? Well, ide saya terbuka saja sih. Saya sadar, ga mampu mewujudkan sendirian. Tapi kalau ada yang mau mengadopsi ide tersebut juga silakan, dimatangkan lagi yang masih mentah ini. Saya percaya bahwa pendidikan adalah hak semua pihak.

 

Pilih Sinetron atau Si Bolang?

image

Cihuuyyy, jagat blogosphere rame lagiii :mrgreen:

Semenjak @nonadita posting opini dia tentang sinetron Putri Yang Ditukar, efeknya ternyata diluar dugaan. Banyak postingan yang merespon tulisan @nonadita tersebut, bahkan @PakGuru yang setahu saya lagi anteng-antengnya, jadi terusik untuk ikut menuliskan opininya juga.

Saya sendiri sih, sejak lama berdiri dipihak yang anti sinetron. Kalau saya menghakimi bahwa sinetron itu ‘busuk, sampah’ dll, itu karena mudharat sinetron lebih banyak daripada manfaatnya. Hihihi, pilihan kata barusan pasti akan membuat panas pihak-pihak yang pro sinetron atau mereka yang memposisikan oposisi anti sinetron tanpa perlu menjadi fans sinetron.

Begini lho. Sikap saya itu didasari beberapa alasan, ples didukung latar belakang ilmu psikologi yang saya pelajari.

Alasan pertama, menonton sinetron untuk tujuan hiburan, kalau kita main ibarat, maka nonton untuk makanan rohani/mental/jiwa. Seperti ungkapan blogger siapa, yang mengibaratkan bahwa sinetron seperti makanan instan macam mie instan. Maka saya juga bisa memandang, tayangan-tayangan ditelevisi layaknya santapan yang bersifat psikologis.

Pertanyaan: apakah anda akan terus menerus memberi makan jiwa/rohani anda dengan tayangan seperti sinetron?
Orang nonton berita saja bisa berakibat negatif untuk jiwa, seperti jadi marah, depresi, dll. Apalagi sinetron yang lebih memfokuskan konflik tak berkesudahan, cara berpikir yang instan untuk mengatasi konflik, dll. Memang, ada yang membela bahwa sinetron juga memuat nilai ‘kebajikan selalu menang melawan kebatilan’, tapi fokusnya apakah benar itu?

Yang saya lihat malah ‘Cinderella Effect’. Tokoh utama digambarkan selalu pasrah, tak punya determinasi kuat, resilience rendah, achievement juga tak jelas, sikap dan komunikasi asertif apalagi. Yang ada malah, menunggu ditolong pihak lain, alih-alih asertif malah bersikap ala keset-nya 7 Habits.
Manusia Indonesia, secara umum banyak digerakkan oleh motivasi eksternal. Karena itu bisa dipahami, bahkan untuk sadar lalu lintas harus dipaksa lewat hukum/punishment, jarang sekali yang muncul karena kesadaran sendiri alias motivasi internal.

Nilai-nilai seperti inikah yang akan menjadi konsumsi anda?

Alasan kedua. Saya mempunyai pilihan. Sebagai manusia dengan kehendak bebas, saya bebas memilih. Selain sinetron, masih banyak kok alternatif tontonan yang lebih baik sebagai makanan jiwa. Saya tidak langganan tv kabel, jika anda menduga pilihan saya adalah channel NatGeo, Discovery Channel, atau HBO. Alternatif saya ya tv nasional dan tv lokal. Dan percayalah, selain sinetron masih banyak tayangan lain yang lebih bagus untuk jiwa. Mungkin yang penonton tv perlukan adalah tv guide (bukan rating, tapi ulasan atau review) dan promosi.

Misal di trans7 dari jam 12.30 – 17.00 full tayangan edutainment keluarga. Dari Si Bolang, Laptop si Unyil, Cita-citaku, Koki Cilik, Dunia Fauna, Jejak Petualang, Kisah Si Gundul, dll.
Kalau jam 9.30 – 12.30, bisa stel channel trans7, transTV, antv, global, metro, sila ganti-ganti. Dijamin tanpa sinetron dan full edutainment. Dari pengetahuan untuk anak, informasi kesehatan, keluarga, perempuan, hingga kuliner dan jalan-jalan.

Nah untuk jam prime time 18.00 – 21.00 memang lebih sedikit alternatif edutainment. Saya sendiri lebih memilih on the spot-nya trans7. Kadang antv menayangkan ripley’s believe it or not. Atau metrotv yang menayangkan feature. Atau kalau tidak, saya ganti ke channel tv lokal seperti rbtv, jogjatv, aditv, bahkan tvri. Tayangannya mulai dari kuliner lokal, jalan-jalan lokal, seni tradisional (jogja tv sering memutar folksong melayu hingga banyumasan), sampai talkshow.

Tetapi jam-jam segitu bukannya jam belajar ya? Saran saya sih, jika anak anda belajar, anda sebagai orang tua mencontohkan diri dengan mematikan tv dan melakukan kegiatan lain, misal membaca. Jadi anak-anak merasa orangtuanya bersikap konsisten, tidak sekadar jadi mandor perintah ini itu tapi sendirinya maunya cari hiburan.

Edutainment yang saya sebut diatas, menurut saya memuat lebih banyak nilai-nilai positif. Seperti cinta alam, lingkungan, dan binatang, persahabatan, menghargai perbedaan (si bolang dan unyil, setiap hari menampilkan anak-anak dari temanggung sampai kalimantan), wiraswasta (tayangan cita-citaku menampilkan potensi ekonomis dari hal-hal disekitar kita, seperti bebek, buah mengkudu, labu siam, dll), mengenal kekayaan & keragaman nusantara (bhinneka tunggal ika banget deh), dll.

Jadi saya merasa sayang kalau hanya saya saja yang belajar dan menikmati sendiri. Apalagi buat keluarga dan keponakan, untuk mereka, saya dorong mereka belajar nilai-nilai tersebut secara fun.

Alasan ketiga, sudah banyak penelitian tentang televisi dan acaranya dan dampaknya secara psikologis. Silakan dicari dijurnal juga, bahwa menonton bukanlah proses yang sederhana. Karena itu sebuah tontonan kekerasan bisa berdampak kepada penontonnya.

Jika saya ingin memberi jiwa saya, santapan yang menyehatkan, itu pilihan saya. Jika saya ingin orang-orang disekitar saya ikut merasakan santapan jiwa yang menyehatkan, demi kesehatan jiwanya, maka saya berupaya untuk memberi himbauan dan penjelasan, khususnya kepada anak-anak. Kalau untuk dewasa, pilihan ada ditangan masing-masing sih.

Seperti ibarat makanan. Kalau masih anak-anak, dididik dan dipilihkan makanan bernutrisi seperti sayuran segar, susu, dll. Kalau yang sudah dewasa, kalau sudah diingatkan bahaya kolestrol hipertensi dll tapi masih memilih lemak, makanan instan, rokok, dll ya terserah sih.

Terakhir, saya sebenarnya agak-agak gimana gitu dengan polemik sinetron ini. Ya tidak apa-apa sih, demi proses edukasi/mencerdaskan masyarakat *tsaaahhh*.
Tapi andai waktu rame-rame kasus ahmadiyah, temanggung, dll kekerasan karena dipicu perbedaan, kita sesama blogger bisa segempita ini untuk menaikkan awareness, khan gimana gitu.  🙂

Notes.
Kemarin Selasa, sempat berdiskusi dengan @hotradero dll ditwitter. Kesimpulan (sementara) saya, masih kuatnya dominasi sinetron sebagai pilihan hiburan keluarga, sepertinya karena banyak yang belum tahu ada alternatif lain. Karena itu seyogyanya, selain mengkritik juga sekaligus mempromosikan tontonan alternatif tersebut.

Selain itu, sudah agak lama saya mencari jika tayangan macam Si Bolang diproduksi dalam bentuk vcd. Jadi bisa ditonton kapan saja, dimana saja.
Semoga ada yang mendengar harapan saya dan syukur-syukur dikirimi gratisannya :mrgeen:

Note kedua, kalau mencermati komen-komennya, kok seperti ada kecenderungan, membenturkan dengan ‘aktivis socmed’. Ada yang menuduh socmed dan mereka yang kebetulan populer diranah socmed, dan mengoposisikan diri terhadap mereka.
Lhaaaa…mo cari musuh atau gimana?

Tidak Semua Yang Menikah itu Pemberani

image

Valentine 2011 ini mendapati dua kabar gembira. Pasutri yang dua-duanya teman, mengabari bahwa sang istri hamil anak pertama. Kedua, seorang teman mengabari bahwa akhir April, akan menikah dengan pria yang telah mendampinginya untuk beberapa waktu ini. Diantara banjir ucapan selamat, ‘quote’ dari mas @imanbrotoseno ini membuat saya berpikir dan melahirkan postingan ini.

Tepatnya yang dikatakan mas Iman adalah sebagai berikut:

Hanya orang orang luar biasa yg berani mengambil komitmen ke perkawinan

Menurut saya itu benar. Terutama bagi mereka yang menyadari betul makna perkawinan. Well, tidak semua orang yang memutuskan untuk menikah adalah orang yang luar biasa dan pemberani. Apalagi mereka yang memutuskan menikah karena alasan-alasan yang bagi saya kurang kuat. Seperti, untuk mengejar status, karena tekanan orang lain/lingkungannya, karena ‘harus’ (bagi saya, menikah itu bukan keharusan, tapi pilihan), dll.

Menikah adalah keputusan yang berimplikasi besar dalam hidup seseorang. Ketika seseorang menikah, dia tidak lagi sendiri, tapi bersama. Konsekwensinya, salah satunya adalah ego yang mungkin saling bertabrakan. Selain itu, kita mungkin akan berubah dalam menjalani proses pernikahan, seperti juga pasangan yang mungkin juga berubah. Jadi dalam kehidupan pernikahan, kita dituntut untuk selalu belajar dan mengenali pasangan. Mengerti. Memahami.

Kebahagiaan bukan tujuan dalam pernikahan. Jika ada yang beralasan menikah karena ingin bahagia, itu nonsense. Karena dalam pernikahan merupakan proses belajar yang tiada henti. Ketika dia merasa tidak bahagia, lalu apa? Berhenti? Lalu mengejar kebahagiaan yang lain lagi?

Itulah mengapa, saya setuju bahwa mereka yang memutuskan untuk menikah dengan penuh Kesadaran (sengaja dengan huruf kapital, karena tidak sekadar ‘sadar’ secara kognitif, tapi proses spiritual) maka saya menyebut mereka sebagai orang-orang pemberani. Saya salut. Kagum.

NOTED.
Mereka yang lelah untuk meneruskan proses pembelajaran, bukanlah individu gagal. Itu ‘hanya’ sebuah pilihan. Dan saya sangat yakin, pilihan itupun juga sebuah proses belajar. Hei, seperti tagline blog saya, hidup itu untuk belajar dan bercinta, bukan?

Lebih Mudah Mengajarkan Sex Education pada Anak daripada Mengajarkan Spiritual

Beberapa hari lalu, saya sedang mendampingi keponakan saya yang berumur lima tahun nonton televisi. Televisi lokal, kepunyaan ormas keagamaan yang cukup besar dan berskala nasional. Waktu itu acaranya menyiarkan boneka animasi, kisah Nabi Luth, Sodom dan Gomorah. Awalnya saya tidak terlalu sadar apa yang mereka tonton, karena berpikir acara animasi dan kisahnya mengandung muatan agama. Tetapi sejurus kemudian saya tersadar, hei ini kisah tentang Sodom Gomorah, umat Nabi Luth yang diazab Tuhan karena mereka lebih memilih menjadi homoseksual.

Yang saya pikirkan kalau nanti ponakan saya bertanya-tanya tentang apa itu homoseksual. Saya berpikir keras mencari bahasa yang sesuai untuk anak lima tahun, untuk menjelaskan apa itu homoseksual.

Ternyata, yang mereka tanyakan malah lain. Mereka lebih tertarik dengan adegan penghukuman, ketika kaum Sodom Gomorah diazab. Dan pertanyaan Lila, membuat saya terhenyak, “Tante, itu mereka kok dilempari batu kenapa Tante? Kenapa kok lehernya putus, Tante?” (pas ada visualisasi kepala tertimpa batu dan putus, kepalanya jatuh menggelinding).

Saya terhenyak, bingung menjawabnya. Mau menjawab, ‘mereka dihujani batu karena mereka dihukum oleh Tuhan’ kok hati nurani saya tidak setuju. Saya kok tidak ingin mengenalkan Tuhan yang Maha Penghukum (karena sesungguhnya Ia Maha Cinta dan Maha Pengampun) kepada anak-anak. Saya tidak ingin mengenalkan konsep hukuman dan dosa dalam usia dini, karena saya tidak ingin ponakan saya diajarkan rasa takut kepada Tuhannya. Saya ragu, bimbang, bingung!

Ada alasan tersendiri, mengapa saya enggan mengajarkan (?) konsep tentang hukuman Tuhan dan kaitannya dengan dosa kepada anak-anak. Saya tidak ingin menanamkan ketakutan/rasa takut pada mereka sejak dini. Dari apa yang saya yakini, manusia sudah terlalu lama, dalam kurun ribuan tahun, didoktrin oleh rasa takut terhadap Yang Maha Pencipta. Rasa takut yang turun temurun itu menjelma dalam ingatan kolektif, muncul menjadi rasa takut kolektif. Padahal, rasa takut itu (bisa jadi) adalah motivasi mendasar orang dalam merespon/bereaksi/bertingkah laku. Jika mereka dalam memandang segala sesuatunya sudah diberi bingkai ‘fear’ maka perilaku yang tercetus pun didasari oleh rasa takut tersebut.

Misalnya, contoh paling gampang. Menimbun kekayaan pada umumnya didorong oleh kekhawatiran akan ketidakamanan finansial. Takut dan khawatir bahwa kehidupannya tidak terjamin. Perilaku yang muncul bisa korupsi, pelit, tamak, etc.

Contoh lain, posesif. Biasanya didorong oleh rasa takut kehilangan/takut disakiti, dll. Perilaku yang muncul bisa berbentuk over protektif, penuntut, dll. Benci juga didasari oleh rasa takut. Misal, perilaku rasial, diskriminatif, iri, dsb sebenarnya karena ybs takut jika orang lain katakanlah lebih hebat dari dirinya, takut jika dirinya akan didholimi oleh pihak lain yang lebih unggul, dsb.

Saya percaya, jika manusia terbebas dari rasa takut, maka ia akan memunculkan dirinya yang lebih otentik, genuine, asli dari dalam dirinya. Dan seperti yang saya percaya, lawan dari rasa takut bukan berani, tetapi cinta. Perilaku yang didasari oleh cinta, tentu sangat berbeda daripada perilaku yang didasari oleh rasa takut. Dan yang lebih penting lagi, jiwa yang penuh cinta adalah jiwa yang bebas, tak lagi dibelenggu rasa takut. Bayangkan, apa yang bisa dilakukan oleh jiwa yang bebas ini terhadap pihak lain?

Kembali ke soal ponakan. Ternyata menjelaskan tentang nilai-nilai spiritual sejak dini kepada anak-anak, tidaklah mudah. Jauh lebih mudah mengajarkan tentang ritual. Tetapi mengajarkan ritual semata kepada anak-anak maka hingga kelak mereka dewasa, berbahaya. Yang tertanam nantinya adalah dogma/doktrin. Dogma/doktrin bukan landasan yang kokoh bagi keimanan/kepercayaan. Bagi saya sudah cukup mengajarkan dogma kepada anak-anak. Generasi mendatang harus lebih baik dalam pemahaman beragama daripada generasi sebelumnya.

Sayangnya, yang saya lihat masih sedikit orang tua yang sadar akan hal ini. Bisa jadi, karena dari diri kita pun juga belum menyadarinya. Hal seperti ini tidak seperti kecemasan tentang cara mendidik tentang seks kepada anak-anak. Pendidikan seks, lebih mudah dibayangkan daripada pendidikan tentang spiritualitas. Dan wajar saja, jika kita lebih menyadari apa yang mudah dibayangkan daripada yang sulit dibayangkan.

dongeng yang mengerikan

Beberapa bulan yang lalu, saat ada pameran buku di Jogjakarta, saya sempatkan memborong beberapa buku. Salah satunya adalah Kumpulan Dongeng Perrault terbitan Gramedia. Niatnya sih sebagai kado untuk si kembar, ponakan tercinta.

Sampai rumah, kebiasaan saya tiap kali membeli buku adalah speed-reading sebelum membacanya lagi lebih cermat. Begitu juga dengan buku Kumpulan Dongeng tersebut. Pas speed reading itu, saya menemukan hal yang janggal.

Oia, bagi yang asing dengan dongeng-dongeng Perrault, mungkin kisah-kisah seperti Thumbelina atau Si Kecil Bujari atau Kucing Bersepatu Boot, pernah mendengar.

Apa ? Belum ? Hahhhhhhhhh….kemana aja lu, dunia…

Bagaimana dengan dongeng Putri Tidur dan Cinderella ?

Kalau yang terakhir masih belum familiar juga, keterlaluan !!! :mrgreen:

Ya, kita lebih akrab dengan dongeng-dongeng tersebut daripada penarangnya. Saya sendiri sedari kecil lumayan akrab dengan dongeng-dongeng tersebut. Hampir semuanya bukan karena didongengi tetapi karena bacaan. Saya masih ingat betul, buku dongeng pertama saya saat masih TK atau SD kelas satu ya, Putri Tidur. Tipis hanya beberapa halaman, full color, dengan ilustrasi khas Disney.

Kemudian mulai berkenalan dengan Cinderella, Thumbelina, Gadis Korek Api, Gadis Bertopi Merah, Putri Salju, Jack dan Kacang Ajaib, dll beserta dengan cerita rakyat dan kisah-kisah keagamaan, seperti Rowo Pening, Kisah Tangkuban Perahu, Lutung Kasarung, Kisah 9 Wali, Kisah Sahabat Nabi, dll.

Kembali ke buku yang saya beli. Jadi, saya menemukan sesuatu yang janggal, padahal baru di kisah pertama, Putri yang Tidur Seratus Tahun (Putri Tidur). Kejanggalan pertama, oke, tentang terjemahan yang tidak cermat, sehingga bingung mengartikan dia atau -nya itu siapa.

Kejanggalan yang kedua mengenai jalan cerita yang menurut saya : SADIS DAN TIDAK MASUK AKAL.

Kisah Putri Tidur yang saya tahu dahulu, berakhir ketika Sang Pangeran mengecup Sang Putri dan Sang Putri terbangun. Lalu mereka menikah dan hidup bahagia. Ternyata kisah aslinya tidak berakhir sampai di situ.

Diceritakan, setelah Pangeran dan Putri menikah, ternyata orang tua Sang Pangeran bermasalah. Ibu Sang Pangeran adalah raksasa yang suka makan daging anak kecil, sedangkan ayahnya mengawini raksasa tersebut karena kekayaannya.

Suatu ketika, Ibu Mertua tersebut ingin makan daging cucu-cucunya. Walaupun berhasil dikibuli oleh tukang masak, tapi pada akhirnya tetap ketahuan oleh Ibu Mertua kanibal tersebut. Karena marah, maka menantu beserta cucu-cucunya beserta juru masak tersebut, dihukum dengan dicemplungkan ke ember yang penuh binatang berbisa. Untung, suaminya tiba-tiba muncul, dan mertua kanibal tersebut melemparkan diri ke ember tersebut dan mati.

. . . . . . . . . . . . .

Coba perhatikan. Katanya dongeng untuk anak tapi isinya kok kekerasan. Belum lagi, kalau menggambarkan perasaan jatuh cinta. Selalu berkisar ke masalah fisik. Pangeran yang jatuh cinta seketika karena Putri yang cantik jelita, kulit mulus kemerahan, dan berusia sekitr 15 tahun !!! Pedofil macam apa ini ???

Kisah-kisah berikut semakin membuat bulu kuduk saya meremang, gelisah, menggelinjang. Misal pada kisah si kecil Bujari. Ini teryata berbeda dengan kisah Thumbelina, si Putri Jempol (yang sukses membuat saya selalu berimajinasi bagaimana rasanya tinggal di daun teratai, tidur berselimutkan kelopak mawar dan minum dari tetes embun).

Si Kecil Bujari ini mengisahkan tentang si bungsu dari sekian bersaudara, dan yang mengalami kelainan. Tubuhnya hanya sebesar ibu jari. Sudah begitu, keluarganya dililit oleh kemiskinan, hingga suatu saat, orang tua mereka mempunyai rencana jahat untuk membuang anak-anaknya ke hutan.

Singkat cerita, ketika mereka berhasil dibuang ke hutan oleh orang tuanya, justru si Bujari lah yang menjadi pemimpin bagi kakak-kakaknya berkat kecerdikannya. Petualangan mereka menyelamatkan diri membawa mereka ke rumah seorang raksasa yang gemar makan daging manusia. Untungnya, mereka dilindungi oleh istri raksasa yang baik dan tidak ingin suaminya memakan anak-anak malang tersebut.

Berikut cuplikannya :

Raksasa tersebut mempunyai tujuh anak-anak perempuan yang masih kecil. Wajah mereka kemerahan, karena mereka juga sudah mulai menyukai daging mentah. Hidung mereka bengkok, mulut mereka lebar, dengan gigi-gigi panjang, runcing, dan renggang. Meski belum menjadi sekejam ayahnya, anak-anak itu gemar sekali mengisap darah manusia.

Cuplikan berikutnya :

Sambil berkata demikian, dia (raksasa – red.) lalu memotong leher ketujuh anaknya sendiri. Merasa puas dengan pekerjaannya, dia kembali mendengkur di samping istrinya. Dst…

Saya seperti membaca kisah horror atau kisah kriminal, alih-alih dongeng untuk anak-anak. Padahal ini dongeng klasik yang sudah puluhan (ratusan ?) tahun. Saya membayangkan, jika dongeng ini difilmkan, pasti klasifikasinya untuk dewasa, karena banyaknya adegan kekerasan dan darah.

Selain adegan kekerasan, saya juga menemukan banyak sekali nilai-nilai yang mengajarkan budaya instant alias tidak menghargai proses. Misal pada kisah Kucing Bersepatu Lars. Disini, si Yatim pemilik kucing berhasil kaya raya dan menjadi menantu raja karena tipu muslihat Si Kucing.

Juga penekanan pada hal-hal yang bersifat materiil. Misal, kecantikan yang selalu membuat jatuh cinta. Eneg sekali membacanya, seorang Pangeran jatuh cinta tak berdaya hanya gara-gara melihat kecantikan seseorang.

Pada akhirnya buku ini tidak jadi saya berikan ke ponakan tercinta. Saya ga pengin mereka jadi ketakutan (beuh….paling ga setuju dengan metode pengasuhan anak dengan menakut-nakuti), jadi berprasangka terhadap orang yang kebetulan dikaruniai fisik tidak sempurna (di dongeng, tokoh antagonis selalu berujud fisik tak sempurna), hanya bermimpi dan pasif menunggu pangeran datang alih-alih menolong dirinya sendiri (Cinderella’s syndrome), hanya sibuk mengurusi kecantikan daripada belajar, dll. Mungkin baru akan saya berikan jika ponakan sudah dewasa…

perilaku jajan anak-anak, cermin pola asuh orang tuanya

Menjelang Idul Adha kemarin, pas saya belanja di superkampret eh hypermarket terbesar yang terletak di kota Jogja, saya ketemu hal menarik. Waktu itu lagi antri di kasir. Ga terlalu penuh, tapi sekalinya belanja, trolly-nya isi segambreng semua, sedangkan saya cuma beli susu pasteurisasi saja.

Nah, depan saya adalah ibu-ibu dengan belanjaan naujubillah banyaknya. Saya lirik angka yang tertera di kasir. 500an ribu sekian dan masih akan bertambah. Saya mengingat-ingat, tanggal berapa sih, waktu itu. Oke, karena saya bukan orang gajian, jadi ga tau apakah tanggal segitu pas gajian ato tidak.

Lalu saya melirik ke belanjaannya. Wooowww…..susu bubuk anak-anak merk enfakid ada banyak dus (lebih dari 5, keknya), 3 kardus aqua gelasan, berbagai barang kebutuhan, trus yang menarik perhatian adalah banyaknya jajanan untuk anak-anak macam oreo, jelly, taro, dsb.

Lantas saya melirik lagi ke arah suami dan anak-anak usia balita yang menunggu belanjaan keluarga rampung. Dari pakaian yang mereka kenakan, saya menilai bahwa mereka bukan keluarga snob, alias tipikal keluarga kebanyakan di Indonesia (hehe).

Saya pengen mengkritisi dua hal dari apa yang saya lihat waktu itu.

Pertama, soal susu bubuk yang dibeli ibu tersebut. Total belanjaan susu ga murah lhooo….untuk merk tersebut, keknya nyampe 200an rebu. Sudah begitu, untuk ibu yang ‘galak’ (oke, diksi galak sepertinya berlebihan, disiplin deh), sehari bisa habis 2-3 gelas susu. Means, sekardus 400gram susu, bisa untuk beberapa hari saja, paling pol seminggu deh.

Ibu tersebut pasti ga pernah ngeblog dan membaca postingan bahwa susu mahal dan murah adalah sama saja (nuduh).  :mrgreen:

Dia juga mustinya baca ini , ini,  dan bersikap lebih kritis terhadap tayangan televisi termasuk iklan-iklannya.

Anak-anak ibu tersebut sudah balita, mungkin sudah 4 tahun ke atas. Sepertinya akan lebih baik jika diberi susu cair seperti susu sapi murni ato susu UHT ato susu pasteurisasi (menurut pendapat ibu Lita).

Selain itu, mencermati produk belanjanya yang membeli ukup banyak jajanan tidak bernutrisi seperti oreo, jelly, dll, haduh, sungguh membuat saya prihatin. Tuduhan saya, ibu dan keluarga tersebut adalah korban iklan televisi. Saya membayangkan, kebanyakan waktunya dihabiskan di depan televisi. Sayang sekali.

Jajanan tersebut, dari pemahaman awam macam saya, tidak mengandung nutrisi. Oke, dia (produk tersebut) dalam iklannya mengklain, sudah menyertakan vitamin, mineral, dsb. Tapi, bagaimana dengan kandungan gula ? Kandungan garam ?

Saya benernya juga suka sih, ngemil produk-produk macam itu. Apalagi kalo belanja di superkampret dalam keadaan perut lapar. Godaan untuk membeli cemilan ga penting macam taro, oreo, dsb, cukup besar. Lalu perilaku ngemilnya juga ndak sehat, yaitu ketika lagi asik mantengin tipi, ato duduk doang di depan laptop. Wes, pokoknya ndak sehat deh, bikin obesitas lebih cepet. Karena itu, saya tahu banget, kalau citarasa yang lebih diutamakan di dalam cemilan tersebut. Citarasa manis dan asin. Hampir sama dengan nglamuti gula pasir dan royco.    😆

Sementara, di sekitar kita benernya masih banyak camilan tradisional yang jauh lebih menyehakan. Sifat alaminya membuat lebih banyak kandungan nutrisi dan serat (yang utama). Kenapa jajanan tradisional makin ga ngetren di kalangan keluarga untuk dihidangkan sebagai camilan anak-anak ? Misal, pisang rebus, grontol, lupis, ubi-ubian yang bisa diolah berbagai macam, jagung rebus, kedelai rebus, etc.

grontol

*grontol, jajanan ndeso, terbua dari jagung tua yang udah diklocop dan kemudian direbus*

Beberapa hari ini, saya kok pengen bernostalgia untuk nyemil jajanan tradisional grontol. Grontol adalah pipilan jagung yang direbus, kemudian disajikan dengan kelapa parut dan garam. Kalau mau manis, dicampur gula pasir.

Memang, dari segi penampilan, kurang menarik. Dari segi rasa juga kalah dengan berbagai jajanan modern tersebut. Nutrisinya pun, sebenarnya juga tidak terlalu tinggi. Tapi dari pemikiran saya, jajanan ini kaya serat. Dan bagi ibu yang kreatif, grontol bisa diolah lagi dicampur sama apa kek, sehingga lebih bergizi. *belum bisa kasih ide*   :mrgreen:

Ketika saya makan di rumah, pembantu saya dan Nyokap komentar. Mereka jadi ingat masa kecilnya demi melihat grontol yang saya makan. Katanya, jaman mereka kecil dulu, cemilan ya sebangsa seperti itu. Misal gembili, ketela pohon, dan ubi-ubian sejenisnya, yang diolah macam-macam dari dikukus doang sampe dibikin tiwul. Tidak ada yang namanya jajanan seperti yang ada sekarang ini.

ibu-penjual-jajanan-tradisional

ngladeni-lupi

ngladeni-lupis2

*ibu penjual jajanan grontol, ketan ireng, dan lupis di pasar kranggan. sayangnya, gula jawa alias juruh yang dimasak beliau, keknya udah dicampur apa gitu, jadi krasa pait kalo ketelen. lupisnya juga ga menul-menul. errrr…..problema pelaku ekonomi mikro yang kurang sadar dengan kesehatan* 🙄       *duh OOT*

Kedua hal yang berbeda tersebut, membuat saya mengasumsikan, ada hubungan antara pola jajan anak-anak dan perilaku parenting orang tua.  Begini, hipotesa saya adalah, orang tua yang cenderung permisif, maka anak-anaknya suka sekali jajan cemilan-cemilan yang mereka tonton di telivisi (korban iklan televisi). Orang tua seperti itu cenderung kurang aware dengan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak-anaknya. Misal seperti tayangan televisi yang kian hari kian parah, mereka cenderung kurang menyadari bahayanya. Asal anak mereka anteng, ndak masalah. Selain itu, orang tua juga cenderung kurang kritis.

Namanya juga hipotesa, jadi belum dibuktikan lewat penelitian   😆

*Mungkin ada yang berminat untuk menjadikan topik spkripsi ?* 😉

ps. Postingan terkait asumsi saya mengenai perilaku jajan anak-anak dan perilaku konumtif.

ps2. kalo ada yang mo nyari lopis enak di pasar kranggan, saya siap mengantar 😛