Makan untuk Kebutuhan atau untuk Kesenangan?

Memperhatikan cerita teman-teman terutama tentang kondisi kesehatannya, terkadang suka terkejut-kejut. Soalnya, makin sering terdengar, masih muda usia tapi udah sakit asam urat dan kolestrol, penyakit yang sebelumnya lebih sering menjangkiti orang sepuh. Kini usia 30an aja bisa asam urat, seperti semalam saya dengar tentang tetangga kamar kos.

Penasaran sekaligus khawatir dengan diri sendiri juga sih. Penasaran, kenapa kok di usia semuda itu udah asam urat dan menumpuk kolestrol tinggi. Khawatir, jangan-jangan saya juga, terutama kalau mengingat makanan apa aja yang udah masuk perut. Iyah, kadang suka kebablasan, terutama kalau lagi pas pulang Jogja. Rasanya pengen cobain semua kuliner yang dikangeni dan ga ketemu di Jakarta, dari soto sampai mangut lele.

Alhamdulillah sih, sampai sekarang belum (tidak, jangan sampai nanti jadi iya) merasakan keluhan asam urat, kolestrol atau sejenisnya. Sehari-hari sih makan ya biasa-biasa aja. Berhubung anak kos, ya makan yang hemat aja jadi lebih banyak di warteg atau masak sendiri (kalau ga masak sendiri). Godaan paling banyak ditemui kalau lagi bergaul, tapi untungnya bukan jenis sweet tooth jadi ga ngileran dengan berbagai cake, coklat, dsb. Godaan paling berat itu kalau berhadapan dengan gorengan, sate klathak, rawon, dkk. (–“)

Nah kalau melihat pola makan saya di masa lalu, mmm..mmmm…mungkin yang perlu dikhawatirkan riwayat gorengan 😐 Secara maniak banget ama tempe (goreng, terutama tempe goreng tepung dan mendoan, wuooh tahu isi juga!). Kalau daging-dagingan, sepertinya ga terlalu sering.

Dari perenungan, sepertinya memang apa yang dijalankan di keluarga berpengaruh banget terhadap kebiasaan pola makan kita (yang akhirnya ngaruh ke kesehatan). Ini praduga aja sih. Karena walau mempunyai ibu yang sangat hobi dengan hasil laut yang berkolestrol tinggi (cumi, kepiting, kerang, udang) dan jeroan, tetapi bapak dari sejak saya SD, sudah membatasi asupan daging merah dan unggas. Apalagi jeroan, bisa dibilang sangat jarang. Paling kami ketemu jeroan dan yang enak-enak ‘haram’ itu kalau makan di luar. Tapi makan di luar juga jarang banget, karena bapak ibu dua-duanya jenis yang ga suka jajan. Walhasil lebih sering makan di rumah, makan masakan rumah.

Nah apakah itu yang membuat riwayat kesehatan saya -alhamdulillah- jauh dari asam urat, kolestrol, diabetes, dsb? Entahlah. Sampai sekarang saya juga ga ada pantangan jenis makanan tertentu, tapi saya suka diet. Diet dalam arti, menjalani pola makan sehat, lebih banyak sayur dan menjauhi lemak jahat, gula, dan sodium. Efek positifnya, selain kesehatan, lingkar tubuh juga ga terlalu melar (mengingat aktivitas sekarang lebih banyak duduk, nah ini lebih mengkhawatirkan saya), hemat (yeah, kalau lagi nongkrong di kafe, yang jadi pilihan saya biasanya malah yang harganya murah), dan sampai sekarang ga ada pantangan makanan. Yeah!

Secara pribadi sih, suka heran dan prihatin kalau ada yang mengolok-olok tipe seperti saya. Dibilang ga menikmati hidup karena makan aja dibatasi. Lha, daripada situ, dipolke sekarang tapi 5 tahun lagi, serba susah kalau mau makan, lha apa-apa ga boleh. Kalau nekat ya alamat masuk rumah sakit atau ngeluh-ngeluh tegang di belakang leher dsb.

Sebenarnya isu utamanya adalah mengendalikan keinginan. Antara apa yang dibutuhkan tubuh dan diinginkan lidah. Untuk ini saya mengacungkan 4 jempol untuk Jada Pinkett Smith, bojonya Will Smith. Di usianya yang udah 40an, tapi tubuhnya makin seksi dan ketika pakai bikini langsung bikin ngowoh, saking seperti pahatan indah. Dia bilang, di usianya yang makin tua, justru makin hati-hati dan dia beruntung karena dari sejak muda udah terdoktrin makan untuk nourishment, bukan untuk pleasure. Wakwaaww, itu berat lho, bisa mengkontrol keinginan seperti itu. Kelas begawan 😆

Well pada akhirnya tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri sendiri, apa yang dilakukan sekarang akan dipanen bertahun-tahun kemudian. Dan saya penginnya bertahun-tahun kemudian masih bebas bisa makan apa aja, ga keberatan tubuh so masih bisa beraktivitas dengan enteng, dan ga menyusahkan orang lain. Sesederhana itu aja.

Dicari : Mie Instan Cantik

Membaca-baca artikel gosip di media tentang perawatan kecantikan para seleb, emang bikin berdecak. Heran membayangkan besarnya uang yang mereka keluarkan, tetapi memaklumi ketika melihat wajah-wajah ayu dan body aduhai mejeng di majalah. Misal, budget Jennifer Aniston (43 tahun) untuk perawatan tubuh sebesar 6000 dollar, dan untuk perawatan wajah butuh 2000 dollar. Total setara dengan 80 juta per bulan. Tapi di usianya yang udah masuk hampir 45 tahun, Jen masih cantik dan seksi. Dari pemahaman tersebut, ga heran kalau semacam tertanam dalam benak kita, bahwa untuk menjadi cantik dan sexy itu butuh modal gede dan ga murah. Itu satu.

Dua, pemahaman tersebut juga melahirkan sikap serba instan. Jaman sekarang (now i sounds like an old man), menuntut serba cepat dan –jujur, memuja penampilan/bungkus. So, tak heran kalau denger keluhan cewe-cewe yang tidak puas dengan penampilan fisiknya, ingin mempunyai fisik seperti yang mereka idamkan, dengan secepat kilat.

Sebenarnya ini lucu, ironi buat aku. Mendengarkan mereka ngobrol dan keluar keluhan seperti, gendut dan pengen langsing, kulit kusam berjerawat pengen kulit yang bisa mulus glowing, rambut kasar bercabang pengen rambut halus sehat dan bersinar, dsb. Ironinya adalah, mereka ngomong mengeluh seperti itu, tapi sambil terus melakukan hal-hal seperti : makan makanan berlemak, kurang serat, full gula dan sodium, gaya hidup yang kurang gerak dan lebih suka bermalas-malasan di sofa/bed dengan gadget, tidak pernah/jarang membersihkan wajah sehabis dari bepergian atau ketika hendak tidur, tidak pernah/jarang mengoleskan sunscreen atau pelembab, dsb.

Paling bikin kejengkang adalah ketika kesimpulan dari keluhan-keluhan tersebut yaitu : keinginan adanya produk yang bisa membuat penampilan mereka berubah seketika. Jadi kalau pake pelembab, yang langsung mulus glowing. Kalau ada obat yang bikin timbangan langsung turun dan celana jeans ukuran 27 langsung muat. Dan ketika mereka menyadari bahwa produk-produk tersebut mahal, mereka kemudian berhenti berusaha. Rasanya seperti… pengen ngoclak-ngoclak kepala mereka biar nyadar.    😆

Aku pernah kok, mencoba usaha-usaha instan untuk langsing. Menjajal treatment pelangsingan yang menjanjikan lingkar bagian tubuh manapun akan menurun, angka di timbangan juga menurun. Menjadi langsing bukan tujuanku, tapi aku terobsesi untuk mempunyai tubuh yang sempurna seperti para model/seleb. Pada saat itu, pengin banget menurunkan lingkar paha. Rasanya masih minder dan belum puas dengan paha yang menurutku adalah paha gebug maling alias gede banget. Syukur-syukur bisa melangsingkan perut menjadi lebih slim lagi.

Akibatnya, selama lima kali aku merasakan penyiksaan ala klinik kecantikan. Badanku dibebat plastik dan selimut khusus selama sejam lebih. Selama dibebat itu, badan ga bisa bergerak. Panas, karena selimutnya memang bersuhu tinggi, yang konon untuk melumerkan lemak. Ditambah dibebat plastik yang katanya untuk menambah optimalisasi treatment. Selama sejam lebih, berbaring tak bisa bergerak, panas dan keringat mengalir sangat deras. Memang sih, dalam sekali treatment, angka ditimbangan langsung turun 1-2 kg. Tetapi itu semu. Karena yang bikin angka timbangan turun adalah banyaknya air yang keluar selama treatment. Pernah lho, sehabis treatment, aku dehidrasi lumayan. Langsung nggliyeng, pusing berat, ingin muntah, dan hingga beberapa jam setelahnya rasanya lemas berat, ga kuat untuk dipakai jalan.

Kesimpulan dari pelajaran yang cukup mahal itu adalah : tidak, nggak akan pernah lagi merasakan treatment-treatment pelangsingan yang mengklaim membentuk tubuh sempurna dengan mudah dan instan.

Beberapa bulan lalu, kebetulan dapat undangan lunch dari Dove shampoo di restoran unik di daerah Kemang. Selain chit-chat tentang kecantikan/perawatan rambut (Ada Maia dan Jerry Pravda, hair stylist), rambut peserta lunch dites seberapa sehat. Jadi ada alat khusus yang memeriksa batang rambut. Hasilnya ditentukan dari angka yang keluar, skala dari nol (tidak ada kerusakan sama sekali) hingga 10 (rusak berat). Dari aku sendiri ketika mo dites rambut, ga ngarep banget.

jerry pravda dan maia, di acara lunch bareng dove di kemang

Sebelumnya pas chit-chat sempet ngobrol tentang rambut yang dismoothing, Jerry Pravda bilang kalo rambut yang abis di-smoothing itu udah pasti rusaknya. Karena proses smoothing rambut itu benar-benar mengubah secara drastis partikel rambut kita, apalagi ditambah dengan proses ironing dengan suhu tinggi, bahan-bahan kimia. Waaa…benar-benar deh. Mana rambutku sebelum di-smoothing aja, emang kering banget. Ga sampe bercabang sih, tapi memang keriing. Gak pernah perawatan di salon juga, seperti creambath, hairspa gitu, juarang bianget. Tiga bulan sekali belum tentu. Setahun mungkin sekali dua kali. Terus ketika peserta lunch yang lain dites, tercatat angka terendah adalah tiga.

Ketika giliran rambutku diperiksa, SURPRISE!! Skala kerusakannya adalah SATU! Alias minimal sekali. Uwoooh bengong dong, kok bisa kenapa? Padahal habis di-smoothing, juarang banget perawatan di salon. Rupanya, kuncinya adalah kebiasaan yang kulakukan selama ini. Yep, biar ga pernah perawatan di salon, tapi aku rajin untuk keramas dan pake conditioner, lanjut ke pelembab rambut.

Selain itu, kebiasaan makanku juga berpengaruh. Sudah dua tahun ini menerapkan diet banyak sayur dan buah, mengurangi karbohidrat sederhana termasuk makanan yang banyak gula, mengurangi garam, dan selalu air putih.

Yang jelas, pengalaman sewaktu diundang lunch oleh Dove tersebut semakin menguatkan pemahamanku tentang konsep kecantikan. Ga ada yang namanya menjadi cantik dalam sekejap. Eh, ada ding, dengan bantuan make up 😛 Apa yang tampak di tubuh kita sekarang ini adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan bertahun-tahun sebelumnya. Hingga usia sekarang, banyak yang mengatakan bahwa kulitku bagus dan tidak berjerawat (ga butuh perawatan klinik-klinik ituh), well ini bukan hasil sekejap. Tapi hasil dari perawatan sejak SMU. Serius. Dan semua ga membutuhkan biaya gede, kok. Seumur-umur belum pernah ke klinik kecantikan, untuk facial di salon pun seumur-umur baru tiga kali.

Lihat saja koleksi perawatan tubuh dan wajah termasuk rambut di foto di bawah ini. Paling mahal adalah krim malam seharga 140an ribu. Rekor termahal untuk pelembab sehari-hari adalah serum seharga 130an ribu. Untuk perawatan tubuh, ada yang lain yang tidak tampak di foto, yaitu makanan yang banyak serat seperti buah dan sayur. Jadi siapa bilang, butuh duit banyak dan modal gede untuk mendapatkan penampilan oke?

The Plus Project

“Orang miskin dilarang ke rumah sakit” oleh Acheng Watanabe, dari blog kocak dan menggelitik “BlogSindiran”.

Beberapa bulan yang lalu, lupa bulan apa, tapi yang jelas sebelum aku muvon ke Jakarta bulan Juli 2011. Kalau tidak salah sekitar bulan Maret-April, aku didiagnosa terkena tumor jinak payudara. Alhamdulillah, bulan Mei aku menjalani operasi “ringan” dan sukses. Ringan, karena hanya berlangsung setengah jam, dan dalam dalam dua hari udah boleh pulang. Yang bikin nggliyeng itu efek obat biusnya. Dioperasi pagi pukul 6.30, siuman di kamar sekitar pukul 7, langsung mual-mabuk hingga siang/sore.   😆

Sudah lewat lebih dari 6 bulan pasca operasi, alhamdulillah baik-baik saja. Semoga sehat terus selamanya yah, doakan saya, amiin. Kuncinya adalah deteksi dini. Seriously, i mean it with my words. Sebagai orang yang pernah mengalami sendiri, jadi tahu bener gimana rasanya.

Sebenarnya, gejala tumor ini udah kerasa 2 tahun lalu. Waktu itu krasa ada benjolan di payudara, sewaktu ‘iseng’ melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). Jujur, waktu itu mulai merasa galau, ketika benjolan itu nggak hilang-hilang. Apalagi, makin lama benjolan itu makin terasa, dan sepertinya makin besar. Waduh, galaunya, masyaallah. Galau, puspas, cemas, resah, gelisah, takut, semua campur baur jadi satu. Yang aku lakukan pada masa-masa itu, sama seperti yang dilakukan kebanyakan orang lain, dipendam sendiri alih-alih periksa ke dokter. Alasannya, takut.

Hingga kemudian, mendengar kabar, teman masa SMU sedang di Jogja menjalani operasi tumor payudara. Pas njenguk bareng-bareng, eh lhoh kok ternyata ga cuma aku dan temen ini yang kena tumor, tapi ada satu lagi temen yang juga didiagnosa tumor. Kami semua bertiga, gejalanya beda-beda. Setelah mendengar sharing dua temanku ini, keberanianku mulai terkumpul untuk pergi ke dokter memeriksakan diri. Dan memang butuh beberapa kali konsultasi dan juga pemeriksaan laboratorium untuk bisa sampai ke kesimpulan diagnosa tumor jinak.

Well, sharing pengalaman tadi adalah sekelumit contoh nyata, bahwa deteksi dini dan pencegahan adalah kunci penting untuk menjaga kesehatan. Siapa yang tidak setuju bahwa kesehatan/menjadi sehat itu lebih enak-lebih baik daripada sakit? Kalau sakit, jangankan untuk beraktivitas, bahkan makan makanan yang kita suka pun jadi ga nikmat lagi, karena nafsu makan kita hilang. Atau malah jadi pantangan/larangan. Belum lagi materi yang dikeluarkan untuk kesembuhan, juga beban psikologis ketika kita merasa bosan atau tidak berdaya dengan penyakit yang bersarang di tubuh kita.

Yang aku herankan, semua orang setuju bahwa sehat itu lebih baik daripada sakit. Tetapi, tidak semua melakukan upaya untuk menjaga kesehatannya. Kesehatan itu memang anugerah, tapi bukan berarti lantas boleh ‘dihambur-hamburkan’. Harus dijaga juga dong lah. Lebih lucu lagi ketika ada orang yang mencemooh orang lain yang sedang menjaga kesehatannya, entah memang menjaga pola makan atau gimana lah, tapi malah di-demotivasi. Dibilang, tidak menikmati hidup lah, jangan serius-serius lah seperti orang tua, dan banyak lagi label. Malah bangga gitu, pamer, kalau sedang melakukan hal-hal yang dapat merusak kesehatannya. Lha maunya tu apa e? Sungguh saya gagal paham.

Oke, selain upaya individu, ada faktor eksternal lainnya yang berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. Maksudnya begini, kita yang di kota-kota besar saja, ketika sakit/bermasalah dengan kesehatan, malas untuk berkonsultasi dengan dokter, bagaimana dengan saudara kita yang di pedesaan? Apalagi ada data yang menyebutkan bahwa 70% masyarakat Indonesia tinggal di pedesaan. Kita yang di kota dan termasuk well-informed saja masih banyak miss dengan informasi kesehatan, apalagi yang masih di pedesaan dan akses terhadap informasi masih terbatas. Kalau kita yang well educated saja masih banyak yang percaya dengan mitos kesehatan dan pseudo-pop-science, bagaimana dengan masyarakat di pinggiran yang akses terhadap fasilitas kesehatan seperti rumah sakit saja susah.

Kalau banyak orang bilang, bahwa kesehatan itu mahal, yang benar adalah sakit itu mahal. Contoh ya, biaya untuk operasiku kemarin saja 10 juta lebih. Komponen kamar cuma sebagian kecil dari keseluruhan biaya. Paling besar adalah biaya obat dan tindakan operasi. Bayangkan jika masyarakat dari golongan kurang mampu mengalami sakit serius dan membutuhkan tindakan segera. Jangankan biaya, bahkan untuk ke rumah sakit saja harus menempuh puluhan kilometer. Walaupun kita sudah pernah mendengar program kesehatan dari pemerintah untuk membantu masyarakat menengah ke bawah, tapi realisasinya gimana? Kok masih sering mendengar orang miskin yang sulit untuk menjangkau akses kesehatan dan harus dibantu sumbangan dari dermawan.

Menurut sumber disini, sejumlah kelompok masyarakat yang minim akses terhadap layanan kesehatan, di antaranya:

a. Mereka yang tinggal di pedesaan

b. Mereka yang tinggal di remote area contoh: pulau kecil, pegunungan, hutan, dll.

c. Kalangan lanjut usia

d. Kalangan ekonomi menengah ke bawah

Berangkat dari keprihatinan tersebut, sekaligus karena udah pernah ngrasain sendiri, jadi kepikiran ga sih, apa yang bisa dilakukan untuk mengubah hal tersebut? Atau mungkin ada yang punya ide-ide terkait hal-hal di atas?  Kebetulan beberapa hari lalu sempat iseng nanya-nanya –melempar topik diskusi– ke twitter. Ternyata banyak juga yang punya ide-ide dan opini terkait tentang isu ini. Pas banget ama programnya Phillips dengan The “+” Project, yang bertujuan untuk mewujudkan hidup yang lebih sehat dan kota layak huni. Ada hadiah menarik untuk ide-ide terbaik yang terpilih. Kalau pembaca atau siapapun yang benar-benar concern dengan topik ini, tuliskan apa yang menjadi keprihatinanmu dan bagaimana solusinya. Ga perlu seorang ahli kesehatan atau sosiolog atau bagaimana, yang penting wujudkan kepedulian Anda dalam bentuk tulisan.

Kalau mau ikut, gampang banget caranya:

a. Daftarkan diri di website http://philips.co.id/plus

b. Pilih tantangan dan submit ringkasan ide tidak lebih dari 1000 kata. Jika ada, materi pendukung berupa foto atau video bisa ditambahkan.

c. Mekanisme kompetisi selengkapnya bisa dibaca di: http://www2.yourhealthandwellbeing.asia/indonesia/health-and-wellbeing-in-
indonesia/how-it-works

Oke, ditunggu hasil ide dan tulisannya yaaa….aku juga pengin ikutan ahhhhh ^_^

Hore, Saya Diet dan Sukses!

Judulnya seperti menawarkan produk MLM ya? 😕

😆

Berat badan selalu menjadi topik sensitif dikalangan perempuan, apalagi buat mereka yg merasa gemuk. Saya sendiri sebenarnya ga bermasalah dengan berat badan, tapi bermasalah dengan lemak berlebih didaerah 3P, perut, paha, pinggang, hehehe.

Gara-garanya membaca artikel dimajalah Prevention edisi bulan Juli. Disebutkan disitu, dalam dua minggu lemak diperut dan daerah bandel lainnya akan susut dalam 2 minggu dengan mengikuti diet south beach. Setelah membaca lebih lanjut, diklaim bahwa diet tersebut juga dapat menurunkan berat badan 4-6kg dalam 2 minggu. Penasaran dan skeptik, saya mulai gugling tentang apa itu south beach diet.

Setelah membaca beberapa situs tentang apa itu south beach diet, secara impulsif saya memutuskan menjalani diet tersebut. Motivasi awal untuk membuktikan, apa bener dalam 2 minggu bisa turun sampai 6 kg. Yang kedua, boleh deh menurunkan berat badan sedikit, kembali ke masa-masa 10 tahun lalu, melangsingkan perut buncit dan paha gebug maling, hahaha.

Jadilah selama 2 minggu saya pantang untuk menyantap daftar makanan yg termasuk larangan dalam south beach diet fase I. Saya ‘terpaksa’ memasak sendiri makanan saya, termasuk mengurangi keinginan/kebiasaan nongkrong di kafe. Itupun saya pun masih melakukan dosa-dosa yang dilarang Yang Mulia dr. Agatston, pencipta diet jenis ini. Dosa-dosa kecil itu misal, makan gorengan tahu-tempe (tapi gorengan masakan rumah kok, dan saya tahu bahwa minyaknya bagus, ga kilong-kilong yang berminyak banget) (halah pembenaran) 😆 , beberapa suap karbohidrat larangan spt nasi putih, roti tawar gandum, secuil puthu, sekerat roti, crackers. Juga buah pisang dan apel sebagai P3K ketika tidak ada avocado dan sayuran+daging/telur untuk dimakan (padahal buah masih dilarang).

Larangan lain selain lemak, karbohidrat terutama karbohidrat jahat, adalah gula, itu harom semua. Jadi mendadak saya punya kebiasaan baru kalo ke kafe, pesen teh tanpa gula sama sekali. Padahal dari balita, sumpah, saya ga doyan teh.

Yang saya santap selama dua minggu itu, sayuran berbagai jenis, daging tanpa lemak (dada ayam tanpa kulit & lemak, daging tanpa lemak, ikan) dan sumber protein nabati seperti tahu tempe. Sayuran itu selain dimasak ala tumis, gado-gado, pecel, atau sayur bening (walau kata dr. Tan penganut raw food sejati, sayur yang dimasak itu sia-sia, sampah, cuma dapet serat ga ada enzim). Atau kalo lagi males, sayuran mentah aja a la lalapan.

Untuk sumber protein hewani maupun nabati, bisa dimasak panggang oven, kukus, sop, atau campuran tumis. Dan satu lagi, telur. Ya, saya malah bebas makan telur.  Puji Tuhan, telur ini sungguh bermanfaat sekali bagi yang sedang diet, lapar, ga ada yang bisa dimakan (yang diperbolehkan) karena cara masaknya sungguh gampang. Tinggal bikin scramble egg dengan minyak zaitun/rice bran oil atau direbus. Untuk lebih jelasnya panduan tahapan south beach diet seperti apa bisa klik, disini.

Selain itu, karena kesibukan dan *agak malas ngegym* maka untuk olahraga saya usahakan untuk lebih aktif bergerak dimana saja. Entah jalan kaki, bersih-bersih rumah, nyikat kamar mandi. Pokoknya bergerak terus, sesuai fitrah kita.  Memang kurang sempurna sih, karena disarankan untuk melakukan workout seperti yang sudah diprogramkan dimajalah.

Setelah dua minggu, tepatnya Sabtu 17 Juli 2010, saya menimbang berat badan. Wow, saya cukup terkesima dengan hasilnya. Jika sebelumnya, berat badan saya ditimbang sekitar 52-54 kg (tergantung timbangannya hihi) pada saat ditimbang itu berat badan saya 47,5 kg! Wow, kembali ke masa SMU!

Selesai dari acara penimbangan itu, saya merenung mengenai apa yang saya lakukan selama dua minggu ini. Ada beberapa hal yang menjadi refleksi saya:

  1. Salah kaprah dalam diet: tujuan utama adalah ingin kurus/berat badan turun. Salah! Yang benar adalah untuk menjadi sehat dengan merubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Berat badan turun/menjadi langsing adalah bonus.
  2. Yang paling berat dalam diet adalah mengendalikan keinginan. Lapar selalu bisa dihandle. Tetapi yang namanya pengen, mungkin saja muncul pada saat kondisi kenyang. Apalagi yang kita diinginkan (gula, makanan berlemak, etc) belum tentu dibutuhkan tubuh. Jadi diet adalah tentang mengendalikan keinginan, bukan mengurangi porsi/puasa(*).
  3. Tentang mengendalikan keinginan. Walau ada idiom; what your resist, persist, tetapi dalam pengendalian keinginan ini tidak berarti me-resist keinginan kita. Resist dalam arti menolak, menahan, menahan, melawan. Itu mirip-mirip dengan denial, menyangkal. Pengendalian keinginan lebih seperti menyadari bahwa keinginan itu ada, tetapi tidak dituruti.

Ngaku aja memang ada keinginan untuk menyantap yang manis-manis, berlemak, etc, ngiler to de max terhadap cake, pie, pancake, donat, etc tapi tidak dituruti. Kalau dituruti tapi tahu porsinya yg cukup, misal cukup segigit saja. Pertanyaannya  when enough is enough?

Karena pengalaman terakhir saya, ketika diet fase I berakhir, pas saya melihat ada kue bolen Kartika Sari. Saya mengijinkan diri saya untuk menyantap satu. Tetapi habis satu biji, masih ingin lagi. Saya turuti lagi, jadilah makan dua. Eh ternyata saya jadi lapar mata, jadi pingin bolen lagi, pengen roti-roti manis dll. Aduuuh kenapa rasa ‘lapar’ saya malah makin menjadi kalau keinginan saya turuti ya? 😛

Ternyata pengalaman dua minggu kemaren tidak sebatas pengalaman fisik saja, tapi juga menyentuh ke aspek rohani *halah*. Tapi beneran loh. Maksudnya, karena poin nomer dua diatas jadi mikir, sepertinya kita memang perlu diet disegala bidang. Misal diet belanja. Nah ini, kelaparan akan shopping ini nyaris ndak ada kata kenyang. Selalu ingin lagi, lagi, lagi, lagi…

Juga diet bicara. Seringkali kita bicara terlalu banyak bicara, saking banyaknya sampai hal-hal yg ga perlu dibicarakan, bicara juga. Saking banyaknya berbicara sampai organ telinga jadi jarang dilatih intensif untuk mendengar.

Hehe, itu contoh saja sih. Refleksi atas diri sendiri.

Pada intinya, diet (yang benar) itu baik. Tidak usahlah orang yang sedang diet dipandang sebelah mata. Pengen sehat kok dilecehkan. Apalagi memandang super heran melihat piring makan berisi daun kenikir, kemangi, dan bayam mentah. Biasa aja tho, orang pengen sehat saja gitu lowh.

PS. Ada keuntungan lain dengan saya menjalankan diet south beach ini. Awalnya saya merasa ini diet mahal, krn untuk fase I, bahkan buah untuk cemilan saja ga boleh. Untuk memenuhi makan 6 kali sehari, menunya antara sayur dan dedagingan, telur, aduh itu mahal nek. Tetapi ternyata dalam prakteknya, saya malah lebih irit. Kenapa? Karena saya otomatis jadi ngerem keinginan untuk kekafe menikmati berbagai dessert, diganti dengan menyantap berbagai cemilan sehat (termasuk salad dengan dressing yg lebih sehat). Dan kalau memang butuh ketemu di kafe, saya cukup pesan teh tanpa gula 😆

Btw, kalau ingin berdiet apapun itu, saya sarankan untuk benar-benar mencari info lebih lanjut. Lebih baik lagi jika sambil berkonsultasi dengan ahli gizi dan atau dokter ahli.

(*) sebentar lagi ramadhan menjelang. Banyak disekitar kita, orang pada saat bulan puasa bukannya makin langsing tapi malah menggembil. Tanya kenapa? Karena tidak bisa mengendalikan keinginan! 😆