Kopi, Bir, dan Susu!

beer and coffee

 

Siapa dari pembaca blog ini yang punya akun twitter dan rajin buka timeline? Kalau iya, berapa kali dalam sehari Anda membaca postingan update status tentang kopi? Saya? Tiap hari dong, minimal tiap pagi, wkwkwk. Karena itulah tiba-tiba terinspirasi untuk bikin postingan ini. Postingan engga serius, sekadar lucu-lucuan karena jenuh nulis serius mulu. Sampe-sampe suami selalu komen tentang aku, “Dik, kamu itu terlalu serius.” Woke deh, kali ini aku posting yang engga serius ya!

Jadi berdasar pengamatanku terhadap kebiasaan orang nulis tentang minuman yang biasa dia minum, aku pun berduga-duga tentang karakter mereka. Kebetulan, penggemar kopi cukup mendominasi isi timeline-ku tentang kebiasaan ‘pengumuman’ minuman mereka. Berada di peringkat ke2 adalah penggemar bir. Mereka ini juga doyan nulis di twitter kalau lagi pengen atau lagi menikmati minuman kesukaannya.

Kalau dibikin deskripsi karakternya, kira-kira begini:

  1. Penggemar kopi: cenderung narsis dan agak lebay, walau dibungkus kata-kata puitis. Kabar baiknya, bisa jadi ia memang berbakat menulis puisi. Apalagi kalau mulai mendeskripsikan kopinya sebagai ‘beraroma earthy, dengan sentuhan rasa kayu yang cukup kuat, krema-nya menyembul keemasan dengan aroma dan pemandangan yang begitu sexy.” Wes ta, beneran dia berbakat berkata-kata atau terinspirasi Bondan Winarno. Sedikit mellow dan sentimentil, apalagi kalau udah sakaw kopi.
  2. Penggemar bir: Cenderung eksibisionis dan suka memberontak. Berprinsip yang dilarang itu biasanya malah nikmat. Kadang eksentrik di mata orang lain, dan suka tampil beda sih.
  3. Penggemar air putih: Agak-agak konservatif dan annoying kalau udah kumat kebiasaannya menularkan pola hidup sehat. Lebih sering membaca artikel kesehatan dibanding yang lain. Lebih suka berperan di balik layar dan kesan pertama adalah ia kalem. Kaya lembu. Dan bener sih, terutama untuk tipe sapi glonggongan, alias minum airnya boanyaaaaak, minimal 2 L sehari.
  4. Penggemar teh:  cenderung pemalu, ga suka berada di bawah sorotan. Menyukai hal-hal sederhana walau orangnya cenderung rumit macem penyajian teh Jepang. Kalau udah loyal, loyal banget dan cenderung keras kepala. Walau keliatan pendiam dan ga banyak bicara, jangan kaget begitu kasih dia kesempatan bicara untk hal yang dia suka, bakalan criwis.
  5. Penggemar susu : Down to earth. Gampang dibuat seneng. Musuh utamanya adalah mereka aliran penentang keras susu (sapi) untuk manusia.

 

Hahaha, ada yang protes? Gapapa, namanya juga postingan engga serius. Kalau ternyata ada yang bener, ya namanya juga psikoclok, meramal lewat minuman yang disuka. 😆 😆

 

Makin Banyak Tahu Bikin Hidup Engga Bisa Tenang, Makin Sedikit Tahu Bikin Hidup Lebih Bahagia ?

sad_cat.jpg

 

Akhir-akhir ini mengamati obrolan emak-emak, curhat mereka dan segala keluh kesah mereka. Selain obrolan di grup chat, juga mengamati seliweran opini dan curcolan di social media seperti twitter dan facebook. Awalnya dapat kesan, kenapa jadi emak-emak jaman sekarang sepertinya ribet banget dan dikit-dikit ngeluh ya? Selain ngeluh, gampang banget menemukan pro kontra antar mereka sendiri. Rasa-rasanya dulu pas kecil dan melihat ibu sendiri, kok engga ribet seperti sekarang.

Ada beberapa kemungkinan sih:

Jaman dulu ga ada media seperti twitter dan facebook, jadi kalau pengen curcol ya dikeluarkan lewat arisan/ngobrol di telpon, diary, atau ditelan sendiri.  Bisa aja toh, ibu-ibu kita dulu ya merasakan yang disuarakan emak-emak sekarang, tapi yang ngerti/tahu kalangan terbatas aja. Penyebaran informasinya ga secepat sekarang.

Kalau sekarang, rasanya semua informasi dijembreng di depan mata dan penyebarannya cepat sekali. Cukup share/RT dan dalam sekian detik, curcolan emak-emak dari Norwegia nyampe ke emak-emak di Bantul. Ditambah, dulu ibu-ibu kita terbatas sekali untuk mengakses informasi. Paling cepet lewat TV tapi itupun searah. Kalau lewat majalah atau koran, sebenarnya berita yang udah terjadi beberapa hari lalu.

Misalnya nih, mengamati ‘perang’ antara pro kontra ASI. Dari dulu sepertinya udah denger kampanye untuk ASI eksklusif, tapi baru sekarang denger istilah Nazi ASI gara-gara ada pihak yang gerah ama pro ASI tapi kampanye-nya judgemental dan hitam putih banget, hihihi.  Trus baca di blog ini, wow ternyata rame juga ya perdebatan antara jadi emak yang kerja di luar rumah atau di rumah aja. Mungkin dulu juga udah ada perdebatan serupa, minimal perdebatan batin dan omongan tetangga lah, hahaha.

Nah, pernah engga sih, timbul pikiran kalau sekarang ini rasanya jadi serba ribet dan ribut, gak seperti dulu. Terutama pas belum ada/belum kenal internet dan social media. Adanya internet dan media sosial memang membuat kita jadi lebih banyak tahu dibanding orang tua kita. Dari gizi hingga cara mengasuh anak. Hayoo siapa pernah debat ama orang tua karena perbedaan pengetahuan ini? 😆

Tapi anugerah ‘lebih banyak tahu’ ini rasanya bisa jadi bencana, terutama ketika mengalami information overload alias kebanjiran informasi. Bingung, bingung, bingung, dan eneg, seperti itu rasanya, kalau aku sih. :mrgreen:

Sampai di sini, muncul pertanyaan. Betulkan sedikit tahu/malah ga tahu apa-apa bisa membuat kita lebih bahagia (karena jadi lebih tenang) ? Sementara kalau banyak tahu, yang ada malah hidup enggak tenang, bingung, serba kuatir, serba takut, paranoid.

Enggak tahu apa-apa rasanya tenang, tapi situasi demikian sebenarnya menipu lho. Tahu-tahu di ujung ada kejadian yang bikin sesak di hati. Baru deh menyesal, “Andai sebelumnya saya tahu…”

Nah, pilih mana deh?

Kalau pilih ‘lebih banyak tahu’, udah punya antisipasi biar enggak jadi paranoid, pencemas, dan bingungan?

 

PS. Gara-gara nulis ini, jadi timbul pemikiran. Sebenarnya yang dianggap pintar itu jangan-jangan hanya karena ybs lebih duluan tahu. Jadi menjadi pintar bukan perkara IQ, tapi duluan mendapatkan informasi. Nah, ‘bahaya’ kalau sampai rebutan untuk jadi yang pertama tahu. Kenapa hayo? Siapa yang pernah misuhin berita di Detik atau TV One? Lho hubungannya apa? Ya itu, soal siapa yang ‘duluan’ tahu, rebutan untuk jadi yang pertama tahu. 😉

Preambule: Apologi dari Emak-emak

kucing kaget.jpg

 

Haloooo, jumpa lagi bersama mmmmemet di sini *disambit receh*

Astaga, ternyata postingan terakhirku adalah 3-4 bulan yang lalu! Terlaluh! Ngapain kamu ngaku-aku jadi blogger, nak, pulang aja sanah! 😆

Parah emang, padahal ada banyak bahan postingan. Yang paling seru tentu aja waktu menikah kemarin. Ada banyak yang bisa ditulis, dan harus saya tulis sebagai ucapan terimakasih. Yup, proses pernikahanku banyak banget dibantu para blogger yang menulis detail pernak-pernik pernikahan. Serius! So, sebagai ‘timbal balik’ udah diniatkan untuk menulis segala kerepotan menikah, siapa tahu bisa membantu yang lagi bingung stress nyiapin nikahan, hahaha.

Selain itu, entah kenapa, rasanya menulis di blog yang ini jadi beban. Beberapa tulisan terakhir, sifatnya serius. Trus jadi kebiasaan harus riset kecil-kecilan (baca banyak artikel untuk sumber referensi) biar lebih yakin dan ga asal omong. Jadilah males, karena waktu ‘selo’ juga ga banyak. Akhirnya ‘ngabur’ ke sini kalau lagi pengen nulis hal-hal yang terlintas dalam pikiran. Monggo lho, siapa yang kangen tulisanku dan mengira aku hiatus berbulan-bulan, sila tengok blog tumblr *sekalian promosi* :mrgreen:

Entah kenapa juga, jadi lebih sering menulis di blog yang satu itu karena merasa lebih lepas, lebih bebas. Ga pake mikir, ngalir aja nulisnya. Wah semestinya untuk blog yang ini juga demikian. Ada yang salah dong kalau sampai timbul perasaan menulis jadi beban, padahal aku suka banget menulis. Aku lebih cakap menulis daripada berbicara, wkwkwkwk.

Selain itu, perubahan status jadi ’emak’ alias istri, sehari-hari berkutat di dunia ‘dewasa’ (dulu taunya seneng-seneng aja, mikirin diri sendiri, dan jangka pendek) bikin niat untuk ‘menyegarkan’ blog ini lagi. Kedepannya mau lebih ‘feminin’ alias banyak berisi hal-hal yang berkaitan dengan dunia perempuan, keluarga, lingkungan sekitar. Maunya sih diseriusin, tapi sampai sekarang aja masih bingung membahasakan diri di blog ini, lebih nyaman ‘saya’ atau ‘aku’ ya? (asal bukan ‘gue/gw’ nanti diledekin abis-abisan sama suami).

Sepertinya tulisan singkat ini bisa jadi ‘pembukaan’ untuk melatih lagi sense menulis. Menulis itu harusnya seperti menari, mengalir dan luwes. Harus dilatih biar makin luwes. Next, aku mau posting tentang compassion di world farming, berangkat dari kesedihan pas baca twit serialnya @tidvrberjalan tentang #sengsu. Serem dan menyedihkan.

Jadi bagaimana, lebih nyaman membaca yang mana sih, pakai ‘saya’ atau ‘aku’? :mrgreen:

Update. Barusan mati listrik dan datang kesadaran baru. Salah satu yang bikin males update di blog ini adalah, karena aku merasa harus nambah gambar! Proses nambah gambar itu ga cepet lho. Memilah-milah mana yang sesuai dengan konten tulisannya, belum kalau harus diedit segala. Sementara di tumblr, enggak pakai gambar pun ga peduli. Bener-bener nulis dibikin gampang.

PS. Blog itu ternyata media yang efektif untuk mendokumentasikan transformasi cara berpikir dan gaya berbahasa ya. Beberapa malam yang lalu, aku malu banget baca-baca postingan lama di blog ini. Bahasanya engga banget, sampai diledekin suami “ilat jowo medhok ae ber-gue gue”. Sumpah malu banget. Plus aku dulu naif banget, serba didramatisasi juga. Astaga. Ini pasti efek waktu kecil bacaannya Candy-Candy, Miss Modern, Pop Corn, Rose of Versailles, dan Jendela Orpheus dihayati banget sampai termehek-mehek. 😛

Efek Samping The Raid : Perang Selera

Beberapa hari lalu saya kumat usilnya, menjadi devils advocate. Benernya ketinggian juga sih menyebut diri sendiri devil’s advocate, karena levelnya belum seperti Al Pacino di film The Devil’s Advocate. Sebenarnya apa sih artinya devil’s advocate? Karena sekarang jamannya serba internet, definisi bisa dengan mudah tinggal dibrowsing. Kalau aku sendiri secara sederhana mengartikan, peran yang sengaja diambil untuk mengetes argumentasi seseorang/orang lain. Jadi ketika aku sedang menjadi devil’s advocate si A, bukan berarti aku kontra dia. Aku hanya pengen tahu reaksinya dan sejauh apa argumentasinya, buat ngetes doang hihihi. :mrgreen:

Waktu itu yang menjadi sasaran adalah teman yang lagi demen banget ama film The Raid. Dia antusias dan semangat banget berbagi hal-hal menarik dari film The Raid. Buat dia, film ini bagus banget. Lalu aku iseng, kasih link review ber-sentimen negatif dari film tersebut.  Dari dia sendiri yang diinformasikan ke kita adalah pujian-pujian media dan orang tentang film ini.

Sebenarnya aku cuma pingin tahu, ketika seseorang sedang ‘euforia’ terhadap sesuatu hal, kemudian diberi fakta yang berbeda jauh dengan yang dia yakini, maka seperti apa reaksinya. Apakah dia bisa tetap obyektif atau akan membela yang dia yakini. Ingat lho, kita tidak berbicara tentang agama atau prinsip disini. Ini tentang selera.

Ternyata, doi membela lumayan habis-habisan film yang dia suka tersebut. Pertama doi mencibir review tersebut, dan kemudian yah mengedepankan argumentasi mengapa film tersebut bagus. Sisi iblisku makin keluar dong, bertanduk. Makin deh aku panas-panasi, dan walhasil doi makin ‘gegap gempita’ membela film The Raid dan menjurus ke menjelek-jelekkan selera orang lain (seleraku). Haha. Sampai disini eksperimen selesai.

Lantas apa yang aku dapat dari eksperimen tersebut?

Aku jadi mikir; kenapa ya kita ada kecenderungan untuk membela apa yang kita sukai/yakini kalau ada orang yang menyatakan sikap/penilaian yang berbeda dengan kita.

Mencoba merefleksikan hal tersebut. Jangan-jangan aku pernah melakukan hal yang sama juga. Jawabannya, jangankan pernah tapi SERING. *emot ngakak gulung-gulung sambil tepok jidat*

Ya gimana yah, ketika aku dengan menggebu-gebu bilang, “eh ini bagus lho, bla bla bla, “ lantas tiba-tiba ada orang yang dengan lugas bilang, “Cuma seperti itu ah, jelek, bla bla bla.” Yah kalau jujur ada semacam perasaan ga enak, jleb, seperti itu. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, ya buat apa merasa ga enak. Apa karena merasa selera kita direndahkan? Memang kalau ada yang berbeda pendapat/selera dengan kita, berarti selera kita lebih jelek atau gimana gitu?

Kembali ke teman yang lantas menjelekkan selera orang-orang terhadap film-film non action (drama), yang katanya “film pengantar tidur”.  Dia berpendapat, bahwa baginya, nonton film itu harusnya yang menghibur dan ga usah pake mikir. Kalau nonton masih pake mikir, malah bikin stress bukannya membuat terhibur. Fungsi film untuk dia, ya sebagai penghibur.

Tetapi, apa dia harus menyuruh/meminta/memaksa semua orang menerapkan standar dia? Itu kan pertanyaannya.

Kalau ada yang melihat film lebih dari sekadar penghibur, tapi juga sebagai propaganda kebudayaan, gimana dong? Apakah dia tidak menyadari hal tersebut? Apa dia tidak tahu, film-film bahkan seperti Avatar dan Titanic-nya James Cameron sekalipun melakukan riset yang pake mikir. Kalau kemudian ada yang nonton film Avatar ga pake mikir dan sekadar lihat special effect-nya, ya itu masalah penontonnya sih. Tapi sungguh lho, buatku, film itu bisa sebagai alat pencerahan. Berapa kali, aku keluar dari bioskop ato sehabis nonton film, jadi merenung. Bahkan terakhir nonton Hugo, itu film kartun kan, tapi selesai nonton pun aku jadi banyak merenung tentang pesan dalam film itu.   :mrgreen:

Sekarang begini, kalau misal aku yang lagi semangat cerita film drama/thriller yang menurutku bagus dan kemudian mendapat respon demikian, menurut kalian aku harus bagaimana?  :mrgreen:

Writer’s Block

Semakin jarang saja aku apdet postingan blog. Rame-rame hari blogger kemarin pun tak membuatku gumregah untuk meng-apdet blog yang udah berumur sekitar 4 tahun ini. Antara malas (buatku nulis itu harus disertai data-data pendukung, dan itu berarti penelitian –minimal penelitian literatur– dan penelitian berarti butuh effort, dan simpel aja, males), kebiasaan kalau tiba-tiba sedang jadi arus utama/trend malah menjauh dari trend tersebut (salah satu trait enneagram ke-4, males seragam), dan sedang blocking.

Sebenarnya ada banyak sekali yang kupikirkan, yang riuh di dalam kepala, yang ingin kutuliskan. Tetapi entah setiap kali hendak menulis, cuma bisa termangu. Sangat jarang sekali masa-masa jemariku lancar mengetikkan tuts-tuts keyboard, seperti menari bebas. Seperti sekarang ini. Biasanya adalah masa-masa aku harus banyak merenung dan memikirkan apa yang hendak aku tuliskan.

Banyak termangu ketika sebagai penonton mengobservasi panggung sekitarku. Sebagai pemain pun rasanya sudah tak ada tenaga lagi untuk berbicara (tepatnya, menulis panjang). Karena apa yang terlintas dalam pikiran adalah ledakan-ledakan kecil yang tidak terstruktur, alias random banget. Kalau hendak dituliskan menjadi artikel beberapa paragraf, perlu effort lebih untuk menyusun dan membuatnya enak dibaca, thus didukung data-data yang valid reliabel. Jadi adalah tulisan berupa opini yang bukan asal bunyi. Kalau asal bunyi, dalam pandanganku, tak perlu lah, semua yang aku lihat dan rasakan, dikeluarkan. Kepatutan saja sih, pertimbangannya. Juga perasaan orang lain, sebagai pembatasnya.

Ada masanya aku ‘usil’, dan aku sadar, bahwa apa yang aku ungkapkan dapat mengganggu kenyamanan orang lain. Mungkin rasanya sama, seperti kalau misal mereka yang atheis tiba-tiba mendapat kabar bahwa Tuhan memang ada dan mereka bisa membuktikan secara indrawi. Atau mungkin seperti perasaan kaum theis yang mendengar berita bahwa Tuhan ternyata tidak ada dan mereka harus berhadapan dengan kenyataan tersebut.

Selain itu, termangu dengan adanya kesadaran. Kadang cape mengamati semua hal yang terjadi di sekitarku. Exhausted, jadi tak punya energi lebih untuk menuliskan apa yang aku rasakan dan opiniku tentang itu. Marah, rage, sedih, pedih, apatis. Is it the way of the world, apakah memang seperti ini yang terjadi di muka bumi ini, udah digariskan seperti ini, udah jalannya? Jadilah aku lebih suka menyimpannya dalam hati saja.

Kembali ke soal writer’s block. Ketika rame-rame kemarin hari blogger, saya heran aja sih. Whats so special about being a blogger? Kenapa sepertinya menjadi blogger adalah hal yang wah sekali, sehingga kalau ada blogger yang jarang apdet, lebih banyak ngetwit, dsb, adalah sesuatu hal yang memalukan, ‘nista’, memalukan, etc. Ngeblog itu sama seperti menulis, jika tidak benar-benar muncul dari hati, maka tak usahlah dipaksakan. Tetapi tergantung juga sih, tujuan ketika ngeblog itu apa. Kalau ditanya, apakah aku masih tetap merasa aku sebagai blogger atau tidak, well yeah masih sih. Toh aku masih punya blog, dan walau lama ga apdet tapi masih inget passwordnya. Tetapi sekali lagi, being blogger does not define me at all. Aku lebih dari sekedar label blogger.

Selain itu, begini saja sih. Ga usah lah, membebani orang lain (blogger) dengan menginstruksikan blogger itu mustinya gini gitu, kalau ndak gitu gini kalian mustinya malu menyandang label blogger, bla-bla-bla. Halah, hidup jangan dibikin rumitlah, apalagi ngeblog. Yang perlu diingatkan mustinya lebih ke soal etika saja. Seperti misal, menulis yang bernada kebencian terhadap umat lain dan bernada menghasut, janganlah. Atau mem-plagiat.

So, apa hubungan writer’s block yang aku alami dan rame-rame hari blogger? Silakan di-utak atik gatuk, sementara saya sendiri sedang menikmati masa-masa bebas menulis, masa-masa yang patut aku rayakan dan resapi. Masa-masa menulis seperti menari, ga usah mikir, ngalir aja.

 

UPDATE. Rame-rame soal blogger, padahal postingan ini dari awal ga diniatin dalam rangka hari blogger atau dalam rangka menanggapi rame-rame tentang ngeblog dan tetek-bengeknya. Tapi kalau dari beberapa tanggapan yang masuk, menarik mencermati reaksi mereka terkait dengan label blogger yang tersemat pada diri komentator ini. Plus dinamika blogger di rana social media. Kalau yang begini, aku jadi jamaahnya Pakdhe Mbilung saja, bahwa dia sudah bukan lagi blogger alias mantan blogger, karena dia sudah move on. *ngakak-ngakak njempalik* *ini yang aku sebut manusia bebas, ga attached sama label yang disematkan pada dirinya*

:mrgreen:

Hunian Sederhana dan Mimpi untuk Karangasem

image

image

image

image

image

Saya tertegun sewaktu berdiri di bibir jurang desa ini. Sulit membayangkan kondisinya sewaktu desa ini masih utuh. Banjir lahar dingin menerjang Desa Karangasem beberapa kali, mengamblaskan separo desa, menyisakan tebing jurang. Mental orang Jawa, walau separo desa hilang, sawah kebun rumah amblas, masih merasa beruntung, “untung gak ada korban jiwa, untung ternak bisa diselamatkan.”

Saya berdiri di bibir jurang. Jarak antara tempat saya berdiri hingga ke bawah dimana Kali Putih mengalir, setinggi 14 meter. Serius saya sulit membayangkan tempat ini dulunya bagaimana. Konon katanya aliran Kali Putih sudah berubah. Kalau diwaktu mendatang lahar dingin menerjang lagi, beberapa kelokan tebing akan runtuh. Beberapa rumah sudah mepet dengan bibir tebing. Tinggal tunggu waktu saja sampai rumah tersebut ikut longsor.
Masih tertegun, saya tersentak ketika diberitahu bahwa banjir lahar dingin yang menerjang Karangasem ini terjadi Oktober 2010. Ohmy, sekarang Juni 2011. Itu kejadian sudah sekian bulan lalu…

Tujuhbelas rumah amblas. Sekarang sudah dibangun, delapan hunian sederhana. Tanpa bantuan pemerintah sama sekali. Tinggal sembilan hunian lagi. Kalau kata mas Karman, ini kampung sosmed, karena rumah yang berdiri atas bantuan warga social media. Rumah sederhana berdinding sebagian anyaman bambu, sebagian batako/batu bata. Kusen, pintu, batu bata/batako, sebisanya memanfaatkan apa yang tersisa dari rumah yang amblas. Rata-rata per-unit menghabiskan 4 juta rupiah. Sebagian dibangun di atas kebun sendiri, sebagian disewakan tanah.

Sore itu angin lembut menyisir kulit. Menjelang magrib di akhir obrolan, Mas Karman sempat mengungkapkan mimpinya.
“Selesai pembangunan hunian sederhana ini, PR saya selanjutnya adalah pendidikan. Ternyata banyak anak warga Karangasem yang bersekolah hanya sampai SMP. Ketiadaan biaya yang membuatnya demikian.”

Saya ndlongop. Karangasem ke Jogja itu hanya beberapa kilometer. Dengan mobil hanya setengah jam. Tak jauh dari situ, ada SMK.
Masih ada gitu, desa yang mayoritas anaknya cuma mengenyam pendidikan sampai SMP?

Sayang saya terburu-buru pamit karena diburu janji dengan dokter. Ternyata saya sempat dibungkuskan tape singkong mentega oleh Pak Samijo. Pak Samijo ini pembuat tape singkong yang disetor untuk bahan baku pembuatan permen tape.

Di jalan pulang, saya teringat kembali pembicaraan dengan Mas Karman dan Mas Penyu. Betul, Desa Karangasem ini banyak potensinya. Dari desa wisata alam hingga kuliner seperti tape. Tak jauh dari Jembatan Krasak, tak jauh dari Borobudur, dekat ke Kalibawang Kulonprogo.
Tapi warganya masih membutuhkan sedikit bantuan dari kita untuk bergerak lebih mandiri dan berdaya.

Berbagi sedikit dari apa yang kita miliki, untuk kemandirian dan pemberdayaan orang lain. 🙂

CATATAN:
Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang Desa Karangasem, bisa tanyakan langsung kepada Mas Karman lewat twitter di @karmanproject.

Bangga Warga Jogja

image

Ketika tulisan ini dibuat siang tadi pada jam ishoma, ribuan warga Jogja sedang memadati Malioboro. Mereka bukan sedang berwisata atau habis sholat Idul Fitri/Idul Adha, mereka sedang mengadakan aksi massa terkait dengan penetapan status istimewa Yogyakarta.

Dari sisi politik maupun historis, saya tidak menguasai mengapa warga Jogja begitu “menuntut” label istimewa untuk daerahnya.Berkaitan dengan tuntutan bahwa warga menuntut gubernur harus Sri Sultan, jika itu dikaitkan dengan penyebab Jogja istimewa, saya tidak terlalu setuju. Saya sebagai warga Jogja asli, bahkan jika nantinya pemerintahan pusat mencabut label istimewa, saya tetap merasa Jogja sebagai daerah istimewa.

Keistimewaan Jogja bagi saya tak semata terkait dengan sejarahnya atau malah dengan landmarknya. Tugu Jogja bisa saja ambruk seperti tahun 1800an yang sempat hancur digoyang gempa. Kraton jogja (bangunannya) bisa saja berubah muka dan fungsi sebagaimana bangunan-bangunan bersejarah di Jogja yang pelahan mulai berubah menjadi tempat komersial. Penetapan kepala daerah gubernur harus Sultan, saya memilih no comment karena alasan tertentu, yang saya lebih nyaman untuk diobrolkan sambil ngopi sore daripada saya tulis.

Keistimewaan Jogja menurut saya terletak pada karakternya, karakter orang Jogja secara umum. Hingga postingan ini saya tulis, ribuan massa masih memadati kawasan Malioboro. Toko-toko, menurut laporan @dabgenthong dan @KILDDJ mereka tutup dengan sukarela. Malah mereka juga menyediakan air minum cuma-cuma. Saya berharap, keistimewaan Jogja saat ini sedang ditunjukkan dan diwujudkan oleh warga Jogja sendiri. Damai, plural, tanpa kekerasan, guyub.
Setelah (dan masih) berlangsung bencana erupsi Merapi dan banjir lahar dingin, warga Jogja menunjukkan karakternya, sigap membantu dan menolong orang lain. Sekarang aksi massa berlangsung damai, itu sungguh keistimewaan Jogja dibanding daerah-daerah lainnya.

Karakter, serupa dengan value, nilai yang dipegang warga setempat. Mewariskan dan menghidupi nilai-nilai seperti kedamaian, guyub, sigap menolong, plural, dll adalah lebih long lasting daripada membangun landmark. Lebih terasa nyata karena benar-benar dirasakan, dihidupi, bahkan hingga orang Jogja tersebut hijrah kemana saja. Menunjukkan identitas dan keistimewaan Jogja.

Bravo Jogja. Jogja istimewa dengan karakternya.