Apa Yang Bisa Dilakukan di Pesta Blogger 2010?

Puncak Pesta Blogger 2010 sudah didepan mata. Setelah lebih dari sebulan roadshow ke berbagai daerah, maka puncaknya di Jakarta tanggal 30 Oktober 2010 di Epicentrum Walk. Yang sudah daftar sudah menyiapkan apa saja? Yang masih ragu, coba dishare disini apa yang menjadi penyebab keraguanmu? Yang sudah pasti tidak hadir, siap bikin ‘event tandingan’ apa? *eh*

Sejak pertama digulirkan pada tahun 2007, pesta blogger tak pernah sepi dari polemik. Entah itu isu pusat-daerah, blogger elit/seleb dan non-seleb,  hingga ancaman pemboikotan terkait penggunaan fasum milik Bakrie pada pesta blogger sekarang.

 

Saya pribadi merasa tidak mempunyai  keterikatan dengan ajang  pesta blogger. Saya memang mengenal beberapa yang duduk dalam kepanitiaan, tetapi itu tidak otomatis membuat saya ‘merasa memiliki’ pesta blogger.  Tahun 2007 sebagai blogger newbie, saya ingin hadir ke pesta blogger  karena penasaran ingin jumpa dengan blogger-blogger yang saya sukai blognya. Tapi pesta blogger selanjutnya tidak membuat saya bernafsu untuk datang. Penyebabnya selain karena merasa tidak wajib datang, juga karena sudah mencicipi rasanya  kopdar. Ketika saya datang ke pesta blogger 2009 pun, lebih karena motivasi ‘dolan’ daripada acara pesta bloggernya sendiri.

 

Pesta Blogger 2010 kali ini sedikit berbeda.  Saya  sudah dua kali terlibat dalam mini pesta blogger yang diadakan di Jogja. Dari pengalaman saya terlibat dalam pbjogja,  saya justru kepengin hadir  pesta blogger di Jakarta besok.  Ada beberapa alasan yang timbul dari refleksi pribadi pengalaman pbjogja 2010.

 

Pesta blogger adalah ajang kopdar raksasa, dimana kita ‘ditantang’ untuk bisa keluar dari zona nyaman kita. Hal terutama kerasa banget bagi mereka yang cenderung introvert. Apalagi saya yang soliter, lebih senang menyendiri. Harus menyapa orang baru, berkenalan, sungguh rasanya seperti reptil buta yang habitatnya di bawah tanah tiba-tiba dibawa keluar ke permukaan dan teran benderan cahaya matahari.

Beberapa kali saya membaca postingan teman-teman yang kecewa ketika hadir di pesta blogger. Kekecewaan itu timbul karena merasa terasing dan dicuekkan oleh seleb-seleb blog. Selain itu juga merasa kesulitan untuk bergabung dengan gerombolan/rombongan blogger. Well, FYI, pesta blogger adalah ajang latihan yang sangat bagus untuk kaum pemalu dan soliter, untuk memperluas zona nyamannya.

Sebenarnya agak susah saya pahami, jika kita kecewa di suatu ajang kopdar karena tidak ada satupun yang menyapa kita, tapi lantas menyalahkan orang lain yang sombong/tidak ramah/tidak menyapa. Saya bisa memahami rasa teralienasi, terasing, dan kesepian ditengah keramaian. Rasa-rasa itu bisa kok dialami bahkan ketika sedang berkumpul dengan orang-orang yang kita kenal. Rasa sesunguhnya adalah netral hingga kita memberi respon, dan respon adalah pilihan kita. Misal kita merasa teralienasi, sesungguhnya terserah kita hendak bereaksi seperti apa. Kita hendak menarik diri dan menyendiri, atau mendatangi mereka dan  membuat nyaman diri kita di situasi  tersebut.

 

Sharing aja dari pengalaman gathering pbjogja kemarin. Walau saya mengenal beberapa hadirin dan hadirot, tapi jauh lebih banyak lagi yang saya belum kenal hadir digathering. Dan saya rupanya masih belum bisa beringsut dari ona nyaman utk menyapa orang yang tak  dikenal. Masih ragu dan malu. Dan akibatnya banyak melewatkan kesempatan untuk menambah rekan dan teman…

 

Jadi, saya bertekad datang ke pesta blogger 2010 dan melatih social skill saya bertemu dengan orang-orang baru.

 

Saya boleh soliter, tapi hal itu tak seharusnya menghambat saya untuk keluar dari ona nyaman.

Iklan

Di Balik Layar PBJogja 2010

Dua minggu yang lalu, saya terlibat dalam satu keriaan ajang offline para warga onliner. Ajang tersebut merupakan bagian dari roadshow pesta blogger 2010, di berbagai kota di Indonesia. Jogja adalah kota kelima yang dilewati dan berkesempatan untuk memberikan yang terbaik dalam roadshow tersebut. Saya sebagai salah satu panitia yang terlibat, ingin sharing proses dibalik layar yang memperkaya pengalaman jiwa saya *cieeehhh, lebay dikit biardramatis*.

Tidak seperti tahun 2009 dimana Pesta Blogger Jogja digawangi oleh Cahandong, maka Pesta Blogger Jogja (selanjutnya disebut pbjogja) dibidani oleh beberapa perwakilan komunitas maupun blogger non komunitas. Sebut saja Jogtug, lalu ada juga mas Ryudeka dan mba Alya, yang dalam keseharian mereka lebih dikenal sebagai penyiar dan blogger independen *tsaah*.

Momon sebagai ketua panitia memang beralasan untuk mengajak sebanyak mungkin komunitas (online terutama, karena  ini pestanya warga onliner). Tujuannya sederhana, ingin menjalin komunikasi dan silaturahmi. Sebuah idealisme yang dibalut dalam ajang hura-hura. Eits tapi ndak sembarang hura-hura, karena walau peserta dan acaranya sendiri (mungkin) isinya haha-hihi, foto sana-sini, makan-makan, jalan-jalan, cari jodoh *eh* tapi sesungguhnya ada misi lain yang tak kalah idealis.

Etapi biar idealis, apakah peserta merasa jemu selama mengikuti rangkaian acara pbjogja? Sila baca kesan pesan mereka disini. Lalu silakan beri penilaian, bagaimana perasaan mereka yg beruntung (
jiaaaah beruntung) telah mengikuti seluruh rangkaian acara pbjogja. Kalau boleh berbangga diri, hampir semua peserta tidak merasakan kejemuan karena rangkaian acara tersebut dikemas dalam hura-hura. ^^

Iyo ora tweeps? Ora bosen to, seneng to? 😀 #maksamodeon

Kembali ke idealisme, memang idealisme apa yang ingin disampaikan panitia pbjogja selain yang terkait dengan tema pesta blogger 2010? Tak jauh-jauh dari Jogja sebagai kota tujuan pariwisata. Jangka pendek adalah untuk memperkenalkan Jogja kepada peserta (rally Panggih Batir terutama). Sedang jangka panjangnya untuk lebih menggaungkan potensi pariwisata kota Jogjakarta yang selama ini belum terekspos. Pertanyaannya, bagaimana caranya?

Semua berkat bocah tua nakal *sungkem* yang sukses membuat kami pada rapat pertama nyaris kejengkang dengan idenya. Yap, beliaulah yang  menggaungkan ide pbjogja beda. Tak cuma gathering mini pesta blogger tapi rally dari sejak kedatangan panitia dari Jakarta hingga hari H. Sebuah ide yang pada awalnya tampak spt hil yang mustahal. Musykil,  mengingat dana yang minim dan waktu yang tak banyak untuk mencari sponsor serta mematangkan konsep.

But I have faith in them. Yup, I have faith in them, seberapa musykilnya. Team, kelompok, dimana saya terlibat terdiri dari orang-orang hebat dengan potensi yang luar biasa. Saya sudah membuktikan pada tahun 2009. Ketika itu saya sempat ragu, waktu teman-teman melontarkan ide-ide ‘gila’ untuk memeriahkan pbjogja 2009. Saya terbayang sulitnya, bagaimana mencari sponsor hanya dalam waktu sekian bulan, beberapa konflik internal yang sempat mewarnai,dll. Dan pada waktu yang ditentukan pbjogja 2009 tergelar cukup sukses.

Dengan bukti dan pengalaman tersebut, saya percaya teman-teman kali ini juga mampu. Kendala bukan masalah, ia adalah tantangan. Waktu yang hanya 6 minggu terpotong libur lebaran ples minimnya dana, entah kenapa tidak menyurutkan kepercayaan saya terhadap teman-teman. Kemrungsung, panik, deg-degan, stress, tentu ada. Tapi selebihnya mengalir saja, termasuk beberapa keajaiban yang kami alami. Bahkan beberapa hari menjelang hari H pun, selalu saja ada perubahan karena beberapa pihak yang sedianya bekerja sama membatalkan atau bagaimana, tapi selalu saja ada blessing in disguise dibalik pembatalan dan perubahan tersebut. Serendipity, demikian yang saya amati dibalik proses kerja teman-teman.

Akhirnya hari H tiba. Gelaran pertama dan perdana dalam sejarah pesta blogger (halah), Rally Panggih Batir dilaksanakan.  Sebuah rally yang mempertemukan berbagai komunitas online untuk berkunjung ke komunitas offline. Sekaligus sebuah idealisme yang tadi saya uraikan. Bagaimana susunan acara rally bisa dilihat disini, ini, ini, dan beberapa postingan kesan peserta dapat dibaca kesan mbak dos, kesan mba Alya, dan Mas Jauhari.

Dari saya pribadi, senang ketika panitia rally pbjogja menentukan 3 tempat utk menjadi spot rally. Tiga tempat itu adalah Ndalem Yudhonegaran (kegiatannya belajar menari dan gamelan), Pakualaman mengunjuni  komunitas panahan Jemparing Mataram, dan terakhir Sanggar Anak Alam di Nitiprayan. Tiga tempat tersebut sebenarnya sempat berubah dari rencana awal, karena berbagai hal. Misal, perkampungan Kali Code sempat dinominasikan menjadi salah satu spot rally, tetapi tidak jadi karena hal teknis. Mengapa perkampungan Kali Code, karena ini perkampungan ini adalah ‘hasil karya’ Romo Mangun, dan tak banyak orang Jogja sendiri yang tahu atau pernah mengunjungi Kampung Code ini.

Kurang lebih alasan yang sama ketika memilih spot-spot lain untuk menjadi titik perhentian rally. Tempat  yang sebenarnya menyimpan potensi  persinggahan pariwisata Jogja, selain tempat standar seperti Malioboro dan Kraton.

Saya sendiri yang lahir dan besar di Jogja, ketika ikut rally ternyata banyak tempat-tempat yang baru saya tahu. Saya  baru pertama masuk Ndalem Yudhonegaran ya pas rally itu. Padahal itu adalah ndalem/kediaman adiknya Sri Sultan HB X.  Baru tahu ada komunitas panahan tradisional yang keren banget ya pas rally. Dan kalo gak ikut rally, ga sempet ngerasain jadi Srikandi alias belajar memanah pakai busur asli.

 

 

Lebih jauh lagi waktu membaca postingan kesan-kesan peserta pbjogja. Saya berkesimpulan, bahkan warga Jogja sendiri ternyata tak terlalu mengenal kotanya. Banyak yang tidak tahu bahwa Nitiprayan adalah kampung seniman. Banyak juga yang baru pertama masuk ke Ndalem Yudhonegaran padahal disitu ada sekolah menengah farmasi yang cukup favorit.

Pada waktu gathering, ternyata juga banyak yang belum ngeh kalau sajian nasi merah adalah kuliner khas dari Gunung Kidul. Coba mas-mas dan mbak-mbaknya jalan-jalan ke daerah Semanu, Gunung Kidul, mampir ke warung sego abang Mbok Jirak. Itu warung khas banget kuliner tradisional, menyajikan sego abang dan ubo rampe lauk pauk khas ndeso. Jadi  gobang mbokjo alias sego abang lombok ijo (sayurnya dimasak dengan banyak cabai hijau) itu menu khas dari jogja, sodara-sodaraaaaa… jogja ga hanya gudeg dan serba manis, wuuu, ketinggalan apdet. Eh jangan-jangan ada yang ga tahu kalau Gunung Kidul itu bagian dari Jogja 😛

Jadi teringat waktu pbjogja 2009, pengunjung juga masih banyak yang belum ngeh kalau brongkos adalah kuliner khas Jogja. Tahunya kipo, jajan pasar dari Kotagede, dan aneka jajan pasar disebut juga sajian khas Jogja. Padahal asal tahu saja, aneka jajan pasar yang disajikan ditampah itu tidak semua jajanan tradisional. Yang membuat geli sekaligus prihatin adalah banyak yang mengira bahwa brongkos itu gudeg. Hmmm…banyak-banyak menjelajah jogja yaaa…

Jadiiii… Jangan menunggu pihak lain untuk lebih mengenal Jogja. Cari sendiri. Seperti Mas yang satu ini ^^ (setelah dipancing kuis twitter @pbjogja).

Special thanks to teman-teman  Cahandong, Jogtug, Kojak, dan berbagai pihak yang belum disebut satu persatu. Jangan kapok yaaaaaa^^

one night with mike

Rabu 19 November semalam, telah terjadi affair yang sangat menggairahkan antara blogger-blogger Jogja dan blogger luar negeri. Affair tersebut dalam rangka road trip lanjutan dari Bali, sebagai rangkaian dari Pesta Blogger 2008 yang puncaknya diadakan di Jakarta.

Bertempat di Gajah Wong, restoran fine dining, affair tersebut berlangsung intim dan personal diiringi makan malam yang lezat, suasana yang cozy di joglo, temaram lampu, sungguh sangat romantis. Obrolan berlangsung lancar, mengalir, di meja masing-masing.

Kebetulan, saya semeja dengan blogger dari Filipina, Mike Aquino. Berbekal bahasa inggris yang berlepotan, Mike tetap melayani obrolan dengan ramah. Untungnya, ada rekan-rekan seperti Didut yang mampu menjadi teman ngobrol yang menyenangkan untuk Mike. Saya mah kebagian pendengar saja dan kadang-kadang mengiyakan, “he’eh, yes…yes..eh no ding, no.” :mrgreen:

Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan meja-meja yang lain, tapi saya menikmati mendengarkan obrolan antara Mike dan Didut, yang membicarakan dari kuliner hingga masalah agama. Terdapat beberapa catatan menggelitik bagi saya, seputar obrolan yang berlangsung hangat dan intim tersebut.

saya, mike, didut

Mike sempat berkomentar, bahwa dia cukup heran dengan banyaknya perokok ang dia jumpai sepanjang dia di Indonesia. Dia membandingkan dengan di negerinya sendiri, bahwa, ya memang cukup banyak yang merokok, tapi juga banyak tempat untuk non smoker (dengan kata lain bisa diartikan, merokok di tempat umum di Filipina merupakan hal yang jarang). Di sini (Indonesia), perokok bisa bebas merokok di tempat umum, bahkan di ruang ber-AC.

Saya jadi teringat, sewaktu beberapa tahun yang lalu, mengantar tamu dari Turki, dan dia sangat heran dengan kebiasaan pengendara motor yang membonceng anaknya, tanpa pengamanan memadai, bahkan helm pun tidak. Saya dan Didut, waktu itu, cuma tertawa dan malah ngobrolin betapa lemahnya penegakan peraturan tentang rokok di Indonesia.

Pembicaraan pun sempat membahas tentang agama. Kebetulan di Filipina, Katolik adalah agama mayoritas. Ternyata, menurut Mike, institusi keagamaan di Filipina (dalam hal ini gereja) telah bercampur dengan politik sehingga pada akhirnya, menjadi alat politik. Hal tersebut menurut saya, kok ndak beda jauh dengan apa yang terjadi di Indonesia. Kata orang (saya lupa, siapa yang omong ini) POWER TENDS TO CORRUPT, AND ABSOLUTE POWER CORRUPTS ABSOLUTELY. Hal tersebut berpengaruh buruk sebenarnya, karena membuat beberapa kalangan pemeluk agama menjadi hilang kepercayaan.

Mike sendiri adalah penikmat travelling. Selama ini dia banyak bepergian ke Asia Tenggara, dan menurutnya, satu hal yang menarik dengan bepergian ke negara-negara di kawasan Asia Tenggara adalah, kau bisa menemukan betapa banyak perbedaan-perbedaan sekaligus persamaan-persamaan di antara kebudayaan-kebudayaan yang berbeda tersebut. Contoh, mengenai kuliner. Ternyata, di Filipina sendiri, mereka juga mengenal lumpia. Mereka juga makan nasi sebagai makanan pokok mereka. Bahan dasar bumbu masakan di Filipina juga tak berbeda jauh dengan di Indonesia (khususnya Jawa, karena semalam kita banyak membincang masakan Jawa).

Semalam, Mike terkesan dengan menu ‘kering tempe’, yang jadi pelengkap nasi kuning. Dia telah mengenal tempe, hanya menurutnya olahan tempe yang satu ini agak lebih spicy. Tapi yang jadi favorit Mike rupanya adalah nasi uduk alias coconut rice, satu hal yag menurut Mike adalah resep yang luar biasa, dia tidak pernah berpikiran sebelumnya untuk mencampur kelapa (santan) dengan nasi.

Semalam dengan Mike, adalah semalam yang luar biasa. Dia belum tahu dan belum pernah melihat salak. Seharusnya, road trip hari ini, selain Borobudur, juga ke kawasan agroindustri salak pondoh, sekaligus mengunjungi desa-desa wisata yang banyak di sana. Tapi entahlah, waktunya sangat singkat dan semua telah diatur tersendiri. Semoga, mudah-mudahan, ada waktu lain untuk berkunjung ke Jogja dan blusukan ke tempat-tempat uniknya. Semoga juga, mudah-mudahan, saya berkesempatan mengunjungi Filipina dan negara-negara lain di Asia Selatan.

mike

Muchas Gracias, Mike, terimakasih juga untuk Didut.

Terimakasih untuk semua panitia Pesta Blogger, Chika, Dimas, Herman, dan lain-lain yang belum saya sebut satu persatu, juga teman-teman dari Cah Andong ples komunitas dunia maya lainnya (yang saya tahu semalam,baru komunitas multiply, belum sempat kenalan dengan yang lain).

foto-keluarga

*Foto semua oleh Bang Gage, Yang jadi tukang potonya semalam*

oleh-oleh dari bandung (pt. two) : kopdar, kuliner, sampah

Menyambung postingan gw kemaren, yang melulu negatif (sedih dan muak), tentu saja selalu ada sisi positif. Seperti yin dan yang, seperti siang dan malam. Puh, kok jadi sok puitis begini ??

Jadi, perjalanan ke Bandung ini, bisa dikatakan adalah kebetulan a la The Alchemist, Celestine Prophecy, atau The Secret, yah aliran-aliran nu age itulah. Karena, sejak beberapa kali ikutan event kopdar raya yang diselenggarakan Cah Andong dan dihadiri oleh bloger tamu termasuk dari Bandung, timbul hasrat untuk ganti silaturahmi. Hanya saja, selalu terbentur masalah waktu dan perijinan (plus dana, hahaha). Nah, momen ini seperti….seperti apa ya, wah pokoknya kebetulan banget deh. Jadinya momen ini nggak gw sia-siakan untuk ber-kopdar ria dengan batagor-batagor Bandung^^.

Sayang, seribu sayang, karena suatu sebab, momen kopdar yang saya bayangkan bisa berlangsung dua malam berturut-turut (malam sabtu dan malam minggu), ternyata Cuma bisa malam sabtunya aja. Mengapa ?? Karena sabtu siang, kami sudah meninggalkan Bandung. Hik….rasanya sama sekali belum puas deh, menjelajah Bandung, hikz….

Tapi, tak mengapa. Jumat malam itu, akhirnya bisa kopdar dengan batagor Bandung, walo belum semuanya. Hanya ada Kang Agah, Catur, Mas Koen, Debe, dan tentu saja Kang Harry. Lagi-lagi kaum tomat menjadi minoritas, walhasil, adek gw, Dewo terpaksa pupus harapan, demi harapannya yang tak kesampaian untuk berjumpa dengan mojang Priangan yang terkenal geulis….

Baca lebih lanjut

dhemit-dhemit ratu boko……. (update)

Hari Sabtu itu, sesuai dengan yang telah dijadwalkan oleh Kasultanan Ndoyokarto Hadiningrat, berlangsung hajatan besar Pisowanan Ageng bla3 yang disingkat menjadi Pasak Boemi. Hajatan ini konon untuk menyambung tali silaturahmi antara founding fathers and mothers of CahAndong sekaligus sebagai ajang kopdar raya.

Di tengah-tengah kesibukan yang bertubi-tubi (maklum, pekerja serabutan, jadi musti siap untuk nguli di hari libur sekalipun) alhamdulillah beban laporan berhasil diselesaikan dengan sukses pada hari jumat sore. Dan malamnya setelah menyerahkan laporan, diiringi hujan gerimis mengundang, daku menyempatkan diri untuk ber juminten ria.

Di sisi lain, dari ajang juminten terungkap ‘berkah’ long weekend bagi pelaku pariwisata tapi ‘pulung’ bagi beberapa wisatawan. Jogja yang diserbu wisatawan selama musim liburan panjang kemaren, sungguh tidak menguntungkan bagi beberapa teman bloger. Padatnya tingkat hunian hotel, losmen, dsb membuat beberapa teman kebingungan mencari tempat bermalam yang nyaman. Sayang sekali, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Nggak mungkin to, saya mengusir tamu yang udah booking beberapa waktu sebelumnya, hehehe. Insya Allah, jika rumah ‘kami’ sudah ‘resmi’, maka saya akan lebih leluasa menjamu teman-teman bloger yang berminat beristirahat di Jogja dan kehabisan penginapan, hehehe. Doakan saja, frens ^^

Keesokan harinya, dengan agak terlambat, saya segera menuju tempat ngumpul yaitu di boulevard UGM. Kayaknya sengaja di pilih, karena tempat ini konon merupakan landmark Jogja, alternatif selain Tugu, hehehe. Alasan lain, saya curiga, untuk mempromosikan Jogja dan UGM khususnya sebagai tujuan untuk melanjutkan pendidikan, s e c a r a beberapa bloger yang akan datang adalah anak-anak pra-mahasiswa (uh, hai, Debe, Blogie, Zazi^^).

Ternyata di boulevard masih sepi…..hanya beberapa orang yang sudah siap sedia. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh saya, untuk sarapan khas Klaten. Apalagi mas Alex juga sepertinya sudah kelaparan. Seperti gayung bersambut, maka kami beriring-iringan berjalan kaki saja, menuju depan Panti Rapih untuk makan nasi sambel tumpang. Ohoooo, ternyata benar. Mas Alex, Gun, dan Zazi belum familier dengan jenis makanan ini. Jadilah mereka pesan nasi sambel tumpang, sementara saya bubur jawa.

Nasi sambel tumpang sebenarnya adalah nasi dengan lauk urap (ada gori/nangka muda, ada kenikir, dengan bumbu parutan kelapa) dan disiram dengan sambel tumpang. Sambel tumpang adalah daging (khasnya adalah daging koyor, kalo beruntung bisa tuh minta koyornya), tahu dan telur yang dimasak santan. Cita rasanya gurih pedas. Penampakan seperti brongkos, tapi entah, pake keluwak ato tidak, karena rasanya lain dengan brongkos.

Ooookey, kembali ke topik semula. Setelah ditraktir oleh mas Alex, di boulevard sudah ketambahan tamu barudak dari Bandung. Oleeee, selamat datang Kang Herry, Blogie, dan Debe. Ada neng geulisnya (Teh Mina) juga, tapi masih nyangkut di hotel. Dan kami pun terkagum-kagum mendengar kisah perjuangan kawan-kawan kami ini dari Bandung. Kang Herry emang te o pe be ge te, bujug dah semangatnya. Inspiratif, terutama dari segi kebiasaannya yang travelling sampe pelosok itu.

Singkat cerita, kami menjemput beberapa orang lagi, dan langsung ke Boko. Selama perjalanan, saya pribadi yang belum pernah ke Boko, langsung disergap kekaguman dan terbuai oleh keindahan pemandangan sawah yang menghampar. Apalagi ketika sampai di tempat. Walaupun baru di pendopo tempat peristirahatan (???), mata saya langsung terpesona oleh keindahan lukisan agung Tuhan. Busyet (ups, kok misuh) Merapi tampak kokoh berdiri dan leluasa memamerkan keperkasaannya, dari ujung kaki ke ujung kaki yang lain. Tampak juga bukit Turgo dan Prambanan. Duh Gusti….betapa agung lukisanmu…..

** yang jelas, penyakit disoreintasi arah di Boko ini tambah parah, karena tidak bisa lagi berpatokan utara = Merapi >_<

Saya benar-benar terpesona dan tak bosan-bosan memandangnya. Rasanya masih enggan meninggalkan pemandangan tersebut, tetapi sang Tour Leader sudah dhawuh untuk segera ke lokasi.
Menyusuri jalan setapak, lagi-lagi mata cukup dimanjakan oleh penataan taman yang cukup asri. Sekali lagi, saya cukup mengapresiasi pengelola Taman Wisata Candi Boko ini. Walau dari segi tiket lumayan mahal (dibanding candi Plaosan dkk yang ngenes) tapi nyata pengelolaannya cukup baik. Tetapi seharusnya masih bisa ditingkatkan lagi, saya percaya itu. Yang ada sekarang cukup bagus tapi masih belum sempurna.

Kembali ke Boko, saya cukup terperangah dengan landscape secara keseluruhan. Apalagi mendengar dari Tour Leader alias Sultan yang menjelaskan bahwa kompleks Boko bukan candi pemujaan seperti candi-candi pada umumnya, tapi merupakan kompleks kraton. Ohoooo….pikiran saya langsung melayang, membayangkan bahwa lokasi tersebut sungguh sempurna untuk sebuah lokasi pemotretan pre-wedding.
Jangan khawatir dengan mitos bahwa pacaran di candi akan berakibat buruk (putus), karena Boko bukan candi tapi kraton^^.

Sayang, saya kehabisan kata-kata untuk melukiskan keindahan candi Boko ini. Saya hanya ingin mengulanginya lagi, dengan kekhusyukan yang dalam, sehingga imajinasi saya bisa benar-benar liar. Uh, rasanya waktu itu pengen ada mesin waktu a la Doraemon, jadi bisa tahu kehidupan waktu itu. Rasanya aneh dan takjub aja, melihat kompleks Boko yang sekarang dan membayangkan kehidupan kerajaan pada waktu itu dengan segala intriknya. Waoooow…..

Acaranya sendiri cukup meriah. Selain sesi foto-foto (tentu saja, kumpulan PSK –pria perempuan sadar kamera- ), kenalan, tour de Boko, plus sesi game yang sejatinya bertujuan untuk mengguyubkan peserta, syukur-syukur bisa menghibur. Ternyata oh ternyata, malah saya yang terhibur bukan buatan.

Game-game yang ada sebenarnya ga baru-baru amat, sudah sering dilakukan di training-training. Sengaja dipilih game energizer / ice breaking dan team building. Namanya saja energizer / ice breaking, tentu saja tujuannya untuk ‘memecahkan’ suasana alias menghangatkan suasana. Sebenarnya, suasana yang terbangun sudah cukup hangat dan mengalir sih, tapi rugi dong, sudah disiapin kok gak dijajal. Walhasil, game cukup sukses menghibur SAYA. Ya, saya, saya yang malah sangat terhibur oleh ulah kawan-kawan.

Weeeees jaan* (*ungkapan jawa yang susah dicari padanan Indonesianya), susah digambarin pake kata-kata, polah lucunya kawan-kawan ini. Tapi tiap inget kejadian itu, saya kok ga bisa menahan senyum di wajah.
Contohnya seperti waktu Mas Pepeng bingung membedakan antara kanan dan kiri. Aseliiiii, waktu itu saya ngakak banget sampe sakit perut apalagi lihat expresi tampangnya Mas Pepeng yang sangat2 bego dan polos, lugu aseli, ga ngerti antara kanan kiri. Huaaaaahahahahaha sayang ga ada foto yang berhasil merekam expresi ketololannya itu.

Terus juga expresi mesum, aseliiii mesum, dari Zamroni sang Sultan. Entah bagaimana, posisinya yang sewaktu game energizer pertama dia di antara para cowok, kok tau-tau bisa berada di tempat yang sangat strategis, diapit oleh dua cewek manis (kl ga salah, Tika dan Fany). Walhasil, Zam Cuma bisa ngiler-ngiler ngeces aseliiiii tak terkatakan deh, ekspresinya, hahahaha. Saya hanya bisa mengingat karakter kakek kura-kura di komik Dragon Ball dan mengimajinasikan kalo Zam sudah muncrat-muncrat darah mimisan hidungnya.

Terus juga waktu game team buliding yang menguji strategi dan kekompakan bersama. Wahwahwah, cowo-cowo itu ternyata sangat jumawa sekali. Tapi begitu tau gimana susahnya, dan dari tiga kali percobaan gatot alias gagal total semua, trus mutung toooo, walaaaaah huuuuuuu penonton kuciwaaaaaaa. Nah, dari game kemaren, apa yang kawan-kawan dapat ?? Bahwa membangun kekompakan itu …… (isi sendiri) karena itu membutuhkan ……………. (isi sendiri) jadi kesimpulannya, bloger-bloger musti kompak tak peduli dari mana dia berada (wuih, gayaneeeeee metuuuuu^^).
Tapi aseliiii saya sukses dibikin ngekek se-ngekek-ngekeknya melihat perjuangan mereka. Apalagi ketika mas Alex masih tampak sangat penasaran, sayangnya rekan-rekannya tidak sependapat dengannya. Anto dengan jujur mengutarakan, mewakili isi hati semua (???) peserta bloger berjenis kelamin wortel pada ajang tersebut. Pernyataannya adalah, tiadanya bloger tomat pada sesi game tersebut berkorelasi lurus dengan semangat juang mereka.

Hahahaha…..asliiiii saya dihibur oleh kekonyolan, ketololan, dan lain-lain kawan-kawan. Pokoknya waktu itu, otot senyum di bibir saya seakan-akan mau dhol alias copot saking seringnya ngekek. Makasiiiii kawan-kawan, mau lagiiiiiii ^^
(obat mujarab kl lagi stress, kumpul aja sama bloger-bloger sablenk ini).

Catatan tambahan : lokasi TWC Boko ini pas banget buat outing. Kapan-kapan outing nyooook^^

** skrinsyut nyusul yaaaa
** maap kl ada perkataan yang ga berkenan, mungkin kesan jujur saya salah penyampaian^^

UPDATE :

Dari hasil penilaian temen-temen gw, cewe, para psikolog (dan manis2) sesudah melihat dan menganalisa foto-foto Candi Boko kemaren, terpilih bahwa Debe dan Blogie adalah bloger-bloger wortel yang berhasil merebut hati temen-temen gw. Komen mereka, “ni anak fotogenik banget deh, imut, bikin gemes” 😆

blogger bekisar : laporan observasi (pt.two)

Oke, kemaren sampe mana ?? oia, kita sampe pada adegan duduk2 istirahat. 

Benar, sodara2. keteguhan mas Zam dan bang Kailani cukup membuat kami terinspirasi. Sayangnya, terik matahari yg pas banget di ubun2 –jam 12an, men !! – membuat sebagian besar dr kami harus tahu diri –termasuk diriku- dengan keterbatasan fisik kami :p 

Sementara itu, obrolan mengalir akrab dan menyenangkan (buat daku sih). Walo daku baru bisa berperan sebatas pendengar, lha rada ga mudeng je, tapi sudah cukup membuat saya terhibur. Terutama dengan adegan mat-matan alias gojeg kere alias dialog yang berbau banyolan khas Thukul (bukannya membandingkan, krn daku tahu pasti kl kalian punya gaya tersendiri ^_^  tetapi supaya yg lain bisa membayangkan seperti apa dagelan gaya mataraman / jogja itu). Saling nge-ledek, ungkapan2 khas blogger yg disituasikan untuk kehidupan nyata, banyolan2 miring, hmmm….cukup membuat otot2 bibir daku agak kram krn nyengir terus (selain itu mungkin juga ketularan mas sapa tuh, maap bgt lupa namanya, yg duduk deket Kang Herry. Daku perhatiin, mas satu ini kl ketawa, lepas banget, bener2 menyenangkan). Dan topik yang paling heboh memancing antusiasme pada siang panas itu (kl di wordpress kan, topik2 yg berbau sara) adalah perbayutan, huehehehe….. 

Tetapi sodara, ada yg terabaikan pd siang selepas gerilya perburuan sampah itu. Ketika yg lain asik cenderung untuk mendekati kerumunan, ada satu sosok yg cenderung menjauh dr kerumunan. He, whats wrong ??? ketika yang bersangkutan akhirnya memutuskan untuk bergabung pun, daku amati, beliau tidak terlibat secara interaktif, kecuali pd sesi perkenalan. Tapi tidak apa-apa, semoga hanya karena karena beliau adalah pribadi yg introvert saja…. (uuuw, aku suka cowok pemalu…. –bletakkkk !!! diganjar bra bekas dewi persik-) 

Teman-teman yg muslim pun tak lupa untuk menunaikan kewajiannya, sholat dluhur. Di tengah2 antrian wudhu dan kamar mandi, terbetik berita bahwa eyang soeharto akhirnya meninggal –oh thanx to technology !!! – Mendengar berita tersebut, ternyata reaksi teman2 biasa-biasa saja. Paling celetukan ‘he, sholat ghoib dong’ semacam itu. Acara dilanjutkan dengan MAKAN SIANG !!! Yeeeeiii, waduh, ouwgh, sedap sekali teman ^^

** Intermezzo : tahukah kalian, apa rahasia makan uenak itu ??? Cuma dua, perut pas lagi laper dan hati pas lagi seneng^^ 

Terimakasih sekali kepada mas Veta (astaga, ternyata dia sesama cah psikologi tho…..astaganagaperkasa, dunia itu sempit ya), dengan segala kedermawanannya, bersedia menanggung makan siang. Sumpah, tempe goreng tepungnya waktu itu enak sekali. Daku ambil tiga ato empat ya…. –gluk, sambil nulis ini kok jadi laper, pengeeeen – 

Singkat cerita (sepertinya ada yg protes krn gaya postingan ini yg sinetron bgt, dipanjang2in episodenya, mentang2 rating tinggi :p), setelah makan siang dan leyeh2 keenakan dibawah rimbunnya pohon cemara, bis yang akan membawa kami pun datang. Persoalan baru muncul : sampah mo digimanain ??? bawane piye ??? buang kemana ??? (dan dengan goblognya, daku nyeletuk utk dibuang di Piyungan, karena disana ada TPA. Halah, juawoh buanget to ya, jeng)  

Akhirnya, kami pulang menuju kota jogja. Teman2 yg tadinya naik bis, pulang tetep pake bis, begitu juga mereka yg naek motor. Nah yang menarik, kami yang di bis mempunyai teman baru : kantong2 sampah ! Ya, kami pulang sambil mengusung sampah ke TPSSementara. Dalam perjalanan pulang, daku perhatikan wajah2 loyo dan ledeng. Tapi daku berani bertaruh, mereka bukan karena kecapekan mungutin sampah, tapi karena hawa panas saja. Jadi, andai matahari lebih bersahabat, sepertinya temen2 jam tempurnya bakalan lebih tinggi, hehehe. Jangan tanya aroma dalam bis, teman, aduhai deh…tapi udah gak kami rasakan lagi. 

Sesampainya di kota jogja, beberapa teman langsung pulang, sementara mas Anto dan teman2 merencanakan untuk melanjutkan kopdar sekaligus meng-entertain Kang Herry. Diputuskan, bahwa daku mendapat kehormatan untuk menjadi tempat transit sebelum rombongan cabut ke angkringan Cak / Lếk Man ato lebih dikenal dg Angkringan Tugu. Maka, sesampai rumah, ku buru2 berburu jajanan pasar sekadarnya untuk menjamu tamu2 red carpet nantinya. Adapun lokasi perburuan jajan pasar ini, setahu saya, pusatnya ada di Pasar Kranggan dan sekitar Taman Sari. Nah yang di Taman Sari ini, ternyata petang juga buka, khusus dari sore. Maka puthu ayu, sosis solo, semar mendem, dan tahu bakso pun siap untuk menjadi teman ngobrol. 

 **hehe, sekalian info kuliner nih. Konon, penjualnya bilang, semar mendem yang ku beli kmrn istimewa, karena kulitnya yang biasanya dari kulit dadar, yg ini dari telo ato ketela. Adapun isinya tetep, yaitu parutan kelapa yang dicampur gula jawa, lazim disebut enten-enten 

Pukul 19.30, tak sengaja daku ketemu Kang Herry yg sedang naik becak melintas jalan Caturwindu. Beliau ini rupanya menolak untuk dijemput dan lebih suka untuk mencari sendiri. Dan kedatangan beliau mengukuhkan, bahwa beliau lagi2 adalah tamu teladan, karena on time terusss hehehe (dan sempet mo bayari kita pas mo masuk Pandansari lo^^). Yap, ketika itu, beliau adalah yg pertama absen di pendopo cafe. Disusul oleh Uncle Goop (eh ternyata bukan….waduh, trus sapa ya yang dateng waktu itu?? maap untuk yang bersangkutan… >__<), yang sedari awal duduk, matanya langsung menatap nanar tahu bakso. Disusul Kang Deden yang sempet kesasar, trus mas Anto, mas Eko, Gun, Leksa, trus sapa maneh yaaa kloter pertama ini ??? 

Ada kejutan yang menyenangkan di sesi kedua kopdar ini, karena pada akhirnya tamu dari malang akhirnya bisa bergabung dg kami. Yeeeeei, akhirnya Siwi datang, dibonceng mas Joe, huhui. Dan astaga, mbak Siwi ini baru mo masuk pager rumah, udah teriak2 ‘kucing, kucing’ astaga…… :p

Omong-omong tentang kucing, astaga, salah satu kucingku bener2 caper banget. seperti tahu aja, kl tamu-tamu yang atang mayoritas cowo. Jadinya, Cici (kucing daku yang sudah ku kebiri) menikati sekali berada di tengah-tengah para cowo ini^^.

Daku cukup terkesan dengan mbak Siwi ini. Daku akui, sebenarnya daku cukup penasaran dg sosok satu ini, apalagi setelah baca postingan ketika dia diajak ML ma fans-nya, hehehe. Daku bayangkan, sosoknya tinggi gedhe macho gitu. Ternyata mungil manis criwis banget^^ 

Pukul 21.15an, rombongan akhirnya pindah ke tempat Cak Man yang memang sangat dekat dr rumah daku. Pada kesempatan ini, dg sangat menyesal daku mohon maaf tidak bisa ikut dikarenakan kondisi badan yang sedang tidak fit. Setelah rombongan tersebut pulang, masih ada kloter susulan yang telat, seperti mas Funkshit, mas Sandal, dan mbak Tika (oke deh, plus mas Pengki ya…mas Pengki waktu itu mbonceng / dibonceng sapa ?? mas Funkshit ya???^^). Oh ya, ada juga Nico yang super telat, Cuma setor sms aja :p (tp sepertinya kau susul mereka ke stasiun ya) 

Akhirul kalam, setelah daku meng-sms Kang Herry mengucapkan selamat jalan dan terima kasih, daku pun langsung tertidur pulas…… 

-masih bersambung-  

PS :

  Terimakasih untuk teman-teman di cahandong, yang sudah bersusah payah meng-organisir acara ini. Acara ini cukup sukses, mampu menggaet 30an blogger dr berbagai kalangan, dan tak sadar, terbentuk tali silaturahmi dan jalinan rasa yg cukup erat di antara alumni bekisar^^ (setidaknya angka statistik kunjungan bertambah dengan adanya teman2 baru, huehehehe hus!!)

Jika sekiranya hendak diadakan lagi acara semacam ini, diperlukan semacam evaluasi sehingga acara yang berikut lebih baik lagi dan berkesan bagi semua yang hadir, termasuk jika ada tamu dr luar kota. Karena disadari ato tidak, blogger tuan rumah menjadi duta pariwisata bagi kotanya. Jika cukup berkesan bagi tamu, bukannya tak mungkin postingan yang dituliskannya, mjd promosi bagi pariwisata daerah^^

Hendaknya tali silaturahmi yang telah terjalin, tetap terjaga di luar dunia maya. Efek positifnya, bukannya tak mungkin lahir tindakan2 yang didasari wacana2 hasil rumpian yang diteruskan dr bilik kamar maya.

Dari kesan pribadi, tidak selamanya stereotype bahwa individu yang lekat dg dunia maya adalah pribadi yang canggung berinteraksi secara langsung, adalah benar. Ternyata ada juga pribadi-pribadi yang cukup ekstrovert ketika bertemu. Yang jelas, pertemuan antar pribadi yang berbeda, merupakan latihan social skill. Saran daku, expect the unexpect.

  • saran jikalau masih ada yg berminat bikin sekuelnya ato franchise-nya : perhatikan soal konsumsi (makanan dan minuman) krn kegiatan semacam ini cukup menguras tenaga. ga usah mewah, bahkan air putih pun cukup (malah harus berlimpah). jika sedari pagi mruput, seyogyanya sediakan konsumsi sarapan. sekali lg ga usah mewah. karena itu, untuk dana dibikin transparan aja, sehingga kl butuh saweran, kan jauh2 hari bisa sounding^^
  • P3K juga diperhatikan (thanks banget untuk mas-mas yang udah belanja, waduw, so sweet perhatian banget).
  • sampah yg udah dikumpulin, mo diapain ??? kl mo dibuang, angkutannya gimana ?? (hikmah kemaren, dr temen2 yg semangat go green-nya sempet daku ragukan^^, ternyata bermanfaat. krn lowongnya bis bisa digunakan untuk angkut sampah)
  • apalagi ya…..mungkin dr hal2 kecil, seperti soal waktu, acara biar ga garing terutama bagi temen2 yg pendiem (gimana caranya biar dipaksa omong, hahaha). tp secara umum, acaranya kemaren bagus kok, sukses. daku yg blm begitu ngeh, ga garing tuh.
  • terimakasih dr lubuk hati yg terdalam untuk seksi sibuk, untuk para dermawan….seperti mas iman brotoseno yg katanya nyumbang bis, trus mas veta yg udah sedia makan siang dan tempe yang mak nyus, dan dermawan2 lain…. (eh beneran ni, dr kemaren itu, kita ga dipungut biaya ???)

akhirul kalam, TERIMAKASIH……semoga silaturahmi yg telah terjalin terus terjaga. semoga niat baik bekisar, mampu menggugah setidaknya kognitif mereka2 yg masih cuek beibeh dg kebersihan lingkungannya….amin 509x *ditraktor MaNongAn, krn melanggar hak cipta*

blogger bekisar : laporan observasi (pt.one)

  • perhatian : ini cerbung
  • maap, belum pake ilustrasi poto, lg dipilihin –
  • link juga belum sempurna –

Awalnya dr sebuah komennya zam, di salah satu posting, yg menceritakan keadaan pandansari riwayatmu kini. Berhubung daku sedang ga intens dengan dunia maya, maka promosi yang sekaligus sbg undangan itu belum terlalu memikat perhatian. Beberapa hari kemudian, melayang undangan yg dikirimkan Zam lewat sms. Undangan untuk ikutan bersih-bersih Pantai Pandansari, tertanggal 27 januari jam 7 kumpul di Vredeburg. Hualah, pucuk dicinta ulam tiba. Ini undangan kopdar bukan ??? Buru2 daku sounding ke pacar gw, bahwa hari Minggu tersebut daku tak bisa berada di sisinya dikarenakan ada undangan dr komunitas blogger untuk bersih2 pantai. Sengaja ga ku ajak, biar ga ganggu ketika waktunya daku untuk ngelaba nanti….huehehehehe….

Sayangnya, ketika kucoba untuk mengajak bbrp temen cewek yg masih lajang tp sudah punya pacar semua, ga ada satupun yg tertarik, walo udah di iming2i acara ngelaba (kan sebagian bsr blogger yg hadir nanti, cowo, hehehe).

Baca lebih lanjut