Patholo, Rengginang Dari Singkong

Apdet blog lagi ah, biar masih dicap blogger *lho* 😂😂

Jadi begini, beberapa hari lalu saya mendapat oleh-oleh dari tetangga. Isinya kripik dua macam, yang satu bentuknya mirip rengginang, yang satu lagi mirip emping. Keduanya mesti digoreng dulu dengan minyak panas (ga usah dijemur). Pas udah mateng, masih anget fresh from wajan, saya ambil satu rengginang. Sempet mbatin, kok bentuk rengginangnya agak beda. Trus pas ngunyah, tambah heran lagi. Kok rasanya lain banget ya dengan rengginang biasanya. Krispi sih, tapi lengket di gigi dan lidah.

Sempet rasan-rasan sama orang rumah, jangan-jangan rengginangnya terbuat dari nasi sisa. Soalnya bentuknya lain dan rasanya lengket pas dikunyah.

image

Nah begitu lho penampakannya. Beda kan bulirnya dibanding rengginang. Pagi tadi pas lagi jemur Anya (kok koyo kumbahan, dijemur 😅) ngobrol sama tetangga tersebut. Dari obrolan tersebut baru tahu kalau kemaren yang dikasih itu bukan rengginang tapi patholo.

Patholo ini produk asli dan khas Gunungkidul, terbuat dari singkong. Sempet gugling, patholo disebut-sebut rengginang singkong dan keknya belum populer sebagai jamuan wisata kulineran atau sebagai oleh-oleh. Tapi ada juga teman yang bilang, jeung @dewikr, bahwa produk ini ternyata dijumpai pula di Bengkulu dan juga terbuat dari singkong. Namanya tetep rengginang. Kita tunggu keterangan lebih lanjut dari beliau, katanya ada produk serupa di kampung halamannya di Kediri sana, cita rasanya juga lengket gigi tapi belum tahu terbuat dari apa, singkong atau keju eh bukan. (Singkong dan keju mah judul lagu. Yeee ketahuan angkatan Arie Wibowo.)

Oya, sengaja tidak membahas oleh-oleh yang satunya karena pas mau icip ternyata udah abis. Ketoke diabisin sama suami, maklum suami saya termasuk sub spesies Homo Sapiens yaitu kripikus-tukang-nglethus. Penjelasannya adalah, penggemar klethikan berupa kripik, krupuk, dan krepek. Kalau kresek adalah klethikan ketoke ya bakal disikat suami.
Padahal yang udah diabisin suami adalah keripik yang terbuat dari ubi garut, khas Bantul. Bentuknya mirip emping, itu aja yang dapat saya ceritakan. Pas tahu diceritain sama tetangga, benernya penasaran sih. Secara ubi garut kan udah langka.

Iklan

oleh-oleh dari cangkringan, kaliurang

Hari Minggu kemaren, niatnya sih mau jalan-jalan menyusuri kali di Kaliurang. Semi hiking tapi yang fun, untuk beginner macam saya ini. :mrgreen:

Tapi apa daya, hujan yang mengguyur kota Jogja, membuat rencana tersebut terancam gagal. Karena niat jeng-jeng sudah membulat, maka suatu improvisasi diperlukan. Maka, jadilah kemaren jalan-jalan buang bensin menyusuri Kaliurang. Ehm, rindu yang membuncah dengan alam, membuat kami nekat menyusuri Kaliurang sembari berhujan-hujan.

Kali ini tak banyak yang saya katakan, cukuplah gambar yang bicara.

di-atas-jembatan-kalikuning1

Ini di jembatan Kalikuning…eh, sekarang jembatannya baru loh. Baru dibangun, hehehe..udah selesai kok.

Ngalamun di jembatan ini bakalan disuguhi pemandangan Merapi yang indah buanget. Udah gitu, konstruksi jembatannya juga unik, karena menurun di tengah-tengah. Saya ga tahu, ini jembatan lahar ato bukan. Katanya kalo jembatan lahar, konstruksinya beda dengan jembatan biasa.

Trus, yang asik lagi, kamu bisa turun jembatan dan main-main di sungai ^^

*sempet mergoki bekas tapak manusia dan anjing. sepertinya ada yang ngajak anjingnya jalan-jalan menyusuri Kaliurang di pagi hari. Uwaah…jadi pengin punya Siberian Husky..*

jembatan-baru2

jembatan-kalikuing-lawas1

jembatan-kokoh1

brem-bali

*ini intermezzo. nemu botol kosong tak bertuan di pinggir jembatan. huhuuuww….ada yang mencoba untuk menghangatkan diri, rupanya… :mrgreen: *

Pakdheeee…pengen oleh-oleh dari Bali ini nih… 😛

sayurane-wong-ndeso1

Tau ga, ternyata tanaman meliar seperti ini, yang banyak terdapat di sekitar kali, oleh warga setempat sering dipetik dan dimasak gitu. Sempet ketemu sama ibu-ibu yang lagi methiki tanaman tersebut, ada dua jenis tanaman tapi lupa apa namanya. Katanya enak utk dimasak santan pedas ato dioseng. (mmm)

warung-umbul

warung-umbul2

pemanangan-dpn-warung

Sewaktu lewat warung ini, ntah kenapa, saya jadi ngiler dan memutusan untuk mampir. Sate jamurnya itu looohhh…saya kan suka sekali dengan berbagai jamuran. Kata Pak Bondan, jamur adalah The King of Vegetables. Padahal 40 menit sebelumnya, kami sudah makan lontong tuyuhan di deket kampus UII lho…tapi hawa dingin memang membuat siapapun cepat melapar… :mrgreen:

Dari warung tersebut, kita bisa melihat pemandangan indah, bukit Turgo yang diselimuti kabut dan kebun-kebun nan permai. ^_^

jangan-lobok-ijo

jangan-lombok-ijo2

jangan-lombok-ijo3

puyuh-bacem1

pepes-jamur

Pepes jamur ini sungguh sedap dan bisa untuk oleh-oleh. Cuma 1500 perak pebungkus. Kaliurang sepertinya memang jadi sentra industri kecil jamur, banyak yang membudidayakan jamur, terlihat dari banyaknya grajen untuk media jamur di rumah-rumah.

Olahan jamur yang lain, yang ohhhh….sungguh sedaaappp….. *merem melek*

sate-jamur-tiram

sunflower2

sunflower3

sunflower4

sunflower

minta-kembang

Ndak jauh dari warung tersebut, ada kebun cabe yang pinggirnya dipenuhi dengan bunga matahari. Berhubung bunga matahari ini termasuk bunga favoritku, jadilah ku manfaatkan untuk menikmati  keindahannya, syukur kalo bisa minta bijinya untuk ditanam. Eeee….ternyata boleh. Tuh, sama si Ibu, malah diambilin biji-biji dari bunga yang sudah tua.  See, bunganya tinggi ya ? Konon, tingginya bisa mencapai dua meter lho.

Kali ini, rute bergeser ke arah Kaliadem. Pemandangan di Kaliadem lebih eksotis, karena jika kita minggir sedikit, sudah bisa menyaksikan jurang-jurang nan curam. Dari atas kita bisa menyaksikan sisa-sisa wedhus gembel yang berubah wujud menjadi berkah bagi sebagian orang : tambang pasir.

Tak lupa, kalau mau terus, kita bisa ber-lava tour. Berhubung sudah sering, kami memutuskan untuk terus menyusuri jalur alternatif.

kaliadem2

kaliadem

tambang-pasir21

tambang-pasir

pedhut

Karena kabut alias pedhut semakin tebal (sementara kegiatan penambangan di bawah kami tidak jua berhenti), maka kami memutuskan pulang. Tentu saja dengan membawa segepok peps jamur yang menanti untuk dipanggang.

THE END          :mrgreen:

goa cerme, keindahan yang terbentang dari langit hingga dalam bumi

Selalu ada berkah dibalik setiap peristiwa. Klasik tapi benar adanya, dan saya sudah berkali-kali membuktikan kebenarannya. Seperti kemarin. Jadi latar belakangnya, saya nggak jadi terima job karena persoalan teknis, tapi siapa sangka dibalik itu saya justru bisa masuk goa, merasakan caving amatiran. Jikalau sendirian, pasti malah tidak terlaksana karena berbagai alasan.

Yak, sodara-sodara. Kemaren itu, saya mengunjungi obyek wisata Bantul, Goa Cerme. Serombongan turis Korea-lah yang membawa saya. Malunya, malah mereka tahu lebih dulu dari browsing internet. Sebenarnya, obyek wisata ini sudah lama adanya. Saya pun selama ini Cuma lewat-lewat saja, belum pernah masuk hingga ke dalam obyeknya. Kemaren-kemaren tujuannya malah nongkrong di atas perbukitan kapur, sebelum menuju Parangtritis lewat jalur alternatif (menembus perbukitan kapur), menyaksikan keindahan bumi Bantul yang menghampar. Atau sekedar jalan-jalan sore menikmati hembusan angin sambil memandangi karpet alami yang terdiri dari sawah menghijau, kerbau membajak sawah, dan terakhir kali jalan-jalan disitu, saya kehilangan sandal, gara-gara terperosok di lendut alias tanah sawah. Lumayan, gratis spa lumpur sawah :p

Goa cerme ini bisa dituju lewat jalan Imogiri. Ada banyak petunjuk jalan yang mengarah ke Goa Cerme. Bahkan, traveler amatiran penderita disorientasi arah macam saya ini, bisa menemukan dengan mudah hanya berbekal petunjuk yang dipasang oleh dinas terkait. Kebetulan waktu itu, berbarengan dengan kunjungan MenSos ke Bantul, jadi lagi-lagi keberuntungan menyertai saya, karena jalan jadi lancar, dijaga oleh polisi dan tentara.

Sebelum ke Goa Cerme, saya sarankan anda-anda sekalian untuk mampir makan siang di warung ramesan Mbak/Bu Pur, yang berada tepat di pojokan pertigaan sebelum ke tanjakan arah Goa Cerme. Warung ini menyediakan menu-menu ndeso dan otentik, yang dijamin tidak anda temukan di kota-kota besar. Menu andalannya brongkos yang bercita rasa pedas. Kemudian ada juga oseng-oseng kulit melinjo, oseng-oseng pare, dll. Sayangnya, untuk lauk, kemaren ketika saya mampir makan, kok tidak selengkap terakhir saya datang (sekitar tahun 2004-2005). Dulu itu ada lele asap dan wader goreng. Kemaren kok tidak ada.

Berdua kami makan lengkap dengan minum, Cuma habis 12.500 perak. Wow, murah meriah dan mengenyangkan. Puas setelah mengisi amunisi, kami segera menuju Goa Cerme. Sebelumnya kami diberitahu oleh penduduk setempat, untuk kendaraan mini yang mungkin tidak kuat menanjak, bisa lewat jalur lain. Patokannya, pertigaan yang ada beringin, belok kiri. Tapi jika Anda termasuk kategori advance dalam menyetir kendaraan dan tidak ada masalah dengan tanjakan yang lumayan ekstrim, tidak apa-apa mengambil jalur lurus.

Untuk jalan, tidak usah khawatir. Sepanjang jalan, aspal mulus menemani kami. Dan sepanjang perjalanan, benar saja, pemandangan indah mempesona mata saya. Apalagi ketika mulai melewati tanjakan-tanjakan, sehingga bisa memandang pemandangan dari atas. Temans, mata saya benar-benar dimanjakan dengan perbukitan menghijau (karena sehabis musim hujan kali ye, jadi hijau. Coba kalau sudah musim kemarau, mungkin agak gersang, karena perbukitan yang kami lewati adalah perbukitan kapur). Apalagi dalam perjalanan kembali, pemandangan lebih indah, karena tidak hanya sekedar perbukitan, tapi juga sawah-sawah.

Kami memarkir mobil di pelataran rumah penduduk yang memang disiapkan untuk tempat parkir. Sayangnya, untuk jalur yang kami lewati, kami harus menaiki tangga yang agak jauh dan cukup melelahkan sebelum ke Goa Cerme. Jika melewati jalur yang satunya, mobil bisa parkir tepat di jalan setapak menuju Goa Cerme, dan dari situ Anda cukup berjalan kurang lebih 100 meter, tidak terlalu menanjak, tidak bikin ngos-ngosan.

Dari pemandu yang menjaga, kami mendapat keterangan, sebelum masuk Anda harus membeli tiket sebesar seribu rupiah per orang. Dan untuk masuk ke dalam goanya, Anda harus ditemani pemandu. Jasa pemandu sebesar 2000 rupiah per orang. Jadi misal Anda rame-rame dengan teman sebanyak 8 orang, masing-masing bayar 2000 untuk pemandu, begitchu….

Sesampai di bibir goa, saya lagi-lagi dibuat terpana oleh keindahan lukisan Tuhan. Kampret, slompret, bin semprullll, saya lupa bawa kamera !!! Pake hape ??? Duh, ga puas banget dan karena saya cenderung perfeksionis, saya tak sampai hati membingkai keindahan tersebut dalam layar hape.

Lekukan sungai entah apa namanya, saya lupa, seperti cacing besar raksasa yang keperakan berkilauan tertimpa sinar matahari, perbukitan yang seperti candi, karena berundak-undak oleh sawah kehijauan, bukit-bukit perawan yang berlapis-lapis, dari yang terjauh berwarna kebirauan tipis lalu dilapisi lagi oleh perbukitan di depannya yang berwarna biru-kehijauan, dan terakhir perbukitan dengan rumah-rumah mungil yang tampak seperti noktah, berwarna hijau tua. Semua dengan latar belakang langit membiru….

Oase bagi mata yang lelah mempelototi layar komputer dan jiwa yang penat di tengah-tengah paket rimba beton dan polusinya.

Ketika kami datang, berbarengan dengan beberapa warga sekitar yang membawa perbekalan. Kami sempat GR, tapi rupanya ada warga yang kenduren karena punya gawe mantu. Warga tersebut, Bapak-Bapak, membawa tikar dan ubo rampe berupa nasi, urap, ingkung ayam, dan buah, yang dibungkus daun jati. Ubo rampe tersebut didoai bersama-sama, tepat di mulut goa, dan kemudian disantap bersama-sama. Pemandangan menyenangkan, menyaksikan kebersamaan pedesaan yang mulai luntur di kota-kota besar.

Sebelum masuk ke dalam gua, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk kenyamaman bersama. Disarankan untuk membawa senter sendiri, karena di dalam goa cukup gelap. Bisa juga menyewa senter, sebesar 5000 rupiah, tetapi nyalanya tidak terlalu terang dan berat dibawa karena pakai aki segala. Oia, bagi pengunjung disarankan untuk memakai celana pendek dari bahan yang cepat kering dan membawa ganti pakaian serta sandal gunung.

Jalur dalam goa sendiri jika dituruti hingga mentok, sepanjang 1,2km, dan menyusuri sungai dalam tanah. Ketinggian antara selutut hingga pangkal paha. Air sungainya sendiri keruh, karena stalaktit dan stalakmit terselimuti oleh tanah lempung. Beda dengan Goa Seplewan, yang terletak di perbatasan Kulon Progo-Purworejo. Sungai di goa tersebut, airnya jernih….

OOT, Goa Seplewan juga wajib dikunjungi oleh Anda-anda penggemar wisata yang berbau petualangan. Soal keindahan alam, jangan ditanya. Anda bahkan bisa berdiri di atas bukit, dan memandang lepas ke perbukitan Laut Selatan pantai Parangtritis hingga ke kota Purworejo. Kereeeennnnn !!!! Jalur juga cukup menantang, sedikit off road (kalau belum diperbaiki aspalnya), dan ngadem di hutan sengon (???) tapi tenang, kereeeennnn banget !!! Bahkan terdapat peninggalan purbakala, sebuah candi primitif (??) berbentuk lingga dan yoni. Di tempat ini juga pernah ditemukan arca emas serupa dewi, entah dewi siapa saya lupa.

Kembali ke goa. Ada yang lucu dengan goa ini. Jadi begini, saya heran, sewaktu nyampe ke bibir goa. Selain pemandangan yang terkesan purba banget, dinding cadas, pohon-pohon kukuh tinggi menjulang, sulur-sulur perdu, ada patung seorang laki-laki bersorban naik kuda. Saya heran, patung siapakah gerangan. Ternyata itu patung Pangeran Diponegoro. Loh, kok Pangeran Diponegoro sampe sini, bukannya markas beliau di Goa Selarong ?? Apakah Goa Cerme termasuk salah satu petilasannya ?? Jawab sang pemandu, beliau buka cabang di Goa Cerme ini.

Wakakaakkkk, ada-ada saja Mas Pemandu ini.

Tapi, memang penempatan patung Pangeran Diponegoro ini rada ngawur. Setelah ditelisik, ternyata patung tersebut sebagai hiasan saja. Goa Cerme ini malah dulunya konon sebagai tempat pertemuan Walisongo, yak semua wali itu, bertemu di tempat ini dan membicarakan pelbagai permasalahan, duniawi dan spiritual.

Entah ada hubungannya atau tidak, goa ini juga menjadi tempat untuk bersemadi atau bertapa. Kemaren, saya melihat sisa-sisa bakaran entah menyan dan bunga tabur. Selain itu masih tercium lamat-lamat, wangi dupa.

Pemandangan di dalam goa tak kalah menakjubkan. Saya serasa di alam realis Salvador Dali, karena bentuk dinding goa serupa benar dengan ciri khas pelukis tersebut. Bahkan sesaat imajinasi saya melayang, berada di dunia science fiction, dunianya Alien dan Predator, karena bentuk stalaktit dan stalakmit seperti bentuk monster-monster khas film-film sci-fi, tidak beraturan, aneh, tapi luar biasa. Sayang, saya hanya menyusuri sekitar 500 meter kurang, karena rombongan turis tersebut tidak berani untuk berjalan lebih jauh. Mereka tidak mempersiapkan diri untuk jenis wisata petualangan, sehingga kami pun mendampingi mereka juga sampai situ saja.

     gambar diambil dari sini

Keseluruhan, obyek wisata ini mulai dikelola secara profesional, terlihat dari berbagai faslitas yang sedang dibangun untuk memudahkan wisatawan. Lingkungan juga cukup bersih, tidak tampah sampah yang dibuang sembaragan. Entah dengan toilet umumnya, karena tidak sempat saya inspeksi. Kekurangannya, parkir kendaraan yang mahal, masak mobil dicharge 5000 rupiah. Selain itu, masih minim informasi. Pemuda setempat yan kebagian jatah untuk mengelola (mungkin diajak kerjasama oleh dinas pariwisata Bantul), juga hanya memberi kami dua lembar leaflet mengenai Goa Cerme. Atau mungkin keberadaan leaflet diganti oleh semacam papan informasi yang tidak saja berisi keterangan tentang Goa Cerme tetapi juga obyek wisata lain yang dekat-dekat situ.

Bahkan dari ngobrol ngalor ngidul, bisa saja ke depannya dikembangkan berbagai game-game outdoor yang menantang adrenalin, seperti flying fox, bungee jumping, panjat tebing (khusus kelas pemula), dll.

Two thumbs up, rekomendasi penuh bagi penggemar wisata alam yang berbau petualangan, apalagi bagi yang masih kelas amatiran. Jogja ga melulu isinya Malioboro (uuuh basiiiii !!!), Kraton, dan Taman Sari. Dan saya membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin saya temani ke Goa Cerme, saya masih berhasrat caving dan hunting foto ala kadarnya :mrgreen:

ayam ungkep bumbu suka-suka

Dude, gw mo pamer nih, hahaha.

Sebenarnya, lebih karena kepepet alias terdesak keadaan, yaitu karena Pekerja Rumah Tangga kami pulang. Yang bersangkutan lagi panen, istilah dia : mépé damên.

 Jadilah gw (terpaksa) kembali beraksi di dapur, setelah sekian lama daku tinggalkan. Dan, masterpiece yang tercipta siang itu di redaksi dapur adalah : Ayam Ungkep Bumbu Suka-suka.

Mengapa bumbu suka-suka ??? Karena gw punya kecenderungan, suka bereksperimen dalam memasak. Seringkali, masak tuh, bumbunya asal masuk -plungplungpluk- kayaknya enak, masukin aja. Jadi, kalo sudah bereksperimen begitu, jangan harap bisa menghidangkan lagi dengan persis sama, karena sudah lupa tadi bahannya apa saja.

Karena alasan itulah, maka saya ingin mendokumentasikan, siapa tahu William Wongso atau Bondan Winarno berkenan untuk menyempurnakannya….. :mrgreen:

 Berikut bahan-bahannya ;

 Ayam bagian dada, yang sudah dibersihkan dari kulit dan lemak. Disarankan ayam kampung, karena rasa lebih gurih dan tidak amis.

 Bumbu-bumbunya, sederhana saja :

 Air jeruk peras

Garam secukupnya

Ketumbar dihaluskan

Daun jeruk (sebanyak yang kamu suka !!!!)

Serai (sebanyak yang kamu suka !!!)

Saus tiram

Penyedap rasa, sedikiiiit saja

Potongan nanas (kalau kamu suka)

Cabe rawit (sebanyak yang kamu suka)

Daun salam secukupnya

 

Kalau ingin lebih berani bereksperimen, bisa saja tambahkan minyak wijen, jahe yang sudah dimemarkan, atau apalah, suka-suka kamu, asal masih dalam batas wajar (Ya kan nggak mungkin ditambah oli, solar, arsenik dsb ????).

Jadi begini sodara. Potongan dada ayam yang sudah dicuci dan dibersihkan, campurkan dengan air jeruk peras (yupe, jeruk yang biasa untuk bikin es jeruk itu lho) dan garam. Lalu diungkep. Diungkep ini, sepengetahuan saya, cara masak dengan sedikit air dan bumbu-bumbu yang dimasak dengan api kecil-sedang dan ditutup, hingga air habis dan ayam mengeluarkan minyaknya.

Cara masak ini yang juga jadi rahasia keluarga tiap memasak ayam terutama ayam ras atau ayam broiler, sebelum diolah menjadi semur ayam, ayam goreng, dll. Mengapa ?? Karena dengan diungkep, semua lemak alias gajih, keluar selama proses pengungkepan, sehingga cita rasa ayam menjadi lebih kesat (walau untuk sebagian orang mungkin menjadi kurang sedap). Biasanya untuk pengungkepan ini, cukup ditambah garam dan entah jeruk nipis atau jahe untuk menghilangkan rasa amis.

 Jadi seperti saya uraikan di atas, ayam campur air jeruk ini diungkep hingga air jeruk hampir habis dan keluar minyak ayam. Lalu tambahkan bumbu-bumu seperti saus tiram (minyak wijen jika ada), sedikit penyedap, ketumbar, dan tambahkan air lagi. Masak lagi hingga air hampir habis lagi. Tambahkan air lagi, masukkan potongan cabe rawit, daun jeruk, serai yang dirajang halus, daun salam. Masak lagi hingga air mengental. Cicipi dulu deh. Kalau masih terasa asin, tidak apa-apa tambah air lagi dan diungkep lagi.

Jika sudah mencapai tingkat kematangan yang diinginkan, tambahkan potongan nanas, untuk menambah cita rasa segar. Diganti dengan black pepper pun oke saja.

Dan hasilnya ???

 

 

 

hehehe……garnisna sama sekali ga menarik ya ???

*loh kok ga pede ???*

 

mitos penglarisan dan kuliner

* ditulis minggu dini hari pukul 02.00

*sepi….sendiri…di luar kamar gelap gulita

* kadang terdengar suara daun-daun ditiup angin dan bau-bau aneh

Temans, pernahkah dikau dikisahi oleh sahabat-sahabatmu, bahwa ada tempat makan yang sangat laris dan sedap. Karena info yang menggebu-gebu dari sahabat tersebut, dirimu pun berhasrat untuk mencari tahu. Dan dari pengamatan, memang benar, tempat tersebut laris manis tanjung kimpul, bahkan deretan mobil pun berjejer antre. Tanpa ragu, dirimu pun langsung memuncak hasrat untuk segera mencicipi kelezatan menu yang ditawarkan. Tetapi……….temans, setelah dikau mencicipi hingga tetes penghabisan, bukan orgasme yang kau dapat, melainkan kecewa. Ternyata rasanya kok biasa saja…..

Pernah mengalami kisah di atas ?? Pernah heran dengan tempat makan yang laris dan selalu ramai padahal menurutmu, rasanya biasa saja ??

Jangan khawatir, anda tidak sendiri di dunia ini. Saya pun pernah. Dari bisik-bisik underground, terungkap sisi lain dari petualangan kuliner yang kelam, gelap, dan penuh misteri. Sisi lain tersebut adalah (disini jeda dulu, kemudian ucapkan dengan pelan, suara berat dan penuh penekanan)

p e n g l a r i s (backsound tertawa seram a la kuntilanak dan musik horror).

Istilah tersebut, saya kurang begitu jelas asal muasalnya. Bisa jadi karena memang ditujukan untuk melariskan dagangan. Jika anda akrab dengan kisah-kisah dari dunia lain, semacam pesugihan dan sebagainya, maka penglaris adalah salah satu diantaranya. Penglaris ini memang menggunakan mediasi yang sulit diterima oleh akal sehat dan mereka yang tak percaya dimensi lain selain dimensi panca indrawi. Penglaris biasanya menggunakan media jimat-jimat, atau mantera, doa, lelaku ritual tertentu, hingga makhluk halus.

Berangkat dari bisik-bisik underground, saya diberitahu mengenai beberapa tempat makan di Jogja yang disinyalir menggunakan penglaris. Beberapa kisah dibaliknya malah membuat bulu kuduk merinding.

Tau pocongan ?? Enggak ?? Mau lihat ??

gambar diambil dari sini

Baca lebih lanjut

serba sambal

Siang tadi, saya mendapatkan pengalaman yang menarik sewaktu makan siang nyaris sore.

Jadi ceritanya, sehabis diskusi materi untuk proyek mendatang di Caruban Madiun, perut yang sudah berkeruyuk minta diisi membuat saya terpaksa muter-muter cari makan. Dasar rewel, makan siang yang sudah telat (jam 15) saja pake banyak pertimbangan. Salah satunya adalah, ingin mencoba tempat makan baru, mumpung lagi sendirian dan ga banyak diprotes.

Dari Pandega Marta – Jakal – Kampus UGM – Deresan, akhirnya saya terdampar di Deresan. Sebuah tempat makan baru yang menjual menu aneka sambal. Bukan hal yang baru sih, tapi tempatnya cukup catchy, etnik banget dan naturalis(bata ekspose dan bentuk joglo). Disitu saya pesen pepes bandeng bakar dan sambel iris plus es beras kencur (waduh, lupa ku foto).

Sambel iris ini mirip sambel matah Bali, jadi cabe, bawang merah, serai, tomat hijau diiris-iris dan dicampur dengan minyak jelantah. Segar, gurih, dan PEDAAAAASSSSSS !!!! Saya benar-benar tobat. Untung, perut ga rewel, setelah seharian belum diisi.

Gara-gara ini saya jadi mikir, sepertinya stereotype kuliner Jogja adalah serba manis, akan tergeser menjadi serba pedas. Betapa tidak, dalam beberapa tahun terakhir ini, warung-warung makan yang menjual sensasi mulut megap-megap kepedasan, makin menjamur saja. IMO, pelopornya adalah warung SS itu. Ownernya saya akui, sangat kreatif dan inovatif, ciri enterpreneur sejati. Dia mampu melihat peluang, digabung dengan kesukaannya dan diolah sedemikian rupa, sehingga hal yang biasa (sambal) menjadi luar biasa.

Dalam beberapa tahun, jejak warung SS diikuti oleh produk me too alias ikut-ikutan jualan sensasi sambal. Yang mengherankan, warung-warung tersebut laris manis tanjung kimpul. Seperti juga warung penyetan Banyuwangi, yang pepesnya naudzubillah pedasnya, laris manis juga. Wah,wah,wah, rupanya ada pergeseran lidah orang Jogja, yang manis-manis doyan pedas. Padahal, dulu waktu ikutan kursus tentang Food and Beverage, kata pemateri yang chef Hotel Quality bilang, kl di Indonesia ini, makin ke timur citarasa masakannya pedas asin. Makin ke barat, pedas berempah dan bersantan.

Omong-omong tentang sambal, ternyata tiap daerah punya ciri khasnya masing-masing. Saya paling suka dengan cita rasa sambal yang segar, seperti sambal dabu-dabu atau sambal matah. saya sangat terkesan sewaktu pertama kali ke Ambon dan disuguhi menu serba ikan plus sambal dabu-dabu. Sambalnya bikin merem melek. Hanya irisan cabe dan bawang merah, dicampur peresan jeruk lemon (kalo gak salah). Justru kesederhanaannya itu yang bikin nikmat luar biasa. Sensasi pedas kecut, sungguh segaaaaarrrrr, bikin mabuk dan ketagihan (mungkin karena saya juga penyuka cita rasa asam). Sayang, saya belum pernah nyoba sambal dabu-dabu Manado yang melegenda itu.

Nah sambel segar lainnya adalah sambal matah, seperti yang saya deskripsikan di atas. Pernah nyoba sambal matah bikinan orang Bali asli. Pertama waktu gempa Jogja, teman-teman sukarelawan dari Bali masak-masakan seperti semacam urap (aduh lupa namanya) dan menthog, yang aduhai lezat sekaliiii pus tak lupa sambelnya. Kedua, sewaktu menghadiri pernikahan sahabat di Tabanan Bali. Wah, saya bener-bener merem melek nyaris orgasme, hehehe.

Sambal matah Bali ini, IMO, mirip dengan sambal beberuq Lombok. Maksudnya, serba segar dan diiris-iris. Belum pernah ?? Wah kudu nyoba !!! Dengan ayam taliwang, wahhhhhh….tak terkatakan….

Sambel-sambel lain yang bercita rasa manis seperti sambal bajak, sambel kecap, yah suka juga. Paling enak dengan menu serba gorengan ato bakaran. Sambal yang bercita rasa kencur, wah itu unik dan sedap banget. Apalagi sambel yang dicampur dengan irisan mangga ato kweni. Btw, tadi sempet liat warung yang sedia sambel kweni di sekitar jakal, wah harus dicoba tuh. Mungkin perlu eksperimen, sambal stroberi, sambal belimbing, wah kayak apa ya ??

Hmmmm…jadi terobsesi untuk mengumpulkan bermacam aneka resep sambal dari seluruh nusantara^^

oleh-oleh dari bandung (pt. two) : kopdar, kuliner, sampah

Menyambung postingan gw kemaren, yang melulu negatif (sedih dan muak), tentu saja selalu ada sisi positif. Seperti yin dan yang, seperti siang dan malam. Puh, kok jadi sok puitis begini ??

Jadi, perjalanan ke Bandung ini, bisa dikatakan adalah kebetulan a la The Alchemist, Celestine Prophecy, atau The Secret, yah aliran-aliran nu age itulah. Karena, sejak beberapa kali ikutan event kopdar raya yang diselenggarakan Cah Andong dan dihadiri oleh bloger tamu termasuk dari Bandung, timbul hasrat untuk ganti silaturahmi. Hanya saja, selalu terbentur masalah waktu dan perijinan (plus dana, hahaha). Nah, momen ini seperti….seperti apa ya, wah pokoknya kebetulan banget deh. Jadinya momen ini nggak gw sia-siakan untuk ber-kopdar ria dengan batagor-batagor Bandung^^.

Sayang, seribu sayang, karena suatu sebab, momen kopdar yang saya bayangkan bisa berlangsung dua malam berturut-turut (malam sabtu dan malam minggu), ternyata Cuma bisa malam sabtunya aja. Mengapa ?? Karena sabtu siang, kami sudah meninggalkan Bandung. Hik….rasanya sama sekali belum puas deh, menjelajah Bandung, hikz….

Tapi, tak mengapa. Jumat malam itu, akhirnya bisa kopdar dengan batagor Bandung, walo belum semuanya. Hanya ada Kang Agah, Catur, Mas Koen, Debe, dan tentu saja Kang Harry. Lagi-lagi kaum tomat menjadi minoritas, walhasil, adek gw, Dewo terpaksa pupus harapan, demi harapannya yang tak kesampaian untuk berjumpa dengan mojang Priangan yang terkenal geulis….

Baca lebih lanjut