Manusia Maha Adil dan Penyayang

Baru hari Sabtu siang ngetwit prediksi reaksi masyarakat terkait peristiwa pemboman Paris dan Beirut, eeehhh beneran aja mulai hari Minggu timeline udah rame dengan reaksi yang udah diprediksi sebelumnya. “Mereka” ini gampang ditebak, perilakunya gampang diduga.

Ini twit yang kuposting Sabtu siang, urutan bacanya dari bawah:

image

Twit itu berangkat dari pemikiran dan pengamatan, setiap kali ada warga yang bergerak atau beropini maka akan ada kontranya. Sebenarnya sangat wajar dan ya begitulah dinamikanya, ga ada yang mengejutkan. Yang membuatku merenung adalah kontra yang tipenya menuntut orang lain untuk menyelesaikan dan mikirin semua masalah di dunia.

Misalnya nih, yang udah lamaaaa terjadi. Ketika pecinta binatang bergerak terhadap isu kesejahteraan hewan dan against animal abuse, maka selalu ada komentar-komentar seperti :
– Ngapain bantu hewan, manusia aja banyak yang masih kesusahan
– Halah duitnya buat kucing kampung, trus gimana tuh nasib orang gila dan gelandangan? Mending duitnya buat mereka.
– Kenapa cuma kucing? Kenapa ga ayam? Tuh banyak ayam dan sapi disembelih tiap hari. Ngomong dong, belain juga.
– Dll.

Zzzzzzzz cape deeee. Niatnya ngetroll doang, ga ada niat baik sedikitpun dari komentator semacam ini. Aku belajar untuk mengabaikan mereka, lebih baik fokus energi ke niatan semula daripada buang-buang energi meladeni mereka.

Kemudian situasi bencana yang menimpa manusia. Komentar kayak gini juga ada lho, jangan salah.

Yang kupikirkan adalah, orang-orang ini menuntut orang lain untuk menyelesaikan semua masalah dan menuntut orang lain bersikap maha adil.  Mereka menuntut kita untuk mikirin semua persoalan di dunia. Buat apa? Buat menyenangkan mereka lah, karena sebenarnya mereka tidak tertarik dengan apa yang sudah kita lakukan dan sedang lakukan. Ga penting buat mereka.

Satu lagi, mereka menuntut kita bisa bersikap maha adil, tapi apakah mereka sendiri udah bersikap adil dan objektif? Ada beberapa golongan yang hanya berempati jika agamanya sama, satu agama pun harus dari aliran yang sama, ideologi politik yang sama, dan jumlah statistik. Korban satu nyawa kurang nendang bagi mereka. Korban beda aliran, sah-sah aja buat mereka karena korban adalah golongan yang berbeda dan karena sebab itu pantas menjadi korban.

Di satu sisi mikir, memang faktanya dunia ini ga adil. Kalau kamu aware, opini kita tu banyak dipengaruhi faktor luar. Kita sebagai individu aja punya bias, apalagi media, mereka punya kepentingan. Tapi kalau kamu aware, maka hati kecilmu akan tahu ada yang sifatnya hakiki dan beyond social media, beyond berita, beyond media, bahkan beyond agama. Namanya kemanusiaan.
Selain itu faktor lain adalah kejujuran. Apakah kamu sudah jujur dengan dirimu sendiri? Apakah kamu sadar, kesinisanmu disetir oleh perasaan kamu lebih baik dari yang lain atau betul-betul kesedihan/kepedulian.

Menyenangkan semua orang itu mustahil. Apalagi mikirin semua masalah di dunia, bisa meledak kepala kita, depresi dan suicidal. Yang penting, be the change you want to see in the world. Kalau kamu merasa kejadian di Paris tidak merepresentasikan Islam yang ramah, ya bersikap baiklah dengan teman-teman Syiah, Ahmadiyah, penganut kepercayaan dsb. Kamu ga sadar, ujaranmu bilang “Syiah bukan Islam” bisa berujung kemana? Simpan aja lah pikiran itu untuk dirimu sendiri, bukan urusanmu. Itu urusan keimanan, urusan sama Tuhan.

Kalau selo, bisa juga baca-baca kegelisahanku di tumblr:

Masih sah gak menyandang nama ‘Restlessangel’? 😁😁😁

Antara Sampah, Generasi Tua, dan Generasi Anya

image

Ngomongin masalah sampah, lingkungan hidup, dll ternyata ga ada kaitan antara jenjang pendidikan, status sosial ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutku, perilaku peduli lingkungan (diet tas plastik/bawa sendiri tas waktu belanja, matiin listrik ketika tidak dimatikan, buang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dsb) merupakan karakter. Begitu juga perilaku bersih.

Yang jadi misteri adalah, mengapa ada orang yang mempunyai karakter seperti itu dan ada yang tidak. Padahal sama-sama berpendidikan, melek informasi, berasal dari status sosial yang sama. Apakah yang membedakan karena pola asuh?

Ah tapi ada juga yang dari kecil tidak diajarkan memilah sampah dsb ketika dewasa bisa disiplin pilah sampah. Ada yg kecilnya dibesarkan oleh orang tua yang tidak suka binatang tapi pas gede sayangnya ke binatang buanget-banget. Jadi apa dong yang membedakan? Faktor apa agar seseorang mempunyai karakter peduli lingkungan? Semoga ada penelitian menyelidiki hal ini, penting nih untuk kemaslahatan umat manusia.

Btw masih terkait perilaku peduli lingkungan, sementara ini yang bisa dilakukan adalah fokus terhadap pendidikan generasi masa depan. Siapa sih generasi masa depan? Ya anak-anak kicik, anak-anak kecil, anak-anak kita. Mengapa? Udah terbukti bahwa mengubah perilaku orang dewasa tuh susah setengah mati. Perilaku orang gede tu berasal dari kebiasaan yang sudah mengurat-akar puluhan tahun. Biasanya sih orang dewasa perlu momentum besar agar mau berubah perilaku. Misal nih, kudu sakit jantung dulu agar berhenti merokok. Perlu kecelakaan dulu agar mau pake helm atau care tentang safety. Dan sebagainya lah, hal semacam itu. Kata mereka sih, “old habits die hard”. Mengapa demikian, mungkin karena menjadi orang dewasa melelahkan, energi sudah ga seperti masa kecil/muda, sementara mengubah perilaku butuh banyak energi.

image

Bahkan diingetin pasangan/keluarganya agar mau mengubah perilakunya, bisa jadi debat dan pertengkaran. Ego tersinggung dan defensif, logikanya mengatakan semua baik-baik saja dengan perilaku yang sekarang, ngapain diubah. Padahal tiap hari baca berita dan liat foto seliweran betapa lingkungan kita udah terdegradasi. Terucap kata “prihatin”, mungkin terselip perasaan kasihan tapi tidak cukup menggerakkan dia untuk berubah. Masih nyaman di status quo.
Asumsi lain, kemungkinan ybs terlalu abai dan ga peduli jadi merasa ga perlu repot-repot mengubah dirinya. Ada orang lain yang akan membereskan (kekacauan yang dia buat).

Nah ngadepin orang dewasa yang berpikiran macam ini tuh buang energi banget. Apalagi mencoba mengubahnya, sia-sia. Antara energi yang kita keluarkan dan result, ga sebanding. So paling gampang adalah membentuk mereka yang masih mudah dibentuk, yaitu anak-anak. Mereka yang masih membentuk kebiasaannya, yang lebih mudah diberitahu tanpa melibatkan ego terluka ketika dibenarkan/diingatkan/dikritik.

Jadi lebih baik simpan tenaga dg fokus membentuk perilaku anak-anak kita untuk lebih peduli lingkungan, aware terhadap hal-hal kecil, self cinscous. Semua bisa dimulai dengan hal-hal kecil di rumah dan di sekolah. Semoga dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi semua makhluk.

image

Impian Para Miss Universe

Lagi-lagi postingan yang terinspirasi karena memperhatikan timeline twitter. Karang yo selo (semi hoax kalo ini sih) jadilah menarik untuk memperhatikan dinamika pendapat orang di twitter. Kali ini yang terbaru adalah tentang bencana alam di Soreang, Bandung, yang kebetulan berbarengan dengan kencangnya opini tentang Gaza.

Saya ndak mengikuti berita konflik Gaza. Yang membuat saya tertarik memperhatikan adalah, banyaknya sindiran yang ditujukan untuk aktivis Gaza, supaya mereka lebih baik membantu yang dekat dulu (Soreang) daripada jauh-jauh ke Gaza. Situasi tersebut, sindir-sindiran seperti itu, terus terang mengingatkan dengan apa yang saya dan teman-teman aktivis penyayang binatang. Seriiing gitu, kalau ada himbauan dan ajakan untuk lebih peduli terhadap satwa, adaaa aja yang sinis dan komen, “ngapain merhatiin binatang, tuh yang manusia juga banyak yang butuh bantuan.” Kasarannya gitu lah.

Jujur, capek dan cukup emosi menghadapi komentar-komentar seperti itu. Mengajak untuk A, disindir kok engga B aja, daaan seterusnya. Hingga akhirnya sadar. Ada banyak sekali masalah di dunia ini, bahkan di sekitar kita. Semua seperti menuntut perhatian untuk diselesaikan, minimal kepedulian kita. Tapi dengan segala keterbatasan, apalagi kita bukan superman, bahkan banyak yang menjalani peran ganda (ya orang tua, ya karyawan, ya pacar, ya anak, ya pelajar, dsb), naif banget kalau kita tampil mengambil alih dengan semua persoalan yang ada. Bisa-bisa jadi gila, atau keluarga ga keurus, dipecat jadi karyawan, dan sebagainya.

Sampailah saya pada satu kesimpulan. Masalah di dunia ini banyak. Ya udah lah, masing-masing pilih peran dan kepeduliannya sendiri-sendiri yang sesuai dengan hati nurani, jalankan. Ga usah lihat-lihat pihak lain dan cari-cari celah untuk menyalahkan atau cari kelemahan untuk dikomentari. Toh, sama-sama tujuannya adalah berbuat baik, menolong sekitar, ujung-ujungnya sebenarnya khan untuk membuat tempat yang kita tinggali menjadi lebih baik. Udahlah, masing-masing ambil porsi dan jobdesnya sendiri-sendiri, ga usah ngurusi yang lain. Yang sayang binatang, sudah sewajarnya kemudian lebih banyak terlibat aktivitas yang berkaitan dengan binatang. Nah, yang lain kalau melihat ada yang belum tertangani padahal menurutunya itu urgent, ya udah langsung cekat-ceket cak-cek tanpa bicara, terjun ke permasalahannya. Semua bekerja gitu lho.

So, kembali ke sindir-sindiran Gaza, menurut saya, ya udah lah ya, biarin aja. Kalau mereka emang maunya nolongin yang di sana, monggo. Terimakasih. Yuk, yang sini bantuin hal-hal yang belum tercover. Wes, meneng-meneng ae, rasah kakehan komentar. Niscaya, impian para Miss Universe lebih cepat terwujud: a better world and peace.

Jadi Turis yang Cerdas Dikit Yuk

 

 

Long weekend kemarin mendapat pengalaman seru, getaway ke sanctuary di ujung pulau yang belum terjamah industri pariwisata. Well, tentang kronologis dan serba-serbi travelnya, nanti diapdet di blog-ku yang khusus memuat tentang jalan-jalan dan makan-makan yah. Semoga dalam waktu dekat bisa segera langsung disusun jadi tulisan yang enak dibaca.  😆

Jalan-jalan keluar kota pas liburan memang seru. Apalagi buat yang demen jalan-jalan ke alam bebas. Selain memang hobi, jalan-jalan di alam bebas sepertinya udah menjadi gaya hidup. Maksudnya, ada gitu yang memang tujuannya untuk mencari eksistensi dari hal tersebut. Kalo ga ikutan melakukan hal serupa, rasanya seperti kurang gaul, merasa ketinggalan, kurang eksis, such things.

Tapi aku bukan mo ngoceh tentang hal tersebut. Jadi tulisan ini diilhami dari pemahaman baru ketika habis ngobrol dan bercerita tentang pengalaman liburan kemarin. Ternyata, masih banyak turis yang jalan-jalan dan travelling di alam bebas terutama, masih memandang alam dan satwa-satwanya sebagai obyek. Memang tujuan liburan adalah untuk seneng-seneng, tetapi ketika senang-senang diterjemahkan menjadi ‘binatang-binatang tersebut harus beratraksi seperti hewan sirkus’, wah itu repot.

Misal, ketika berlibur ke Ujung Genteng untuk melihat penyu bertelur. Saking bernafsunya untuk mendapatkan foto penyu bertelur, maka ketika motret trus pake blitz. Padahal pemakaian blitz tersebut sangat mengganggu si penyu ketika bertelur. Saya orangnya sangat mudah berempati terhadap hewan sih, jadi bisa memahami gimana perasaannya. Bertelur bagi penyu itu proses yang melelahkan lho, dan penyu adalah hewan yang sensitif. Ketika sedang melakukan ritualnya lalu ada gangguan-gangguan, gimana sih perasaannya? Sama seperti ketika kamu lagi pup trus ditontonin banyak orang dan dinilai kali ya.

Jadi begini, aku baru tahu bahwa ternyata ada aturan-aturan dalam berwisata di alam terbuka. Aturan tersebut adalah, kita namakan platinum rule ya, karena aturan intinya cuma satu dan mudah saja. Yaitu, dalam menikmati pemandangan (baik di bawah laut maupun di atas laut), cukup LIHAT SAJA.  Jangan ambil, petik, pegang, bahkan sentuh aja ga boleh. Kenapa? Karena ternyata hal tersebut dapat mengganggu kelangsungan hidup hewan-hewan maupun ekosistem di tempat tersebut.

Misal nih, aku baru tahu, bahwa dalam diving dan snorkling, sebenarnya GA BOLEH untuk megang-megang hewan maupun ekosistem di laut. Pegang manta, ternyata bisa menghilangkan lendir pelindung kulit manta. Terus, contoh kasus yang sangat lazim dilakukan orang padahal itu ga boleh, yaitu mendaki gunung dan memetik edelweiss. Jadi, para pakar lingkungan hidup dan pecinta alam sejati, paling prihatin kalo liat turis yang kalau jalan-jalan, tangannya nggratil alias usil megang-megang dan metik. Ketika dapat cerita ada turis yang dalam liburannya di Kiluan untuk melihat lumba-lumba, trus turis tersebut tahu-tahu nyemplung untuk bisa megang lumba-lumba, sebenarnya sangat dilarang. Bukan saja dari segi keselamatan, oke kalau si turis tersebut jago renang, tapi juga mengganggu si lumba-lumba. Kalau saran Pakde Mbilung yang ahli permanukan dan serba laut, jangan dipegang, diam aja. Nanti kalau lumba-lumbanya emang pengen ngajak main, dia akan datang sendiri mendekat. Tapi kalau gamau, ya jangan dipaksa.

Karena ketidaktahuanku, selama di Kiluan kemarin, aku melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang. Jadi, kemarin aku memungut dan membawa pulang beberapa rumah kerang dan koral mati. Ternyata kata Pakde Mbilung, kalau di pantai sekalipun, tak usah membawa pulang termasuk koral mati. Kenapa, ternyata rumah kerang tersebut masih dipakai kelomang, untuk rumah mereka juga. Kebetulan, pas di Kiluan tersebut, aku banyak menemukan kelomang-kelomang mungil yang sedang mencari-cari kerang-kerang bekas. Mungkin seperti kita kalau lagi survey kos/kontrakan kali ya. Aduuuhh dan karena ketidaktahuanku, aku merampas kerang yang sebenarnya bisa jadi rumah mereka.  😥

 

 

Jadi pren, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan jauh lebih baik lagi, ketika kita sudah tahu, dan melakukannya. Kalau kita sedang berlibur terutama di alam bebas, cara terbaik menikmati pemandangan adalah melihat saja. Kalau mo ambil sesuatu untuk kenang-kenangan (iye sih, mental turis kita itu masih souvenir-minded, jadi sebisa mungkin bawa apa gitu untuk token/kenangan), cukup foto saja. Tapi kalau motret pun, ingat seperti kasus penyu di Ujung Genteng, jangan juga sampe gangguin si satwa. Dan yang paling penting adalah mengubah mindset/paradigma kita, bahwa alam termasuk satwa-satwanya BUKAN obyek wisata tapi justru mereka adalah SUBYEK wisata. So, kita jadi turis, yang cerdas dikit lah, turut menjaga kelestariannya, ga semata-mata menuruti kesenangan kita yang sebenarnya cuma gatel/impulsif semata. Okek, sip?  :mrgreen:

dont buy dont breed, adopt!

 

 

Saya pecinta bintang, sepertinya semua orang sudah tahu itu.

Aku benci dan menolak-melawan kekerasan pada binatang, sepertinya semua orang juga paham.

Kalau saya ngomong, nyebut-nyebut “anakku”, teman-teman biasanya udah mahfum kalau yang kumaksud adalah kucing-kucingku.

 

Kepindahanku ke Jakarta seringkali mendapat pertanyaan, gimana nasib anak-anakku, kenapa ga dibawa aja. Kujawab, Jogja adalah rumah terbaik bagi mereka, di lingkungan yang mereka sudah kenal baik dan dikelilingi oleh orang-orang baik hati dan menyayangi mereka. Memang, di Jakarta ini, sering banget aku patah hati, nggregel, berlinang air mata, karena sering banget ketemu kucing-anjing liar di jalanan. Memikirkan nasib mereka dan kemungkinan adanya orang-orang jahat tidak berwelas asih, sungguh bikin risau. Apalagi kalau mendengar berita kekerasan pada binatang, seperti pembuangan bayi-anak kucing. Duh, hatiku lemah sekali. Rasanya lemes, gundah, galau to the max, sedih, tak berdaya dan sebagainya. Ingin menolong tapi keterbatasanku, di kos tidak boleh memelihara kucing, dan keterbatasan resource lainnya.

Kalau sudah galau to the max begitu, aku malah biasanya ga sanggup untuk ngomongin. Bukannya lebih suka memendam, ga ada hubungannya dengan suka atau tidak, tapi aku ga sanggup, bahkan membicarakannya sekalipun. Hatiku terlalu kecil, pecah duluan berderai-derai. Padahal sekelilingku ya banyak juga, yang pecinta kucing atau binatang. Kalau mendengar mereka membicarakan kelucuan kucing-kucing dari segala penjuru dunia, aku malah diam saja. Makin kesini malah makin jarang ngomongin tentang lucunya kucing etc. Ya gimana yah, udah kepikiran duluan tentang nasib kucing-kucing dan hewan lain yang terlantar. Udah broken duluan, ga sanggup mungutin, ga sanggup membicarakannya. Ga kuat.

 

Hingga beberapa waktu lalu, kepikiran ide ini. Yah, bahkan menuliskan ide ini menjadi bentuk postingan pun membutuhkan waktu untuk menguatkan diri menyampaikan sesuatu yang aku anggap penting. Lebay ya? ‘Cuma’ isu kek gini doang, kok sebegitunya. Ya gapapa juga sih, kalau ada yang berpikiran demikian. Lhawong yang benar kurasakan memang seperti itu. Ya tidak menyalahkan kalau ada yang beranggapan remeh.

Kembali ke ide. Cuma berangkat dari pemikiran, bahwa banyak sekali di sekitarku yang suka sekali (kalau ‘sayang’ ga tahu sih, karena menurutku, suka ama sayang itu level intensitasnya berbeda) dengan kucing/anjing. Tapi diantara yang suka itu, banyak yang tidak bisa memelihara kucing/anjing dengan berbagai alasan. Nah, ide ini sifatnya hanya ajakan/himbauan sih, karena bisa dilakukan secara individu. Ga butuh gerakan massa. Jadi, buat kita-kita yang suka binatang tapi ga bisa memelihara sendiri, kenapa tidak memperlakukan semua binatang yang kita temui selayaknya itu binatang piaraan kita. Caranya, selalu bawa catfood/petfood kemana-mana, jadi kalau ketemu di jalan, langsung aja kasih.

Asyik lho, menjalin interaksi dengan mereka, kalau kasusku, kucing-kucing liar tersebut. Mereka yang tidak mempunyai kepercayaan terhadap orang asing karena takut, lalu kita pelan-pelan berusaha membangun rasa percaya. Dan sekali rasa percaya itu terbangun, bonding/ikatan pun terjalin. And its magic!

Kedua, kalau melihat ada hewan liar yang sakit/terluka, segera dibawa ke dokter hewan. Sayang sekali, biaya dokter hewan di Jakarta mahal sekali ya dibanding Jogja. 😦

Ketiga, berpartisipasi kalau ada gerakan sterilisasi kucing/anjing liar, dengan berdonasi. Percayalah, men-sterilisasi hewan liar ini, manfaatnya jauh lebih banyak untuk mereka sendiri, dan ada manfaat juga yang bisa dipetik ulah manusia. Kalau di Jakarta, aku taunya Jakarta Animal Aid Network, bisa dicek di facebook mereka atau situs mereka. Sayang, sejauh aku pernah kontak mereka, kok minim respon.

Keempat, bagi yang ingin pelihara kucing/anjing, remember the platinum rules: DON’T BUY DON’T BREED, ADOPT. Salah satu alasan adalah, when adopt, you’re saving a life. Kalau masih ada kucing/anjing terlantar yang bisa kita pungut, kenapa tidak mengadopsi mereka saja? Selain itu, kenyataan bahwa banyak breeder/pebisnis hewan piaraan yang mengedepankan materi thok, bukan karena mereka sayang binatang.

So, mari kita semakin berwelas asih, terhadap semua mahkluk Tuhan. 🙂

 

NB. Why adopt than buy?

Rise of the Planet of the Apes: Belajar Kepemimpinan dari Monyet

Bagi yang sudah nonton Planet of the Apes-nya Mark Wahlberg (2001), kemunculan film Rise of the Planet of the Apes (judulnya bikin lidah kesleo-sleo) cukup dinantikan oleh para penggemar. Seperti saya, yang penasaran, ini menceritakan sekuel atau prekuelnya Planet of the Apes yah. Jujur aja, selama ini tidak mencoba browsing-browsing dulu tentang Rise of the Planet of the Apes, bahkan sinopsisnya pun tidak. Jadi ketika nonton midnight Sabtu kemarin, sama sekali tidak ada bayangan.

Duapuluh menit pertama film ini sukses membuat saya terharu biru dan emosi bergolak. Karena dalam duapuluh menit pertama itu, langsung tergambar kerakusan dunia korporasi yang diwakili CEO Gen Sys, Steve Jacobs, versus kesejahteraan lingkungan yang diwakili simpanse-simpanse binatang percobaan mereka. Well, kelekatan emosi saya dengan binatang membuat saya merasa lebih mudah merasakan kelekatan dengan jalan cerita film ini. Jadi tak pelak saya langsung larut dan terlibat secara emosi. Apalagi dengan munculnya bayi simpanse yang rapuh, haduh, saya langsung mbeler-mbeler.

Singkatnya, sinopsis Rise of the Planet of the Apes bercerita tentang percobaan untuk menemukan obat bagi penyakit Alzheimer dan percobaan tersebut memunculkan anomali. Sesimpel itu sebenarnya jalan ceritanya. Tokoh utama, si peneliti Will Rodman mempunyai alasan yang bersifat personal terhadap penelitian ini, yaitu karena ayah yang sangat disayangi menderita Alzheimer. Karena itulah, ketika asistennya, Robert Franklin meminta Rodman untuk membawa si bayi simpanse pulang supaya tidak dibunuh/dimatikan, ia sempat merasa keberatan. Karena concern-nya sedari awal adalah ayahnya, bukan kesejahteraan binatang-binatang percobaan tersebut.

Ketika si bayi simpanse –Caesar– tumbuh makin besar, afeksi Rodman terhadap Caesar juga makin besar. Selain itu ia melihat bahwa si Caesar ini mempunyai keanehan yang patut diteliti, karena diyakini membawa kabar baik untuk perkembangan penemuan obat Alzheimer. Caesar ini mempunyai kecerdasan yang sangat mengagumkan. Konflik semakin tajam ketika Caesar yang remaja, terpaksa menyerang tetangga mereka. Caesar, berdasar putusan pengadilan, dianggap membahayakan lingkungan sekitarnya, dan tak seharusnya binatang liar seperti simpanse ada di lingkungan pemukiman. Caesar harus direhabilitasi di pusat penampungan satwa liar.

Di bagian ini, lagi-lagi emosiku terlibat cukup dalam. Entah karena aktor yang memerankan tetangga menyebalkan itu aktingnya pintar sehingga bener-bener menyebalkan, atau karena aku yang terlalu emosional.  :mrgreen:

Yang jelas, aku bener-bener geregetan dan berpendapat, itulah yang terjadi kalau orang ga dididik untuk mencintai lingkungan, alam, dan binatang dari kecil. Kalau dari kecil ga diajarkan menyayangi binatang, maka setiap kehadiran binatang akan dianggap sebagai ancaman. Thus takut. Padahal rasa takut adalah motivasi paling kuat untuk melakukan tindakan, misal tindakan menyerang.

Caesar selama masa rehabilitasi di penampungan primata, belajar banyak hal yang tak dia dapatkan di rumahnya. Caesar yang sangat cerdas, mengamati lingkungan dia berada. Interaksi antar primata, hierarki sosial antar kera, hierarki sosial kera-manusia, norma yang berlaku, hingga threatening act yang ditunjukkan Dodge, si penjaga. Yup Caesar bahkan mempelajari aspek psikologis Dodge. Bahkan dari penampungan tersebut dia belajar situasi sosial yang menumbuhkan kepekaannya. Selayaknya aktivis dah. Dia belajar serta menganalisa, apa yang harus dilakukan pada situasi tersebut, apa solusinya.

Nah, dari kacamataku, bagian ini yang sangat menarik dari keseluruhan film. Kita belajar mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang betul-betul leader—pemimpin, tak sekedar pimpinan. Bagaimana Caesar bisa mempersatukan semua spesies kera untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dan aku lagi-lagi mbrebes mili nangis bombai tersengguk-sengguk pada adegan martir.

Ada satu hal lagi yang menarik untuk digarisbawahi. Caesar dari bayi dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Rodman dan ayahnya mengasuh (juga mendidik?) Caesar penuh cinta. Caesar belajar tentang cinta dan kasih sayang dari pengasuhan ini, dari ‘keluarga’nya. Hal ini yang membedakan Caesar dengan kera-kera lain ketika menghadapi musuh mereka. Being human (?). Well, statemen ini memang bisa memancing diskusi sih, apakah kasih sayang dan cinta kasih –yang diterjemahkan dalam film ini menjadi tindakan forgiveness— hanya milik manusia?

Selain itu, tokoh orang utan di penampungan primata, mewakili sosok yang bijaksana dan humoris. Saya suka dengan ‘ceplosan’nya yang santai tapi lucu tapi sesungguhnya dalam.

**notes.

Sebutan monyet untuk primata adalah sebutan yang berkonotasi menghina. Pakailah kata ‘kera’ daripada ‘monyet’ untuk menyebut primata, kecuali kalau anda memang berniat menghina. 😀

Thanks utk ekowanz yang menginspirasi saya untuk apdet blog lagiiih.  😆

Kenalin, Anak Adopsiku, Miko Si Bayi Orang Utan

image

image

Awalnya karena baca celotehan Chika di milis yang menulis ulang tweet dari seseorang (aduh lupa namanya). Tweet tersebut mengajak untuk mengadopsi bayi orangutan. Sontak heran dan bertanya-tanya, “Hah, memang bisa orangutan diadopsi?”. Bayangannya, membawa bayi orangutan ke rumah untuk diasuh. Yang bener aja, mosok memelihara binatang liar, langka pula.

Yup, orangutan menurut International Union for Conversation of Nature, masuk dalam klasifikasi “Critically Endangered”. Populasinya menurun drastis dari 12ribu ekor pada tahun 1994 menjadi 6500 ekor tahun 2008 menurut wiki. Pembunuh terbesarnya adalah manusia, baik langsung maupun tidak langsung. Kalau langsung, jika manusia jahat ketemu induk orangutan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh untuk merebut anaknya. Lalu bayi-bayi orangutan tersebut dijual tanpa memperhatikan kondisinya selama dalam krangkengan. Padahal dari yang saya tahu, induk orangutan akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya.

Membunuh yang tidak langsung adalah proses deforestasi habitat mereka, hutan tropis. Biasanya untuk perkebunan kelapa sawit. Kalau sadar hal ini rasanya pengen boikot ga pake produk-produk hasil perkebunan kelapa sawit. Mustinya ada daftar perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bertindak sebagai teroris lingkungan dan produk-produk sampingannya.
Deforestasi ini selain mengurangi habitat dan pakan orangutan, juga berdampak konflik manusia-orangutan khususnya di perkebunan & pemukiman. Dan lagi-lagi orangutan dibunuh karena dinilai sebagai hama.

Duh saya nulis ini sambil mata mbrambangi, nangis. Miris, pedih, sedih. Karena itu ketika dapat info adopsi tersebut, langsung cari tahu di orangutan.or.id
Ternyata adopsi yang dimaksud adalah semacam donasi untuk membantu operasional perawatan orangutan di konservasi. Semacam anak asuh. Ada beberapa paket yang bisa dipilih sesuai kemampuan. Nanti kita sbg orang tua asuh, mendapat laporan berkala.

Saya sendiri waktu tanya-tanya via email, ada sekitar 7 bayi orangutan yang masih berusia bulanan. Semua dengan masing-masing kisah sedihnya, direnggut dari induk, ditemukan dalam kondisi menyedihkan. Saya mengadopsi Miko, yang menurut staff Borneo Orangutan Survival Foundation, masih belum punya ortu asuh. Yay, Miko, i believe he choosed me.

Saya, karena resources yang terbatas, memilih paket perunggu. Donasi 350ribu/tiga bulan. Saya pikir, apalah, saya bisa sekali belanja segitu. Budget ngopi-ngopi hura-hura jajan-jajan sebulan juga bisa segitu. Kali ini ngirit, stop belanja, makan di rumah daripada nongkrong-nongkrong, untuk Miko anak adopsiku.

Semoga aku mendapat kesempatan untuk memeluk (eh lebay sih memeluk orangutan) melihat Miko dewasa di habitat aslinya di Kalimantan sana.
*hapus air mata*