saya sudah, kamu bagaimana ??

Akhir Oktober 2008. Lokasi Bebek Ginyo, Tebet. Time : siang panas menyengat.

Makan siang yang terlambat. Perut keroncongan langsung menyambut sukacita menu siang itu, bebek masak cabai hijau, tahu goreng yang menul-menul, sambel mangga, dan jus jambu merah. Tak usah saya ceritakan nikmatnya makan siang kali itu, juga interior Bebek Ginyo yang cukup antik, penuh dengan poster-poster iklan jaman dulu kala, lalu lalang tamu-tamu yang modis (mengingat lokasi merupakan ajang gaul di Tebet, full dengan distro, kafe-kafe, etc).

Selesai makan, saya beranjak untuk cuci tangan di wastafel bergaya alami, terbuat dari gerabah. Kebetulan, wastafel di samping saya juga ada pengunjung yg sedang cuci tangan. Saya iseng mengamati. Sosok pemuda gaul itu terus menyabun tangannya cukup lama, sementara air keran terus mengalir. Sedangkan saya, juga masih berkutat dengan sabun karena sambil membersihkan kuku-kuku, dan keran saya matikan. Pemuda tersebut selesai, melenggang pergi dengan keran belum tertutup sempurna.

Kegiatan cuci tangan saya berlangsung hingga ada dua pengunjung yang cuci tangan di sebelah saya, dan semua melakukan habit serupa. Mensabuni jemarinya, sementara keran air dibiarkan menyala sia-sia. Ketika saya kembali ke meja makan, saya masih asyik meneruskan kegiatan mengamati perilaku cuci tangan. Wow, dari beberapa orang yang sempat saya amanti, ternyata hanya satu orang yang ingat untuk menutup keran sementara ia bersabun.

Jogjakarta. Awal November. Malam berhujan. Kentucky Fried Chicken.

Saya kembali mengamati perilaku cuci tangan. Ohoooyy….mengapa di Jogja juga ?? Asyik bersabun, dan tidak mematikan keran. Mengajari anaknya untuk cuci tangan tapi alpa mengajari anak untuk menghargai lingkungan.

Jogjakarta. Setiap berhenti di perempatan lampu merah. Terutama yang ada panel surya dan timernya.

Klik, saya matikan mesin kendaraan jika sedang tercegat lampu merah. Baru saya nyalakan lima detik menjelang lampu hijau. Ini kebiasaan baru, gara-gara Si Dia melakukan hal serupa. Saya sempat ragu dan males, dan berdalih, jika alasannya untuk menghemat bahan bakar fosil. Bukannya ketika sedang men-starter akan mengkonsumsi bensin banyak juga ??

Tapi kemudian saya disadarkan, andai semua kendaraan bermotor yang berhenti di lampu merah melakukan hal serupa, akan mengurangi polusi udara di tempat tersebut. Akan membantu saudara-saudara kita yang naik motor roda dua, yang terpaksa menghirup asap dan timbal yang keluar dari knalpot kendaraan lain.

Well, mudah bukan, melakukan sesuatu untuk dunia yang lebih baik ??

Bukan hal yang besar, yang menakjubkan, yang menguras tenaga. Hal-hal kecil saja.

Saya diberitahu, to change the world, we must become the change we want to see in the world.

Temans, dunia seperti apa yang kamu inginkan ???


sukarelawan bonbin

Seminggu yang lalu, saat sedang belanja di Superindo Sudirman, saya menemukan hal yang menarik. Waktu itu sedang antri untuk menimbang buah di counter timbangan. Sembari mengantri, saya tertarik dengan kegiatan seorang pegawai yang mencacah-cacah buah dan membuangnya ke suatu wadah.

Karena tak tahan menahan rasa ingin tahu, saya bertanya pada Mas-mas tersebut, “Mas, itu buah-buahan dicacah buat apa ?? “

“ Dibuang Mbak, “ jawabnya

“ Ha ?? Dibuang ?? Begitu saja ?? “

Mas tersebut mengangguk mengiyakan.

Saya takjub, aih, buah-buahan yang dibuang itu, kondisinya memang ga begitu segar lagi sih, tapi masih bisa dikonsumsi. Dan kenyataan bahwa buah tersebut dibuang begitu saja –oke, saya memahami, mungkin itu cara yang digunakan oleh manajemen Superindo untuk menjaga kualitas mutu- sungguh membuat saya terheran-heran. Karena, saya melihat masih ada yang bisa dilakukan, misal diberikan ke kebun binatang untuk pakan monyet kek ato apa, toh, buah-buahan tersebut juga masih bagus. Ga busuk-busuk amat apalagi seperti kondisi daging busuk yang diolah lagi, yang sempat menghebohkan beberapa hari yang lalu. Kenapa ya, pihak manajemen Superindo gak berpikiran untuk diberikan kepada kebun binatang.

Hingga beberapa hari yang lalu. Dari obrolan biasa dengan sahabat hati dan jiwa saya, jadi timbul suatu ide. Mengapa tidak ??

Jadi ide itu adalah, menjadi sukarelawan untuk mengumpulkan sisa-sisa buah dan sayuran yang mungkin tidak memenuhi standar mutu supermarket seperti Superindo, Carrefour, Hero, etc. Lantas, dari situ bergerak ke Kebun Binatang, untuk memberikan buah dan sayur tersebut ke binatang yang menghuni KB. Tentu saja sebelumnya diadakan sosialisasi dulu, baik ke pihak Supermarket maupun Kebun Binatang.

Pertimbangannya, kemungkinan pihak manajemen supermarket tidak mempunyai ‘tenaga’ lagi untuk mengurusi pengolahan limbah supermarket. Kedua, limbah tersebut bisa sangat berguna bagi mahluk lain –dan mengurang kemungkinan pihak yang berpikiran kriminal untuk mengolah limbah tersebut dan dijual ke manusia :mrgreen: – sehingga penghuni kebun binatang bisa jadi mendapat tambahan asupan makanan yang bergizi.

Ketiga, saya prihatin dengan pengelolaan kebun binatang di Indonesia. Bisa jadi, dana yang dialokasikan untuk KB GembiraLoka di Jogja, sangat minim. Kesejahteraan penghuni KB menjadi nomer sepatu alias kesekian. Jangankan binatang, alokasi dana untuk pendidikan dan kesehatan manusia saja, masih minim.

Hiks, saya sedih jika memikirkan kesejahteraan binatang-binatang penghuni KB tersebut. Kurang makan, stress karena kandang yang ga keurus, stress menghadapi pengunjung sok tau dan bodoh, plus stress karena kebisingan konser dangdut. >_<

Berangkat dari ide tersebut, saya mengajak siapa saja, terutama yang berdomisili di Jogja, untuk menjadi sukarelawan Kebun Binatang. Bersama kita mengumpulkan limbah sayur dan buah untuk kemudian diberikan ke Kebun Binatang. Tentu saja, disusun jadwal untuk mempermudah koordinasi. Jadi jikalau ada sukarelawan yang berhalangan, dia segera mencari sukarelawan lain yang bisa menggantikan.

Jika ada blogger yang berminat, bisa hubungi saya di bawah ini, nanti akan saya kontak secara pribadi. Untuk itu mohon cantumkan alamat email dengan jelas.

Ide ini terbuka tidak hanya untuk blogger. Saya berniat untuk menuliskan ide ini secara terbuka di media mainstream.

Oke ?? Oke ?? ^_^

macan ….errrr macan apa ya ?? india ??

kasuari ?? errrr…pakdhe ??

monyet….errr….monyet opo tho iki ?? siamang ??

rusa…err…..rusa apa ya….sama dengan yg rusa yg dipiara UGM itu bukan ya…

Nah kalo ini mah, intermezzo, dari beberapa bulan yang lalu. Foto-foto ini bukan foto koleksi Kebun Binatang GembiraLoka, tapi koleksi dari kebun binatang mini dari kompleks agrowisata Sido Muncul di Klepu, Semarang. Untuk berkunjung ke lokasi agrowisata yang tidak terlalu luas tapi asri ini, harus ijin dulu ke pihak Sido Muncul. Kebetulan, waktu itu ada sahabat yang dengan kebaikan hati teman yang bekerja di Sido Muncul, kami berkesempatan mini trip ke pabrik dan agrowisata Sido Muncul. Mini trip itu sungguh menyenangkan, kami dibawa ke lokasi pabrik yang puluhan hektar luasnya dan menyaksikan secara langsung proses pembuatan aneka produk Sido Muncul. Malah, waktu itu saya beruntung sempat bertemu dengan Irwan Hidayat, salah seorang yang sangat berperan di balik kesuksesan perusahaan keluarga Sido Muncul. –amiiin, mudah-mudahan ketularan ilmu dan hokinya :mrgreen:

Diawali dari kunjungan ke pabrik, mulai dari penyimpanan, penyortiran bahan baku, hingga ke packaging, saya mendapat kesan bahwa pembuatan jamu di Sido Muncul berasal dari bahan-bahan yang berkualitas tinggi, beberapa diekspor dari China, dijaga higienitasnya sehingga didapat produk yang berkualitas tinggi.

Kemudian kami dibawa ke lokasi agrowisatanya. Sebenarnya kompleks agrowisata ini adalah kebun klangenan owner Sido Muncul untuk pelepas lelah. Selain rimbun oleh berbagai tanaman jamu dan asri oleh penataan taman, terdapat koleksi pribadi seperti rusa, merak, buaya, hingga harimau. Hmmm….untuk koleksi hewan ini, saya musti kritis nih. Bukankah mengkoleksi berbagai binatang langka untuk konsumsi pribadi, tidak benar ??

suasana dalam kompleks agrowisata yang asri….

Akhir kunjungan, kami mendapat goody bag yang berisi berbagai aneka produk unggulan Sido Muncul, dari jamu tolak angin, jamu-jamu yang dikemas secara modern, hingga permen kunir asam. Wow, waktu itu sungguh mini trip yang berkesan^^.

iklan Asian Agri menyesatkan !!!

Beberapa waktu yang lalu, tidak sengaja melihat iklan Asian Agri di televisi swasta (Metro TV kalo ga salah). Dalam iklan itu, Asian Agri menayangkan kesuksesan petani-petani mitra kerja (binaan ??) Asian Agri dalam mengelola perkebunan kelapa sawit.

Yang membuat saya tersentak adalah, di awal-awal iklan ditayangkan gambaran hutan rimba di Kalimantan dan suara narator menceritakan, betapa dataran Kalimantan dulu ‘hanyalah’ hutan belantara hingga mereka datang, bekerja keras, sehingga tercipta kebun kelapa sawit yang mampu mensejahterakan mereka.

Glek !! Sampai sini saya benar-benar terhenyak. Omigot, Asian Agri lewat para petani kelapa sawit, menyatakan bahwa hutan belantara Kalimantan tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kebun kelapa sawit yang mereka miliki (tentu saja dengan membabat habis hutan-hutan tersebut).

Astaga, saya jadi sangat paham dan sangat mengerti, apa arti hutan di mata pengusaha perkebunan kelapa sawit dan perkebunan lainnya. Hutan tidak berguna !!! Ganti saja dengan kebun kelapa sawit. Peduli setan dengan kekayaan hayati dan fauna, peran serta hutan dalam mencegah global warming, kelangsungan hidup para suku terasing yang selama berabad-abad hidup dari kemurahan alam dan mengelola hutan dengan kearifan lokal, dibandingkan dengan keuntungan yang akan mereka peroleh jika membuka lahan dan menanami dengan kelapa sawit dan tanaman industri lainnya.

Oh…jadi begitu arti hutan bagi para pelaku industri perkebunan ??

Bapak-bapak, Ibu-ibu yang berwenang menjawab, halooo ???

Lalu apa arti global warming ?? Bencana lingkungan seperti kekeringan, kebanjiran, adakah artinya untuk para pemegang saham dan komisaris perusahaan ?? Bencana ekosistem, punahnya kekayaan flora fauna, bagaimana dengan itu, Bapak-bapak Ibu-ibu sekalian, yang rapi jali wangi setiap tahun menggelar RUPS di hotel-hotel mewah dan menikmati profit dari nilai saham yang tiap tahun terus meningkat….???? Di mana hati nurani kalian ???

mengubah paradigma tentang air

* si pongge kehausan dan minum di kolam ikan, lucunya ikan-ikan malah mendekat dan mengerubungi lidahnya yang berkecipak*

Prens, sekarang musim kemarau nih. Di beberapa daerah, jamak terdengar berita kesulitan air. Bahkan tadi pagi saya dengar di berita, daerah Indramayu dan Cirebon, juga mengalami hal yang sama. Bagi mereka yang hidup di daerah tandus dan sulit air pada musim sekarang ini, air menjadi sedemikian berharganya hingga air kotor di telaga pun dimanfaatkan. Mereka rela tidak mandi beberapa hari, demi air yang ada dimanfaatkan untuk prioritas kebutuhan minum dirinya dan ternaknya.

Sementara, di daerah yang air bersih relatif tidak bermasalah, berita-berita tesebut seperti angin lalu. Demikian juga perilaku warganya terhadap air, masih cuek beibeh, mentang-mentang sejauh mata memandang, air masih mengalir deras di kran-kran.

Saya sangat prihatin dan sebenarnya mangkel sih, kalau melihat perilaku orang-orang yang cuek dengan air. Misal di tempat cuci tangan di resto-resto fast food. Benar-benar geregetan dan mangkel berat, liat orang-orang itu cuci tangan, sementara menggosok tangan dengan sabun (dan kalau anak-anak, mainan dengan busa sabun) dan air di kran mengalir deras tanpa dipakai. Uuuuuuuuuuuugggghhh, kenapa tidak dimatikan dulu kalau tidak dipakai, sabunan, trus baru dihidupkan lagi kran-nya dan cuci tangan lagi ?? Itu juga, orang tua-orang tua sontoloyo yang membiarkan anaknya mengadopsi perilaku yang salah terhadap air, mainan air dan membuang-buangnya, tanpa diperingatkan.

Kalian pikir, air bersih itu mudah ????????? Sontoloyo !!

Saya tanya pembaca, saya tantang pembaca. Ketika pembaca sedang ritual sikat gigi dengan air kran, sementara pembaca sibuk menggosok gigi, apakah air kran dibiarkan menyala tanpa dimatikan terlebih dahulu ??

Bagaimana jika kemudian Anda tiba-tiba berpindah tempat berada di daerah yang sangat minim air bersih ?? Jangankan untuk sikat gigi, untuk minum saja kesusahan dan harus membeli relatif mahal. Wah, tapi ndak tau ya, pembaca kan kebanyakan secara ekonomi cukup mampu. Jadi mungkin cara penyelesaiannya, beli air kemasan saja. Bahkan bisa jadi, untuk mandi saja beli air kemasan galonan, jika tinggal di daerah sulit air seperti yang disebutkan tadi.

Saya tantang sekali lagi. Jika Anda menyaksikan kran yang tidak tertutup sempurna, entah karena krannya bodhol atau sebelumnya ada pengguna sontoloyo bin moron cuek tidak menutupnya lagi, apa yang Anda perbuat ??

Karena saya sering nih, nemu yang beginian di kampus atau public space gitu. Uggghhh…bener-bener geregetan saya.

Sekarang, jika lagi jeng-jeng dan berjumpa dengan air sungai yang mengalir, airnya bening, bersih, apa yang ada dalam benak Anda ?? Apa yang Anda pikirkan ??

Itu saja deh, tantangan saya buat Anda-Anda sekalian….. 😛

ngganjel……

Pagi tadi, menu sarapan utama yang wajib dan harus selalu ada, yaitu baca koran. Ada satu berita lokal yang membuat saya merasa janggal.

Jadi ceritanya, di Jogja berdiri gedung Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Jawa milik Kementrian Negara Lingkungan Hidup RI di Ring Road barat no 100 Nusupan, Nogotirto, Gamping yang peresmiannya hari Sabtu 26 Juli akan dihadiri oleh Menneg LH Rahmat Witoelar. Berita di sini nih.

Gedung tersebut di foto tampak megah dan berdisain minimalis, seperti trend perkantoran masa sekarang. Biaya yang dihabiskan untuk membangun gedung semegah itu sebesar 5,3 milliar dari APBN. Yang membedakan dengan bangunan sejenis, katanya, gedung tersebut berwawasan ekologis, misal, memanfaatkan energi matahari. Awalnya saya membayangkan gedung dengan disain bukaan dan jendela yang besar, sehingga matahari leluasa masuk, sehingga tidak perlu boros listrik untuk menyalakan lampu (toh, kegiatan perkantoran lazimnya dari jam 7-17 kan ??). Seperti halnya dengan bukaan dan ventilasi seperti rumah-rumah indisch (rumah dengan disain kolonial Belanda), dimana udara akan berputar dengan maksimal, sehingga tidak memperlukan AC, dan sinar mentari bercengkerama dengan leluasa. Ide yang sama yang diterapkan Ayu Utami untuk rumah pribadinya, menjadi rumah minim AC dan hemat listrik.

Menurut redaksi Serial Rumah, rumah hemat energi adalah dengan memanfaatkan sumber energi selain listrik seperti angin dan matahari. Tujuannya adalah mendapatkan pengudaraan dan pencahayaan alami. Dengan memaksimalkan disain yang ramah lingkungan, maka suhu dalam rumah dapat dikendalikan, tidak lagi panas sumuk gerah sehingga perlu AC, tapi cukup dengan memanfaatkan pengudaraan alami.

Selain itu, dengan memanfaatka sumber pencahayaan alami dengan tepat, maka akan didapat pencahayaan yang optimal, minim listrik, dan ruang tetap sejuk.

Ternyata yang dimaksud dengan memanfaatkan energi matahari adalah dengan membangun semacam instalasi pembangkit listrik tenaga matahari. Hanya dengan 13 juta rupiah, mampu mengubah energi matahari menjadi energi listrik sebesar 500-1000 watt. Wow, lumayan sekali ya ?? Dan saya pikir, 13 juta relatif terjangkau lah.

Selain itu juga dibangun sumur-sumur resapan di halaman dan lingkungan sekitar gedung. Juga pengolahan sampah, seperti pemilahan sampah, instalasi pembuatan pupuk organik, etc.

Tapi, ada yang menggelitik benak saya. Tigabelas juta untuk membangun instalasi konversi tenaga di perkantoran, oke. Lalu X = (5,3 milliar dikurangi 13 juta) milliar itu, habis untuk apa saja ya ?? Instalasi pembuatan pupuk ? Sepeda-sepeda untuk memfasilitasi staff kantor yang rumahnya dekat dengan kantor sehingga tidak perlu memakai motor / mobil ?? Sumur resapan ??

Saya bukan arsitek apalagi tukang ingsyinyur. Tapi untuk membangun perkantoran yang berwawasan lingkungan itu, ternyata tetep mahal juga ya ?? Hmmm…saya ga tahu sih, harga tanah di sekitar gedung tersebut semeternya berapa. Hmmm…jadi, bisa nggak ya, membangun perkantoran yang ramah lingkungan tapi juga ramah biaya, jadi bisa menghemat anggaran (duit rakyat, duit yang lain-lain juga…) ??

*mimpi punya rumah mungil yang ramah lingkungan, bernuansa natural, dengan kolam koi, full rimbun tanaman dari bambu kuning, sawo kecik, sampai kemuning, udara bebas keluar masuk rumah, ga usah pake AC, terang benderang padhang jingglang tanpa lampu, plus berbagai binatang seperti kelinci, kucing, anjing, burung, heheheehe….*

wanted !!! pemimpin dengan kualifikasi sebagai berikut :

  • Pemimpin yang mempunyai visi lingkungan !!!

Dia harus punya visi dan misi yang jauh ke depan, menjangkau hingga ke generasi cucu, cicit, buyut, dst. Tidak hanya memperhitungkan keuntungan jangka pendek, tapi juga jangka panjang. No more story about pengalihan fungsi hutan lindung dengan alasan pembangunan, bullshit taik kebo semata. Masih mending taik kebo, karena berguna bisa jadi pupuk kandang.

Saya benar-benar tidak habis pikir, tidak bisa memahami jalan pikir mereka. Karena itu saya sangat ingin mengetahui dan sangat ingin mendengar apa yang ada dalam kepala mereka, jika berbicara mengenai lingkungan. Apa yang ada dalam benak mereka, apa rencana mereka, apa visi misi mereka, dengan hutan-hutan perawan Indonesia, sungai-sungai besar nan jernih, lautan luas beserta seisinya, kekayaan fauna, keragaman flora…..

Apa yang ada dalam pikiran mereka, mengetahui beragam bencana lingkungan, tanah yang makin kehilangan kesuburannya, sungai yang tercemar, mata air yang makin menyusut, air bersih yang makin langka, satwa yang makin menjadi komoditas, hutan yang menghilang, keseimbangan alam yang terganggu….

Menurut mereka, apakah global warming itu ?? Semacam trend, gaya hidup, kata-kata sakti supaya terlihat trendi dan hip dan sok melek lingkungan ??

Apa yang menjadi persepsi mereka dengan sampah ?? Apa rencana mereka dengan sampah ?? Apakah mereka sadar dengan sampah ?? Jangan-jangan mereka selama ini tidak sadar sudah menghasilkan sampah sekian banyak, malah bisa jadi kelak menjadi sampah masyarakat….

  • Pemimpin dengan integritas dan etika !!!

Pemimpin musti sportiv, mengakui keunggulan dan kelebihan lawan. Mau juga mengakui dan berbesar hati dengan kelemahannya. Mau mendengarkan pihak lain. Berintegritas dan beretika. Mau tahu contoh kongkrit perilaku pemimpin dengan etika ?? Suruh pemimpin itu untuk nonton rame-rame Kingdom of Heaven, dan belajar dari para pemimpin yang berperang. Siapa yang mereka contoh, Sultan Salaudin atau Guy  de Lusignan.

Cukup sampai tahun 2008 saja, kisah-kisah para pemimpin yang bertarung berebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara dan menjadikan rakyat serta kemiskinan untuk jadi bahan beriklan. Cukup sampai tahun 2008, kisah mereka-mereka yang kalah bertarung lalu saling menjatuhkan hingga mereka yang tidak terlibat menjadi korban.

Menurut Anda, baik yang sedang beriklan maupun yang sedang menduduki jabatan, apakah Anda sudah sesuai dengan kriteria yang kami inginkan ???

yang jauh lebih penting dari g-string

*G-string dkk disingkirkan dulu, yang ini jauh lebih penting, ok ??*

Guys, tau dong, Steven Seagal ??

Gw ga demen bapak itu, maupun film-filmnya. Tapi beberapa hari yang lalu, ga sengaja gw nonton salah satu filmnya yang lagi tayang di tipi, yang sebenarnya re-run. Ada sesuatu tentag dia -di film tersebut. Jadi film tersebut, mengisahkan tentang kepahlawanan Steven Seagal yang membela suatu penduduk, dari ancaman lingkungan yang akan dirusak oleh pengusaha kaya raya dan jahat.

Gw ga suka Steven Seagal, tp gw suka cara dia dalam mengganyang pengusaha perusak lingkungan tersebut. Babat habis tiada bersisa !!!

Gw sedari kecil selalu membayangkan pengusaha ‘jahat’ adalah seperti di film-film itu. Maksutnya, semena-mena merusak lingkungan demi koceknya sendiri. Biarpun tajir, disegani masyarakat, dan dalam pergaulan sosial adalah orang terpandang, tapi di belakang, oknum ini adalah bandit busuk tak bermoral yang menghalalkan segala cara demi memuaskan hawa nafsu akan duit-duit-duit-dan-duit!!

Dia tak segan merusak hutan, memusnahkan jutaan hektar rimba perawan, meracuni sungai jernih indah sumber mata air lingkungan, bahkan merusak stabilitas nasional :p *kayak GBHN aja*

Setelah gw gede, gw punya panggilan sayang utk oknum pengusaha macam ini : TERORIS LINGKUNGAN.

Beberapa hari yang lalu juga, gw denger di stasiun radionya anak ini, bahwa spesies orang utan di Kalteng makin terancam punah. Glekh !!!! Hati gw sempet hancur…..

Gw sempet pesimis dan berpikir, adakah manusia Indonesia yang tengah terhimpit berbagai krisis ini, memikirkan nasib orangutan dan kerusakan hutan yang makin miris ?? jangan-jangan, semua mikir, apaan sih ngaruhnya buat kita kalo orang utan punah ??? So what gt loh, kata anak2 jaman sekarang.

Trus juga, beberapa hari yang lalu, di running text Metro, tercetus bahwa gajah sumatra di Jambi juga terancam punah. Belum lagi spesies lain di daerah lain. Ingat, harimau Jawa sudah punah.

*hiks….nangis bener gw…..emosiiiiiiii….palagi kl liat ada yg miara ato jual hewan2 langka itu*

*tahukah kamu, utk mendapatkan bayi orang utan itu, para pemburu biadan pabu saciladh itu membunuh induknya dg  cara-cara kejam karena sang induk mati-matian mempertahankan anaknya???????*

Haduh, semoga kekhawatiran dan sikap pesimis saya salah besar.

Ayo, Seagal, ganyang terus itu, teroris2 lingkungan !!!

Babat habis mereka !!!

*mimpi kalo jd orang terkaya di Indonesia : beli hutan dan pulau2, trus gw bikin kawasan konservasi dan hutan lindung*

goa cerme, keindahan yang terbentang dari langit hingga dalam bumi

Selalu ada berkah dibalik setiap peristiwa. Klasik tapi benar adanya, dan saya sudah berkali-kali membuktikan kebenarannya. Seperti kemarin. Jadi latar belakangnya, saya nggak jadi terima job karena persoalan teknis, tapi siapa sangka dibalik itu saya justru bisa masuk goa, merasakan caving amatiran. Jikalau sendirian, pasti malah tidak terlaksana karena berbagai alasan.

Yak, sodara-sodara. Kemaren itu, saya mengunjungi obyek wisata Bantul, Goa Cerme. Serombongan turis Korea-lah yang membawa saya. Malunya, malah mereka tahu lebih dulu dari browsing internet. Sebenarnya, obyek wisata ini sudah lama adanya. Saya pun selama ini Cuma lewat-lewat saja, belum pernah masuk hingga ke dalam obyeknya. Kemaren-kemaren tujuannya malah nongkrong di atas perbukitan kapur, sebelum menuju Parangtritis lewat jalur alternatif (menembus perbukitan kapur), menyaksikan keindahan bumi Bantul yang menghampar. Atau sekedar jalan-jalan sore menikmati hembusan angin sambil memandangi karpet alami yang terdiri dari sawah menghijau, kerbau membajak sawah, dan terakhir kali jalan-jalan disitu, saya kehilangan sandal, gara-gara terperosok di lendut alias tanah sawah. Lumayan, gratis spa lumpur sawah :p

Goa cerme ini bisa dituju lewat jalan Imogiri. Ada banyak petunjuk jalan yang mengarah ke Goa Cerme. Bahkan, traveler amatiran penderita disorientasi arah macam saya ini, bisa menemukan dengan mudah hanya berbekal petunjuk yang dipasang oleh dinas terkait. Kebetulan waktu itu, berbarengan dengan kunjungan MenSos ke Bantul, jadi lagi-lagi keberuntungan menyertai saya, karena jalan jadi lancar, dijaga oleh polisi dan tentara.

Sebelum ke Goa Cerme, saya sarankan anda-anda sekalian untuk mampir makan siang di warung ramesan Mbak/Bu Pur, yang berada tepat di pojokan pertigaan sebelum ke tanjakan arah Goa Cerme. Warung ini menyediakan menu-menu ndeso dan otentik, yang dijamin tidak anda temukan di kota-kota besar. Menu andalannya brongkos yang bercita rasa pedas. Kemudian ada juga oseng-oseng kulit melinjo, oseng-oseng pare, dll. Sayangnya, untuk lauk, kemaren ketika saya mampir makan, kok tidak selengkap terakhir saya datang (sekitar tahun 2004-2005). Dulu itu ada lele asap dan wader goreng. Kemaren kok tidak ada.

Berdua kami makan lengkap dengan minum, Cuma habis 12.500 perak. Wow, murah meriah dan mengenyangkan. Puas setelah mengisi amunisi, kami segera menuju Goa Cerme. Sebelumnya kami diberitahu oleh penduduk setempat, untuk kendaraan mini yang mungkin tidak kuat menanjak, bisa lewat jalur lain. Patokannya, pertigaan yang ada beringin, belok kiri. Tapi jika Anda termasuk kategori advance dalam menyetir kendaraan dan tidak ada masalah dengan tanjakan yang lumayan ekstrim, tidak apa-apa mengambil jalur lurus.

Untuk jalan, tidak usah khawatir. Sepanjang jalan, aspal mulus menemani kami. Dan sepanjang perjalanan, benar saja, pemandangan indah mempesona mata saya. Apalagi ketika mulai melewati tanjakan-tanjakan, sehingga bisa memandang pemandangan dari atas. Temans, mata saya benar-benar dimanjakan dengan perbukitan menghijau (karena sehabis musim hujan kali ye, jadi hijau. Coba kalau sudah musim kemarau, mungkin agak gersang, karena perbukitan yang kami lewati adalah perbukitan kapur). Apalagi dalam perjalanan kembali, pemandangan lebih indah, karena tidak hanya sekedar perbukitan, tapi juga sawah-sawah.

Kami memarkir mobil di pelataran rumah penduduk yang memang disiapkan untuk tempat parkir. Sayangnya, untuk jalur yang kami lewati, kami harus menaiki tangga yang agak jauh dan cukup melelahkan sebelum ke Goa Cerme. Jika melewati jalur yang satunya, mobil bisa parkir tepat di jalan setapak menuju Goa Cerme, dan dari situ Anda cukup berjalan kurang lebih 100 meter, tidak terlalu menanjak, tidak bikin ngos-ngosan.

Dari pemandu yang menjaga, kami mendapat keterangan, sebelum masuk Anda harus membeli tiket sebesar seribu rupiah per orang. Dan untuk masuk ke dalam goanya, Anda harus ditemani pemandu. Jasa pemandu sebesar 2000 rupiah per orang. Jadi misal Anda rame-rame dengan teman sebanyak 8 orang, masing-masing bayar 2000 untuk pemandu, begitchu….

Sesampai di bibir goa, saya lagi-lagi dibuat terpana oleh keindahan lukisan Tuhan. Kampret, slompret, bin semprullll, saya lupa bawa kamera !!! Pake hape ??? Duh, ga puas banget dan karena saya cenderung perfeksionis, saya tak sampai hati membingkai keindahan tersebut dalam layar hape.

Lekukan sungai entah apa namanya, saya lupa, seperti cacing besar raksasa yang keperakan berkilauan tertimpa sinar matahari, perbukitan yang seperti candi, karena berundak-undak oleh sawah kehijauan, bukit-bukit perawan yang berlapis-lapis, dari yang terjauh berwarna kebirauan tipis lalu dilapisi lagi oleh perbukitan di depannya yang berwarna biru-kehijauan, dan terakhir perbukitan dengan rumah-rumah mungil yang tampak seperti noktah, berwarna hijau tua. Semua dengan latar belakang langit membiru….

Oase bagi mata yang lelah mempelototi layar komputer dan jiwa yang penat di tengah-tengah paket rimba beton dan polusinya.

Ketika kami datang, berbarengan dengan beberapa warga sekitar yang membawa perbekalan. Kami sempat GR, tapi rupanya ada warga yang kenduren karena punya gawe mantu. Warga tersebut, Bapak-Bapak, membawa tikar dan ubo rampe berupa nasi, urap, ingkung ayam, dan buah, yang dibungkus daun jati. Ubo rampe tersebut didoai bersama-sama, tepat di mulut goa, dan kemudian disantap bersama-sama. Pemandangan menyenangkan, menyaksikan kebersamaan pedesaan yang mulai luntur di kota-kota besar.

Sebelum masuk ke dalam gua, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk kenyamaman bersama. Disarankan untuk membawa senter sendiri, karena di dalam goa cukup gelap. Bisa juga menyewa senter, sebesar 5000 rupiah, tetapi nyalanya tidak terlalu terang dan berat dibawa karena pakai aki segala. Oia, bagi pengunjung disarankan untuk memakai celana pendek dari bahan yang cepat kering dan membawa ganti pakaian serta sandal gunung.

Jalur dalam goa sendiri jika dituruti hingga mentok, sepanjang 1,2km, dan menyusuri sungai dalam tanah. Ketinggian antara selutut hingga pangkal paha. Air sungainya sendiri keruh, karena stalaktit dan stalakmit terselimuti oleh tanah lempung. Beda dengan Goa Seplewan, yang terletak di perbatasan Kulon Progo-Purworejo. Sungai di goa tersebut, airnya jernih….

OOT, Goa Seplewan juga wajib dikunjungi oleh Anda-anda penggemar wisata yang berbau petualangan. Soal keindahan alam, jangan ditanya. Anda bahkan bisa berdiri di atas bukit, dan memandang lepas ke perbukitan Laut Selatan pantai Parangtritis hingga ke kota Purworejo. Kereeeennnnn !!!! Jalur juga cukup menantang, sedikit off road (kalau belum diperbaiki aspalnya), dan ngadem di hutan sengon (???) tapi tenang, kereeeennnn banget !!! Bahkan terdapat peninggalan purbakala, sebuah candi primitif (??) berbentuk lingga dan yoni. Di tempat ini juga pernah ditemukan arca emas serupa dewi, entah dewi siapa saya lupa.

Kembali ke goa. Ada yang lucu dengan goa ini. Jadi begini, saya heran, sewaktu nyampe ke bibir goa. Selain pemandangan yang terkesan purba banget, dinding cadas, pohon-pohon kukuh tinggi menjulang, sulur-sulur perdu, ada patung seorang laki-laki bersorban naik kuda. Saya heran, patung siapakah gerangan. Ternyata itu patung Pangeran Diponegoro. Loh, kok Pangeran Diponegoro sampe sini, bukannya markas beliau di Goa Selarong ?? Apakah Goa Cerme termasuk salah satu petilasannya ?? Jawab sang pemandu, beliau buka cabang di Goa Cerme ini.

Wakakaakkkk, ada-ada saja Mas Pemandu ini.

Tapi, memang penempatan patung Pangeran Diponegoro ini rada ngawur. Setelah ditelisik, ternyata patung tersebut sebagai hiasan saja. Goa Cerme ini malah dulunya konon sebagai tempat pertemuan Walisongo, yak semua wali itu, bertemu di tempat ini dan membicarakan pelbagai permasalahan, duniawi dan spiritual.

Entah ada hubungannya atau tidak, goa ini juga menjadi tempat untuk bersemadi atau bertapa. Kemaren, saya melihat sisa-sisa bakaran entah menyan dan bunga tabur. Selain itu masih tercium lamat-lamat, wangi dupa.

Pemandangan di dalam goa tak kalah menakjubkan. Saya serasa di alam realis Salvador Dali, karena bentuk dinding goa serupa benar dengan ciri khas pelukis tersebut. Bahkan sesaat imajinasi saya melayang, berada di dunia science fiction, dunianya Alien dan Predator, karena bentuk stalaktit dan stalakmit seperti bentuk monster-monster khas film-film sci-fi, tidak beraturan, aneh, tapi luar biasa. Sayang, saya hanya menyusuri sekitar 500 meter kurang, karena rombongan turis tersebut tidak berani untuk berjalan lebih jauh. Mereka tidak mempersiapkan diri untuk jenis wisata petualangan, sehingga kami pun mendampingi mereka juga sampai situ saja.

     gambar diambil dari sini

Keseluruhan, obyek wisata ini mulai dikelola secara profesional, terlihat dari berbagai faslitas yang sedang dibangun untuk memudahkan wisatawan. Lingkungan juga cukup bersih, tidak tampah sampah yang dibuang sembaragan. Entah dengan toilet umumnya, karena tidak sempat saya inspeksi. Kekurangannya, parkir kendaraan yang mahal, masak mobil dicharge 5000 rupiah. Selain itu, masih minim informasi. Pemuda setempat yan kebagian jatah untuk mengelola (mungkin diajak kerjasama oleh dinas pariwisata Bantul), juga hanya memberi kami dua lembar leaflet mengenai Goa Cerme. Atau mungkin keberadaan leaflet diganti oleh semacam papan informasi yang tidak saja berisi keterangan tentang Goa Cerme tetapi juga obyek wisata lain yang dekat-dekat situ.

Bahkan dari ngobrol ngalor ngidul, bisa saja ke depannya dikembangkan berbagai game-game outdoor yang menantang adrenalin, seperti flying fox, bungee jumping, panjat tebing (khusus kelas pemula), dll.

Two thumbs up, rekomendasi penuh bagi penggemar wisata alam yang berbau petualangan, apalagi bagi yang masih kelas amatiran. Jogja ga melulu isinya Malioboro (uuuh basiiiii !!!), Kraton, dan Taman Sari. Dan saya membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin saya temani ke Goa Cerme, saya masih berhasrat caving dan hunting foto ala kadarnya :mrgreen:

makhluk Tuhan paling kemaki

* kemaki = silakan di gugel :mrgreen: (karena saya kesulitan mencari padanannya dalam bahasa Indonesia. Sombong rasanya kurang tepat, kurang pas)

Membaca berita tentang badai yang melanda Myanmar, dan juga topan yang melanda Amerika, membuat kita bertanya-tanya ; masih marahkan alam kepada kita ??

Saya hanya berpikir, betapa manusia adalah mahluk paling egois, kemaki, menthakil, pecicilan, sungguh tak tahu diri. Melihat foto-foto hasil pertambangan di bumi Indonesia, tengoklah Freeport atau Newmont, aduhai, miris sekali hatiku. Rasanya Ibu Pertiwi seperti sedang diperkosa habis-habisan, meninggalkan lobang maha raksasa menganga, menodai wajah cantiknya.

Belum lagi berapa hektar hutan berkurang, dengan kecepatan yang sungguh membuat hati saya masygul dan menangis. Terakhir saya baca dari koran Tempo hari ini, sepuluh juta hektar !!!!

Aduhai, celakalah manusia, merasa paling tahu apa yang harus dilakukan terhadap Ibu Bumi.

Tidak usah dengan bencana maha dahsyat seperti tsunami dan gempa untuk merontokkan kesombongan manusia. Cukup organisme mikro yang bahkan mata kita pun tak mampu merabanya. Sepersekian milimeter. Virus.

Ya, ketika berhadapan dengan jasad mikro yang tak tampak oleh mata telanjang kita, masihkah kau, manusia sombong dan semena-mena dengan Ibu Bumi ?????

Tubuhmu tumbang, tak berdaya, hanya karena mahluk seperjuta dari ukuran tubuhmu. Itu pun baru jenis flu. Bagaimana dengan ebola ??? Organ dalammu meleleh dan mencair keluar dari setiap lubang tubuhmu.

Masihkah kau semena-mena dengan setiap mahluk di muka bumi ini ????

STOPPPPPPP !!!!!!!!!! HENTIKAAAAAN MEMPERKOSA IBU BUMIIII !!!!!!!!!!

CINTAI DIA……RASAKAN APA YANG DIA TANGGUNG UNTUK MEMENUHI HASRAT KITA…

DIA MEMBERI, SELALU MEMBERI, DAN KITA ?? APA YANG TELAH KITA BERIKAN ???

– sigh –

– sedih –

PS. pelajaran moral yang saya dapat : ketika manusia dengan sok tahu meng intervensi alam, maka tinggal menunggu kehancurannya saja.

oleh-oleh dari bandung (pt. two) : kopdar, kuliner, sampah

Menyambung postingan gw kemaren, yang melulu negatif (sedih dan muak), tentu saja selalu ada sisi positif. Seperti yin dan yang, seperti siang dan malam. Puh, kok jadi sok puitis begini ??

Jadi, perjalanan ke Bandung ini, bisa dikatakan adalah kebetulan a la The Alchemist, Celestine Prophecy, atau The Secret, yah aliran-aliran nu age itulah. Karena, sejak beberapa kali ikutan event kopdar raya yang diselenggarakan Cah Andong dan dihadiri oleh bloger tamu termasuk dari Bandung, timbul hasrat untuk ganti silaturahmi. Hanya saja, selalu terbentur masalah waktu dan perijinan (plus dana, hahaha). Nah, momen ini seperti….seperti apa ya, wah pokoknya kebetulan banget deh. Jadinya momen ini nggak gw sia-siakan untuk ber-kopdar ria dengan batagor-batagor Bandung^^.

Sayang, seribu sayang, karena suatu sebab, momen kopdar yang saya bayangkan bisa berlangsung dua malam berturut-turut (malam sabtu dan malam minggu), ternyata Cuma bisa malam sabtunya aja. Mengapa ?? Karena sabtu siang, kami sudah meninggalkan Bandung. Hik….rasanya sama sekali belum puas deh, menjelajah Bandung, hikz….

Tapi, tak mengapa. Jumat malam itu, akhirnya bisa kopdar dengan batagor Bandung, walo belum semuanya. Hanya ada Kang Agah, Catur, Mas Koen, Debe, dan tentu saja Kang Harry. Lagi-lagi kaum tomat menjadi minoritas, walhasil, adek gw, Dewo terpaksa pupus harapan, demi harapannya yang tak kesampaian untuk berjumpa dengan mojang Priangan yang terkenal geulis….

Baca lebih lanjut