Antara Sampah, Generasi Tua, dan Generasi Anya

image

Ngomongin masalah sampah, lingkungan hidup, dll ternyata ga ada kaitan antara jenjang pendidikan, status sosial ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutku, perilaku peduli lingkungan (diet tas plastik/bawa sendiri tas waktu belanja, matiin listrik ketika tidak dimatikan, buang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dsb) merupakan karakter. Begitu juga perilaku bersih.

Yang jadi misteri adalah, mengapa ada orang yang mempunyai karakter seperti itu dan ada yang tidak. Padahal sama-sama berpendidikan, melek informasi, berasal dari status sosial yang sama. Apakah yang membedakan karena pola asuh?

Ah tapi ada juga yang dari kecil tidak diajarkan memilah sampah dsb ketika dewasa bisa disiplin pilah sampah. Ada yg kecilnya dibesarkan oleh orang tua yang tidak suka binatang tapi pas gede sayangnya ke binatang buanget-banget. Jadi apa dong yang membedakan? Faktor apa agar seseorang mempunyai karakter peduli lingkungan? Semoga ada penelitian menyelidiki hal ini, penting nih untuk kemaslahatan umat manusia.

Btw masih terkait perilaku peduli lingkungan, sementara ini yang bisa dilakukan adalah fokus terhadap pendidikan generasi masa depan. Siapa sih generasi masa depan? Ya anak-anak kicik, anak-anak kecil, anak-anak kita. Mengapa? Udah terbukti bahwa mengubah perilaku orang dewasa tuh susah setengah mati. Perilaku orang gede tu berasal dari kebiasaan yang sudah mengurat-akar puluhan tahun. Biasanya sih orang dewasa perlu momentum besar agar mau berubah perilaku. Misal nih, kudu sakit jantung dulu agar berhenti merokok. Perlu kecelakaan dulu agar mau pake helm atau care tentang safety. Dan sebagainya lah, hal semacam itu. Kata mereka sih, “old habits die hard”. Mengapa demikian, mungkin karena menjadi orang dewasa melelahkan, energi sudah ga seperti masa kecil/muda, sementara mengubah perilaku butuh banyak energi.

image

Bahkan diingetin pasangan/keluarganya agar mau mengubah perilakunya, bisa jadi debat dan pertengkaran. Ego tersinggung dan defensif, logikanya mengatakan semua baik-baik saja dengan perilaku yang sekarang, ngapain diubah. Padahal tiap hari baca berita dan liat foto seliweran betapa lingkungan kita udah terdegradasi. Terucap kata “prihatin”, mungkin terselip perasaan kasihan tapi tidak cukup menggerakkan dia untuk berubah. Masih nyaman di status quo.
Asumsi lain, kemungkinan ybs terlalu abai dan ga peduli jadi merasa ga perlu repot-repot mengubah dirinya. Ada orang lain yang akan membereskan (kekacauan yang dia buat).

Nah ngadepin orang dewasa yang berpikiran macam ini tuh buang energi banget. Apalagi mencoba mengubahnya, sia-sia. Antara energi yang kita keluarkan dan result, ga sebanding. So paling gampang adalah membentuk mereka yang masih mudah dibentuk, yaitu anak-anak. Mereka yang masih membentuk kebiasaannya, yang lebih mudah diberitahu tanpa melibatkan ego terluka ketika dibenarkan/diingatkan/dikritik.

Jadi lebih baik simpan tenaga dg fokus membentuk perilaku anak-anak kita untuk lebih peduli lingkungan, aware terhadap hal-hal kecil, self cinscous. Semua bisa dimulai dengan hal-hal kecil di rumah dan di sekolah. Semoga dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi semua makhluk.

image

Tentang Pendidikan Usia Dini : Playgroup untuk Semua

*illustrasinya sengaja milih cover albumnya Metallica, karena judul postingan ini emang terinspirasi dari judul album Metallica* 😆

 

Ide ini muncul pas lagi nyuci piring barusan. Latar belakangnya *ciyeh, macam skripsi aja, pake latar belakang*, karena menyaksikan sendiri salah satu penghuni kos yang rupanya single mom sekaligus wanita karier. Pekerjaannya menuntut dia untuk tidak berada dekat putrinya (masih 2 tahun), dari pagi hingga malam. Bahkan weekend seperti hari Sabtu begini juga masih harus bekerja. Si putri kecil ini tiap harinya diasuh oleh nanny-nya. Bukan baby sitter yang pakai seragam gitu-gitu. Karena sepanjang hari di kos, selain dengan nanny-nya, si kecil ini juga diasuh oleh penjaga-penjaga kos. Kadang ada anak kos yang juga ikutan ngajak main.

 

Nah dari sini saya melihat permasalahan. Si kecil ini lebih dari 8 jam diasuh oleh nanny-nya dan penjaga-penjaga kos, karena Mama-nya kerja. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana si kecil jadi demen lagu Iwak Peyek, ya karena ketularan pengasuh-pengasuhnya. Tontonannya sinetron. Dan yang parah adalah gaya pengasuhnya, yang kalau kaget punya kebiasaan latah menjerit nyebut alat reproduksi pria, atau kalau si kecil melakukan sesuatu yang dilarang, maka langsung dibentak.

 

Mereka baik sih, senang gitu kalau ngajak si kecil main bareng, sabar juga (kebetulan si kecil juga anteng sih, kecuali kalau makan lamaaaa banget, suka diemut. Kalau minum susu juga lama. Demen mainin makanan deh). Juga ga pernah ngajarin yang jorok-jorok/ga pantas (yang kebetulan aku lihat). Baik lah pokoknya.

 

Tapi teringat pelajaran dasar psikologi perkembangan. Balita/anak usia sampai 5 tahun adalah masa emas pembelajaran karena pada masa itu otaknya bagaikan spons, menyerap semua informasi. Pada masa itu, anak juga belajar lewat imitasi/mencontoh apa yang dia lihat di sekitarnya. Seorang guru besar di bidang kedokteran anak, pada waktu menghadiri talkshow-nya, mengatakan bahwa di usia batita maka otaknya sangat aktif membentuk sinapsis-sinapsis. Sehingga pada masa ini, adanya otak kedua sangat penting untuk perkembangan kognitifnya. Nah siapa otak kedua, ya mereka yang ada di sekitar si anak. Jadi bisa dibayangkan kalau yang berada di sekitar si bocah adalah pembantu, maka stimulusnya seperti apa.

 

Memang bukan harga mati sih, belajar adalah proses seumur hidup. Tapi sekali lagi, pendidikan anak usia dini itu sangat penting. Beruntunglah mereka/orang tua yang mampu menitipkan anaknya di playgroup, sementara ditinggal bekerja. Paling tidak, buah hatinya mendapat stimulasi yang dibutuhkan untuk fondasi ‘program’ otaknya. Tetapi, seberapa banyak sih, orang tua yang mampu menitipkan anak ke playgroup yang baik? Apalagi kita tahu kalau playgroup seperti itu, biasanya muahal luar biasa. Hampir mengalahkan biaya kuliah S1.

 

Bisa dilihat juga bahwa ini adalah sebuah peluang. Yap, apalagi di kota besar, dimana tuntutan hidup membuat kedua orang tua menjadi pekerja. Maka kebutuhan untuk menjaga anak sementara orangtuanya bekerja adalah keniscayaan. Sempet kepikiran, wah daripada diasuh dijaga oleh baby sitter yang paling lulusan sekolah menengah, gimana kalau baby sitternya lulusan S1 atau malah S2? Otak kedua yang mengasuh si buah hati sanggup memberi stimulus yang lebih kaya. Siapa yang mampu dan mau meng-hire baby sitter yang sangat kompeten dan well educated gitu? :mrgreen:

 

Tapi sebelum dilanjutkan menjadi sebuah peluang bisnis, hati kecil saya menyela. Katanya, pendidikan adalah hak semua kalangan. Kalau pendidikan yang baik hanya mampu dijangkau oleh mereka yang kaya, lantas gimana dengan nasib mereka kalangan menengah ke bawah? Makin ga mampu bersaing dengan yang kalangan atas dong?

 

Dari sini kemudian timbul ide. Andai ada gitu, yang mempunyai cukup waktu luang untuk mendirikan semacam tempat penitipan anak, yang terjangkau biayanya. Dan selama pengasuhan tersebut, si anak juga sekaligus diberi stimulus-stimulus untuk merangsang potensi otak si kecil. Supaya terjangkau, maka ‘guru-guru’ adalah voluntarian yang menguasai tentang psikologi khususnya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan.

 

Orang tua juga tidak lantas leha-leha lepas tanggung jawab, mentang-mentang anaknya bisa ditinggal gitu aja. Harus ada kewajiban yang sifatnya timbal balik. Orang tua juga harus belajar bahwa menjadi orang tua itu konsekwensinya termasuk mendidik, plus ada kewajiban sosial yang harus dibayarkan.

 

Jangan-jangan sudah ada ya, ide tersebut diwujudkan? Well, ide saya terbuka saja sih. Saya sadar, ga mampu mewujudkan sendirian. Tapi kalau ada yang mau mengadopsi ide tersebut juga silakan, dimatangkan lagi yang masih mentah ini. Saya percaya bahwa pendidikan adalah hak semua pihak.

 

Pilih Sinetron atau Si Bolang?

image

Cihuuyyy, jagat blogosphere rame lagiii :mrgreen:

Semenjak @nonadita posting opini dia tentang sinetron Putri Yang Ditukar, efeknya ternyata diluar dugaan. Banyak postingan yang merespon tulisan @nonadita tersebut, bahkan @PakGuru yang setahu saya lagi anteng-antengnya, jadi terusik untuk ikut menuliskan opininya juga.

Saya sendiri sih, sejak lama berdiri dipihak yang anti sinetron. Kalau saya menghakimi bahwa sinetron itu ‘busuk, sampah’ dll, itu karena mudharat sinetron lebih banyak daripada manfaatnya. Hihihi, pilihan kata barusan pasti akan membuat panas pihak-pihak yang pro sinetron atau mereka yang memposisikan oposisi anti sinetron tanpa perlu menjadi fans sinetron.

Begini lho. Sikap saya itu didasari beberapa alasan, ples didukung latar belakang ilmu psikologi yang saya pelajari.

Alasan pertama, menonton sinetron untuk tujuan hiburan, kalau kita main ibarat, maka nonton untuk makanan rohani/mental/jiwa. Seperti ungkapan blogger siapa, yang mengibaratkan bahwa sinetron seperti makanan instan macam mie instan. Maka saya juga bisa memandang, tayangan-tayangan ditelevisi layaknya santapan yang bersifat psikologis.

Pertanyaan: apakah anda akan terus menerus memberi makan jiwa/rohani anda dengan tayangan seperti sinetron?
Orang nonton berita saja bisa berakibat negatif untuk jiwa, seperti jadi marah, depresi, dll. Apalagi sinetron yang lebih memfokuskan konflik tak berkesudahan, cara berpikir yang instan untuk mengatasi konflik, dll. Memang, ada yang membela bahwa sinetron juga memuat nilai ‘kebajikan selalu menang melawan kebatilan’, tapi fokusnya apakah benar itu?

Yang saya lihat malah ‘Cinderella Effect’. Tokoh utama digambarkan selalu pasrah, tak punya determinasi kuat, resilience rendah, achievement juga tak jelas, sikap dan komunikasi asertif apalagi. Yang ada malah, menunggu ditolong pihak lain, alih-alih asertif malah bersikap ala keset-nya 7 Habits.
Manusia Indonesia, secara umum banyak digerakkan oleh motivasi eksternal. Karena itu bisa dipahami, bahkan untuk sadar lalu lintas harus dipaksa lewat hukum/punishment, jarang sekali yang muncul karena kesadaran sendiri alias motivasi internal.

Nilai-nilai seperti inikah yang akan menjadi konsumsi anda?

Alasan kedua. Saya mempunyai pilihan. Sebagai manusia dengan kehendak bebas, saya bebas memilih. Selain sinetron, masih banyak kok alternatif tontonan yang lebih baik sebagai makanan jiwa. Saya tidak langganan tv kabel, jika anda menduga pilihan saya adalah channel NatGeo, Discovery Channel, atau HBO. Alternatif saya ya tv nasional dan tv lokal. Dan percayalah, selain sinetron masih banyak tayangan lain yang lebih bagus untuk jiwa. Mungkin yang penonton tv perlukan adalah tv guide (bukan rating, tapi ulasan atau review) dan promosi.

Misal di trans7 dari jam 12.30 – 17.00 full tayangan edutainment keluarga. Dari Si Bolang, Laptop si Unyil, Cita-citaku, Koki Cilik, Dunia Fauna, Jejak Petualang, Kisah Si Gundul, dll.
Kalau jam 9.30 – 12.30, bisa stel channel trans7, transTV, antv, global, metro, sila ganti-ganti. Dijamin tanpa sinetron dan full edutainment. Dari pengetahuan untuk anak, informasi kesehatan, keluarga, perempuan, hingga kuliner dan jalan-jalan.

Nah untuk jam prime time 18.00 – 21.00 memang lebih sedikit alternatif edutainment. Saya sendiri lebih memilih on the spot-nya trans7. Kadang antv menayangkan ripley’s believe it or not. Atau metrotv yang menayangkan feature. Atau kalau tidak, saya ganti ke channel tv lokal seperti rbtv, jogjatv, aditv, bahkan tvri. Tayangannya mulai dari kuliner lokal, jalan-jalan lokal, seni tradisional (jogja tv sering memutar folksong melayu hingga banyumasan), sampai talkshow.

Tetapi jam-jam segitu bukannya jam belajar ya? Saran saya sih, jika anak anda belajar, anda sebagai orang tua mencontohkan diri dengan mematikan tv dan melakukan kegiatan lain, misal membaca. Jadi anak-anak merasa orangtuanya bersikap konsisten, tidak sekadar jadi mandor perintah ini itu tapi sendirinya maunya cari hiburan.

Edutainment yang saya sebut diatas, menurut saya memuat lebih banyak nilai-nilai positif. Seperti cinta alam, lingkungan, dan binatang, persahabatan, menghargai perbedaan (si bolang dan unyil, setiap hari menampilkan anak-anak dari temanggung sampai kalimantan), wiraswasta (tayangan cita-citaku menampilkan potensi ekonomis dari hal-hal disekitar kita, seperti bebek, buah mengkudu, labu siam, dll), mengenal kekayaan & keragaman nusantara (bhinneka tunggal ika banget deh), dll.

Jadi saya merasa sayang kalau hanya saya saja yang belajar dan menikmati sendiri. Apalagi buat keluarga dan keponakan, untuk mereka, saya dorong mereka belajar nilai-nilai tersebut secara fun.

Alasan ketiga, sudah banyak penelitian tentang televisi dan acaranya dan dampaknya secara psikologis. Silakan dicari dijurnal juga, bahwa menonton bukanlah proses yang sederhana. Karena itu sebuah tontonan kekerasan bisa berdampak kepada penontonnya.

Jika saya ingin memberi jiwa saya, santapan yang menyehatkan, itu pilihan saya. Jika saya ingin orang-orang disekitar saya ikut merasakan santapan jiwa yang menyehatkan, demi kesehatan jiwanya, maka saya berupaya untuk memberi himbauan dan penjelasan, khususnya kepada anak-anak. Kalau untuk dewasa, pilihan ada ditangan masing-masing sih.

Seperti ibarat makanan. Kalau masih anak-anak, dididik dan dipilihkan makanan bernutrisi seperti sayuran segar, susu, dll. Kalau yang sudah dewasa, kalau sudah diingatkan bahaya kolestrol hipertensi dll tapi masih memilih lemak, makanan instan, rokok, dll ya terserah sih.

Terakhir, saya sebenarnya agak-agak gimana gitu dengan polemik sinetron ini. Ya tidak apa-apa sih, demi proses edukasi/mencerdaskan masyarakat *tsaaahhh*.
Tapi andai waktu rame-rame kasus ahmadiyah, temanggung, dll kekerasan karena dipicu perbedaan, kita sesama blogger bisa segempita ini untuk menaikkan awareness, khan gimana gitu.  🙂

Notes.
Kemarin Selasa, sempat berdiskusi dengan @hotradero dll ditwitter. Kesimpulan (sementara) saya, masih kuatnya dominasi sinetron sebagai pilihan hiburan keluarga, sepertinya karena banyak yang belum tahu ada alternatif lain. Karena itu seyogyanya, selain mengkritik juga sekaligus mempromosikan tontonan alternatif tersebut.

Selain itu, sudah agak lama saya mencari jika tayangan macam Si Bolang diproduksi dalam bentuk vcd. Jadi bisa ditonton kapan saja, dimana saja.
Semoga ada yang mendengar harapan saya dan syukur-syukur dikirimi gratisannya :mrgeen:

Note kedua, kalau mencermati komen-komennya, kok seperti ada kecenderungan, membenturkan dengan ‘aktivis socmed’. Ada yang menuduh socmed dan mereka yang kebetulan populer diranah socmed, dan mengoposisikan diri terhadap mereka.
Lhaaaa…mo cari musuh atau gimana?

from how to train your dragon into social media

Jogja memang rada telat, khususnya dibandingkan dengan ibukota kalau ada film-film bagus yang masuk indonesia (yaeyalaaaahhh…ibukota getu lowh, dibandingin dalam hal up-to-date). Jadilah saya barusan nonton How to Train Your Dragon not in 3D, yang baru saja masuk bioskop Jogja. Padahal niat awal pengen nonton Shutter Island (yayayaya, telat lagi) yang ternyata udah digusurpaksa untuk turun.

Filmnya ternyata bagus, seperti yang diomongin teman-teman yang sudah duluan nonton. Animasi yang halus banget (untuk mata awam seperti saya), adegan action yang menegangkan, lucu-lucunya juga, dialog yang sarat pesan, dan cerita yang kuat. Cukup untuk dikategorikan film bagus? :mrgreen:

Dan ternyata saya mewek! Ya, film yang kata teman-teman lucu, ternyata malah membuat saya mengalirkan air mata terharu. Tidak sebanjir Hachiko sih, tapi teuteup air mata ini tak terbendung. Yang bikin nangis karena cara-cara Hiccup dalam ‘menaklukkan’ naga. Weeewww, saya yang pecinta binatang, terharu banget. Memang seharusnya seperti itu hubungan antara manusia dan binatang! *berapi-api*

Tapi yang membuat saya gatel pengen nulis postingan ini justru pesan lain yang disampaikan dalam film tersebut.

Digambarkan dalam hubungan ayah anak, Hiccup dan ayahnya yang penguasa desa Berk, Viking, berat sebelah. Sang ayah digambarkan mempunyai keinginan/bayangan tersendiri tentang Hiccup, dan diam-diam merasa malu dengan kondisi anaknya yang tidak seperti diinginkannya. Hiccup sendiri seperti tak berdaya untuk mengekspresikan dirinya, dia bahkan kesulitan untuk menyampaikan apa yang baru saja dialaminya. Jadilah Hiccup lebih banyak mengalah dan (terpaksa) nurut apa kata ayahnya. Tapi menurut sang ayah, itu masih dikategorikan membangkang alias tidak menurut.

Hubungan yang berat sebelah itu tampak jelas ketika ayahnya tidak mau mendengarkan Hiccup. Ayah yang terlalu ‘sibuk’ dengan bayangan ideal tentang seorang pemuda Viking yang ingin itu ada dalam diri Hiccup. Sehingga si Ayah tidak mau mendengar/sadar bahwa anaknya tidak ingin seperti yang ayahnya bayangkan. Padahal tanda-tanda itu jelas ada, pertandanya begitu mudah dibaca. Tapi ya gitu, sang ayah tidak mau mendengarkan, sehingga dia tidak sadar sama sekali dengan tanda-tanda tersebut.

Pesan itu sangat jelas di adegan ketika Sang Ayah baru pulang dan menemui Hiccup di kamar. Hiccup yang khawatir ayahnya marah dengan yang dia lakukan, dengan gugup menutupi hasil pekerjaannya. Sang Ayah tidak menangkap ekspresi gugup Hiccup. Ketika mereka mulai berbicara, Hiccup mengatakan apa, Sang  Ayah menangkapnya lain. Semua dalam frame/kerangka pikiran ayah. Hingga akhirnya konflik memuncak, Sang Ayah kecewa berat melihat Hiccup ternyata tidak membunuh naga seperti yang dibayangkan.

Kalau dibawa ke kondisi sehari-hari, situasi-situasi seperti ini sangatlah banyak ditemui. Situasi yang wajar (?) (saking banyaknya kejadian). Padahal kita tahu, kita mempunyai dua telingan dan satu mulut. Tetapi, tetap kita lebih ingin didengarkan daripada mendengar. Btw, antara hear dan listen itu berbeda sekali lho. “Mendengar” yang saya maksud disini adalah “listen”. Mendengar dengan hati, menyimak dengan sungguh-sungguh semua yang tersirat dan tersurat.

Bisa saja kita berargumen, selama ini kita telah banyak mendengar. Tetapi siapa yang sadar/jujur kepada diri sendiri, ketika kita mendengarkan orang lain, kita telah menanggalkan kacamata kita dan mengenakan kacamata orang tersebut. Jangan-jangan kita selama ini hanya mendengar apa yang kita ingin dengar. Itu konteksnya dalam berkomunikasi secara umum, sehari-hari.

Dalam konteks cyber-social (halah, istilah apalagi ini, ciptaan sendiri), keinginan untuk didengarkan alias berbicara itu bisa jadi alasan kenapa social media menjadi begitu laris manis diserbu. Social media adalah wadah yang tepat untuk menyalurkan semua yang ingin dikatakan, dikomentari, dicurhatkan, diopinikan, etc etc pendeknya tempat untuk bicara.

Kenapa social media? Jujur saja, tidak semua orang mempunyai kepercayaan diri untuk berbicara di depan publik, apalagi jika mereka ‘bukan apa-apa’ dalam arti bukan seleb/public figure. Katarsisnya ya disocial media itulah. Ada rasa aman, ketika kita bisa bicara disocial media, karena kita merasa ga benar-benar hadir/tampil di depan massa. Yang malu, yang ga pede, jadi merasa menemukan penyalurannya.

Kembali ke soal mendengar-didengarkan, begitulah kalau semua berebut untuk didengarkan/bicara disocial media, lantas siapa yang bersedia mendengar/membaca?

Mungkin karena itu pula, terkadang saya lelah menatapi timeline akun social media saya. Hiruk pikuk, timeline mengalir deras. Sepertinya semua orang sedang berebut untuk berbicara, meminta untuk diperhatikan dan didengarkan. Lantas siapa yang bersedia mendengarkan saya? :mrgreen:

Btw, naga-nya Hiccup kok mengingatkan saya dengan tokoh alien di Lilo and Stitch ya? 😀

Notes.

Perenungan saya, seringkali keinginan untuk didengarkan tersebut membuat kemampuan untuk mendengarkan inner-voice menurun. Cara yang saya lakukan adalah, saya menyepikan diri untuk lebih peka mendengar inner-voice saya.

dongeng yang mengerikan

Beberapa bulan yang lalu, saat ada pameran buku di Jogjakarta, saya sempatkan memborong beberapa buku. Salah satunya adalah Kumpulan Dongeng Perrault terbitan Gramedia. Niatnya sih sebagai kado untuk si kembar, ponakan tercinta.

Sampai rumah, kebiasaan saya tiap kali membeli buku adalah speed-reading sebelum membacanya lagi lebih cermat. Begitu juga dengan buku Kumpulan Dongeng tersebut. Pas speed reading itu, saya menemukan hal yang janggal.

Oia, bagi yang asing dengan dongeng-dongeng Perrault, mungkin kisah-kisah seperti Thumbelina atau Si Kecil Bujari atau Kucing Bersepatu Boot, pernah mendengar.

Apa ? Belum ? Hahhhhhhhhh….kemana aja lu, dunia…

Bagaimana dengan dongeng Putri Tidur dan Cinderella ?

Kalau yang terakhir masih belum familiar juga, keterlaluan !!! :mrgreen:

Ya, kita lebih akrab dengan dongeng-dongeng tersebut daripada penarangnya. Saya sendiri sedari kecil lumayan akrab dengan dongeng-dongeng tersebut. Hampir semuanya bukan karena didongengi tetapi karena bacaan. Saya masih ingat betul, buku dongeng pertama saya saat masih TK atau SD kelas satu ya, Putri Tidur. Tipis hanya beberapa halaman, full color, dengan ilustrasi khas Disney.

Kemudian mulai berkenalan dengan Cinderella, Thumbelina, Gadis Korek Api, Gadis Bertopi Merah, Putri Salju, Jack dan Kacang Ajaib, dll beserta dengan cerita rakyat dan kisah-kisah keagamaan, seperti Rowo Pening, Kisah Tangkuban Perahu, Lutung Kasarung, Kisah 9 Wali, Kisah Sahabat Nabi, dll.

Kembali ke buku yang saya beli. Jadi, saya menemukan sesuatu yang janggal, padahal baru di kisah pertama, Putri yang Tidur Seratus Tahun (Putri Tidur). Kejanggalan pertama, oke, tentang terjemahan yang tidak cermat, sehingga bingung mengartikan dia atau -nya itu siapa.

Kejanggalan yang kedua mengenai jalan cerita yang menurut saya : SADIS DAN TIDAK MASUK AKAL.

Kisah Putri Tidur yang saya tahu dahulu, berakhir ketika Sang Pangeran mengecup Sang Putri dan Sang Putri terbangun. Lalu mereka menikah dan hidup bahagia. Ternyata kisah aslinya tidak berakhir sampai di situ.

Diceritakan, setelah Pangeran dan Putri menikah, ternyata orang tua Sang Pangeran bermasalah. Ibu Sang Pangeran adalah raksasa yang suka makan daging anak kecil, sedangkan ayahnya mengawini raksasa tersebut karena kekayaannya.

Suatu ketika, Ibu Mertua tersebut ingin makan daging cucu-cucunya. Walaupun berhasil dikibuli oleh tukang masak, tapi pada akhirnya tetap ketahuan oleh Ibu Mertua kanibal tersebut. Karena marah, maka menantu beserta cucu-cucunya beserta juru masak tersebut, dihukum dengan dicemplungkan ke ember yang penuh binatang berbisa. Untung, suaminya tiba-tiba muncul, dan mertua kanibal tersebut melemparkan diri ke ember tersebut dan mati.

. . . . . . . . . . . . .

Coba perhatikan. Katanya dongeng untuk anak tapi isinya kok kekerasan. Belum lagi, kalau menggambarkan perasaan jatuh cinta. Selalu berkisar ke masalah fisik. Pangeran yang jatuh cinta seketika karena Putri yang cantik jelita, kulit mulus kemerahan, dan berusia sekitr 15 tahun !!! Pedofil macam apa ini ???

Kisah-kisah berikut semakin membuat bulu kuduk saya meremang, gelisah, menggelinjang. Misal pada kisah si kecil Bujari. Ini teryata berbeda dengan kisah Thumbelina, si Putri Jempol (yang sukses membuat saya selalu berimajinasi bagaimana rasanya tinggal di daun teratai, tidur berselimutkan kelopak mawar dan minum dari tetes embun).

Si Kecil Bujari ini mengisahkan tentang si bungsu dari sekian bersaudara, dan yang mengalami kelainan. Tubuhnya hanya sebesar ibu jari. Sudah begitu, keluarganya dililit oleh kemiskinan, hingga suatu saat, orang tua mereka mempunyai rencana jahat untuk membuang anak-anaknya ke hutan.

Singkat cerita, ketika mereka berhasil dibuang ke hutan oleh orang tuanya, justru si Bujari lah yang menjadi pemimpin bagi kakak-kakaknya berkat kecerdikannya. Petualangan mereka menyelamatkan diri membawa mereka ke rumah seorang raksasa yang gemar makan daging manusia. Untungnya, mereka dilindungi oleh istri raksasa yang baik dan tidak ingin suaminya memakan anak-anak malang tersebut.

Berikut cuplikannya :

Raksasa tersebut mempunyai tujuh anak-anak perempuan yang masih kecil. Wajah mereka kemerahan, karena mereka juga sudah mulai menyukai daging mentah. Hidung mereka bengkok, mulut mereka lebar, dengan gigi-gigi panjang, runcing, dan renggang. Meski belum menjadi sekejam ayahnya, anak-anak itu gemar sekali mengisap darah manusia.

Cuplikan berikutnya :

Sambil berkata demikian, dia (raksasa – red.) lalu memotong leher ketujuh anaknya sendiri. Merasa puas dengan pekerjaannya, dia kembali mendengkur di samping istrinya. Dst…

Saya seperti membaca kisah horror atau kisah kriminal, alih-alih dongeng untuk anak-anak. Padahal ini dongeng klasik yang sudah puluhan (ratusan ?) tahun. Saya membayangkan, jika dongeng ini difilmkan, pasti klasifikasinya untuk dewasa, karena banyaknya adegan kekerasan dan darah.

Selain adegan kekerasan, saya juga menemukan banyak sekali nilai-nilai yang mengajarkan budaya instant alias tidak menghargai proses. Misal pada kisah Kucing Bersepatu Lars. Disini, si Yatim pemilik kucing berhasil kaya raya dan menjadi menantu raja karena tipu muslihat Si Kucing.

Juga penekanan pada hal-hal yang bersifat materiil. Misal, kecantikan yang selalu membuat jatuh cinta. Eneg sekali membacanya, seorang Pangeran jatuh cinta tak berdaya hanya gara-gara melihat kecantikan seseorang.

Pada akhirnya buku ini tidak jadi saya berikan ke ponakan tercinta. Saya ga pengin mereka jadi ketakutan (beuh….paling ga setuju dengan metode pengasuhan anak dengan menakut-nakuti), jadi berprasangka terhadap orang yang kebetulan dikaruniai fisik tidak sempurna (di dongeng, tokoh antagonis selalu berujud fisik tak sempurna), hanya bermimpi dan pasif menunggu pangeran datang alih-alih menolong dirinya sendiri (Cinderella’s syndrome), hanya sibuk mengurusi kecantikan daripada belajar, dll. Mungkin baru akan saya berikan jika ponakan sudah dewasa…

perilaku jajan anak-anak, cermin pola asuh orang tuanya

Menjelang Idul Adha kemarin, pas saya belanja di superkampret eh hypermarket terbesar yang terletak di kota Jogja, saya ketemu hal menarik. Waktu itu lagi antri di kasir. Ga terlalu penuh, tapi sekalinya belanja, trolly-nya isi segambreng semua, sedangkan saya cuma beli susu pasteurisasi saja.

Nah, depan saya adalah ibu-ibu dengan belanjaan naujubillah banyaknya. Saya lirik angka yang tertera di kasir. 500an ribu sekian dan masih akan bertambah. Saya mengingat-ingat, tanggal berapa sih, waktu itu. Oke, karena saya bukan orang gajian, jadi ga tau apakah tanggal segitu pas gajian ato tidak.

Lalu saya melirik ke belanjaannya. Wooowww…..susu bubuk anak-anak merk enfakid ada banyak dus (lebih dari 5, keknya), 3 kardus aqua gelasan, berbagai barang kebutuhan, trus yang menarik perhatian adalah banyaknya jajanan untuk anak-anak macam oreo, jelly, taro, dsb.

Lantas saya melirik lagi ke arah suami dan anak-anak usia balita yang menunggu belanjaan keluarga rampung. Dari pakaian yang mereka kenakan, saya menilai bahwa mereka bukan keluarga snob, alias tipikal keluarga kebanyakan di Indonesia (hehe).

Saya pengen mengkritisi dua hal dari apa yang saya lihat waktu itu.

Pertama, soal susu bubuk yang dibeli ibu tersebut. Total belanjaan susu ga murah lhooo….untuk merk tersebut, keknya nyampe 200an rebu. Sudah begitu, untuk ibu yang ‘galak’ (oke, diksi galak sepertinya berlebihan, disiplin deh), sehari bisa habis 2-3 gelas susu. Means, sekardus 400gram susu, bisa untuk beberapa hari saja, paling pol seminggu deh.

Ibu tersebut pasti ga pernah ngeblog dan membaca postingan bahwa susu mahal dan murah adalah sama saja (nuduh).  :mrgreen:

Dia juga mustinya baca ini , ini,  dan bersikap lebih kritis terhadap tayangan televisi termasuk iklan-iklannya.

Anak-anak ibu tersebut sudah balita, mungkin sudah 4 tahun ke atas. Sepertinya akan lebih baik jika diberi susu cair seperti susu sapi murni ato susu UHT ato susu pasteurisasi (menurut pendapat ibu Lita).

Selain itu, mencermati produk belanjanya yang membeli ukup banyak jajanan tidak bernutrisi seperti oreo, jelly, dll, haduh, sungguh membuat saya prihatin. Tuduhan saya, ibu dan keluarga tersebut adalah korban iklan televisi. Saya membayangkan, kebanyakan waktunya dihabiskan di depan televisi. Sayang sekali.

Jajanan tersebut, dari pemahaman awam macam saya, tidak mengandung nutrisi. Oke, dia (produk tersebut) dalam iklannya mengklain, sudah menyertakan vitamin, mineral, dsb. Tapi, bagaimana dengan kandungan gula ? Kandungan garam ?

Saya benernya juga suka sih, ngemil produk-produk macam itu. Apalagi kalo belanja di superkampret dalam keadaan perut lapar. Godaan untuk membeli cemilan ga penting macam taro, oreo, dsb, cukup besar. Lalu perilaku ngemilnya juga ndak sehat, yaitu ketika lagi asik mantengin tipi, ato duduk doang di depan laptop. Wes, pokoknya ndak sehat deh, bikin obesitas lebih cepet. Karena itu, saya tahu banget, kalau citarasa yang lebih diutamakan di dalam cemilan tersebut. Citarasa manis dan asin. Hampir sama dengan nglamuti gula pasir dan royco.    😆

Sementara, di sekitar kita benernya masih banyak camilan tradisional yang jauh lebih menyehakan. Sifat alaminya membuat lebih banyak kandungan nutrisi dan serat (yang utama). Kenapa jajanan tradisional makin ga ngetren di kalangan keluarga untuk dihidangkan sebagai camilan anak-anak ? Misal, pisang rebus, grontol, lupis, ubi-ubian yang bisa diolah berbagai macam, jagung rebus, kedelai rebus, etc.

grontol

*grontol, jajanan ndeso, terbua dari jagung tua yang udah diklocop dan kemudian direbus*

Beberapa hari ini, saya kok pengen bernostalgia untuk nyemil jajanan tradisional grontol. Grontol adalah pipilan jagung yang direbus, kemudian disajikan dengan kelapa parut dan garam. Kalau mau manis, dicampur gula pasir.

Memang, dari segi penampilan, kurang menarik. Dari segi rasa juga kalah dengan berbagai jajanan modern tersebut. Nutrisinya pun, sebenarnya juga tidak terlalu tinggi. Tapi dari pemikiran saya, jajanan ini kaya serat. Dan bagi ibu yang kreatif, grontol bisa diolah lagi dicampur sama apa kek, sehingga lebih bergizi. *belum bisa kasih ide*   :mrgreen:

Ketika saya makan di rumah, pembantu saya dan Nyokap komentar. Mereka jadi ingat masa kecilnya demi melihat grontol yang saya makan. Katanya, jaman mereka kecil dulu, cemilan ya sebangsa seperti itu. Misal gembili, ketela pohon, dan ubi-ubian sejenisnya, yang diolah macam-macam dari dikukus doang sampe dibikin tiwul. Tidak ada yang namanya jajanan seperti yang ada sekarang ini.

ibu-penjual-jajanan-tradisional

ngladeni-lupi

ngladeni-lupis2

*ibu penjual jajanan grontol, ketan ireng, dan lupis di pasar kranggan. sayangnya, gula jawa alias juruh yang dimasak beliau, keknya udah dicampur apa gitu, jadi krasa pait kalo ketelen. lupisnya juga ga menul-menul. errrr…..problema pelaku ekonomi mikro yang kurang sadar dengan kesehatan* 🙄       *duh OOT*

Kedua hal yang berbeda tersebut, membuat saya mengasumsikan, ada hubungan antara pola jajan anak-anak dan perilaku parenting orang tua.  Begini, hipotesa saya adalah, orang tua yang cenderung permisif, maka anak-anaknya suka sekali jajan cemilan-cemilan yang mereka tonton di telivisi (korban iklan televisi). Orang tua seperti itu cenderung kurang aware dengan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak-anaknya. Misal seperti tayangan televisi yang kian hari kian parah, mereka cenderung kurang menyadari bahayanya. Asal anak mereka anteng, ndak masalah. Selain itu, orang tua juga cenderung kurang kritis.

Namanya juga hipotesa, jadi belum dibuktikan lewat penelitian   😆

*Mungkin ada yang berminat untuk menjadikan topik spkripsi ?* 😉

ps. Postingan terkait asumsi saya mengenai perilaku jajan anak-anak dan perilaku konumtif.

ps2. kalo ada yang mo nyari lopis enak di pasar kranggan, saya siap mengantar 😛

parenting competencies

Parenting / pengasuhan tak ubahnya leadership. Bagi sebagian orang, mungkin parenting adalah proses yang alami, given. Begitu mereka dikaruniai anak, otomatis mereka menjadi orang tua dan otomatis pula mereka mempunyai wewenang menjalankan pengasuhan.

Mungkin seperti seseorang yang menjadi seorang kepala daerah, karena dia dijamin oleh legalitas dan undang-undang yang berlaku. Tetapi apakah hal tersebut menjamin dia adalah pemimpin yang baik ??

Begitu pula halnya dengan parenting. Disadari atau tidak, tanggung jawab menjadi orang tua sangat berat, dan jika nyerempet sedikit dengan agama, hal tersebut berkait dengan amanah yang diberikan. Mau diapakan amanah ini, mau dibentuk semau kita –proyeksi orang tuanya- atau dibentuk menjadi sebaik-baiknya manusia ??

Parenting yang hendak saya bicarakan kali ini, memang berlatar belakang leadership, sehingga bingkai untuk mengemasnya pun saya menggunakan jargon-jargon yang lazim digunakan dalam studi kepemimpinan. Mengapa ?? Karena, bagi saya menjadi orang tua sama halnya dengan menjadi pemimpin. Dan, ada begitu banyak studi dan riset mengenai kepemimpinan di psikologi dan manajemen, mengapa tidak kita pinjam saja, guna mencetak effective parenting.

Tolok ukur kesuksesan seorang pemimpin, ada banyak parameter. Jim Collins lewat riset yang cukup panjang, merangkumnya dalam buku Good to Great. Menurutnya ada lima level pemimpin dan pemimpin level 5 adalah pemimpin yang dinilai paling tinggi dan paling sukses, karena seorang pemimpin yang sukses adalah jika ia berhasil mencetak pemimpin baru. Jika pemimpin level 5 lengser meninggalkan organisasi / perusahaan, kondisi perusahaan/organisasi tidak lantas limbung bagai anak ayam kehilangan induk, tapi tetap survive dan lebih maju di bawah kepemimpinan baru yang berhasil dicetak pemimpin sebelumnya.

Dengan kata lain, ia tidak menyembunyikan berkat yang dimilikinya hanya demi dirinya sendiri dan membuat orang lain tergantung. Tetapi ia membagikan berkat tersebut dengan memberdayakan sekitarnya sehingga menjadi lebih mandiri dan berdaya.

Sama saja dengan orang tua. Orang tua yang sukses jika ia berhasil membentuk anak menjadi individu dengan karakter, kepribadian, dan kompetensi yang berkontribusi positif bagi lingkungannya. Alih-alih menjadi parasit masyarakat, si anak tumbuh menjadi agent of change yang memberikan perubahan positif bagi lingkungannya, ke arah yang lebih baik.

Nah, pertanyaannya, kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh orang tua untuk menjalankan effective parenting ??

Menurut Bennis dan Thomas dalam publikasinya Geeks dan Geezers : How Era, Values, adn Defining Moments Shape Leaders, ada beberapa kompetensi umum yang harus dimiliki oleh leader. Boleh dong, kita pinjam untuk menentukan kompetensi umum yang harus dimiliki oleh orang tua.

    • Adaptive Capacity

      Yeah, benar sekali, dalam situasi seperti sekarang ini hanya satu yang orang tua tidak bisa kendalikan yaitu perubahan itu sendiri. Jangan selalu membandingkan situasi jaman orang tua dengan situasi yang dialami oleh anak-anak.

      Tugas orang tua adalah bagaimana merespon setiap perubahan dan krisis yang mungkin terjadi dengan reaksi yang konstruksif, saling menguatkan, dan yang paling penting adalah menciptakan makna positif dari perubahan tersebut. Di sini orang tua harus kreatif, kalau tidak ia akan selalu ketinggalan dan diglembuki oleh anak-anaknya.

        • The Ability to engage others in shared meaning and character and distinctive voice

          Pemimpin yang kharismatik seperti Soekarno, Gandhi, Nelson Mandela, adalah pemimpin-pemimpin yang berbagi harapan, visi, dan nilai-nilai serta menularkannya kepada pengikutnya, serta sukses mengarahkan mereka untuk mencapai visi tersebut.

          Bagaimana dengan orang tua ?? Effective Parenting jika anak tumbuh menjadi anak yang berkarakter, dengan berpegang terhadap nilai-nilai positif sebagai prinsip hidupnya. Karena itu character building sangat penting dalam pengasuhan anak.

            • Integrity and strong values

              Poin ketiga ini sangat berperan dalam pembentukan karakter terhadap anak-anak. Orang tua yang tidak mempunyai integritas dan nilai-nilai seperti keadilan, cinta, kejujuran, dsb, bagaimana ia dapat memberi contoh kepada anak-anaknya ??

              Bisa saja orang tua secara lisan mengajarkan si anak untuk jujur dsb, tapi di luar ia bebas korupsi, menyuap, bahkan lebih parah berbohong terhadap anaknya. Jangan dikira hal tersebut bebas dari pengamatan anak, dan ketidakkonsistensian antara apa yang diajarkan orang tua dan perilaku orang tua adalah salah satu faktor yang menyumbang perilaku sulit pada anak.

              Salah satu teori pembelajaran, social learning theory, menguatkan bahwa anak belajar dari lingkungannya dan terutama dari orang tuanya sebagai lingkungan terdekatnya.

              Selain itu, saya paling tidak setuju dengan metode ‘menakut-takuti’ atau dengan kata lain “leading with fear” terhadap anak-anak.

              Saya tidak bisa membayangkan jika sedari dini, anak-anak dicekoki berbagai hal yang membuatnya takut dalam rangka membuat si anak patuh dan menurut terhadap orang tua.

              Salah satu studi yang populer di psikologi, yaitu bahwa rasa takut itu merupakan hasil dari belajar. Eksperimennya adalah sebagai berikut, yaitu bayi Albert diberi boneka kelinci (yang sebenarnya netral). Tetapi oleh eksperimenter, boneka itu diasosiasikan dengan sesuatu yang membuat bayi Albert kaget. Walhasil, setiap ia melihat boneka kelinci, bayi Albert selalu menangis ketakutan.

              Banyak studi di kepemimpinan yang mengungkapkan, perbedaan antara leading with love dan leading with fear, terhadap produktivitas pegawai dan efektivitas organisasi. Intinya adalah, pemimpin yang memimpin dengan cinta, berpengaruh sangat signifikan terhadap bawahannya. Followers lebih merespon positif terhadap cinta daripada rasa takut yag tercipta.

              Implikasinya terhadap effective parenting, saya tidak bisa membayangkan, apa yang dipelajari oleh anak-anak jika sedari dini mereka diajari untuk takut, takut, dan takut. Sedari dini mereka dicekoki dengan ancaman, hukuman, dosa, bahkan Tuhan pun dibawa-bawa dengan ditampilkan sebagai sosok yang menakutkan. Kadang itupun tidak cukup, jadi membawa serta sosok seperti eyang, tante, guru, polisi, anjing, ular, tanah basah, hujan, rumput, dsb sebagai sosok yang menakutkan, mengancam keberadaan dan kenyamanan si anak di lingkungannya.

              Tidak heran jika kelak ia tumbuh menjadi pribadi yang peragu, sulit mengambil keputusan, inisiatif rendah, dan ekstrimnya ia tumbuh menjadi pribadi yang paranoia. Bagaimana ia akan mengeksplor potensi terpendam dalam dirinya, jika ia pribadi yang peragu, selalu khawatir, dan tidak percaya diri ??

              Maka jangan heran, jika anak-anak Indonesia kelak juga semakin jauh dari alam. Mereka takut dengan hujan, bermain di tanah, takut dengan ular, anjing, kucing, dan lain-lain. Jika sudah demikian, bagaimana mereka akan menghargai alam, hutan, sungai jernih, proses alam, dan semesta ?? Mereka akan melihat semua itu sebagai inang pembawa kuman, berbagai penyakit, dan berbagai persepsi negatif lainnya, alih-alih sebagai sahabat manusia yang harus diakrabi dan disayangi.

              Akibat nyatanya sudah dirasakan sekarang. Bahkan di desa. Ketika tikus sawah mengganas, konon hal tersebut juga disumbang oleh perilaku manusia yang membunuhi ular sawah. Ular sawah dianggap sebagai ancaman, karena itu harus dibunuh dan dimusnahkan. Akibatnya ?? Lihat saja sekarang. Tikus mengganas tanpa ada predatornya yang alami di alam.

              Berbeda jika leading with love. Dalam dunia kepemimpinan, leading with love diterjemahkan menjadi love-based motivation, yaitu motivation based on feeling valued in the job. Dengan kata lain, dari versi bawahan, ia mengatakan kepada pemimpin yang memimpin dengan cinta :

              if the job and the leader make me feel valued as a person and provide sense of meaning and contribution to the community at large (fullfilling higher needs of heart, mind, and body) then i will give you all I have to offer.

              Mendidik dengan cinta berbeda dengan memberi rasa takut. Ia memahami potensi dan keunikan tiap anak, tidak memproyeksikan diri kepada si anak. Ia akan membebaskan si anak, menumbuhkannya sesuai bakat dan keunikannya. Karena cinta itu membebaskan.

              Selamat menjadi orang tua, karena menjadi orang tua yang berhasil itu tidak mudah.