Manusia Maha Adil dan Penyayang

Baru hari Sabtu siang ngetwit prediksi reaksi masyarakat terkait peristiwa pemboman Paris dan Beirut, eeehhh beneran aja mulai hari Minggu timeline udah rame dengan reaksi yang udah diprediksi sebelumnya. “Mereka” ini gampang ditebak, perilakunya gampang diduga.

Ini twit yang kuposting Sabtu siang, urutan bacanya dari bawah:

image

Twit itu berangkat dari pemikiran dan pengamatan, setiap kali ada warga yang bergerak atau beropini maka akan ada kontranya. Sebenarnya sangat wajar dan ya begitulah dinamikanya, ga ada yang mengejutkan. Yang membuatku merenung adalah kontra yang tipenya menuntut orang lain untuk menyelesaikan dan mikirin semua masalah di dunia.

Misalnya nih, yang udah lamaaaa terjadi. Ketika pecinta binatang bergerak terhadap isu kesejahteraan hewan dan against animal abuse, maka selalu ada komentar-komentar seperti :
– Ngapain bantu hewan, manusia aja banyak yang masih kesusahan
– Halah duitnya buat kucing kampung, trus gimana tuh nasib orang gila dan gelandangan? Mending duitnya buat mereka.
– Kenapa cuma kucing? Kenapa ga ayam? Tuh banyak ayam dan sapi disembelih tiap hari. Ngomong dong, belain juga.
– Dll.

Zzzzzzzz cape deeee. Niatnya ngetroll doang, ga ada niat baik sedikitpun dari komentator semacam ini. Aku belajar untuk mengabaikan mereka, lebih baik fokus energi ke niatan semula daripada buang-buang energi meladeni mereka.

Kemudian situasi bencana yang menimpa manusia. Komentar kayak gini juga ada lho, jangan salah.

Yang kupikirkan adalah, orang-orang ini menuntut orang lain untuk menyelesaikan semua masalah dan menuntut orang lain bersikap maha adil.  Mereka menuntut kita untuk mikirin semua persoalan di dunia. Buat apa? Buat menyenangkan mereka lah, karena sebenarnya mereka tidak tertarik dengan apa yang sudah kita lakukan dan sedang lakukan. Ga penting buat mereka.

Satu lagi, mereka menuntut kita bisa bersikap maha adil, tapi apakah mereka sendiri udah bersikap adil dan objektif? Ada beberapa golongan yang hanya berempati jika agamanya sama, satu agama pun harus dari aliran yang sama, ideologi politik yang sama, dan jumlah statistik. Korban satu nyawa kurang nendang bagi mereka. Korban beda aliran, sah-sah aja buat mereka karena korban adalah golongan yang berbeda dan karena sebab itu pantas menjadi korban.

Di satu sisi mikir, memang faktanya dunia ini ga adil. Kalau kamu aware, opini kita tu banyak dipengaruhi faktor luar. Kita sebagai individu aja punya bias, apalagi media, mereka punya kepentingan. Tapi kalau kamu aware, maka hati kecilmu akan tahu ada yang sifatnya hakiki dan beyond social media, beyond berita, beyond media, bahkan beyond agama. Namanya kemanusiaan.
Selain itu faktor lain adalah kejujuran. Apakah kamu sudah jujur dengan dirimu sendiri? Apakah kamu sadar, kesinisanmu disetir oleh perasaan kamu lebih baik dari yang lain atau betul-betul kesedihan/kepedulian.

Menyenangkan semua orang itu mustahil. Apalagi mikirin semua masalah di dunia, bisa meledak kepala kita, depresi dan suicidal. Yang penting, be the change you want to see in the world. Kalau kamu merasa kejadian di Paris tidak merepresentasikan Islam yang ramah, ya bersikap baiklah dengan teman-teman Syiah, Ahmadiyah, penganut kepercayaan dsb. Kamu ga sadar, ujaranmu bilang “Syiah bukan Islam” bisa berujung kemana? Simpan aja lah pikiran itu untuk dirimu sendiri, bukan urusanmu. Itu urusan keimanan, urusan sama Tuhan.

Kalau selo, bisa juga baca-baca kegelisahanku di tumblr:

Masih sah gak menyandang nama ‘Restlessangel’? 😁😁😁

Impian Para Miss Universe

Lagi-lagi postingan yang terinspirasi karena memperhatikan timeline twitter. Karang yo selo (semi hoax kalo ini sih) jadilah menarik untuk memperhatikan dinamika pendapat orang di twitter. Kali ini yang terbaru adalah tentang bencana alam di Soreang, Bandung, yang kebetulan berbarengan dengan kencangnya opini tentang Gaza.

Saya ndak mengikuti berita konflik Gaza. Yang membuat saya tertarik memperhatikan adalah, banyaknya sindiran yang ditujukan untuk aktivis Gaza, supaya mereka lebih baik membantu yang dekat dulu (Soreang) daripada jauh-jauh ke Gaza. Situasi tersebut, sindir-sindiran seperti itu, terus terang mengingatkan dengan apa yang saya dan teman-teman aktivis penyayang binatang. Seriiing gitu, kalau ada himbauan dan ajakan untuk lebih peduli terhadap satwa, adaaa aja yang sinis dan komen, “ngapain merhatiin binatang, tuh yang manusia juga banyak yang butuh bantuan.” Kasarannya gitu lah.

Jujur, capek dan cukup emosi menghadapi komentar-komentar seperti itu. Mengajak untuk A, disindir kok engga B aja, daaan seterusnya. Hingga akhirnya sadar. Ada banyak sekali masalah di dunia ini, bahkan di sekitar kita. Semua seperti menuntut perhatian untuk diselesaikan, minimal kepedulian kita. Tapi dengan segala keterbatasan, apalagi kita bukan superman, bahkan banyak yang menjalani peran ganda (ya orang tua, ya karyawan, ya pacar, ya anak, ya pelajar, dsb), naif banget kalau kita tampil mengambil alih dengan semua persoalan yang ada. Bisa-bisa jadi gila, atau keluarga ga keurus, dipecat jadi karyawan, dan sebagainya.

Sampailah saya pada satu kesimpulan. Masalah di dunia ini banyak. Ya udah lah, masing-masing pilih peran dan kepeduliannya sendiri-sendiri yang sesuai dengan hati nurani, jalankan. Ga usah lihat-lihat pihak lain dan cari-cari celah untuk menyalahkan atau cari kelemahan untuk dikomentari. Toh, sama-sama tujuannya adalah berbuat baik, menolong sekitar, ujung-ujungnya sebenarnya khan untuk membuat tempat yang kita tinggali menjadi lebih baik. Udahlah, masing-masing ambil porsi dan jobdesnya sendiri-sendiri, ga usah ngurusi yang lain. Yang sayang binatang, sudah sewajarnya kemudian lebih banyak terlibat aktivitas yang berkaitan dengan binatang. Nah, yang lain kalau melihat ada yang belum tertangani padahal menurutunya itu urgent, ya udah langsung cekat-ceket cak-cek tanpa bicara, terjun ke permasalahannya. Semua bekerja gitu lho.

So, kembali ke sindir-sindiran Gaza, menurut saya, ya udah lah ya, biarin aja. Kalau mereka emang maunya nolongin yang di sana, monggo. Terimakasih. Yuk, yang sini bantuin hal-hal yang belum tercover. Wes, meneng-meneng ae, rasah kakehan komentar. Niscaya, impian para Miss Universe lebih cepat terwujud: a better world and peace.

Angkutan Umum Kelas VIP untuk Jakarta?

 

Ide postingan ini muncul saat pulang kantor sore ini, hasil dari melamun di metromini. Kebetulan sekarang kantor agak jauh dari kos, walhasil musti naik kendaraan umum, secara ga ada kendaraan pribadi. Sengaja ga bawa dari Jogja, males banget kudu nyetir di kemacetan Jakarta, belum perawatan, bensin, kos juga ga ada garasi sehingga kalau markir di depan kos, dan lain-lain yang bikin ribet.

Sebelumnya antara kos dan kantor cukup ditempuh dengan jalan kaki aja, cuma 10 menit. Dengan jarak kos ke kantor sekarang yang ‘cuma’ 8 km, kalau jalan kaki ya mrongos aja, tapi kalau naksi kok boros banget. Situasi tersebut akhirnya memaksa aku untuk merasakan sendiri naik kendaraan umum metromini, setelah setahun lebih di Jakarta belum pernah naik metromini, kopaja, dkk. Sebelumnya kalau naik kendaraan umum yang sifatnya massal, cuma berani naik Trans Jakarta. Alasannya, serem, ngeri, khawatir dengan keselamatan diri (ancaman copet) kalau naik metromini dkk itu.

 

Alasan naik metromini ditambah dengan fakta, rute busway masaoloh jauhnya, dua kali musti transit, dan bakalan luamaaaa di jalan. Waktu itu tahu ada jalur metromini juga karena diberitahu teman, bahwa jalur kos-kantor sebenarnya enak, karena ada metromini yang sekali jalan udah langsung sampai, ga harus pindah-pindah.

Singkat cerita setelah merasakan sendiri angkutan umum kelas metromini, ada beberapa catatan yang sayang kalau disimpan sendiri. Pengalaman naik beberapa jenis angkutan umum juga menyadarkan bahwa sebenarnya Jakarta ini udah memiliki modal untuk menanggulangi masalah lalu lintas, yaitu sistem transportasi umum. Hanya aja, sistem transportasi umum yang ada sekarang bener-bener kedodoran untuk pelayanan dan maintenance-nya. Parah banget dah pokoknya. Padahal problema utama Jakarta, MACETTT, bisa teratasi dengan modal tersebut. Transportasi umum bisa menjadi jalan keluar, sayangnya potensi ini diabaikan lamaaaa sekali oleh pemerintah, entah sengaja atau gimana.

 

 

Kembali ke soal pengalaman pribadi merasakan berbagai angkutan umum di Jakarta. Semoga catatan ini berguna di belantara jalanan yang macetnya kejam. Saya memberi beberapa rekomendasi berdasar apa yang saya rasakan dan alami:

Taksi, mempunyai kelebihan untuk kenyamanan dan reliabilitas cukup baik. Reliabel dalam arti, mudah ditemui alias banyak. Kelemahannya, jika kena macet, ya sama saja seperti mobil pribadi, cuma bisa pasrah. Dan siap-siap aja argonya melonjak drastis kalau macet. Belum lagi kalau ketemu supir yang ga ngerti jalan, duh itu bikin bete banget.

Ojek, mempunyai kelebihan cepat karena relatif anti macet (karena bisa meliuk-liuk di tengah kepadatan lalu lintas), juga mudah ditemui. Jika sedang keburu-buru untuk janjian sementara lalu lintas sedang padat, ojek sangat disarankan. Yang menyebalkan dari ojek adalah, kadang bisa lebih mahal dari taksi untuk situasi normal, karena kasih tarif seenaknya. Musti pinter nawar deh. Oh ya kelebihan lainnya adalah umumnya mereka lebih ngerti jalan/rute dibanding supir taksi.

Transjakarta. Selama ini adanya busway sangat membantu. Haltenya ada di mana-mana. Bisa lebih nyaman dari yang ada sekarang, jika pemeliharaan diseriusi. Udah lumayan banget ada ACnya, cuma ya gitu deh. Yang paling menyebalkan adalah reliabilitasnya kurang bisa diandalkan. Bisa aja nunggu lebih dari 30 menit menanti busway datang, dan tidak ada pemberitahuan alasan mengapa busway ga datang-datang. Ngantrinya jadi lamaaaa banget, ini sangat menyebalkan. Mustinya tiap 5 menit, ada. Armada kurang juga membuat penumpang menumpuk, sehingga tak beda dengan metromini. Padahal dengan adanya jalur khusus busway, jelas bebas macet.

Metromini dan sebangsanya. Kelebihannya adalah, dia sangat murah, cuma dua ribu, jauh dekat. Untuk rute yang saya tempuh sehari-hari, metromini jauh lebih cepat daripada naik taksi apalagi kalau lagi padat lalu lintasnya. Entah gimana, metromini punya caranya sendiri melawan kemacetan. :facepalm:

Padahal jalur kantor-kos itu lumayan padat dan jam-jam pulang kantor pasti macet. Tapi metromini bisaaa aja mengatasinya dan waktu tempuhnya jadi cukup cepat. Beberapa cara yang dipakai metromini mengatasi kemacetan adalah naik jalur busway dan ‘memaksa’ mobil-mobil lain untuk mengalah jika sang metromini hendak lewat. Ciyus, dipaksa! Si kernet turun dan kemudian menstop-menghalau mobil-mobil untuk berhenti sehingga metromini bisa melenggang. :facepalm:

Kelemahannya adalah, metromini reliabilitasnya rendah. Kemunculannya ga bisa diprediksi, hampir sama seperti TransJakarta. Bisa gitu, setiap 10 menit ada, tapi bisa juga menunggu lebih dari 30-45 menit baru muncul, itupun padaaaat banget. Kelemahan lainnya seperti kita tahu, bejubel persis sarden dan armadanya juga parah abis. Sopirnya cara bawanya juga ngawur ngebutnya.

Dari pengalaman ini jadi mikir, metromini sebenarnya cukup bisa diandalkan juga sebagai angkutan umum di tengah kemacetan. Tapi banyak pengguna kendaraan pribadi yang males naik metromini karena alasan kenyamanan dan keamanan. Andai ada metromini kelasnya super eksekutif gitu, asyik juga kali ya. BerAC, nyaman, cepat, tiap dua menit ada. Trus keamanan juga terjamin karena pengamen dan penjaja ga bisa masuk. Serem je kalau ada peminta-minta naik, trus menyilet-nyilet tangan sendiri, sembari setengah ngancem kalau ga dikasi duit maka silet tersebut bisa melukai.

Jadi dari awal memang angkutan umum masal bis ini diniatkan khusus untuk kelas eksekutif, yang ga keberatan membayar 10-20 ribu, asal nyaman, aman, bisa diandalkan.

Persoalan sekarang kenapa pemilik kendaraan pribadi ogah beralih ke kendaraan umum, kan ya karena faktor kenyamanan itu. Males berdesakan, males keringetan. Ditambah copet, pengamen, dsb. Ga heran, macet masih terus ada walau gubernurnya ganti. Lhawong penyumbang kemacetan ya kita sendiri, lebih memilih pakai kendaraan pribadi daripada beralih ke angkutan umum. Tapi ya gimana berminat naik angkutan umum, kalau kondisinya seperti itu. Bener-bener lingkaran setan.

September

 

September selalu mempunyai kesan khusus untukku. Tidak saja karena bulan itu aku ulang tahun, tapi lebih karena memory yang melekat menyebabkan muncul kesan tersendiri. September yang buatku berarti Virgo, dengan lambangnya yang begitu feminin, mempunyai kesan karena dua peristiwa yang mengerikan. Pertama, peristiwa gestapu. Maklum, sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di jaman orba, jadi untuk bertahun-tahun didoktrin tiap tanggal 30 September dengan pemutaran gestapu.

Sejarah memang memihak kepada yang berkuasa. Ketika sekarang kekuasaan berganti dan sejarah pelahan berganti sisi, kesan yang ditinggalkan dari suara musik film gestapu tersebut susah untuk dihilangkan. Kini aku tahu bahwa gestapu sesungguhnya adalah periode pembantaian terhadap sesama anak bangsa. Lebih mirip perang saudara. Setelah mengetahui sebagian faktanya malah semakin menambah kesan kelam September—bulanku, yang harusnya ceria.

Kedua, 7 september adalah tanggal di mana Munir meninggal. Penyebab kematiannya adalah karena racun arsenik. Yang membuat pedih adalah karena ada kemungkinan Munir dibunuh untuk membungkam dan menghentikan perjuangannya. Pas tanggal 7, pas September, pas ulang tahunku. Jadi seperti diingatkan terus.

Tentang kematian Munir ini, kebetulan waktu itu masih lumayan mengikuti berita. Masih inget reaksi Bapak Ibu tiap nonton berita tentang Munir, mereka pun mengagumi Munir. Kalau ga salah ingat, mereka kagum, karena Munir ini warga keturunan (Arab) tapi idealis dan mau berjuang untuk orang lain.

Kebetulan, September 2012 ini di twitter sedang ada gerakan 2 juta avatar Munir untuk mengenang Munir. Sejak saat itu banyak twit-twit yang bercerita tentang Munir. Salah satunya dari mba Dhyta @puplerebel, yang menceritakan sosok Munir dari sisi personal, interaksinya yang terbatas dengan Munir. Aku terkesan sekali dengan sisi kesederhanaan dan pengorbanan Munir untuk orang lain.

Jadi berpikir, nilai-nilai kesederhanaan terutama dari orang-orang besar selalu membuat kita kagum dan tersentuh. Apalagi jika orang tersebut sebenarnya bisa mendapatkan materi lebih dari yang dipunyai, tapi ia rela untuk tidak mendapatkannya, karena selalu dipakai untuk kepentingan orang lain. Di era yang makin materialistis, ketika tolok ukur sukses diukur dari kepemilikan benda dan popularitas, maka menghidupi nilai-nilai kesederhanaan rasanya makin jauh.

Semalam di perjalanan menuju Jakarta, tiba-tiba melamun tentang Gadjah Mada dengan sumpah amukti palapanya. Yang aku tahu dari sumpah tersebut adalah, Gadjah Mada tidak akan bersenang-senang sebelum cita-citanya (Majapahit Raya) terwujud. Kok sepertinya tidak menemukan orang-orang pemerintahan atau politikus yang seperti itu ya. Menjalani laku prihatin demi Indonesia yang lebih baik. Rela ga makan wagyu dan naik jaguar, selama masih ada warga yang makan nasi aking dan ga bisa mengubur jenasah karena ga punya duit.

Tapiii…sebagai anak bangsa yang lebih suka hidup nyaman, ya mengerti sih sulitnya menjalani hidup sederhana. Bukan sulit karena tidak mampu, lhawong hidup sederhana itu malah spend less. Tapi ga mau. Maunya yang senang-senang, gampang penginan-nya terpenuhi. Hidup sederhana itu harus menekan keinginan pribadi, dan untuk itu musti engga iri. Karena iri berpangkal dari keinginan yang tak tercapai tapi orang lain dapat mencapainya. Percayalah, iri itu tidak enak.

Oke, ini sudah melantur kemana-mana. Soal Munir yang kematiannya kebetulan di 7 September. Akhir-akhir ini berpikir banyak tentang pengorbanan. Sudahkah saya melakukan pengorbanan?

Tentang gestapu, tentang sejarah. Menyitir tagline dari novel Cloud Atlas: Death, life, birth. Past, present, future. Love, hope, courage. Everything’s connected. From death until rebirth.

Happy birthday, me, in my present life.

Tentang Pendidikan Usia Dini : Playgroup untuk Semua

*illustrasinya sengaja milih cover albumnya Metallica, karena judul postingan ini emang terinspirasi dari judul album Metallica* 😆

 

Ide ini muncul pas lagi nyuci piring barusan. Latar belakangnya *ciyeh, macam skripsi aja, pake latar belakang*, karena menyaksikan sendiri salah satu penghuni kos yang rupanya single mom sekaligus wanita karier. Pekerjaannya menuntut dia untuk tidak berada dekat putrinya (masih 2 tahun), dari pagi hingga malam. Bahkan weekend seperti hari Sabtu begini juga masih harus bekerja. Si putri kecil ini tiap harinya diasuh oleh nanny-nya. Bukan baby sitter yang pakai seragam gitu-gitu. Karena sepanjang hari di kos, selain dengan nanny-nya, si kecil ini juga diasuh oleh penjaga-penjaga kos. Kadang ada anak kos yang juga ikutan ngajak main.

 

Nah dari sini saya melihat permasalahan. Si kecil ini lebih dari 8 jam diasuh oleh nanny-nya dan penjaga-penjaga kos, karena Mama-nya kerja. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana si kecil jadi demen lagu Iwak Peyek, ya karena ketularan pengasuh-pengasuhnya. Tontonannya sinetron. Dan yang parah adalah gaya pengasuhnya, yang kalau kaget punya kebiasaan latah menjerit nyebut alat reproduksi pria, atau kalau si kecil melakukan sesuatu yang dilarang, maka langsung dibentak.

 

Mereka baik sih, senang gitu kalau ngajak si kecil main bareng, sabar juga (kebetulan si kecil juga anteng sih, kecuali kalau makan lamaaaa banget, suka diemut. Kalau minum susu juga lama. Demen mainin makanan deh). Juga ga pernah ngajarin yang jorok-jorok/ga pantas (yang kebetulan aku lihat). Baik lah pokoknya.

 

Tapi teringat pelajaran dasar psikologi perkembangan. Balita/anak usia sampai 5 tahun adalah masa emas pembelajaran karena pada masa itu otaknya bagaikan spons, menyerap semua informasi. Pada masa itu, anak juga belajar lewat imitasi/mencontoh apa yang dia lihat di sekitarnya. Seorang guru besar di bidang kedokteran anak, pada waktu menghadiri talkshow-nya, mengatakan bahwa di usia batita maka otaknya sangat aktif membentuk sinapsis-sinapsis. Sehingga pada masa ini, adanya otak kedua sangat penting untuk perkembangan kognitifnya. Nah siapa otak kedua, ya mereka yang ada di sekitar si anak. Jadi bisa dibayangkan kalau yang berada di sekitar si bocah adalah pembantu, maka stimulusnya seperti apa.

 

Memang bukan harga mati sih, belajar adalah proses seumur hidup. Tapi sekali lagi, pendidikan anak usia dini itu sangat penting. Beruntunglah mereka/orang tua yang mampu menitipkan anaknya di playgroup, sementara ditinggal bekerja. Paling tidak, buah hatinya mendapat stimulasi yang dibutuhkan untuk fondasi ‘program’ otaknya. Tetapi, seberapa banyak sih, orang tua yang mampu menitipkan anak ke playgroup yang baik? Apalagi kita tahu kalau playgroup seperti itu, biasanya muahal luar biasa. Hampir mengalahkan biaya kuliah S1.

 

Bisa dilihat juga bahwa ini adalah sebuah peluang. Yap, apalagi di kota besar, dimana tuntutan hidup membuat kedua orang tua menjadi pekerja. Maka kebutuhan untuk menjaga anak sementara orangtuanya bekerja adalah keniscayaan. Sempet kepikiran, wah daripada diasuh dijaga oleh baby sitter yang paling lulusan sekolah menengah, gimana kalau baby sitternya lulusan S1 atau malah S2? Otak kedua yang mengasuh si buah hati sanggup memberi stimulus yang lebih kaya. Siapa yang mampu dan mau meng-hire baby sitter yang sangat kompeten dan well educated gitu? :mrgreen:

 

Tapi sebelum dilanjutkan menjadi sebuah peluang bisnis, hati kecil saya menyela. Katanya, pendidikan adalah hak semua kalangan. Kalau pendidikan yang baik hanya mampu dijangkau oleh mereka yang kaya, lantas gimana dengan nasib mereka kalangan menengah ke bawah? Makin ga mampu bersaing dengan yang kalangan atas dong?

 

Dari sini kemudian timbul ide. Andai ada gitu, yang mempunyai cukup waktu luang untuk mendirikan semacam tempat penitipan anak, yang terjangkau biayanya. Dan selama pengasuhan tersebut, si anak juga sekaligus diberi stimulus-stimulus untuk merangsang potensi otak si kecil. Supaya terjangkau, maka ‘guru-guru’ adalah voluntarian yang menguasai tentang psikologi khususnya psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan.

 

Orang tua juga tidak lantas leha-leha lepas tanggung jawab, mentang-mentang anaknya bisa ditinggal gitu aja. Harus ada kewajiban yang sifatnya timbal balik. Orang tua juga harus belajar bahwa menjadi orang tua itu konsekwensinya termasuk mendidik, plus ada kewajiban sosial yang harus dibayarkan.

 

Jangan-jangan sudah ada ya, ide tersebut diwujudkan? Well, ide saya terbuka saja sih. Saya sadar, ga mampu mewujudkan sendirian. Tapi kalau ada yang mau mengadopsi ide tersebut juga silakan, dimatangkan lagi yang masih mentah ini. Saya percaya bahwa pendidikan adalah hak semua pihak.

 

Bhinneka Tunggal Ika – Komodo: Antara Kerukunan Umat Beragama dan Keajaiban

image

image

Sebenarnya sejak dari hari Minggu, kepengen nulis tentang macam-macam hal yang mengendap di kepala sejak beberapa bulan terakhir. Tetapi sindroma blogger males apdet dengan berbagai alasan klasik membuat blog ini belum me-release postingan baru lagi. Padahal yang namanya prihatin dan gelisah –sesuai takdirnya, restless angel– terus membuncah dan menghantui.

Masih ingat sekali, Minggu pagi tanggal 5 Februari. Sama seperti hari Minggu lain, bangun siang, langsung nyaut hape dan baca timeline twitter. Masih pagi tapi berbagai isu sudah tergelar, dan yang hot pagi itu adalah berita tentang tereliminasinya Pulau Komodo dari 10 besar nominasi New Seven Wonder

danbeberapa fakta menggelitik dibaliknya.

Setelah terlibat diskusi yang cukup seru dengan @ndorokakung, aktivitas hari itu berjalan seperti biasa. Tanpa pernah menyangka, bahwa siang/sorenya, akan terjadi peristiwa sadis yang mengguncang akal sehat dan hati nurani. Mungkin pagi itu di-jam yang sama, tiga penduduk Cikeusik, Pandeglang, Banten, tidak akan pernah menyangka, dalam beberapa jam kedepan mereka akan mengalami siksaan maha dahsyat, sekarat dengan cara yang mengenaskan dan menyakitkan, dan ketika meninggal pun masih harus mengalami penistaan.

Saya shock ketika sore itu mendapat kabar dari teman. Apalagi ketika sudah sampai rumah malamnya dan mengecek peristiwa Cikeusik dengan lebih seksama. Ya Allah… saya gemetar. Bahkan Seninnya, saya masih senewen. Malam, bergabung dengan mba @AlissaWahid dan teman-teman lain di Tugu Jogja untuk aksi Senin Hitam.

Mba Alissa banyak sharing dan ngobrol dengan kami, berbagi kegelisahannya. Bahwa yang terjadi di Cikeusik bukan semata tentang Ahmadiyah. Karena, peristiwa serupa dapat terjadi pada pihak lain yang berbeda. Ada yang salah dalam memaknai perbedaan. Apa kabar Bhinneka Tunggal Ika, demikian pertanyaan yang tercetus malam itu.

Dan, innalillahi… Selasa siang merebak berita pembakaran gereja dan sekolah kristen oleh massa yang mengamuk. Sekali lagi saya lemas, gelisah luar biasa. Apalagi ketika mencermati respon-respon mengenai dua peristiwa tersebut. Ada kecenderungan, publik terbelah, karena perbedaan sikap dalam memandang / bereaksi terhadap peristiwa tersebut. Dan yang cukup menggelisahkan, ada kecenderungan untuk bersikap negatif terhadap pihak yang berbeda sikap. Permusuhan? Kebencian? Dislike? Semoga saya salah.

Selain itu juga kecenderungan bersikap ignorant. Banyak alasan yang mendasari sikap tersebut. Ignorant dalam arti, banyak yang belum sadar/enggan untuk benar-benar bertindak melakukan sesuatu. Cenderung menghindar.
Ada apa? Mengapa? Saya tidak paham. Apa arti Bhinneka Tunggal Ika bagi mereka?

Ada lagi yang merasa ketenangan dan kenyamanannya terusik dengan reaksi kemarahan, kegelisahan, kegeraman. Mereka yang terganggu ini menyuruh kami diam. Mengapa kami tidak boleh menyuarakan kegelisahan kami?

Malam ini ketika sedang gugling saya mengalami ‘kebetulan’. Dua peristiwa/kejadian yang sepertinya tidak berhubungan sama sekali sebenarnya, tapi seperti tersambung benang merah.
Silakan baca link berikut ini. Postingan warga Kompasiana, yang menuturkan kekayaan yang dimiliki Nusa Tenggara Timur. Bhinneka Tunggal Ika yang benar-benar dihidupi dan dijalani. Sungguh kebetulan, dari kawasan kering dan miskin itu, dimana juga terdapat kekayaan dunia yang sempat digadang-gadang 7 Keajaiban Dunia, terdapat contoh nyata tentang kerukunan umat beragama. Contoh nyata tentang sikap terhadap perbedaan.

Teringat lagi rame-rame Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, yang dieliminasi dari nominasi yayasan NewSevenWonder. Walaupun dieliminasi, hal tersebut tidak menggoyahkan fakta bahwa komodo termasuk keajaiban dunia, bagian dari kekayaan dunia yang harus dilestarikan.
Sama halnya dengan contoh nyata dari Ledalero, Nusa Tenggara Timur. Ketika Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dibadani dan dihidupi. Kekayaan asli Indonesia yang juga harus dilestarikan.

Bangga Warga Jogja

image

Ketika tulisan ini dibuat siang tadi pada jam ishoma, ribuan warga Jogja sedang memadati Malioboro. Mereka bukan sedang berwisata atau habis sholat Idul Fitri/Idul Adha, mereka sedang mengadakan aksi massa terkait dengan penetapan status istimewa Yogyakarta.

Dari sisi politik maupun historis, saya tidak menguasai mengapa warga Jogja begitu “menuntut” label istimewa untuk daerahnya.Berkaitan dengan tuntutan bahwa warga menuntut gubernur harus Sri Sultan, jika itu dikaitkan dengan penyebab Jogja istimewa, saya tidak terlalu setuju. Saya sebagai warga Jogja asli, bahkan jika nantinya pemerintahan pusat mencabut label istimewa, saya tetap merasa Jogja sebagai daerah istimewa.

Keistimewaan Jogja bagi saya tak semata terkait dengan sejarahnya atau malah dengan landmarknya. Tugu Jogja bisa saja ambruk seperti tahun 1800an yang sempat hancur digoyang gempa. Kraton jogja (bangunannya) bisa saja berubah muka dan fungsi sebagaimana bangunan-bangunan bersejarah di Jogja yang pelahan mulai berubah menjadi tempat komersial. Penetapan kepala daerah gubernur harus Sultan, saya memilih no comment karena alasan tertentu, yang saya lebih nyaman untuk diobrolkan sambil ngopi sore daripada saya tulis.

Keistimewaan Jogja menurut saya terletak pada karakternya, karakter orang Jogja secara umum. Hingga postingan ini saya tulis, ribuan massa masih memadati kawasan Malioboro. Toko-toko, menurut laporan @dabgenthong dan @KILDDJ mereka tutup dengan sukarela. Malah mereka juga menyediakan air minum cuma-cuma. Saya berharap, keistimewaan Jogja saat ini sedang ditunjukkan dan diwujudkan oleh warga Jogja sendiri. Damai, plural, tanpa kekerasan, guyub.
Setelah (dan masih) berlangsung bencana erupsi Merapi dan banjir lahar dingin, warga Jogja menunjukkan karakternya, sigap membantu dan menolong orang lain. Sekarang aksi massa berlangsung damai, itu sungguh keistimewaan Jogja dibanding daerah-daerah lainnya.

Karakter, serupa dengan value, nilai yang dipegang warga setempat. Mewariskan dan menghidupi nilai-nilai seperti kedamaian, guyub, sigap menolong, plural, dll adalah lebih long lasting daripada membangun landmark. Lebih terasa nyata karena benar-benar dirasakan, dihidupi, bahkan hingga orang Jogja tersebut hijrah kemana saja. Menunjukkan identitas dan keistimewaan Jogja.

Bravo Jogja. Jogja istimewa dengan karakternya.