Dicari : Mie Instan Cantik

Membaca-baca artikel gosip di media tentang perawatan kecantikan para seleb, emang bikin berdecak. Heran membayangkan besarnya uang yang mereka keluarkan, tetapi memaklumi ketika melihat wajah-wajah ayu dan body aduhai mejeng di majalah. Misal, budget Jennifer Aniston (43 tahun) untuk perawatan tubuh sebesar 6000 dollar, dan untuk perawatan wajah butuh 2000 dollar. Total setara dengan 80 juta per bulan. Tapi di usianya yang udah masuk hampir 45 tahun, Jen masih cantik dan seksi. Dari pemahaman tersebut, ga heran kalau semacam tertanam dalam benak kita, bahwa untuk menjadi cantik dan sexy itu butuh modal gede dan ga murah. Itu satu.

Dua, pemahaman tersebut juga melahirkan sikap serba instan. Jaman sekarang (now i sounds like an old man), menuntut serba cepat dan –jujur, memuja penampilan/bungkus. So, tak heran kalau denger keluhan cewe-cewe yang tidak puas dengan penampilan fisiknya, ingin mempunyai fisik seperti yang mereka idamkan, dengan secepat kilat.

Sebenarnya ini lucu, ironi buat aku. Mendengarkan mereka ngobrol dan keluar keluhan seperti, gendut dan pengen langsing, kulit kusam berjerawat pengen kulit yang bisa mulus glowing, rambut kasar bercabang pengen rambut halus sehat dan bersinar, dsb. Ironinya adalah, mereka ngomong mengeluh seperti itu, tapi sambil terus melakukan hal-hal seperti : makan makanan berlemak, kurang serat, full gula dan sodium, gaya hidup yang kurang gerak dan lebih suka bermalas-malasan di sofa/bed dengan gadget, tidak pernah/jarang membersihkan wajah sehabis dari bepergian atau ketika hendak tidur, tidak pernah/jarang mengoleskan sunscreen atau pelembab, dsb.

Paling bikin kejengkang adalah ketika kesimpulan dari keluhan-keluhan tersebut yaitu : keinginan adanya produk yang bisa membuat penampilan mereka berubah seketika. Jadi kalau pake pelembab, yang langsung mulus glowing. Kalau ada obat yang bikin timbangan langsung turun dan celana jeans ukuran 27 langsung muat. Dan ketika mereka menyadari bahwa produk-produk tersebut mahal, mereka kemudian berhenti berusaha. Rasanya seperti… pengen ngoclak-ngoclak kepala mereka biar nyadar.    😆

Aku pernah kok, mencoba usaha-usaha instan untuk langsing. Menjajal treatment pelangsingan yang menjanjikan lingkar bagian tubuh manapun akan menurun, angka di timbangan juga menurun. Menjadi langsing bukan tujuanku, tapi aku terobsesi untuk mempunyai tubuh yang sempurna seperti para model/seleb. Pada saat itu, pengin banget menurunkan lingkar paha. Rasanya masih minder dan belum puas dengan paha yang menurutku adalah paha gebug maling alias gede banget. Syukur-syukur bisa melangsingkan perut menjadi lebih slim lagi.

Akibatnya, selama lima kali aku merasakan penyiksaan ala klinik kecantikan. Badanku dibebat plastik dan selimut khusus selama sejam lebih. Selama dibebat itu, badan ga bisa bergerak. Panas, karena selimutnya memang bersuhu tinggi, yang konon untuk melumerkan lemak. Ditambah dibebat plastik yang katanya untuk menambah optimalisasi treatment. Selama sejam lebih, berbaring tak bisa bergerak, panas dan keringat mengalir sangat deras. Memang sih, dalam sekali treatment, angka ditimbangan langsung turun 1-2 kg. Tetapi itu semu. Karena yang bikin angka timbangan turun adalah banyaknya air yang keluar selama treatment. Pernah lho, sehabis treatment, aku dehidrasi lumayan. Langsung nggliyeng, pusing berat, ingin muntah, dan hingga beberapa jam setelahnya rasanya lemas berat, ga kuat untuk dipakai jalan.

Kesimpulan dari pelajaran yang cukup mahal itu adalah : tidak, nggak akan pernah lagi merasakan treatment-treatment pelangsingan yang mengklaim membentuk tubuh sempurna dengan mudah dan instan.

Beberapa bulan lalu, kebetulan dapat undangan lunch dari Dove shampoo di restoran unik di daerah Kemang. Selain chit-chat tentang kecantikan/perawatan rambut (Ada Maia dan Jerry Pravda, hair stylist), rambut peserta lunch dites seberapa sehat. Jadi ada alat khusus yang memeriksa batang rambut. Hasilnya ditentukan dari angka yang keluar, skala dari nol (tidak ada kerusakan sama sekali) hingga 10 (rusak berat). Dari aku sendiri ketika mo dites rambut, ga ngarep banget.

jerry pravda dan maia, di acara lunch bareng dove di kemang

Sebelumnya pas chit-chat sempet ngobrol tentang rambut yang dismoothing, Jerry Pravda bilang kalo rambut yang abis di-smoothing itu udah pasti rusaknya. Karena proses smoothing rambut itu benar-benar mengubah secara drastis partikel rambut kita, apalagi ditambah dengan proses ironing dengan suhu tinggi, bahan-bahan kimia. Waaa…benar-benar deh. Mana rambutku sebelum di-smoothing aja, emang kering banget. Ga sampe bercabang sih, tapi memang keriing. Gak pernah perawatan di salon juga, seperti creambath, hairspa gitu, juarang bianget. Tiga bulan sekali belum tentu. Setahun mungkin sekali dua kali. Terus ketika peserta lunch yang lain dites, tercatat angka terendah adalah tiga.

Ketika giliran rambutku diperiksa, SURPRISE!! Skala kerusakannya adalah SATU! Alias minimal sekali. Uwoooh bengong dong, kok bisa kenapa? Padahal habis di-smoothing, juarang banget perawatan di salon. Rupanya, kuncinya adalah kebiasaan yang kulakukan selama ini. Yep, biar ga pernah perawatan di salon, tapi aku rajin untuk keramas dan pake conditioner, lanjut ke pelembab rambut.

Selain itu, kebiasaan makanku juga berpengaruh. Sudah dua tahun ini menerapkan diet banyak sayur dan buah, mengurangi karbohidrat sederhana termasuk makanan yang banyak gula, mengurangi garam, dan selalu air putih.

Yang jelas, pengalaman sewaktu diundang lunch oleh Dove tersebut semakin menguatkan pemahamanku tentang konsep kecantikan. Ga ada yang namanya menjadi cantik dalam sekejap. Eh, ada ding, dengan bantuan make up 😛 Apa yang tampak di tubuh kita sekarang ini adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan bertahun-tahun sebelumnya. Hingga usia sekarang, banyak yang mengatakan bahwa kulitku bagus dan tidak berjerawat (ga butuh perawatan klinik-klinik ituh), well ini bukan hasil sekejap. Tapi hasil dari perawatan sejak SMU. Serius. Dan semua ga membutuhkan biaya gede, kok. Seumur-umur belum pernah ke klinik kecantikan, untuk facial di salon pun seumur-umur baru tiga kali.

Lihat saja koleksi perawatan tubuh dan wajah termasuk rambut di foto di bawah ini. Paling mahal adalah krim malam seharga 140an ribu. Rekor termahal untuk pelembab sehari-hari adalah serum seharga 130an ribu. Untuk perawatan tubuh, ada yang lain yang tidak tampak di foto, yaitu makanan yang banyak serat seperti buah dan sayur. Jadi siapa bilang, butuh duit banyak dan modal gede untuk mendapatkan penampilan oke?

Iklan

Cantik adalah Memiliki Areola Pink dan Bentuk Vagina yang Sempurna

image

Menulis itu katanya lebih mudah kalau muncul dari hati, daripada menulis yang tidak dari hati. Sudah beberapa lama ini, si empunya blog mengalami writer’s block (halah) yang cukup lama. Ide bertebaran tetapi kesulitan untuk diwujudkan dalam sebentuk artikel yang enak dibaca.
Salahkan twitter, kalau mau gampang berkambing-hitam ria. Loncatan-loncatan ide atau pikiran random tersebut lebih mudah saya tuangkan dalam bentuk 140 karakter. Sebenarnya kalau sempet nengokin linimasa saya, itu adalah bank ide tulisan. 😛

Seperti, ketika saya sering ngetwit soal cantik. Dari yang nanya tips gimana supaya tampil cantik, sampai bahasan psikologis-filosofis (halah lagi) tentang kecantikan.

Dalam lamunan dan amatan random saya, saya menemukan bahwa kecantikan terkait dengan kepercayaan diri. Maksudnya begini, banyak perempuan-perempuan di sekitar saya yang cantik-cantik, tapi merasa tidak cantik dan tidak menarik (termasuk empunya blog). *plaaakkk* :mrgreen:
Jadi berpikir, sindrom rendahnya kepercayaan diri lebih sering dialami perempuan daripada laki-laki ya?

Saya beri contoh manifestasinya. Ketika bercermin alias ngaca, biasanya cowo cengar-cengir, bergaya bak binaragawan, dll. Mereka lebih mudah menemukan kelebihan fisiknya ketika bercermin. Sedangkan perempuan ketika ngaca, yang dilihat pertama-tama adalah kekurangannya. Seperti jerawat, kerut pada mata, komedo, rambut yang berantakan, dll.

Cantik selain terkait kepercayaan diri, dia juga adalah komoditas. Tak terhitung berapa banyak produk dan brand untuk menunjang kecantikan. Lupakan produk pemutih kulit wajah dan iklan dengan model perempuan berambut panjang lurus (dan sudah banyak yang protes). Tahukah kalian, ada produk yang bisa mencerahkan warna areola supaya lebih pinkish, memutihkan selangkangan, memutihkan ketiak, bahkan vaginoplasty untuk mempercantik bentuk labia?

Saya pernah berselancar ke situs kesehatan reproduksi yang ditujukan untuk perempuan remaja dan dewasa. Ternyata banyak perempuan yang mencemaskan bentuk vaginanya khususnya bentuk labianya. Mereka merasa bentuk labianya aneh, tidak normal, tidak seperti yang diidealkan, sehingga mereka merasa rendah diri, tidak menarik, tidak berharga, malu menjalin hubungan dengan lelaki karena takut pasangannya kelak akan kecewa, dll.
Dalam situs tersebut diterangkan bahwa karena minimnya informasi tentang reproduksi kita (perempuan) sendiri, menyebabkan banyak perempuan yang buta/tidak mengenali tubuhnya sendiri.
Gawatnya, mereka (kita) lebih banyak menerima informasi yang salah kaprah, dan menyebabkan kita semakin tenggelam dalam kekhawatiran. Terkait konteks labia, ternyata ada banyak sekali tipe bentuk labia, jadi tak seharusnya kita (perempuan) merasa rendah diri karena ada yang tidak normal dalam diri kita. Demikian menurut para ahli dalam situs tersebut. Bahkan vaginoplasti yang bertujuan untuk ‘memperbaiki’ bentuk labia, dapat merugikan perempuan karena mengurangi sensitifitasnya, sehingga dapat mempengaruhinya dalam menikmati proses hubungan seksual.

Lebih jauh lagi, definisi cantik yang sebatas mata dapat memandang, memang ditentukan oleh banyak kepentingan dan kultur. Bagaimana supaya makin banyak yang tersadar akan hal ini dan menjadi benar-benar merdeka, tak lagi terjajah oleh Definisi cantik menurut orang lain/tren/mode/kapitalis.

Mengenai kepercayaan diri, saya kok beranggapan, disitulah esensi inner beauty berada. Menurut kalian?
Errr…kalau si empunya blog, masih sering dihinggapi sindrom minderan sih… 😆

NB Keterangan Foto:
Kalau tidak salah, arca Pradnya Paramitha…difoto oleh penulis di Museum Nasional.
Menarik, mengamati arca tersebut. Bisa disebut merepresentasikan kecantikan ideal pada masa tersebut.

beauty is pain, guys !!!!

Membaca curhatan polos lelaki ini, yang sangat polos karena mempertanyakn kenyamanan akan thong alias g-string, sungguh membuat saya tertawa dalam hati. Mengapa ?? Karena hal tersebut bagi saya adalah bukti nyata betapa lelaki sulit memahami dunia perempuan.

Lelaki senang melihat perempuan cantik. Siapa yang tidak ?? Hayo tunjuk jari ???

Tahukah kalian, ongkos untuk menjadi cantik itu ?? SAKIT.

Definisi kecantikan secara umum selalu berganti sesuai trend. Pada era renaissance (betul ga, ejaannya ?? Saya sudah terlalu mengantuk untuk mengecek ke kamus), cantik adalah perempuan dengan badan bahenol nerkom alias sintal. Ga percaya ?? Perhatikan saja figur-figur obyek seni dari masa tersebut. Baik lukisan maupun patungnya. Body-nya semok semua, pinggul paha semua bulet-bulet.

Pada era Victoria (kalo ga salah), kecantikan berarti pinggang yang sangat mungil, body yang sangat curved alias mbentuk banget. Makanya pada masa itu, korset adalah pakaian wajib bagi kaum perempuan, apalagi bagi perempuan trendi-fashionista-socialite. Ingat dong, adegan di film Titanic dimana Kate Winslet terengah-engah mengenakan korset. Lalu melompat ke beberapa dasawarsa ke depan, dimana figur kerempeng justru diidolakan. Ikonnya adalah Twiggy. Era 60-an di mata saya sangat eksotis dan fashionable. Hampir semua model pada masa itu meniru gaya Twiggy, kurus kerempeng dengan make up mata tebal (penekanan pada bulu mata). Dengan semangat hippies dan sex revolution, hmmm…era yang sangat eksotis bagi saya.

And so on, and so on. Masa terus berganti, trend terus berputar. Sempat di masa kita, postur kerempeng merajai. Setelah merebak kesadaran bahaya anoreksia dan gangguan makan lainnya, panggung mode berusaha kembali ke ukuran tubuh normal. Normal ?? Yupe, normal. Karena, konon, ukuran tubuh rata-rata perempuan bule adalah 10. Tetapi yang dipasang di manekin dan model adalah ukuran 0 !!!!! Lihat deh filmnya Mean Girls, kamu akan tahu betapa berarti ukuran 0, 1, dan 2 (masimal 3) dalam pergaulan fashionista.

Kita belum bicara standar kecantikan berdasar budaya. Contoh paling gampang, China era dulu konon mendefinisikan cantik = kaki sangat mungil. Padahal untuk membuat kaki semungil mungkin adalah NERAKA !!! (Yeah, i saw it in Believe It Or Not). Lalu suku tertentu di Kalimantan (entah sekarang masih ada / ga, yaitu telinga perempuan diganduli anting-anting hingga cuping telinga molor panjang. Terus di mana ya, yang perempuannya lehernya disangga oleh kalung-kalung besi,sehingga lehernya panjang bak jerapah. Find more, aneh-aneh definisi kecantikan itu !!!

Kembali ke masa sekarang. Cantik itu relatif, saya percaya kamu-kamu punya definisi dan sosok ideal perempuan cantik itu bagaimana. Tapi fakta berbicara, bahwa mayoritas setuju bahwa cantik itu putih, berambut lurus, berhidung bangir, perut rata, kaki jenjang, dsb. Akibatnya, berbondong-bondong perempuan mengeluarkan ekstra money untuk membeli beragam pemutih kulit.

Guys, tahukah kalian, bahwa yang dibutuhkan perempuan untuk merawat wajahnya ada beberapa krim ; krim mata untuk mencegah kerut sekitar mata, krim tabir surya, krim pelembab sessuai jenis kulit, krim malam untuk kinerja yang lebih maksimal sehingga kulit lebih kenyal-lembut-halus. Itulah krim wajib perempuan jika ia ingin tetap segar cantik memesona hingga usia senja. Ada memang yang cuek, tapi mari kita bandingkan, lebih ‘segar’ mana dengan mereka yang ekstra waktu dan biaya untuk memelihara kulit mereka ??

Perempuan juga berbondong-bondong untuk meluruskan rambut. Tahukah kalian, guys, prosesnya ?? Sungguh TIDAK menyenangkan !! Duduk minimal 3-4 jam, dengan berbagai bebauan, rambut panas seperti disetrika. Kemudian sepatu stiletto, dengan hak minimal 7 senti demi kaki jenjang nan seksi. Kaki capek dan resiko untuk sakit otot jika mengenakan sepatu tersebut lebih dari 3 jam terus-menerus. Tapi, yah itulah resiko yang kami ambil.

Pernah dengar idiom super kijang ?? Itu singkatan dari suka perempuan berkaki panjang. Macam model-model itu. Nah untuk kami yang tidak dikaruniai body semolek model, harus usaha ekstra, memberi illusi optik untuk mendapatkan kesan cantik.

Lalu bagaimana dengan pakain-pakaian dalam yang ‘tidak nyaman’ itu ?? Semua itu pun demi kecantikan !!! G-string dsb, itu untuk kecantikan dan atributnya (seksi, sensual, dll). Memang tidak nyaman, tetapi kami merasa sangat seksi ketika memakainya.

Mungkin kalian akan mengasihani dan menyalahkan kami, mengapa kami berlaku seperti itu, toh ga ada yang minta. Wow, nanti dulu. Lagi-lagi fakta berbicara, bahwa mereka yang mempunyai keindahan ragawi lebih, memperoleh perhatian lebih. Entah itu di dunia kerja, akademis, dsb. Hei, siapa yang tidak senang dengan perempuan cerdas DAN cantik ?? Milih mana dengan perempuan cerdas tapi sangat biasa (untuk tidak menyebut buruk rupa). Lihat dong, para anchor di Metro TV itu… Lihat juga dong, tokoh-tokoh di novel-novelnya Kang Abik. Bahkan Ugly Betty pun akhirnya pun bertransformasi menjadi cantik.

Lihat mereka yang rela menjalani operasi plastik. Lihat juga transformasi Krisdayanti, Mayangsari, Iis Dahlia dari semasa mereka belum tenar hingga masa sekarang.

Saya jadi teringat curhatan David Duchovny, bintang X-files (yg super ganteng itu, ehm) ketika ia pernah berperan menjadi perempuan. Ia mengatakan betapa tidak nyaman memakai BH, sepatu berhak, dll, dan ia heran perempuan betah sekali memakainya sepanjang hari. Dari pengalaman tersebut, sekarang ia mempunyai pikiran yang berbeda mengenai perempuan.

BEAUTY IS PAIN, GUYS, AND NO PAIN NO GAIN

SELAMAT HARI KARTINI