Rise of the Planet of the Apes: Belajar Kepemimpinan dari Monyet

Bagi yang sudah nonton Planet of the Apes-nya Mark Wahlberg (2001), kemunculan film Rise of the Planet of the Apes (judulnya bikin lidah kesleo-sleo) cukup dinantikan oleh para penggemar. Seperti saya, yang penasaran, ini menceritakan sekuel atau prekuelnya Planet of the Apes yah. Jujur aja, selama ini tidak mencoba browsing-browsing dulu tentang Rise of the Planet of the Apes, bahkan sinopsisnya pun tidak. Jadi ketika nonton midnight Sabtu kemarin, sama sekali tidak ada bayangan.

Duapuluh menit pertama film ini sukses membuat saya terharu biru dan emosi bergolak. Karena dalam duapuluh menit pertama itu, langsung tergambar kerakusan dunia korporasi yang diwakili CEO Gen Sys, Steve Jacobs, versus kesejahteraan lingkungan yang diwakili simpanse-simpanse binatang percobaan mereka. Well, kelekatan emosi saya dengan binatang membuat saya merasa lebih mudah merasakan kelekatan dengan jalan cerita film ini. Jadi tak pelak saya langsung larut dan terlibat secara emosi. Apalagi dengan munculnya bayi simpanse yang rapuh, haduh, saya langsung mbeler-mbeler.

Singkatnya, sinopsis Rise of the Planet of the Apes bercerita tentang percobaan untuk menemukan obat bagi penyakit Alzheimer dan percobaan tersebut memunculkan anomali. Sesimpel itu sebenarnya jalan ceritanya. Tokoh utama, si peneliti Will Rodman mempunyai alasan yang bersifat personal terhadap penelitian ini, yaitu karena ayah yang sangat disayangi menderita Alzheimer. Karena itulah, ketika asistennya, Robert Franklin meminta Rodman untuk membawa si bayi simpanse pulang supaya tidak dibunuh/dimatikan, ia sempat merasa keberatan. Karena concern-nya sedari awal adalah ayahnya, bukan kesejahteraan binatang-binatang percobaan tersebut.

Ketika si bayi simpanse –Caesar– tumbuh makin besar, afeksi Rodman terhadap Caesar juga makin besar. Selain itu ia melihat bahwa si Caesar ini mempunyai keanehan yang patut diteliti, karena diyakini membawa kabar baik untuk perkembangan penemuan obat Alzheimer. Caesar ini mempunyai kecerdasan yang sangat mengagumkan. Konflik semakin tajam ketika Caesar yang remaja, terpaksa menyerang tetangga mereka. Caesar, berdasar putusan pengadilan, dianggap membahayakan lingkungan sekitarnya, dan tak seharusnya binatang liar seperti simpanse ada di lingkungan pemukiman. Caesar harus direhabilitasi di pusat penampungan satwa liar.

Di bagian ini, lagi-lagi emosiku terlibat cukup dalam. Entah karena aktor yang memerankan tetangga menyebalkan itu aktingnya pintar sehingga bener-bener menyebalkan, atau karena aku yang terlalu emosional.  :mrgreen:

Yang jelas, aku bener-bener geregetan dan berpendapat, itulah yang terjadi kalau orang ga dididik untuk mencintai lingkungan, alam, dan binatang dari kecil. Kalau dari kecil ga diajarkan menyayangi binatang, maka setiap kehadiran binatang akan dianggap sebagai ancaman. Thus takut. Padahal rasa takut adalah motivasi paling kuat untuk melakukan tindakan, misal tindakan menyerang.

Caesar selama masa rehabilitasi di penampungan primata, belajar banyak hal yang tak dia dapatkan di rumahnya. Caesar yang sangat cerdas, mengamati lingkungan dia berada. Interaksi antar primata, hierarki sosial antar kera, hierarki sosial kera-manusia, norma yang berlaku, hingga threatening act yang ditunjukkan Dodge, si penjaga. Yup Caesar bahkan mempelajari aspek psikologis Dodge. Bahkan dari penampungan tersebut dia belajar situasi sosial yang menumbuhkan kepekaannya. Selayaknya aktivis dah. Dia belajar serta menganalisa, apa yang harus dilakukan pada situasi tersebut, apa solusinya.

Nah, dari kacamataku, bagian ini yang sangat menarik dari keseluruhan film. Kita belajar mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang betul-betul leader—pemimpin, tak sekedar pimpinan. Bagaimana Caesar bisa mempersatukan semua spesies kera untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dan aku lagi-lagi mbrebes mili nangis bombai tersengguk-sengguk pada adegan martir.

Ada satu hal lagi yang menarik untuk digarisbawahi. Caesar dari bayi dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Rodman dan ayahnya mengasuh (juga mendidik?) Caesar penuh cinta. Caesar belajar tentang cinta dan kasih sayang dari pengasuhan ini, dari ‘keluarga’nya. Hal ini yang membedakan Caesar dengan kera-kera lain ketika menghadapi musuh mereka. Being human (?). Well, statemen ini memang bisa memancing diskusi sih, apakah kasih sayang dan cinta kasih –yang diterjemahkan dalam film ini menjadi tindakan forgiveness— hanya milik manusia?

Selain itu, tokoh orang utan di penampungan primata, mewakili sosok yang bijaksana dan humoris. Saya suka dengan ‘ceplosan’nya yang santai tapi lucu tapi sesungguhnya dalam.

**notes.

Sebutan monyet untuk primata adalah sebutan yang berkonotasi menghina. Pakailah kata ‘kera’ daripada ‘monyet’ untuk menyebut primata, kecuali kalau anda memang berniat menghina. 😀

Thanks utk ekowanz yang menginspirasi saya untuk apdet blog lagiiih.  😆

Iklan

wanted !!! pemimpin dengan kualifikasi sebagai berikut :

  • Pemimpin yang mempunyai visi lingkungan !!!

Dia harus punya visi dan misi yang jauh ke depan, menjangkau hingga ke generasi cucu, cicit, buyut, dst. Tidak hanya memperhitungkan keuntungan jangka pendek, tapi juga jangka panjang. No more story about pengalihan fungsi hutan lindung dengan alasan pembangunan, bullshit taik kebo semata. Masih mending taik kebo, karena berguna bisa jadi pupuk kandang.

Saya benar-benar tidak habis pikir, tidak bisa memahami jalan pikir mereka. Karena itu saya sangat ingin mengetahui dan sangat ingin mendengar apa yang ada dalam kepala mereka, jika berbicara mengenai lingkungan. Apa yang ada dalam benak mereka, apa rencana mereka, apa visi misi mereka, dengan hutan-hutan perawan Indonesia, sungai-sungai besar nan jernih, lautan luas beserta seisinya, kekayaan fauna, keragaman flora…..

Apa yang ada dalam pikiran mereka, mengetahui beragam bencana lingkungan, tanah yang makin kehilangan kesuburannya, sungai yang tercemar, mata air yang makin menyusut, air bersih yang makin langka, satwa yang makin menjadi komoditas, hutan yang menghilang, keseimbangan alam yang terganggu….

Menurut mereka, apakah global warming itu ?? Semacam trend, gaya hidup, kata-kata sakti supaya terlihat trendi dan hip dan sok melek lingkungan ??

Apa yang menjadi persepsi mereka dengan sampah ?? Apa rencana mereka dengan sampah ?? Apakah mereka sadar dengan sampah ?? Jangan-jangan mereka selama ini tidak sadar sudah menghasilkan sampah sekian banyak, malah bisa jadi kelak menjadi sampah masyarakat….

  • Pemimpin dengan integritas dan etika !!!

Pemimpin musti sportiv, mengakui keunggulan dan kelebihan lawan. Mau juga mengakui dan berbesar hati dengan kelemahannya. Mau mendengarkan pihak lain. Berintegritas dan beretika. Mau tahu contoh kongkrit perilaku pemimpin dengan etika ?? Suruh pemimpin itu untuk nonton rame-rame Kingdom of Heaven, dan belajar dari para pemimpin yang berperang. Siapa yang mereka contoh, Sultan Salaudin atau Guy  de Lusignan.

Cukup sampai tahun 2008 saja, kisah-kisah para pemimpin yang bertarung berebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara dan menjadikan rakyat serta kemiskinan untuk jadi bahan beriklan. Cukup sampai tahun 2008, kisah mereka-mereka yang kalah bertarung lalu saling menjatuhkan hingga mereka yang tidak terlibat menjadi korban.

Menurut Anda, baik yang sedang beriklan maupun yang sedang menduduki jabatan, apakah Anda sudah sesuai dengan kriteria yang kami inginkan ???

parenting competencies

Parenting / pengasuhan tak ubahnya leadership. Bagi sebagian orang, mungkin parenting adalah proses yang alami, given. Begitu mereka dikaruniai anak, otomatis mereka menjadi orang tua dan otomatis pula mereka mempunyai wewenang menjalankan pengasuhan.

Mungkin seperti seseorang yang menjadi seorang kepala daerah, karena dia dijamin oleh legalitas dan undang-undang yang berlaku. Tetapi apakah hal tersebut menjamin dia adalah pemimpin yang baik ??

Begitu pula halnya dengan parenting. Disadari atau tidak, tanggung jawab menjadi orang tua sangat berat, dan jika nyerempet sedikit dengan agama, hal tersebut berkait dengan amanah yang diberikan. Mau diapakan amanah ini, mau dibentuk semau kita –proyeksi orang tuanya- atau dibentuk menjadi sebaik-baiknya manusia ??

Parenting yang hendak saya bicarakan kali ini, memang berlatar belakang leadership, sehingga bingkai untuk mengemasnya pun saya menggunakan jargon-jargon yang lazim digunakan dalam studi kepemimpinan. Mengapa ?? Karena, bagi saya menjadi orang tua sama halnya dengan menjadi pemimpin. Dan, ada begitu banyak studi dan riset mengenai kepemimpinan di psikologi dan manajemen, mengapa tidak kita pinjam saja, guna mencetak effective parenting.

Tolok ukur kesuksesan seorang pemimpin, ada banyak parameter. Jim Collins lewat riset yang cukup panjang, merangkumnya dalam buku Good to Great. Menurutnya ada lima level pemimpin dan pemimpin level 5 adalah pemimpin yang dinilai paling tinggi dan paling sukses, karena seorang pemimpin yang sukses adalah jika ia berhasil mencetak pemimpin baru. Jika pemimpin level 5 lengser meninggalkan organisasi / perusahaan, kondisi perusahaan/organisasi tidak lantas limbung bagai anak ayam kehilangan induk, tapi tetap survive dan lebih maju di bawah kepemimpinan baru yang berhasil dicetak pemimpin sebelumnya.

Dengan kata lain, ia tidak menyembunyikan berkat yang dimilikinya hanya demi dirinya sendiri dan membuat orang lain tergantung. Tetapi ia membagikan berkat tersebut dengan memberdayakan sekitarnya sehingga menjadi lebih mandiri dan berdaya.

Sama saja dengan orang tua. Orang tua yang sukses jika ia berhasil membentuk anak menjadi individu dengan karakter, kepribadian, dan kompetensi yang berkontribusi positif bagi lingkungannya. Alih-alih menjadi parasit masyarakat, si anak tumbuh menjadi agent of change yang memberikan perubahan positif bagi lingkungannya, ke arah yang lebih baik.

Nah, pertanyaannya, kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh orang tua untuk menjalankan effective parenting ??

Menurut Bennis dan Thomas dalam publikasinya Geeks dan Geezers : How Era, Values, adn Defining Moments Shape Leaders, ada beberapa kompetensi umum yang harus dimiliki oleh leader. Boleh dong, kita pinjam untuk menentukan kompetensi umum yang harus dimiliki oleh orang tua.

    • Adaptive Capacity

      Yeah, benar sekali, dalam situasi seperti sekarang ini hanya satu yang orang tua tidak bisa kendalikan yaitu perubahan itu sendiri. Jangan selalu membandingkan situasi jaman orang tua dengan situasi yang dialami oleh anak-anak.

      Tugas orang tua adalah bagaimana merespon setiap perubahan dan krisis yang mungkin terjadi dengan reaksi yang konstruksif, saling menguatkan, dan yang paling penting adalah menciptakan makna positif dari perubahan tersebut. Di sini orang tua harus kreatif, kalau tidak ia akan selalu ketinggalan dan diglembuki oleh anak-anaknya.

        • The Ability to engage others in shared meaning and character and distinctive voice

          Pemimpin yang kharismatik seperti Soekarno, Gandhi, Nelson Mandela, adalah pemimpin-pemimpin yang berbagi harapan, visi, dan nilai-nilai serta menularkannya kepada pengikutnya, serta sukses mengarahkan mereka untuk mencapai visi tersebut.

          Bagaimana dengan orang tua ?? Effective Parenting jika anak tumbuh menjadi anak yang berkarakter, dengan berpegang terhadap nilai-nilai positif sebagai prinsip hidupnya. Karena itu character building sangat penting dalam pengasuhan anak.

            • Integrity and strong values

              Poin ketiga ini sangat berperan dalam pembentukan karakter terhadap anak-anak. Orang tua yang tidak mempunyai integritas dan nilai-nilai seperti keadilan, cinta, kejujuran, dsb, bagaimana ia dapat memberi contoh kepada anak-anaknya ??

              Bisa saja orang tua secara lisan mengajarkan si anak untuk jujur dsb, tapi di luar ia bebas korupsi, menyuap, bahkan lebih parah berbohong terhadap anaknya. Jangan dikira hal tersebut bebas dari pengamatan anak, dan ketidakkonsistensian antara apa yang diajarkan orang tua dan perilaku orang tua adalah salah satu faktor yang menyumbang perilaku sulit pada anak.

              Salah satu teori pembelajaran, social learning theory, menguatkan bahwa anak belajar dari lingkungannya dan terutama dari orang tuanya sebagai lingkungan terdekatnya.

              Selain itu, saya paling tidak setuju dengan metode ‘menakut-takuti’ atau dengan kata lain “leading with fear” terhadap anak-anak.

              Saya tidak bisa membayangkan jika sedari dini, anak-anak dicekoki berbagai hal yang membuatnya takut dalam rangka membuat si anak patuh dan menurut terhadap orang tua.

              Salah satu studi yang populer di psikologi, yaitu bahwa rasa takut itu merupakan hasil dari belajar. Eksperimennya adalah sebagai berikut, yaitu bayi Albert diberi boneka kelinci (yang sebenarnya netral). Tetapi oleh eksperimenter, boneka itu diasosiasikan dengan sesuatu yang membuat bayi Albert kaget. Walhasil, setiap ia melihat boneka kelinci, bayi Albert selalu menangis ketakutan.

              Banyak studi di kepemimpinan yang mengungkapkan, perbedaan antara leading with love dan leading with fear, terhadap produktivitas pegawai dan efektivitas organisasi. Intinya adalah, pemimpin yang memimpin dengan cinta, berpengaruh sangat signifikan terhadap bawahannya. Followers lebih merespon positif terhadap cinta daripada rasa takut yag tercipta.

              Implikasinya terhadap effective parenting, saya tidak bisa membayangkan, apa yang dipelajari oleh anak-anak jika sedari dini mereka diajari untuk takut, takut, dan takut. Sedari dini mereka dicekoki dengan ancaman, hukuman, dosa, bahkan Tuhan pun dibawa-bawa dengan ditampilkan sebagai sosok yang menakutkan. Kadang itupun tidak cukup, jadi membawa serta sosok seperti eyang, tante, guru, polisi, anjing, ular, tanah basah, hujan, rumput, dsb sebagai sosok yang menakutkan, mengancam keberadaan dan kenyamanan si anak di lingkungannya.

              Tidak heran jika kelak ia tumbuh menjadi pribadi yang peragu, sulit mengambil keputusan, inisiatif rendah, dan ekstrimnya ia tumbuh menjadi pribadi yang paranoia. Bagaimana ia akan mengeksplor potensi terpendam dalam dirinya, jika ia pribadi yang peragu, selalu khawatir, dan tidak percaya diri ??

              Maka jangan heran, jika anak-anak Indonesia kelak juga semakin jauh dari alam. Mereka takut dengan hujan, bermain di tanah, takut dengan ular, anjing, kucing, dan lain-lain. Jika sudah demikian, bagaimana mereka akan menghargai alam, hutan, sungai jernih, proses alam, dan semesta ?? Mereka akan melihat semua itu sebagai inang pembawa kuman, berbagai penyakit, dan berbagai persepsi negatif lainnya, alih-alih sebagai sahabat manusia yang harus diakrabi dan disayangi.

              Akibat nyatanya sudah dirasakan sekarang. Bahkan di desa. Ketika tikus sawah mengganas, konon hal tersebut juga disumbang oleh perilaku manusia yang membunuhi ular sawah. Ular sawah dianggap sebagai ancaman, karena itu harus dibunuh dan dimusnahkan. Akibatnya ?? Lihat saja sekarang. Tikus mengganas tanpa ada predatornya yang alami di alam.

              Berbeda jika leading with love. Dalam dunia kepemimpinan, leading with love diterjemahkan menjadi love-based motivation, yaitu motivation based on feeling valued in the job. Dengan kata lain, dari versi bawahan, ia mengatakan kepada pemimpin yang memimpin dengan cinta :

              if the job and the leader make me feel valued as a person and provide sense of meaning and contribution to the community at large (fullfilling higher needs of heart, mind, and body) then i will give you all I have to offer.

              Mendidik dengan cinta berbeda dengan memberi rasa takut. Ia memahami potensi dan keunikan tiap anak, tidak memproyeksikan diri kepada si anak. Ia akan membebaskan si anak, menumbuhkannya sesuai bakat dan keunikannya. Karena cinta itu membebaskan.

              Selamat menjadi orang tua, karena menjadi orang tua yang berhasil itu tidak mudah.

              surat terbuka dari salah satu rakyat kepada pemimpin/penguasa negeri

               Yogyakarta, pasca kenaikan BBM dan menjelang pencairan BLT 

              Yth. Penguasa / Pemimpin

              Di negeri kami,

               

               Assalamualaikum wr. Wb.,

               Salam sejahtera. Semoga keadaan dan kesehatan Bpk / Ibu Penguasa/Pemimpin kami, baik adanya, sehat tak kurang suatu apa.

              Semalam ini saya tiba-tiba sakit kepala yang cukup berat. Saya coba untuk berbaring, ternyata tidak berkurang, dan mata saya malah dalam kondisi alert. Saya mencoba mengundang kantuk dengan menyetel televisi. Olala, ternyata tidak lebih baik. Kepala makin pusing mendengar harga BBM resmi dinaikkan. Seketika terbayang beban sehari-hari, terutama alokasi bensin untuk mobilitas. Terbayang pula pengencangan ikat pinggang, mengerem nafsu konsumsi dan hedonis.

              Tapi, melihat demo dari jelatakarta, bukan demo mahasiswa, membuat saya malu. Apalah arti pusing saya, terpaksa mengurangi jatah ke kafe, belanja pakaian dan sepatu, dibanding beban kehidupan para nelayan miskin di daerah pesisiran atau petani gurem di pinggiran ?? Bagi mereka, seratus ribu pun bisa memperpanjang nafas mereka dalam sebulan, sedangkan bagi saya, seratus ribu bisa melayang dalam sekejap bahkan mungkin lebih dari itu.

              Wahai, Bapak/Ibu Penguasa/Pemimpin negeri kami yang terhormat. Terenyuh hati saya membayangkan skenario lama tahun 2006 terulang ketika BLT dibagikan. Massa menyerbu kantor desa karena marah dan emosi dengan pembagian BLT yang dinilai tidak memuaskan, nenek-nenek renta meninggal karena antre BLT berjam-jam, dan Ketua RT ditusuk bahkan dipacul warganya sendiri yang marah hanya karena selembar seratus ribu itu.

              Tak heran, di beberapa daerah, beberapa aparat pemerintahan menolak pembagian BLT di wilayah mereka. Tak hanya takut dengan kemarahan warga, apalagi takut dengan beban amanah berupa uang dan kepercayaan, tetapi mereka takut nyawa melayang !!!

              Wahai Bapak/Ibu Pemimpin/Penguasa yang kami hormati dan sayangi. Tak ingatkah kalian dengan berita-berita menyedihkan, tragedi yang bermula dari selembar seratus ribu bernama BLT ?? Tidakkah kalian berempati dengan kesedihan keluarga yang terpaksa kehilangan kepala keluarga yang meregang nyawa di tangan warganya sendiri ??? Kami hanya meminta sedikit empati saja, tolonglah menjadi kami, rakyatmu, untuk beberapa hari saja.

              Mengapa, tidak kau berdayakan saja kami, sehingga kami benar-benar berdaya dan mampu memutuskan sendiri nasib kami. Selayaknya Bapak-Ibu kami, asuhlah kami selayaknya orang tua yang ingin melihat anak-anaknya mandiri, berdaya, dan berguna bagi sekitar kami, bukannya terus disuapi sehingga tergantung kepada orang/pihak lain selama-lamanya.

              Mengapa tidak kau subsidi saja, pendidikan dan biaya kesehatan bagi kami, dengan memberi asuransi kaum tak berpunya. Buatlah sistem sehingga kesehatan dan pendidikan lebih bersahabat dengan kami-kami yang tak berpunya ini. Bantulah juga, sehingga koperasi benar-benar menjadi sendi utama perekonomian, tidak melulu membela mereka yang bermodal raksasa sehingga mampu mengkredit milyaran rupiah dari Bank untuk ekspansi usahanya dan membeli lisensi franchise.

              Wahai Bapak/Ibu Pemimpin/Penguasa yang terhormat,

              Sesungguhnya, apakah hakikat dari kekuasaan yang kami mandatkan kepada kalian ??? Apakah parameter puncaknya adalah, sejauhmana partai berhasil menggolkan balonnya menjadi penguasa/pemimpin baru ??

              Jika partai tak berhasil menggolkan kandidat yang diusungnya dan kalah dalam pilkada atau pemilu, maka berarti buruk sudah kinerja partai selama ini.

              Wahai Bapak/Ibu Penguasa Pemimpin kami,

              Sudahkah kalian menonton Lord Of The Ring ?? Belum ?? jangan-jangan, kalian lebih tertarik menonton Ayat-ayat Cinta dan menangis bersama-sama menyaksikan Fakhri dan Aisyah. Okelah, demi alasan nasionalisme.

              Tapi Bapak/Ibu, Lord of The Ring itu bagus sekali, mengandung metafora yang teramat dekat dengan kehidupan kalian. Metafora itu berbentuk cincin dari Sauron, yang menjadi beban yang harus dipanggul oleh Frodo di kala yang lain tak sanggup untuk memikulnya. Ya, selain Frodo, bahkan kstaria-ksatria perkasa pun, akan mudah terjatuh dalam sihir gelapnya dan sekejap dibutakan nuraninya. Frodo bukannya tidak tergoda, tetapi ia mempunyai sahabat sejati yang terus mendampingi dan mengingatkannnya. Alangkah berat godaan yang ditimbukan oleh sebuah cincin, bahkan bisa merubah seseorang menjadi makhluk yang begitu menjijikkan seperti Smeagol.

              Bapak/Ibu yang terhormat, pesona cincin itu hampir mirip dengan pesona kekuasaan bukan ???

              Betapa kekuasaan, mampu merubah wakil rakyat yang terhormat, menjabat di bidang keagamaan, menjadi suami selingkuh dengan biduan tak laku dan video mesumnya tersebar ke khalayak. Betapa kekuasaan, mampu merubah aktivis vokal semasa kuliah menjadi penjilat pantat atasan paling loyal. Betapa kekuasaan, mampu merubah jutaan hektar hutan nan subur menjadi gundul dalam sekejap dan mengakibatkan bencana banjir dll. Betapa kekuasaan mampu merubah seorang yang dalam keseharian dikenal santun, menjadi mesin pembunuh yang meredam laju lawan-lawannya. Dan lain-lain.

              Hanya mereka yang berhati bersih dan jujur, seperti Frodo yang mampu mengemban tugas tersebut. Beberapa yang tahu diri dan kapasitasnya, tidak dengan serta merta gegabah bersuka cita dan besar kepala diserahi kekuasaan. Mereka memilih mundur dan menyerahkan kepada orang yang tepat. Seperti penyihir putih, Gandalf, yang memilih mendampingi Frodo memikul tanggung jawab tersebut, meskipun dia adalah penyihir besar dan hebat.

              Bapak/ibu Penguasa/Pemimpin yang kami cintai,

              Apakah hakikat politik itu ?? Apakah sebagai jalan untuk mempermulus dan memperlancar jalan menuju kekuasaan ???

              Tidakkah hakikat politik itu untuk kebaikan rakyat juga, untuk kemaslahatan umat ??

              Masih banyak tanya di dalam otak saya yang kecil ini. Walau begitu, saya tak mengharapkan kalian semua untuk memberikan semua jawabannya. Mohon dipikirkan kembali, itu saja cukup membuat kami senang, syukur-syukur mau berempati dengan kami.

              Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu mendampingi Bapak/Ibu sekalian.

              Wassalamualaikum, wr. wb

               

               Yogyakarta,

               

              Salah satu rakyatmu