Universitas Kehidupan

Hidup adalah untuk belajar. Setiap kejadian/peristiwa yang dialami merupakan proses belajar. Maka itu sering disebut-sebut universitas kehidupan karena hidup itu sendiri adalah proses belajar seumur hidup yang berlangsung terus menerus. Jika bicara dalam tingkatan “soul”, setiap pengalaman hidup adalah data untuk memperkaya jiwa/roh. Saya percaya, bahwa dalam proses belajar tidak ada salah-benar. Setiap pengalaman berharga, yang salah sekalipun. Tidak ada yang perlu disesali.

Saya melihat, setiap orang belajar lewat caranya dan jalannya sendiri. Saya tidak mengatakan bahwa hasil belajar saya lebih bagus daripada yang lainnya, karena tujuan setiap orang berbeda-beda. Tujuan yang penting dalam hidup saya adalah pemahaman. Saya ingin memahami – penting bagi saya untuk menjadi paham dan mengerti. Jika saya bisa memahami, maka mudah bagi saya untuk mengerti. Karena itu saya sedari dulu selalu tertarik untuk mendalami, utamanya tentang manusia, dalam rangka mendapat pemahaman.

Tidak ada benar salah karena semua akan memperkaya. Proses belajar antara satu orang juga tidak lebih baik dengan orang lainnya. Tetapi itu dalam tingkatan roh/jiwa. Jujur saja, saya masih “terjebak” dalam bungkus bahasa (?) manusia, yang mendikotomikan salah benar, baik buruk, etc etc. Dan perasaan kecewa ketika melihat orang yang saya peduli, tidak menunjukkan progress/kemajuan dalam proses belajarnya. Apalagi jika orang tersebut adalah orang yang saya kenal, katakanlah saya peduli.

Bentuk kepedulian itu, saya ada harapan bahwa individu tersebut (misal) tidak terjebak melarutkan diri pada masalahnya, alih-alih mencari jalan keluar. Berbagai saran sudah terlontar, tetapi yang bersangkutan masih tetap merasa nyaman berada dalam keadaannya sekarang. Saya tentu saja tidak bisa memaksanya, dan bisa jadi itu adalah proses belajarnya dia.

Tetapi rasa geregetan itu tetap muncul jika dalam perjalanannya melihat teman tersebut ada tanda-tanda salah jalan, salah mengambil kesimpulan dalam proses belajarnya. Catat, ini dalam konteks bahasa manusia, karena sekali lagi sebenarnya tidak ada salah benar dalam proses belajar.

Kalau sudah begini, jadi bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab dalam proses belajar seseorang? Misal saya tahu, tapi saya tidak ada kuasa untuk memaksakan hasil pengalaman saya kepadanya. Yah…saya tahu sih, yang paling bertanggung jawab atas proses belajar ya kita sendiri. Tetapi rasa kecewa, geregetan, gemes, dll itu tak kuasa saya cegah, tetap saja muncul.

Dan tantangannya justru ada pada saya sendiri. Tetapkah saya akan mencintainya, menerimanya dengan terbuka, walau ia telah mengecewakan saya? Meski ia dalam prosesnya tidak menunjukkan hasil seperti yang saya harapkan (apalagi kalau dia ada potensi), masihkah saya mencintainya, tidak meninggalkannya?

Ternyata oh ternyata….