stress: lari atau hadapi?

Gegara membincang stress kaitannya dengan kemajuan teknologi (masih pro-kontra, apakah berbanding lurus atau tidak ada hubungannya), topik beralih menjadi cara-cara individu menghadapi stress: melarikan diri atau menghadapi.

<selengkapnya>

Kebetulan, rubrik psikologi harian Kompas Minggu, membahas tentang stress dan manajemennya. Disampaikan disitu, mereka yang ‘melarikan diri’ dari stress dengan berpura-pura tidak ada masalah, bisa disamakan dengan mereka yang menderita penyakit dan berlaku abai/berpura-pura sehat. Dari hasil penelitian, mereka yang sakit dan bersikap abai ini, ternyata progress penyakitnya lebih tinggi daripada mereka yang menghadapi penyakitnya.

Dari diskusi tentang apa sih, beda antara melarikan diri dan menghadapi, bagaimana itu bisa tampak dalam perilaku, kesimpulan sementara bedanya satu saja. Yaitu melakukan tindakan efektif atau tidak, terkait dengan sumber stress-nya (problema).

Jadi begini, sama-sama menghadapi stress. Sama-sama bete, trus sama-sama jadi makan makanan yang pedas, panas, berkuah gara-gara bete dan stress tersebut. Tapi ada yang melakukan tindakan itu sebagai pelarian, ada yang melakukan tindakan tersebut sebagai peredaan saja. Bedanya, mereka yang melarikan diri ke ind*mie panas pedas berkuah, memang sengaja memakai makanan untuk melupakan masalahnya.Istilah jawanya, mutung.

Pada penderita gangguan makan, seringkali penyebabnya adalah psikologis. Contohnya ya seperti diatas. Makan karena emosi. Begitu pula pada kasus-kasus kecanduan lainnya, the underlying problems seringkali psikologis banget. Ketidakmampuan menghadapi realitas alias permasalahan, takut, khawatir, dan memilih untuk kabur. Ciri-cirinya salah satunya adalah, menolak untuk diajak berbicara mengenai problema yang mereka hadapi.

Pada mereka yang menyantap ind*mie panas pedas berkuah sebagai teknik untuk meredakan bete, begitu bete dan emosi/rasa kesal mereda, balik lagi ke masalah semula dan segera cancut taliwanda menyelesaikan yang bikin stress.

Merenung-renung, ternyata saya termasuk tipe yang hobi melarikan diri kalau stress berat. Melarikan diri dari stress ternyata tidak hanya berwujud shopping (persepsi yang lazim melekat pada diri perempuan dan masyarakat urban), tapi juga bisa ke bentuk tidur berlebihan. Yang terakhir saya banget deh…

Iya, saya sedang stress berat dan ternyata saya tidak melakukan tindakan efektif terkait dengan penyebab stress saya. Saya melarikan diri dari realita dan menolak untuk diajak berbicara mengenai hal tersebut. Baru denger baunya saja, sudah jinjo. Sebenarnya hanya didasari ketakutan/kekhawatiran, yang mana itu diproduksi oleh pikiran a.k.a otak, yang belum tentu terjadi. Saya tahu itu, bahwa ketakutan tersebut adalah hasil pikiran dan belum tentu terjadi, tapi rupanya pengetahuan tersebut hanya sebatas kognitif saja, belum merasuk ke hati. Buktinya saya masih melarikan diri.

Baiklah, setelah mendapat pencerahan, saya berjanji untuk menghadapi apa yang menjadi penyebab stress saya.

*Postingan yang sekaligus sebagai suatu terapi*:mrgreen:

*Kalau sempat menyebut-nyebut merk tertentu, semata unsur kesengajaan secara penulis doyan banget mie instan😆

28 thoughts on “stress: lari atau hadapi?

  1. saya dan ayah saya tuch.. kalo lagi setress bawaannya tidur melulu.. huhuhu
    *tiba-tiba jadi mikirin banyak hal yang bikin stress*

  2. weleh yang dari plurk sama twitter kemaren yah😀

    emang antara melarikan diri sama meredakan stress beda tipis koq, cuma masalah penyikapan kita aja. jadi inget juga tweetnya @chrisibiastika kemaren,
    Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

    nb: indomienya menggoda😐

  3. kata temen saya, “jangan terlalu dipikirkan”, jadi…seandainya memang tak dipikirkan apa tak bakal stress? pelarian diri itu berarti tak berpikir kah?

  4. *ngakak guling2 mb meth dipanggil mas*

    hidup tedoooor…… biasa kalo stress malah tahan ngurung diri dikamar seharian, males makan, parah yaa?😥

  5. kalo saya, lagi stres malah males makan..😦
    pdhl kalo liat kakak, saat stres dia banyak makan (kata dia, rugi banget, udah stres, males makan pula) *hadoooh..*😀

  6. wuiiih…sama *halah*
    Aku juga kalo setres (masalah masih fres, mbulet, mawut..pokoke diubun2) males ngomong tentang masalah itu.

    ouw.. shopping itu buang-buang uang..mendingan makan😀
    akhir2 ini aku juga menyantap tu merek sampe ludes persediaannya mbak..wakaka *pura2 nggak tahu*…yang terakhir itu minum kopi. Aku rasa minum kopi ku mulai meningkat deh tingkatnya….bahaya ya katanya.

  7. “Melarikan diri dari stress ternyata tidak hanya berwujud shopping (persepsi yang lazim melekat pada diri perempuan dan masyarakat urban), tapi juga bisa ke bentuk tidur berlebihan. Yang terakhir saya banget deh…”

    Saya kira, orang susah tidur seperti saya itu termasuk gejala – gejala stress, ternyata orang yang pulas tidurpun bisa jadi merupakan sebuah pelarian dari penyebab stress …

  8. hapah?? kamu dipanggil Mas?😆 wakakakakaka…..

    oh jadi kalo kamu udah mulai ngomongin indomie kuah pedas panas, itu tandanya kamu lagi stres ya meth?😛

  9. Biar nggak stress… blogging. Tapi kadang-kadang stress juga gara-gara blogging. Hehe… Salam kenal, mbak. Selamat ya atas kemenangan di blog award bulan ini. Sukses selalu…!

  10. saya juga mbk keseringan tidur untuk lari dari masalah😀
    btw “*Postingan yang sekaligus sebagai suatu terapi*”, saya juga sedang melakukan hal demikian😀

  11. tak ada yang lebih melegakan stress daripada semangkok indomie goreng telor di burjo murni langgananku itu…. tambahin merica dan saus yang banyak. panas, pedas, uenak dan murah.
    seminggu ini 2x kesana, hehehehe
    stress kebanyakan duit😉

  12. kalau saya setres, saya harus denger suara suami…
    kalau bisa duduk berdampingan, ya angger dielus wae wis ayem…

    kalau suamiku, dia kalau setres diem dan ngalamun…
    ditanya diem terus,… butuh sehari – dua hari sampek dia bisa berfikir tenang lagi…

    kadang itu melukai hati e… i wish i can be his stress pill..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s