Makin Banyak Tahu Bikin Hidup Engga Bisa Tenang, Makin Sedikit Tahu Bikin Hidup Lebih Bahagia ?

sad_cat.jpg

 

Akhir-akhir ini mengamati obrolan emak-emak, curhat mereka dan segala keluh kesah mereka. Selain obrolan di grup chat, juga mengamati seliweran opini dan curcolan di social media seperti twitter dan facebook. Awalnya dapat kesan, kenapa jadi emak-emak jaman sekarang sepertinya ribet banget dan dikit-dikit ngeluh ya? Selain ngeluh, gampang banget menemukan pro kontra antar mereka sendiri. Rasa-rasanya dulu pas kecil dan melihat ibu sendiri, kok engga ribet seperti sekarang.

Ada beberapa kemungkinan sih:

Jaman dulu ga ada media seperti twitter dan facebook, jadi kalau pengen curcol ya dikeluarkan lewat arisan/ngobrol di telpon, diary, atau ditelan sendiri.  Bisa aja toh, ibu-ibu kita dulu ya merasakan yang disuarakan emak-emak sekarang, tapi yang ngerti/tahu kalangan terbatas aja. Penyebaran informasinya ga secepat sekarang.

Kalau sekarang, rasanya semua informasi dijembreng di depan mata dan penyebarannya cepat sekali. Cukup share/RT dan dalam sekian detik, curcolan emak-emak dari Norwegia nyampe ke emak-emak di Bantul. Ditambah, dulu ibu-ibu kita terbatas sekali untuk mengakses informasi. Paling cepet lewat TV tapi itupun searah. Kalau lewat majalah atau koran, sebenarnya berita yang udah terjadi beberapa hari lalu.

Misalnya nih, mengamati ‘perang’ antara pro kontra ASI. Dari dulu sepertinya udah denger kampanye untuk ASI eksklusif, tapi baru sekarang denger istilah Nazi ASI gara-gara ada pihak yang gerah ama pro ASI tapi kampanye-nya judgemental dan hitam putih banget, hihihi.  Trus baca di blog ini, wow ternyata rame juga ya perdebatan antara jadi emak yang kerja di luar rumah atau di rumah aja. Mungkin dulu juga udah ada perdebatan serupa, minimal perdebatan batin dan omongan tetangga lah, hahaha.

Nah, pernah engga sih, timbul pikiran kalau sekarang ini rasanya jadi serba ribet dan ribut, gak seperti dulu. Terutama pas belum ada/belum kenal internet dan social media. Adanya internet dan media sosial memang membuat kita jadi lebih banyak tahu dibanding orang tua kita. Dari gizi hingga cara mengasuh anak. Hayoo siapa pernah debat ama orang tua karena perbedaan pengetahuan ini? 😆

Tapi anugerah ‘lebih banyak tahu’ ini rasanya bisa jadi bencana, terutama ketika mengalami information overload alias kebanjiran informasi. Bingung, bingung, bingung, dan eneg, seperti itu rasanya, kalau aku sih. :mrgreen:

Sampai di sini, muncul pertanyaan. Betulkan sedikit tahu/malah ga tahu apa-apa bisa membuat kita lebih bahagia (karena jadi lebih tenang) ? Sementara kalau banyak tahu, yang ada malah hidup enggak tenang, bingung, serba kuatir, serba takut, paranoid.

Enggak tahu apa-apa rasanya tenang, tapi situasi demikian sebenarnya menipu lho. Tahu-tahu di ujung ada kejadian yang bikin sesak di hati. Baru deh menyesal, “Andai sebelumnya saya tahu…”

Nah, pilih mana deh?

Kalau pilih ‘lebih banyak tahu’, udah punya antisipasi biar enggak jadi paranoid, pencemas, dan bingungan?

 

PS. Gara-gara nulis ini, jadi timbul pemikiran. Sebenarnya yang dianggap pintar itu jangan-jangan hanya karena ybs lebih duluan tahu. Jadi menjadi pintar bukan perkara IQ, tapi duluan mendapatkan informasi. Nah, ‘bahaya’ kalau sampai rebutan untuk jadi yang pertama tahu. Kenapa hayo? Siapa yang pernah misuhin berita di Detik atau TV One? Lho hubungannya apa? Ya itu, soal siapa yang ‘duluan’ tahu, rebutan untuk jadi yang pertama tahu. 😉

Iklan

Lebih Mudah Mengajarkan Sex Education pada Anak daripada Mengajarkan Spiritual

Beberapa hari lalu, saya sedang mendampingi keponakan saya yang berumur lima tahun nonton televisi. Televisi lokal, kepunyaan ormas keagamaan yang cukup besar dan berskala nasional. Waktu itu acaranya menyiarkan boneka animasi, kisah Nabi Luth, Sodom dan Gomorah. Awalnya saya tidak terlalu sadar apa yang mereka tonton, karena berpikir acara animasi dan kisahnya mengandung muatan agama. Tetapi sejurus kemudian saya tersadar, hei ini kisah tentang Sodom Gomorah, umat Nabi Luth yang diazab Tuhan karena mereka lebih memilih menjadi homoseksual.

Yang saya pikirkan kalau nanti ponakan saya bertanya-tanya tentang apa itu homoseksual. Saya berpikir keras mencari bahasa yang sesuai untuk anak lima tahun, untuk menjelaskan apa itu homoseksual.

Ternyata, yang mereka tanyakan malah lain. Mereka lebih tertarik dengan adegan penghukuman, ketika kaum Sodom Gomorah diazab. Dan pertanyaan Lila, membuat saya terhenyak, “Tante, itu mereka kok dilempari batu kenapa Tante? Kenapa kok lehernya putus, Tante?” (pas ada visualisasi kepala tertimpa batu dan putus, kepalanya jatuh menggelinding).

Saya terhenyak, bingung menjawabnya. Mau menjawab, ‘mereka dihujani batu karena mereka dihukum oleh Tuhan’ kok hati nurani saya tidak setuju. Saya kok tidak ingin mengenalkan Tuhan yang Maha Penghukum (karena sesungguhnya Ia Maha Cinta dan Maha Pengampun) kepada anak-anak. Saya tidak ingin mengenalkan konsep hukuman dan dosa dalam usia dini, karena saya tidak ingin ponakan saya diajarkan rasa takut kepada Tuhannya. Saya ragu, bimbang, bingung!

Ada alasan tersendiri, mengapa saya enggan mengajarkan (?) konsep tentang hukuman Tuhan dan kaitannya dengan dosa kepada anak-anak. Saya tidak ingin menanamkan ketakutan/rasa takut pada mereka sejak dini. Dari apa yang saya yakini, manusia sudah terlalu lama, dalam kurun ribuan tahun, didoktrin oleh rasa takut terhadap Yang Maha Pencipta. Rasa takut yang turun temurun itu menjelma dalam ingatan kolektif, muncul menjadi rasa takut kolektif. Padahal, rasa takut itu (bisa jadi) adalah motivasi mendasar orang dalam merespon/bereaksi/bertingkah laku. Jika mereka dalam memandang segala sesuatunya sudah diberi bingkai ‘fear’ maka perilaku yang tercetus pun didasari oleh rasa takut tersebut.

Misalnya, contoh paling gampang. Menimbun kekayaan pada umumnya didorong oleh kekhawatiran akan ketidakamanan finansial. Takut dan khawatir bahwa kehidupannya tidak terjamin. Perilaku yang muncul bisa korupsi, pelit, tamak, etc.

Contoh lain, posesif. Biasanya didorong oleh rasa takut kehilangan/takut disakiti, dll. Perilaku yang muncul bisa berbentuk over protektif, penuntut, dll. Benci juga didasari oleh rasa takut. Misal, perilaku rasial, diskriminatif, iri, dsb sebenarnya karena ybs takut jika orang lain katakanlah lebih hebat dari dirinya, takut jika dirinya akan didholimi oleh pihak lain yang lebih unggul, dsb.

Saya percaya, jika manusia terbebas dari rasa takut, maka ia akan memunculkan dirinya yang lebih otentik, genuine, asli dari dalam dirinya. Dan seperti yang saya percaya, lawan dari rasa takut bukan berani, tetapi cinta. Perilaku yang didasari oleh cinta, tentu sangat berbeda daripada perilaku yang didasari oleh rasa takut. Dan yang lebih penting lagi, jiwa yang penuh cinta adalah jiwa yang bebas, tak lagi dibelenggu rasa takut. Bayangkan, apa yang bisa dilakukan oleh jiwa yang bebas ini terhadap pihak lain?

Kembali ke soal ponakan. Ternyata menjelaskan tentang nilai-nilai spiritual sejak dini kepada anak-anak, tidaklah mudah. Jauh lebih mudah mengajarkan tentang ritual. Tetapi mengajarkan ritual semata kepada anak-anak maka hingga kelak mereka dewasa, berbahaya. Yang tertanam nantinya adalah dogma/doktrin. Dogma/doktrin bukan landasan yang kokoh bagi keimanan/kepercayaan. Bagi saya sudah cukup mengajarkan dogma kepada anak-anak. Generasi mendatang harus lebih baik dalam pemahaman beragama daripada generasi sebelumnya.

Sayangnya, yang saya lihat masih sedikit orang tua yang sadar akan hal ini. Bisa jadi, karena dari diri kita pun juga belum menyadarinya. Hal seperti ini tidak seperti kecemasan tentang cara mendidik tentang seks kepada anak-anak. Pendidikan seks, lebih mudah dibayangkan daripada pendidikan tentang spiritualitas. Dan wajar saja, jika kita lebih menyadari apa yang mudah dibayangkan daripada yang sulit dibayangkan.

lari atau hadapi ?

Awalnya dari membaca rubrik konsultasi psikologi di koran cetak Kompas. Seorang gadis muda, dia bermasalah dengan pengasuhan orang tuanya. Ibu yang sangat dominan dan ayah yang acuh. Si Gadis merasa tak berdaya.

Next. Cinta pertama. Usia SD. Dengan teman sejenis. Si Gadis mengklaim bahwa cinta monyet tersebut sudah dilandasi nafsu seksual, bukan sekedar suka-sukaan. Lantas, cinta sesama jenisnya benar-benar mendapat tempat ketika yang bersangkutan kuliah. Tapi tidak berakhir seperti yang diharapkan, yah, sebenarnya sama saja dengan kisah cinta yang lain. Ada sedih dan senang. Putus dan berlanjut.

Next. Si Gadis gelisah. Fantasi seksualnya akhir-akhir ini semakin kerap diwarnai adegan kekerasan. Jika dirinya sedang mengalami tekanan, dia merasa pribadinya berubah menjadi kejam dan manipulatif.

Kisah kedua. Tentang seorang pembunuh psikopat yang dikenal sebagai Killer Clown. Membunuh 33 anak muda, semua lelaki, semua mengalami kekerasan seksual. Sebagian ditanam di halaman rumahnya, sebagian ditanam di jalanan.

Mengalami masa kecil yang tidak menyenangkan. Ayah yang alkoholik dan melakukakan tindak kekerasan terhadap dirinya. Saya membayangkan John Gacy kecil ini  menderita, dan seperti anak-anak kecil di seluruh penjuru dunia, dia tidak berdaya.

Ketiga. Kisah fiksi. Film thriller yang dibintangi Jennifer Lopez. Duh, saya lupa judulnya. Berkisah tentang pembunuh berantai. Korbannya adalah gadis-gadis muda, yang disiksa terlebih dahulu sebelum dibunuh, dan mayatnya dijadikan eksperimen laiknya boneka. Mengalami penyimpangan perilaku masochis, suka menyakiti dan menyiksa diri sendiri dengan cara-cara yang tidak terbayangkan.

Masa kecilnya digambarkan suram. Lagi-lagi ayah yang kejam. Suka memukuli dan mencambuk, bahkan menyetrika anaknya yang waktu itu masih kecil. Bahkan memaksanya untuk menonton adegan seksual yang tidak pantas. Menciptakan memori kengerian dan traumatis yang luar biasa.

Kisah-kisah tersebut membuat saya merenung. Ketika seseorang menjadi korban akibat perlakuan orang lain, apakah yang mereka rasakan ? Pada kasus pertama, korban merasa benci sekaligus tidak berdaya. Tapi menariknya, mengapa orientasi seksualnya menjadi homo ? Dan saya melihat ada identifikasi dia terhadap ibunya.
Sama dengan dua kisah lainnya. Mereka menjadi korban kekerasan orang tuanya. Tapi mengapa mereka ketika tumbuh menjadi sama kejamnya bahkan lebih kejam daripada orang tuanya ?

Saya merenung lagi. Betapa kebencian yang begitu dalam terhadap sesuatu, malah semakin mendekatkan diri kita kepada sesuatu yang kita benci tersebut. Kita berubah menjadi monster mirip dengan yang kita benci tersebut.

Dalam teori psikologi, ada dua hal yang biasa dilakukan jika seseorang mendapat masalah. Lari atau hadapi.

Lari dari masalah, bentuknya bisa macam-macam. Tapi intinya adalah, ia berusaha men-denial atau menyangkal. Dia tidak jujur dengan dirinya. Dia berbohong dan merepress semua hal-hal yang ingin dilupakan/dibenci ke alam bawah sadarnya.

Semakin berat yang dia tanggung sendiri, maka kekuatan jiwanya juga makin tertekan. Jika jiwanya termasuk rentan, maka akan ada yang pecah dalam jiwanya.

Seperti kisah Karen, yang mengalami siksaan seksual yang sangat hebat di masa kecilnya, justru oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Saya tidak menyalahkan pilihan respon mereka-mereka yang saya kisahkan di atas. Bagaimanapun, kondisi mereka yang masih kecil, tidak seberdaya orang dewasa. Dan, lagi-lagi, orang tualah yang paling bertanggung jawab.

Saya memprihatinkan, bentuk kebencian mereka, dimana mereka merasa menjadi korban dari orang tuanya, tidak membuat mereka lebih baik. Kebencian yang sangat dalam dan dahsyat intensitasnya, ternyata membuat mereka secara tak sadar mengidentifikasikan kepada sosok yang mereka benci. Apalagi jika hal tersebut didorong oleh kekuatan alam bawah sadar, yang mana merupakan kekuatan yang jauh lebih besar daripada alam sadar.

Lari atau hadapi, jujurlah dengan diri sendiri.

parenting competencies

Parenting / pengasuhan tak ubahnya leadership. Bagi sebagian orang, mungkin parenting adalah proses yang alami, given. Begitu mereka dikaruniai anak, otomatis mereka menjadi orang tua dan otomatis pula mereka mempunyai wewenang menjalankan pengasuhan.

Mungkin seperti seseorang yang menjadi seorang kepala daerah, karena dia dijamin oleh legalitas dan undang-undang yang berlaku. Tetapi apakah hal tersebut menjamin dia adalah pemimpin yang baik ??

Begitu pula halnya dengan parenting. Disadari atau tidak, tanggung jawab menjadi orang tua sangat berat, dan jika nyerempet sedikit dengan agama, hal tersebut berkait dengan amanah yang diberikan. Mau diapakan amanah ini, mau dibentuk semau kita –proyeksi orang tuanya- atau dibentuk menjadi sebaik-baiknya manusia ??

Parenting yang hendak saya bicarakan kali ini, memang berlatar belakang leadership, sehingga bingkai untuk mengemasnya pun saya menggunakan jargon-jargon yang lazim digunakan dalam studi kepemimpinan. Mengapa ?? Karena, bagi saya menjadi orang tua sama halnya dengan menjadi pemimpin. Dan, ada begitu banyak studi dan riset mengenai kepemimpinan di psikologi dan manajemen, mengapa tidak kita pinjam saja, guna mencetak effective parenting.

Tolok ukur kesuksesan seorang pemimpin, ada banyak parameter. Jim Collins lewat riset yang cukup panjang, merangkumnya dalam buku Good to Great. Menurutnya ada lima level pemimpin dan pemimpin level 5 adalah pemimpin yang dinilai paling tinggi dan paling sukses, karena seorang pemimpin yang sukses adalah jika ia berhasil mencetak pemimpin baru. Jika pemimpin level 5 lengser meninggalkan organisasi / perusahaan, kondisi perusahaan/organisasi tidak lantas limbung bagai anak ayam kehilangan induk, tapi tetap survive dan lebih maju di bawah kepemimpinan baru yang berhasil dicetak pemimpin sebelumnya.

Dengan kata lain, ia tidak menyembunyikan berkat yang dimilikinya hanya demi dirinya sendiri dan membuat orang lain tergantung. Tetapi ia membagikan berkat tersebut dengan memberdayakan sekitarnya sehingga menjadi lebih mandiri dan berdaya.

Sama saja dengan orang tua. Orang tua yang sukses jika ia berhasil membentuk anak menjadi individu dengan karakter, kepribadian, dan kompetensi yang berkontribusi positif bagi lingkungannya. Alih-alih menjadi parasit masyarakat, si anak tumbuh menjadi agent of change yang memberikan perubahan positif bagi lingkungannya, ke arah yang lebih baik.

Nah, pertanyaannya, kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh orang tua untuk menjalankan effective parenting ??

Menurut Bennis dan Thomas dalam publikasinya Geeks dan Geezers : How Era, Values, adn Defining Moments Shape Leaders, ada beberapa kompetensi umum yang harus dimiliki oleh leader. Boleh dong, kita pinjam untuk menentukan kompetensi umum yang harus dimiliki oleh orang tua.

    • Adaptive Capacity

      Yeah, benar sekali, dalam situasi seperti sekarang ini hanya satu yang orang tua tidak bisa kendalikan yaitu perubahan itu sendiri. Jangan selalu membandingkan situasi jaman orang tua dengan situasi yang dialami oleh anak-anak.

      Tugas orang tua adalah bagaimana merespon setiap perubahan dan krisis yang mungkin terjadi dengan reaksi yang konstruksif, saling menguatkan, dan yang paling penting adalah menciptakan makna positif dari perubahan tersebut. Di sini orang tua harus kreatif, kalau tidak ia akan selalu ketinggalan dan diglembuki oleh anak-anaknya.

        • The Ability to engage others in shared meaning and character and distinctive voice

          Pemimpin yang kharismatik seperti Soekarno, Gandhi, Nelson Mandela, adalah pemimpin-pemimpin yang berbagi harapan, visi, dan nilai-nilai serta menularkannya kepada pengikutnya, serta sukses mengarahkan mereka untuk mencapai visi tersebut.

          Bagaimana dengan orang tua ?? Effective Parenting jika anak tumbuh menjadi anak yang berkarakter, dengan berpegang terhadap nilai-nilai positif sebagai prinsip hidupnya. Karena itu character building sangat penting dalam pengasuhan anak.

            • Integrity and strong values

              Poin ketiga ini sangat berperan dalam pembentukan karakter terhadap anak-anak. Orang tua yang tidak mempunyai integritas dan nilai-nilai seperti keadilan, cinta, kejujuran, dsb, bagaimana ia dapat memberi contoh kepada anak-anaknya ??

              Bisa saja orang tua secara lisan mengajarkan si anak untuk jujur dsb, tapi di luar ia bebas korupsi, menyuap, bahkan lebih parah berbohong terhadap anaknya. Jangan dikira hal tersebut bebas dari pengamatan anak, dan ketidakkonsistensian antara apa yang diajarkan orang tua dan perilaku orang tua adalah salah satu faktor yang menyumbang perilaku sulit pada anak.

              Salah satu teori pembelajaran, social learning theory, menguatkan bahwa anak belajar dari lingkungannya dan terutama dari orang tuanya sebagai lingkungan terdekatnya.

              Selain itu, saya paling tidak setuju dengan metode ‘menakut-takuti’ atau dengan kata lain “leading with fear” terhadap anak-anak.

              Saya tidak bisa membayangkan jika sedari dini, anak-anak dicekoki berbagai hal yang membuatnya takut dalam rangka membuat si anak patuh dan menurut terhadap orang tua.

              Salah satu studi yang populer di psikologi, yaitu bahwa rasa takut itu merupakan hasil dari belajar. Eksperimennya adalah sebagai berikut, yaitu bayi Albert diberi boneka kelinci (yang sebenarnya netral). Tetapi oleh eksperimenter, boneka itu diasosiasikan dengan sesuatu yang membuat bayi Albert kaget. Walhasil, setiap ia melihat boneka kelinci, bayi Albert selalu menangis ketakutan.

              Banyak studi di kepemimpinan yang mengungkapkan, perbedaan antara leading with love dan leading with fear, terhadap produktivitas pegawai dan efektivitas organisasi. Intinya adalah, pemimpin yang memimpin dengan cinta, berpengaruh sangat signifikan terhadap bawahannya. Followers lebih merespon positif terhadap cinta daripada rasa takut yag tercipta.

              Implikasinya terhadap effective parenting, saya tidak bisa membayangkan, apa yang dipelajari oleh anak-anak jika sedari dini mereka diajari untuk takut, takut, dan takut. Sedari dini mereka dicekoki dengan ancaman, hukuman, dosa, bahkan Tuhan pun dibawa-bawa dengan ditampilkan sebagai sosok yang menakutkan. Kadang itupun tidak cukup, jadi membawa serta sosok seperti eyang, tante, guru, polisi, anjing, ular, tanah basah, hujan, rumput, dsb sebagai sosok yang menakutkan, mengancam keberadaan dan kenyamanan si anak di lingkungannya.

              Tidak heran jika kelak ia tumbuh menjadi pribadi yang peragu, sulit mengambil keputusan, inisiatif rendah, dan ekstrimnya ia tumbuh menjadi pribadi yang paranoia. Bagaimana ia akan mengeksplor potensi terpendam dalam dirinya, jika ia pribadi yang peragu, selalu khawatir, dan tidak percaya diri ??

              Maka jangan heran, jika anak-anak Indonesia kelak juga semakin jauh dari alam. Mereka takut dengan hujan, bermain di tanah, takut dengan ular, anjing, kucing, dan lain-lain. Jika sudah demikian, bagaimana mereka akan menghargai alam, hutan, sungai jernih, proses alam, dan semesta ?? Mereka akan melihat semua itu sebagai inang pembawa kuman, berbagai penyakit, dan berbagai persepsi negatif lainnya, alih-alih sebagai sahabat manusia yang harus diakrabi dan disayangi.

              Akibat nyatanya sudah dirasakan sekarang. Bahkan di desa. Ketika tikus sawah mengganas, konon hal tersebut juga disumbang oleh perilaku manusia yang membunuhi ular sawah. Ular sawah dianggap sebagai ancaman, karena itu harus dibunuh dan dimusnahkan. Akibatnya ?? Lihat saja sekarang. Tikus mengganas tanpa ada predatornya yang alami di alam.

              Berbeda jika leading with love. Dalam dunia kepemimpinan, leading with love diterjemahkan menjadi love-based motivation, yaitu motivation based on feeling valued in the job. Dengan kata lain, dari versi bawahan, ia mengatakan kepada pemimpin yang memimpin dengan cinta :

              if the job and the leader make me feel valued as a person and provide sense of meaning and contribution to the community at large (fullfilling higher needs of heart, mind, and body) then i will give you all I have to offer.

              Mendidik dengan cinta berbeda dengan memberi rasa takut. Ia memahami potensi dan keunikan tiap anak, tidak memproyeksikan diri kepada si anak. Ia akan membebaskan si anak, menumbuhkannya sesuai bakat dan keunikannya. Karena cinta itu membebaskan.

              Selamat menjadi orang tua, karena menjadi orang tua yang berhasil itu tidak mudah.