Antara Pacar dan Kata Orang

Hari Senin, hari yang sibuk sampai ada ‘falsafah’ I Hate Monday. Bahkan menurut penelitian, banyak kasus-kasus serangan jantung, kejadian pada hari Senin. Weekend kemarin ditimeline twitter banyak dibombardir berita politik, utamanya pemilihan PD1. Di Jogja sendiri hari Minggu kemarin berlangsung hajatan demokrasi pilkada, untuk pemilihan bupati Sleman, Bantuk, dan Gunung Kidul. Walau begitu, berita pilkada tidak terlalu mendominasi timeline. Saya tidak tahu, apa karena pengguna twitter dari Jogja tidak tertarik untuk men-tweet-kan pilkada di tempatnya, atau karena timeline didominasi berita impor dari Jakarta.

Well, saya tidak akan membahas itu. Sore ini, sore yang sejuk dan agak mendung, damai tenang tentram setelah hiruk pikuk Senin telah dituntaskan. Pikiran jadi melayang-layang dan browsing kemana-mana. Buka milis, buka social media, blogwalking, etc etc. Dan salah satu pikiran yang kemana-mana itu, adalah soal pacar/pasangan.

Jujur, saya pernah melakukan aib tercela terkait dengan (mantan) pacar jaman saya masih culun-culunnya. Jadi, waktu itu saya sempat malu (doh) dengan pacar saya. Gara-garanya, saya mendengarkan celotehan riwil orang-orang disekitar saya yang emang agak ‘sadis’ kalau memberikan penilaian. Mereka bilang, secara fisik pacar saya beginilah, begitulah. Dan saya (waktu itu) maluuuuu sekali. Walhasil, saya jadi agak ilfil karena termakan apa kata orang.

Sekarang, kalau saya mengingat-ingat kembali masa itu, duh saya kok ndak bangga. Maunya minta maaf kepada yang bersangkutan. Selain itu, saya jadi penasaran juga sih. Maunya mereka-mereka yang demen komen riwil terhadap hal-hal begituan, apa tho? Sirik karena ga berhasil memacari saya atau bagaimana? *plakkk, dan sepasang bakiak pun sukses melayang* :mrgreen:

Bagaimana dengan pembaca yang terhormat?

Iklan

Punya Pacar Lantas Lupa Teman?

image bank

Hadirin sidang pembaca yang saya hormati. Siapa di antara hadirin yang pernah merasakan dilema antara memilih kekasih dan teman-teman? Ayo ngacung!! 😀

Saya, errr….jujur ndak pernah sih, hihihi. Tapi saya punya cerita tersendiri tentang ini. Jadi waktu itu masih jaman-jamannya kuliah. Yah, namanya juga masih remaja~dewasa awal. Masih seneng-senengnya ubyang-ubyung sama teman-teman. Palagi kalo membentuk gank-gank-an ato clique. Udah deh, berombongan kemana aja ya dengan gerombolan ituuu terus. Kelompok gaul. Beredar di mana-mana. Rame. Meriah. Seru.

Hingga suatu ketika, teman kami ada yang pacaran. Cowok. Dan mendadak teman kami ini ‘menghilang’ dari kelompok. Oia, sebagai gambaran, saya waktu itu punya gank, terdiri dari 7 cewek dan 5 cowok. Seru kan? Nah, menghilangnya teman kami ini jelas menyisakan rasa kehilangan. Apa-apa yang serba bareng kok mendadak ada yang kurang. Dan lucunya, waktu itu yang protes malah teman-teman cewek. Apalagi kalau si teman cowok ini cuma nongol pas ada acara makan-makan gratisan, wuah kami bisa yang ngamuk-ngamuk dan nyindir abis-abisan. Dan teman-teman cowok kami sibuk membela teman mereka hingga kami berkata, “makan tuh setia kawan”.

Ketika teman kami ini tidak lagi berhubungan dengan pacarnya alias putus, ajaib. Dia kembali rajin nongol dan ubyang-ubyung bersama kami. Kami cuma bisa mengelus dada kami masing-masing. Anehnya hal ini kebanyakan malah menimpa teman-teman kami yang cowok. Pokoknya waktu itu, kalau teman cowok kami ada yang pacaran, bisa dipastikan dia menghilang dari kelompok hingga hubungan dengan si pacar putus. Sementara, kami-kami yang cewek, meski punya pacar, tapi entah kok masih bisa jalan bareng.

Tapi itu pada satu populasi. Lain lagi dengan populasi gank saya yang lain. Cewek semua. Kebetulan waktu itu kami masih jomblo semua, masih kinyis-kinyis belum pernah pacaran. Salah satu dari kami ketiban pulung ditembak cowok dan akhirnya pacaran untuk pertama kali. Yang terjadi kemudian, anak ini pelan-pelan menjauh dari kami. Kalau diajakin jalan bareng atau kumpul-kumpul, kebanyakan ditolak dengan alasan sudah ada acara bareng pacar. Paling menyebalkan adalah (ini baru kami sadari beberapa lama kemudian), teman kami ini menghubungi kami kalau pas lagi butuh.

Jadi waktu itu kejadiannya begini. Pacar teman kami ini pindahan kost dan dia mengkontak kami apakah kami bisa bantu bawain barang-barangnya ke kost baru. Sementara itu pacarnya sedang di luar kota dan memasrahkan urusan tersebut pada teman kami. Waktu itu kami iyakan. Jadilah kami mengangkuti barang-barangnya si pacarnya temen dan dengan mobil saya mondar-mandir ke kos-an lama dan baru. Kasus lain yaitu ketika si teman mengiyakan ajakan kami karena ybs sedang jablay ditinggal pacar kemana.

Soal yang sama pernah juga menimpa saya dan sobat saya, tidak mesti gank-gank-an. Kami berdua adalah teman dekat waktu SMU. Sobat saya ini menjelang Ujian Akhir Nasional, jadian dengan teman sekelas. Duh, mesraaa banget, kek film ACI 😀 . Saya yang biasanya kalo nunggu bis berdua dengan sobat saya, terpaksa sendiri, karena sobat udah dibonceng pacar. Alhamdulillah sih, hubungan mereka berlanjut sampai kuliah. Dan kami kadang masih jalan bareng. Ya benernya nyaris-nyaris mirip seperti kisah saya di atas, tapi saya tidak begitu mempersoalkan. Hingga kemudian saya ‘tersadar’. Jadi waktu itu sobat saya minta tolong saya untuk menemani dia pergi. Saya mengiyakan. Tapi di detik-detik terakhir, sobat tadi membatalkan karena ternyata pacarnya mengajaknya pergi. Kecewa saya.

Berangkat dari peristiwa tersebut, saya jadi bertanya-tanya. Kenapa kecenderungan sebagian orang yang punya pacar lantas jadi seperti melupakan teman-temannya? Mengapa kedua hal tersebut (pacar dan teman) tidak diblend saja sehingga enak-enak saja, tidak ada keharusan memilih pacar atau teman. Kok sepertinya, bagi sebagian orang tersebut, dua hal tersebut menjadi suatu pilihan, menjadi suatu dilema. Selain itu ada persamaan antara kasus-kasus tersebut. Persamaannya adalah, mereka-mereka ini entah kenapa kok jarang bawa pacarnya untuk ikutan jalan bareng dengan teman-temannya. Well, ini yang terjadi di sekitar saya sih, nggak tau kalau yang lain.

Padahal bagi saya, antara teman dan pacar ya harusnya adalah dua hal yang berbeda dan saling mengisi, ada keseimbangan disitu. Contohnya, bagi saya, siapapun dia yang janjian terlebih dahulu dengan saya, itulah yang saya utamakan. Jadi misal pacar mengajak untuk nonton bareng, tetapi saya udah terlanjur janjian dengan teman-teman, ya saya meminta pengertiannya bahwa saya udah kadung janji sama teman-teman. Dan ya memang itu yang saya terapkan.

Dan yang ‘paling buruk’ dari skenario dilema antara pacar dan teman tersebut adalah, jika mempunyai pacar yang ‘diktaktor’. Yang membuat kita merasa harus memilih, antara si Dia atau teman-teman. Seperti di pilem-pilem itu loh. Eh, tapi ini beneran ada. Teman saya mengalaminya. Jadi sampai sekarang, dia menyembunyikan pertemanan dengan teman-teman cowoknya karena si pacar ini ndak suka dia bergaul dengan lelaki. Aseli pencemburu. Padahal aslinya si teman ini, dia supel dan mudah bergaul. Banyak temannya termasuk cowok-cowok. Sekarang mereka udah menikah. Dan catatan tentang teman-teman cowoknya itu masih tersimpan rapat. Untung teman-teman cowoknya bisa ngerti sehingga bisa ikut bagian dalam sandiwara itu. 😛