Manusia Maha Adil dan Penyayang

Baru hari Sabtu siang ngetwit prediksi reaksi masyarakat terkait peristiwa pemboman Paris dan Beirut, eeehhh beneran aja mulai hari Minggu timeline udah rame dengan reaksi yang udah diprediksi sebelumnya. “Mereka” ini gampang ditebak, perilakunya gampang diduga.

Ini twit yang kuposting Sabtu siang, urutan bacanya dari bawah:

image

Twit itu berangkat dari pemikiran dan pengamatan, setiap kali ada warga yang bergerak atau beropini maka akan ada kontranya. Sebenarnya sangat wajar dan ya begitulah dinamikanya, ga ada yang mengejutkan. Yang membuatku merenung adalah kontra yang tipenya menuntut orang lain untuk menyelesaikan dan mikirin semua masalah di dunia.

Misalnya nih, yang udah lamaaaa terjadi. Ketika pecinta binatang bergerak terhadap isu kesejahteraan hewan dan against animal abuse, maka selalu ada komentar-komentar seperti :
– Ngapain bantu hewan, manusia aja banyak yang masih kesusahan
– Halah duitnya buat kucing kampung, trus gimana tuh nasib orang gila dan gelandangan? Mending duitnya buat mereka.
– Kenapa cuma kucing? Kenapa ga ayam? Tuh banyak ayam dan sapi disembelih tiap hari. Ngomong dong, belain juga.
– Dll.

Zzzzzzzz cape deeee. Niatnya ngetroll doang, ga ada niat baik sedikitpun dari komentator semacam ini. Aku belajar untuk mengabaikan mereka, lebih baik fokus energi ke niatan semula daripada buang-buang energi meladeni mereka.

Kemudian situasi bencana yang menimpa manusia. Komentar kayak gini juga ada lho, jangan salah.

Yang kupikirkan adalah, orang-orang ini menuntut orang lain untuk menyelesaikan semua masalah dan menuntut orang lain bersikap maha adil.  Mereka menuntut kita untuk mikirin semua persoalan di dunia. Buat apa? Buat menyenangkan mereka lah, karena sebenarnya mereka tidak tertarik dengan apa yang sudah kita lakukan dan sedang lakukan. Ga penting buat mereka.

Satu lagi, mereka menuntut kita bisa bersikap maha adil, tapi apakah mereka sendiri udah bersikap adil dan objektif? Ada beberapa golongan yang hanya berempati jika agamanya sama, satu agama pun harus dari aliran yang sama, ideologi politik yang sama, dan jumlah statistik. Korban satu nyawa kurang nendang bagi mereka. Korban beda aliran, sah-sah aja buat mereka karena korban adalah golongan yang berbeda dan karena sebab itu pantas menjadi korban.

Di satu sisi mikir, memang faktanya dunia ini ga adil. Kalau kamu aware, opini kita tu banyak dipengaruhi faktor luar. Kita sebagai individu aja punya bias, apalagi media, mereka punya kepentingan. Tapi kalau kamu aware, maka hati kecilmu akan tahu ada yang sifatnya hakiki dan beyond social media, beyond berita, beyond media, bahkan beyond agama. Namanya kemanusiaan.
Selain itu faktor lain adalah kejujuran. Apakah kamu sudah jujur dengan dirimu sendiri? Apakah kamu sadar, kesinisanmu disetir oleh perasaan kamu lebih baik dari yang lain atau betul-betul kesedihan/kepedulian.

Menyenangkan semua orang itu mustahil. Apalagi mikirin semua masalah di dunia, bisa meledak kepala kita, depresi dan suicidal. Yang penting, be the change you want to see in the world. Kalau kamu merasa kejadian di Paris tidak merepresentasikan Islam yang ramah, ya bersikap baiklah dengan teman-teman Syiah, Ahmadiyah, penganut kepercayaan dsb. Kamu ga sadar, ujaranmu bilang “Syiah bukan Islam” bisa berujung kemana? Simpan aja lah pikiran itu untuk dirimu sendiri, bukan urusanmu. Itu urusan keimanan, urusan sama Tuhan.

Kalau selo, bisa juga baca-baca kegelisahanku di tumblr:

Masih sah gak menyandang nama ‘Restlessangel’? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Review Muze: Bermusik Tanpa Ribet dan Asyik

Beberapa hari lalu saya mendapat kesempatan mencoba produk yang bikin ngiler para penggemar musik. Produk tersebut adalah MUZE Mini Bluetooth Speaker dan MUZE Bluetooth Headphone.
Kesan pertama pas unboxing, wah desainnya cakep! Paling suka desain MUZE Mini Bluetooth Speaker karena simpel, mungil, handy. Asli cakep banget, bisa ditaruh di mana aja tanpa mengganggu interior yang udah ada. Malah bisa sekalian jadi pajangan dekorasi untuk mempercantik interior, hehehe. Kalau menurut webnya ada bermacam-macam warna lho, jadi tampilannya bisa ngepop abis. Selain itu secara ukuran cukup mungil (10,5 x 6,5 x 5,5 cm) sehingga saking handy-nya bahkan bisa masuk tas kamu. Bodynya dari metal, bukan plastik, lebih elegan. Oya kalau ada anak-anak atau balita di rumah, lebih baik tempatkan MUZE Mini Bluetooth Speaker jauh dari jangkauan anak-anak ya, biar ga dijatuhin or dibanting mereka. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Kesan untuk MUZEย  Bluetooth Headphone juga cakep banget dengan warna putih. Desainnya retro vintage gitu. Pas iseng dipakein ke telinga Anya, eh dia malah menganggap itu fun dan sempet ga mau dicopot. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Wah berarti cukup nyaman untuk di telinga dong ya, secara biasanya akuย  kurang begitu suka make headphone karenaย  biasanya berat dan ga nyaman di telinga. Ternyata bener, setelah kucoba sendiri cukup nyaman di telinga dan gak berat. Selain itu juga langsung meredam segala noise di sekelilingku. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Pertama yang harus dilakukan sebelum menjajal kedua produk ini adalah dicharge terlebih dulu. Lho ternyata produk beginian butuh power toh, malah baru ngeh. Dalam boxnya, kedua produk ini sudah dilengkapi dengan kabel power dan kabel untuk disambungkan dengan piranti gadget kita. Untuk kabel power ga ada “kepala colokan” (apa sih istilahnya?), jadi musti nyopot “kepala colokan” dari kabel charger hape biar bisa ngecharge. Proses charge perdana cuma butuh waktu sekitar sejam dua jam kurang, ditandai dengan warna merah (masih ngecharge) dan hijau (batre sudah full). Oh ya, untuk MUZE Mini Bluetooth Speaker, musti dipasang dulu batrenya ya, sebelum dicharge. MUZE Bluetooth Headphone batrenya sudah di dalamnya dan aku ga berani ngutak-ngatik macem mana batrenya, apakah nanti ada kemungkinan rusak dan butuh diganti (batre). Setelah batre full, saatnya menjajal seberapa canggih (halah) ini produk.

image

Terus terang kuping saya bukan penikmat audio kelas canggih, apalagi penggemar audiophile. Pertama mendengar suara yang keluar dari MUZE Mini Bluetooth Speaker, saya cukup puas. Jernih. Waktu itu dengerin file MP3 hasil donlot di hape. Pertama dengerin juga pake kabel audio yang dicolokin ke hape dan MUZE Mini Bluetooth Speaker (masih belum ngeh fitur Bluetooth-nya, hahaha, masih kebawa tradisi old skool yang segalanya kudu dicolokin kabel). Suaranya cukup memuaskan indera pendengaran.

Beberapa hari kemudian saya iseng pengen menjajal MUZE Mini Bluetooth Speaker untuk di mobil. Secara head unit audio mobil sedang error dan nyetir mobil tanpa musik itu ga asik banget, sodara. Ternyata boleh juga nih MUZE Mini Bluetooth Speaker dijadiin pengganti audio mobil. Kan ada Bluetooth, jadi tinggal aktifkan Bluetooth hape, connect dan langsung bisa mainkan playlist yang ada di hape. Tetapi MUZE Mini Bluetooth Speaker ini cuma bisa connect ke satu hape dalam satu waktu. Pas hape lain mo connect, hapeku kudu disconnect dulu dari MUZE Mini Bluetooth Speaker, baru bisa main lagi. Lumayan banget lah ya, bisa dibawa kemana-mana. Jadi bayangin dulu jaman kuliah, bawa laptop ribet banget kalau mau bawa speaker mini. Ada MUZE Mini Bluetooth Speaker lebih asyik dan praktik, karena ringan dan wireless bisa dibawa kemana aja dan buat dengerin apa aja, dari musik sampe nonton pilem di laptop tanpa ribet bawa-bawa kabel. Orang dibawa ke mobil aja bisa gitu loh, wkwkwk. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

image

Oia sebagai catatan, MUZE Mini Bluetooth Speaker ini juga bisa memperdengarkan musik langsung dari MicroSD card, karena udah ada slotnya. Cuma pas dicobain MicroSD card 8gb, kok scanning keseluruhan file lama banget ya. Sampe ganti MicroSD yang lain, tapi masih sama. Sampai sejam scanning kok belum play file musik di dalamnya. Apa MicroSDnya error ya? Huft banget deh.

Oke, terus gimana dengan produk MUZE yang lain? MUZE Bluetooth Headphone menyajikan suara yang cukup elegan. Selain itu juga ga bikin kepala pusing dan kuping capek. Hanya saja setelah menjadi emak-emak dengan anak balita, ga bisa lama-lama pakai headphone karena telinga musti siaga mendengar suara, apakah Anya butuh sesuatu. Ya iya je, karena tiap kuping “didekap” oleh MUZE Bluetooth Headphone ini, otomatis segala noise di luar langsung teredam. Enak sih buat yang kerja, bisa jadi alasan ga denger omongan rekan yang ngajakin nggosip pas kitanya butuh fokus nyelesein dedlen. Tapi ga disarankan buat ibu-ibu dengan bayi dan balita, bahaya bo, bisa ga denger anak nangis. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚
Akhirnya suami dan ponakan deh yang menikmati. Mereka sih puas banget, bisa asyik fokus menatap layar laptop kerjain pekerjaan dan tugas, sambil denger musik. Suara yang keluar juga jernih, enak banget. Dengerin musik jadi tambah asyik, buat nonton film di laptop juga asyik banget, berdentum-dentum gitu.

Oh ya, untuk MUZE Mini Bluetooth Speaker yang saya cobain ini serinya PSP-B1. Sedangkan MUZE Bluetooth Headphone yang saya coba, serinya adalah PHP-BZ1. Secara keseluruhan, kedua produk ini cukup memuaskan. Dari segi desain, fungsi, dan kualitas mendapat rating 7 dari 10. Desain oke cakep, fungsi cukup fungsional dengan tambahan fungsi bisa sebagai dekorasi pemanis ruangan (yailah ini emak-emak banget) dan kualitas yang cukup memuaskan. So buat kamu yang bingung cari ide hadiah, produk MUZE ini bisa jadi alternatif kado. Bisa diberikan ke remaja abege penggila musik, kekasih, kado pernikahan hingga pasutri/keluarga. Atauuuu…kadoin aja diri sendiri, hihihi. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Serius, bikin pengalaman bermusik jadi makin asyik ga pake ribet, karena wireless.

image

Patholo, Rengginang Dari Singkong

Apdet blog lagi ah, biar masih dicap blogger *lho* ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Jadi begini, beberapa hari lalu saya mendapat oleh-oleh dari tetangga. Isinya kripik dua macam, yang satu bentuknya mirip rengginang, yang satu lagi mirip emping. Keduanya mesti digoreng dulu dengan minyak panas (ga usah dijemur). Pas udah mateng, masih anget fresh from wajan, saya ambil satu rengginang. Sempet mbatin, kok bentuk rengginangnya agak beda. Trus pas ngunyah, tambah heran lagi. Kok rasanya lain banget ya dengan rengginang biasanya. Krispi sih, tapi lengket di gigi dan lidah.

Sempet rasan-rasan sama orang rumah, jangan-jangan rengginangnya terbuat dari nasi sisa. Soalnya bentuknya lain dan rasanya lengket pas dikunyah.

image

Nah begitu lho penampakannya. Beda kan bulirnya dibanding rengginang. Pagi tadi pas lagi jemur Anya (kok koyo kumbahan, dijemur ๐Ÿ˜…) ngobrol sama tetangga tersebut. Dari obrolan tersebut baru tahu kalau kemaren yang dikasih itu bukan rengginang tapi patholo.

Patholo ini produk asli dan khas Gunungkidul, terbuat dari singkong. Sempet gugling, patholo disebut-sebut rengginang singkong dan keknya belum populer sebagai jamuan wisata kulineran atau sebagai oleh-oleh. Tapi ada juga teman yang bilang, jeung @dewikr, bahwa produk ini ternyata dijumpai pula di Bengkulu dan juga terbuat dari singkong. Namanya tetep rengginang. Kita tunggu keterangan lebih lanjut dari beliau, katanya ada produk serupa di kampung halamannya di Kediri sana, cita rasanya juga lengket gigi tapi belum tahu terbuat dari apa, singkong atau keju eh bukan. (Singkong dan keju mah judul lagu. Yeee ketahuan angkatan Arie Wibowo.)

Oya, sengaja tidak membahas oleh-oleh yang satunya karena pas mau icip ternyata udah abis. Ketoke diabisin sama suami, maklum suami saya termasuk sub spesies Homo Sapiens yaitu kripikus-tukang-nglethus. Penjelasannya adalah, penggemar klethikan berupa kripik, krupuk, dan krepek. Kalau kresek adalah klethikan ketoke ya bakal disikat suami.
Padahal yang udah diabisin suami adalah keripik yang terbuat dari ubi garut, khas Bantul. Bentuknya mirip emping, itu aja yang dapat saya ceritakan. Pas tahu diceritain sama tetangga, benernya penasaran sih. Secara ubi garut kan udah langka.

Antara Sampah, Generasi Tua, dan Generasi Anya

image

Ngomongin masalah sampah, lingkungan hidup, dll ternyata ga ada kaitan antara jenjang pendidikan, status sosial ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutku, perilaku peduli lingkungan (diet tas plastik/bawa sendiri tas waktu belanja, matiin listrik ketika tidak dimatikan, buang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dsb) merupakan karakter. Begitu juga perilaku bersih.

Yang jadi misteri adalah, mengapa ada orang yang mempunyai karakter seperti itu dan ada yang tidak. Padahal sama-sama berpendidikan, melek informasi, berasal dari status sosial yang sama. Apakah yang membedakan karena pola asuh?

Ah tapi ada juga yang dari kecil tidak diajarkan memilah sampah dsb ketika dewasa bisa disiplin pilah sampah. Ada yg kecilnya dibesarkan oleh orang tua yang tidak suka binatang tapi pas gede sayangnya ke binatang buanget-banget. Jadi apa dong yang membedakan? Faktor apa agar seseorang mempunyai karakter peduli lingkungan? Semoga ada penelitian menyelidiki hal ini, penting nih untuk kemaslahatan umat manusia.

Btw masih terkait perilaku peduli lingkungan, sementara ini yang bisa dilakukan adalah fokus terhadap pendidikan generasi masa depan. Siapa sih generasi masa depan? Ya anak-anak kicik, anak-anak kecil, anak-anak kita. Mengapa? Udah terbukti bahwa mengubah perilaku orang dewasa tuh susah setengah mati. Perilaku orang gede tu berasal dari kebiasaan yang sudah mengurat-akar puluhan tahun. Biasanya sih orang dewasa perlu momentum besar agar mau berubah perilaku. Misal nih, kudu sakit jantung dulu agar berhenti merokok. Perlu kecelakaan dulu agar mau pake helm atau care tentang safety. Dan sebagainya lah, hal semacam itu. Kata mereka sih, “old habits die hard”. Mengapa demikian, mungkin karena menjadi orang dewasa melelahkan, energi sudah ga seperti masa kecil/muda, sementara mengubah perilaku butuh banyak energi.

image

Bahkan diingetin pasangan/keluarganya agar mau mengubah perilakunya, bisa jadi debat dan pertengkaran. Ego tersinggung dan defensif, logikanya mengatakan semua baik-baik saja dengan perilaku yang sekarang, ngapain diubah. Padahal tiap hari baca berita dan liat foto seliweran betapa lingkungan kita udah terdegradasi. Terucap kata “prihatin”, mungkin terselip perasaan kasihan tapi tidak cukup menggerakkan dia untuk berubah. Masih nyaman di status quo.
Asumsi lain, kemungkinan ybs terlalu abai dan ga peduli jadi merasa ga perlu repot-repot mengubah dirinya. Ada orang lain yang akan membereskan (kekacauan yang dia buat).

Nah ngadepin orang dewasa yang berpikiran macam ini tuh buang energi banget. Apalagi mencoba mengubahnya, sia-sia. Antara energi yang kita keluarkan dan result, ga sebanding. So paling gampang adalah membentuk mereka yang masih mudah dibentuk, yaitu anak-anak. Mereka yang masih membentuk kebiasaannya, yang lebih mudah diberitahu tanpa melibatkan ego terluka ketika dibenarkan/diingatkan/dikritik.

Jadi lebih baik simpan tenaga dg fokus membentuk perilaku anak-anak kita untuk lebih peduli lingkungan, aware terhadap hal-hal kecil, self cinscous. Semua bisa dimulai dengan hal-hal kecil di rumah dan di sekolah. Semoga dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi semua makhluk.

image

Kopi, Bir, dan Susu!

beer and coffee

 

Siapa dari pembaca blog ini yang punya akun twitter dan rajin buka timeline? Kalau iya, berapa kali dalam sehari Anda membaca postingan update status tentang kopi? Saya? Tiap hari dong, minimal tiap pagi, wkwkwk. Karena itulah tiba-tiba terinspirasi untuk bikin postingan ini. Postingan engga serius, sekadar lucu-lucuan karena jenuh nulis serius mulu. Sampe-sampe suami selalu komen tentang aku, โ€œDik, kamu itu terlalu serius.โ€ Woke deh, kali ini aku posting yang engga serius ya!

Jadi berdasar pengamatanku terhadap kebiasaan orang nulis tentang minuman yang biasa dia minum, aku pun berduga-duga tentang karakter mereka. Kebetulan, penggemar kopi cukup mendominasi isi timeline-ku tentang kebiasaan โ€˜pengumumanโ€™ minuman mereka. Berada di peringkat ke2 adalah penggemar bir. Mereka ini juga doyan nulis di twitter kalau lagi pengen atau lagi menikmati minuman kesukaannya.

Kalau dibikin deskripsi karakternya, kira-kira begini:

  1. Penggemar kopi: cenderung narsis dan agak lebay, walau dibungkus kata-kata puitis. Kabar baiknya, bisa jadi ia memang berbakat menulis puisi. Apalagi kalau mulai mendeskripsikan kopinya sebagai โ€˜beraroma earthy, dengan sentuhan rasa kayu yang cukup kuat, krema-nya menyembul keemasan dengan aroma dan pemandangan yang begitu sexy.โ€ Wes ta, beneran dia berbakat berkata-kata atau terinspirasi Bondan Winarno. Sedikit mellow dan sentimentil, apalagi kalau udah sakaw kopi.
  2. Penggemar bir: Cenderung eksibisionis dan suka memberontak. Berprinsip yang dilarang itu biasanya malah nikmat. Kadang eksentrik di mata orang lain, dan suka tampil beda sih.
  3. Penggemar air putih: Agak-agak konservatif dan annoying kalau udah kumat kebiasaannya menularkan pola hidup sehat. Lebih sering membaca artikel kesehatan dibanding yang lain. Lebih suka berperan di balik layar dan kesan pertama adalah ia kalem. Kaya lembu. Dan bener sih, terutama untuk tipe sapi glonggongan, alias minum airnya boanyaaaaak, minimal 2 L sehari.
  4. Penggemar teh: ย cenderung pemalu, ga suka berada di bawah sorotan. Menyukai hal-hal sederhana walau orangnya cenderung rumit macem penyajian teh Jepang. Kalau udah loyal, loyal banget dan cenderung keras kepala. Walau keliatan pendiam dan ga banyak bicara, jangan kaget begitu kasih dia kesempatan bicara untk hal yang dia suka, bakalan criwis.
  5. Penggemar susu : Down to earth. Gampang dibuat seneng. Musuh utamanya adalah mereka aliran penentang keras susu (sapi) untuk manusia.

 

Hahaha, ada yang protes? Gapapa, namanya juga postingan engga serius. Kalau ternyata ada yang bener, ya namanya juga psikoclok, meramal lewat minuman yang disuka.๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

 

Get Note 3: A User Experience and Dreaming Dreams

Sekarang ini bisa dibilang gadget smartphone masuk dalam kebutuhan sekunder bahkan primer bagi sebagian orang, ngaku deh:mrgreen:

Keberadaan gadget smartphone memang memudahkan kehidupan sebagian individu, termasuk aku. Gak kebayang juga dulu cukup puas dengan handphone yang bisa telpon di mana aja dan SMS ditambah fitur browsing. Setelah punya smartphone, krasa sendiri deh, betapa gadget satu ini sangat memudahkan dan melancarkan, terutama pekerjaan. Menunjang banget dah!

Nah, makin banyaknya smartphone ternyata ga diimbangi dengan user yang juga smart. Makin canggihnya spesifikasi gadget, ternyata ga semua pemiliknya paham betul bagaimana menggunakanannya dan memanfaatkan secara maksimal. Iya kalau user tipe yang demen utak-atik. Tapi ada dong, tipe user yang ga utak-atik gadgetnya dengan berbagai alasan.

Nah, Sabtu 28 September lalu, aku dapat undangan dari Samsung berupa training session Galaxy Note 3. Aku harus bilang, ide training session ini bagus banget, usaha untuk edukasi konsumen sekaligus usaha untuk mendekatkan diri dengan konsumen lho.

Jadilah Sabtu itu, aku berangkat dari Bandung ke Ritz Carlton Pacific Place Jakarta. Ketika sampai venue jam 12, ternyata Grand Ballroom 1 sudah ramai oleh pembeli yang udah inden sejak beberapa waktu lalu. Aku langsung aja dong, observasi apa yang bisa aku lakukan. Tanpa waktu lama, aku langsung utak atik Galaxy Note 3 yang dipajang di booth. Ternyata ada yang baru dari Galaxy Note 3 ini, yaitu Galaxy Gear! Woo-hoo, ini keren! Apaan sih Galaxy Gear itu?

Galaxy Gear adalah…sebentar, bingung juga menjelaskan Galaxy Gear dengan kalimat singkat dan padat. Ini adalah gadget yang fashionable atau โ€˜perangkatโ€™ fashion yang dilengkapi fitur canggih? Galaxy Gear ini berbentuk jam tangan yang cukup cantik dan saling melengkapi dengan Galaxy Note 3 layaknya Rama dan Shinta, Mimi dan Mintuna. Serius, ini bukan gombalan, karena kalau kamu pakai Galaxy Gear ini, makin memudahkanmu dalam menggunakan Galaxy Note. Contoh, waktu sedang setir mobil dan ada notifikasi masuk. Bahaya dan enggak safe dong, kalau angkat telpon sambil nyetir, sangat tidak disarankan. Dengan Galaxy Gear, cukup dengan perintah suara, maka bisa melakukan apa saja tanpa perlu membuka handphone.

Selain itu, Galaxy Gear juga dilengkapi dengan kamera 1,9 MP, cukup memadailah untuk melakukan foto bahkan video! Hmm aku jadi kebayang ide-ide yang bisa dilakukan dengan Galaxy Gear ini. Misal, pada waktu meeting dan butuh mendokumentasikan sesuatu secara โ€˜rahasiaโ€™, Galaxy Gear bisa melakukannya! Pas lagi pup dan tiba-tiba ide cemerlang muncul, ga perlu repot-repot mencatat, cukup rekam dengan Galaxy Gear! Jika waktu dan situasi sudah memungkinkan, tinggal transfer ke Galaxy Note 3 dan olah lagi lebih matang, yeay! Nah, ide apa lagi yang bisa dilakukan Galaxy Gear ya?๐Ÿ˜†

Itu tadi pas nyobain Galaxy Gear dan Galaxy Note 3-nya, masih belum teraba kecanggihan Galaxy Note 3. Saat itulah training session terasa betul manfaatnya, terutama buat user yang rada-rada gaptek seperti aku. Mengapa, karena di training session, dijelaskan cukup mendetail fitur-fitur canggih yang ada di Galaxy Note 3 beserta manfaatnya. Menurutku, justru itu yang penting banget buat user. Kalau kecanggihan spesifikasi, semua orang bisa googling walau ga semua paham apa itu artinya/maksudnya.ย  Seperti prosesorย  1.9 GHz Octacore, dual camera dengan kamera belakang sebesar 13 MP dan kamera depan 2 MP dengan kemampuan perekaman UHD 30fps, Smooth motion (FHD 60fps), Slow motion (HD 120fps), memori 32 GB dan RAM 3GB,ย  baterai 3200 mAH, seringkali itu jadi angka-angka yang tak sepenuhnya dipahami oleh kebanyakan konsumen.

Dengan sesi training, ta-daaa, langsung deh kerasa banget kecanggihan Galaxy Note 3 ini. Yang paling bikin ngiler adalah, kemampuannya untuk multi window dalam satu layar dan super multi-tasking! Pas banget buat aku yang dalam satu waktu bisa buka beberapa aplikasi untuk menunjang to do list sehari-hari. Gak Cuma pekerjaan tapi juga urusan rumah tangga.

Misalnya nih, pekerjaanku di bidang social media, menuntut untuk terus update informasi dan kadang butuh jawaban segera dalam hitungan menit. Padahal dalam waktu yang sama, aku sedang mencari informasi untuk hal lain. Agak overwhelming memang, bikin kepala penuh dan berakibat beberapa hal jadi terlupa. Nah dengan Galaxy Note yang bisa multi windows dan super multi tasking, resiko terlupa jadi bisa diminimalisir.

Apalagi aku sedang aktif cari-cari informasi tentang rumah idaman. Mulai dari ide desain sampai artikel teknis. Dengan fitur drag and dropd dalam multiwindows, air commands, ย dan apps Scrapbook, sangat membantu membuat mimpiku menjadi lebih jelas dan operasional. They say, otak akan bekerja lebih baik dalam mewujudkan mimpi-mimpi kita jika kita mampu memvisualkan secara jelas dan spesifik kan? Sepertinya gak berlebihan kalau kubilang, Galaxy Note bisa membantu memudahkan kita mewujudkan mimpi-mimpi kita, wkwkwkwk.:mrgreen:

Semua fitur keren Galaxy Note yang diajarkan selama training memunculkan satu pertanyaan: RAMnya berapa nih?? Secara ya, multitasking dan multiwindows begitu butuh memori prima biar ga memberati perangkat. Tenang sodara, seperti sudah disebutkan diatas, Galaxy Note 3 ini dilengkapi RAM 3GB!! Uwooowwwww, mantab pisaaaaan!

Sekarang tinggal berdoa yang kenceng biar keturutan keinginan untuk punya Galaxy Note 3๐Ÿ˜†

Terusin Gaya Berpikir ala Anak-anak demi Dunia yang Lebih Baik!

Confused-Cat-Meme-1-610x457

 

Wkwkwkwk, judulnya malesin banget *mati ide*๐Ÿ˜†

Rasanya skill yang musti dikembangkan di jaman gadget sekarang ini adalah information literacy/melek informasi deh. Alasannya, informasi sekarang ini sangat gampang diakses dibanding dulu-dulu, mau apa semua ada di ujung jempol. Beda banget ama (misal) jamanku SD, pengen tahu sesuatu harus baca buku. Jadi agak sulit kalau ga punya bukunya dan harus nyari. Di toko ternyata ga ada, maka harus ke perpus. Perpus terdekat ternyata juga ga punya bukunya. Harus ke Jakarta atau mana yang punya toko buku superkomplet. Belum duitnya dsb. Tanya orang tua, juga belum tentu mereka tahu.

Seperti hari ini, karena tiba-tiba penasaran dengan klaim iklan sabun cair cuci tangan Det**l yangย  bilang kalau sabun cair lebih higienis dibanding sabun batang karena ga terkontaminasi kuman, jadi timbul tanya. Paling gampang cari jawaban ya ke Mbah Gugel. Tinggal ketik kata kunci, dan jebreeeet, semua informasi ada. Cuma yaaaa, tugas belum selesai sampai situ, karena ternyata banyak bener informasi yang menyesatkan. Ketika mengetik kata kunci berbahasa Indonesia, informasi yang tampil di halaman pertama didominasi oleh berita tak berimbang dan ga membahas segi ilmiahnya. Ketika gugling dengan kata kunci bahasa Inggris, informasinya lebih lengkap dan lebih berimbang. Memang jadinya harus membaca lebih banyak lagi untuk membandingkan dan konfirmasi isi artikel, beneran valid atau abal-abal berbau ilmiah.

 

Confused-Cat-Meme-1-610x457a

 

Ada banyak contoh mengapa melek informasi (definisinya menurutku adalah kritis terhadap isi informasi, kemauan untuk mencari tahu lebih dalam, ย mampu memilah informasi mana yang valid, dan hati-hati menarik kesimpulan) sangat penting di masa sekarang. Menurutku, para ibu musti wajib punya skill ini. You see, seperti yang udah pernah kubahas, ibu-ibu pun turut dibanjiri informasi seputar parenting, kesehatan, kecantikan, dll. Banyak yang membungkus informasi tersebut dengan hal-hal menyeramkan. Kalau enggak melek informasi, bisa bayangin dong akibatnya. Informasi belum tentu bener, tapi karena disantap bulat-bulat jadi makin takut dan nurut. Bisa merugikan, baik materi maupun non materi.

Habisnya gimana ya, banyak bener informasi yang beredar dengan teknik menyebarkan โ€˜fearโ€™. Satu teknik kuno, dari sejak agama diturunkan ke bumi *eh* dan sampai sekarang terbukti efektif. Di satu sisi, teknik tersebut bisa juga memunculkan respon โ€˜kontraโ€™ alias lebih kritis. Satu sisi yang ga kalah bahaya adalah muncul respon โ€˜learning helplesslyโ€™. Contohnya, ada satu temen yang merasa artikel-artikel kesehatan yang dipublish satu situs berita isinya nakutin semua. Akhirnya dia jadi apatis, menerapkan gaya hidup enggak sehat, dan menutup rapat-rapat semua inderanya dari informasi. Alasannya, dia mau hidup tenang dan senang. Tapi apa ya bener gitu?

The United States National Forum on Information Literacy defines information literacy as ” … the ability to know when there is a need for information, to be able to identify, locate, evaluate, and effectively use that information for the issue or problem at hand.”[1][2]ย Other definitions incorporate aspects of “skepticism, judgement, free thinking, questioning, and understanding…”[3]ย or incorporate competencies that an informed citizen of an information society ought to possess to participate intelligently and actively in that society ~ sumber wikipedia

Trus gimana dong, biar punya skill melek informasi?

Hmmm…hmmm di sini aku ga dalam kapasitas ahli sih hahaha. Cuma bisa sharing dari pengalaman sendiri. Yang jelas, banyak baca bukan jaminan, karena sama aja boong kalo sumber-sumber bacaan kita udah termonopoli dan berasal dari satu sumber aja.ย  Membaca baru efektif kalau dari berbagai sumber, baik yang pro dan yang kontra. Kalau langkah pertama apa ya…mungkin menumbuhkan sikap kritis dulu, jangan telan mentah-mentah suatu informasi. Agak sulit terutama untuk kita yang terbiasa dari kecil dididik untuk patuh, nurut, dan tidak mempertanyakan kebijakan maupun dogma. Karena kita jadi ga terbiasa melihat ada yang โ€˜anehโ€™ dari informasi tersebut. Paling asyik emang punya gaya berpikir seperti anak-anak, karena anak-anak selalu mempertanyakan segala hal. โ€œMengapa langit biru, mengapa kalau malam langit jadi item, mengapa kucing kakinya 4, dlsbโ€ hal-hal yang orang dewasa ga kepikiran untuk menanyakan!๐Ÿ˜†

 

PS. Tentang klaim sabun cair tadi, aku lebih banyak nemu artikel mencerahkan dalam bahasa Inggris. Kesimpulannya adalah, memang kuman masih bisa hidup di sabun batangan, tapi jika kamu mencuci tangan pake sabun tersebut dengan cara yang benar (tangan digosok dengan sabun sampai berbusa dan bilas dengan air bersih) ga ditemukan kuman berbahaya di tangan. Jika ada himbuan yang sifatnya seperti lebih pro ke sabun cair, itu untuk situasi khusus seperti di ruang operasi atau dokter gigi. Kalau untuk situasi sehari-hari, sudah cukup. So?๐Ÿ˜‰