Angkutan Umum Kelas VIP untuk Jakarta?

 

Ide postingan ini muncul saat pulang kantor sore ini, hasil dari melamun di metromini. Kebetulan sekarang kantor agak jauh dari kos, walhasil musti naik kendaraan umum, secara ga ada kendaraan pribadi. Sengaja ga bawa dari Jogja, males banget kudu nyetir di kemacetan Jakarta, belum perawatan, bensin, kos juga ga ada garasi sehingga kalau markir di depan kos, dan lain-lain yang bikin ribet.

Sebelumnya antara kos dan kantor cukup ditempuh dengan jalan kaki aja, cuma 10 menit. Dengan jarak kos ke kantor sekarang yang ‘cuma’ 8 km, kalau jalan kaki ya mrongos aja, tapi kalau naksi kok boros banget. Situasi tersebut akhirnya memaksa aku untuk merasakan sendiri naik kendaraan umum metromini, setelah setahun lebih di Jakarta belum pernah naik metromini, kopaja, dkk. Sebelumnya kalau naik kendaraan umum yang sifatnya massal, cuma berani naik Trans Jakarta. Alasannya, serem, ngeri, khawatir dengan keselamatan diri (ancaman copet) kalau naik metromini dkk itu.

 

Alasan naik metromini ditambah dengan fakta, rute busway masaoloh jauhnya, dua kali musti transit, dan bakalan luamaaaa di jalan. Waktu itu tahu ada jalur metromini juga karena diberitahu teman, bahwa jalur kos-kantor sebenarnya enak, karena ada metromini yang sekali jalan udah langsung sampai, ga harus pindah-pindah.

Singkat cerita setelah merasakan sendiri angkutan umum kelas metromini, ada beberapa catatan yang sayang kalau disimpan sendiri. Pengalaman naik beberapa jenis angkutan umum juga menyadarkan bahwa sebenarnya Jakarta ini udah memiliki modal untuk menanggulangi masalah lalu lintas, yaitu sistem transportasi umum. Hanya aja, sistem transportasi umum yang ada sekarang bener-bener kedodoran untuk pelayanan dan maintenance-nya. Parah banget dah pokoknya. Padahal problema utama Jakarta, MACETTT, bisa teratasi dengan modal tersebut. Transportasi umum bisa menjadi jalan keluar, sayangnya potensi ini diabaikan lamaaaa sekali oleh pemerintah, entah sengaja atau gimana.

 

 

Kembali ke soal pengalaman pribadi merasakan berbagai angkutan umum di Jakarta. Semoga catatan ini berguna di belantara jalanan yang macetnya kejam. Saya memberi beberapa rekomendasi berdasar apa yang saya rasakan dan alami:

Taksi, mempunyai kelebihan untuk kenyamanan dan reliabilitas cukup baik. Reliabel dalam arti, mudah ditemui alias banyak. Kelemahannya, jika kena macet, ya sama saja seperti mobil pribadi, cuma bisa pasrah. Dan siap-siap aja argonya melonjak drastis kalau macet. Belum lagi kalau ketemu supir yang ga ngerti jalan, duh itu bikin bete banget.

Ojek, mempunyai kelebihan cepat karena relatif anti macet (karena bisa meliuk-liuk di tengah kepadatan lalu lintas), juga mudah ditemui. Jika sedang keburu-buru untuk janjian sementara lalu lintas sedang padat, ojek sangat disarankan. Yang menyebalkan dari ojek adalah, kadang bisa lebih mahal dari taksi untuk situasi normal, karena kasih tarif seenaknya. Musti pinter nawar deh. Oh ya kelebihan lainnya adalah umumnya mereka lebih ngerti jalan/rute dibanding supir taksi.

Transjakarta. Selama ini adanya busway sangat membantu. Haltenya ada di mana-mana. Bisa lebih nyaman dari yang ada sekarang, jika pemeliharaan diseriusi. Udah lumayan banget ada ACnya, cuma ya gitu deh. Yang paling menyebalkan adalah reliabilitasnya kurang bisa diandalkan. Bisa aja nunggu lebih dari 30 menit menanti busway datang, dan tidak ada pemberitahuan alasan mengapa busway ga datang-datang. Ngantrinya jadi lamaaaa banget, ini sangat menyebalkan. Mustinya tiap 5 menit, ada. Armada kurang juga membuat penumpang menumpuk, sehingga tak beda dengan metromini. Padahal dengan adanya jalur khusus busway, jelas bebas macet.

Metromini dan sebangsanya. Kelebihannya adalah, dia sangat murah, cuma dua ribu, jauh dekat. Untuk rute yang saya tempuh sehari-hari, metromini jauh lebih cepat daripada naik taksi apalagi kalau lagi padat lalu lintasnya. Entah gimana, metromini punya caranya sendiri melawan kemacetan.:facepalm:

Padahal jalur kantor-kos itu lumayan padat dan jam-jam pulang kantor pasti macet. Tapi metromini bisaaa aja mengatasinya dan waktu tempuhnya jadi cukup cepat. Beberapa cara yang dipakai metromini mengatasi kemacetan adalah naik jalur busway dan ‘memaksa’ mobil-mobil lain untuk mengalah jika sang metromini hendak lewat. Ciyus, dipaksa! Si kernet turun dan kemudian menstop-menghalau mobil-mobil untuk berhenti sehingga metromini bisa melenggang.:facepalm:

Kelemahannya adalah, metromini reliabilitasnya rendah. Kemunculannya ga bisa diprediksi, hampir sama seperti TransJakarta. Bisa gitu, setiap 10 menit ada, tapi bisa juga menunggu lebih dari 30-45 menit baru muncul, itupun padaaaat banget. Kelemahan lainnya seperti kita tahu, bejubel persis sarden dan armadanya juga parah abis. Sopirnya cara bawanya juga ngawur ngebutnya.

Dari pengalaman ini jadi mikir, metromini sebenarnya cukup bisa diandalkan juga sebagai angkutan umum di tengah kemacetan. Tapi banyak pengguna kendaraan pribadi yang males naik metromini karena alasan kenyamanan dan keamanan. Andai ada metromini kelasnya super eksekutif gitu, asyik juga kali ya. BerAC, nyaman, cepat, tiap dua menit ada. Trus keamanan juga terjamin karena pengamen dan penjaja ga bisa masuk. Serem je kalau ada peminta-minta naik, trus menyilet-nyilet tangan sendiri, sembari setengah ngancem kalau ga dikasi duit maka silet tersebut bisa melukai.

Jadi dari awal memang angkutan umum masal bis ini diniatkan khusus untuk kelas eksekutif, yang ga keberatan membayar 10-20 ribu, asal nyaman, aman, bisa diandalkan.

Persoalan sekarang kenapa pemilik kendaraan pribadi ogah beralih ke kendaraan umum, kan ya karena faktor kenyamanan itu. Males berdesakan, males keringetan. Ditambah copet, pengamen, dsb. Ga heran, macet masih terus ada walau gubernurnya ganti. Lhawong penyumbang kemacetan ya kita sendiri, lebih memilih pakai kendaraan pribadi daripada beralih ke angkutan umum. Tapi ya gimana berminat naik angkutan umum, kalau kondisinya seperti itu. Bener-bener lingkaran setan.

10 thoughts on “Angkutan Umum Kelas VIP untuk Jakarta?

  1. Memang akar persoalan ada pada kebijakan sistem transportasi yang menyatu dengan pengembangan wilayah. TransJakarta adalah penyelesaian parsial, begitu juga KRL AC, dan Kopaja ber-AC. Begitu juga monorel kelak. Jalan layang bukanlah solusi. Karena ketika mobil bertambah banyak, masalah susulannya adalah perparkiran di tempat tujuan. Jangankan kapling buat mobil, kapling parkir buat motor saja sudah jadi masalah dan akan meningkat.

    Jokowi-Ahok lagi pusing mengatasi itu, dan mereka tahu beban buat Jakarta juga harus dirembuk dengan wilayah tetangga yang beda provinsi.

    Kita memang harus belajar dari Singapura, toh iklim dan cauacanya sama. Belajar dari Bangkok dalam mengatasi masalah juga boleh.πŸ˜€

  2. kalau aku, memberi harga ongkos ojeg sesuai kesadaran diri aja. Karena aku besar, dan memakan space cukup banyak, bukannya mau pamer ya, suka ngasih lebih dari orang lain.

    kalau naik metromini, kopaja, dan sejenisnya, aku maunya duduk. ga mau berdiri. bukannya belagu dan manja. kalau aku berdiri, MENTOK BANGET. makanya, kalau dapat duduk di metromini suka ga enak hati kalau ada ibu2 yang ga kebagian duduk. cuma mau gimana lagi, karena aku ga bisa berdiri, aku pura2 tidur aja. #sumpahinicurhat

  3. Saya pengguna setia metromini kalau main ke Jakarta. Pokoknya asal ada metromini yg lewatin tujuan, saya milih metromini deh. Tambahin negatifnya: buanyak banget pengamen, pengemis aneh2, atau tukang jualan. Trus kalo nurunin penumpang ga pake acara berhenti, harus benar2 hati2 supaya ga jatuh/diserempet kendaraan lain.
    Kalau transjakarta saya baru nyobain sekali dan kapok (tapi lain kali boleh dicoba lagi deh)πŸ˜€

  4. kalau daku pribadi alasan ga mau pake transportasi umum karena keamanan dan kenyamanannya. sebenernya ga masalah desek-desekan, tapi kalau armadanya bersih, aman, time management bagus, dan “gak ugal-ugalan” daku bakal sering gunakan. Ya ga cuma armadanya aja, akses, fasilitas lainnya juga mendukung. Pengalaman naik MRT di negara tetangga walaupun berdiri desek2an dalam waktu yg lama daku ga ngeluh, karena emg kualitasnya memang bagus.

  5. Ada satu lagi moda transportasi yang belom kesebut, bajajπŸ˜€. Sekarang ada bajaj BBG yang relatif nyaman alias ga berisik dan bisa duduk anteng karena deru mesinnya halus. Kekurangannya karena ga semua jalan bisa dilewati si bajaj ini, apalagi jalan2 protokol.

  6. aku suka banget naek kopaja AC! tapi armadanya kayanya masih dikiit..jadi jarang-jarang deh..padahal lewat depan kantorku, enak banget pokoknya deh naik itu…

  7. bajaj gimana bajaj? area kos situ kan cukup banyak bajaj beredar. saya malah jadi belajar rute sekitar dari jalur-jalur yang ditempuh tukang bajaj. cuma ya itu.. harus betah dengan goncangan, bising, dan deg-degan setiap saat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s