Juni 12, 2009

MENJADI KONSUMEN CERDAS ADALAH KEWAJIBAN DI TENGAH SERBUAN PRODUSEN LICIK NAN CURANG

*tulisan ini ngendon beberapa tahun di hardisk kompie. teringat dan berniat untuk mempublikasikan karena kasus prita, dan menurut saya, ini saat yang tepat bagi kebangkitan kesadaran konsumen -halah-* :mrgreen:

complaint1

Selama beberapa waktu terakhir ini, ‘dunia kuliner’ Indonesia dikejutkan oleh berita yang sebenarnya ga baru-baru amat sih, tapi menghebohkan dan berdampak luas. Diawali oleh pemberitaan di salah satu televisi swasta (SCTV) mengenai adanya zat pengawet yang berbahaya bagi kesehatan yang ditemukan pada makanan-makanan di sekitar kita. Pada waktu itu reaksi masyarakat masih ‘biasa’. Tapi ketika BPOM mengumumkan ditemukannya formalin, boraks, dan beberapa zat tambahan yang sebenarnya berbahaya pada berbagai jenis makanan seperti mie, tahu, dan ikan asin lebih dari 50% di pasar-pasar tradisional di berbagai kota, barulah konsumen menjadi ‘heboh’, apalagi didukung oleh pemberitaan media yang memblow-up kasus tersebut.

Tidak cukup dengan adanya zat kimia berbahaya, konsumen makin digegerkan oleh adanya pemberitaan di salah satu televisi swasta (TransTV) mengenai campuran daging tikus untuk bakso. Dan akibatnya (respon konsumen) ternyata cukup luar biasa. Konsumen ketakutan untuk mengkonsumsi beberapa jenis makanan yang dicurigai mengandung zat-zat tersebut. Mereka ‘memboikot’ berhenti membeli jenis-jenis jajanan seperti bakso dan mie ayam. Setelahnya kini giliran para pedagang bakso dan mie ayam yang ‘menjerit’ karena omzet mereka yang menurun drastis. Malah ada yang sampai bangkrut dan menutup usahanya karena terus merugi. Akhirnya para pedagang yang merasa dirugikan oleh pemberitaan tersebut beramai-ramai berdemonstrasi menuntut klarifikasi berita.

Sementara di Yogyakarta, pemerintah dan para pedagang itu sendiri turun tangan supaya konsumen tidak perlu takut untuk makan bakso dan mie ayam. Tak kurang, sampai bupati Bantul ikut makan bakso di depan khalayak umum untuk menepis kekhawatiran konsumen. Malah ketika pedagang berinisiatif menggelar acara makan bakso / mie ayam gratis, ribuan porsi langsung tandas diserbu konsumen.

Kalau mencermati foto peserta yang ikut mencicipi pembagian bakso / mie ayam gratis tersebut, tidak tampak kekhawatiran di wajah mereka. Pun juga ketika diwawancarai. Kita tidak tahu, ludesnya ribuan porsi bakso / mie ayam tersebut sudah bisa dijadikan indikasi apakah kekhawatiran konsumen sudah mulai mereda dan kesadaran produsen untuk tidak mencampurkan zat-zat yang tidak layak konsumsi tersebut sudah muncul atau jangan-jangan konsumen itu menyerbu karena ada embel-embel gratis?

Sebenarnya penambahan zat-zat kimia berbahaya ke dalam makanan bukan berita baru lagi. Sudah sejak tahun 1995 (?) telah ditemukan kasus tersebut dan pada waktu itu tidak ada tindakan kongkrit dari pemerintah. Konsumen juga hanya terkejut sesaat, setelahnya ‘adem’ lagi. Mengenai kasus daging tikus sebagai campuran, juga bukan isu baru. Sudah lama penulis mendengar isu daging tikus pada mie ayam atau bakso. Malah sewaktu kuliah, penulis mendengar ‘testimoni’ adanya perburuan tikus di pasar untuk bahan baku mie ayam di Yogyakarta.

baksotikus

Juga kita sering membaca adanya operasi pasar di beberapa pasar tradisional bagi pedagang yang dicurigai menjual ayam ‘tiren’ alias bangkai ayam, daging dari sapi atau ayam sakit, atau malah daging celeng (berita di Suara Pembaruan). Itu baru makanan, belum yang lainnya. Beberapa waktu lalu sempat muncul pemberitaan mengenai beberapa merk kosmetik yang mengandung bahan pemutih yang berbahaya dan zat pewarna yang tidak layak, obat-obatan palsu, bensin / solar campur air, SPBU yang memalsukan indikator, dll. Belum kalau bicara mengenai jajanan di sekolah-sekolah yang sangat tidak ‘ramah’ bagi anak-anak, karena dicampur dengan pewarna industri (karena itu makanan-makan yang disajikan warnanya sangat mencolok), gula buatan yang tidak diketahui keabsahannya, sampai kebersihannya.

teksturdagingsapidanceleng

*gambar berasal dari sini, cukup lengkap dan komprehensif dalam menjelaskan daging sapi, babi, dan celeng.*

Intinya para produsen tersebut bertindak curang dan tidak jujur terhadap konsumen, yang mengakibatkan konsumen merugi. Yang menjadi pertanyaan, mengapa konsumen baru ribut sekarang? Itu juga untuk beberapa jenis makanan tertentu.

Jika rajin mengikuti pemberitaan mengenai boraks, formalin, dan sebagainya, sebenarnya ada moral of the story di balik peristiwa ini, berkaitan dengan daya kritis konsumen dan kesadaran konsumen. Adalah hak konsumen untuk mendapatkan (dalam hal ini makanan) yang layak konsumsi/tidak membahayakan kesehatan dan keselamatan konsumen.

Ketika konsumen mengetahui bahwa yang mereka konsumsi selama ini ternyata mengandung campuran yang berbahaya, maka konsumen berhak untuk ‘marah’. Bagaimana tidak, karena hal tersebut berkaitan sekali dengan kesehatan mereka di masa yang akan datang (dalam bahasa paling awam bisa diganti ‘keselamatan’). Disinilah penulis mengamati titik kritis konsumen dipertanyakan. Ini baru soal makanan, belum ke soal yang lain. Dalam contoh yang berkaitan dengan kasus ini, ketika konsumen datang membeli makanan yang harganya murah meriah, dengan kenyataan bahwa harga bahan baku makanan relatif mahal, dengan tampilan warna yang mencolok, rasa manis yang berefek tidak enak di tenggorokan, faktor kebersihan ketika mengetahui bahwa untuk mencuci semua peralatan makan hanya dengan satu ember untuk berpiring-piring maka seharusnya konsumen mengkritisi hal tersebut. Tapi ternyata konsumen menerima saja hal tersebut. Yang penting bisa makan, yang penting bisa jajan dengan harga terjangkau. Mungkin memang taraf konsumen kebanyakan di Indonesia adalah ‘yang penting kenyang’. Jika sudah agak meningkat sedikit, maka tarafnya naik sedikit menjadi ‘yang penting enak’ (walau enak juga relatif). Konsumen kita (mayoritas) belum sampai ke taraf ‘yang penting sehat / aman’.

Berkaitan dengan daya kritis konsumen, maka penulis memandang perlu consumer education atau pendidikan untuk konsumen sehingga menjadikan smart consumer atau konsumen cerdas dalam mengkonsumsi. Seperti dalam kasus formalin ini, banyak konsumen yang tidak mengetahui formalin itu sebenarnya apa, dampaknya bagaimana. Penulis melihat bahwa saat ini merupakan momentum yang bagus untuk kebangkitan kesadaran dan kekritisan konsumen. Ketika daya kritis konsumen bangkit, maka ia tidak akan menerima begitu saja apa yang ia hendak konsumsi. Ia akan mengkritisi dengan asumsi konsumen berhak mendapatkan yang terbaik, sehingga ia akan mencari informasi yang berkaitan.

Dengan semakin kritisnya konsumen yang mengetahui hak-haknya, maka diharapkan hal tersebut dapat memacu produsen untuk memproduksi yang memang layak konsumsi. Sehingga pada akhirnya, produsen yang menghalalkan segala cara demi  meraup keuntungan akan diboikot oleh konsumen dan ditinggalkan produknya.

Penulis memimpikan bahwa gerakan kesadaran konsumen tersebut akan merembet tidak lagi ke hal-hal dasar, tapi sampai pada masalah yang ‘lebih besar’ lagi.  Misal mengenai mainan anak-anak. Konsumen yang cerdas akan memilih mainan untuk anak-anak yang benar-benar aman (bebas dari bahan yang berbahaya dan tidak membahayakan, ingat kasus mercon, pistol-pistolan dengan peluru plastik) dan mengandung unsur pendidikan.

Lebih jauh lagi konsumen yang cerdas akan selalu memilih produk-produk yang dalam produksinya memang bebas dari perusakan lingkungan dan peduli terhadap nasib buruh-buruhnya. Sikap tersebut bahkan terwujud dalam memilih tayangan di televisi. Konsumen akan memilih tayangan yang memang mendidik dan bermanfaat bagi dirinya. Konsumen yang cerdas juga akan bertindak ketika mengkonsumsi sesuatu maka ia akan menyesuaikan dengan kebutuhannya dan kemampuannya. Jadi tidak ada konsumen yang konsumtif, boros, dan sia-sia dalam membelanjakan uangnya atau besar pasak daripada tiang.

Gerakan tersebut pada akhirnya akan seperti reaksi berantai yang menuju pada keseimbangan lingkungan. Jadi reaksi dari konsumen cerdas akan memacu produsen untuk mengikuti tuntutan konsumen, sehingga ketika mereka berproduksi mereka benar-benar memperhatikan dampaknya terhadap konsumen dan lingkungannya, tidak hanya berdasarkan keuntungan jangka pendek semata.

Di luar negeri sudah lama konsumen sadar dan kritis mengenai hak-haknya. Mereka tidak segan-segan menuntut produsen yang dinilai merugikan mereka. Tingkat kesadaran mereka sedemikian tingginya sehingga dalam mengimpor sesuatu mereka mensyaratkan standar yang cukup tinggi berkaitan dengan lingkungan. Bahkan konsumen sepatu Nike di luar negeri sempat memboikot produk-produk Nike karena dinilai gagal melindungi kesejahteraan buruh, terutama di luar negeri**).

Bahkan kalau kita mencermati beberapa produk hasil kelautan, mereka mencantumkan salah satu labelnya ‘dolphin friendly’, berarti ketika penangkapan hasil laut tersebut tidak memakai jaring atau peralatan yang dapat membunuh lumba-lumba. Malah kalau kita mencermati akhir credit-title di film-film Hollywood, maka tercantum bahwa binatang yang dipakai selama pembuatan film dijamin keselamatan dan kesejahteraan.

konsumen

**kalo belanja, coba perhatikan baik-baik kemasannya. misal seperti kemasan pewangi ini. ada lambang tertentu yang berarti tertentu juga. buat saya, ini penting, ga sekedar wangi ato harga ato merk saja**

Contoh sempurna dari kasus ini adalah produk Body Shop, dimana pengguna Body Shop (semestinya) tahu falsafah mengenai lingkungan sehingga mereka lebih memilih produk-produk Body Shop yang terkenal dengan kampanye ‘against animal testing’ tersebut. Kebetulan pendiri Body Shop, Anita Roddick, juga seorang konsumen cerdas yang melihat peluang tersebut sehingga ia mendirikan Body Shop.

Pertanyaannya kini, siapa yang bertanggung jawab dalam mendidik konsumen sehingga mereka menjadi konsumen cerdas yang kritis dan sadar dengan hak-haknya? Sebelum menuding siapa, paling mudah dan paling cepat kalau kesadaran itu mulai kita bangun dari diri kita sendiri. Mengenai kasus formalin dan nasib para pedagang kecil tersebut, memang kita seharusnya prihatin. Tapi jangan sampai keprihatinan tersebut mengaburkan esensi permasalahan, yaitu kesadaran, daya kritis konsumen, dan consumer education.

Pada akhirnya produsen akan mengetahui bahwa konsumen tidak bisa ‘dibodohi’ atau berbuat curang dalam menjual produk mereka, dan konsumen yang cerdas ‘mampu memaksa’ produsen untuk mengeluarkan barang atau jasa yang mengakomodasi tidak saja kebutuhan konsumsi jangka pendek tapi juga kebutuhan jangka panjang seperti pendidikan, kesehatan, bahkan kelestarian lingkungan.

**) di facebook, ada group yang didirikan oleh Jim Keady yang bertujuan untuk mengkampanyekan kesejahteraan buruh-buruh Nike. Grup tersebut sering meng-up date berita, malah ke Indonesia segala dan melihat sendiri kondisi buruh di Nike serta berdialog langsung dengan mereka. Apdet terbaru, Jim Keady akan ke Indonesia Juli-Agustus ini.

Juni 1, 2009

Ibu Prita, Omni Internasional, dan Kesadaran Konsumen

Mencermati perkembangan kasus Ibu Prita vs RS. Omni Internasional, dimana Ibu Prita dijebloskan ke penjara karena dinilai telah mencemarkan nama baik RS. Omni Internasional sungguh membuat saya prihatin.

Kasus tersebut menyentak dan mengundang keprihatinan khalayak. Di ranah dunia maya sendiri, blogger yang peduli dengan Ibu Prita khususnya dan praktek dari UU ITE yang dinilai rawan penyalahinterpretasian yang dapat mencederai kebebasan berpendapat, telah melakukan gerakan. Misal, mendirikan sebuah group di Facebook untuk mendukung Ibu Prita. Ndoroakung juga melayangkan seruan untuk peduli, Tika mengajak untuk beramai-ramai kupipes surat pembaca tersebut sebagai bentuk dukungan, dan beberapa postingan sejenis.

Saya sendiri sangat prihatin dengan kasus tersebut dan juga sangat bersimpati dengan apa yang dialami oleh Ibu Prita. Logika sederhana saya tak habis pikir, mengapa dari sebuah keluhan, yang sebenarnya tak beda dengan surat pembaca lainnya, mengubah kehidupan Ibu Prita menjadi mimpi buruk.

Saya mengkutip apa yang ditanyakan oleh Bung Fertob, berkaitan dengan hal tersebut :

Ndoro, lalu apa bedanya keluhan yang disampaikan oleh Prita diatas dengan surat pembaca yang ada di koran-koran cetak? Kebanyakan juga isinya keluhan dan komplain, bahkan ada juga kata-kata yang sedikit “kasar” seperti “tidak becus”, “tidak profesional”, “ingkar janji”, “diperlakukan seperti binatang”, dan lain sebagainya.

Apa karena medianya beda maka perlakuannya juga beda? :(

Pertanyaan bung Fertob tersebut bagi saya sudah cukup menyuarakan kegelisahan saya, ada yang aneh dan tidak benar dalam kasus ini.

Saya sendiri hanya mampu mengajak, well okay, mungkin ajakan yang bersifat emosional, tapi hell yeah. Saya lebih ingin menunjukkan, di negeri di mana hak-hak konsumen sering dilanggar dan kesadaran konsumen sendiri untuk membela hak-haknya juga masih rendah, people power. Bahwa tekanan yang bersifat masif mungkin perlu untuk memberi kesadaran akan hak-hak konsumen sekaligus membukakan mata kita.

Saya ingin mengajak kepada siapa saja untuk memboikot RS. Omni Internasional dan juga pihak-pihak di dalamnya yang berkontribusi terhadap situasi Ibu Prita, hingga masalah ini selesai. Ceritakan kepada siapa saja yang Anda kenal untuk tidak menjadi pasien di sana dan juga untuk lebih berhati-hati serta kritis jika menjadi pasien.

Semoga, harapan saya, gerakan boikot ini tak sampai terjadi karena sudah keburu timbul kesadaran terutama dari rumah sakit termasuk dokter-dokter dan perawat, untuk lebih menghargai kebutuhan pasien. Dan satu pasien tidak berdiri sendiri, ia terkait dengan orang lain, minimal dengan keluarganya. Semoga….

Mei 28, 2009

Marcelino X.Magno

*Postingan kali ini bersifat semi biografi, lantaran naskah ini ga lolos di dewan redaksi WajahJogja* :mrgreen:

Akhir Desember 2008.

Malam itu, di sudut kafe di sekitaran Selokan Mataram, kami berbincang. Sudah beberapa hari saya berjumpa, tapi baru kali itu bisa ngobrol dengan beliau. Marcel, demikian beliau biasa disapa, sehari-hari menduduki jabatan yang cukup penting dalam pemerintahan Timor Leste sebagai Chefe do Gabinete do Presidente atau Chief of Staff Parlemen Nasional Republik Demokrasi Timor Leste. Ya, beliau ini adalah warga Timor Leste. Kedatangannya ke Jogja kali ini di luar tugas resminya, yaitu liburan sekaligus memenuhi kerinduan akan kampung halamannya.

Marcel4

Lho, kampung halaman di Jogja ?

Jangan salah, Marcelino, beliau adalah warga asli Timor Leste. Mengapa beliau menganggap Jogja sebagai kampung halamannya, akan terungkap dalam obrolan berikut.

Marcel memulai obrolan santai malam itu, dengan menceritakan bagaimana dia bisa sampai di Jogja. Menjadi ‘warga’ di Jogja dari tahun 1985 hingga 1998, bahkan sempat bekerja sebagai wartawan dan kepala biro Jawa Tengah dan DIY untuk majalah Forum, tak heran ia hafal dengan berbagai sudut kota Jogja. Pekerjaan dan idealismenya, mengantarnya untuk menjelajahi dan mencumbui mesra kota Jogja.

Tokoh yang berjasa membukakan cakrawalanya, hingga ia bersekolah di UGM adalah guru-guru SMUnya di Timor. Guru-guru yang berjasa tersebut berasal dari De Britto dan SMU di Bantul (Marcel lupa nama sekolah di Bantul) yang diperbantukan di Timor, dan mereka selalu bercerita tentang Jogja. Marcel yang merupakan angkatan pertama di SMU di Timor tersebut, terpesona mendengar cerita guru-gurunya.

Tekadnya untuk kuliah di Universita Gadjah Mada sangat kuat, walau ia sendiri sebenarnya tidak begitu tahu tentang Indonesia, khususnya Jogja. Tahun 1985, ‘terdamparlah’ Marcel di Jogja, setelah sukses lolos ujian SIPENMARU dan diterima di Fakultas Komunikasi Universitas Gadjah Mada.

Enam bulan pertama adalah masa-masa adaptasi yang cukup berat bagi Marcel. Terasing, belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, membuatnya cukup frustasi. Hingga kemudian, Celi (panggilan Rizal Mallarangeng), kolega kampusnya, menasehatinya untuk tidak tinggal di asrama Timor-Timur (pada waktu itu) jika ingin bisa berinteraksi dan bergaul dengan kalangan yang lebih luas. Maka, petualangannya dimulai di perkampungan di sudut Gayam (sekarang Jl. Bung Tardjo).

Banyak yang Marcel pelajari selama berinteraksi dengan warga kampung, salah satunya adalah mengenai kepedulian dengan sekitar. Pada masa itu ia banyak bergaul dengan tukang becak, dan ia terkejut mendapati bahwa banyak di antara tukang becak tersebut yang anak-anaknya kuliah di UGM.

Hal lain yang sangat berkesan, adalah kebiasaan masyarakat yang suka membaca alias kesadaran akan ilmu, dari mahasiswa hingga ke tukang becak. Biasanya, pagi hari sebelum memulai aktivitas bekerja atau menggenjot becak atau kuliah, mereka selalu menyempatkan diri untuk membaca koran tempel, utamanya yang di depan kantor Kedaulatan Rakyat di Jl. Mangkubumi (koran tempel tersebut masih ada hingga sekarang).

“ Saya tak menemui hal semacam itu di tempat saya (Timor),” ujarnya dengan wajah serius.

Marcel

Kebiasaan tersebut mengantarnya tertarik di dunia tulis. Ia mencoba-coba untuk menulis artikel dan mengirimkannya untuk harian Kedaulatan Rakyat. Tak dinyana, tulisannya yang menanggapi esai Prof. Mubyarto mengenai penelitian beliau di Timor-Timur, diangkat di koran tersebut. Bahkan tulisan tersebut ditempel di sudut kantor PSPK (Pusat Studi Pedesaan dan Kependudukan) UGM berdampingan dengan artikel mengenai Prof. Mubyarto. Itulah awal Marcelino bersinggungan dengan arena diskusi dan kritik sosial, karena sejak saat itu, ia sering diundang untuk ngobrol dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh pendidikan dari UGM seperti Prof. Mubyarto, Lukman Soetrisno. Diskusi-diskusi tersebut sering menekankan Marcelino untuk lebih mencintai rakyat, lebih dekat dengan rakyat, dll.

Kebiasaannya yang bersinggungan dengan aktivis mahasiswa di arena diskusi dan kelompok berpikir  membuat dirinya yang sempat menjadi Ketua Mahasiswa Timtim, membuat perubahan di perkumpulan mahasiswa tersebut. Kebiasaan hedon mahasiswa Timtim seperti suka berpesta, nongkrong ngalor ngidul tidak jelas, diisi dengan kegiatan khas aktivis mahasiswa. Marcelino menggelar berbagai diskusi, training kepempinan, kepekaan sosial, dll bekerja sama dengan berbagai mahasiswa lintas jurusan. Bahkan katanya, alumninya hingga sekarang masih aktif berkiprah di masyarakat. Komentarnya mengenai aktivitas mahasiwa (khususnya UGM) yang marak pada masa tersebut, “Waktu itu, rasanya belum menjadi mahasiswa kalau belum masuk kelompok diskusi atau kelompok berpikir, “ ujarnya mengenang masa lalu.

*Hmmm….beda bener dengan gaya mahasiswa sekarang ya? Ah, (dulu) saya juga termasuk mahasiswa hedon kok. :mrgreen:

Awal terjunnya Marcel ke dunia jurnalistik yang membuatnya mesra menggumuli berbagai sudut kota Jogja, yaitu sewaktu beliau selesai kuliah. Marcel yang bercita-cita menjadi bupati di daerahnya, mendapat telegram dari Rizal Malarangeng. Rizal yang telah menghubungi Gunawan Moehammad meminta Marcel kembali ke Jawa untuk magang di Tempo. Mentornya waktu itu adalah Rustam Mandayung, yang mengantarnya berinteraksi dengan berbagai komunitas yang lebih luas di Jogja, dari budayawan hingga anak jalanan.

Pada masa-masa tersebut, pergaulannya terutama dengan kalangan seniman seperti Jadug Ferianto, Butet Kertaradjasa, Djoko Pekik, Umar Kayam (yang disebut Marcel, sebagai pengikat antar seniman di Jogja), dll sangat erat. Tersambung oleh persamaan di antara mereka yaitu menentang hegemoni Orde Baru, Marcel merasa banyak belajar dari komunitas seniman tersebut, terutama dari kebebasan para seniman dalam menumpahkan ekspresi sebagai bentuk perlawanan terhadap Orde Baru.

Menurutnya, pergaulan dengan komunitas seniman pada masa tersebut, sangat kompak dan loyal. Memberi nuansa kerinduan tersendiri bagi Marcel setelah tidak lagi menginjakkan kaki di Jogja. Ngobrol dan diskusi ngalor ngidul dengan Jadug, dll di angkringan, katanya sangat khas Jogja.

Ia juga belajar dari komunitas lain di Jogja, yaitu komunitas anak jalanan Girli. Waktu itu awal persinggungannya adalah berkat Romo Sandyawan, yang banyak berinteraksi dengan komunitas tersebut. Lagi, Marcel belajar nilai-nilai seperti bekerja keras, tidak mudah patah semangat, solider dari komunitas anjal tersebut. Interaksi yang rupanya abadi, karena ketika ia sedang berada di Gereja St. Antonius Kotabaru, tak diduga ia masih diingat oleh salah satu bekas anak Girli yang menjadi tukang parkir di gereja tersebut. Salam sapa ramah dan hangat mengalir, tak ubahnya seperti bertahun-tahun silam.

Hal yang sama ia alami, ketika ia sedang bernostalgia di warung SGPC. Ternyata pelayan-pelayan di situ masih mengenalinya. Katanya, dulu semasa masih kuliah, banyak mahasiswa-mahasiswa UGM yang kere dengan uang saku terbatas, termasuk dirinya. Sehingga ada saja cara untuk makan banyak tapi bayarnya irit, entah dengan membuang tusuk sate ke bawah meja sehingga tidak bisa dihitung, atau tidak berkata jujur ia mengambil gorengan berapa. Pelayan-pelayan dan pemilik warung SGPC tahu dengan kelakuan mahasiswa-mahasiswa itu, tapi mereka diamkan. Ketika mahasiswa-mahasiswa kere tersebut kini telah sukses, biasanya mereka kembali ke warung terebut dan sengaja membayar lebih dari yang mereka makan, untuk ‘menebus dosa’.

Marcel terlihat sangat menikmati ketika ia mengenang hal tersebut. Ada sedikit ekspresi haru di wajahnya.

Rasa haru yang sama yang dirasakan ketika ia bercerita bahwa ia pernah ‘diselamatkan’ oleh mbok-mbok pemilik warung makan. Waktu itu, karena uangnya tinggal sedikit, sekitar 150 perak, dan belum mendapat kiriman wesel, maka ia makan di warung yang biasanya menjadi langganan tukang becak. Rupanya hal tersebut diamati oleh pemilik warung dan ia ditanya, mengapa ia makan disitu padahal biasanya tidak. Marcel menjawab jujur apa adanya bahwa uang sakunya sudah menipis. Ibu tersebut ‘marah-marah’ dan menunjuk dua karung beras di sudut dapurnya, dan menyuruh Marcel mengambilnya.

Sebagai jurnalis, Marcel rupanya pernah akrab dengan dunia bawah tanah perlawanan terhadap dominasi tiran. Waktu itu situasi politik sedang memanas. Ketika Tempo dibreidel, wartawan-wartawan yang tidak puas dengan respon PWI membentuk Aliansi Jurnalistik Indonesia dengan Marcel sebagai salah satu pemrakarsa.

Menurutnya, dalam berorganisasi, ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu secara terbuka dan tertutup atau bawah tanah. Terbuka, yaitu yang bersangkutan terus terang mengakui duduk di dalam organisasi. Alasan Marcel sendiri untuk memilih bawah tanah, sebenarnya sangat sederhana. Pada waku itu, ia masih mengkredit motor Astrea Grand yang merupakan kendaraan operasionalnya sehari-hari. Jika memilih untuk bersikap terbuka, resiko sudah pasti ada, salah satunya dipecat dari tempat ia bekerja. Karena pertimbangan bahwa motornya masih kredit, maka ia memilih gerakan bawah tanah tersebut. Sama sekali bukan alasan yang heroik, dan ketika ia dikonfirm tentang hal tersebut, ia malah tertawa terpingkal-pingkal mengiyakan.

Pada waktu itu perannya adalah kontributor majalah bawah tanah Suara Independen. Ia merupakan wartawan pertama yang memiliki alamat email, padahal masa itu internet belum umum. Di rumah seorang pastor yang identitasnya dirahasiakan, naskah yang telah diedit oleh rekan di Jakarta, diolah dan kemudian disebar.

Tahun 1998 keadaan semakin genting. Pada saat kongres AJI di Realino yang diadakan secara tertutup, seorang rekan membisikkan bahwa Marcel sudah disebut-sebut namanya oleh Danrem Jogja. Dengan kata lain, yang bersangkutan telah menjadi TO. Sejak saat itu, Marcel sadar bahwa keselamatan dirinya terancam dan dia harus bersembunyi dari kejaran intel.

Pada saat yang sama, Ariel Hariyanto menawarkan beasiswa S2 ke NUS sekaligus jalan keluar untuk keselamatan dirinya. Marcel menerima tawaran tersebut walau bahasa Inggrisnya sangat pas-pasan. Dewi Fortuna rupanya sedang berpihak ke Marcel, karena pada saat seleksi, yang mewawancarai Marcel adalah lulusan Cornell yang fasih berbahasa Indonesia. Marcel hanya diminta untuk bercerita mengenai kondisi Timor dan rekomen yang keluar adalah, “Orang ini  calon pemimpin Timor Leste !”, kata Marcel menirukan ucapan profesor tersebut sambil tertawa-tawa.

Tak dinyana, sekarang Marcel berkarir di jajaran parlemen menduduki jabatan yang cukup penting di pemerintahan Timor Leste.

Ketika ditanya apa kesan-kesannya setelah lama tidak menginjak Jogja, ia mengatakan bahwa ia belum sempat bernostalgia di angkringan lagi, tapi ia sempat diberitahu Jadug bahwa angkringan di Jogja sekarang berhotspot dan pengunjungnya pun bermobil. Jalanan yang lebih ramai serta perubahan suhu di tempat tertentu seperti Kaliurang (dahulu jauh lebih dingin dibanding sekarang). Yang masih belum berubah adalah persaudaraannya.

Marcel tak berani untuk memberi pesan-pesan untuk Jogja, karena ia merasa justru dialah yang banyak belajar dari Jogja hingga membentuk dirinya menjadi sekarang ini. Marcel, walau dirinya adalah pejabat yang cukup penting di Timor Leste, tapi saya mendapati kesan yang sangat berbeda dari bayangan saya akan pejabat. Ramah, hangat, rendah hati, sederhana, aura tersebut benar-benar terpancar dari dirinya.

Marcel3

Akhir perrbincangan, Marcel sempat bercerita tentang salah satu tokoh yang sangat berkesan bagi dirinya, Pak Wito dari Kedungombo. Mengapa berkesan, karena dari diri Pak Wito tersebut Marcel banyak belajar hal-hal yang membekas hingga sekarang.

“Penderitaan saya tidak seberapa dibanding orang-orang tersebut, “ katanya dengan sorot mata tajam dan bersungguh-sungguh, mengakhiri bincang-bincang malam yang menyenangkan. Esok paginya, ia sekeluarga harus kembali ke Timor.

*Terimakasih untuk keluarga Mas Marcel dan Mbak Dedet :)

Mei 25, 2009

Amnesia, Gempa, Bencana

Petang tadi, sembari mengecek kamar saya yang sedang di-dudah alias dibongkar dindingnya, mendadak timbul perasaan aneh ketika memperhatikan konstruksi dinding yang setengah jadi. Perasaan, entah, ngeri atau apa, undefined. Perasaan itu timbul berbarengan dengan imajinasi yang mucul seketika dipicu oleh pemandangan tumpuka batu bata dan semen cor. Imajinasi bahwa semua material ini bisa runtuh dan kalau runtuh bagaimana.

Imajinasi itu membawa ke memori tiga tahun silam. Kebetulan sekali, kok ya pas banget, pas ‘perayaan’ ulang tahun yang ketiga. Dua puluh tujuh Mei 2006, gempa meluluhlantakkan sebagian wilayah Jogja. Masih ingat betul saya, situasinya. Ketika gempa berlangsung, saya yang masih tertidur langsung terjaga karena goyangan keras.  Saya masih bego dengan masih terduduk di tepi tempat tidur, mencermati goyangan yang makin lama makin keras. Ini bukan lindu, pikir saya. Begitu mendengar suara gemuruh, saya langsung membuka pintu kamar dan lari tunggang langgang keluar rumah

Ternyata semua penghuni rumah sudah kabur keluar rumah juga. Ketika lari keluar kamar itu, bongkahan batu bata sebesar dua kali kepala saya terlempar dari dapur yang berjarak sekitar 15 meter dari kamar, ke depan pintu kamar. Pada saat yang sangat tepat,  tepat sesaat sebelum saya menginjakkan kaki saya di titik di mana bongkahan tersebut berhenti.

Sekarang yang saya bayangkan, andai bongkahan batu tersebut terlempar dan mengenai saya, errrr….. Cuma bisa bersyukur saja, hanya apa ya bentuk nyata dari rasa syukur tersebut? :P

Selain itu juga keajaiban, bahwa keponakan saya yang kembar dan pembantu saya diselamatkan secara ajaib. Karena hanya sekitar beberapa menit sebelum dapur hancur, mereka sedang di situ untuk sarapan.  Dapur yang benar-benar hancur lebur, duh Gusti…andai mereka telat sedetik aja, gimana… Ajaib sekali pertolonganMu… *peluk-peluk Tuhan* :mrgreen:

Gempa itu membawa kesadaran baru dalam diri saya. Kesadaran bahwa, dalam sekejap, apapun dari diri kita, yang kita anggap milik kita, bisa sekejap hilang. Kekayaan, anggota tubuh, bahkan nyawa. Lantas, kesadaran ini membawa saya kemana?

Ada semacam ketakutan, bahwa apa yang saya miliki dan saya anggap paling berharga, sewaktu-waktu pun bisa hilang. Entah itu kecerdasan yang tak seberapa ini, keadaan fisik yang yah, biar ga se-perfect model-model itu tapi bangga lah, apapun itu. Sewaktu-waktu bisa hilang. Jika hilang, akankah saya masih bisa membanggakan diri saya, masihkah saya diterima oleh sekitar saya. Ya, ternyata saya masih menyimpan ketakutan.

Sayangnya, amnesia masih akrab dengan diri saya. Tiga tahun berselang dari gempa. Perasaan-perasaan yang timbul sewaktu masih beberapa jam, beberapa hari, beberapa minggu setelah gempa, sekarang seperti terlupakan. Tidak 100% sih, yang tertinggal umumnya lebih ke perasaan deg-degan ketika ada goyangan yang cukup keras (mengira goncangan gempa, teringat  goyangan gempa), perasaan khawatir cemas ketika parkir di basement mall, khawatir kalau gempa dan masih berada di basement, etc etc hal-hal semacam itu.

** Dyem, rupanya aku ada sedikit trauma, padahal aku kira aku bebas trauma. :(

Amnesia itu adalah, perasaan bersyukur sekaligus merasa kecil. Perasaan yang timbul ketika menyaksikan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, datang berduyun-duyun untuk membantu yang lain. Perasaan yang timbul menyaksikan reruntuhan bangunan dan mendengar kisah-kisah mereka yang kehilangan sekaligus mereka yang terselamatkan. Dulu perasaan itu kuat sekali, sekarang kok…yah…begitulah…

Tiga tahun yang lalu. Apa yang saya dapat yang itu membuat saya menjadi lebih baik. Apakah saya sudah menjadi lebih baik?

:(

PS.

Ingatan itu membanjir lagi gara-gara notes Romo Zen di sini.

Pagi itu, wajah-wajah panik tetangga. Aku sendiri juga masih tidak ada kejelasan sama sekali tentang penyebab gempa. Rumor menyebutkan Gunung Merapi meletus. Listrik mati. Hingga sepekan kemudian, listrik masih saja mati. Mencari makan begitu sulit. Cemas dengan keberadaan pacar dan ibu sang pacar. Mengirim sms begitu sulit, semakin menambah cemas.

Gosip-gosip yang bersliweran menambah panik. Adek sudah bersiap-siap mengungsi dengan memasukkan berbagai ransum dan pakaian ke mobil. Untung Bapak masih tenang, malah marah-marah kepada mereka yang panik. Menyuruh semua tenang. Menelpon ke Godegan dan memastikan, sama sekali tak ada issue tsunami.

Sorenya, mengitari kota Jogja mencari kejelasan. Ternganga dengan jumlah korban tewas. Mencari makan begitu sulit. Bahkan satu kardus indomie dihargai seratusanribu. Untung di daerah Baciro, masih ada warung sate buka. Sepertinya pemiliknya tidak begitu menyadari gentingnya situasi. Harga yang ditawarkan pun masih wajar. Dan malam itu pulang membawa dua bungkus sate untuk rumah.

Saya lupa kapan hujan deras turun malamnya. Apakah malam itu juga atau keesokannya. Situasi begitu mencekam. Semua tidur di halaman rumah. Keesokannya, saya bersama Asep dan VJ, pergi ke Pundong menengok sahabat kami, Pras. Alhamdulillah, dia baik-baik saja beserta keluarganya. Tetapi melihat keadaan Ibunya, tampak terpukul dan syok. Lebih banyak bengong, nangis, dan sambat. Pras yang bercerita tanpa emosi yang berarti, ketika ia ‘memunguti’ jenazah-jenazah tetangga-tetangganya. Pada akhirnya, mereka hanyalah angka, menjadi biasa, dan emosi menjadi datar.

Lusa dan beberapa minggu kemudian adalah luar biasa. Menyaksikan orang-orang tak saling kenal saling bahu-membahu, saling menolong. Menyaksikan karakter dasar manusia. Mendengar berbagai kisah keajaiban. Kepada teman-teman dari Bali yang luar biasa. Dua bulan kemudian, perpisahan menjadi begitu menyesakkan, karena kami sudah seperti saudara.

Kini, 2009. Amnesia menyebabkan kenangan itu tak lagi sekuat dulu. Menyaksikan Jogja menggeliat seperti tak pernah ada bencana hebat yang menelan ribuan nyawa dan memaksa untuk hidup susah, prihatin, dan sederhana. Pusat perbelanjaan penuh sesak oleh pengunjung. Padahal hingga beberapa pekan setelah gempa, Ambarukmo Plaza, mall terbesar di Jogja begitu sepi. Kisruh pembagian dana bantuan gempa pun tak lagi terdengar. Drama lain dari cerita gempa : ketamakan manusia. :P

Menyaksikan geliat pembangunan. Menyaksikan dinding bata yang tampak rapuh. Entah apakah mereka sudah membangun sesuai kaidah yang berlaku, seperti yang dulu sempat disosialisasikan begitu gencar. Toh, jika susunan bata itu sudah diaci semen dan dicat, di mata menjelma menjadi bangunan yang kukuh.

Jangan-jangan, seperti yang saya katakan di bawah, kita manusia membutuhkan bencana. Untuk menyembuhkan amnesia. Karena lupa itu begitu manusiawi…


pictures tells thousand words….

gotongroyong_resize

rame2banttu

survei

daribaliutksodarakudijawa_resize

lintasagama_resize

dapurumum

peduli

penuhharapan

relawan bali

ini temen-temen dari Bali :)

Setahun yang lalu mendapat berita duka, salah seorang teman meninggal karen kecelakaan di Denpasar…

Maret 28, 2009

di balik earth hour

Sabtu ini, 28 Maret 2009, sedang diadakan kampanye dalam rangka hari bumi. Digawangi oleh WWF, Indonesia tepatnya Jakarta mendapat kehormatan untuk menjadi kota pertama diadakan kampanye tersebut.

Gaung kampanyenya sendiri sudah mulai terdengar sekitar sepekan sebelumnya, utamanya oleh kita-kita yang aktif bergelut di dunia maya, lewat plurk, facebook, dll. Saya sendiri merasa senang-senang saja dan mendukung kampanye tersebut, walau sebenarnya apa yang dikampanyekan oleh WWF tersebut merupakan hal yang biasa saya lakukan (gaya hidup pro lingkungan).

Pada hari H, mencermati berbagai reaksi yang justru ramai bermunculan pada saat pelaksanaan, membuat saya tergelitik. Okelah, kampanye adalah kampanye, dia tidak mempunyai kekuatan memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang dikampanyekan. Termasuk berbagai reaksi, pro dan kontra. Ada yang antusias, ada yang skeptis, ada yang apatis, dll.

Di luar berbagai reaksi, saya menyayangkan, bahwa ternyata masih ada salah kaprah mengenai tujuan kampanye tersebut. Karena hingga detik-detik menjelang earth-hour, masih saja ada yang menyangka bahwa pada saat tersebut, kota akan gelap gulita. Pemadaman total, termasuk lampu lalu lintas dan berbagai fasilitas umum.

Kampanye earth-hour, menurut saya, sebenarnya hanyalah sebagai trigger, pemantik, suatu usaha yang dipromosikan secara cukup masif, untuk tujuan yang lebih besar lagi. Dalam hal ini, tujuan utamanya adalah untuk mengkampanyekan suatu gaya hidup yang pro lingkungan. Harapannya, dengan gerakan mematikan lampu, dicapai suatu kesadaran untuk penghematan dan lebih jauh lagi; konsumsi seperlunya, sebutuhnya.

Jadi bukan gerakan untuk mematikan penerangan secara total, hingga ke stasiun kereta, lampu lalu lintas, lampu penerang jalan, dll. Mematikan lampu, hanyalah sebagian kecil dari gaya hidup ramah lingkungan, yang bisa kita lakukan. Gaya hidup ramah lingkungan ini, menurut saya adalah, kembali ke hakikatnya yaitu fungsional, memakai dan menggunakan seperlunya dan sebutuhnya.

Jika diterjemahkan, bisa ke perbuatan yang bermacam-macam dan sangat banyak yang bisa dilakukan. Misal, tidak menyalakan mesin mobil sekaligus AC pada saat berhenti / parkir, hanya karena menghindari gerah matahari. Menyalakan AC pada suhu yang tidak terlalu dingin, misal 18 derajat celsius. Menyetir kendaraan dengan baik, tidak acak adut, sekaligus merawat secara berkala kendaraan, sehingga di jalam tidak boros bahan bakar dan emisi gas buang terjaga tetap di bawah ambang.

Mengkonsumsi makanan yang selama prosesnya tidak memakai bahan-bahan kimia berbahaya, menyebabkan punahnya suatu species hanya untuk memenuhi hawa nafsu paling primitif semata, tidak menyebabkan rusaknya suatu rantai makanan dan ekosistem.

Berbelanja sejauh kebutuhan, tidak hanya menuruti keinginan, karena disadari atau tidak, dalam prosesnya, ada banyak sekali faktor yang terlibat, misal kantong plastik, itu menghabiskan berapa banyak minyak bumi, tenaga kerja illegal seperti mempekerjakan anak-anak demi menekan biaya produksi, dll.

Menggunakan air bersih secukupnya, misal tidak membiarkan kran air menyala sementara kita menyikat gigi. Dan masih sangat banyak yang lain.

Sempat terlintas kekhawatiran, kampanye semacam ini, yang sambutannya cukup antusias, ternyata hanya sekedar tren, gerakan hura-hura glamour semata. Setelah selesai tanggal 28 Maret, lenyap pula kesadaran tersebut dan kembali ke habit lawas yang merugikan lingkungan. Seperti halnya issue global warming, yang menjadi sekedar euphoria trend, mulai dari konser musik yang pada aksinya justru jauh dari semangat anti global warming, hingga fesyen yang sok-sokan jadi full serba hijau (green become a must have hot item), padahal dalam prosesnya jauh dari kesadaran lingkungan.

Kesadaran memang bukan sesuatu yang hadir karena dipaksakan. Tetapi, mudah-mudahan kesadaran untuk lebih menghormati Ibu Bumi, semakin banyak. Kesadaran yang bersifat masif, kalau saya boleh berharap. Toh, semua walaupun memang bukan kita yang memetik hasilnya, tapi siapa lagi yang bisa merubah keadaan jika bukan kita sendiri?

:)

Maret 2, 2009

when age doesnt matter anymore

Usia, bagi sebagian besar perempuan adalah musuh dalam selimut.
Ketika usia sedang mencapai belasan, pada saat fisik sedang ranum-ranumnya, ketika dunia terasa berwarna-warni berkisar antara cinta, sekolah, dan cowok, dunia serasa seperti tayangan sinetron di televisi.

Ketika usia mencapai kepala dua, possibilites terbuka lebar, fisik sedang di puncak kejayaannya, serasa menggenggam dunia.

Tetapi, memasuki middle-tweentieeth crisis, kecemasan diam-diam merayap. Semakin enggan membincang usia dan tahun kelahiran. Apalagi ketika usia sudah memasuki kepala tiga. Merasa fisik tak lagi sesegar dulu. Cemas dengan ukuran pinggang, pinggul, dan kerut-merut. Risau dengan penampilan yang tak lagi seprima abege-abege ranum. Belum lagi menghadapi sindiran-sindiran atau joke mengenai perempuan berumur.

Ketika menyinggung masalah usia, saya selalu terngiang-ngiang judul sebuah lagu Alicia Keys :

Age aint nothing but number

Ya, bagi saya, usia, umur, hanya milestone yang diciptakan manusia. Terlepas dari pemaknaan milestone sebagai jejak-jejak keberhasilan diri, tapi menurut saya alangkah naif jika menyangkutkan umur dengan kecantikan dan kebanggaan.

Mengapa musti bangga berusia muda? Mengapa ngotot bilang kalo usia masih di bawah umur jika ada yang berkomentar dia lebih tua dari umur yang sesungguhnya?

Usia, umur, akan terus melaju tanpa bisa dicegah. Sepuluh tahun yang lalu kita masih merayakan ulang tahun sweet seventeen, dan tanpa merayakan ulang tahun pun, KTP menyatakan kita berusia 27 tahun. Lalu? Masihkan kita perlu bangga menyatakan, pada saat ini, usia kita masih 21 tahun? Apa yang terjadi sepuluh tahun mendatang, kebanggaan itu masihkah ada?

Kita semua pasti mencapai usia 50 tahun, yah, kecuali Tuhan berkehendak memanggil kita lebih dulu. Yang membedakan adalah, ketika mencapai usia 50 tahun, secara fisik masihkah kita terlihat 10 tahun lebih muda?
Sama-sama mencapai usia 50 tahun (amiin!), tapi di usia tersebut, masihkah kulit kita kencang bersinar, badan proporsional dan sehat, masih mampu melakukan aktivitas-aktivitas fisik, produktif, dan mempunyai selera humor yang baik?

Banyak contoh di sekeliling saya, mereka-mereka yang tak lagi ‘muda’ tapi masih menyimpan pesona dan produktif luar biasa. Jika membincang selebritis, lihatlah Madonna di usia yang melebihi kepala empat (gosip resmi ia sudah berusia 50an tahun, kelahiran 1958), tapi gayanya tak kalah dengan Britney Spears dan gadis-gadis yang jauh lebih muda. Bahkan kecantikannya di mata saya, semakin matang dibanding era material girl, karena didukung oleh kedewasaan yang jauh lebih meningkat dibanding ketika ia masih muda dan serba impulsif.

young_madonna

madonna

madonna-face1

Lihatlah Halle Berry (kelahiran 1966). She’s still hot at her 43, rite? And how do you wanna look like in your 43?
*jangankan 43, di usia 24 pun jangan-jangan banyak yang salah sangka tebak usia 28?* :P

halle_berry_3_resize

Gara-gara saya suka nonton Oprah Show terutama dengan bintang tamu dr.Oz, yang membahas kesehatan dan well-being. Ditambah sekarang saya lagi bersuka cita menemukan majalah perempuan yang sesuai dengan saya (tidak hanya membahas gaya hidup, mode, merk, seks, those such things), maka edisi terbaru dari majalah tersebut mengilhami saya.

Ya, age shouldn’t matter anymore, ketika kita mampu menjaga fisik dan non-fisik kita senantiasa bugar dan tercapai keadaan psychological well-being yang prima.
Kecantikan, kesegaran, tidak melulu menyangkut tahun kelahiran di KTP, tetapi juga bagaimana cara kita menjaganya. Merasa tua adalah illusi, karena jika hati dan jiwa kita merasa kita tetap muda dan bergairah, maka itu juga yang terpancar dari tubuh kita.
Tetapi menjadi tetap sehat, bugar, dan cantik di usia berapapun itu, bukan sekedar make up dan lipposuction. Yang terpenting adalah apa yang kita lakukan sedari masa sekarang, karena apapun itu (makan, gaya hidup, istirahat, cara berpikir, perspektif, menata hati, dll) akan sangat menentukan kita hingga bertahun-tahun mendatang.

Dan….saya sangat mengagumi Aung San Suu Kyi….
Di usianya yang memasuki kepala enam, beliau masih tetap cantik. Beliau benar-benar memancarkan kecantikan sejati….

suukyi1

Februari 6, 2009

Love Journey (1) : Faces of Love

Patkay, salah seorang kolega Sun Go Kong, terkenal dengan ungkapannya, “Cinta, deritanya tiada akhir.”

Patkay boleh saja berpendapat demikian, tapi cinta mampu menginspirasikan berjuta-juta manusia sepanjang masa. Bahkan, seorang mursyid, Syaikh Muzaffer Ozak mengatakan, esensi ketuhanan adalah cinta. God is love. Kita ada di dunia ini karena cintaNya, demikian para bijak mengatakan. Apa yang kita rasakan ketika kita jatuh cinta, itu hanya secuil proyeksiNya, sarana untuk mengenal CintaNya.

Cinta adalah sebuah penderitaan unik yang menyenangkan, demikian Syaikh Muzaffer Ozak mengungkapkan. Siapa yang belum merasakan nikmat , dahsyat, kuat, dan kemudian hancur berkeping-keping karena cinta ?

Jatuh cinta, berjuta rasanya. Ketika kehilangan cinta itu, jutaan rasa itu pun juga ada. Rasa jatuh cinta begitu seperti candu, tetapi tak sedikit pula yang ketakutan dengan sensasinya, dengan alasan tidak sanggup merasakan jika sensasi candu itu menghilang.

Bagi saya, ungkapan Syaikh Muzaffer di atas, cukup menggambarkan apa yang saya rasakan tentang cinta. Cinta tak selamanya indah seperti yang diangankan. Tapi, bahkan sakitnya pun mendewasakan. Tak terhitung saya jatuh bangun dalam bercinta, tapi puji Tuhan, tidak membuat saya kapok dalam bercinta. Mungkin juga didukung saya berbakat dalam hal amnesia hehehe. Lupakan rasanya tapi tidak hikmahnya :mrgreen:

Jujur saja, saya sering bingung dengan mereka-mereka yang trauma dalam percintaan, dan kesulitan untuk membuka hati mereka terhadap cinta. Lhawong, setiap hari kita itu disapa oleh cinta, kok tega banget menutup diri oleh sesuatu yang indah dan menyenangkan.

Saya dulu juga sering ‘berdebat’ ketika sampai topik lebih baik (atau enak?) mana dicintai atau mencintai. Kini saya sampai pada tahapan, bahwa betul ternyata, kebahagiaan itu ada pada pihak yang mencintai. Siapa yang tak mekar hatinya, melihat sang kekasih bahagia ? Itu saja. Dan rasanya, tak perlu lagi memperdebatkan mencintai atau dicintai. Just do it. Cintai saja. Free yourself. Jika masih mempertanyakan berarti masih ragu. Berarti masih ada ketakutan. Ketakutan akan apa? Takut sakit karena kehilangan? Apa yang terjadi ketika kita merasakan sakit tersebut? Tidak enak? Mengapa menghindari rasa tidak enak tersebut? Apa bedanya dengan rasa bahagia, suka, dsb, apakah kita mengharapkan rasa tersebut melanda diri kita setiap saat?

Oh, stop, saya seringkali terlalu hobi mendekonstruksi segala hal, termasuk cinta.

Saya hanya merasa sayang, dengan mereka-mereka yang tak mau merasakan dan menerima wajah lain cinta, wajah yang tak indah, bahkan ‘menyeramkan’ bagi sebagian orang.

Mengapa hanya mau menerima wajahnya yang indah tapi menolak wajahnya yang berbeda ?

Setiap hari cinta menyapa saya. Begitu juga dengan orang-orang di sekeliling saya. Ada yang sedang kasmaran, merindu, dan juga yang sedang merana karena cinta. Saya buka hati saya lebar-lebar untuk cinta. Bahkan ketika cinta datang dengan wajahnya yang menakutkan. Hai, tak usah takut. Ini juga cinta, hadir dengan wajah yang berbeda.

Februari 4, 2009

Diproteksi: bukan gitu caranya om…

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:


Februari 3, 2009

Psikologi Jalanan

Lagi, saya membicarakan tentang lalu lintas. Jogja, sebagai kota yang terkenal dengan ungkapan ‘Berhati Nyaman’, karena keadaan lalu lintasnya semakin terasa tidak nyaman lagi beberapa tahun terakhir ini. Banyak faktor urun rembug menyumbang ketidaknyamanan ini, mulai dari perilaku pengguna jalan, kepadatan lalu lintas, hingga ulah oknum-oknum dari institusi terkait.

Saya ingin Jogja menjadi kota yang ramah terhadap keluarga, khususnya terhadap ibu dan anak-anak (weits, sebentar, ini bisa jadi tema kampanye yang bagus lho. Visioner bukan? :mrgreen: ). Salah satunya mengenai lalu lintasnya. Saya tidak ingin Jogja yang semakin berkembang, perkembangannya menuju ke arah seperti megapolitan Jakarta. Hell no!! Bila Jogja berubah menjadi Jakarta, akan berapa banyak kerugian material dan immaterial yang terbuang sia-sia di jalanan, dan berimbas pada family well-being.

Belum ‘separah’ Jakarta saja, saya sudah merasakan betapa sering saya mengalami stress di jalanan. Menjadi cepat marah lah, deg-degan lah, tegang, dll. Emosi-emosi negatif tersebut cukup menguras energi positif. Jika saya tidak bisa mengendalikan diri, orang lain atau sekitar saya juga yang kena.

Selain itu, sering saya membaca / mendengar keluhan mengenai keadaan lalu lintas. Dari yang sekedar mengeluh curhat hingga yang memaki-maki dengan ucapan setajam sembilu. Banyak dari pihak yang mengeluh tersebut, menyalahkan pihak lain. Polisi misalnya. Yang mata duitan lah, yang males lah, dll. Sangat sedikit (atau malah belum pernah denger ya?) yang merujuk pada kelakuan diri di jalanan. Berkaca, sampai di mana etika saya berlalu lintas. Pakde bilang kepada saya di postingan tersebut, it takes two to tango.

Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun lalu ketika di Perth. Waktu itu saya mendapat kepercayaan untuk mengemudikan sedan. Wah, belum fasih di tanah air, sudah harus menyetir di luar negeri lagi. Agak jiper tentu saja. Tapi yang menarik, pihak yang memberi saya kepercayaan (Mas Arief? Where are you?), dia tidak menceramahi saya teknik-teknik mengemudi, tetapi malah sibuk memberi pengarahan cara / etika berlalu lintas. Misal, jika hendak melewati persimpangan, mobil harus melambat. Harus mendahulukan penyeberang jalan. Menyalakan sein jika belok (hello, ini kan sudah basic alias dasar banget, kenapa saya harus dikasih tahu?). Dan beberapa etika lain yang saya lupa. :P

Kata Mas Arief yang sudah jadi permanent residen di Perth, biasanya pengendara di Perth tertib sekali. Jika ada yang agak ugal-ugalan itu biasanya malah turis. Dan turis Indonesia terkenal dengan perilakunya yang tidak sabaran dan suka nyalip-nyalip. Benar saja, baru pegang stir, saudara saya dengan jahil mengajarkan untuk cuek saja. Nanti jika distop polisi dan ditanya-tanya, tinggal jawab, “Me no english, tourist, tourist. No english, dont understand.”   :lol:

Kalau dengar cerita-cerita mereka-mereka yang sering berkendara di luar negeri, biasanya perilaku tertib yang tidak begitu mereka terapkan di tanah air, otomatis mengikuti perilaku berkendaraan negara setempat. Begitu kembali ke selera asal, balik deh serampangan.    :lol:

Ada apa ya, mengapa begitu, locus of control-nya external sekali.

Saya juga bukannya suci dari perilaku macam ini. Apalagi jika saya terburu-buru (padahal keburu-burunya ya salah saya juga sih). Hingga suatu ketika saya tersadar. Sampai kapan menyalahkan orang lain terus sementara diri ini tidak melakukan kontribusi perubahan. Seringkali, atas nama ‘kemudahan’, ‘ga mau repot’, dll memberikan kontribusi yang cukup besar atas keruwetan jalan raya.

Beberapa hari yang lalu, saya teledor dalam berlalu lintas. Karena melamun dan hati lagi dongkol, saya lupa masuk ke jalan yang seharusnya satu arah. Apes banget, pas ada polisi patroli. Kena tegur lah, saya. STNK disita dan bapak polisi yang ramah tersebut mengatakan, untuk mengambilnya di pos polisi tempat dia berada. Tidak jauh dari tempat saya teledor.

Selesai menyelesaikan urusan saya, saya segera ke pos polisi yang terletak di perempatan Tugu tersebut. Ngobrol-ngobrol, polisi tersebut memberikan dua pilihan, untuk sidang atau diselesaikan di tempat. Sejenak hati saya ingin protes dan melakukan pembelaan, ‘Pak, saya melamun Pak, masak langsung sidang, bla-bla-bla.’

Tapi menurut saya ini momentum. Datar, saya iyakan saja untuk bersidang. Memang saya yang salah, ngalamun. Heiiiii, nyetir itu kompleks banget, menyangkut keselamatan orang lain dan diri sendiri kok ngalamun. Ya sudahlah, saya yang salah. Bapak polisi yang baik itu sepertinya heran (atau kecewa?) dan menanyakan domisili saya. Ternyata karena saya warga dekat-dekat situ juga, Pak Polisi yang ramah itu membebaskan saya dan katanya, oke kali ini sebagai peringatan saja. Lain kali agar saya lebih berhati-hati.

Wah, tentu saja saya surprise dan setelah itu dari mulut saya malah meluncur alasan-alasan ga penting, yang ngalamun lah, yang apa lah. :mrgreen:

Pak Polisinya mah senyum-senyum saja mendengar cerita saya. Keluar dari pos polisi, saya tersenyum sendiri. Ada pelajaran berharga yang saya dapat hari itu.


Yang jelas, etika berlalu lintas itu sangat penting. Bagaimana dengan kamu, tahukah kamu apa saja etika berlalu lintas itu ? Tahukah kamu apa saja fungsi lampu-lampu yang ada pada kendaraanmu ? Tahukah kamu gunanya spion ? Jika belum, ummm…..    *pentung-pentung*

*kampanye berlalulintas yang baik dan benar itu dimulai dari diri sendiri. Yess….*

Februari 1, 2009

mirror mirror on the wall

ec1911-001

Beberapa hari ini hidup saya bersentuhan dengan cermin lewat cara yang mengesankan. Buku-buku dan juga postingan ini.

Mengenai cermin, saya selalu ingin menjadi danau bagi orang lain. Memberi kesejukan sekaligus menjadi cermin tanpa orang lain tahu seberapa dalamnya danau tersebut (cieehhh…pentung!! Pentung!!)

Mengapa cermin ? Mungkin karena saya selalu mendambakan adanya sahabat yang mau menjadi cermin bagi saya. Yang membuat saya setingkat lebih sadar. Menuju kedalaman diri. Mampu melihat diri saya apa adanya dan menerimanya apa adanya.

Cermin, bagi saya adalah juga salah satu caraNya berbicara. Dari apa yang saya sadari sih, cermin kita ada di mana-mana, bahkan ada dalam diri setiap orang yang kita temui. Saya sering melihat pantulan diri saya dalam sosok-sosok yang saya jumpai.

Melihat acara di tipi. Sosok yang membuat sebal dan ikut-ikutan mencerca menghakimi secara sepihak. Tanpa (atau menolak) menyadari bahwa diri ini sebenarnya juga mirip dengan sosok yang dicerca tersebut.

Berjumpa dengan seseorang. Menggunjingkannya. Kalau perlu tambahi bumbu yang berupa opini dan asumsi yang mengarah kepada penghakiman. Lagi-lagi tidak sadar bahwa diri ini kadang juga melakukan hal yang dipergunjingkan. Diri ini tidak suci dan bebas nilai.

Rupanya, tidak semua orang mampu melihat cermin itu. Atau sebenarnya mereka mampu melihat pantulan gambar dirinya tapi  mereka menolak untuk melihatnya ? Tidak mau menerima pantulan dirinya ? Mengapa ?

Seseorang yang bijak pernah berkata kepada saya, semakin terang sinar yang menyinari, juga berarti daki-daki kotoran pada tubuh yang selama ini tersembunyi, semakin jelas terlihat.

Hubungannya dengan cermin ? Entah. Rasanya sih ada, tapi belum bisa merangkai kata-katanya. Ah, semoga Anda bisa menemukan sendiri. :mrgreen: