Kopi, Bir, dan Susu!

beer and coffee

 

Siapa dari pembaca blog ini yang punya akun twitter dan rajin buka timeline? Kalau iya, berapa kali dalam sehari Anda membaca postingan update status tentang kopi? Saya? Tiap hari dong, minimal tiap pagi, wkwkwk. Karena itulah tiba-tiba terinspirasi untuk bikin postingan ini. Postingan engga serius, sekadar lucu-lucuan karena jenuh nulis serius mulu. Sampe-sampe suami selalu komen tentang aku, “Dik, kamu itu terlalu serius.” Woke deh, kali ini aku posting yang engga serius ya!

Jadi berdasar pengamatanku terhadap kebiasaan orang nulis tentang minuman yang biasa dia minum, aku pun berduga-duga tentang karakter mereka. Kebetulan, penggemar kopi cukup mendominasi isi timeline-ku tentang kebiasaan ‘pengumuman’ minuman mereka. Berada di peringkat ke2 adalah penggemar bir. Mereka ini juga doyan nulis di twitter kalau lagi pengen atau lagi menikmati minuman kesukaannya.

Kalau dibikin deskripsi karakternya, kira-kira begini:

  1. Penggemar kopi: cenderung narsis dan agak lebay, walau dibungkus kata-kata puitis. Kabar baiknya, bisa jadi ia memang berbakat menulis puisi. Apalagi kalau mulai mendeskripsikan kopinya sebagai ‘beraroma earthy, dengan sentuhan rasa kayu yang cukup kuat, krema-nya menyembul keemasan dengan aroma dan pemandangan yang begitu sexy.” Wes ta, beneran dia berbakat berkata-kata atau terinspirasi Bondan Winarno. Sedikit mellow dan sentimentil, apalagi kalau udah sakaw kopi.
  2. Penggemar bir: Cenderung eksibisionis dan suka memberontak. Berprinsip yang dilarang itu biasanya malah nikmat. Kadang eksentrik di mata orang lain, dan suka tampil beda sih.
  3. Penggemar air putih: Agak-agak konservatif dan annoying kalau udah kumat kebiasaannya menularkan pola hidup sehat. Lebih sering membaca artikel kesehatan dibanding yang lain. Lebih suka berperan di balik layar dan kesan pertama adalah ia kalem. Kaya lembu. Dan bener sih, terutama untuk tipe sapi glonggongan, alias minum airnya boanyaaaaak, minimal 2 L sehari.
  4. Penggemar teh:  cenderung pemalu, ga suka berada di bawah sorotan. Menyukai hal-hal sederhana walau orangnya cenderung rumit macem penyajian teh Jepang. Kalau udah loyal, loyal banget dan cenderung keras kepala. Walau keliatan pendiam dan ga banyak bicara, jangan kaget begitu kasih dia kesempatan bicara untk hal yang dia suka, bakalan criwis.
  5. Penggemar susu : Down to earth. Gampang dibuat seneng. Musuh utamanya adalah mereka aliran penentang keras susu (sapi) untuk manusia.

 

Hahaha, ada yang protes? Gapapa, namanya juga postingan engga serius. Kalau ternyata ada yang bener, ya namanya juga psikoclok, meramal lewat minuman yang disuka. :lol: :lol:

 

Get Note 3: A User Experience and Dreaming Dreams

Sekarang ini bisa dibilang gadget smartphone masuk dalam kebutuhan sekunder bahkan primer bagi sebagian orang, ngaku deh :mrgreen:

Keberadaan gadget smartphone memang memudahkan kehidupan sebagian individu, termasuk aku. Gak kebayang juga dulu cukup puas dengan handphone yang bisa telpon di mana aja dan SMS ditambah fitur browsing. Setelah punya smartphone, krasa sendiri deh, betapa gadget satu ini sangat memudahkan dan melancarkan, terutama pekerjaan. Menunjang banget dah!

Nah, makin banyaknya smartphone ternyata ga diimbangi dengan user yang juga smart. Makin canggihnya spesifikasi gadget, ternyata ga semua pemiliknya paham betul bagaimana menggunakanannya dan memanfaatkan secara maksimal. Iya kalau user tipe yang demen utak-atik. Tapi ada dong, tipe user yang ga utak-atik gadgetnya dengan berbagai alasan.

Nah, Sabtu 28 September lalu, aku dapat undangan dari Samsung berupa training session Galaxy Note 3. Aku harus bilang, ide training session ini bagus banget, usaha untuk edukasi konsumen sekaligus usaha untuk mendekatkan diri dengan konsumen lho.

Jadilah Sabtu itu, aku berangkat dari Bandung ke Ritz Carlton Pacific Place Jakarta. Ketika sampai venue jam 12, ternyata Grand Ballroom 1 sudah ramai oleh pembeli yang udah inden sejak beberapa waktu lalu. Aku langsung aja dong, observasi apa yang bisa aku lakukan. Tanpa waktu lama, aku langsung utak atik Galaxy Note 3 yang dipajang di booth. Ternyata ada yang baru dari Galaxy Note 3 ini, yaitu Galaxy Gear! Woo-hoo, ini keren! Apaan sih Galaxy Gear itu?

Galaxy Gear adalah…sebentar, bingung juga menjelaskan Galaxy Gear dengan kalimat singkat dan padat. Ini adalah gadget yang fashionable atau ‘perangkat’ fashion yang dilengkapi fitur canggih? Galaxy Gear ini berbentuk jam tangan yang cukup cantik dan saling melengkapi dengan Galaxy Note 3 layaknya Rama dan Shinta, Mimi dan Mintuna. Serius, ini bukan gombalan, karena kalau kamu pakai Galaxy Gear ini, makin memudahkanmu dalam menggunakan Galaxy Note. Contoh, waktu sedang setir mobil dan ada notifikasi masuk. Bahaya dan enggak safe dong, kalau angkat telpon sambil nyetir, sangat tidak disarankan. Dengan Galaxy Gear, cukup dengan perintah suara, maka bisa melakukan apa saja tanpa perlu membuka handphone.

Selain itu, Galaxy Gear juga dilengkapi dengan kamera 1,9 MP, cukup memadailah untuk melakukan foto bahkan video! Hmm aku jadi kebayang ide-ide yang bisa dilakukan dengan Galaxy Gear ini. Misal, pada waktu meeting dan butuh mendokumentasikan sesuatu secara ‘rahasia’, Galaxy Gear bisa melakukannya! Pas lagi pup dan tiba-tiba ide cemerlang muncul, ga perlu repot-repot mencatat, cukup rekam dengan Galaxy Gear! Jika waktu dan situasi sudah memungkinkan, tinggal transfer ke Galaxy Note 3 dan olah lagi lebih matang, yeay! Nah, ide apa lagi yang bisa dilakukan Galaxy Gear ya? :lol:

Itu tadi pas nyobain Galaxy Gear dan Galaxy Note 3-nya, masih belum teraba kecanggihan Galaxy Note 3. Saat itulah training session terasa betul manfaatnya, terutama buat user yang rada-rada gaptek seperti aku. Mengapa, karena di training session, dijelaskan cukup mendetail fitur-fitur canggih yang ada di Galaxy Note 3 beserta manfaatnya. Menurutku, justru itu yang penting banget buat user. Kalau kecanggihan spesifikasi, semua orang bisa googling walau ga semua paham apa itu artinya/maksudnya.  Seperti prosesor  1.9 GHz Octacore, dual camera dengan kamera belakang sebesar 13 MP dan kamera depan 2 MP dengan kemampuan perekaman UHD 30fps, Smooth motion (FHD 60fps), Slow motion (HD 120fps), memori 32 GB dan RAM 3GB,  baterai 3200 mAH, seringkali itu jadi angka-angka yang tak sepenuhnya dipahami oleh kebanyakan konsumen.

Dengan sesi training, ta-daaa, langsung deh kerasa banget kecanggihan Galaxy Note 3 ini. Yang paling bikin ngiler adalah, kemampuannya untuk multi window dalam satu layar dan super multi-tasking! Pas banget buat aku yang dalam satu waktu bisa buka beberapa aplikasi untuk menunjang to do list sehari-hari. Gak Cuma pekerjaan tapi juga urusan rumah tangga.

Misalnya nih, pekerjaanku di bidang social media, menuntut untuk terus update informasi dan kadang butuh jawaban segera dalam hitungan menit. Padahal dalam waktu yang sama, aku sedang mencari informasi untuk hal lain. Agak overwhelming memang, bikin kepala penuh dan berakibat beberapa hal jadi terlupa. Nah dengan Galaxy Note yang bisa multi windows dan super multi tasking, resiko terlupa jadi bisa diminimalisir.

Apalagi aku sedang aktif cari-cari informasi tentang rumah idaman. Mulai dari ide desain sampai artikel teknis. Dengan fitur drag and dropd dalam multiwindows, air commands,  dan apps Scrapbook, sangat membantu membuat mimpiku menjadi lebih jelas dan operasional. They say, otak akan bekerja lebih baik dalam mewujudkan mimpi-mimpi kita jika kita mampu memvisualkan secara jelas dan spesifik kan? Sepertinya gak berlebihan kalau kubilang, Galaxy Note bisa membantu memudahkan kita mewujudkan mimpi-mimpi kita, wkwkwkwk. :mrgreen:

Semua fitur keren Galaxy Note yang diajarkan selama training memunculkan satu pertanyaan: RAMnya berapa nih?? Secara ya, multitasking dan multiwindows begitu butuh memori prima biar ga memberati perangkat. Tenang sodara, seperti sudah disebutkan diatas, Galaxy Note 3 ini dilengkapi RAM 3GB!! Uwooowwwww, mantab pisaaaaan!

Sekarang tinggal berdoa yang kenceng biar keturutan keinginan untuk punya Galaxy Note 3 :lol:

Terusin Gaya Berpikir ala Anak-anak demi Dunia yang Lebih Baik!

Confused-Cat-Meme-1-610x457

 

Wkwkwkwk, judulnya malesin banget *mati ide* :lol:

Rasanya skill yang musti dikembangkan di jaman gadget sekarang ini adalah information literacy/melek informasi deh. Alasannya, informasi sekarang ini sangat gampang diakses dibanding dulu-dulu, mau apa semua ada di ujung jempol. Beda banget ama (misal) jamanku SD, pengen tahu sesuatu harus baca buku. Jadi agak sulit kalau ga punya bukunya dan harus nyari. Di toko ternyata ga ada, maka harus ke perpus. Perpus terdekat ternyata juga ga punya bukunya. Harus ke Jakarta atau mana yang punya toko buku superkomplet. Belum duitnya dsb. Tanya orang tua, juga belum tentu mereka tahu.

Seperti hari ini, karena tiba-tiba penasaran dengan klaim iklan sabun cair cuci tangan Det**l yang  bilang kalau sabun cair lebih higienis dibanding sabun batang karena ga terkontaminasi kuman, jadi timbul tanya. Paling gampang cari jawaban ya ke Mbah Gugel. Tinggal ketik kata kunci, dan jebreeeet, semua informasi ada. Cuma yaaaa, tugas belum selesai sampai situ, karena ternyata banyak bener informasi yang menyesatkan. Ketika mengetik kata kunci berbahasa Indonesia, informasi yang tampil di halaman pertama didominasi oleh berita tak berimbang dan ga membahas segi ilmiahnya. Ketika gugling dengan kata kunci bahasa Inggris, informasinya lebih lengkap dan lebih berimbang. Memang jadinya harus membaca lebih banyak lagi untuk membandingkan dan konfirmasi isi artikel, beneran valid atau abal-abal berbau ilmiah.

 

Confused-Cat-Meme-1-610x457a

 

Ada banyak contoh mengapa melek informasi (definisinya menurutku adalah kritis terhadap isi informasi, kemauan untuk mencari tahu lebih dalam,  mampu memilah informasi mana yang valid, dan hati-hati menarik kesimpulan) sangat penting di masa sekarang. Menurutku, para ibu musti wajib punya skill ini. You see, seperti yang udah pernah kubahas, ibu-ibu pun turut dibanjiri informasi seputar parenting, kesehatan, kecantikan, dll. Banyak yang membungkus informasi tersebut dengan hal-hal menyeramkan. Kalau enggak melek informasi, bisa bayangin dong akibatnya. Informasi belum tentu bener, tapi karena disantap bulat-bulat jadi makin takut dan nurut. Bisa merugikan, baik materi maupun non materi.

Habisnya gimana ya, banyak bener informasi yang beredar dengan teknik menyebarkan ‘fear’. Satu teknik kuno, dari sejak agama diturunkan ke bumi *eh* dan sampai sekarang terbukti efektif. Di satu sisi, teknik tersebut bisa juga memunculkan respon ‘kontra’ alias lebih kritis. Satu sisi yang ga kalah bahaya adalah muncul respon ‘learning helplessly’. Contohnya, ada satu temen yang merasa artikel-artikel kesehatan yang dipublish satu situs berita isinya nakutin semua. Akhirnya dia jadi apatis, menerapkan gaya hidup enggak sehat, dan menutup rapat-rapat semua inderanya dari informasi. Alasannya, dia mau hidup tenang dan senang. Tapi apa ya bener gitu?

The United States National Forum on Information Literacy defines information literacy as ” … the ability to know when there is a need for information, to be able to identify, locate, evaluate, and effectively use that information for the issue or problem at hand.”[1][2] Other definitions incorporate aspects of “skepticism, judgement, free thinking, questioning, and understanding…”[3] or incorporate competencies that an informed citizen of an information society ought to possess to participate intelligently and actively in that society ~ sumber wikipedia

Trus gimana dong, biar punya skill melek informasi?

Hmmm…hmmm di sini aku ga dalam kapasitas ahli sih hahaha. Cuma bisa sharing dari pengalaman sendiri. Yang jelas, banyak baca bukan jaminan, karena sama aja boong kalo sumber-sumber bacaan kita udah termonopoli dan berasal dari satu sumber aja.  Membaca baru efektif kalau dari berbagai sumber, baik yang pro dan yang kontra. Kalau langkah pertama apa ya…mungkin menumbuhkan sikap kritis dulu, jangan telan mentah-mentah suatu informasi. Agak sulit terutama untuk kita yang terbiasa dari kecil dididik untuk patuh, nurut, dan tidak mempertanyakan kebijakan maupun dogma. Karena kita jadi ga terbiasa melihat ada yang ‘aneh’ dari informasi tersebut. Paling asyik emang punya gaya berpikir seperti anak-anak, karena anak-anak selalu mempertanyakan segala hal. “Mengapa langit biru, mengapa kalau malam langit jadi item, mengapa kucing kakinya 4, dlsb” hal-hal yang orang dewasa ga kepikiran untuk menanyakan! :lol:

 

PS. Tentang klaim sabun cair tadi, aku lebih banyak nemu artikel mencerahkan dalam bahasa Inggris. Kesimpulannya adalah, memang kuman masih bisa hidup di sabun batangan, tapi jika kamu mencuci tangan pake sabun tersebut dengan cara yang benar (tangan digosok dengan sabun sampai berbusa dan bilas dengan air bersih) ga ditemukan kuman berbahaya di tangan. Jika ada himbuan yang sifatnya seperti lebih pro ke sabun cair, itu untuk situasi khusus seperti di ruang operasi atau dokter gigi. Kalau untuk situasi sehari-hari, sudah cukup. So? ;)

Makin Banyak Tahu Bikin Hidup Engga Bisa Tenang, Makin Sedikit Tahu Bikin Hidup Lebih Bahagia ?

sad_cat.jpg

 

Akhir-akhir ini mengamati obrolan emak-emak, curhat mereka dan segala keluh kesah mereka. Selain obrolan di grup chat, juga mengamati seliweran opini dan curcolan di social media seperti twitter dan facebook. Awalnya dapat kesan, kenapa jadi emak-emak jaman sekarang sepertinya ribet banget dan dikit-dikit ngeluh ya? Selain ngeluh, gampang banget menemukan pro kontra antar mereka sendiri. Rasa-rasanya dulu pas kecil dan melihat ibu sendiri, kok engga ribet seperti sekarang.

Ada beberapa kemungkinan sih:

Jaman dulu ga ada media seperti twitter dan facebook, jadi kalau pengen curcol ya dikeluarkan lewat arisan/ngobrol di telpon, diary, atau ditelan sendiri.  Bisa aja toh, ibu-ibu kita dulu ya merasakan yang disuarakan emak-emak sekarang, tapi yang ngerti/tahu kalangan terbatas aja. Penyebaran informasinya ga secepat sekarang.

Kalau sekarang, rasanya semua informasi dijembreng di depan mata dan penyebarannya cepat sekali. Cukup share/RT dan dalam sekian detik, curcolan emak-emak dari Norwegia nyampe ke emak-emak di Bantul. Ditambah, dulu ibu-ibu kita terbatas sekali untuk mengakses informasi. Paling cepet lewat TV tapi itupun searah. Kalau lewat majalah atau koran, sebenarnya berita yang udah terjadi beberapa hari lalu.

Misalnya nih, mengamati ‘perang’ antara pro kontra ASI. Dari dulu sepertinya udah denger kampanye untuk ASI eksklusif, tapi baru sekarang denger istilah Nazi ASI gara-gara ada pihak yang gerah ama pro ASI tapi kampanye-nya judgemental dan hitam putih banget, hihihi.  Trus baca di blog ini, wow ternyata rame juga ya perdebatan antara jadi emak yang kerja di luar rumah atau di rumah aja. Mungkin dulu juga udah ada perdebatan serupa, minimal perdebatan batin dan omongan tetangga lah, hahaha.

Nah, pernah engga sih, timbul pikiran kalau sekarang ini rasanya jadi serba ribet dan ribut, gak seperti dulu. Terutama pas belum ada/belum kenal internet dan social media. Adanya internet dan media sosial memang membuat kita jadi lebih banyak tahu dibanding orang tua kita. Dari gizi hingga cara mengasuh anak. Hayoo siapa pernah debat ama orang tua karena perbedaan pengetahuan ini? :lol:

Tapi anugerah ‘lebih banyak tahu’ ini rasanya bisa jadi bencana, terutama ketika mengalami information overload alias kebanjiran informasi. Bingung, bingung, bingung, dan eneg, seperti itu rasanya, kalau aku sih. :mrgreen:

Sampai di sini, muncul pertanyaan. Betulkan sedikit tahu/malah ga tahu apa-apa bisa membuat kita lebih bahagia (karena jadi lebih tenang) ? Sementara kalau banyak tahu, yang ada malah hidup enggak tenang, bingung, serba kuatir, serba takut, paranoid.

Enggak tahu apa-apa rasanya tenang, tapi situasi demikian sebenarnya menipu lho. Tahu-tahu di ujung ada kejadian yang bikin sesak di hati. Baru deh menyesal, “Andai sebelumnya saya tahu…”

Nah, pilih mana deh?

Kalau pilih ‘lebih banyak tahu’, udah punya antisipasi biar enggak jadi paranoid, pencemas, dan bingungan?

 

PS. Gara-gara nulis ini, jadi timbul pemikiran. Sebenarnya yang dianggap pintar itu jangan-jangan hanya karena ybs lebih duluan tahu. Jadi menjadi pintar bukan perkara IQ, tapi duluan mendapatkan informasi. Nah, ‘bahaya’ kalau sampai rebutan untuk jadi yang pertama tahu. Kenapa hayo? Siapa yang pernah misuhin berita di Detik atau TV One? Lho hubungannya apa? Ya itu, soal siapa yang ‘duluan’ tahu, rebutan untuk jadi yang pertama tahu. ;)

Preambule: Apologi dari Emak-emak

kucing kaget.jpg

 

Haloooo, jumpa lagi bersama mmmmemet di sini *disambit receh*

Astaga, ternyata postingan terakhirku adalah 3-4 bulan yang lalu! Terlaluh! Ngapain kamu ngaku-aku jadi blogger, nak, pulang aja sanah! :lol:

Parah emang, padahal ada banyak bahan postingan. Yang paling seru tentu aja waktu menikah kemarin. Ada banyak yang bisa ditulis, dan harus saya tulis sebagai ucapan terimakasih. Yup, proses pernikahanku banyak banget dibantu para blogger yang menulis detail pernak-pernik pernikahan. Serius! So, sebagai ‘timbal balik’ udah diniatkan untuk menulis segala kerepotan menikah, siapa tahu bisa membantu yang lagi bingung stress nyiapin nikahan, hahaha.

Selain itu, entah kenapa, rasanya menulis di blog yang ini jadi beban. Beberapa tulisan terakhir, sifatnya serius. Trus jadi kebiasaan harus riset kecil-kecilan (baca banyak artikel untuk sumber referensi) biar lebih yakin dan ga asal omong. Jadilah males, karena waktu ‘selo’ juga ga banyak. Akhirnya ‘ngabur’ ke sini kalau lagi pengen nulis hal-hal yang terlintas dalam pikiran. Monggo lho, siapa yang kangen tulisanku dan mengira aku hiatus berbulan-bulan, sila tengok blog tumblr *sekalian promosi* :mrgreen:

Entah kenapa juga, jadi lebih sering menulis di blog yang satu itu karena merasa lebih lepas, lebih bebas. Ga pake mikir, ngalir aja nulisnya. Wah semestinya untuk blog yang ini juga demikian. Ada yang salah dong kalau sampai timbul perasaan menulis jadi beban, padahal aku suka banget menulis. Aku lebih cakap menulis daripada berbicara, wkwkwkwk.

Selain itu, perubahan status jadi ‘emak’ alias istri, sehari-hari berkutat di dunia ‘dewasa’ (dulu taunya seneng-seneng aja, mikirin diri sendiri, dan jangka pendek) bikin niat untuk ‘menyegarkan’ blog ini lagi. Kedepannya mau lebih ‘feminin’ alias banyak berisi hal-hal yang berkaitan dengan dunia perempuan, keluarga, lingkungan sekitar. Maunya sih diseriusin, tapi sampai sekarang aja masih bingung membahasakan diri di blog ini, lebih nyaman ‘saya’ atau ‘aku’ ya? (asal bukan ‘gue/gw’ nanti diledekin abis-abisan sama suami).

Sepertinya tulisan singkat ini bisa jadi ‘pembukaan’ untuk melatih lagi sense menulis. Menulis itu harusnya seperti menari, mengalir dan luwes. Harus dilatih biar makin luwes. Next, aku mau posting tentang compassion di world farming, berangkat dari kesedihan pas baca twit serialnya @tidvrberjalan tentang #sengsu. Serem dan menyedihkan.

Jadi bagaimana, lebih nyaman membaca yang mana sih, pakai ‘saya’ atau ‘aku’? :mrgreen:

Update. Barusan mati listrik dan datang kesadaran baru. Salah satu yang bikin males update di blog ini adalah, karena aku merasa harus nambah gambar! Proses nambah gambar itu ga cepet lho. Memilah-milah mana yang sesuai dengan konten tulisannya, belum kalau harus diedit segala. Sementara di tumblr, enggak pakai gambar pun ga peduli. Bener-bener nulis dibikin gampang.

PS. Blog itu ternyata media yang efektif untuk mendokumentasikan transformasi cara berpikir dan gaya berbahasa ya. Beberapa malam yang lalu, aku malu banget baca-baca postingan lama di blog ini. Bahasanya engga banget, sampai diledekin suami “ilat jowo medhok ae ber-gue gue”. Sumpah malu banget. Plus aku dulu naif banget, serba didramatisasi juga. Astaga. Ini pasti efek waktu kecil bacaannya Candy-Candy, Miss Modern, Pop Corn, Rose of Versailles, dan Jendela Orpheus dihayati banget sampai termehek-mehek. :P

Makan untuk Kebutuhan atau untuk Kesenangan?

Memperhatikan cerita teman-teman terutama tentang kondisi kesehatannya, terkadang suka terkejut-kejut. Soalnya, makin sering terdengar, masih muda usia tapi udah sakit asam urat dan kolestrol, penyakit yang sebelumnya lebih sering menjangkiti orang sepuh. Kini usia 30an aja bisa asam urat, seperti semalam saya dengar tentang tetangga kamar kos.

Penasaran sekaligus khawatir dengan diri sendiri juga sih. Penasaran, kenapa kok di usia semuda itu udah asam urat dan menumpuk kolestrol tinggi. Khawatir, jangan-jangan saya juga, terutama kalau mengingat makanan apa aja yang udah masuk perut. Iyah, kadang suka kebablasan, terutama kalau lagi pas pulang Jogja. Rasanya pengen cobain semua kuliner yang dikangeni dan ga ketemu di Jakarta, dari soto sampai mangut lele.

Alhamdulillah sih, sampai sekarang belum (tidak, jangan sampai nanti jadi iya) merasakan keluhan asam urat, kolestrol atau sejenisnya. Sehari-hari sih makan ya biasa-biasa aja. Berhubung anak kos, ya makan yang hemat aja jadi lebih banyak di warteg atau masak sendiri (kalau ga masak sendiri). Godaan paling banyak ditemui kalau lagi bergaul, tapi untungnya bukan jenis sweet tooth jadi ga ngileran dengan berbagai cake, coklat, dsb. Godaan paling berat itu kalau berhadapan dengan gorengan, sate klathak, rawon, dkk. (–“)

Nah kalau melihat pola makan saya di masa lalu, mmm..mmmm…mungkin yang perlu dikhawatirkan riwayat gorengan :| Secara maniak banget ama tempe (goreng, terutama tempe goreng tepung dan mendoan, wuooh tahu isi juga!). Kalau daging-dagingan, sepertinya ga terlalu sering.

Dari perenungan, sepertinya memang apa yang dijalankan di keluarga berpengaruh banget terhadap kebiasaan pola makan kita (yang akhirnya ngaruh ke kesehatan). Ini praduga aja sih. Karena walau mempunyai ibu yang sangat hobi dengan hasil laut yang berkolestrol tinggi (cumi, kepiting, kerang, udang) dan jeroan, tetapi bapak dari sejak saya SD, sudah membatasi asupan daging merah dan unggas. Apalagi jeroan, bisa dibilang sangat jarang. Paling kami ketemu jeroan dan yang enak-enak ‘haram’ itu kalau makan di luar. Tapi makan di luar juga jarang banget, karena bapak ibu dua-duanya jenis yang ga suka jajan. Walhasil lebih sering makan di rumah, makan masakan rumah.

Nah apakah itu yang membuat riwayat kesehatan saya -alhamdulillah- jauh dari asam urat, kolestrol, diabetes, dsb? Entahlah. Sampai sekarang saya juga ga ada pantangan jenis makanan tertentu, tapi saya suka diet. Diet dalam arti, menjalani pola makan sehat, lebih banyak sayur dan menjauhi lemak jahat, gula, dan sodium. Efek positifnya, selain kesehatan, lingkar tubuh juga ga terlalu melar (mengingat aktivitas sekarang lebih banyak duduk, nah ini lebih mengkhawatirkan saya), hemat (yeah, kalau lagi nongkrong di kafe, yang jadi pilihan saya biasanya malah yang harganya murah), dan sampai sekarang ga ada pantangan makanan. Yeah!

Secara pribadi sih, suka heran dan prihatin kalau ada yang mengolok-olok tipe seperti saya. Dibilang ga menikmati hidup karena makan aja dibatasi. Lha, daripada situ, dipolke sekarang tapi 5 tahun lagi, serba susah kalau mau makan, lha apa-apa ga boleh. Kalau nekat ya alamat masuk rumah sakit atau ngeluh-ngeluh tegang di belakang leher dsb.

Sebenarnya isu utamanya adalah mengendalikan keinginan. Antara apa yang dibutuhkan tubuh dan diinginkan lidah. Untuk ini saya mengacungkan 4 jempol untuk Jada Pinkett Smith, bojonya Will Smith. Di usianya yang udah 40an, tapi tubuhnya makin seksi dan ketika pakai bikini langsung bikin ngowoh, saking seperti pahatan indah. Dia bilang, di usianya yang makin tua, justru makin hati-hati dan dia beruntung karena dari sejak muda udah terdoktrin makan untuk nourishment, bukan untuk pleasure. Wakwaaww, itu berat lho, bisa mengkontrol keinginan seperti itu. Kelas begawan :lol:

Well pada akhirnya tulisan ini dibuat untuk mengingatkan diri sendiri, apa yang dilakukan sekarang akan dipanen bertahun-tahun kemudian. Dan saya penginnya bertahun-tahun kemudian masih bebas bisa makan apa aja, ga keberatan tubuh so masih bisa beraktivitas dengan enteng, dan ga menyusahkan orang lain. Sesederhana itu aja.

Lelaki Penikmat Hujan

rain-drops

 

Perempuan itu tertarik dengan sosok lelaki itu.

Didapatinya lelaki itu selalu di posisi yang sama saat hujan. Duduk di kursi yang sama, kursi yang menghadap jendela. Matanya lekat menatap bulir-bulir air di kaca. Diam tanpa sepatah kata. Berjam-jam memandangi hujan dan kabut turun.

Perempuan itu penyuka pemandangan. Masalahnya, di kota ini sulit menemukan tempat dengan banyak pepohonan dan tanaman hijau rimbun, gemericik air mengalir, dan harum udara basah ketika kabut turun. Satu-satunya tempat yang mampu mengobati kerinduan perempuan itu adalah tempat ini. Dan saat favoritnya adalah sore hari. Ketika kabut turun menyentuh pucuk dedaunan. Dinginnya semilir angin menghantar aroma khas pegunungan. Saat-saat seperti itu yang selalu dirindukan perempuan itu. Saat-saat yang mampu membasuh jiwanya yang letih.

Dan pada saat itu ia menemukan lelaki itu. Lelaki penikmat hujan. Selalu hadir di kursi yang sama dan lekat memandang udara kelabu. Perpaduan sendu yang entah bagaimana menggetarkan syahwat perempuan itu. Nalurinya terjamah oleh rasa ingin tahu.

Maka ketika ia menjumpai lagi lelaki itu, ia menyapanya.

“Hai, boleh aku duduk di sini?”

Lelaki itu menengadahkan kepalanya. Matanya berpandangan dengan mata perempuan itu. Perempuan itu menggigit bibir, mendapati tiba-tiba desakan kuat muncul dari dalam, membuatnya gelisah dan basah.

“Silakan, kursi ini selalu kosong,” ujar lelaki itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Perempuan itu segera duduk di depan lelaki itu. Mata lelaki itu kembali menatap kaca yang basah oleh air.

“Kau suka hujan? Apa yang menarik dari hujan, bagimu?”

Lelaki itu mengalihkan pandangannya. Menatap perempuan itu. Telapak kaki perempuan itu seperti tersetrum dan menjalarkan rasa panas hingga diantara dua pahanya. Lembab. Perempuan itu tanpa sadar menelan ludah dan melepaskan alas kakinya, menyentuh betis lelaki itu. Ketika sadar apa yang disentuh oleh ujung jari kakinya, perempuan itu kembali seperti tersetrum dan pipinya sekarang terasa hangat.

Lelaki itu bangkit dari duduknya. Di depan perempuan itu ia membungkuk hingga ia mampu mencium semerbak mawar gunung yang menguar dari belakang telinga perempuan itu.

“Ikut aku, aku akan ceritakan apa yang menarik dari hujan,” bisiknya. Perempuan itu menatap nanar dan mengangguk.

….

Perempuan itu berbaring meringkuk telanjang. Sisa-sisa keringat berembun di keningnya. Ditatapnya lelaki itu sedang mengenakan celananya.

“Aku harus mengejar hujan,” ucap lelaki itu sambil membungkuk dan mengecup kening perempuan itu.

Perempuan itu mencium aroma udara basah dari kabut yang menjamah dedaunan ketika bibir lelaki itu mendarat lembut di bibirnya.

Argo Parahyangan, Bandung – Gambir, 7 Mei 2013