Komunikasi di era 2.0: Lebih Sulit atau Lebih Mudah? (2)

5 Komentar

Bagian I-nya disini.

Setelah dibagian pertama membincang latar belakang masalah dan hipotesisnya, sekarang kita akan membicarakan karakteristik berbagai social media untuk menemukan solusi atas pertanyaan kita :D

Ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan sehubungan untuk memahami serba-serbinya berkomunikasi di era socmed ini:

  • Karakter tiap socmed itu berbeda

Misal, twitter itu bersifat lebih terbuka. Maksudnya, suatu diskusi/pembicaraan tidak terlokalisir seperti halnya tret plurk, sehingga dalam timeline lazim terjadi suatu pembicaraan tercampur dengan obrolan lain.

Mereka yang tidak sabaran/konsentrasi, sangat mudah terdistorsi dalam memaknai pembicaraan.

Selain itu interaksi di twitter tidak seintensif diplurk. Maksudnya, kita bisa saja sering sekali update status tanpa harus khawatir membanjiri timeline teman (flooding) karena apdetan kita dalam 10 menit sudah tenggelam ditimpa apdetan orang lain. Tetapi hal ini hanya berlaku bagi timeline mereka yang following lebih dari 200 orang. Kalau hanya 10 orang yang diikuti, ya tentu tidak. :mrgreen:

Tentang batasan sampai seberapa sering kita boleh update status tanpa mengganggu orang lain, memang tidak ada batasan baku. Disini kepekaan & kesadaran diri yang memegang kendali.

Komunikasi di twitter tidak menuntut adanya conversation yang intensif. Kita memang senang kalau twit kita ada yang menanggapi, tetapi ketika tidak ada yang menanggapi pun, tidak begitu masalah. Lain halnya dengan plurk yang memang menuntut adanya interaksi, karena tiap tret ada kolom respon. Jika tret yang kita buat lebih banyak tanpa respon, rasanya sepi sendiri tiada yang menemani… *lebay lagi* :mrgreen:

Jika dimisalkan mungkin seperti hidup berdampingan tapi tidak ada yang mengajak bicara sama sekali.

  • Motivasi yang melatarbelakangi seseorang ketika membuat suatu akun socmed

Pada akhirnya, memang tergantung motivasi seseorang, apa tujuan dia membuat suatu akun. Apakah untuk nyampah/katarsis, untuk ajang eksistensi, untuk interaksi / networking, untuk share, untuk senang-senang, dll. The underlying motives ini yang mewarnai bagaimana dia berperilaku di socmed sehari-harinya. Misal, ada yang getol mencari follower atau bagaimana. Tetapi menurut saya, motivasi ini bisa berubah seiring waktu.

Juga, penting diketahui dan dicamkan baik-baik, untuk terjun ke suatu socmed sama saja terjun/berinteraksi dengan crowd disitu. Ini soal cocok-cocokan saja, tidak usah memaksakan untuk terjun semua. Atau jika ingin terjun kesemua, kenali dulu karakter masing-masing, sehingga bisa berperilaku berkomunikasi sesuai tempatnya.

Solusi untuk komunikasi yang lebih sehat:

-          Harus peka, menyimak baik-baik (ini termasuk kemampuan listening), dan kemampuan pengamatan yang baik, untuk bisa menangkap apa yang tak terlihat/tersirat.

-          Pengendalian diri/awareness. Seringkali kita merasa ‘aman’ bahwa kita terlindungi topeng, sehingga jauh lebih bebas dalam menuliskan apa yang kita rasakan.

FYI, ada yang namanya TMI alias Too Much Information. Memang tidak ada aturan bakunya dan kadang-kadang bersifat sangat subjektif. Apalagi mereka yang berkarakter ekstrovert atau ingin nyampah, cenderung lebih terbuka mengungkapkan hal-hal personal.

-          Khusus untuk pengguna twitter, harus paham twitter usability, yaitu memeras apa yang ingin disampaikan dalam maksimal 140 karakter (fanabis, 2010).

Untuk diskusi silakan saya buka di bawah. Lagipula ini hanya asumsi, tidak didasarkan pada riset sama sekali. Jadi sangat terbuka untuk dikoreksi :D

Notes.

-          Mengenai komunikasi brand, itu beda lagi. Tapi yang perlu digarisbawahi, konsumen senang kalau komplen-nya atau apapun, ditanggapi dengan cepat oleh brand ybs. Brand itu bisa produk atau person loh.

-          Mengenai pencitraan, sekali lagi, tergantung motivasi awal si pemilik akun. Kalau untuk branding, jelas butuh pencitraan. Tetapi, IMO, kejujuran/otentik itu lebih disukai. Jadi, sudah sinkronkah antara di socmed dan real life?

-          Masing-masing socmed, seperti misal plurk dan twitter, punya caranya sendiri untuk mendongkrak ‘ego’ pemilik akun (aduh, lupa namanya). Contohnya sistem karma diplurk dan jumlah follower di twitter. Hal ini disadari/tidak menciptakan ‘kasta’ dalam dunia socmed dan cenderung mengakibatkan kecemburuan sosial.

Komunikasi di era 2.0: Lebih Sulit atau Lebih Mudah? (1)

15 Komentar

Postingan ini terilhami setelah mengamati kelakuan para pengguna socmed, khususnya twitter dan plurk, tapi tak menutup medium lain. Dari sini timbul pertanyaan besar:

MENJALIN KOMUNIKASI DI ERA 2.0 DAN SOCMED APAKAH LEBIH RUMIT DAN EMOSIONAL DARIPADA KOMUNIKASI DI REAL LIFE?

Alasannya:

  • Banyak ‘keributan’ di socmed, seperti soal follow-unfollow, flooding timeline,  atau RT abuser, menjadi topik yang sering sekali dibicarakan. Banyak sekali pengguna socmed yang mengeluh, yang merasa ‘sangat’ terganggu sehingga mereka komplain, curcol, nyindir, nggremeng, etc ditimeline mereka sendiri.
  • Keributan tersebut memang tidak sampai yang berdampak sosial yang massive, bisa jadi memang agak lebay/dilebih-lebihkan. Tapi ya gitu, dari pengamatan, selalu saja ada orang-orang yang terganggu.

Sebelum saya teruskan lebih lanjut, saya mendefinisikan dulu apa yang dimaksud dengan era 2.0. Saya merujuk pada Wikipedia, disini yang dimaksud dengan era 2.0 adalah web 2.0. Definisi web 2.0:

Web 2.0 adalah aplikasi web yang memfasilitasi interaksi yang lebih interaktif (dua arah) dari penyedia/pengisi konten dengan penikmatnya. Aplikasi tersebut selain memungkinan terjadinya dialog, juga information sharing dari dua belah pihak. Bisa dikatakan dengan aplikasi tersebut  dapat memunculkan dari diskusi hingga kolaborasi.

Dari pengamatan saya (yang termasuk juga pengguna socmed) muncul beberapa hipotesis/asumsi:

Berkomunikasi di era socmed dan 2.0 seperti sekarang ini membutuhkan skill komunikasi yang lebih daripada komunikasi biasa.

Mengapa? Karena berkomunikasi lewat tulisan, selain harus bisa menuangkan pikiran lewat bahasa tulisan yang bisa dipahami orang, juga harus bisa memahami nonverbal/yang tersirat dari sebuah tulisan. Non verbal itu bisa mencakup nuansa emosi, mengenali karakter seseorang dari tulisan-tulisannya, dll.

Kalau komunikasi ‘standar’, non verbal tersebut bisa kita lihat dengan mudah, seperti gesture, ekspresi wajah, dll. Ingat, bahwa non verbal dalam komunikasi malah justru mengungkap/berbicara jauh lebih banyak daripada yang verbal. Selain itu, berinteraksi dunia maya bisa jadi lebih rumit  karena kita bisa bersembunyi dibalik topeng/alter ego yang sengaja kita ciptakan.

Jadi lazim kita temui orang yang berbeda antara di dunia maya dan di dunia nyata. Apalagi jika menyangkut netiket (yang belum luas diketahui orang seperti halnya etika pergaulan di dunia nyata) dan pengendalian diri.

Dari kultur sendiri, masyarakat kita menurut para pakar lebih terbiasa dengan budaya lisan daripada tulisan. Walau banyak juga yang mengaku, lebih mudah mengungkapkan pikiran lewat tulisan daripada lewat verbal, tetapi hal tersebut tidak menjamin dia mempunyai skill komunikasi (tulisan) yang cukup baik.

Alasan lain yang mendasari asumsi diatas:

Dalam masyarakat online, suatu kabar/buzz lebih cepat menyebar daripada lewat medium komunikasi telepon genggam/sms, literally dari mulut ke mulut, apalagi pos merpati (halah).

Contoh, adanya trending topic di twitter dan viral marketing yang makin sering digunakan akhir-akhir ini.

Dari pengamatan, entah kenapa lebih banyak yang percaya adanya kabar yang belum jelas kebenarannya kalau disampaikan lewat media text (media televisi dan radio juga sih, tapi kita kan sedang membahas komunikasi tertulis) daripada yang sekedar bisik-bisik. Apa karena faktor komunikasi tertulis dapat terdokumentasi dengan baik, sehingga mudah dilacak/meninggalkan jejak daripada lisan yang cenderung lebih mudah dilupakan/sukar dilacak.


BERSAMBUNG KE BAGIAN SELANJUTNYA, KARAKTERISTIK KHAS TIAP SOCMED :goodluck:

Hore, Saya Diet dan Sukses!

21 Komentar

Judulnya seperti menawarkan produk MLM ya? :-?

:lol:

Berat badan selalu menjadi topik sensitif dikalangan perempuan, apalagi buat mereka yg merasa gemuk. Saya sendiri sebenarnya ga bermasalah dengan berat badan, tapi bermasalah dengan lemak berlebih didaerah 3P, perut, paha, pinggang, hehehe.

Gara-garanya membaca artikel dimajalah Prevention edisi bulan Juli. Disebutkan disitu, dalam dua minggu lemak diperut dan daerah bandel lainnya akan susut dalam 2 minggu dengan mengikuti diet south beach. Setelah membaca lebih lanjut, diklaim bahwa diet tersebut juga dapat menurunkan berat badan 4-6kg dalam 2 minggu. Penasaran dan skeptik, saya mulai gugling tentang apa itu south beach diet.

Setelah membaca beberapa situs tentang apa itu south beach diet, secara impulsif saya memutuskan menjalani diet tersebut. Motivasi awal untuk membuktikan, apa bener dalam 2 minggu bisa turun sampai 6 kg. Yang kedua, boleh deh menurunkan berat badan sedikit, kembali ke masa-masa 10 tahun lalu, melangsingkan perut buncit dan paha gebug maling, hahaha.

Jadilah selama 2 minggu saya pantang untuk menyantap daftar makanan yg termasuk larangan dalam south beach diet fase I. Saya ‘terpaksa’ memasak sendiri makanan saya, termasuk mengurangi keinginan/kebiasaan nongkrong di kafe. Itupun saya pun masih melakukan dosa-dosa yang dilarang Yang Mulia dr. Agatston, pencipta diet jenis ini. Dosa-dosa kecil itu misal, makan gorengan tahu-tempe (tapi gorengan masakan rumah kok, dan saya tahu bahwa minyaknya bagus, ga kilong-kilong yang berminyak banget) (halah pembenaran) :lol: , beberapa suap karbohidrat larangan spt nasi putih, roti tawar gandum, secuil puthu, sekerat roti, crackers. Juga buah pisang dan apel sebagai P3K ketika tidak ada avocado dan sayuran+daging/telur untuk dimakan (padahal buah masih dilarang).

Larangan lain selain lemak, karbohidrat terutama karbohidrat jahat, adalah gula, itu harom semua. Jadi mendadak saya punya kebiasaan baru kalo ke kafe, pesen teh tanpa gula sama sekali. Padahal dari balita, sumpah, saya ga doyan teh.

Yang saya santap selama dua minggu itu, sayuran berbagai jenis, daging tanpa lemak (dada ayam tanpa kulit & lemak, daging tanpa lemak, ikan) dan sumber protein nabati seperti tahu tempe. Sayuran itu selain dimasak ala tumis, gado-gado, pecel, atau sayur bening (walau kata dr. Tan penganut raw food sejati, sayur yang dimasak itu sia-sia, sampah, cuma dapet serat ga ada enzim). Atau kalo lagi males, sayuran mentah aja a la lalapan.

Untuk sumber protein hewani maupun nabati, bisa dimasak panggang oven, kukus, sop, atau campuran tumis. Dan satu lagi, telur. Ya, saya malah bebas makan telur.  Puji Tuhan, telur ini sungguh bermanfaat sekali bagi yang sedang diet, lapar, ga ada yang bisa dimakan (yang diperbolehkan) karena cara masaknya sungguh gampang. Tinggal bikin scramble egg dengan minyak zaitun/rice bran oil atau direbus. Untuk lebih jelasnya panduan tahapan south beach diet seperti apa bisa klik, disini.

Selain itu, karena kesibukan dan *agak malas ngegym* maka untuk olahraga saya usahakan untuk lebih aktif bergerak dimana saja. Entah jalan kaki, bersih-bersih rumah, nyikat kamar mandi. Pokoknya bergerak terus, sesuai fitrah kita.  Memang kurang sempurna sih, karena disarankan untuk melakukan workout seperti yang sudah diprogramkan dimajalah.

Setelah dua minggu, tepatnya Sabtu 17 Juli 2010, saya menimbang berat badan. Wow, saya cukup terkesima dengan hasilnya. Jika sebelumnya, berat badan saya ditimbang sekitar 52-54 kg (tergantung timbangannya hihi) pada saat ditimbang itu berat badan saya 47,5 kg! Wow, kembali ke masa SMU!

Selesai dari acara penimbangan itu, saya merenung mengenai apa yang saya lakukan selama dua minggu ini. Ada beberapa hal yang menjadi refleksi saya:

  1. Salah kaprah dalam diet: tujuan utama adalah ingin kurus/berat badan turun. Salah! Yang benar adalah untuk menjadi sehat dengan merubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Berat badan turun/menjadi langsing adalah bonus.
  2. Yang paling berat dalam diet adalah mengendalikan keinginan. Lapar selalu bisa dihandle. Tetapi yang namanya pengen, mungkin saja muncul pada saat kondisi kenyang. Apalagi yang kita diinginkan (gula, makanan berlemak, etc) belum tentu dibutuhkan tubuh. Jadi diet adalah tentang mengendalikan keinginan, bukan mengurangi porsi/puasa(*).
  3. Tentang mengendalikan keinginan. Walau ada idiom; what your resist, persist, tetapi dalam pengendalian keinginan ini tidak berarti me-resist keinginan kita. Resist dalam arti menolak, menahan, menahan, melawan. Itu mirip-mirip dengan denial, menyangkal. Pengendalian keinginan lebih seperti menyadari bahwa keinginan itu ada, tetapi tidak dituruti.

Ngaku aja memang ada keinginan untuk menyantap yang manis-manis, berlemak, etc, ngiler to de max terhadap cake, pie, pancake, donat, etc tapi tidak dituruti. Kalau dituruti tapi tahu porsinya yg cukup, misal cukup segigit saja. Pertanyaannya  when enough is enough?

Karena pengalaman terakhir saya, ketika diet fase I berakhir, pas saya melihat ada kue bolen Kartika Sari. Saya mengijinkan diri saya untuk menyantap satu. Tetapi habis satu biji, masih ingin lagi. Saya turuti lagi, jadilah makan dua. Eh ternyata saya jadi lapar mata, jadi pingin bolen lagi, pengen roti-roti manis dll. Aduuuh kenapa rasa ‘lapar’ saya malah makin menjadi kalau keinginan saya turuti ya? :P

Ternyata pengalaman dua minggu kemaren tidak sebatas pengalaman fisik saja, tapi juga menyentuh ke aspek rohani *halah*. Tapi beneran loh. Maksudnya, karena poin nomer dua diatas jadi mikir, sepertinya kita memang perlu diet disegala bidang. Misal diet belanja. Nah ini, kelaparan akan shopping ini nyaris ndak ada kata kenyang. Selalu ingin lagi, lagi, lagi, lagi…

Juga diet bicara. Seringkali kita bicara terlalu banyak bicara, saking banyaknya sampai hal-hal yg ga perlu dibicarakan, bicara juga. Saking banyaknya berbicara sampai organ telinga jadi jarang dilatih intensif untuk mendengar.

Hehe, itu contoh saja sih. Refleksi atas diri sendiri.

Pada intinya, diet (yang benar) itu baik. Tidak usahlah orang yang sedang diet dipandang sebelah mata. Pengen sehat kok dilecehkan. Apalagi memandang super heran melihat piring makan berisi daun kenikir, kemangi, dan bayam mentah. Biasa aja tho, orang pengen sehat saja gitu lowh.

PS. Ada keuntungan lain dengan saya menjalankan diet south beach ini. Awalnya saya merasa ini diet mahal, krn untuk fase I, bahkan buah untuk cemilan saja ga boleh. Untuk memenuhi makan 6 kali sehari, menunya antara sayur dan dedagingan, telur, aduh itu mahal nek. Tetapi ternyata dalam prakteknya, saya malah lebih irit. Kenapa? Karena saya otomatis jadi ngerem keinginan untuk kekafe menikmati berbagai dessert, diganti dengan menyantap berbagai cemilan sehat (termasuk salad dengan dressing yg lebih sehat). Dan kalau memang butuh ketemu di kafe, saya cukup pesan teh tanpa gula :lol:

Btw, kalau ingin berdiet apapun itu, saya sarankan untuk benar-benar mencari info lebih lanjut. Lebih baik lagi jika sambil berkonsultasi dengan ahli gizi dan atau dokter ahli.

(*) sebentar lagi ramadhan menjelang. Banyak disekitar kita, orang pada saat bulan puasa bukannya makin langsing tapi malah menggembil. Tanya kenapa? Karena tidak bisa mengendalikan keinginan! :lol:

Predators

11 Komentar

A W A S   S P O I L E R !

Predator dan Alien sejauh ini adalah monster favorit saya, sejak saya melihat pertama kali di film mereka Predator (1987, dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger) dan Alien II. Film-film itu saya tonton ketika saya masih kecil, masih SD, dalam bentuk home-video. Masih inget betul saya, pertama nonton Predator di rumah Bulik, malam-malam. Ketika pulang, saya terbayang-bayang mayat-mayat manusia tergantung dipohon, skinless alias telah dikuliti, dan saya tidak berani ke kamar mandi. :lol:

Saya semakin tergila-gila dengan sosok predator ini, setelah menonton sekuelnya dalam bentuk laser disc. Terpesona dengan sosok fisik mereka, kekuatannya, naluri bertarung dan membunuh mereka, dan adegan jaw-dropping dalam sekuel tersebut adalah ketika Danny Glover ‘terdesak’ di dalam pesawat para predator tersebut. Ternganga menyaksikan berbagai trophy, termasuk tulang alien (yang menjadi semacam dreams comes true, ketika Alien vs Predator dirilis).

Karena itulah ketika tahu Predators adalah semacam sekuel untuk film Predator-nya si Arnie, maka saya harus wajib untuk menonton film ini dibioskop setelah semua film-film Predator dan Alien saya tonton dalam bentuk cakram padat. Apalagi ketika tahu Adrien Brody ikut membintangi film ini, makin bulat tekad saya. FYI, saya jatuh cinta dengan akting Brody semenjak film The Jacket.

Setelah menyaksikan film ini, komentar saya: AWESOME, TWO THUMBS UP, 100% film laga. Ya, ini film laga sejati. Jadi jangan berharap cerita yang njelimet atau twisted. Dari segi special effect, cukup oke dong, untuk perwujudan sosok Predator. Apalagi ada predator spesies baru yang lebih sangar, eh atau itu ketua sukunya ya? Dari segi kesadisan dan kekejaman, mmm, menurut saya tidak terlalu sadis. Yah ada memang adegan daging segar, tulang dicerabut, darah muncrat, tapi yaaa….tidak sampai membuat dengkul lemas.

Selebihnya, cerita yang cukup kena menggali psikologis manusia ketika dihadapkan pada situasi yang tidak dikenal. Disini, dinamika kelompok, altruisme, psikologi kekerasan, dll ada semua. Juga pertanyaan mengena mengenai kemanusiaan: ketika dihadapkan pada situasi terdesak, apa yang akan kamu lakukan, menolong orang lain yang jelas-jelas membutuhkan pertolongan atau mengabaikan panggilan tersebut demi keselamatan nyawamu.

PS. Ketika rasa kasihan menjadi semacam kelemahan. Beberapa pihak yang cukup tega, bisa sekali memanfaatkan rasa kasihan demi keuntungan diri sendiri.

NB. Film ini sepertinya cukup ‘rasis’, deh. Ini tuduhan tak berdasar yang berlandaskan rasa bercanda. :lol:

Selain itu ada adegan pembunuhan yang mengingatkan dengan adegan dalam film Species. Adegan tulang belakang dicerabut dari manusia, hidup-hidup. :mrgreen:

Mau tahu adegan favorit saya? Adegan pedang-pedangan!  :mrgreen:

Standar Ganda = Munafik?

18 Komentar

Saya lagi kesel dan gak habis mengerti. Saya memang tidak suka dengan alay. Tapi saya juga ga bisa terima, kalo ada alay yang dicacimaki habis-habisan bahkan dibully karena ke-alay-annya. Tidak suka berbeda dengan benci, bukan? Atau sama? Entahlah, tapi ketika saya melihat seseorang/sesuatu yang tidak saya suka mendapat ketidakadilan perilaku, saya kok ndak bisa terima alih-alih senang.

Kita semua sepakat  (dalam teori)  bahwa bully, mengejek, kekerasan verbal, etc itu ndak bagus. Tapi dalam praktek, saya masih sering nemu, orang-orang yang melakukan hal-hal demikian simply because they dont like the person. Bukan karena orang tersebut berbuat jahat, bukan. Hanya karena tidak suka saja.

Dan parahnya, orang-orang yang melakukan hal tersebut justru orang-orang yang berpotensi bisa melakukan hal yang lebih baik daripada sekedar mengejek, nggencet, mengucilkan. Ya, mereka orang-orang yang cerdas, banyak teman, etc. Mereka punya power untuk berbuat baik, melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Misalnya, alih-alih nggencet, kenapa ndak memberitahu, mengajarkan, membimbing yang bersangkutan?

Apalagi jika yang digencet, dikucilkan, disindir, etc itu memang dia tidak tahu, atau memang masih belum dewasa, etc. Mengapa tidak bisa memahami latar belakang dia terlebih dahulu? Jika memang terganggu, kenapa tidak disampaikan dengan baik-baik dan secara asertif daripada dengan pendekatan agresif?

Saya sendiri mungkin juga pernah melakukan hal serupa. Standar ganda. Jadi antara apa yang saya omongkan berbeda dengan perilaku saya. Berbeda perlakuan antara teman-teman dekat saya dan orang lain. Jika itu memang terjadi pada saya dan kebetulan Anda tahu, tolong, tegurlah saya. Terimakasih.

Yakin, Pengen Punya Suami Seperti Habibie?

21 Komentar

Semua gara-gara twitter. Eh maksudnya begini. Semalam, berbarengan dengan acara Mata Najwa yang memutar ulang kisah cinta Habibie-Ainun Habibie, timeline lumayan rame dengan komentar mereka-mereka (umumnya perempuan) yang terharu. Para komentator ini komennya mirip-mirip, pada intinya mereka ingin mempunyai kisah cinta yang abadi sampai kakek nenek, dicintai hingga masa tua tiba, bahkan ketika maut memisahkan rasa cinta itu tak pudar. Bahkan tak sedikit perempuan yang berkhayal (?) ingin punya suami seperti Habibie.

Saya yang tidak menonton tapi cukup membaca timeline, jadi bertanya-tanya. Satu, ingin punya suami seperti Habibie itu yang gimana? Wajah/fisiknya mirip, pinternya yang seperti Habibie, kekayaan seperti Habibie, atau dicintai seperti Habibie mencintai istrinya Ainun? Kedua, tak habis pikir dengan mereka-mereka yang sepertinya terbuai oleh kisah cinta itu. Tidakkah terpikirkan prosesnya sehingga pernikahan itu bisa awet hingga kakek nenek? It takes two to tango, Ladies!! Anda, perempuan, tidak bisa mengharapkan suatu hubungan akan awet sampai 50 tahun kedepan, dan hanya pihak pria saja yang bekerja keras untuk mencintai Anda. Non sense!!!

Jadi geli saja sih, kalau yang dipikirkan untuk membentuk mahligai kisah cinta yang abadi seperti yang dilihat adalah suami yang mau mencintai hingga 60 tahun kedepan. Lha diri sendiri ngapain dong? Again, it takes two to tango!!! Apalagi, belum tentu dibalik layar kisahnya seperti apa yang terlihat. Mata itu menipu, Ladies. Mata itu menipu karena dia tidak melihat yang tidak bisa dilihat.

Jadi maunya suami seperti Habibie yang mencintai sampai maut tiba? Jadi maunya dicintai tanpa putus? Oh, gimme a break, Ladies.

Biarkan saya berbagi pengalaman saja. Saya pernah berada dalam kondisi dicintai tetapi tidak mencintai. Apakah saya senang? Sepertinya ya, karena saya mendapatkan -katakanlah- pengawal pribadi, psikolog, supir, etc etc. Tetapi apakah saya bahagia? Ternyata tidak. Lama-lama saya merasa hampa, tidak merasakan apa-apa dari hubungan yang dijalani. Hanya sebatas kesenangan semu.

Tentu saja saya pernah mencintai. Dan benar adanya, ungkapan yang pernah saya baca di buku tentang sufisme, bahwa kebahagiaan itu ada pada mereka yang mencintai. Biarpun Gibran berkata, bahwa cinta seperti sayap dan dibaliknya terdapat pedang-pedang tajam yang siap melukaimu ketika sayap tersebut merengkuhmu, tetapi darah yang mengalir sangat berharga. Itu darah kebahagiaan, Jendral. Call me lebay. But thats true.

Ketika saya mencintai seseorang, saya cenderung akan berusaha membuat dia bahagia. Dan my ultimate happiness is, i’m happy when he’s happy. Although he doesnt love me. I’ve been there, i’ve been done that. Hancur mengetahui cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. Tetapi jika diingat-ingat lagi bagaimana saya mau melakukan apa saja untuk membuat dia bahagia, nyaman, tercukupi kebutuhannya, saya bahagia. Perasaan yang lebih dari sekedar emosi, perasaan yang sangat dalam.

Dicintai itu hanya memberikan rasa aman. Mencintai, akan membuatmu menjadi manusia seutuhnya.

Dan untuk sebuah kisah cinta yang langgeng, dibutuhkan kerja keras dari semua pihak yang mencintai. Give and give. Termasuk mencintai segala kekurangannya dan tidak banyak menuntut. Can i? Can you?

(N)Etiket di Plurk (dan Social Media Lainnya)

44 Komentar

Kalau selama ini banyak postingan blog yang menulis aturan dan tata krama ‘bermain’ di twitter terkait dengan banyaknya ‘pelanggaran’, di plurk ternyata juga butuh aturan lho.

Oke, bisa jadi plurk sudah beberapa lama ini kehilangan pamornya, kalah oleh twitter yang gegap gempita oleh kehadiran seleb dunia maya maupun dunia nyata. Jangan salah, plurk masih bertahan. Kalau dalam lingkaran pertemanan saya, yang masih aktif di plurk biasanya adalah para loyalis plurk yang sudah kadung cinta dengan akrabnya interaksi di plurk. Mereka sudah menjalin persahabatan (ceileh) yang cukup lama yang berawal dari ngobrol di plurk. Teman memang bertambah, tapi biasanya karena sudah terjalin interaksi di tret orang atau sudah sering melihat/membaca respon ybs diberbagai tret, lalu tertarik untuk meng-add dan –wala- akhirnya berteman di plurk.

Meski dua hal demikian adalah faktor yang membuat plurk ‘eksklusif’ tak berarti tak ada wajah-wajah baru di plurk. Sehubungan dengan wajah-wajah baru di plurk, ternyata fenomena ngalay juga ditemukan di plurk. Begitu juga dengan efek sampingnya, penyalahgunaan plurk sebagaimana halnya dengan twitter. Tetapi plurk-abusing agak berbeda dengan twitter. Jadi di plurk, yang mengganggu adalah respon plurker-plurker ABG itu. Biasanya mereka minta direspon balik dengan kata-kata: “resback”“respon balik eaaa”“r e s p o n” dengan ditulis satu-satu perhuruf. Mereka dalam menge-plurk isi tretnya kebanyakan berisi, “respon dong” dsb yang mirip-mirip seperti itu.

Nah tret plurk Mas Yahya mengingatkan kembali fenomena ngalay tersebut. Sebelumnya harap dicatat, penggunaan kata ngalay disini tidak bermaksud mendiskreditkan/melecehkan kelompok tertentu. Pemilihan kata tersebut sengaja karena bisa menggambarkan fenomena tertentu yang lazim disebut alay dimasa sekarang.

Jadi Mas Yahya pagi tadi ngeplurk, bahwa ia merasa ga pede latihan bareng orang lain yang cukup talented, setelah sekian lama tidak pegang gitar. Disini jelas, isi plurk Mas Yahya itu adalah mengungkapkan kegalauannya. Plurker yang peka, tentu saja akan memberikan respon/jawaban yang sesuai dengan stimulus, yaitu bersimpati/memberi dukungan. Tetapi ada satu plurker yang merespon dengan emot ceria (tidak nyambung dengan isi tret) dan “respon”. Dan tidak cuma satu kata tapi banyaaaak. Setelah ditelisik, ternyata ia memberi respon sejenis ditret-tret lainnya, betul-betul nggak ada yang nyambung dengan tret. Isi plurknya pun setali tiga uang, kalau nggak “respon dong” ya plurk tentang karma. Bahkan yang berisi curcolan pun jarang, jadi jangan harap menemukan plurk yang inspiratif.

Tentu saja ini menggelitik saya. Maksudnya begini, saya sebagai plurker yang aktif semenjak tahun 2008 (lupa), saya merasa bahwa kegunaan plurk adalah untuk menjalin interaksi/komunikasi, seperti halnya media sosial lain. Kegunaan lain dari plurk yang sangat saya suka adalah, interaksi/percakapan yang terjadi bisa mengarah ke diskusi. Walau begitu, tidak semua interaksi di plurk bersifat serius, banyak pula terjadi percakapan yang bisa menjurus ke silaturahmi atau bahkan curhat/minta pendapat. Nah dengan adanya fenomena ngalay begini, membuat saya heran, apa ya yang ada dalam benak mereka ketika join plurk. Apalagi ketika mereka bersinggungan dengan komunitas plurk yang tidak meng-alay, tapi mereka dalam berinteraksi masih bertahan dengan gaya alay-nya.

Ada satu catatan, beberapa waktu lalu diberi link oleh Hera. Link tersebut adalah tret plurk seseorang, yang isinya biasa saja sih, curhatan katarsis dia. Nah ada plurker yang merespon ngalay, lalu ditegur oleh yang lain, memberitahu bahwa model berinteraksi seperti itu tidak sepantasnya di plurk. Plurk adalah untuk menjalin interaksi, silaturahmi, diskusi, insight, bukan sekedar mengejar karma. Lhadalah, plurker yang ditegur tersebut tidak terima dan bersikap defensif. Yang terjadi, respon ditret tersebut berlanjut hingga 1000an respon. Malah si plurker tersebut seperti disudutkan beramai-ramai oleh komunitas plurker yang tidak setuju dengan gayanya si plurker.

Dalam hal ini sebenarnya ada issu lain yang lebih serius, daripada sekedar bagaimana merespon yang baik dan benar di plurk. Yaitu tentang bagaimana mengasah kepekaan terhadap orang lain, kemauan untuk ‘mendengarkan’ orang lain, dan respect/penghormatan kepada orang lain. Saya jadi agak prihatin dengan kelakuan plurker (maupun tweeple juga sih) yang tidak menghiraukan netiket, dan ketika diberitahu masih juga bertahan dengan sikapnya. Dari ngobrol-ngobrol dengan beberapa plurker, ternyata ada issu lain yang lebih besar. Masalahnya tidak sesederhana yang saya kira.

Dibalik fenomena ngalay tersebut ada issu tentang minimnya pendidikan karakter yang diterima remaja Indonesia sekarang, kurikulum sekolah di Indonesia yang terlalu berat tapi hanya terfokus untuk mengasah aspek kognitif saja, aspek afektif dan konatif diabaikan, juga interaksi antara anak, orang tua, lingkungan sekolah, hingga masyarakat. Dari obrolan tersebut, terungkap juga, bahwa menjadi orang tua sekarang tantangannya sungguh berat. Setiap pilihan yang harus mereka ambil semua mengandung resiko yang cukup berat.

Katakanlah kita menuduh anak-anak yang kepekaan sosialnya rendah dikarenakan orang tua yang tidak becus mendidik, terlalu sibuk bekerja. Lha, ternyata orang tua bekerja juga demi pendidikan (formal) si anak, demi supaya bisa sekolah di tempat yang baik dll. Konsekuensi pendidikan yang bagus di era sekarang adalah biaya yang mahal. Untuk itu orang tua harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan yang satu itu. Belum ternyata kurikulum di sekolah tidak mendukung si anak mengembangkan EQ, SQ , dan AQ.  Ternyata tidak sesederhana seperti yang  dilihat semula, bukan?

Lantas bagaimana kita harus bersikap terhadap pengguna socmed yang bersikap ngalay? Melihat reaksi tret plurk yang sampai seribuan hanya untuk memberitahu seorang remaja belasan tahun, mungkin yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan mereka lebih dulu, menyelami dunia mereka, untuk mendapatkan pemahaman. Namanya juga beranjak remaja, lhawong anak TK saja sudah pandai membantah je, apalagi remaja, dikasih tahu apa yang baik untuk dirinya. Ego yang sedang besar-besarnya tentu menolak nasehat-nasehat dari orang tak dikenal tersebut.

Saya juga ndak suci sih, saya sering kok emosi ples geregetan kalau menghadapi yang model seperti itu. Tetapi senyampang ingat, tidak apa bukan kalau mengingatkan, hihihi. Nanti saya juga boleh kok, diingatkan.

Jadi siapa bilang plurk udah ketinggalan jaman? Plurk asik tauk, untuk diskusi dan mendapatkan insight. *kabur*

PS. thank you berat untuk jazzaddict yang udah berbaik hati mencarikan tret gila-gilaan tersebut  :lol:

Solo, Kota yang Ramah untuk Pedestrian

18 Komentar

Tanggal 5-6 Juni lalu, saya dan beberapa teman Cahandong dolan ke Solo dalam rangka menghadiri acara Bengawan, Solo Sharing Online dan Offline. Seperti biasa, tripping (hah, kok tripping ya, its so laaast decade, isnt it?) kalo bareng Cahandong itu diisi dengan kegiatan ngakak dan berbagai kebodohan yang mencerdaskan. Tetapi bukan itu yang hendak saya ceritakan di sini.

Jadi begini. Walau Solo dan Jogja hanya sejarak 45 menit dengan kereta Prameks, tetapi saya ini jarang main ke Solo. Jadi kunjungan ke Solo awal Juni kemarin cukup menyegarkan memori saya. Kesan saya tentang Solo adalah kota yang ramah terhadap pejalan kaki. Kesan itu sangat terasa begitu turun dari Stasiun Purwosari. Tempat penginapan kami terletak di Jl. Slamet Riyadi, sebuah pilihan yang cukup ‘strategis’ karena terletak dipinggir jalan protokol. Dan yang terutama bagi kami (yang tidak membawa kendaraan tapi berhasrat untuk jalan-jalan) yaitu akses kemana-mana dari Jl. Slamet Riyadi cukup mudah, baik dengan jalan kaki, becak, maupun taksi.

Selesai dengan penginapan, ceritanya kami mo ngirit nih, kami memutuskan utnuk berjalan kaki ke tempat seminar Solo Sharing Online dan Offline berlangsung. Duapuluh menit pertama kami cukup menikmati jalan-jalan kami di trotoar yang memang dikhususkan untuk pedestrian. Trotoar sepanjang Jl. Slamet Riyadi sangat lebar (diksi ‘sangat’ memang subjektif, tetapi bagi saya, itu termasuk lebar jika dibandingkan dengan trotoar di Jogja yang habis untuk lahan parkir) dan –ini yang paling menyenangkan- teduh. Banyak pepohonan besar yang rimbun, cukup memberi keteduhan bagi kami pejalan kaki maupun yang pengen kongkow-kongkow. Jadi meskipun hari itu cukup cerah dan panas, kami cukup terbantu oleh teduhnya pepohonan. Apalagi sepanjang jalan ada penjaja makanan kaki lima dan kadang bangunan kuno nan antik yang menyenangkan untuk dipandang.

Tetapi dasar kami manusia kota yang kamso, setelah lebih dari 20 menit berjalan kami mulai kepayahan. Melewati Taman Sriwedari, kami bertanya-tanya, kok tidak melihat tanda-tanda digelar suatu seminar. Sementara menurut beberapa pedagang kaki lima yang kami tanyai, Grha Solo Raya ya di Taman Sriwedari itu. Kami terus berjalan hingga melewati Museum Radya Pustaka. Lho, kok sudah lewat museum nih, sudah jauh dan belum melihat tanda positif. Untung kami melihat seorang polisi (polisi pariwisata?) yang sedang duduk santai di depan gerbang Taman Sriwedari. Puji Tuhan Haleluya, dari polisi tersebut kami mendapat keterangan yang cukup jelas bahwa tempat yang kami tuju masih jauuuuhhh…

Jadilah kami akhirnya mutung dan menggunakan becak. Ternyata memang jauh (untuk ditempuh dengan jalan kaki) dan kami cuma ngekek-ngekek membayangkan andai kami tetap nekat jalan. Gemporrrr bok

Malamnya kami kembali mengulangi petualangan berjalan kaki menikmati kota Solo. Jadi selesai dari wisata kuliner menikmati timlo solo Marto, kami memutuskan pulang ke penginapan dengan berjalan kaki. Coba tebak berapa lama waktu yang kami tempuh? Kurang lebih 45 menit, saudara! Itu jalan kaki santai lho. Tetapi selama 45 menit itu kami cukup menikmati dan enjoy. Padahal waktunya sekitar menjelang tengah malam. Alasan utama bukan soal ngirit, hehehe, tapi ingin membakar lemak gara-gara wisata kuliner selama seharian di Solo. Keuntungan lain yang didapat, dengan berjalan kaki ternyata kami lebih bisa menikmati Solo dari dekat.

Sepanjang Jl. Slamet Riyadi waktu malam, cukup ramai dengan berbagai aktivitas warganya. Dari yang sekedar nongkorng pacaran (kami sempat memergoki pasangan yang sedang duduk mesra atau bahkan marahan), aktivitas klub (ada beberapa klub motor yang cukup bising), hingga mereka yang menikmati jajanan sepanjang jalan. Memang Jl. Slamet Riyadi, ndak siang ndak malam menyediakan banyak jajanan kaki lima yang menarik untuk diicip. Dulu malah saya menemukan sate kere alias sate tempe gembus di dekat Taman Sriwedari. Para penjaja kaki lima yang saya amati, cukup menjaga kebersihan lokasinya berjualan. Dan selama 45 menit kami membakar kalori, tak terasa kami sudah sampai hotel. Pengalaman yang cukup menyenangkan, dan yang patut diacungi jempol adalah tentang keamanan. Kami merasa cukup aman untuk berjalan-jalan tengah malam itu.

Paginya, sambil bersiap-siap menanti Pakde Blontank menjemput kami, saya kembali terkesan dengan Jl. Slamet Riyadi. Ternyata tiap hari Minggu, jalan tersebut bebas kendaraan bermotor dari pukul 6-9 (eh ato pukul 10 ya, lupa). Jadilah pagi itu banyak sekali warga Solo yang beraktivitas olahraga, jalan-jalan, bersepeda, jajan, dll.

Saya mengacungkan jempol untuk walikota Solo, Jokowi, dan pihak-pihak terkait. Mereka cukup berhasil memberikan kesan pertama bagi wisatawan yang datang ke Solo, dengan kesan yang cukup baik. Untuk catatan, sebagai ujung tombak pariwisata, tukang becak, sopir taksi, dll semestinya juga mendapat pembinaan bagaimana seharusnya melayani pelanggan/wisatawan. Selama perjalanan kemarin cukup baik sih, tidak mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan. Bravo, Solo!

PS.

Kesan lain yang saya tangkap tentang Solo, sepertinya Solo sedang mempersiapkan diri sebagai kota MICE (meetings, incentives, conferences, and events). Dimana-mana saya mendapati spanduk/umbul-umbul event yang sedang dan akan digelar di kota tersebut. Mengenai Solo sebagai tujuan wisata kuliner, saya sepenuhnya mengamini. Banyak banget tempat makan yang musti dicoba, apalagi mereka yang mengaku lekkerbek. Kekayaan kulinernya luar biasa, bahkan saya dengan mudah menjumpai warung masakan babi dengan beragam variasi, seperti sate buntel babi hingga bakso babi.

Kalau foto-foto sungai, itu adalah sungai Bengawan Solo yang legendaris itu. Saya beruntung berkesempatan mencicipi acara spesial Solo Sharing Online dan Offline, susur sungai Bengawan dengan perahu karet. Seru banget, tapi disisi lain, aduuuhhh kotornya itu sungai… Bahkan pada waktu landing (eh apa ya sebutan ketika perahu mendekati daratan untuk merapat) saya jinjo gilo setengah modyar (tapi ga kelihatan dong diekspresi wajah saya) karena saya melihat di tepi daratan ada sisa-sisa pup… Kyaaaaaa…!!!

Moral a la Selangkangan

18 Komentar

Rupanya benar saya terlalu naif. Semenjak rame-rame launching video mirip Ariel awal Juni, ternyata hingga sekarang tanggal 18 Juni masih heboh berita tersebut. Saya waktu itu berpikir dalam hitungan hari (tiga hari lah) publik segera lupa dengan skandal seks tersebut, sebagaimana yang lazim terjadi dengan berita bencana, korupsi, etc. Ternyata dua minggu dan masih heboh, hingga menteri, pemimpin daerah, hingga paranormal angkat bicara.

Saya benar-benar tak habis pikir. Kenapa soal skandal seks saja sampai sebegitunya diributkan. Tadi pagi berita tentang gempa di Sentani Papua, adem ayem saja. Padahal tingkat kerusakannya cukup parah. Gempa Padang, yang beberapa waktu lalu saya kesana ternyata masih belum beres, juga hening tidak ada yang mempermasalahkan.

Apakah benar ini negara yang munafik, negara dimana para pengambil keputusan lebih demen mengurusi masalah moral daripada kesejahteraan masyarakatnya? Sudah begitu, masalah moral pun direduksi ke urusan selangkangan saja. Sedangan yang berurusan dengan hati dan ego, tidak disentuh/dipermasalahkan.

Karena masalah selangkangan juga, apa yang tidak lazim maka dicap/didiagnosa abnormal, thus dihakimi. Apakah kalau bercinta lantas divideokan, maka hal tersebut abnormal? Padahal hal begitu juga bisa sebagai metode untuk penambah gairah, sama halnya seperti ketika bercinta dikamar yang penuh dengan cermin. Tidak lazim? Lantas disebut aneh dan abnormal, gitu?

Lantas, yang lazim seperti korupsi berjamaah, nilep dana rakyat, itu normal karena banyak yang melakukannya? Karena normal, maka tak usah dihakimi, begitu?

Oh, baiklah. Sepertinya negeri ini butuh revolusi moral. Butuh mata ketiga yang lebih bisa melihat apa yang tidak terlihat, seperti hati dan ego. Karena selangkangan bisa dilihat dengan mata telanjang, dan hmmm…bikin jantung berdebar-debar…

Gambar diambil dari sini.

Lebih Mudah Mengajarkan Sex Education pada Anak daripada Mengajarkan Spiritual

14 Komentar

Beberapa hari lalu, saya sedang mendampingi keponakan saya yang berumur lima tahun nonton televisi. Televisi lokal, kepunyaan ormas keagamaan yang cukup besar dan berskala nasional. Waktu itu acaranya menyiarkan boneka animasi, kisah Nabi Luth, Sodom dan Gomorah. Awalnya saya tidak terlalu sadar apa yang mereka tonton, karena berpikir acara animasi dan kisahnya mengandung muatan agama. Tetapi sejurus kemudian saya tersadar, hei ini kisah tentang Sodom Gomorah, umat Nabi Luth yang diazab Tuhan karena mereka lebih memilih menjadi homoseksual.

Yang saya pikirkan kalau nanti ponakan saya bertanya-tanya tentang apa itu homoseksual. Saya berpikir keras mencari bahasa yang sesuai untuk anak lima tahun, untuk menjelaskan apa itu homoseksual.

Ternyata, yang mereka tanyakan malah lain. Mereka lebih tertarik dengan adegan penghukuman, ketika kaum Sodom Gomorah diazab. Dan pertanyaan Lila, membuat saya terhenyak, “Tante, itu mereka kok dilempari batu kenapa Tante? Kenapa kok lehernya putus, Tante?” (pas ada visualisasi kepala tertimpa batu dan putus, kepalanya jatuh menggelinding).

Saya terhenyak, bingung menjawabnya. Mau menjawab, ‘mereka dihujani batu karena mereka dihukum oleh Tuhan’ kok hati nurani saya tidak setuju. Saya kok tidak ingin mengenalkan Tuhan yang Maha Penghukum (karena sesungguhnya Ia Maha Cinta dan Maha Pengampun) kepada anak-anak. Saya tidak ingin mengenalkan konsep hukuman dan dosa dalam usia dini, karena saya tidak ingin ponakan saya diajarkan rasa takut kepada Tuhannya. Saya ragu, bimbang, bingung!

Ada alasan tersendiri, mengapa saya enggan mengajarkan (?) konsep tentang hukuman Tuhan dan kaitannya dengan dosa kepada anak-anak. Saya tidak ingin menanamkan ketakutan/rasa takut pada mereka sejak dini. Dari apa yang saya yakini, manusia sudah terlalu lama, dalam kurun ribuan tahun, didoktrin oleh rasa takut terhadap Yang Maha Pencipta. Rasa takut yang turun temurun itu menjelma dalam ingatan kolektif, muncul menjadi rasa takut kolektif. Padahal, rasa takut itu (bisa jadi) adalah motivasi mendasar orang dalam merespon/bereaksi/bertingkah laku. Jika mereka dalam memandang segala sesuatunya sudah diberi bingkai ‘fear’ maka perilaku yang tercetus pun didasari oleh rasa takut tersebut.

Misalnya, contoh paling gampang. Menimbun kekayaan pada umumnya didorong oleh kekhawatiran akan ketidakamanan finansial. Takut dan khawatir bahwa kehidupannya tidak terjamin. Perilaku yang muncul bisa korupsi, pelit, tamak, etc.

Contoh lain, posesif. Biasanya didorong oleh rasa takut kehilangan/takut disakiti, dll. Perilaku yang muncul bisa berbentuk over protektif, penuntut, dll. Benci juga didasari oleh rasa takut. Misal, perilaku rasial, diskriminatif, iri, dsb sebenarnya karena ybs takut jika orang lain katakanlah lebih hebat dari dirinya, takut jika dirinya akan didholimi oleh pihak lain yang lebih unggul, dsb.

Saya percaya, jika manusia terbebas dari rasa takut, maka ia akan memunculkan dirinya yang lebih otentik, genuine, asli dari dalam dirinya. Dan seperti yang saya percaya, lawan dari rasa takut bukan berani, tetapi cinta. Perilaku yang didasari oleh cinta, tentu sangat berbeda daripada perilaku yang didasari oleh rasa takut. Dan yang lebih penting lagi, jiwa yang penuh cinta adalah jiwa yang bebas, tak lagi dibelenggu rasa takut. Bayangkan, apa yang bisa dilakukan oleh jiwa yang bebas ini terhadap pihak lain?

Kembali ke soal ponakan. Ternyata menjelaskan tentang nilai-nilai spiritual sejak dini kepada anak-anak, tidaklah mudah. Jauh lebih mudah mengajarkan tentang ritual. Tetapi mengajarkan ritual semata kepada anak-anak maka hingga kelak mereka dewasa, berbahaya. Yang tertanam nantinya adalah dogma/doktrin. Dogma/doktrin bukan landasan yang kokoh bagi keimanan/kepercayaan. Bagi saya sudah cukup mengajarkan dogma kepada anak-anak. Generasi mendatang harus lebih baik dalam pemahaman beragama daripada generasi sebelumnya.

Sayangnya, yang saya lihat masih sedikit orang tua yang sadar akan hal ini. Bisa jadi, karena dari diri kita pun juga belum menyadarinya. Hal seperti ini tidak seperti kecemasan tentang cara mendidik tentang seks kepada anak-anak. Pendidikan seks, lebih mudah dibayangkan daripada pendidikan tentang spiritualitas. Dan wajar saja, jika kita lebih menyadari apa yang mudah dibayangkan daripada yang sulit dibayangkan.

Entri Lama