The Plus Project

6 Komentar

“Orang miskin dilarang ke rumah sakit” oleh Acheng Watanabe, dari blog kocak dan menggelitik “BlogSindiran”.

Beberapa bulan yang lalu, lupa bulan apa, tapi yang jelas sebelum aku muvon ke Jakarta bulan Juli 2011. Kalau tidak salah sekitar bulan Maret-April, aku didiagnosa terkena tumor jinak payudara. Alhamdulillah, bulan Mei aku menjalani operasi “ringan” dan sukses. Ringan, karena hanya berlangsung setengah jam, dan dalam dalam dua hari udah boleh pulang. Yang bikin nggliyeng itu efek obat biusnya. Dioperasi pagi pukul 6.30, siuman di kamar sekitar pukul 7, langsung mual-mabuk hingga siang/sore.   :lol:

Sudah lewat lebih dari 6 bulan pasca operasi, alhamdulillah baik-baik saja. Semoga sehat terus selamanya yah, doakan saya, amiin. Kuncinya adalah deteksi dini. Seriously, i mean it with my words. Sebagai orang yang pernah mengalami sendiri, jadi tahu bener gimana rasanya.

Sebenarnya, gejala tumor ini udah kerasa 2 tahun lalu. Waktu itu krasa ada benjolan di payudara, sewaktu ‘iseng’ melakukan SADARI (periksa payudara sendiri). Jujur, waktu itu mulai merasa galau, ketika benjolan itu nggak hilang-hilang. Apalagi, makin lama benjolan itu makin terasa, dan sepertinya makin besar. Waduh, galaunya, masyaallah. Galau, puspas, cemas, resah, gelisah, takut, semua campur baur jadi satu. Yang aku lakukan pada masa-masa itu, sama seperti yang dilakukan kebanyakan orang lain, dipendam sendiri alih-alih periksa ke dokter. Alasannya, takut.

Hingga kemudian, mendengar kabar, teman masa SMU sedang di Jogja menjalani operasi tumor payudara. Pas njenguk bareng-bareng, eh lhoh kok ternyata ga cuma aku dan temen ini yang kena tumor, tapi ada satu lagi temen yang juga didiagnosa tumor. Kami semua bertiga, gejalanya beda-beda. Setelah mendengar sharing dua temanku ini, keberanianku mulai terkumpul untuk pergi ke dokter memeriksakan diri. Dan memang butuh beberapa kali konsultasi dan juga pemeriksaan laboratorium untuk bisa sampai ke kesimpulan diagnosa tumor jinak.

Well, sharing pengalaman tadi adalah sekelumit contoh nyata, bahwa deteksi dini dan pencegahan adalah kunci penting untuk menjaga kesehatan. Siapa yang tidak setuju bahwa kesehatan/menjadi sehat itu lebih enak-lebih baik daripada sakit? Kalau sakit, jangankan untuk beraktivitas, bahkan makan makanan yang kita suka pun jadi ga nikmat lagi, karena nafsu makan kita hilang. Atau malah jadi pantangan/larangan. Belum lagi materi yang dikeluarkan untuk kesembuhan, juga beban psikologis ketika kita merasa bosan atau tidak berdaya dengan penyakit yang bersarang di tubuh kita.

Yang aku herankan, semua orang setuju bahwa sehat itu lebih baik daripada sakit. Tetapi, tidak semua melakukan upaya untuk menjaga kesehatannya. Kesehatan itu memang anugerah, tapi bukan berarti lantas boleh ‘dihambur-hamburkan’. Harus dijaga juga dong lah. Lebih lucu lagi ketika ada orang yang mencemooh orang lain yang sedang menjaga kesehatannya, entah memang menjaga pola makan atau gimana lah, tapi malah di-demotivasi. Dibilang, tidak menikmati hidup lah, jangan serius-serius lah seperti orang tua, dan banyak lagi label. Malah bangga gitu, pamer, kalau sedang melakukan hal-hal yang dapat merusak kesehatannya. Lha maunya tu apa e? Sungguh saya gagal paham.

Oke, selain upaya individu, ada faktor eksternal lainnya yang berpengaruh terhadap kesehatan seseorang. Maksudnya begini, kita yang di kota-kota besar saja, ketika sakit/bermasalah dengan kesehatan, malas untuk berkonsultasi dengan dokter, bagaimana dengan saudara kita yang di pedesaan? Apalagi ada data yang menyebutkan bahwa 70% masyarakat Indonesia tinggal di pedesaan. Kita yang di kota dan termasuk well-informed saja masih banyak miss dengan informasi kesehatan, apalagi yang masih di pedesaan dan akses terhadap informasi masih terbatas. Kalau kita yang well educated saja masih banyak yang percaya dengan mitos kesehatan dan pseudo-pop-science, bagaimana dengan masyarakat di pinggiran yang akses terhadap fasilitas kesehatan seperti rumah sakit saja susah.

Kalau banyak orang bilang, bahwa kesehatan itu mahal, yang benar adalah sakit itu mahal. Contoh ya, biaya untuk operasiku kemarin saja 10 juta lebih. Komponen kamar cuma sebagian kecil dari keseluruhan biaya. Paling besar adalah biaya obat dan tindakan operasi. Bayangkan jika masyarakat dari golongan kurang mampu mengalami sakit serius dan membutuhkan tindakan segera. Jangankan biaya, bahkan untuk ke rumah sakit saja harus menempuh puluhan kilometer. Walaupun kita sudah pernah mendengar program kesehatan dari pemerintah untuk membantu masyarakat menengah ke bawah, tapi realisasinya gimana? Kok masih sering mendengar orang miskin yang sulit untuk menjangkau akses kesehatan dan harus dibantu sumbangan dari dermawan.

Menurut sumber disini, sejumlah kelompok masyarakat yang minim akses terhadap layanan kesehatan, di antaranya:

a. Mereka yang tinggal di pedesaan

b. Mereka yang tinggal di remote area contoh: pulau kecil, pegunungan, hutan, dll.

c. Kalangan lanjut usia

d. Kalangan ekonomi menengah ke bawah

Berangkat dari keprihatinan tersebut, sekaligus karena udah pernah ngrasain sendiri, jadi kepikiran ga sih, apa yang bisa dilakukan untuk mengubah hal tersebut? Atau mungkin ada yang punya ide-ide terkait hal-hal di atas?  Kebetulan beberapa hari lalu sempat iseng nanya-nanya –melempar topik diskusi– ke twitter. Ternyata banyak juga yang punya ide-ide dan opini terkait tentang isu ini. Pas banget ama programnya Phillips dengan The “+” Project, yang bertujuan untuk mewujudkan hidup yang lebih sehat dan kota layak huni. Ada hadiah menarik untuk ide-ide terbaik yang terpilih. Kalau pembaca atau siapapun yang benar-benar concern dengan topik ini, tuliskan apa yang menjadi keprihatinanmu dan bagaimana solusinya. Ga perlu seorang ahli kesehatan atau sosiolog atau bagaimana, yang penting wujudkan kepedulian Anda dalam bentuk tulisan.

Kalau mau ikut, gampang banget caranya:

a. Daftarkan diri di website http://philips.co.id/plus

b. Pilih tantangan dan submit ringkasan ide tidak lebih dari 1000 kata. Jika ada, materi pendukung berupa foto atau video bisa ditambahkan.

c. Mekanisme kompetisi selengkapnya bisa dibaca di: http://www2.yourhealthandwellbeing.asia/indonesia/health-and-wellbeing-in-
indonesia/how-it-works

Oke, ditunggu hasil ide dan tulisannya yaaa….aku juga pengin ikutan ahhhhh ^_^

Writer’s Block

15 Komentar

Semakin jarang saja aku apdet postingan blog. Rame-rame hari blogger kemarin pun tak membuatku gumregah untuk meng-apdet blog yang udah berumur sekitar 4 tahun ini. Antara malas (buatku nulis itu harus disertai data-data pendukung, dan itu berarti penelitian –minimal penelitian literatur– dan penelitian berarti butuh effort, dan simpel aja, males), kebiasaan kalau tiba-tiba sedang jadi arus utama/trend malah menjauh dari trend tersebut (salah satu trait enneagram ke-4, males seragam), dan sedang blocking.

Sebenarnya ada banyak sekali yang kupikirkan, yang riuh di dalam kepala, yang ingin kutuliskan. Tetapi entah setiap kali hendak menulis, cuma bisa termangu. Sangat jarang sekali masa-masa jemariku lancar mengetikkan tuts-tuts keyboard, seperti menari bebas. Seperti sekarang ini. Biasanya adalah masa-masa aku harus banyak merenung dan memikirkan apa yang hendak aku tuliskan.

Banyak termangu ketika sebagai penonton mengobservasi panggung sekitarku. Sebagai pemain pun rasanya sudah tak ada tenaga lagi untuk berbicara (tepatnya, menulis panjang). Karena apa yang terlintas dalam pikiran adalah ledakan-ledakan kecil yang tidak terstruktur, alias random banget. Kalau hendak dituliskan menjadi artikel beberapa paragraf, perlu effort lebih untuk menyusun dan membuatnya enak dibaca, thus didukung data-data yang valid reliabel. Jadi adalah tulisan berupa opini yang bukan asal bunyi. Kalau asal bunyi, dalam pandanganku, tak perlu lah, semua yang aku lihat dan rasakan, dikeluarkan. Kepatutan saja sih, pertimbangannya. Juga perasaan orang lain, sebagai pembatasnya.

Ada masanya aku ‘usil’, dan aku sadar, bahwa apa yang aku ungkapkan dapat mengganggu kenyamanan orang lain. Mungkin rasanya sama, seperti kalau misal mereka yang atheis tiba-tiba mendapat kabar bahwa Tuhan memang ada dan mereka bisa membuktikan secara indrawi. Atau mungkin seperti perasaan kaum theis yang mendengar berita bahwa Tuhan ternyata tidak ada dan mereka harus berhadapan dengan kenyataan tersebut.

Selain itu, termangu dengan adanya kesadaran. Kadang cape mengamati semua hal yang terjadi di sekitarku. Exhausted, jadi tak punya energi lebih untuk menuliskan apa yang aku rasakan dan opiniku tentang itu. Marah, rage, sedih, pedih, apatis. Is it the way of the world, apakah memang seperti ini yang terjadi di muka bumi ini, udah digariskan seperti ini, udah jalannya? Jadilah aku lebih suka menyimpannya dalam hati saja.

Kembali ke soal writer’s block. Ketika rame-rame kemarin hari blogger, saya heran aja sih. Whats so special about being a blogger? Kenapa sepertinya menjadi blogger adalah hal yang wah sekali, sehingga kalau ada blogger yang jarang apdet, lebih banyak ngetwit, dsb, adalah sesuatu hal yang memalukan, ‘nista’, memalukan, etc. Ngeblog itu sama seperti menulis, jika tidak benar-benar muncul dari hati, maka tak usahlah dipaksakan. Tetapi tergantung juga sih, tujuan ketika ngeblog itu apa. Kalau ditanya, apakah aku masih tetap merasa aku sebagai blogger atau tidak, well yeah masih sih. Toh aku masih punya blog, dan walau lama ga apdet tapi masih inget passwordnya. Tetapi sekali lagi, being blogger does not define me at all. Aku lebih dari sekedar label blogger.

Selain itu, begini saja sih. Ga usah lah, membebani orang lain (blogger) dengan menginstruksikan blogger itu mustinya gini gitu, kalau ndak gitu gini kalian mustinya malu menyandang label blogger, bla-bla-bla. Halah, hidup jangan dibikin rumitlah, apalagi ngeblog. Yang perlu diingatkan mustinya lebih ke soal etika saja. Seperti misal, menulis yang bernada kebencian terhadap umat lain dan bernada menghasut, janganlah. Atau mem-plagiat.

So, apa hubungan writer’s block yang aku alami dan rame-rame hari blogger? Silakan di-utak atik gatuk, sementara saya sendiri sedang menikmati masa-masa bebas menulis, masa-masa yang patut aku rayakan dan resapi. Masa-masa menulis seperti menari, ga usah mikir, ngalir aja.

 

UPDATE. Rame-rame soal blogger, padahal postingan ini dari awal ga diniatin dalam rangka hari blogger atau dalam rangka menanggapi rame-rame tentang ngeblog dan tetek-bengeknya. Tapi kalau dari beberapa tanggapan yang masuk, menarik mencermati reaksi mereka terkait dengan label blogger yang tersemat pada diri komentator ini. Plus dinamika blogger di rana social media. Kalau yang begini, aku jadi jamaahnya Pakdhe Mbilung saja, bahwa dia sudah bukan lagi blogger alias mantan blogger, karena dia sudah move on. *ngakak-ngakak njempalik* *ini yang aku sebut manusia bebas, ga attached sama label yang disematkan pada dirinya*

:mrgreen:

Rise of the Planet of the Apes: Belajar Kepemimpinan dari Monyet

16 Komentar

Bagi yang sudah nonton Planet of the Apes-nya Mark Wahlberg (2001), kemunculan film Rise of the Planet of the Apes (judulnya bikin lidah kesleo-sleo) cukup dinantikan oleh para penggemar. Seperti saya, yang penasaran, ini menceritakan sekuel atau prekuelnya Planet of the Apes yah. Jujur aja, selama ini tidak mencoba browsing-browsing dulu tentang Rise of the Planet of the Apes, bahkan sinopsisnya pun tidak. Jadi ketika nonton midnight Sabtu kemarin, sama sekali tidak ada bayangan.

Duapuluh menit pertama film ini sukses membuat saya terharu biru dan emosi bergolak. Karena dalam duapuluh menit pertama itu, langsung tergambar kerakusan dunia korporasi yang diwakili CEO Gen Sys, Steve Jacobs, versus kesejahteraan lingkungan yang diwakili simpanse-simpanse binatang percobaan mereka. Well, kelekatan emosi saya dengan binatang membuat saya merasa lebih mudah merasakan kelekatan dengan jalan cerita film ini. Jadi tak pelak saya langsung larut dan terlibat secara emosi. Apalagi dengan munculnya bayi simpanse yang rapuh, haduh, saya langsung mbeler-mbeler.

Singkatnya, sinopsis Rise of the Planet of the Apes bercerita tentang percobaan untuk menemukan obat bagi penyakit Alzheimer dan percobaan tersebut memunculkan anomali. Sesimpel itu sebenarnya jalan ceritanya. Tokoh utama, si peneliti Will Rodman mempunyai alasan yang bersifat personal terhadap penelitian ini, yaitu karena ayah yang sangat disayangi menderita Alzheimer. Karena itulah, ketika asistennya, Robert Franklin meminta Rodman untuk membawa si bayi simpanse pulang supaya tidak dibunuh/dimatikan, ia sempat merasa keberatan. Karena concern-nya sedari awal adalah ayahnya, bukan kesejahteraan binatang-binatang percobaan tersebut.

Ketika si bayi simpanse –Caesar– tumbuh makin besar, afeksi Rodman terhadap Caesar juga makin besar. Selain itu ia melihat bahwa si Caesar ini mempunyai keanehan yang patut diteliti, karena diyakini membawa kabar baik untuk perkembangan penemuan obat Alzheimer. Caesar ini mempunyai kecerdasan yang sangat mengagumkan. Konflik semakin tajam ketika Caesar yang remaja, terpaksa menyerang tetangga mereka. Caesar, berdasar putusan pengadilan, dianggap membahayakan lingkungan sekitarnya, dan tak seharusnya binatang liar seperti simpanse ada di lingkungan pemukiman. Caesar harus direhabilitasi di pusat penampungan satwa liar.

Di bagian ini, lagi-lagi emosiku terlibat cukup dalam. Entah karena aktor yang memerankan tetangga menyebalkan itu aktingnya pintar sehingga bener-bener menyebalkan, atau karena aku yang terlalu emosional.  :mrgreen:

Yang jelas, aku bener-bener geregetan dan berpendapat, itulah yang terjadi kalau orang ga dididik untuk mencintai lingkungan, alam, dan binatang dari kecil. Kalau dari kecil ga diajarkan menyayangi binatang, maka setiap kehadiran binatang akan dianggap sebagai ancaman. Thus takut. Padahal rasa takut adalah motivasi paling kuat untuk melakukan tindakan, misal tindakan menyerang.

Caesar selama masa rehabilitasi di penampungan primata, belajar banyak hal yang tak dia dapatkan di rumahnya. Caesar yang sangat cerdas, mengamati lingkungan dia berada. Interaksi antar primata, hierarki sosial antar kera, hierarki sosial kera-manusia, norma yang berlaku, hingga threatening act yang ditunjukkan Dodge, si penjaga. Yup Caesar bahkan mempelajari aspek psikologis Dodge. Bahkan dari penampungan tersebut dia belajar situasi sosial yang menumbuhkan kepekaannya. Selayaknya aktivis dah. Dia belajar serta menganalisa, apa yang harus dilakukan pada situasi tersebut, apa solusinya.

Nah, dari kacamataku, bagian ini yang sangat menarik dari keseluruhan film. Kita belajar mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang betul-betul leader—pemimpin, tak sekedar pimpinan. Bagaimana Caesar bisa mempersatukan semua spesies kera untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dan aku lagi-lagi mbrebes mili nangis bombai tersengguk-sengguk pada adegan martir.

Ada satu hal lagi yang menarik untuk digarisbawahi. Caesar dari bayi dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Rodman dan ayahnya mengasuh (juga mendidik?) Caesar penuh cinta. Caesar belajar tentang cinta dan kasih sayang dari pengasuhan ini, dari ‘keluarga’nya. Hal ini yang membedakan Caesar dengan kera-kera lain ketika menghadapi musuh mereka. Being human (?). Well, statemen ini memang bisa memancing diskusi sih, apakah kasih sayang dan cinta kasih –yang diterjemahkan dalam film ini menjadi tindakan forgiveness– hanya milik manusia?

Selain itu, tokoh orang utan di penampungan primata, mewakili sosok yang bijaksana dan humoris. Saya suka dengan ‘ceplosan’nya yang santai tapi lucu tapi sesungguhnya dalam.

**notes.

Sebutan monyet untuk primata adalah sebutan yang berkonotasi menghina. Pakailah kata ‘kera’ daripada ‘monyet’ untuk menyebut primata, kecuali kalau anda memang berniat menghina. :D

Thanks utk ekowanz yang menginspirasi saya untuk apdet blog lagiiih.  :lol:

Hunian Sederhana dan Mimpi untuk Karangasem

9 Komentar

image

image

image

image

image

Saya tertegun sewaktu berdiri di bibir jurang desa ini. Sulit membayangkan kondisinya sewaktu desa ini masih utuh. Banjir lahar dingin menerjang Desa Karangasem beberapa kali, mengamblaskan separo desa, menyisakan tebing jurang. Mental orang Jawa, walau separo desa hilang, sawah kebun rumah amblas, masih merasa beruntung, “untung gak ada korban jiwa, untung ternak bisa diselamatkan.”

Saya berdiri di bibir jurang. Jarak antara tempat saya berdiri hingga ke bawah dimana Kali Putih mengalir, setinggi 14 meter. Serius saya sulit membayangkan tempat ini dulunya bagaimana. Konon katanya aliran Kali Putih sudah berubah. Kalau diwaktu mendatang lahar dingin menerjang lagi, beberapa kelokan tebing akan runtuh. Beberapa rumah sudah mepet dengan bibir tebing. Tinggal tunggu waktu saja sampai rumah tersebut ikut longsor.
Masih tertegun, saya tersentak ketika diberitahu bahwa banjir lahar dingin yang menerjang Karangasem ini terjadi Oktober 2010. Ohmy, sekarang Juni 2011. Itu kejadian sudah sekian bulan lalu…

Tujuhbelas rumah amblas. Sekarang sudah dibangun, delapan hunian sederhana. Tanpa bantuan pemerintah sama sekali. Tinggal sembilan hunian lagi. Kalau kata mas Karman, ini kampung sosmed, karena rumah yang berdiri atas bantuan warga social media. Rumah sederhana berdinding sebagian anyaman bambu, sebagian batako/batu bata. Kusen, pintu, batu bata/batako, sebisanya memanfaatkan apa yang tersisa dari rumah yang amblas. Rata-rata per-unit menghabiskan 4 juta rupiah. Sebagian dibangun di atas kebun sendiri, sebagian disewakan tanah.

Sore itu angin lembut menyisir kulit. Menjelang magrib di akhir obrolan, Mas Karman sempat mengungkapkan mimpinya.
“Selesai pembangunan hunian sederhana ini, PR saya selanjutnya adalah pendidikan. Ternyata banyak anak warga Karangasem yang bersekolah hanya sampai SMP. Ketiadaan biaya yang membuatnya demikian.”

Saya ndlongop. Karangasem ke Jogja itu hanya beberapa kilometer. Dengan mobil hanya setengah jam. Tak jauh dari situ, ada SMK.
Masih ada gitu, desa yang mayoritas anaknya cuma mengenyam pendidikan sampai SMP?

Sayang saya terburu-buru pamit karena diburu janji dengan dokter. Ternyata saya sempat dibungkuskan tape singkong mentega oleh Pak Samijo. Pak Samijo ini pembuat tape singkong yang disetor untuk bahan baku pembuatan permen tape.

Di jalan pulang, saya teringat kembali pembicaraan dengan Mas Karman dan Mas Penyu. Betul, Desa Karangasem ini banyak potensinya. Dari desa wisata alam hingga kuliner seperti tape. Tak jauh dari Jembatan Krasak, tak jauh dari Borobudur, dekat ke Kalibawang Kulonprogo.
Tapi warganya masih membutuhkan sedikit bantuan dari kita untuk bergerak lebih mandiri dan berdaya.

Berbagi sedikit dari apa yang kita miliki, untuk kemandirian dan pemberdayaan orang lain. :)

CATATAN:
Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang Desa Karangasem, bisa tanyakan langsung kepada Mas Karman lewat twitter di @karmanproject.

Kenalin, Anak Adopsiku, Miko Si Bayi Orang Utan

12 Komentar

image

image

Awalnya karena baca celotehan Chika di milis yang menulis ulang tweet dari seseorang (aduh lupa namanya). Tweet tersebut mengajak untuk mengadopsi bayi orangutan. Sontak heran dan bertanya-tanya, “Hah, memang bisa orangutan diadopsi?”. Bayangannya, membawa bayi orangutan ke rumah untuk diasuh. Yang bener aja, mosok memelihara binatang liar, langka pula.

Yup, orangutan menurut International Union for Conversation of Nature, masuk dalam klasifikasi “Critically Endangered”. Populasinya menurun drastis dari 12ribu ekor pada tahun 1994 menjadi 6500 ekor tahun 2008 menurut wiki. Pembunuh terbesarnya adalah manusia, baik langsung maupun tidak langsung. Kalau langsung, jika manusia jahat ketemu induk orangutan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh untuk merebut anaknya. Lalu bayi-bayi orangutan tersebut dijual tanpa memperhatikan kondisinya selama dalam krangkengan. Padahal dari yang saya tahu, induk orangutan akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya.

Membunuh yang tidak langsung adalah proses deforestasi habitat mereka, hutan tropis. Biasanya untuk perkebunan kelapa sawit. Kalau sadar hal ini rasanya pengen boikot ga pake produk-produk hasil perkebunan kelapa sawit. Mustinya ada daftar perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bertindak sebagai teroris lingkungan dan produk-produk sampingannya.
Deforestasi ini selain mengurangi habitat dan pakan orangutan, juga berdampak konflik manusia-orangutan khususnya di perkebunan & pemukiman. Dan lagi-lagi orangutan dibunuh karena dinilai sebagai hama.

Duh saya nulis ini sambil mata mbrambangi, nangis. Miris, pedih, sedih. Karena itu ketika dapat info adopsi tersebut, langsung cari tahu di orangutan.or.id
Ternyata adopsi yang dimaksud adalah semacam donasi untuk membantu operasional perawatan orangutan di konservasi. Semacam anak asuh. Ada beberapa paket yang bisa dipilih sesuai kemampuan. Nanti kita sbg orang tua asuh, mendapat laporan berkala.

Saya sendiri waktu tanya-tanya via email, ada sekitar 7 bayi orangutan yang masih berusia bulanan. Semua dengan masing-masing kisah sedihnya, direnggut dari induk, ditemukan dalam kondisi menyedihkan. Saya mengadopsi Miko, yang menurut staff Borneo Orangutan Survival Foundation, masih belum punya ortu asuh. Yay, Miko, i believe he choosed me.

Saya, karena resources yang terbatas, memilih paket perunggu. Donasi 350ribu/tiga bulan. Saya pikir, apalah, saya bisa sekali belanja segitu. Budget ngopi-ngopi hura-hura jajan-jajan sebulan juga bisa segitu. Kali ini ngirit, stop belanja, makan di rumah daripada nongkrong-nongkrong, untuk Miko anak adopsiku.

Semoga aku mendapat kesempatan untuk memeluk (eh lebay sih memeluk orangutan) melihat Miko dewasa di habitat aslinya di Kalimantan sana.
*hapus air mata*

Cantik adalah Memiliki Areola Pink dan Bentuk Vagina yang Sempurna

29 Komentar

image

Menulis itu katanya lebih mudah kalau muncul dari hati, daripada menulis yang tidak dari hati. Sudah beberapa lama ini, si empunya blog mengalami writer’s block (halah) yang cukup lama. Ide bertebaran tetapi kesulitan untuk diwujudkan dalam sebentuk artikel yang enak dibaca.
Salahkan twitter, kalau mau gampang berkambing-hitam ria. Loncatan-loncatan ide atau pikiran random tersebut lebih mudah saya tuangkan dalam bentuk 140 karakter. Sebenarnya kalau sempet nengokin linimasa saya, itu adalah bank ide tulisan. :P

Seperti, ketika saya sering ngetwit soal cantik. Dari yang nanya tips gimana supaya tampil cantik, sampai bahasan psikologis-filosofis (halah lagi) tentang kecantikan.

Dalam lamunan dan amatan random saya, saya menemukan bahwa kecantikan terkait dengan kepercayaan diri. Maksudnya begini, banyak perempuan-perempuan di sekitar saya yang cantik-cantik, tapi merasa tidak cantik dan tidak menarik (termasuk empunya blog). *plaaakkk* :mrgreen:
Jadi berpikir, sindrom rendahnya kepercayaan diri lebih sering dialami perempuan daripada laki-laki ya?

Saya beri contoh manifestasinya. Ketika bercermin alias ngaca, biasanya cowo cengar-cengir, bergaya bak binaragawan, dll. Mereka lebih mudah menemukan kelebihan fisiknya ketika bercermin. Sedangkan perempuan ketika ngaca, yang dilihat pertama-tama adalah kekurangannya. Seperti jerawat, kerut pada mata, komedo, rambut yang berantakan, dll.

Cantik selain terkait kepercayaan diri, dia juga adalah komoditas. Tak terhitung berapa banyak produk dan brand untuk menunjang kecantikan. Lupakan produk pemutih kulit wajah dan iklan dengan model perempuan berambut panjang lurus (dan sudah banyak yang protes). Tahukah kalian, ada produk yang bisa mencerahkan warna areola supaya lebih pinkish, memutihkan selangkangan, memutihkan ketiak, bahkan vaginoplasty untuk mempercantik bentuk labia?

Saya pernah berselancar ke situs kesehatan reproduksi yang ditujukan untuk perempuan remaja dan dewasa. Ternyata banyak perempuan yang mencemaskan bentuk vaginanya khususnya bentuk labianya. Mereka merasa bentuk labianya aneh, tidak normal, tidak seperti yang diidealkan, sehingga mereka merasa rendah diri, tidak menarik, tidak berharga, malu menjalin hubungan dengan lelaki karena takut pasangannya kelak akan kecewa, dll.
Dalam situs tersebut diterangkan bahwa karena minimnya informasi tentang reproduksi kita (perempuan) sendiri, menyebabkan banyak perempuan yang buta/tidak mengenali tubuhnya sendiri.
Gawatnya, mereka (kita) lebih banyak menerima informasi yang salah kaprah, dan menyebabkan kita semakin tenggelam dalam kekhawatiran. Terkait konteks labia, ternyata ada banyak sekali tipe bentuk labia, jadi tak seharusnya kita (perempuan) merasa rendah diri karena ada yang tidak normal dalam diri kita. Demikian menurut para ahli dalam situs tersebut. Bahkan vaginoplasti yang bertujuan untuk ‘memperbaiki’ bentuk labia, dapat merugikan perempuan karena mengurangi sensitifitasnya, sehingga dapat mempengaruhinya dalam menikmati proses hubungan seksual.

Lebih jauh lagi, definisi cantik yang sebatas mata dapat memandang, memang ditentukan oleh banyak kepentingan dan kultur. Bagaimana supaya makin banyak yang tersadar akan hal ini dan menjadi benar-benar merdeka, tak lagi terjajah oleh Definisi cantik menurut orang lain/tren/mode/kapitalis.

Mengenai kepercayaan diri, saya kok beranggapan, disitulah esensi inner beauty berada. Menurut kalian?
Errr…kalau si empunya blog, masih sering dihinggapi sindrom minderan sih… :lol:

NB Keterangan Foto:
Kalau tidak salah, arca Pradnya Paramitha…difoto oleh penulis di Museum Nasional.
Menarik, mengamati arca tersebut. Bisa disebut merepresentasikan kecantikan ideal pada masa tersebut.

Pilih Sinetron atau Si Bolang?

36 Komentar

image

Cihuuyyy, jagat blogosphere rame lagiii :mrgreen:

Semenjak @nonadita posting opini dia tentang sinetron Putri Yang Ditukar, efeknya ternyata diluar dugaan. Banyak postingan yang merespon tulisan @nonadita tersebut, bahkan @PakGuru yang setahu saya lagi anteng-antengnya, jadi terusik untuk ikut menuliskan opininya juga.

Saya sendiri sih, sejak lama berdiri dipihak yang anti sinetron. Kalau saya menghakimi bahwa sinetron itu ‘busuk, sampah’ dll, itu karena mudharat sinetron lebih banyak daripada manfaatnya. Hihihi, pilihan kata barusan pasti akan membuat panas pihak-pihak yang pro sinetron atau mereka yang memposisikan oposisi anti sinetron tanpa perlu menjadi fans sinetron.

Begini lho. Sikap saya itu didasari beberapa alasan, ples didukung latar belakang ilmu psikologi yang saya pelajari.

Alasan pertama, menonton sinetron untuk tujuan hiburan, kalau kita main ibarat, maka nonton untuk makanan rohani/mental/jiwa. Seperti ungkapan blogger siapa, yang mengibaratkan bahwa sinetron seperti makanan instan macam mie instan. Maka saya juga bisa memandang, tayangan-tayangan ditelevisi layaknya santapan yang bersifat psikologis.

Pertanyaan: apakah anda akan terus menerus memberi makan jiwa/rohani anda dengan tayangan seperti sinetron?
Orang nonton berita saja bisa berakibat negatif untuk jiwa, seperti jadi marah, depresi, dll. Apalagi sinetron yang lebih memfokuskan konflik tak berkesudahan, cara berpikir yang instan untuk mengatasi konflik, dll. Memang, ada yang membela bahwa sinetron juga memuat nilai ‘kebajikan selalu menang melawan kebatilan’, tapi fokusnya apakah benar itu?

Yang saya lihat malah ‘Cinderella Effect’. Tokoh utama digambarkan selalu pasrah, tak punya determinasi kuat, resilience rendah, achievement juga tak jelas, sikap dan komunikasi asertif apalagi. Yang ada malah, menunggu ditolong pihak lain, alih-alih asertif malah bersikap ala keset-nya 7 Habits.
Manusia Indonesia, secara umum banyak digerakkan oleh motivasi eksternal. Karena itu bisa dipahami, bahkan untuk sadar lalu lintas harus dipaksa lewat hukum/punishment, jarang sekali yang muncul karena kesadaran sendiri alias motivasi internal.

Nilai-nilai seperti inikah yang akan menjadi konsumsi anda?

Alasan kedua. Saya mempunyai pilihan. Sebagai manusia dengan kehendak bebas, saya bebas memilih. Selain sinetron, masih banyak kok alternatif tontonan yang lebih baik sebagai makanan jiwa. Saya tidak langganan tv kabel, jika anda menduga pilihan saya adalah channel NatGeo, Discovery Channel, atau HBO. Alternatif saya ya tv nasional dan tv lokal. Dan percayalah, selain sinetron masih banyak tayangan lain yang lebih bagus untuk jiwa. Mungkin yang penonton tv perlukan adalah tv guide (bukan rating, tapi ulasan atau review) dan promosi.

Misal di trans7 dari jam 12.30 – 17.00 full tayangan edutainment keluarga. Dari Si Bolang, Laptop si Unyil, Cita-citaku, Koki Cilik, Dunia Fauna, Jejak Petualang, Kisah Si Gundul, dll.
Kalau jam 9.30 – 12.30, bisa stel channel trans7, transTV, antv, global, metro, sila ganti-ganti. Dijamin tanpa sinetron dan full edutainment. Dari pengetahuan untuk anak, informasi kesehatan, keluarga, perempuan, hingga kuliner dan jalan-jalan.

Nah untuk jam prime time 18.00 – 21.00 memang lebih sedikit alternatif edutainment. Saya sendiri lebih memilih on the spot-nya trans7. Kadang antv menayangkan ripley’s believe it or not. Atau metrotv yang menayangkan feature. Atau kalau tidak, saya ganti ke channel tv lokal seperti rbtv, jogjatv, aditv, bahkan tvri. Tayangannya mulai dari kuliner lokal, jalan-jalan lokal, seni tradisional (jogja tv sering memutar folksong melayu hingga banyumasan), sampai talkshow.

Tetapi jam-jam segitu bukannya jam belajar ya? Saran saya sih, jika anak anda belajar, anda sebagai orang tua mencontohkan diri dengan mematikan tv dan melakukan kegiatan lain, misal membaca. Jadi anak-anak merasa orangtuanya bersikap konsisten, tidak sekadar jadi mandor perintah ini itu tapi sendirinya maunya cari hiburan.

Edutainment yang saya sebut diatas, menurut saya memuat lebih banyak nilai-nilai positif. Seperti cinta alam, lingkungan, dan binatang, persahabatan, menghargai perbedaan (si bolang dan unyil, setiap hari menampilkan anak-anak dari temanggung sampai kalimantan), wiraswasta (tayangan cita-citaku menampilkan potensi ekonomis dari hal-hal disekitar kita, seperti bebek, buah mengkudu, labu siam, dll), mengenal kekayaan & keragaman nusantara (bhinneka tunggal ika banget deh), dll.

Jadi saya merasa sayang kalau hanya saya saja yang belajar dan menikmati sendiri. Apalagi buat keluarga dan keponakan, untuk mereka, saya dorong mereka belajar nilai-nilai tersebut secara fun.

Alasan ketiga, sudah banyak penelitian tentang televisi dan acaranya dan dampaknya secara psikologis. Silakan dicari dijurnal juga, bahwa menonton bukanlah proses yang sederhana. Karena itu sebuah tontonan kekerasan bisa berdampak kepada penontonnya.

Jika saya ingin memberi jiwa saya, santapan yang menyehatkan, itu pilihan saya. Jika saya ingin orang-orang disekitar saya ikut merasakan santapan jiwa yang menyehatkan, demi kesehatan jiwanya, maka saya berupaya untuk memberi himbauan dan penjelasan, khususnya kepada anak-anak. Kalau untuk dewasa, pilihan ada ditangan masing-masing sih.

Seperti ibarat makanan. Kalau masih anak-anak, dididik dan dipilihkan makanan bernutrisi seperti sayuran segar, susu, dll. Kalau yang sudah dewasa, kalau sudah diingatkan bahaya kolestrol hipertensi dll tapi masih memilih lemak, makanan instan, rokok, dll ya terserah sih.

Terakhir, saya sebenarnya agak-agak gimana gitu dengan polemik sinetron ini. Ya tidak apa-apa sih, demi proses edukasi/mencerdaskan masyarakat *tsaaahhh*.
Tapi andai waktu rame-rame kasus ahmadiyah, temanggung, dll kekerasan karena dipicu perbedaan, kita sesama blogger bisa segempita ini untuk menaikkan awareness, khan gimana gitu.  :)

Notes.
Kemarin Selasa, sempat berdiskusi dengan @hotradero dll ditwitter. Kesimpulan (sementara) saya, masih kuatnya dominasi sinetron sebagai pilihan hiburan keluarga, sepertinya karena banyak yang belum tahu ada alternatif lain. Karena itu seyogyanya, selain mengkritik juga sekaligus mempromosikan tontonan alternatif tersebut.

Selain itu, sudah agak lama saya mencari jika tayangan macam Si Bolang diproduksi dalam bentuk vcd. Jadi bisa ditonton kapan saja, dimana saja.
Semoga ada yang mendengar harapan saya dan syukur-syukur dikirimi gratisannya :mrgeen:

Note kedua, kalau mencermati komen-komennya, kok seperti ada kecenderungan, membenturkan dengan ‘aktivis socmed’. Ada yang menuduh socmed dan mereka yang kebetulan populer diranah socmed, dan mengoposisikan diri terhadap mereka.
Lhaaaa…mo cari musuh atau gimana?

Tidak Semua Yang Menikah itu Pemberani

32 Komentar

image

Valentine 2011 ini mendapati dua kabar gembira. Pasutri yang dua-duanya teman, mengabari bahwa sang istri hamil anak pertama. Kedua, seorang teman mengabari bahwa akhir April, akan menikah dengan pria yang telah mendampinginya untuk beberapa waktu ini. Diantara banjir ucapan selamat, ‘quote’ dari mas @imanbrotoseno ini membuat saya berpikir dan melahirkan postingan ini.

Tepatnya yang dikatakan mas Iman adalah sebagai berikut:

Hanya orang orang luar biasa yg berani mengambil komitmen ke perkawinan

Menurut saya itu benar. Terutama bagi mereka yang menyadari betul makna perkawinan. Well, tidak semua orang yang memutuskan untuk menikah adalah orang yang luar biasa dan pemberani. Apalagi mereka yang memutuskan menikah karena alasan-alasan yang bagi saya kurang kuat. Seperti, untuk mengejar status, karena tekanan orang lain/lingkungannya, karena ‘harus’ (bagi saya, menikah itu bukan keharusan, tapi pilihan), dll.

Menikah adalah keputusan yang berimplikasi besar dalam hidup seseorang. Ketika seseorang menikah, dia tidak lagi sendiri, tapi bersama. Konsekwensinya, salah satunya adalah ego yang mungkin saling bertabrakan. Selain itu, kita mungkin akan berubah dalam menjalani proses pernikahan, seperti juga pasangan yang mungkin juga berubah. Jadi dalam kehidupan pernikahan, kita dituntut untuk selalu belajar dan mengenali pasangan. Mengerti. Memahami.

Kebahagiaan bukan tujuan dalam pernikahan. Jika ada yang beralasan menikah karena ingin bahagia, itu nonsense. Karena dalam pernikahan merupakan proses belajar yang tiada henti. Ketika dia merasa tidak bahagia, lalu apa? Berhenti? Lalu mengejar kebahagiaan yang lain lagi?

Itulah mengapa, saya setuju bahwa mereka yang memutuskan untuk menikah dengan penuh Kesadaran (sengaja dengan huruf kapital, karena tidak sekadar ‘sadar’ secara kognitif, tapi proses spiritual) maka saya menyebut mereka sebagai orang-orang pemberani. Saya salut. Kagum.

NOTED.
Mereka yang lelah untuk meneruskan proses pembelajaran, bukanlah individu gagal. Itu ‘hanya’ sebuah pilihan. Dan saya sangat yakin, pilihan itupun juga sebuah proses belajar. Hei, seperti tagline blog saya, hidup itu untuk belajar dan bercinta, bukan?

Bhinneka Tunggal Ika – Komodo: Antara Kerukunan Umat Beragama dan Keajaiban

7 Komentar

image

image

Sebenarnya sejak dari hari Minggu, kepengen nulis tentang macam-macam hal yang mengendap di kepala sejak beberapa bulan terakhir. Tetapi sindroma blogger males apdet dengan berbagai alasan klasik membuat blog ini belum me-release postingan baru lagi. Padahal yang namanya prihatin dan gelisah –sesuai takdirnya, restless angel– terus membuncah dan menghantui.

Masih ingat sekali, Minggu pagi tanggal 5 Februari. Sama seperti hari Minggu lain, bangun siang, langsung nyaut hape dan baca timeline twitter. Masih pagi tapi berbagai isu sudah tergelar, dan yang hot pagi itu adalah berita tentang tereliminasinya Pulau Komodo dari 10 besar nominasi New Seven Wonder

danbeberapa fakta menggelitik dibaliknya.

Setelah terlibat diskusi yang cukup seru dengan @ndorokakung, aktivitas hari itu berjalan seperti biasa. Tanpa pernah menyangka, bahwa siang/sorenya, akan terjadi peristiwa sadis yang mengguncang akal sehat dan hati nurani. Mungkin pagi itu di-jam yang sama, tiga penduduk Cikeusik, Pandeglang, Banten, tidak akan pernah menyangka, dalam beberapa jam kedepan mereka akan mengalami siksaan maha dahsyat, sekarat dengan cara yang mengenaskan dan menyakitkan, dan ketika meninggal pun masih harus mengalami penistaan.

Saya shock ketika sore itu mendapat kabar dari teman. Apalagi ketika sudah sampai rumah malamnya dan mengecek peristiwa Cikeusik dengan lebih seksama. Ya Allah… saya gemetar. Bahkan Seninnya, saya masih senewen. Malam, bergabung dengan mba @AlissaWahid dan teman-teman lain di Tugu Jogja untuk aksi Senin Hitam.

Mba Alissa banyak sharing dan ngobrol dengan kami, berbagi kegelisahannya. Bahwa yang terjadi di Cikeusik bukan semata tentang Ahmadiyah. Karena, peristiwa serupa dapat terjadi pada pihak lain yang berbeda. Ada yang salah dalam memaknai perbedaan. Apa kabar Bhinneka Tunggal Ika, demikian pertanyaan yang tercetus malam itu.

Dan, innalillahi… Selasa siang merebak berita pembakaran gereja dan sekolah kristen oleh massa yang mengamuk. Sekali lagi saya lemas, gelisah luar biasa. Apalagi ketika mencermati respon-respon mengenai dua peristiwa tersebut. Ada kecenderungan, publik terbelah, karena perbedaan sikap dalam memandang / bereaksi terhadap peristiwa tersebut. Dan yang cukup menggelisahkan, ada kecenderungan untuk bersikap negatif terhadap pihak yang berbeda sikap. Permusuhan? Kebencian? Dislike? Semoga saya salah.

Selain itu juga kecenderungan bersikap ignorant. Banyak alasan yang mendasari sikap tersebut. Ignorant dalam arti, banyak yang belum sadar/enggan untuk benar-benar bertindak melakukan sesuatu. Cenderung menghindar.
Ada apa? Mengapa? Saya tidak paham. Apa arti Bhinneka Tunggal Ika bagi mereka?

Ada lagi yang merasa ketenangan dan kenyamanannya terusik dengan reaksi kemarahan, kegelisahan, kegeraman. Mereka yang terganggu ini menyuruh kami diam. Mengapa kami tidak boleh menyuarakan kegelisahan kami?

Malam ini ketika sedang gugling saya mengalami ‘kebetulan’. Dua peristiwa/kejadian yang sepertinya tidak berhubungan sama sekali sebenarnya, tapi seperti tersambung benang merah.
Silakan baca link berikut ini. Postingan warga Kompasiana, yang menuturkan kekayaan yang dimiliki Nusa Tenggara Timur. Bhinneka Tunggal Ika yang benar-benar dihidupi dan dijalani. Sungguh kebetulan, dari kawasan kering dan miskin itu, dimana juga terdapat kekayaan dunia yang sempat digadang-gadang 7 Keajaiban Dunia, terdapat contoh nyata tentang kerukunan umat beragama. Contoh nyata tentang sikap terhadap perbedaan.

Teringat lagi rame-rame Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, yang dieliminasi dari nominasi yayasan NewSevenWonder. Walaupun dieliminasi, hal tersebut tidak menggoyahkan fakta bahwa komodo termasuk keajaiban dunia, bagian dari kekayaan dunia yang harus dilestarikan.
Sama halnya dengan contoh nyata dari Ledalero, Nusa Tenggara Timur. Ketika Bhinneka Tunggal Ika benar-benar dibadani dan dihidupi. Kekayaan asli Indonesia yang juga harus dilestarikan.

Bangga Warga Jogja

14 Komentar

image

Ketika tulisan ini dibuat siang tadi pada jam ishoma, ribuan warga Jogja sedang memadati Malioboro. Mereka bukan sedang berwisata atau habis sholat Idul Fitri/Idul Adha, mereka sedang mengadakan aksi massa terkait dengan penetapan status istimewa Yogyakarta.

Dari sisi politik maupun historis, saya tidak menguasai mengapa warga Jogja begitu “menuntut” label istimewa untuk daerahnya.Berkaitan dengan tuntutan bahwa warga menuntut gubernur harus Sri Sultan, jika itu dikaitkan dengan penyebab Jogja istimewa, saya tidak terlalu setuju. Saya sebagai warga Jogja asli, bahkan jika nantinya pemerintahan pusat mencabut label istimewa, saya tetap merasa Jogja sebagai daerah istimewa.

Keistimewaan Jogja bagi saya tak semata terkait dengan sejarahnya atau malah dengan landmarknya. Tugu Jogja bisa saja ambruk seperti tahun 1800an yang sempat hancur digoyang gempa. Kraton jogja (bangunannya) bisa saja berubah muka dan fungsi sebagaimana bangunan-bangunan bersejarah di Jogja yang pelahan mulai berubah menjadi tempat komersial. Penetapan kepala daerah gubernur harus Sultan, saya memilih no comment karena alasan tertentu, yang saya lebih nyaman untuk diobrolkan sambil ngopi sore daripada saya tulis.

Keistimewaan Jogja menurut saya terletak pada karakternya, karakter orang Jogja secara umum. Hingga postingan ini saya tulis, ribuan massa masih memadati kawasan Malioboro. Toko-toko, menurut laporan @dabgenthong dan @KILDDJ mereka tutup dengan sukarela. Malah mereka juga menyediakan air minum cuma-cuma. Saya berharap, keistimewaan Jogja saat ini sedang ditunjukkan dan diwujudkan oleh warga Jogja sendiri. Damai, plural, tanpa kekerasan, guyub.
Setelah (dan masih) berlangsung bencana erupsi Merapi dan banjir lahar dingin, warga Jogja menunjukkan karakternya, sigap membantu dan menolong orang lain. Sekarang aksi massa berlangsung damai, itu sungguh keistimewaan Jogja dibanding daerah-daerah lainnya.

Karakter, serupa dengan value, nilai yang dipegang warga setempat. Mewariskan dan menghidupi nilai-nilai seperti kedamaian, guyub, sigap menolong, plural, dll adalah lebih long lasting daripada membangun landmark. Lebih terasa nyata karena benar-benar dirasakan, dihidupi, bahkan hingga orang Jogja tersebut hijrah kemana saja. Menunjukkan identitas dan keistimewaan Jogja.

Bravo Jogja. Jogja istimewa dengan karakternya.

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.